BAB LIX
KEESOKAN harinya Baron Danglars melihat kereta Count of Monte Cristo memasuki pekarangan rumahnya.
Dia sengaja keluar untuk menjemputnya. Wajahnya ramah namun kesedihannya tak dapat disembunyikan.
"Tuan tentu datang untuk menyatakan simpati kepada keluarga kami," katanya menyambut.
''Sebaiknya Tuan sendiri pun berhati-hati, karena, tampaknya orang-orang yang sebaya kita sedang mengalami nasib sial tahun ini!
Coba lihat, jaksa kita yang fanatik. Tuan de Villefort kehilangan keluarganya dengan cara yang menyeramkan sekali. Lalu Tuan de Morcerf, tercemar nama baiknya dan mati, dan terakhir saya sendiri dipermalukan oleh Benedetto keparat dan . . ."
"Dan apa?"
"Apa Tuan belum mendengar?"
"Musibah lain?"
"Eugenie pergi."
"Tak mungkin."
"Tetapi itulah kenyataannya. Anak malang itu sangat terpukul oleh kejadian itu, lalu meminta izin untuk berkelana. Dia pergi dua malam yang lalu."
"Bersama ibunya?"
"Bukan, dengan salah seorang saudara. Saya takut dia tak akan kembali. Saya kenal betul wataknya, bahkan saya sangsi dia akan berani menginjak Paris lagi."
"Kejadian serupa ini tentu akan merupakan cobaan yang berat sekali bagi seorang ayah yang tidak kaya," kata Monte Cristo,
"tetapi lain sekali untuk mereka yang jutawan. Apapun kata orang-orang bijaksana, namun uang selalu merupakan hiburan yang utama. Dan Tuan sendiri, raja dalam dunia keuangan, pasti mempunyai hiburan yang lebih utama dari orang lain."
Danglars mengamati Monte Cristo untuk mengetahui apakah tamunya itu bergurau atau sungguh-sungguh.
"Benar," jawabnya,
"apabila kekayaan merupakan hiburan, saya seharusnya terhibur. Saya kaya."
"Begitu kaya, Baron, sekokoh piramid. Apabila ada orang yang mau menghancurkannya, ia tak akan berani mencobanya, kalau ada yang berani, ia tak berhasil."
Danglars tersenyum.
"Saya jadi teringat Ketika Tuan datang, saya masih harus menandatangani beberapa lembar
cek. Maaf, izinkan saya menyelesaikannya sebentar."
"Silakan, Tuan."
Beberapa detik lamanya yang terdengar hanya bunyi pena menggores kertas. Setelah selesai Danglars berkata lagi,
“Pernah kali Tuan melihat tumpukan kertas seperti ini, setiap lembar bernilai sejuta frank?"
Monte Cristo mengambil lima lembar yang diperlihatkan Danglars dengan bangga.
"Satu, dua, tiga, empat, lima juta frank."
"Begitulah cara saya berusaha," kata Danglars.
"Hebat sekali. Terutama kalau setiap lembar dapat segera ditukarkan menjadi uang tunai, dan saya yakin dapat."
”Ya.Tentu saja dapat."
"Menyenangkan sekali kalau orang mempunyai lembaran-lembaran seperti ini. Hanya di Perancis saja orang dapat melihat ini. Lima lembar kertas berharga lima juta frank. Kalau tak melihatnya sendiri, orang tak akan
mungkin percaya."
"Apakah Tuan masih sangsi?"
"Sama sekali tidak."
"Nada suara Tuan tidak begitu yakin. Mengapa Tuan tidak membuktikannya sendiri? Silakan Tuan pergi dengan pegawai saya ke bank dan Tuan akan melihat mereka segera menukarnya dengan uang tunai sebanyak yang tercantum
di dalamnya."
"Tidak," kata Monte Cristo sambil melipat kelima lembar cek tadi.
"Cerita Tuan begitu menakjubkan dan menggairahkan sehingga saya mau mengalaminya sendiri. Kredit saya pada Tuan berjumlah enam juta frank dan saya baru
memanfaatkannya sembilan ratus ribu saja.
Dengan demikian saya masih berhak menerima pinjaman dari Tuan sebanyak lima juta seratus ribu lagi. Saya ambil cek yang
lima ini yang saya percaya akan segera dibayar bank begitu mereka melihat tandatangan Tuan. Ini, saya serahkan kwitansi sebanyak enam juta frank yang sudah saya buat di rumah tadi. Sebenarnya saya datang sebab sangat
memerlukan uang hari ini."
Monte Cristo memasukkan kelima lembar cek itu ke dalam sakunya sedang tangan yang sebelah lagi menyerahkan kwitansi kepada Danglars.
"Apa! Tuan mau mengambil cek itu?" tanyanya gugup.
"Maaf uang itu saham rumah sakit yang harus saya bayar hari ini."
"Ah, kalau begitu lain lagi soalnya," kata Monte Cristo,
"Saya tidak mutlak memerlukan cek yang ini. Tuan dapat memberi saya yang lain. Saya mengambil ini hanya agar dapat mengatakan: sebelum lima menit Tuan Danglars dapat membayar saya lima juta frank di tempat saya
memintanya. Orang akan sangat kagum kepada Tuan mendengar pernyataan saya itu. Ini saya kembalikan, dan harap diberi yang baru."
Danglars mengulurkan tangannya untuk menerima kembali cek itu, tetapi tiba-tiba berubah pendiriannya dan berusaha keras untuk menguasai diri. Lalu dia tersenyum
dan berkata, " Saya pikir, kwitansi Tuan sama nilainya dengan uang tunai."
"Tentu saja- Apabila Tuan di Roma, firma Thomson and French akan membayar Tuan secepat Tuan membayar saya,.
. . . Apakah ini berarti saya boleh mengambil cek ini?"
"Ya, silakan,"
Jawab Danglars sambil mengusap peluh di
wajahnya yang seakan-akan memancar dari akar-akar rambut kepalanya.
Monte Cristo memasukkan kembali kelima lembar cek itu ke dalam saku bajunya dengan air muka yang tidak bisa berarti lain kecuali,
"Pikirlah kembali . . masih banyak waktu untuk merubah pikiran."
"Tidak, tidak, silakan ambil saja," kata Danglars yang memahaminya.
"Tuan tentu mengerti, bagaimana kebiasaan seorang bankir. Saya bermaksud membayarkan cek itu kepada rumah sakit. Untuk sejenak saya merasa bahwa saya merampok mereka kalau tidak memberikan cek yang sudah disediakan untuk mereka itu, rasanya seakan-akan setiap frank berbeda dengan frank yang lain. Maafkan perasaan saya itu."
Lalu dia tertawa terbahak-bahak, namun
jelas dipaksakan.
"Saya mengerti dan dapat memaafkan.” kata Monte Cristo berlagak berlapang dada.
"Saya masih harus membayar seratus ribu frank lagi, bukan?"
"Ah, tidak mengapa. Jumlahnya tidak berarti. Tuan boleh menahannya, dan kita anggap perhitungan kita sudah beres."
"Sungguh-sungguhkah, Tuan?"
"Saya tidak pernah bergurau dengan seorang bankir,"
jawab Monte Cristo dengan air muka sungguh-sungguh, hampir-hampir seperti orang yang kurang sopan.
Ketika Monte Cristo hendak ke luar, seorang pelayan masuk memberitahukan kedatangan Tuan de Boville, pengurus rumah sakit.
Wajah Danglars pucat dan cepat dia meminta maaf kepada Monte Cristo. Monte Cristo saling menghormat dengan Tuan de Boville ketika mereka berpapasan di ruang tunggu. Ia langsung pergi ke bank.
Dengan menahan perasaannya Danglars menyambut tamunya. Di bibirnya tersimpul senyum yang dipaksakan.
"Bagaimana kabarnya, Tuan? Benarkah perkiraan saya Tuan datang untuk mengambil kembali uang tunai?"
"Tepat sekali. Rupanya Tuan telah menerima surat saya kemarin."
"Benar"
"Sukur. Ini tanda terima."
"Tuan de Boville," kata Danglars,
"saya terpaksa meminta kesediaan Tuan untuk menunggu sampai besok, oleh karena Count of Monte Cristo, orang yang tentu Tuan lihat tadi, telah mengambil cek yang sebenarnya saya sediakan untuk Tuan."
"Apa maksudnya?"
"Count of Monte Cristo membuka kredit pada saya tanpa batas, kredit yang dijamin oleh firma Thomson and French di Roma. Hari ini tiba-tiba saja ia datang untuk meminta lima juta frank sekaligus. Saya harus memenuhinya.
