Sabtu, 31 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 68

BAB LXVIII


TEPAT pada waktu yang bersamaan dengan
menghilangnya kapal Monte Cristo di Teluk Morgio, seorang laki-laki lain baru saja melewati sebuah kota kecil antara Florence dan Roma. Aksen bicaranya menunjukkan
orang Perancis Kata-kata Italia yang dikenalnya adalah istilah musik. 

Dia katakan 'Allegro' kepada saisnya kalau
dia menghendaki percepatan dan 'Moderate' kalau meminta berjalan sedang.

Ketika sampai di La Storta dari mana Roma dapat terlihat dari kejauhan, laki-laki ini sama sekali tidak merasakan tertarik oleh pemandangan indah itu, berbeda dengan orang asing lainnya yang selalu berhenti sejenak untuk menikmati keindahan Gereja Saint Peter yang menjulang mengatasi bangunan-bangunan lain. 

Dia, justru mengeluarkan dompet membuka kertas itu dan menatapnya dengan penuh penghargaan lalu melipatnya kembali, dan
akhirnya berkata: 

"Untung aku masih punya ini."

Kereta berjalan menyusuri Porta del Popolo, membelok ke kiri lalu berhenti di muka sebuah hotel. Pemilik hotel Itu, Signor Pastrint, menyambut tamunya di ambang pintu dengan topi di tangan. Laki-laki itu turun dari kereta, memesan kamar dan makanan dan menanyakan alamat firma Thomson and French.

Ketika tamu ini meninggalkan hotel diantar seorang penunjuk jalan, seorang laki-laki lain diam-diam mengikutinya. Rupanya orang Perancis itu sangat tergesa-gesa, sampai dia tidak mau membuang waktu menunggu kuda kereta didandani dahulu. 

Dia berjalan saja setelah memesan agar kereta itu menyusulnya dan menunggu di kantor firma Thomson and French.

Orang Perancis itu masuk, meninggalkan pengantarnya di ruang tamu.

"Firma Thomson and French!" tanya orang asing Itu kepada seorang karyawan.

Seorang pelayan berdiri atas isarat dari karyawan yang memperhatikan tamunya dengan teliti.

"Bolehkah saya mengetahui nama Tuan?" tanya pelayan.

"Baron Danglars,"

Pelayan dan baron itu memasuki ruangan lain. laki-laki yang mengikuti Danglars sejak dari hotel duduk menunggu.

Karyawan menulis lagi, sedang laki-laki yang menunggu itu tetap diam. Pena karyawan berhenti bergerak. Dia menengadah dan secara hati-hati melihat ke sekelilingnya.

"Ah!" katanya, 

"sudah di sini rupanya engkau, Peppino?"

"Ya," 

jawab laki-laki yang menunggu itu.

"Apakah sudah menemukan keterangan-keterangan mengenai orang gemuk itu?"

"Kami sudah diberi tahu sebelumnya."

"Artinya kau sudah tahu apa maksudnya datang kemari?"

"Tentu saja. Dia datang untuk mengambil uang. Yang kami perlukan sekarang berapa banyak jumlahnya."

"Akan saya beri tahukan sebentar lagi, kawan."

"Baik, tetapi jangan berikan keterangan yang salah, seperti yang kau berikan mengenai Pangeran Rusia beberapa waktu yang lalu. Kaukatakan tiga puluh ribu frank padahal kami hanya menemukan dua puluh lima ribu.”

"Barangkali kalian kurang cermat menggeladahnya."

"Tak mungkin. Luigi Vampa sendiri yang melakukannya.”

"Kalau begitu, pasti sudah dia gunakan untuk membayar hutangnya atau membelanjakannya sebagian sebelum kalian berhasil menangkapnya."

"Memang, mungkin begitu."

"Bukan mungkin, pasti. Maaf, aku tinggal dahulu, aku mau melihat berapa tepatnya uang yang ditarik orang Perancis itu."

Peppino mengangguk. Ketika karyawan itu masuk ke ruangan yang dimasuki Danglars tadi, Peppino mengeluarkan tasbih dari kantong bajunya lalu mulai berdo'a seperti
orang alim. Sepuluh menit kemudian karyawan itu kembali.

