Rabu, 28 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 42

BAB XLII


DUA hari kemudian, menjelang jam sepuluh pagi jenazah Tuan dan Nyonya de Saint-Meran dimakamkan di pekuburan Pere Lachaise, di tempat yang sudah sejak lama disediakan oleh Villefort untuk kuburan keluarganya. 

Di sana sudah terbaring jenazah istrinya yang pertama, Renee, ibu Valentine.

Oleh karena upacara keagamaan sudah dilakukan di rumah Villefort, di makam tidak banyak lagi yang perlu dilakukan. Oleh sebab itu setelah kedua mayat selesai ditanam, para pengantar segera pula bubar.

Ketika Franz d'Epinay hendak berpamitan kepada Villefort, Villefort bertanya, 

"Bila kita dapat bertemu lagi?"

"Terserah kepada Tuan," jawab Franz.

"Kalau begitu, secepat mungkin."

"Apakah Tuan menghendaki saya turut bersama Tuan sekarang?"

"Benar, seandainya tidak mengganggu Tuan." 

"Sama sekali tidak "

Kedua orang itu kembali ke rumah Villefort. Tanpa menemui dahulu istri dan anaknya, Villefort mengajak tamunya langsung ke ruang kerjanya.

"Seperti Tuan ketahui,, Tuan d'Epinay," dia memulai.

"keinginan terakhir Nyonya de Saint-Meran adalah, supaya perkawinan Valentine dilakukan tanpa diundur-undur lagi.
Perjanjian perkawinan itu sedianya akan dilakukan tiga hari yang lalu, oleh sebab itu naskahnya sekarang pun telah siap. Kita dapat menandatanganinya sekarang."

"Tetapi bukankah Tuan sedang berkabung?" jawab Franz ragu-ragu.

"Jangan khawatir. Kami tidak pernah menyepelekan sopan-santun. Valentine akan tinggal selama tiga bulan di sebuah perkebunan yang diwariskan oleh Tuan dan Nyonya de Saint-Meran Seminggu sejak hari ini, dengan persetujuan Tuan, upacara perkawinan akan diselenggarakan di sana tanpa perayaan. 

Setelah perkawinan dilakukan, Tuan dapat
kembali ke Paris sedangkan istri Tuan akan menghabiskan masa berkabungnya di sana bersama ibu tirinya."

"Bila itu kehendak Tuan, terserahlah, Tuan de Villefort," kata Franz, 

"hanya saja saya ingin mengusulkan agar Albert de Morcerf dan Raoul de Chateau-Renaud turut hadir sebagai saksi."

"Apakah saya perlu mengirim utusan kepada mereka atau Tuan lebih suka menjemputnya sendiri?"

"Lebih baik saya sendiri."

"Baik. Saya mengharap Tuan kembali lagi ke mari setelah setengah jam. Valentine sudah akan siap menanti."

Franz membungkuk lalu pergi. Villefort menyuruh pelayannya memberitahu Valentine bahwa notaris dan Saksi-Saksi dari Tuan d'Epinay akan datang setengah jam lagi. 

Mendengar berita itu Valentine seakan-akan disambar petir. Dia segera menemui kakeknya. Tetapi di tangga dia bertemu dengan ayahnya, dan Villefort membawanya ke ruang duduk.

Di ruang tamu Valentine berpapasan dengan Barrois.Ia memberikan isarat kecemasan dengan pandangan matanya.

Selang beberapa saat datang pula dua buah kereta. Sebuah kereta membawa notaris dan sebuah lagi membawa Franz dan kedua kawannya. Tak lama kemudian semua telah
berkumpul di ruang duduk.

Notaris mempersiapkan segala surat yang diperlukan di atas meja, mengenakan kacamatanya, berpaling kepada Franz lalu berkata, 

"Tuan d'Epinay, Tuan de Villefort meminta saya memberi tahu Tuan bahwa perkawinan Tuan
dengan Nona de Villefort telah mengubah rencana Tuan Noirtier yang berkaitan dengan cucunya. Beliau mencabut Nona Valentine sebagai akhli waris beliau."

"Saya sangat menyesal bahwa hal ini dikemukakan dihadapan Nona de Villefort," jawab Franz. 

"Saya tidak pernah menyelidiki berapa besar kekayaan Nona de Villefort, tetapi betapapun akan berkurangnya karena pencabutan hak
itu, tetap akan jauh lebih besar dari milik saya sendiri. Apa yang dicari keluarga saya dari perkawinan ini adalah kehormatan. Yang saya cari adalah kebahagiaan."

Dalam hati Valentine menyetujui apa yang dikatakan oleh Franz. Berbarengan pula dengan itu dua titik air mata berlinang di pipinya.

"Boleh saya tambahkan," kata de Villefort kepada bakal menantunya, 

"bahwa Tuan tidak perlu berkecil hati karena
tindakan Tuan Noirtier ini, oleh karena tindakannya itu disebabkan semata-mata oleh kelemahan daya pikirnya.

Beliau akan berbuat begitu juga seandainya cucunya ini kawin dengan yang lain, dan saya yakin pada saat ini beliau ingat bahwa cucunya akan melakukan perkawinan tetapi sudah tidak akan ingat lagi siapa nama bakal suaminya itu."

Tepat pada saat Villefort akan menghabisi pembicaraannya, pintu tiba-tiba terbuka dan Barrois muncul di ambang pintu. 

"Tuan-tuan," 

katanya dengan suara yang tidak layak dari seorang pelayan kepada majikannya dalam suasana sekhidmat itu, 

"Tuan Noirtier minta berbicara dengan
Baron Franz d'Epinay sekarang juga."

Villefort terkejut, Valentine berdiri, mukanya pucat dan terdiam bagaikan patung. Albert dan Chateau-Renaud saling berpandangan penuh keheranan, sedangkan notaris memalingkan pandangannya kepada Villefort.

"Tidak mungkin," jawab Villefort. 

"Pada saat ini Tuan d'Epinay tidak dapat meninggalkan ruangan ini."

"Dalam hal demikian," kata Barrois, 

"Tuan Noirtier memerintahkan saya memberitahukan bahwa beliau sendiri yang akan datang ke ruangan ini."

"Valentine," kata Villefort, 

"coba lihat, apa pula keinginan kakekmu itu."

Valentine sudah berjalan beberapa langkah ketika Villefort mengubah pikirannya. .

"Tunggu, aku ikut"

"Maaf, Tuan de Villefort," kata Franz, 

"Oleh karena Tuan Noirtier dengan tegas meminta berbicara dengan saya, saya rasa adalah kewajiban saya untuk memenuhi permintaannya.

Di samping itu saya sendiri akan merasa senang dapat sekaligus melakukan kunjungan kehormatan yang belum pernah sempat saya lakukan dahulu."

"Oh, tak perlu Tuan bersusah-susah," kata Villetort. Jelas sekali keresahannya.

"Maaf," 

jawab Franz dengan nada pasti, 

"tetapi saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membuktikan kepada beliau bahwa saya bermaksud menghapus prasangka beliau kepada saya dengan kesetiaan saya."

Sebelum Villefort sempat menahannya Franz sudah berdiri dan mengikuti Valentine yang sudah sampai di tangga. Hati Valentine gembira seperti gembiranya seseorang yang
karam kapalnya, lalu berhasil selamat sampai ke darat, Villefort mengikuti mereka. Ketiganya menemui Noirtier menunggu di kursi rodanya.

"Ini, tuan Franz d'Epinay yang datang memenuhi permintaan Ayah," kata Villefort kepada ayahnya. 

"Sebenarnya sejak dahulu saya menghendaki Ayah bertemu dengannya, supaya Ayah yakin betapa tidak beralasan keberatan Ayah terhadap perkawinan Valentine ini."

Noirtier menjawab dengan sorot matanya yang membuat Villefort gemetar. Lalu dia memberi isarat supaya Valentine mendekat. Dalam beberapa saat, degan cara yang biasa
Valentine menemukan kata 

"kunci" 

dan setelah itu Noirtier mengarahkan pandangannya kepada laci sebuah meja tulis yang berada di antara dua buah jendela. 

Valentine membuka laci itu dan menemukan sebuah kunci. Setelah meyakinkan bahwa kunci itu yang dimaksud, Noirtier melihat
kepada sebuah meja tulis tua yang pantasnya berisi kertas-kertas yang tidak berharga.

"Apakah saya harus membuka laci meja ini?" tanya Valentine.

"Ya."

"Salah satu laci yang di pinggir?"

"Bukan."

"Yang di tengah?"

"Benar."

Valentine membuka laci itu dan mengeluarkan seberkas kertas, 

"Apakah ini yang Kakek minta?"

"Bukan," 

jawab orang tua itu dengan matanya. Kemudian dia mengarahkan matanya kepada kamus. Valentine menyebut huruf demi huruf menurut abjad sampai dia dihentikan pada huruf "R". Dia membuka kamus, menunjuki
kata demi kata dengan jari telunjuknya sampai kepada kata "rahasia".

"Apakah ada rahasia?" tanya Valentine.

"Ya,"

"Dan siapa yang mengetahui rahasia itu?" 

Noirtier memandang pintu tempat Barrois tadi keluar kamar.

"Barrois?"

"Ya."

Valentine berlari ke pintu dan memanggil Barrois.

"Barrois!" Katanya ketika pelayan tua itu memasuki ruangan.

"Kakek menyuruh saya membuka laci meja tulis itu. Katanya ada rahasia dalam laci itu dan kata beliau engkau mengetahuinya Tolong buka."

Barrois melihat kepada Noirtier. 

"Lakukan," 

kata mata Noirtier yang cerdas itu. Barrois membuka laci yang berdasar ganda lalu mengeluarkan seberkas kertas yang diikat dengan pita hitam.

"Apakah ini yang Tuan maksud?" tanyanya.

"Ya."

"Kepada siapa saya harus berikan berkas ini? Kepada Tuan de Villefort?"

"Bukan."

"Kepada Nona Valentine?"

"Bukan."

"Kepada Tuan d'Epinay?"

"Ya."

Franz terkejut. Dia melangkah ke depan dan menyambut berkas itu dari tangan Barrois. 

"Apa yang harus saya lakukan dengan berkas ini?"

"Apakah Kakek menghendaki agar Tuan d'Epinay membacanya?" Valentine turut bertanya.

"Ya," isarat kakek tua itu.

"Kalau begitu kita dapat duduk," kata Villefort tidak sabar. 

"Akan mengambil waktu yang cukup lama membaca seluruh berkas itu." 

Dia duduk, tetapi Valentine tetap berdiri di samping kursi kakeknya, sedangkan Franz berdiri di hadapannya. Franz membuka berkas itu lalu mulai membacanya:

"Kutipan dari risalah pertemuan Perkumpulan Bonaparte di Rue Saint-Jacques yang diselenggarakan pada tanggal 5 Februari
1815." Franz berhenti. 

"5 Pebruari 1815!" serunya, 

"Hari ayah saya terbunuh! Dan setelah beliau meninggalkan perkumpulan itu beliau hilang!"

Mata Noirtier memberi isarat agar dia meneruskan membacanya.

"Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, Louis-Jacques Beaurepaire, Letnan Kolonel Altileri, Etienne Duchampy, Brigadir Jendral dan Claude Lecharpal Direktur Pengairan dan Kehutanan, dengan ini memberikan pernyataan bahwa pada tanggal 4 Pebruari 1815 telah
datang sebuah surat dari Pulau Elba yang memperkenalkan kepada para anggota perkumpulan, Jendral Flavin de Ouesnal yang pernah berdinas di bawah Kaisar Napoleon
sejak 1804 sampai 1815, sebagai orang yang dipercaya masih setia kepada Napoleon sekalipun telah diberi gelar Baron oleh Raja Louis. 

"Oleh sebab itu, sebuah surat undangan telah dikirimkan kepada Jendral de Ouesnal untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan keesokan harinya tanggal 5 Pebruari 1815. 

Surat undangan tersebut tidak mencantumkan
alamat, tetapi menjanjikan akan ada orang yang menjemputnya pada jam sembilan malam hari, seandainya Jendral bersedia menghadiri pertemuan tersebut.

"Pada jam sembilan malam itu, Presiden Perkumpulan menjemput sendiri Jendral de Quesnal. Jendral telah siap. Presiden mengabarkan bahwa salah satu sarat untuk
menghadiri rapat tersebut, Jendral harus tetap tidak mengetahui alamat tempat rapat itu, dan bahwa ia harus bersedia ditutup matanya dan bahwa dia harus bersumpah tidak akan mencoba mengangkat penutup matanya selama itu. 

