Rabu, 28 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 46

BAB XLVI


SEHARI setelah pembicaraan Andrea dan Caderousse, Count of Monte Cristo pergi ke rumahnya di Auteuil membawa Ali dan beberapa orang pelayannya. Ketika berada di sana Bertuccio datang dari Normandia membawa berita tentang rumah yang hendak dibeli Monte Cristo di sana. Rumah itu telah beres, dan kapal kecil dengan diawaki enam orang sudah berlabuh di sebuah teluk kecil dekat rumah itu, siap untuk mengarungi lautan setiap saat.

Monte Cristo memuji ketrampilan Bertuccio dan memberitahukan agar siap untuk berangkat setiap waktu karena keperluannya di Perancis sudah akan berakhir dalam sebulan lagi. Pada saat itulah Baptisin membuka pintu.
Dia membawa sebuah baki, di atasnya sepucuk surat.

"Mengapa engkau ke mari?" tanya Monte Cristo kepada Baptistin yang pakaiannya penuh berdebu. 

"Apakah aku memanggilmu?"

Tanpa menjawab Baptistin menghampirinya dan menyerahkan surat itu. 

''Penting dan sangat mendesak," katanya.

Monte Cristo membuka surat itu:

"Count of Monte Cristo dengan ini diberitahu bahwa ada orang yang akan membongkar rumahmu di Paris dengan maksud mencuri berbagai surat berharga yang disangkanya berada dalam laci meja di kamar riasnya. 

Count of Monte Cristo cukup mampu
untuk tidak meminta perlindungan polisi. Laporan kepada polisi dapat menimbulkan terdapatnya petunjuk siapa penulis surat
ini.

Terlalu banyaknya orang di rumah itu atau penjagaan yang terlalu menyolok dapat menyebabkan si pencuri menangguhkan niatnya, dan pada gilirannya akan menyebabkan Count of Monte
Cristo kehilangan kesempatan menemukan orang yang menjadi musuhnya.

Sebuah kesempatan baik yang kebetulan diketahui oleh penulis ini dan peringatan yang tidak mungkin diulangi lagi oleh penulis apabila si pencuri gagal dalam usaha pertamanya kemudian mencoba lagi pada kesempatan lain."

Yang pertama timbul pada pikiran Monte Cristo setelah membaca surat ini, adalah sangkaan bahwa surat itu hanya merupakan suatu muslihat dari seorang pencuri belaka untuk memindahkan perhatiannya kepada suatu bahaya kecil dari bahaya lain yang jauh lebih besar. 

Oleh sebab itu, hampir saja dia menyuruh menyerahkan surat itu kepada polisi, sekalipun disarankan untuk tidak melakukannya oleh
si penulis surat itu. Tetapi tiba-tiba timbul pikiran lain.

Mungkin sekali pencuri itu betul-betul seorang musuh pribadinya, seorang musuh yang hanya dia sendiri yang dapat mengenalinya dan hanya dia sendiri yang dapat memanfaatkannya, kalau perlu.

"Dia bukan hendak mencuri surat-surat berharga," katanya kepada dirinya sendiri, 

"dia mau membunuh aku. Aku tidak ingin polisi sibuk terlibat dalam urusan pribadiku. Aku
cukup kaya untuk membebaskan mereka dari biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk urusan ini."

Dia memanggil Baptistin yang telah keluar lagi setelah menyerahkan surat tadi. 

"Cepat kembali ke Paris dan bawa
semua pelayan ke mari " katanya. 

"Aku memerlukan semuanya di sini." Baptistin membungkuk.

"Apakah perintahku jelas? Engkau harus membawa semua pelayan ke mari, tetapi aku menghendaki supaya rumah itu ditinggalkan dalam keadaan seperti sekarang.

Kunci jendela-jendela di lantai satu, hanya itu."

"Bagaimana dengan jendela-jendela di lantai dua, Tuan?"

"Engkau tahu aku tidak pernah menguncinya. Pergi sekarang."

Pada sore harinya dia makan dengan kesederhanaan dan ketenangan seperti biasa. Setelah memberi isarat kepada Ali untuk mengikutinya dia menyelinap ke luar melalui pintu samping. Menjelang malam ia sudah berada di rumahnya di Paris. Dia berdiri di bawah sebuah pohon meneliti sepanjang jalan dengan seksama, mencari kalau-kalau ada
orang yang bersembunyi di sekitar itu. 

Setelah yakin bahwa tidak ada orang yang akan menyergapnya, dia berlari ke pintu Samping diikuti Ali. membuka kuncinya lalu naik masuk ke kamar tidurnya tanpa menyingkap kan tirai-tirai jendela atau berbuat sesuatu yang bisa menjadi petunjuk
kembalinya dia ke rumah itu.

Ketika sampai di kamar tidurnya, Monte Cristo memberi tanda kepada Ali untuk berhenti. Dia masuk ke kamar pakaiannya, lalu memeriksanya dengan seksama. Segala
sesuatu masih tetap pada tempatnya. Dia melepaskan pegangan palang pintu, lalu kembali ke kamar tidurnya.