"Bagaimana?" tanya Peppino.

"Hampir tak masuk akal. Siap-siap untuk mendengarnya!"

"Lima juta, bukan?"

"Tepat. Bagaimana kau tahu?"

"Dari kwitansi yang ditandatangani Count of Monte Cristo."

"Betul!" jawab karyawan itu semakin heran. 

"Dari mana kau mendapatkan keterangan yang secermat itu?”

"Sudah kukatakan tadi, kami sudah diberitahu lebih dahulu."

"Jadi, apa gunanya lagi meminta keterangan dari aku?"

"Hanya untuk meyakinkan bahwa dialah orangnya.”

"Memang dialah orangnya ... Sstt. Dia keluar!"

Karyawan mengambil penanya dan Peppino tasbihnya. Yang satu menulis yang lain berdo'a ketika pintu terbuka dan Danglars keluar dengan wajah yang cerah, diantar oleh kepala bank sampai ke pintu. Peppino pun keluar mengikuti Danglars.

Sebuah kereta menunggu Danglars di depan kantor. Pengantar yang dibawanya dari hotel membukakan pintu dan Danglars naik. Setelah itu pengantar menutup pintu kereta dan dia sendiri duduk di sebelah kusir. Peppino naik
ke tempat duduk di belakang.

"Apakah ada minat untuk pergi ke Gereja Saint Peter, Yang Mulia," tanya pengantar.

"Buat apa?"

"Ya, untuk melihat-lihat!”

"Saya datang ke Roma tidak untuk pesiar."

"Ke mana jadi harus saya antarkan Tuan?"

"Kembali ke hotel!"

"Casa Pastrinl," kata pengantar kepada kusir.

Sepuluh menit kemudian Baron Danglars sudah kembali di kamarnya, Peppino duduk di sebuah bangku di muka hotel. 

Danglars merasa letih, mengantuk dan bahagia. Dia menyimpan dompetnya di bawah bantal, lalu tidur.

Sekalipun dia tidur dini sekali, namun keesokan harinya ia bangun terlambat sekali. Mungkin disebabkan kurang tidur selama enam hari belakangan ini.

Sarapannya hebat sekali. Tanpa tertarik sedikit pun untuk melihat-lihat kota Abadi itu, dia memesan kereta untuk tengah hari. Tetapi dia tidak memperhitungkan kebiasaan kepolisian dan kelambatan kantor pos setempat.

Kereta pesanannya tidak datang sebelum jam dua, sedangkan paspornya baru selesai diurus oleh petugas hotel jam tiga.

"Mengambil jalan mana, Tuan?"' tanya kusir dalam bahasa Italia.

"Jalan Ancona."

Signor Pastrini bertindak sebagai penterjemah. Kereta segera berangkat. Melalui Venetia Danglars bermaksud menuju Wina, sebuah kota yang terkenal sebagai kota hiburan. Di sanalah dia bermaksud menetap.

Ketika malam tiba, kereta sudah cukup jauh dari Roma. Dia bertanya kepada kusir berapa jauhnya lagi sampai ke kota berikutnya.

"Non capisco," jawab kusir.

Danglars mengangguk. Kereta berjalan terus. 

"Aku akan menginap semalam di perhentian berikut" katanya dalam hati.

Selama sepuluh menit dia memikirkan istrinya yang dia tinggalkan di Paris, sepuluh menit berikutnya diberikan kepada anaknya yang sedang berkelana entah di mana bersama Nona d’Armily. Berikutnya ia memikirkan bagaimana akan memanfaatkan uangnya. 

Setelah tidak ada lagi yang dapat dipikirkannya, ia menutup mata lalu tidur.

Kereta berhenti. Danglars membuka mata, melihat ke luar melalui jendela, mengira sudah sampai di suatu kota atau sekurang-kurangnya kampung. Tetapi dia tidak melihat apa-apa, kecuali reruntuhan beberapa bangunan.

Empat orang berjalan bolak-balik seperti bayangan. Danglars menunggu kusir yang baru saja selesai mengganti kuda datang meminta bayaran. Aneh, kuda diganti tanpa ada orang meminta bayaran. Dia merasa heran, lalu
membuka pintu kereta. Sebuah tangan yang kasar menutupnya kembali dengan keras, dan kereta berangkat lagi. 

Baron yang tidak dapat memahami kejadian ini, hilang kantuknya. 

"Hei, mio caro’” 

dia memanggil kusir dengan kata kata Italia yang dia ambil dari sebuah lagu yang dinyanyikan berduet oleh anaknya dan Pangeran Cavalcanti. 

Tetapi mio caro tidak menjawab. Danglars membuka jendela, menjulurkan kepala dan berteriak, 

"Ke mana kita?"

”Dentro la testa’" 

sebuah suara berat dengan nada mengancam menjawabnya. 

Danglars mengerti bahwa dentro la testa berarti 'masukkan kepalamu’. Cepat juga dia belajar bahasa Italia itu.

Danglars menurut, tapi bukan tanpa risau. Kerisauan ini makin lama makin meningkat, sehingga akhirnya kepalanya penuh dengan segala macam pikiran yang menakutkan,
terutama bagi orang dalam keadaan seperti dirinya. Dia melihat orang berkuda di sebelah kanan keretanya.

"Polisi,” pikirnya, 

"Barangkali pemerintah Perancis telah
mengirim kabar kepada pemerintah Roma tentang diriku.”

Dia ingin segera mendapat kepastian. 

"Ke mana aku akan kalian bawa?"

"Dentro la testa!" jawab suara yang tadi dalam nada yang sama.

Danglars melihat ke sebelah kiri Di sini pun ada orang berkuda mendampingi kereta. 

"Tak syak lagi," katanya sendiri. 

"Aku tertangkap.” 

Dia bersandar, bukan untuk tidur melainkan untuk berpikir. Tak lama kemudian bulan muncul. Dia menengok lagi ke luar dan terlihat lagi aliran air yang sudah dilihatnya tadi pada ketika permulaan perjalanan.

Hanya saja kalau tadi aliran itu berada di sebelah kanan, sekarang di sebelah kirinya. Dia menyangka bahwa kereta telah berputar haluan membawanya kembali ke Roma.

Akhirnya dia melihat bayangan hitam di hadapannya seakan-akan hendak diterjang kereta, tetapi pada detik terakhir kereta menyimpang dan berjalan di sebelah bayangan
hitam itu. Ternyata bayangan hitam itu salah satu benteng pertahanan sekeliling Roma.

"Rupanya tidak kembali ke kota. Artinya mereka bukan polisi yang mau menangkapku," pikir Danglars. 

"Ya Tuhanku! Mungkinkah mereka . . ."

Ingatannya kembali kepada cerita-cerita menarik tentang bandit-bandit Roma yang
tidak banyak dipercaya di Perancis. Teringat juga ia kepada pengalaman Albert de Morcerf.

Kereta berhenti dan pintu sebelah kiri terbuka.

“Scendi!” 

Perintah satu suara. Danglars segera turun.
Dia belum dapat berbicara bahasa Italia tetapi dapat mengerti.

Dalam keadaan lebih dekat kepada mati daripada hidup, Danglars melihat ke sekelilingnya. Dia dikepung oleh empat orang, tidak termasuk sais.

"Di qua" 

Kata salah seorang sambil berjalan memasuki
jalan setapak. Danglars mengikutinya tanpa membantah.

Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit tanpa berbicara dengan yang membawanya, Danglars mendapatkan dirinya di antara dua bukit kecil. Tanahnya penuh ditumbuhi rumput-rumput tinggi. Tiga orang berdiri tegak merupakan segitiga. Danglars berada di tengah-tengah mereka.

"Avanti!" 

Terdengar lagi suara yang bengis tadi memerintah. Sekali ini Danglars memahami perintah itu tidak dari kata-katanya, melainkan dari gerakan tubuh orang. 

Orang yang di belakangnya mendorongnya dengan kuat sekali sehingga dia menubruk orang di hadapannya. Orang ini tiada lain dari Peppino, yang sudah hafal betul liku-liku
jalan ini.

Peppino berdiri di muka sebuah batu karang besar yang setengah terbuka seperti pelupuk mata, lalu masuk ke dalamnya.

Suara dan gerakan orang di belakang Danglars memerintah agar mengikuti Peppino. Danglars tidak ragu-ragu lagi bahwa dia sudah jatuh ke tangan bandit-bandit Roma, Dua orang berjalan di belakangnya, dan selalu mendorongnya
apabila Danglars berhenti. Mereka membawa Danglars melalui sebuah gang yang agak miring ke sebuah tempat yang menyeramkan.

"Siapa itu?" tanya seorang penjaga.

"Kawan!" jawab Peppino. 

"Di mana pemimpin?"

"Di dalam."

Peppino memegang Danglars pada leher bajunya dan menarik dia melalui sebuah lubang, membawanya ke ruangan tempat tinggal kepala bandit.

'Inikah orangnya?" 

Tanya kepala bandit yang sedang asyik membaca buku Kehidupan Alexander di Plutarch.

''Betul."

"Terangi mukanya."

Atas perintah ini Peppino mendekatkan obor begitu dekat ke wajah Danglars sehingga baron itu mundur karena kepanasan. Air mukanya menunjukkan sangat ketakutan.

"Dia cape," kata kepala bandit. 

"Bawa dia ke tempat tidurnya."

Darahnya tersirap karena apa yang disebut tempat tidur terbayang olehnya sebagai kuburan. Dia mengikuti Peppino, tanpa mencoba berteriak atau meminta dikasihani
karena dia sudah tidak mempunyai kekuatan, keinginan ataupun perasaan lagi. Dia dibawa ke semacam kamar tahanan.

Keadaannya bersih dan kering sekalipun berada di bawah tanah. Di salah satu sudutnya terdapat tempat tidur dari tumpukan rumput kering dilapisi kulit biri-biri. Ketika Danglars melihatnya dia menghela napas lega karena apa yang dilihatnya itu merupakan suatu isyarat keselamatan.

"Terima kasih, Tuhan!" bisiknya. 

"Tempat tidur benar rupanya!"

“Eccotn" kata pengantarnya. 

Dia mendorong Danglars ke dalam lalu mengunci pintu dari luar. Danglars menjadi tahanan. Sekalipun pintu itu tidak dipalang umpamanya, hanya seorang suci yang didampingi malaikat dari sorgalah yang akan dapat lolos dari bandit-bandit di bawah pimpinan Luigi Vampa yang tersohor dan bermarkas di pekuburan
Saint Sebastian itu.

Danglars mengenali kepala bandit ini dari cerita Albert sehingga sekarang mau tak mau dia percaya kepada apa yang dahulu disangsikannya. Bukan saja dia mengenali
pribadi Luigi Vampa, tetapi juga mengenali kamar tahanannya sebagai kamar tahanan Morcerf dahulu. 

Mungkin sekali tempat ini sengaja disediakan untuk keperluan itu. Pemikirannya yang berikut ini memberikan sedikit ketenangan pada jiwanya: karena tidak segera dibunuh, rupanya
bandit-bandit itu memang tidak bermaksud membunuhnya.

Mereka menangkap pasti untuk merampok, tetapi karena di sakunya hanya ada beberapa ribu frank saja mereka menahannya untuk meminta uang tebusan. 

Dia ingat bahwa Albert dahulu dilepaskan dengan uang tebusan sekitar dua puluh empat ribu frank. Oleh karena dia menganggap dirinya lebih penting dari Albert maka dia memperkirakan uang tebusannya akan dua kali lipat. 

Masih akan mempunyai sisa sebanyak lima juta frank lagi. Dengan jumlah itu, dapat hidup berkecukupan di mana saja dalam dunia ini
Dengan keyakinan yang hampir penuh akan dapat terbebas dari keadaannya sekarang karena tidak pernah mendengar ada uang tebusan sebanyak lima juta frank, Danglars
merebahkan diri di tempat tidur dan tak lama kemudian lelap setenang pahlawan yang ceriteranya sedang dibaca Luigi Vampa,





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...