Tuan tentu dapat memahami, saya khawatir bank akan bertanya-tanya kalau saya mengeluarkan sepuluh juta dalam sehari."
"Maksud Tuan," kata Tuan de Boville sama sekali tidak percaya.
"Tuan memberikan lima juta frank kepada orang yang baru saja meninggalkan rumah ini dan mengangguk kepada saya seakan-akan dia mengenal saya?"
"Ini tanda terimanya. Boleh Tuan lihat."
Tuan de Boville menerima kwitansi dan membacanya dengan rasa kagum.
"Saya mesti menemuinya untuk meminta sumbangan untuk rumah sakit. Saya akan mencontohkan perbuatan Nyonya de Morcerf dan putranya."
"Mengapa dengan mereka?"
"Mereka menyerahkan seluruh kekayaannya kepada rumah sakit."
"Kekayaan apa?"
"Kekayaan mendiang Jendral de Morcerf."
"Mengapa mereka lakukan itu?"
"Mereka mengatakan tidak mau memiliki kekayaan yang diperoleh dengan jalan yang tidak terhormat."
"Bagaimana mereka akan hidup selanjutnya?"
"Ibunya bermaksud tinggal di daerah, sedangkan putranya mendaftarkan diri masuk tentara . . . Tetapi, baik kita kembali kepada persoalan kita."
"Baik," jawab Danglars dengan nada yang wajar sekali.
"Apakah Tuan memerlukannya segera?"
"Tentu saja .. . pembukuan kami akan diperiksa besok."
"Besok . . . masih cukup waktu. Jam berapa?"
"Jam dua siang."
"Tuan dapat menyuruh orang mengambilnya jam dua belas."
Tuan de Boville mau tak mau menyetujuinya sambil meraba-raba dompetnya.
"Sebentar," kata Danglars tiba-tiba,
"ada jalan yang lebih baik. Tanda terima dari Count of Monte Cristo sama saja nilainya dengan uang tunai. Tuan bawa ini kepada
Rothschild atau Lafitte, mereka akan mau menerimanya dan menukarnya dengan uang tunai;"
"Bukankah tanda terima ini hanya dapat diuangkan di Roma?"
"Mereka akan mau. Tetapi tentu saja ada biayanya. Mereka akan memotong lima sampai enam ribu frank."
"Lebih baik saya menunggu sampai besok. Aneh juga pikiran Tuan itu."
"Terserah. Saya akan bayar besok."
"Tidak akan gagal?"
"Rupanya Tuan berolok-olok. Suruh saja orang datang besok ke mari dan saya akan memberitahu bank saya."
"Saya akan datang sendiri."
"Lebih baik lagi. Artinya saya akan mendapat kehormatan bertemu lagi dengan Tuan."
Mereka berjabatan tangan.
"Oh" kata de Boville tiba-tiba,
"apakah Tuan tidak turut menghadiri penguburan Nona de Villefort? Saya tadi
berpapasan dengan iringan jenazahnya ketika sedang ke mari."
"Tidak, saya masih merasa malu karena peritiwa Benedetto itu. Saya mau menghindari masyarakat sebanyak mungkin untuk sementara ini.."
"Tuan boleh yakin, setiap orang menaruh simpati kepada Tuan terutama kepada putri Tuan."
"Eugenie yang malang!" kata Danglars dengan keluhan yang dalam.
"Apakah Tuan tidak mendengar bahwa dia
bermaksud masuk biara?"
"Tidak."
"Begitulah keadaannya. Sehari setelah peristiwa itu dia memutuskan pergi dengan seorang kawan karibnya yang sudah menjadi biarawati. Dia bermaksud mencari biara yang terbaik di Italia atau di Spanyol."
"Oh, mengharukan sekali."
Tuan de Boville meminta diri, dengan mengucapkan kata-kata simpati yang tulus ikhlas.
Begitu tamunya pergi Danglars berkata dengan berapi-api,
"Tolol! Aku sudah jauh dari sini kalau engkau datang besok!"
Dia mengunci pintu, mengeruk uang tunai dari laci mejanya yang berjumlah sekitar lima puluh ribu frank, membakar beberapa lembar kertas tertentu, membereskan yang lain-lainnya, lalu menulis surat dengan alamat:
"Kepada Nyonya Danglars."
Setelah itu dia mengambil paspornya dan memeriksanya.
"Bagus, masih berlaku untuk dua bulan lagi."
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar