Kamis, 29 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 55

BAB LV


TAK berapa lama setelah kejadian yang menghebohkan itu, rumah Danglars cepat menjadi sunyi kembali, secepat ditinggalkan orang yang ketakutan kena wabah kolera yang
dibawa salah seorang di antara tamu. 

Setiap orang bergegas meninggalkan rumah itu, atau lebih tepat lagi berlari, oleh karena dalam keadaan seperti itu semua beranggapan bijaksana untuk tidak terlibat, bahkan kewajiban menghibur kawan yang sedang ditimpa musibah pun boleh menunggu
sampai lain waktu.

Yang berada dalam rumah itu hanyalah Danglars yang harus memberikan penjelasan kepada perwira polisi di ruang kerjanya, Nyonya Danglars yang gemetar ketakutan
di kamarnya sendiri, dan Eugenie yang berlari cepat-cepat ke kamarnya dikawani oleh sahabatnya yang tidak terpisahkan, Nona Louise d’ Armiy. 

Setelah berada di dalam, Eugenie mengunci kamarnya, sedang Luoise menjatuhkan dirinya ke atas sebuah kursi.

"Mengerikan sekali!" 

kata guru musik yang masih muda belia itu. 

"Tuan Andrea Cavalcanti seorang pelarian narapidana — seorang pembunuh!"

"Lucu sekali suratan takdirku ini," kata Eugenie dengan senyum sinis, 

"terlepas dari Morcerf untuk jatuh ke dalam
cengkeraman Cavalcanti"

"Jangan dipersamakan kedua orang itu, Eugenie."

"Semua laki-laki sama! Aku akan bahagia kalau dapat lebih membenci mereka. Sekarang hanya dapat sampai memandang
rendah saja."

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?’'

''Pesis seperti yang kita rencanakan. Pergi,"

"Masih tetap kau berniat begitu sekalipun pertunanganmu telah putus sekarang?"

"Mengapa tidak? Supaya mereka bisa mencoba lagi mengawinkan aku dengan laki-laki lain dalam bulan mendatang ini? Tidak, Louise, kejadian malam ini akan merupakan alasan yang kuat sekali bagiku untuk kabur.

Aku tidak mencarinya, tetapi Tuhan telah memberikan alasan dan kesempatan ini dan aku sangat bersyukur."

“Tabah sekali hatimu," 

Kata gadis yang berambut pirang itu kepada kawannya yang berambut hitam.

"Seperti engkau tidak mengenal aku. Lebih baik kita membicarakan urusan kita. Apa kereta sudah diatur?"

"Sudah."

''Bagaimana dengan paspor?"

"Ini."

Dengan ketenangan yang sudah menjadi pembawaannya, Eugenie membuka paspor dan membaca kalimat yang tercantum di dalamnya: Tuan Leon d Armily berumur dua
puluh tahun, pekerjaan seniman, rambut hitam, mata hitam, berpergian bersama adik perempuannya. 

"Bagus! Bagaimana engkau memperoleh paspor ini?"

"Ketika aku meminta surat perkenalan kepada Count of Monte Cristo untuk direktur-direktur gedung pertunjukan di Roma dan Napoli, aku terangkan ketakutanku bepergian seorang diri sebagai seorang wanita. Beliau memahami
kekhawatiranku dan menawarkan untuk menggunakan paspor laki laki. Aku menerima paspor ini dua hari kemudian.

Aku yang menambahkan kalimat 'berpergian bersama adik perempuannya'!"

"Sekarang, tinggal mengepak koper-koper! Kita berangkat sekarang, bukan pada hari perkawinanku."

"Barangkali, ada baiknya kalau engkau memikirkan kembali, Eugenie."

"Aku sudah berulang-ulang memikirkannya! Kita mempunyai empat puluh lima ribu frank. Cukup untuk hidup sebagai putri selama dua tahun. Tetapi dalam enam bulan mendatang ini kita harus sudah dapat melipat-gandakannya.
Engkau dengan musik dan aku dengan suaraku."

'Tunggu dulu," kata Louise, berjalan ke pintu.

"Pintu itu terkunci"

"Bagaimana kalau ada orang menyuruh kita membuka pintu?"

"Biar mereka berteriak-teriak meminta, kita tidak akan membukanya."

"Engkau memang benar-benar seorang perempuan jantan, Eugenie!"

Kedua gadis itu mulai memasukkan semua barang yang dianggapnya perlu ke dalam kopor. Setelah selesai, Eugenie mengambil seperangkat pakaian laki-laki, lengkap dari jas
sampai kepada sepatu botnya. 

Dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa ini bukan untuk yang pertama kalinya, dia mengenakan pakaian itu.

"Bukan main!" kata Louise yang betul-betul terheran heran. 

"Tetapi apakah rambutmu cocok dengan topi laki-laki itu?"

"Lihat saja," jawab Eugenie. 

Dia pegang rambutnya yang tebal dengan tangan kirinya, lalu mengambil sebuah gunting dengan tangan kanannya dan dalam sekejap mata hampir seluruh rambutnya yang indah itu telah berjatuhan di lantai. Tak ada kesan menyesal dengan wajahnya bahkan sebaliknya sekali matanya memancarkan cahaya kegembiraan yang jauh lebih terang daripada yang sudah-sudah. 

"Wahai, rambut yang indah!" kata Louise sedih.

"Bukankah ini jauh lebih baik?" kata Eugenie. 

"Bukankah dengan begini aku tampak lebih cantik?"

"Benar, engkau masih tetap cantik! Tetapi ke mana sebenarnya tujuan kita?"

"Ke Belgia, kalau engkau suka. Itulah perbatasan yang terdekat Kita akan menuju ke Brussel, JLiege, Aix-la-Chapelle dan Strasbourg, lalu melintasi Swiss untuk terus ke
Italia. Setuju?"

"Tentu aku setuju."

"Apa yang kauperhatikan?"

"Engkau. Engkau benar-benar tampan sekarang. Orang mungkin mengira engkau menculik aku."

"Dan mereka tidak keliru, demi Tuhan."

"Apa! Betulkah aku mendengar engkau bersumpah?"

Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Salah seorang dari mereka meniup lilin dan dengan hati-hati sekali membuka pintu kamar. Eugenie keluar lebih dahulu dengan menjinjing ujung kopornya dengan sebelah tangan sedang
Louise mengikutinya dengan susah-payah sambil mengangkat kopornya dengan kedua belah tangan. 

Pekarangan rumah sudah kosong. Jam berdentang dua belas kali. Di jalan mereka bertemu dengan penjaga pintu lalu menyerahkan kopornya untuk dibawa ke Rue de la Victoire.

Mereka mengikutinya dari belakang. Seperempat jam kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Sebuah kereta telah siap memhawa mereka meneruskan perjalanan.

"Jalan mana yang harus saya ambil, Tuan Muda?" tanya sais.

"Jalan ke Funtainebleau," jawab Eugenie dengan meniru suara laki-laki.

"Mengapa ke sana?" tanya Louise.

"Untuk mengacaukan jejak," jawab Eugenie berbisik.

"Kita akan segera merubah arah kalau sudah sampai di jalan besar."

"Engkau selalu benar, Eugenie."

Seperempat jam kemudian kereta telah melampaui Baniere Saint-Martin dan mereka sudah berada di luar Paris. Tuan Danglars kehilangan putri tunggalnya.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...