Jendral menyetujui persaratan ini lalu bersumpah demi kehormatan tidak akan mencoba mengetahui ke mana dia dibawa. Dalam perjalanan Presiden melihat bahwa Jendral mencoba melihat dari bawah penutup matanya lalu mengingatkannya kepada sumpahnya. ‘Oh, ya," jawab Jendral.

Kereta berhenti di sebuah lorong yang menuju ke Rue Saint-Jacques. Dengan berpegang kepada tangan Presiden, Jendral turun dari kereta, lalu berjalan sepanjang lorong itu, menaiki tangga dan seterusnya memasuki sebuah ruangan yang dipergunakan untuk tempat pertemuan. Di sana jendral diberitahu bahwa dia boleh membuka penutup matanya. Ketika matanya terbuka, dia sangat terperanjat
melihat banyak kenalannya menjadi anggota suatu perkumpulan yang sangat rahasia, yang belum pernah dicurigai Dia ditanya tentang pandangan politiknya, tetapi dia hanya menjawab bahwa surat dari Elba itu sudah cukup jelas."

Franz berhenti dahulu membaca, lalu berkata,

"Ayah saya seorang kaum Kerajaan. Tidak perlu menanyainya tentang pandangan politiknya, semua orang mengetahuinya."

"Itulah sebabnya saya bersahabat dengan ayah
Tuan”.kata Villefort. 

"Memang mudah sekali berkawan dengan orang yang sepaham."

Franz melanjutkan lagi membacanya:

"Presiden mendesak Jendral agar menyatakan pandangannya lebih terperinci lagi, tetapi Jendral menjawab bahwa ia lebih dahulu ingin mengetahui apa yang mereka harapkan dari dia. Lalu kepadanya ditunjukkan surat dari Elba yang memperkenalkan Jendral sebagai orang yang dapat diharapkan bantuannya. Sebuah bagian penuh dari surat itu menceriterakan tentang akan kembalinya Kaisar dari Pulau Elba dan menjelaskan pula bahwa keterangan
yang lebih terperinci akan diuraikan dalam surat lain yang akan disampaikan setelah tibanya kapal Le Pharaon, kapal yang dimiliki oleh perusahaan Morrel and Son dari Marseilles Dan yang kaptennya seorang yang sangat setia Kepada Kaisar."

"Ketika dia membaca surat itu, Jendral yang dipercaya oleh semua anggota perkumpulan sebagai salah seorang dari mereka itu, membuat tanda-tanda yang jelas bahwa ia
tidak menyetujui rencana itu. Setelah selesai membacanya ia tetap diam sambil mengerutkan dahi. "

"Bagaimana pendapat tuan tentang surat itu, Jendral?" tanya Presiden.

"Saya akan mengatakan bahwa sumpah kesetiaan kepada Raja Louis XVIII masih terlalu baru untuk diingkari lagi hanya untuk kepentingan bekas kaisar," jawab Jendral.

"Jawaban ini sudah cukup jelas untuk menghapuskan keraguan kita tentang pandangan politiknya,"

"Jendral," kata Presiden, 

"bagi kami tidak ada Raja Louis XVIII dan tidak ada bekas kaisar. Yang ada, hanyalah Yang Mulia Kaisar, yang dibuang dari Perancis, tanah airnya, selama sepuluh bulan terakhir ini dengan kekerasan dan pengkhianatan."

"Maafkan saya, Tuan-tuan," kata Jendral, 

"kalau bagi Tuan-tuan tidak ada Raja Louis XVIII, bagi saya ada. Beliau mengangkat saya menjadi baron dan jendral, dan saya tidak akan melupakan bahwa kedua kehormatan itu saya peroleh berkat berhasilnya beliau kembali ke Perancis."

"Harap Tuan hati-hati, Jendral," jawab Presiden. 

"Tuan telah membukakan mata kami bahwa kami keliru tentang Tuan. Sebuah gelar dan pangkat ternyata telah cukup untuk membuat Tuan mendukung penguasa baru yang akan kami gulingkan. Kami tidak akan memaksa Tuan untuk membantu kami atau bergabung dengan kami, namun kami akan memaksa Tuan untuk bertindak sebagai seorang jantan terhormat sekalipun Tuan tidak akan melakukannya. "

"Apakah Tuan akan mengatakan sebagai suatu tindakan terhormat kalau saya mengetahui tempat persembunyian Tuan dan saya tidak membocorkannya? Hal demikian saya katakan sebagai bersekutu!" 

"Tuan dibawa ke dalam pertemuan ini tidak dengan paksa," kata Presiden, 

"dan ketika kami meminta Tuan ditutup mata dalam perjalanan, Tuan menyetujuinya. Ketika Tuan menuju ke mari Tuan telah mengetahui bahwa kami bukan sedang asyik memperkokoh kedudukan Louis XVIII. Kalau demikian buat apa kami bersusah-payah bersembunyi dari polisi. Terlalu gampang bagi Tuan bersedia ditutup mata untuk mengetahui suatu rahasia, lalu menanggalkannya dan
seterusnya mengkhianati orang yang mempercayai Tuan.

Pertama-tama hendaknya Tuan katakan dengan tegas apakah Tuan berpihak kepada Raja yang kebetulan sekarang sedang berkuasa atau berpihak kepada Yang Mulia Kaisar."

"Saya berpihak kepada Raja," jawab Jendral. 

"Saya telah bersumpah setia kepada Raja Louis XVIII dan saya akan memegang teguh sumpah itu." 

"Jawaban Jendral ini disambut dengan gerutu hadirin. Jelas sekali banyak anggota perkumpulan mempertimbangkan untuk membuat Jendral menyesali kata-katanya yang terburu nafsu itu."

Presiden meminta hadirin untuk tenang. 

"Jendral," katanya,

"Tuan cukup berakal sehat untuk menyadari akibat dari keadaan ini, dan keterbukaan Tuan itulah yang menentukan sarat-sarat yang harus kami kenakan kepada Tuan. Tuan harus bersumpah demi kehormatan Tuan untuk tidak
membocorkan apa-apa yang Tuan ketahui di sini." 

Jendral berteriak sambil memegang hulu pedangnya, 

"Kalau Tuan berbicara tentang kehormatan, sebaiknya Tuan mengetahui dahulu hukumnya dan jangan memaksa saya!"

"Dan Tuan sendiri," 

kata Presiden dengan ketenangan yang lebih mengesankan daripada kemarahan Jendral,

"jangan menyentuh pedang itu. Saya menasehatkan sekali untuk tidak melakukannya." 

Jendral memandang ke sekelilingnya sebagai awal kegelisahannya. Sekalipun demikian ia masih berkata dengan tegas, 

"saya tidak akan bersumpah." 

"Bila demikian, tuan mesti mati," kata
Presiden tenang. 

"Wajah Jendral berubah pucat dan sekali
lagi ia melihat ke sekelilingnya. Beberapa anggota berbisik bisik satu sama lain dan masing-masing memegang senjatanya di balik mantel. Tetapi Jendral tetap diam.


"Tutup pintu," 

kata Presiden kepada para penjaga. Lalu
Jendral maju selangkah dan dengan ihtiar sekuat tenaga untuk menguasai diri, ia berkata, 

"Saya mempunyai seorang anak laki-laki; karena saya sekarang berada di tengah-tengah
pembunuh saya harus memikirkan nasibnya."

"Setiap orang mempunyai hak untuk menghina lima puluh orang!" kata Presiden, 

"itu adalah haknya orang yang lemah. Tetapi Tuan keliru kalau menggunakan hak itu. Bersumpah, Jendral, dan jangan menghina kami" 

Sekali lagi Jendral terkalahkan oleh kelebihan wibawa Presiden. Dia ragu-ragu sebentar, lalu bertanya, 

"Sumpah apa yang Tuan kehendaki?" 

"Begini: Saya bersumpah demi kehormatan saya bahwa saya tidak akan membocorkan
kepada siapa pun juga apa yang saya dengar antara jam sembilan dan sepuluh malam pada tanggal 5 Pebruari 1815, dan saya mengatakan bahwa saya bersedia mati seandainya saya mengingkari sumpah saya ini." 

"Kelihatan bahwa Jendral mengalami sedikit kebingungan yang menyebabkan dia tidak dapat menjawab untuk sementara waktu.

Akhirnya dengan keengganan yang tidak tersembunyikan dia mengucapkan sumpah yang diminta itu, tetapi dengan suara yang sangat lemah sehingga sukar untuk didengar.

Beberapa anggota menuntut agar ia mengulanginya dengan keras. Jendral melakukannya sekali lagi. Lalu dia bertanya,

"Apakah saya bebas untuk pergi?" 

Presiden bangkit dari duduknya, menunjuk tiga orang anggota untuk mengawaninya, lalu naik ke dalam kereta bersama Jendral yang telah ditutup lagi matanya.

"Ke mana Tuan ingin kami antarkan?" tanyanya kepada jendral.

"Ke mana saja asal saya dapat terlepas dari kehadiran Tuan," jawab Jendral Quesnal. 

"Hati-hati" kata Presiden,

"sekarang Tuan tidak lagi berada dalam suatu pertemuan, melainkan berhadapan dengan perorangan. Jangan menghina, kecuali kalau Tuan menghendaki diminta pertanggungan jawab untuk penghinaan itu." 

Tetapi Jendral tidak memahami bahasa itu. Dia menjawab. 

"Dalam kereta ini Tuan sama beraninya dengan ketika dalam pertemuan, hanya karena alasan yang sederhana sekali, yaitu bahwa empat orang selalu lebih kuat dari seorang."

"Presiden memerintahkan kereta berhenti. Mereka baru saja sampai di Quai des Ormes di mana ada tangga yang menuju ke sungai.

"Mengapa berhenti di sini?" Jendral bertanya. 

"Karena Tuan telah menghina seseorang. Dan
karena orang itu tidak mau melanjutkan selangkah pun sebelum menuntut penyelesaian yang terhormat." 

"Ini hanya merupakan bentuk lain dari pembunuhan!" kata Jendral.

"Jangan mencoba berteriak meminta tolong" kata Presiden, 

"kecuali kalau Tuan menghendaki saya
menganggap Tuan sebagai salah seorang yang saya maksudkan tadi dalam pertemuan sebagai seorang pengecut yang menggunakan kelemahannya sebagai perisai.

Sekarang, Tuan seorang diri dan hanya seorang pula yang akan melayani Tuan. Tuan mempunyai sebilah pedang di pingang, saya pun mempunyai sebuah dalam tongkat ini.

Salah seorang dari tuan-tuan ini akan menjadi saksi Tuan. Sekarang Tuan boleh membuka tutup mata. 

Jendral segera melepaskan penutup matanya. Keempat orang itu turun dari kereta." 

Franz berhenti lagi membaca untuk menyeka
keringat dingin dari dahinya. Ada sesuatu yang mengerikan tampak dalam wajah anak muda itu selama dia membaca keras-keras keterangan-keterangan yang tidak pernah
diketahuinya tentang kematian ayahnya.

Noirtier melihat kepada Villefort dengan air muka bangga dan memandang rendah. Franz membaca lagi:

"Seperti dikatakan tadi, hari itu adalah tanggal 5 Pebruari 1815. Salju telah turun tiga hari berturut-turut dan tangga yang menuju sungai itu tertutup salju. Salah seorang dari saksi meminjam sebuah lentera dari perahu nelayan
yang terdekat. 

Pedang Presiden yang bersarung tongkat
lebih pendek dari pedang Jendral. Jendral mengusulkan diadakan undian untuk pemilihan pedang, tetapi Presiden mengatakan bahwa dialah yang menantang, dan ketika menantang itu dia telah berpendapat bahwa masing-masing menggunakan senjatanya sendiri. Para pembantu mencoba memperkuat saran Jendral, tetapi Presiden meminta agar mereka tidak turut campur."

"Lentera diletakkan di atas tanah. Kedua lawan berdiri di kin kanannya Dan mulailah pertarungan itu. Jendral de Quesnal dikenal sebagai salah seorang pemain pedang yang mahir dalam ketentaraan, tetapi karena diserang secara keras ia kehilangan keseimbangan sampai terjatuh. Para saksi mengira ia terbunuh, tetapi lawannya, yang mengetahui bahwa ia tidak mengenainya, mengulurkan tangan membantunya untuk
berdiri. Kejadian ini bukannya membuat Jendral itu menjadi lebih tenang, bahkan sebaliknya memanaskan darahnya dan ia mulai menyerang dengan hebatnya.

Presiden tidak beranjak sedikit pun dari tempat berdirinya. Tiga kali Jendral mundur karena merasa jarak terlampau dekat untuk kemudian kembali lagi menyerang. Tetapi pada serangan ketiga kalinya ia jatuh tersungkur lagi. Saksi-saksi mengira ia kehilangan keseimbangannya lagi seperti tadi, tetapi ketika salah seorang dari mereka mencoba membantunya berdiri, ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah pada tangannya. Darah." 

"Jendral yang hampir kehilangan kesadarannya itu masih sempat berkata, "Oh, mereka menyewa pembunuh atau gum anggar ketentaraan untuk melawanku!'' 

Tanpa menjawab, Presiden menghampiri saksi yang memegang lentera, menyingsingkan lengan bajunya lalu memperlihatkan bahwa lengannya pun terluka pada dua tempat. 

Selanjutnya ia membuka jasnya dan melepaskan kancing kemejanya. Ia
memperlihatkan luka ketiga pada pinggangnya. Walaupun demikian ia tidak terdengar mengeluarkan erang kesakitan sedikit pun juga." Jendral meninggal lima menit kemudian."

Franz membaca bagian ini dengan suara yang tertahan sehingga hampir-hampir tidak dapat dipahami. Dia berhenti, mengusap mata dengan tangannya. Setelah berdiam sejenak ia melanjutkan lagi:

"Presiden menuruni tangga yang menuju sungai itu dengan darah bercucuran di atas salju. Beberapa saat kemudian dia mendengar suara badan Jendral diceburkan ke dalam sungai oleh para saksi, setelah mereka yakin betul akan kematiannya. 

"Dengan demikian Jendral itu meninggal dalam sebuah duel yang terhormat, bukan karena penyergapan seperti disangka orang. Sebagai kesaksian atas perkara tersebut kami menandatangani pernyataan ini demi tegaknya kebenaran, kalau-kalau pada suatu saat dikemudian hari salah seorang dari pelaku kejadian ini didakwa orang sebagai pembunuh atau pelanggar hukum. 'Tertanda:

BEAUREPAIRE
DUCHAMPY
LECHARPAL."

"Tuan Noirtier," 

kata Franz setelah selesai membaca
dokumen yang menggetarkan jiwanya itu, 

"oleh karena tampaknya Tuan mengetahui seluk-beluk kejadian ini sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya, haraplah Tuan tidak
mengecewakan saya untuk dapat mengetahui nama Presiden perkumpulan itu, sehingga akhirnya saya dapat mengetahui siapa nama pembunuh ayah saya."

Bagaikan seorang yang kehilangan akal Villefort meloncat menuju pintu, sedang Valentine yang tahu apa yang bakal menjadi jawaban kakek tua itu, dan yang sering sekali
melihat dua bekas luka di lengan kakeknya, mundur beberapa langkah karena kekhawatiran.

"Satu-satunya kekuatan yang menyebabkan saya dapat membaca dokumen itu sampai pada akhirnya adalah harapan untuk mengetahui siapa yang membunuh ayah saya,"
kata Franz selanjutnya. 

"Demi Tuhan, Tuan Noirtier, katakanlah dengan cara apapun juga sehingga saya dapat mengerti.. ."

"Baik," 

kata Noirtier dengan matanya. Lalu dia mengarahkan matanya kepada kamus. Franz mengambil kamus itu dengan tangan gemetar, lalu menyebut abjad satu demi satu sampai orang tua itu menghentikannya pada huruf S. Franz meluncurkan jarinya sepanjang kata-kata dalam kamus. Sementara itu Valentine
menyembunyikan mukanya di balik kedua belah tangannya.

Akhirnya Franz sampai kepada kata "saya".

"Betul," kata Noirtier.

'Tuan!" seru Franz. 

"Tuankah yang membunuh ayah saya?"

"Betul," 

Jawab Noirtier sambil menatap wajah anak muda itu dengan pandangan seorang raja.

Dengan lunglai Franz jatuh ke sebuah kursi.
Villefort membuka pintu dan berlari keluar oleh karena tiba-tiba saja disergap keinginan untuk merenggut kehidupan yang masih bersarang dalam tubuh orang tua yang tak pernah dapat diajak berdamai itu.




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...