Selagi Monte Cristo melakukan pekerjaan itu Ali telah menyiapkan senjata-senjata yang diminta majikannya. Sebuah karaben pendek dan sepasang pistol berlaras ganda.

Dengan senjata-senjata itu Monte Cristo dapat mempertahankan jiwa lima orang.

Ketika itu setengah sepuluh malam. Dengan cepat Monte Cristo dan Ali memakan sepotong roti disusul dengan segelas anggur Spanyol. 

Monte Cristo menggeserkan sebuah papan pada dinding. Dengan bergesernya papan itu tampak sebuah lubang yang membuatnya dapat melihat ke ruangan lain. Pistol dan
karabennya berada di dekat jangkauannya. Ali berdiri di sebelahnya dengan memegang sebuah kapak Arab. 

Monte Cristo dapat melihat ke jalan melalui salah satu jendela kamar tidurnya.

Dua jam telah berlalu. Malam gelap gelita. Tetapi Ali berkat pembawaannya, dan Monte Cristo berkat latihannya yang sempurna dapat menembus kegelapan itu bahkan dapat melihat gerakan sekecil apa pun di pekarangan.

Monte Cristo yakin bahwa pencuri itu akan mengincar nyawanya, bukan uangnya. Oleh sebab itu pencuri itu akan masuk ke dalam kamar tidurnya, mungkin melalui tangga atau mungkin juga melalui salah sebuah jendela di kamar hiasnya. Dia memerintahkan Ali menjaga tangga dan iabsendiri mengawasi kamar pakaiannya.

Lonceng di Les Invalides berbunyi. Jam dua belas kurang seperempat. Ketika dentang terakhir hampir menghilang Monte Cristo mendengar suara goresan berasal dari kamar
pakaiannya. Suara ini menghilang sementara, lalu diikuti oleh suara kedua dan ketiga. Pada keempat kalinya Monte Cristo tahu suara apa itu. Sebuah tangan yang terlatih sedang berusaha memecahkan kaca jendela dengan sebutir intan.

Monte Cristo mendengar suara jantungnya sendiri berdetak semakin cepat. Betapapun terbiasanya seseorang dengan suatu bahaya, namun dari denyut jantungnya dan bergetarnya
daging dia selalu menyadari betapa besarnya
perbedaan antara khayalan dan kenyataan, antara bencana dan pelaksanaannya.

Monte Cristo memberi isarat kepada Ali, yang juga mengetahui bahwa bahaya datang dari arah kamar majikannya. Ia datang menghampiri Monte Cristo ingin sekali
segera mengetahui siapa sebenarnya musuhnya dan berapa orang banyaknya. 

Jendela yang kacanya sedang dipecahkan
terletak tepat sekali di hadapan lubang dinding tempat ia melihat ke kamar pakaiannya. Dia mengarahkan matanya ke jendela itu dan dia melihat sesosok bayangan di luar kaca. Kaca itu tiba-tiba menjadi gelap, seakan-akan sehelai kertas gelap direkatkan kepadanya. Tak berapa lama kemudian, kaca itu pecah tanpa jatuh ke lantai. Sebuah tangan masuk dari lubang itu melepaskan selot jendela.

Sesosok tubuh itu masuk la hanya seorang diri.

Pada saat itu Monte Cristo merasakan Ali menyentuh bahunya. Dia melihat kepada Ali. Ali menunjuk ke jendela kamar tidur yang menghadap ke jalan. Monte Cristo sadar akan ketajaman firasat pelayannya. Dia berjalan menuju jendela itu dan melihat seorang laki-laki di luar seperti sedang mengawasi apa yang sedang dan akan terjadi di rumah itu.

"Seorang bertindak dan seorang lagi menjaga," pikir Monte Cristo. 

Dia memberi isarat kepada Ali untuk mengawasi orang yang di jalan, sedang dia sendiri kembali mengawasi pencuri yang sudah berada di kamar pakaiannya.

Orang itu berdiri di kamar itu, memperhatikan keadaan sekelilingnya. Dia melihat bahwa ada dua pintu dalam ruangan itu. la tidak mengetahui bahwa pegangan palang pintu yang menuju ke kamar tidur sudah dilepaskan oleh Monte Cristo. Ia merasa aman, tidak akan terganggu.

Monte Cristo mendengar suara gemerincing serangkaian kunci seperti yang biasa dimiliki oleh tukang-tukang kunci untuk menolong membukakan pintu-pintu yang hilang kuncinya. 

Para pencuri memberi julukan "burung bulbul"
kepada rangkaian kunci semacam itu, pasti karena kepuasannya mendengar suara yang terdengar sedap di telinga ketika terbukanya pintu karena kunci itu.

"Ah!" 

Pikir Monte Cristo dengan senyum kecewa.

"Hanya seorang pencuri."

Oleh karena tidak dapat menemukan kunci yang pas dalam kegelapan, pencuri itu mengambil sebuah benda yang diletakkan di atas meja ketika dia tadi masuk. lalu salah satu menekan pernya dan tiba-tiba secercah cahaya menerangi tangan dan wajahnya.

"Hah!" 

Monte Cristo terperanjat dan mundur selangkah.

"Dia adalah..."

Ali mengangkat kapaknya.

"Jangan bergerak!" 

Perintah Monte Cristo berbisik. 

"Dan letakkan kapak itu, kita tidak akan memerlukan senjata."

Lalu Monte Cristo menambahkan perintah-perintah lainnya dengan suara yang lebih ditekan karena keterkejutannya tadi, yang barangkali juga telah mengejutkan pula orang di dalam kamar pakaian itu.

Dengan berjingkat-jingkat Ali pergi sebentar dan kembali lagi sambil membawa pakaian hitam dan topi bersegi tiga. 

Sementara itu Monte Cristo telah menanggalkan jas, rompi dan kemejanya. Di dalam kemejanya ia memakai sebuah baju besi. Yang terakhir dari jenis baju ini dipakai di
Perancis oleh Raja Louis XVI yang takut terhadap ancaman pedang, tetapi wafat karena kapak. Segera pula baju besi ini hilang tertutup oleh sebuah jubah panjang bersamaan dengan hilangnya rambut Monte Cristo di bawah sebuah wig. Topi bersegi tiga itu menutupi rambut palsunya, melengkapi penyamaran Monte Cristo menjadi seorang padri.

Pencuri yang sudah tidak mendengar lagi suara-suara yang mencurigakan melanjutkan pekerjaannya.

"Baik," 

kata Monte Cristo yang rupanya mempunyai
juga pengetahuan tentang beberapa rahasia perkuncian yang tidak diketahui oleh pencuri terpandai pun, 

"engkau akan sibuk sementara ini." 

Dia berjalan ke arah jendela. Orang yang di jalan sekarang sedang berjalan hilir mudik. Anehnya, orang itu bukannya mengawasi kalau-kalau ada orang yang datang, melainkan memusatkan perhatiannya kepada apa yang sedang terjadi di rumah Monte Cristo. 

Maksud dia berjalan-jalan hanya untuk
melihat ke dalam kamar pakaian. Tiba-tiba Monte Cristo memukul dahinya lalu tertawa agak ditahan. Dia kembali kepada Ali dan berkata,. 

"Engkau tinggal di sini dan bersembunyi dalam gelap. Apapun yang engkau dengar atau apapun yang terjadi, engkau jangan keluar kecuali kalau aku memanggil namamu."

Ali memberi isyarat bahwa ia mengerti dan akan mematuhi perintah itu.

Monte Cristo mengambil sebuah lilin dari lemari dan menyalakannya. Selagi si pencuri sibuk dengan ikhtiarnya membuka laci, dengan hati-hati sekali Monte Cristo membuka pintu dan mengusahakan sedemikian rupa sehingga
wajahnya jelas diterangi cahaya lilin. Pintu terbuka dengan perlahan sekali. Pencuri itu tidak mendengar apa-apa, hanya saja dia terkejut sekali menyadari bahwa ruangan
tiba-tiba menjadi terang. Dia berbalik.

"Selamat malam, Tuan Caderousse," kata Monte Cristo.

"Apa yang sedang Tuan kerjakan di sini pada malam selarut ini?"

''Padri Busoni!" 

Caderousse berteriak semakin terkejut. Dia tidak mengerti bagaimana "hantu" ini dapat masuk padahal ia merasa telah dengan cermat sekali menutup pintu Rangkaian kunci terjatuh dari tangannya dan ia berdiri terbengong-bengong.

Monte Cristo berjalan beberapa langkah lagi lalu berhenti antara Caderousse dan jendela. Dengan demikian dia menghalangi satu-satunya jalan lari si pencuri.

"Padri Busoni!" 

Katanya mengulang, masih dengan nada dan pandangan heran.

"Betul, saya Padri Busoni. Dan saya merasa gembira karena Tuan masih mengenal saya, Tuan Caderousse. Ini membuktikan bahwa ingatan Tuan kuat sekali, karena, kecuali kalau saya keliru, sudah sepuluh tahun lewat sejak
kita berjumpa . . . Dan sekarang Tuan sedang merampok rumah Count of Monte Cristo."

"Padri Busoni," 

Katanya lagi dengan suara dikulum. Dia mencoba mendekati jendela yang dikawal Monte Cristo.

"Saya tidak . . . harap Bapak sudi mempercayai saya . . . saya bersumpah . . ."

"Jendela kaca yang pecah, lentera, serangkai "burung bulbul," sebuah laci meja yang hampir terbongkar . . . . semua itu telah jelas."

Caderousse melihat ke sekeliling mencari tempat bersembunyi atau lubang untuk meloloskan diri.

"Saya lihat Tuan tidak berubah: Tuan Caderousse si Pembunuh," lanjut Monte Cristo.

"Oleh karena rupanya Bapak mengetahui segala-galanya, tentu Bapak mengetahui juga bahwa itu kesalahan istri saya, bukan salah saya. Pengadilan mengakui kebenaran ini, ternyata dari hukuman yang dijatuhkan hanya berupa kerja paksa."

"Apakah Tuan sudah selesai menjalani hukuman itu?"

"Tidak, Bapak, saya dibebaskan oleh seorang yang tidak saya kenal."

"Orang itu telah berbuat amal yang baik sekali bagi masyarakat."

"Begini Bapak, saya berjanji . . ."

"Kalau begitu Tuan adalah pelarian narapidana!" Monte Cristo menyela.

"Saya kira begitu," jawab Caderousse bimbang.

"Dalam hal demikian, kejahatan kecil ini mungkin sekali akan membawa Tuan ke tiang gantungan."

"Bapak, saya terpaksa . . .”

''Semua penjahat mengatakan demikian."

"Kemiskinan . . ."

"Sudah!" kata Busoni tajam. 

"Kemiskinan dapat menyebabkan seseorang meminta-minta atau mencuri sepotong roti, tetapi tidak menyebabkan dia membongkar
sebuah laci meja tulis dalam sebuah rumah yang dia sangka tidak berpenghuni. Dan ketika engkau membunuh jauhari yang datang untuk membayar harga intan yang aku berikan
kepadamu, apakah itu juga karena kemiskinan?"

"Maafkan saya, Bapak," kata Caderousse meminta.

"Bapak pernah sekali menyelamatkan jiwa saya, tolonglah untuk kedua kalinya."

"Kejadian yang dahulu tidak akan mempengaruhi saya sekarang."

"Apakah Bapak seorang diri, atau ada polisi bersama Bapak untuk menangkap saya?"

"Sendiri," kata padri, 

"dan aku mau memaafkanmu, sekalipun kelemahanku ini dapat menimbulkan keburukan lainnya, kalau engkau bersedia mengatakan segala sesuatu dengan sebenarnya."

"Oh, Bapak Busoni!" 

Teriak Caderousse gembira sekali sambil maju selangkah. 

"Bapak memang penyelamat saya!"

"Engkau mengatakan bahwa ada seseorang yang membebaskan engkau dari penjara?"

"Benar, saya berani bersumpah!"

"Siapa?"

"Seorang Inggris."

"Namanya?"

"Lord Wilmore."

"Aku kenal kepadanya, jadi aku akan dapat membuktikan kebenaran kata katamu ini."

"Saya tidak berbohong, Bapak Busoni!"

"Jadi orang Inggris itu pelindungmu, betul?"

"Bukan, beliau pelindung orang Corsica, kawan seperantauan."

"Siapa nama orang Corsica itu?"

"Benedetto."

"Nama keluarganya?"

"Dia tidak pernah mempunyai nama keluarga ... Ia seorang anak pungut."

"Dan dia pun kabur bersamamu?"

"Betul. Kami bekerja di Saint-Mandrier dekat Toulon. Pada suatu hari kami mengikir rantai kami dengan kikir yang diberikan oleh orang Inggris itu, dan kami kabur."

"Bagaimana kejadiannya dengan Benedetto?"

"Saya tidak tahu, kami berpisah di Hyeres."

"Engkau bohong!" 

Kata padri dengan nada suara yang
sukar dibantah. 

"Orang itu masih menjadi kawanmu dan
engkau mungkin akan menggunakannya sebagai kaki tanganmu."

"Oh, Bapak Busoni!"

"Apa penghasilanmu setelah meninggalkan Toulon? Jawab!"

"Dari melakukan pekerjaan lama."

"Bohong!" 

Kata padri sekali lagi dengan nada yang lebih
keras. Caderousse memandangnya dengan takut. 

"Engkau hidup dari uang yang diberikan oleh Benedetto."

"Betul begitu." jawab Caderousse. 

"Benedetto telah menjadi anak seorang bangsawan kaya."

"Bagaimana mungkin dia menjadi anak seorang bangsawan, kaya?"

"Bukan anak yang sah."

"Siapa nama bangsawan yang kaya itu?"

"Count of Monte Cristo yang tinggal di rumah ini."

"Benedetto menjadi anak Count of Monte Cristo?" 

Tanya Monte Cristo terheran heran. 

"Begitulah kira-kira, karena Count of Monte Cristo telah menemukan seorang ayah palsu baginya, yang memberinya lima ribu frank setiap bulan dan bermaksud mewariskan
setengah juta frank."

"Ah, aku paham sekarang," 

Kata padri palsu itu yang sudah mulai mengerti jalan pikiran Caderousse. 

"Nama apa yang dipergunakan anak muda itu sekarang?"

"Andrea Cavalcanti."

"Kalau begitu, dialah orangnya yang diterima kawanku Monte Cristo di rumahnya dan yang akan mengawini Nona Danglars?"

"Tepat sekali."

"Dan engkau membiarkannya, kau penjahat busuk! Engkau yang mengetahui riwayat hidupnya dan kebusukannya”

"Mengapa saya harus menghalangi kebahagian kawan sendiri?”

"Betul juga. Engkau bukanlah orangnya yang akan memberitahu Tuan Danglars. Aku…,"

"Jangan, Bapak Busoni!"

"Mengapa?"

"Karena Bapak akan menghilangkan sumber hidup kami."

"Apakah engkau mengira, karena hendak menolong sepasang penjahat mencari kehidupannya aku akan mau menjadi sekutunya? Tidak, aku akan mengatakan semuanya kepada Tuan Danglars."

"Engkau tidak akan bisa mengatakannya kepada siapa pun juga, Padri!" 

Caderousse berteriak sambil menghunus
pisaunya lalu menghujamkannya ke tengah-tengah dada Monte Cristo. Dia sangat heran karena pisau itu bukan tertancap pada dada padri melainkan mental kembali dan patah ujungnya. 

Pada saat yang bersamaan Monte Cristo
menangkap tangan penyerangnya lalu memilinnya dengan kuat sekali sehingga pisau itu terjatuh. Caderousse menjerit kesakitan.

Monte Cristo tidak melemahkan pilinannya karena jeritan ini. Bahkan ia memperkerasnya sehingga Caderousse terduduk pada lututnya dan akhirnya tertelungkup dengan wajahnya di lantai. Monte Cristo menginjakkan kakinya
pada kepala Caderousse, lalu berkata, 

"Aku tidak tahu, apa yang mencegahku menghancurkan tengkorakmu, pembunuh!"

"Kasihanilah saya! Kasihanilah saya!"

Count of Monte Cristo mengangkat lagi kakinya. 

"Berdiri!" katanya.

Caderousse berdiri.

"Ya Tuhan, kuat benar Bapak ini!” 

Kata Caderousse sambil memegang-megang tangannya yang masih sakit.

"Oh Tuhan kuat sekail!”

“Diam! Tuhan memberikan kekuatan kepadaku untuk menindas binatang-binatang jalang seperti engkau. Aku bertindak atas nama Tuhan, ingatkan itu, kau bedebah. Dan atas kehendak Tuhan juga aku melepaskanmu sekarang. Pegang pena itu dan tuliskan apa yang aku katakan."

"Saya tidak pandai menulis.” kata Caderousse.

"Bohong! Pegang pena itu dan tulis!'

Caderousse tidak dapat membantah. Dia duduk lalu menulis:

"Tuan Danglars, laki-laki yang Tuan terima di rumah Tuan dan yang Tuan rencanakan untuk diambil sebagai menantu adalah seorang penjahat yang lari dari penjara Toulon bersama saya. Dia mengaku bernama Benedetto, tetapi dia sendiri sebetulnya tidak mengetahui siapa
namanya yang sebenarnya, dan tidak pernah mengenal siapa orang tuanya."

"Tandatangani!"  Perintah Monte Cristo, lalu Caderousse menandatanganinya.

"Sekarang beri alamat: Kepada Baron Danglars, Rue de la Chaussee-d' Antin."

Caderousse menulis alamat itu. Monte Cristo mengambil kertas itu dari tangan Caderousse, lalu berkata, 

"Sekarang kau boleh pergi."

"Apakah Bapak merencanakan sesuatu terhadap saya?"

"Gila engkau! Rencana apa?"

"Tolong tegaskan, Bapak tidak menghendaki kematian saya."

"Aku menginginkan apa yang dikehendaki Tuhan," jawab Monte Cristo. 

"Kalau engkau dapat selamat sampai ke rumah, segera tinggalkan Paris, tinggalkan Perancis dan di mana pun engkau berada, selama engkau berkelakuan baik aku akan mengatur supaya engkau dapat menerima
pensiun sekadarnya setiap bulan, karena kalau engkau selamat sampai di rumah berarti... 

"Berarti apa?" tanya Caderousse bergidik.

"Berarti aku akan percaya bahwa Tuhan mengampunimu dan aku pun akan memaafkanmu."

"Bapak memperingatkan saya akan kematian!" kata Caderousse takut.

"Ayo cepat pergi!" kata Monte Cristo menunjuk jendela.

Caderousse yang tidak dapat diyakinkan sepenuhnya oleh janji Count of Monte Cristo menaiki jendela lalu menuruni tangga. Monte Cristo mendekatinya sambil membawa lilin. 

Siapa pun juga yang mengawasinya di jalan akan dapat melihat dengan jelas Caderousse sedang menuruni tangga dan diantar orang lain dengan membawa lilin. 

"Apa maksud Bapak?" tanya Caderousse cemas. 

"Bagaimana kalau ada patroli lewat?"

Monte Cristo meniup lilin. Caderousse tidak dapat bernapas lega sebelum kakinya menginjak tanah.

Monte Cristo kembali ke kamar tidurnya. Dari sana ia melihat Caderousse melintasi pekarangan lalu memasang tangga di tembok. 

Dia lihat orang yang di jalan itu bersembunyi di sudut dinding dekat dengan tempat Caderousse akan menaikinya.

Tepat ketika kakinya menginjak tanah di seberang dinding Caderousse melihat sebuah tangan memegang pisau. Sebelum dia sempat mempertahankan diri tangan itu telah menikam punggungnya, kemudian pinggangnya.

Ketika dia terjatuh, penyerangnya menjambak rambutnya dan menikamnya lagi untuk ketiga kalinya. Sekarang di dadanya. Setelah melihat korbannya tidak berkutik lagi dan matanya menutup, si penikam meninggalkannya dengan
perkiraan korbannya sudah mati.

Dengan susah payah Caderousse bangkit bertelakan kepada sikutnya. Dia berteriak lemah sekali, 

"Tolong! Padri Busoni! Saya mati!”

Teriakan yang mengharukan ini menembus kesunyian. Pintu pekarangan rumah terbuka dan Ali bersama majikannya muncul sambil memegang lentera.

"Ada apa?" tanya Monte Cristo.

"Tolong! Saya ditikam."

"Tabahkan hatimu!"

"Ah, terlambat! Bapak datang hanya tepat untuk menyaksikan kematian saya!"

Ali dan Monte Cristo mengangkat orang terluka itu ke dalam rumah Monte Cristo memeriksa ketiga luka tikam dengan cermat. Ali memandang kepada majikannya seakan-akan hendak bertanya apa yang harus dilakukan.

"Pergi ke rumah Tuan Jaksa de Villefort dan bawa beliau ke mari. Dan katakan kepada penjaga supaya dia memanggil dokter."

“Dokter tak akan dapat menyelamatkan jiwa saya, tetapi barangkali dia dapat memberi saya sedikit kekuatan sehingga saya mempunyai waktu untuk membuat sebuah pernyataan."

"Tentang apa?"

"Tentang orang yang menikam saya"

"Kau tahu siapa dia?"

"Saya tahu! Benedetto."

"Kawanmu orang Corsica itu?"

"Benar. Dialah yang memberikan denah rumah ini. Mungkin sekali dia mengharapkan saya dapat membunuh Count of Monte Cristo. Dengan demikian dia dapat menerima warisannya dengan cepat. Mungkin juga dia
mengharapkan Count of Monte Cristo dapat membunuh saya, sehingga dia terbebas dari saya. Ketika dia melihat bahwa tidak satu pun dari harapannya terjadi, dia menikam saya."

"Tuan Jaksa akan segera datang."

"Beliau akan terlambat. Saya terlalu banyak kehilangan darah."

'Tunggu " kata Monte Cristo. Dia pergi sebentar, lalu kembali lagi membawa sebuah botol. Dikucurkannya tiga empat tetes dari isinya di antara bibir Caderousse. Caderousse
menarik napas lega.

"Beri lagi saya air kehidupan itu! Tambah lagi!"

"Dua tetes lagi engkau mati."

"Oh, mengapa jaksa itu belum juga tiba?"

"Mau engkau kalau aku menuliskan pernyataanmu?"

"Ya! Ya!" 

Matanya bersinar gembira karena membayangkan pembalasan dendam dari alam baka.

Monte Cristo menulis :

"Orang yang menikam saya, seorang Corsica bernama Benedetto, kawan sepelarian saya dari penjara Toulon."

"Cepat," kata Caderousse, 

"nanti saya tak sempat menandatanganinya."

Monte Cristo menyerahkan pena kepadanya. Caderousse menyerahkan segenap tenaganya untuk menandatangani pernyataan itu. Setelah itu ia jatuh terkulai lagi. 

"Bapak akan menceritakan selebihnya, bukan? Ceritakan bahwa dia menyebut dirinya sekarang Andrea Cavalcanti, bahwa dia tinggal di Hotel des Princes, bahwa . . .Oh, Tuhan!
Tuhan! Saya mati!" Caderousse tak sadarkan diri. 

Monte Cristo menyodorkan botol obat ke bawah hidungnya supaya dia dapat menghirup baunya.

Caderousse membuka matanya lagi. Nafsu membalas dendamnya tidak hilang selama dia pingsan. 

"Bapak akan menceriterakannya lagi, bukan?" tanyanya lagi.

"Ya, semuanya dan yang lain-lainnya lagi."

"Apa yang lain-lainnya?"

"Aku akan ceritakan bahwa dia memberikan denah rumah ini dengan harapan bahwa Count of Monte Cristo akan membunuhmu. Akan aku katakan juga bahwa dia mengirim surat kepada. Count of Monte Cristo memberitahukan tentang maksudmu, dan bahwa, karena Count of Monte Cristo sedang tidak ada di tempat, akulah yang menerima surat itu dan menunggumu di sini."

"Dia akan dihukum pancung, bukan? Tolong yakinkan saya bahwa dia akan dipancung. Keyakinan itu akan memudahkan saya mati."

"Aku akan ceriterakan bahwa dia mengikutimu ke mari,"

lanjut Monte Cristo tanpa menghiraukan perkataan Caderousse, 

"bahwa dia mengawasimu selama engkau berada dalam rumah ini, dan menyembunyikan dirinya di sana."

"Maksud Bapak, Bapak melihat semuanya itu?"

"Ingat kata-kataku? Kalau engkau selamat sampai di rumah, aku yakin bahwa Tuhan mengampunimu dan aku pun akan mengampunimu."

"Bapak tidak memberitahu saya!" Caderousse berteriak mencoba bangkit. 

"Bapak tahu saya akan dibunuh dan Bapak tidak memperingatkan saya!"

"Tidak, karena aku melihat keadilan Tuhan ada pada tangan Benedetto dan aku berpendapat salah kalau aku menentang kehendak Tuhan."

"Jangan berkata tentang keadilan Tuhan kepadaku, Padri Busoni! Bapak tahu lebih dari orang lain bahwa kalau benar ada keadilan Tuhan, banyak orang harus dihukum. Nyatanya tidak."

"Sabar!" 

kata padri dengan nada suara yang mambuat
Orang sekarat itu gemetar. 

"Dengarkan, baik-baik. Tuhan yang engkau ingkari sampai detik terakhirmu di bumi ini,
adalah yang memberikan kesehatan, kekuatan, kerja yang menguntungkan dan sahabat-sahabat. Pendeknya segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk dapat hidup dengan hati yang bersih dan dapat menikmati keinginannya yang wajar.

Tetapi, bukannya mensyukuri pemberian Tuhan yang engkau lakukan, melainkan menenggelamkan dirimu sendiri ke dalam kemalasan dan mabuk, dan dalam kemabukan itu engkau mengkhianati salah seorang dari
sahabat baikmu."

"Tolong! Aku perlu dokter, bukan padri! Mungkin lukaku tidak parah, mungkin jiwaku masih dapat ditolong!"

"Luka-lukamu sangat parah sehingga seharusnya engkau sudah mati kalau aku tidak memberimu obat tadi."

"Padri aneh!" Caderousse menggerutu. 

"Bapak menggiring orang sekarat ke dalam penyesalan, bukannya menghibur!"

"Dengarkan, baik-baik," lanjut Monte Cristo. 

"Ketika engkau mengkhianati sahabatmu, Tuhan tidak menghukummu, tetapi cukup dengan memperingatkanmu.

Engkau jatuh miskin. Segera engkau berpikir jahat dan membuat kemiskinanmu sebagai dalih. Ketika Tuhan menciptakan suatu keajaiban untukmu dengan memberimuvsuatu rizki yang besar, suatu kekayaan yang sangat besar bagimu yang sedang tidak mempunyai apa-apa, ternyata rizki yang tidak diduga itu masih belum cukup juga bagimu.

Segera setelah engkau menggenggamnya engkau bernafsu melipatgandakannya. Dan dengan jalan apa? Dengan pembunuhan.

Engkau berhasil melipatgandakannya, tetapi Tuhan merenggutnya kembali dari tanganmu dan menyerahkan engkau kepada keadilan manusia. Namun demikian, Dia masih juga mengasihimu dengan membuat hakim-hakim
tidak menghukummu mati."

"Bapak anggap sebagai suatu kemurahan karena mereka menghukum saya dengan kerja paksa seumur hidup?"

"Engkau pun berpikir begitu ketika hukuman itu dijatuhkan, bedebah. Jiwamu yang pengecut, gemetar ketakutan menghadapi kematian, tetapi melonjak kegirangan ketika mendengar dengan telingamu sendiri engkau dihukum harus menjalani kehidupan yang memalukan seumur hidup. 

Engkau sendiri mengatakan, seperti juga pesakitan-pesakitan lainnya: 

'Penjara mempunyai pintu, tetapi kuburan tidak.' Dan engkau benar, ternyata pintu penjara itu terbuka untukmu dengan cara yang sama sekali tidak terduga: 

Seorang Inggris berkunjung ke Toulon dan karena ia telah membuat janji kepada dirinya sendiri untuk membebaskan dua orang dari
kehinaannya, kebetulan memilih engkau dan kawanmu.

Tuhan memberimu lagi kesempatan untuk kedua kalinya:
Kalian berdua mempunyai uang dan kebebasan dan engkau sebenarnya dapat memulai hidup baru Tetapi ternyata engkau menentang lagi Tuhan untuk ketiga kalinya. 

''Aku merasa tidak cukup,'' 

Katamu kepada dirimu sendiri padahal
keadaanmu belum pernah sebaik itu. Dan engkau membuat kejahatan ketiga, tanpa alasan. Akhirnya Tuhan murka dan menghukummu."

"Dan engkau pun akan dihukum," kata Caderousse.

"Karena tidak melakukan kewajibanmu sebagai padri. Seharusnya engkau mencegah Benedetto menikam aku."

"Aku!" 

Kata Monte Cristo dengan senyum yang membuat darah Caderousse menjadi dingin. 

"Aku harus mencegah Benedetto membunuhmu setelah engkau menikam dadaku yang untung berperisai? Seandainya tadi engkau bersikap merendah dan menyesal mungkin sekali aku akan mau menyelamatkan
jiwamu, tetapi ternyata engkau malah sombong dan haus darah."

"Aku tidak percaya kepada Tuan, dan engkau pun tidak!" teriak Caderousse. 

"Engkau bohong! Engkau bohong!"

"Diam, darahmu bisa habis terkuras dari pembuluhnya. Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal sekarang ini engkau sedang dihancurkan oleh Tuhan. Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal yang Tuhan harapkan darimu hanyalah sebuah doa sepatah kata atau setitik air mata penyesalan agar engkau dapat diampuni. 

Sebenarnya Tuhan dapat saja mengarahkan pisau Benedetto sedemikian rupa sehingga engkau mati seketika. Tetapi tidak. Tuhan
masih memberimu kesempatan seperempat jam kepadamu untuk merasakan dan membuat penyesalan. Tanyalah hati nuranimu sendiri, keparat, dan menyesallah!"

"Tidak, tidak, aku tidak mau bertobat! Tidak ada Tuhan, tidak ada Yang Maha Kuasa. Yang ada hanyalah kebetulan!"

"Ada Yang Maha Adil, yaitu Tuhan’ jawab Monte Cristo tandas. 

"Buktinya, engkau sekarang terbaring tanpa daya menghadapi mati sambil mengingkari Tuhan, dan aku, kaya, bahagia, sehat dan sejahtera, berdiri di hadapanmu sambil merapatkan kedua belah tanganku di dada sebagai tanda hormat kepada Tuhan, Tuhan yang hendak engkau coba mengingkarinya, tetapi yang dalam lubuk hatimu mau tidak mau engkau percaya juga.”

"Siapa sebenarnya engkau ini?" 

Tanya Caderousse memusatkan matanya yang telah kabur ke wajah Monte Cristo.

"Coba perhatikan aku baik-baik," 

Jawab Monte Cristo sambil melangkah lebih mendekat dan mengangkat lilin.

"Engkau . . . Padri Busoni."

Monte Cristo melepaskan rambut palsunya dan
membiarkan rambutnya yang hitam terurai hampir menutup mukanya yang pucat.

"Oh!" Caderousse kacau. 

"Kalau rambutmu tidak hitam, aku akan mengatakan engkau adalah orang Inggris itu,
Lord Wilmore!"

"Aku bukan Padri Busoni dan bukan pula Lord wilmore," jawab Monte Cristo, 

"Perhatikan lebih baik, lihat, kerahkan semua daya ingatmu."

"Rasanya aku telah pernah melihatmu, rasanya aku telah pernah mengenalmu dahulu.”

"Betul, Caderousse, engkau pernah melihatku, engkau pernah mengenalku."

"Tetapi siapa? Dan kalau memang engkau telah mengenalku mengapa engkau membiarkan aku mati?"

"Oleh karena tidak seorang pun akan dapat menyelamatkanmu sekarang, Caderousse, sebab luka-lukamu sangat parah. Seandainya masih ada harapan aku akan menganggapnya sebagai pengampunan terakhir dari Tuhan dan aku bersumpah di hadapan kuburan ayahku bahwa aku mau mencoba menolongmu kembali ke dalam kehidupan dan penyesalan."

"Katakan siapa engkau sebenarnya!"

Monte Cristo senantiasa mengawasi wajah Caderousse dan ia tahu sekarang ajalnya sudah dekat sekali. Dia membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga orang yang sekarat itu, 

"Aku adalah. . ." 

Bibirnya membisikkan suatu nama demikian lemahnya seakan-akan dia sendiri takut untuk mendengarnya, Caderousse merentangkan lengannya, lalu merapatkan kedua belah telapak tangannya dengan sangat susah payah.

"Ya Tuhanku!” katanya. 

"Maafkan aku karena telah mengingkariMu.
Aku yakin sekarang bahwa Engkau ada, bahwa Engkau adalah Bapak semua manusia di surga dan Hakim di dunia. Sekian lamanya aku menolak kehadiranMU. Ya Tuhan! Ampunilah aku! Ampunilah! Ya Tuhan, ampunilah! “

Dengan menutup mata dibarengi pekik lemah dan hembusan nafas terakhir Caderousse rebah terkulai. Dia mati.

"Satu!" 

Kata Monte Cristo penuh rahasia, seraya
memandang tajam kepada mayat. Sepuluh menit kemudian dokter dan Jaksa datang.
Mereka mendapatkan Padri Busoni sedang berdo'a untuk yang baru meninggal.

Selama dua minggu masyarakat Paris hanya membicarakan percobaan perampokan di rumah Monte Cristo.

Pencuri yang mati tertusuk sempat menandatangani sebuah pernyataan bahwa orang bernama Benedetto yang menikamnya dan polisi sedang mengerahkan segala
kemampuannya untuk menangkapnya.

Pisau Caderousse, lentera, rangkaian kunci dan pakaiannya, kecuali rompinya yang tidak dapat ditemukan kembali, semuanya disimpan di kantor polisi. 

Mayatnya di bawa ke rumah mayat
Kepada setiap yang bertanya, Count of Monte Cristo selalu mengatakan bahwa malam itu dia berada di rumahnya di Auteuil dan sebab itu ia hanya mengetahui dari apa yang diceritakan oleh Padri Busoni yang kebetulan pada malam itu meminta izin menginap di sana karena perlu mempelajari beberapa buku tertentu di
perpustakaannya.

Wajah Bertuccio selalu menjadi pucat setiap kali ia mendengar nama Benedetto disebut di hadapannya, tetapi tak seorang pun mempunyai alasan untuk memperhatikan
kepucatan wajah Bertuccio.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...