BAB LIV
TIGA hari kemudian, menjelang jam setengah sembilan pada malam upacara penandatanganan perjanjian perkawinan antara Andrea Cavalcanti dan Eugenie Danglars, rumah Danglars penuh tamu yang berpakaian serba bagus. Sebenarnya mereka tidak begitu menyukai keluarga Danglars, namun mereka hadir demi sopan santun.
Ribuan lilin bertaburan menerangi seluruh ruangan yang penuh dengan perabotan yang mahal-mahal. Walau demikian kesan selera buruk pemiliknya tidak terhindarkan.
Nona Eugenie Danglars berbaju putih yang bagus potongannya, tetapi sederhana, tanpa mengenakan intan permata.
Satu-satunya hiasan hanyalah sekuntum bunga putih yang hampir terlepas dari rambutnya yang hitam pekat. Nyonya Danglars bercakap-cakap dengan Debray, Beauchamp dan Chateau Renaud dengan Danglars, dikeliling oleh raja-raja uang, menerangkan teori baru tentang perpajakan yang akan dia terapkan dalam praktek apabila Pemerintah meminta nasihatnya.
Andrea Cavalcanti sedang memegang tangan, seorang anak muda yang gagah sambil
menggambarkan kehidupan mewah dengan penghasilan 175.000 frank setahun yang akan segera ditempuhnya.
Tamu-tamu hilir mudik dalam ruangan besar bagaikan rangkaian mirah delima, jamrut dan intan yag bergerak.
Seperti biasa wanita-wanita yang beranjak tualah yang paling banyak menghias diri, dan yang paling berwajah buruklah yang paling bersemangat menonjolkan diri.
Dari waktu ke waktu, penjaga pintu berteriak memberitahukan orang yang ternama di kalangan dunia keuangan, atau yang disegani dalam kemiliteran atau seorang yang dipuja di dunia kasusasteraan.
Banyak di antara nama-nama tamu yang diumumkan kedatangannya memang nama-nama orang yang disegani, namun sebanyak itu pula nama yang diterima dengan acuh tak acuh bahkan dengan sindir cemooh.
Ketika lonceng berbunyi tepat sembilan kali, nama Count of Monte Cristo diumumkan. Setiap mata beralih ke pintu masuk. Seperti biasa Monte Cristo berdandan sederhana.
Rantai arioji emas yang melintang di dadanya
adalah satu-satunya perhiasan pada dirinya.
Dengan pandangan sekilas saja Monte Cristo dapat melihat Nyonya Danglars berada di ujung ruangan,Tuan Danglars di ujung yang lain dan Eugenie di hadapannya.
Mula-mula dia menemui Nyonya Danglars, setelah itu mengucapkan selamat kepada Eugenie. Di samping Eugenie berdiri Nona Louise d'Armily. Nona ini mengucapkan terima kasih kepada Monte Cristo untuk surat perkenalan yang diberikan Monte Cristo kepadanya untuk keperluan di Italia, yang katanya akan segera dia manfaatkan.
Ketika Monte Cristo membalikkan badan
untuk meninggalkan kedua wanita itu, ternyata dia telah berhadapan dengan Tuan Danglars yang sengaja datang menghampiri untuk menyambutnya.
Andrea yang berada di ruang sebelah dapat merasakan pengaruh kehadiran Count of Monte Cristo. Dia pun menghampirinya untuk menjabat tangannya.
Monte Cristo dikelilingi banyak tamu yang masing-masing berkeinginan untuk berbicara dengannya, seperti biasa terjadi pada orang
yang tidak banyak berbicara tetapi kalau berbicara selalu bernilai.
Notaris-notaris sudah datang. Mereka meletakkan dokumen perjanjian di atas meja yang beralaskan kain beludru bersulamkan benang emas.
Salah seorang notaris duduk di kursi yang sudah disediakan, sedang yang seorang lagi tetap berdiri. Pembacaan surat perjanjian segera dimulai.
Suasana hening sekali ketika surat itu dibacakan, tetapi begitu selesai gemuruh suara tamu lebih keras dari sebelumnya.
Jumlah uang yang disebut dalam perjanjian itu memperlengkap kekaguman para tamu yang ditimbulkan oleh gaun pengantin dan permata selengkapnya yang sudah dipajangkan di kamar sebelah. Nilai kecantikan Eugenie
meningkat lagi dalam pandangan anak-anak muda yang hadir.
Sedangkan para wanita seperti biasa, bersamaan dengan timbulnya rasa iri, hati kewanitaannya mengatakan bahwa dia tidak memerlukan semua itu untuk menambah
kecantikannya.
Andrea yang dibanjiri pujian dari kawan-kawannya akhirnya mulai percaya bahwa mimpinya akan segera menjadi
kenyataan.
Dengan khidmat sekali notaris mengambil pena, mengangkatnya di atas kepalanya lalu mengumumkan,
"Tuan-tuan, kita sekarang akan menandatangani kontrak ini."
Yang pertama-tama akan menandatanganinya adalah Baron Danglars, lalu wakil Mayor Cavalcanti, kemudian Nyonya Danglars dan akhirnya kedua calon mempelai.
Danglars menerima pena dari tangan notaris lalu membubuhkan tandatangannya, setelah itu menyerahkan pena kepada wakil Mayor Cavalcanti. Nyonya Danglars mendekat, didampingi oleh Nyonya de Villefort.
"Sayang sekali,"
kata Nyonya Danglars kepada suaminya,
"Tuan de Villefort tidak hadir karena ada perkembangan yang mendadak mengenai perampokan dan pembunuhan di rumah Count of Monte Cristo tempo hari.”
"Sayang sekali,"
Jawab Danglars dengan nada yang sama seandainya dia berkata
"Apa peduliku?"
Monte Cristo maju selangkah lalu berkata,.
"Saya khawatir sayalah yang menjadi sebab ketidak hadiran Tuan de Villefort."
"Tuan?"
kata Nyonya Danglars sambil membubuhkan
tandatagannya pada kontrak perkawinan.
"Kalau itu betul, saya tidak akan dapat memaafkan."
Telinga Andrea meruncing.
"Bukan salah saya," jawab Monte Cristo,
"bila boleh saya ingin menjelaskannya."
Semua diam dan memasang kuping.
"Tentu Nyonya masih ingat," katanya memulai,
"orang yang bermaksud merampok saya mati terbunuh, mungkin sekali oleh kawannya sendiri. Dalam usaha menyelamatkan jiwanya, mereka telah melepaskan pakaian dan melemparkannya ke sebuah sudut dekat sana.
Polisi menemukannya dan memungutnya.
Yang dibawa hanya jas dan celananya
saja, kemejanya tertinggal."
Dengan diam-diam Andrea menyelinap mendekati pintu.
"Kemeja itu baru diketemukan hari ini berlumuran darah dan berlubang di tepat di tengah hati. Kemeja itu diserahkan orang
kepada saya. Tak seorang pun tahu dari mana datangnya barang itu. Hanya saya sendiri yang menduga bahwa kemeja itu milik penjahat yang terbunuh.
Pelayan saya yang memeriksanya dengan perasaan jijik, menemukan secarik kertas dari dalam salah satu sakunya. Ternyata surat yang
ditujukan kepada Tuan Baron Danglars."
"Kepada saya!" Danglars terkejut.
"Betul kepada Tuan. Saya berhasil membaca nama Tuan di bawah percikan darah pada kertas itu,"
Tambah Monte Cristo di tengah-tengah keheranan para tamu.
"Tetapi bagaimana hubungannya dengan ketidak hadiran Tuan de Villefort?"
Tanya Nyonya Danglars, lalu memandang
cemas kepada suaminya.
"Sederhana sekali, Nyonya," jawab Monte Cristo.
"Kemeja dan surat itu merupakan barang bukti dalam kejadian ini, sebab itu saya menyerahkannya kepada Tuan de Villefort.
Menuruti hukum adalah tindakan yang paling
aman dalam perkara kejahatan, kalau tidak mungkin sekali kita sendiri mendapat kesulitan."
Tanpa melepaskan pandangannya kepada Monte Cristo, Andrea memasuki ruang lain.
"Mungkin sekali" kata Danglars.
"Orang terbunuh itu, pelarian dari penjara, bukan?'
"Betul, seorang pelarian bernama Caderousse."
Wajah Danglars mendadak pucat, sedangkan Andrea meninggalkan ruang di sebelah masuk ke ruang tunggu di depan.
"Sebaiknya penandatanganan kontrak ini diselesaikan!" kata Monte Cristo.
"Saya lihat cerita saya ini telah mengganggu. Maaf."
Nyonya Danglars yang baru saja menuliskan tandatangannya mengembalikan pena kepada notaris.
"Sekarang, silakan Pangeran Cavalcanti," kata notaris.
"Mana Pangeran Cavalcanti?"
"Cari Pangeran Cavalcanti dan katakan beliau harus mcnandatangani,"
perintah Danglars kepada salah seorang pelayannya.
Hampir setiap orang bergerak menuju ke ruang utama, seperti ketakutan. Dan benar ada alasan bagi mereka untuk ketakutan, sebab seorang perwira polisi memerintahkan dua
anak buahnya menjaga setiap pintu dan dia sendiri menghampiri Danglars.
Nyonya Danglars berteriak, lalu pingsan.
Danglars yang
merasa dirinya terancam -karena hati nurani manusia berdosa tidak pernah merasa tenang-memperlihatkan wajah yang tidak karuan karena ketakutan.
"Siapa di antara Tuan-tuan yang bernama Andrea Cavalcanti?" tanya perwira polisi itu.
Suara terheran-heran terdengar di seluruh ruangan.
"Dia adalah seorang pelarian dari penjara Toulon, dan sekarang dituduh membunuh kawan sepelariannya bernama Caderousse."
Monte Cristo melayangkan pandangannya ke sekelilingnya tetapi Andrea telah menghilang.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar