BAB XXXIX
RUANG tamu kantor de Villefort penuh. Tetapi Nyonya Danglars tidak perlu memperkenalkan diri oleh karena begitu dia masuk seorang pegawai datang menjemputnya dan menanyakan apakah benar dia nyonya yang sudah membuat janji dengan Tuan de Villefort.
Pegawai itu mengantarkan Nyonya Danglars masuk melalui pintu pribadi.
Villefort sedang menulis dengan membelakangi pintu. Dia tidak menoleh ketika Nyonya Danglars masuk. Tetapi setelah didengarnya pegawai itu menjauh, dia segera
berdiri, lalu mengunci pintu dan menutup tirai jendela.
Setelah dia yakin tidak mungkin dilihat atau didengar orang, dia menghadap kepada Nyonya Danglars dan berkata,
''Telah lama sekali kita tidak pernah berbicara lagi berdua dan aku merasa menyesal sekali bahwa kita sekarang harus bertemu untuk membicarakan sesuatu yang tidak menyenangkan."
"Saya harap engkau dapat memahami perasaanku," kata Nyonya Danglars.
"Dalam ruangan ini telah banyak sekali
penjahat yang gemetar seluruh tubuhnya karena takut atau malu. Dan karena sekarang seluruh tubuhku gemetar dan merasa malu, aku tidak dapat menahan perasaan bahwa
aku pun seorang penjahat dan engkau jaksa yang akan mengancam dengan hukuman.
Tetapi, aku rasa engkau pun akan setuju bahwa bila benar-benar aku berdosa, maka
sebenarnya aku telah dihukum setimpal tadi malam."
"Hampir lebih dari setimpal dibanding dengan daya tahanmu,"
kata Villefort sambil memegang tangannya.
"Walau demikian, aku harus mengatakan bahwa kita belum sampai kepada akhir persoalan. Bagaimana mungkin kejadian masa lalu yang mengerikan itu tiba-tiba hidup kembali? Bagaimana dia muncul kembali bagaikan hantu yang keluar dari dalam kubur, dari dalam persembunyiannya dalam hati kita?"
"Karena kebetulan, aku kira."
"Kebetulan? Tidak, tidak. Bukan kebetulan."
"Bukankah suatu hal yang kebetulan kalau Count Monte Cristo membeli rumah itu? Bukankah kebetulan kalau para pekerjanya menemukan bayi tak berdosa itu terkubur di bawah semak-semak?"
"Para pekerja itu tidak menemukan apa-apa," kata Villefort dengan suram.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, bahwa Count of Monte Cristo tidak
menemukan kerangka bayi dalam kebunnya karena tidak ada bayi yang dikuburkan di sana."
"Kalau begitu di mana engkau menguburnya? Dan apa sebabnya aku tidak diberitahu?"
"Dengarkan dahulu " kata Villefort,
"engkau pasti akan merasa iba kepadaku karena aku telah menanggung beban dukacita selama dua puluh tahun tanpa membaginya sedikit pun kepadamu. Engkau tentu masih ingat bagaimana bayi itu diserahkan kepadaku segera setelah dilahirkan dan bagaimana kita menyangka dia telah mati."
Nyonya Danglars meloncat seakan-akan hendak berdiri. Tetapi Villefort menahannya dengan isyarat agar dia mau memperhatikan apa yang hendak dikatakan selanjutnya.
"Kita mengira dia telah mati," katanya mengulangi.
"Aku memasukkan ke dalam sebuah peti, lalu menggali sebuah lubang di dalam kebun dan mengubur peti itu di dalamnya.
Belum lagi aku selesai menimbuninya, orang Corsica itu tiba-tiba menyerangku. Aku merasakan sebuah tikaman, aku mencoba berteriak tetapi tak berdaya, lalu jatuh tersungkur.
Menyangka ajalku telah dekat, Aku tidak akan dapat melupakan keberanianmu ketika aku dengan terseok-seok berjalan sampai ke kaki tangga dan engkau - sekalipun
dengan penderitaanmu sendiri karena habis melahirkan — masih kuat turun ke bawah lalu menolongku.
Aku bergulat melawan maut selama tiga bulan, lalu dokter menasihati agar aku pergi ke Selatan untuk penyembuhan, yang berlangsung
selama enam bulan. Ketika kembali ke Paris aku mendengar engkau telah menikah dengan Tuan Danglars.
Dan aku pun mendengar bahwa rumah di Auteuil tidak dihuni lagi sejak kita meninggalkannya. Pada suatu hari aku pergi ke sana pada jam lima sore, masuk ke kamar tidur
menunggu malam tiba.
"Semua pikiran yang menghantuiku selama itu terasa lebih mengancam lagi. Rupanya orang Corsica yang menikam aku itu melihat aku mengubur sesuatu. Seandainya dia mengetahui siapa engkau, mungkin dia akan memerasmu. Mungkin juga ia akan membunuhmu kalau mengetahui bahwa dia tidak berhasil membunuhku?
Oleh sebab itu aku harus menghilangkan semua jejak. Aku menunggu sampai gelap.
Aku menganggap diriku cukup pemberani, tetapi ketika aku membuka pintu dan melihat
cahaya bulan menyinari tangga, rasanya aku melihat hantu.
Aku hampir saja berteriak ketakutan dan merasa akan menjadi gila. Akhirnya aku berhasil juga menguasai diri, lalu menuruni anak tangga. Satu-satunya yang tidak berhasil aku kuasai adalah gemetarnya lutut. Pada setiap langkah aku memegang sandaran tangga erat-erat. Seandainya tidak, pasti aku terjatuh."
"Di kebun itu aku mengambil sekop dan lentera yang aku tinggalkan dahulu di sana. Aku mulai menggali. Sekalipun telah menggali dua kali lebih besar dan dua kali lebih dalam daripada lubang yang aku gali dahulu, namun aku tidak
dapat menemukan apa-apa.
Mungkin aku menggali di tempat yang salah. Aku mengingat-ingat kembali semua tanda. Aku yakin tidak keliru. Lalu aku menggali lagi lebih dalam dan lebar. Tidak ada apa-apa. Peti kayu itu tidak ada di sana!"
"Tidak ada?"
Tanya Nyonya Danglars dengan suara tertahan.
"Jangan mengira aku berhenti sampai di sana,"
Kata Villefort melanjutkan.
"Aku membayangkan orang Corsica itu mengambil peti itu karena mengira berisi harta, dan lalu setelah melihat isinya, dia menggali lubang lain dan menguburkannya kembali.
Seluruh kebun aku teliti, tetapi tidak menemukan apa-apa. Aku mencoba berpikir, apa sebab orang itu mengambil mayat itu?"
"Sudah engkau katakan tadi," sela Nyonya Danglars,
"supaya dia mempunyai bukti tentang rahasia kita."
"Tidak, bukan itu. Tidak mungkin dia menyimpan mayat itu selama setahun. Dia harus segera menunjukkan mayat itu kepada pengadilan dan membuat pernyataan. Tetapi itu. tidak dilakukannya.
Berarti ada kemungkinan lain yang lebih mengerikan: anak itu masih hidup dan orang Corsica itulah yang merawatnya."
Nyonya Danglars terpekik sambil memegang tangan de Villefort.
"Anakku masih hidup! Engkau mengubur anakku hidup-hidup! Engkau tidak yakin ketika itu bahwa dia telah mati, tetapi engkau menguburkannya juga!"
Nyonya Danglars berdiri di hadapan de Villefort dengan mata mengancam, Villefort berniat hendak mencegah meledaknya badai perasaan seorang ibu, ia harus mengganjalnya dengan perasaan takut. Dan ketakutannya sendirilah yang hendak dipindahkannya kepada Nyonya Danglars.
"Bila anak itu benar masih hidup dan orang lain mengetahuinya, kita celaka,"
katanya dengan suara perlahan-lahan.
"Dan karena Count of Monte Cristo menceritakan telah menemukan kerangka bayi di tempat yang sebenarnya tidak ada bayi terkubur, berarti dia mengetahui rahasia kita! Itulah sebabnya aku meminta engkau datang ke mari. Aku ingin memperingatkan engkau. Katakanlah,"
katanya lagi sambil memandang tamunya dengan pandangan yang lebih mantap dibandingkan dengan tadi
"engkau tidak pernah menceriterakan hubungan kita kepada siapa pun juga, bukan?"
''Tidak pernah!"
"Apakah engkau mempunyai buku harian?"
"Tidak."
"Barangkali engkau suka mengigau dalam tidur?.”
"Tidak, aku selalu tidur bagaikan seorang anak. Masa engkau lupa?”
Nyonya Danglars merah mukanya, Villefort pun tersipu sipu.
"Aku ingat," katanya,
"hampir-hampir aku tidak mendengar engkau bernapas.”
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Nyonya Danglars.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan," jawab Villefort.
"Dalam tempo satu minggu aku akan sudah mengetahui siapa sebenarnya Tuan Monte Cristo itu, dari mana dia berasal, dan mengapa dia bercerita tentang bayi-bayi yang dikubur dalam kebun,”
Villefort menjabat tangan nyonya Danglars yang diulurkan dengan sedikit enggan, lalu mengantarkannya dengan hormat sampai ke pintu.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar