Rabu, 28 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 43

BAB XLIII


FRANZ meninggalkan kamar Noirtier dalam keadaan begitu terpukul sehingga Valentine sendiri pun merasa iba kepadanya. Setelah menggumamkan kata-kata yang tidak dipahami, Villefort bergegas mengunci dirinya di ruang kerjanya. Dua jam kemudian dia menerima surat berikut:

"Dengan dibongkarnya fakta-fakta pagi ini jelas sekali Tuan Noirtier de Villefort beranggapan bahwa persatuan antara keluarganya dengan keluarga Tuan Franz d'Epinay tidak mungkin terjadi. Tuan d'Epinay sangat terkejut memahami kenyataan bahwa Tuan de Villefort yang mengetahui rahasia ini tidak pernah berupaya untuk memberitahukan sebelumnya".

Surat yang tajam dari seorang anak muda
yang selama ini menaruh hormat kepadanya merupakan suatu pukulan maut bagi kehormatan orang seperti de Villefort.

Sementara itu Valentine yang merasakan kebahagiaan dan ketakutan sekaligus pada saat yang bersamaan, mencium dan menyatakan terima kasih kepada kakeknya yang hanya dengan sebuah gerakan saja telah mampu memutuskan rantai yang dianggapnya tak mungkin terputuskan. Dia meminta diri pergi ke kamarnya sendiri untuk menenangkan diri. Izin itu diberikan dengan isarat matanya.

Tetapi, bukan kamarnya yang ia tuju, melainkan kebun.Maximilien telah menantinya di pintu gerbang. Tadi, Maximilien telah melihat Franz dan de Villefort meninggalkan pekuburan bersama-sama seusai upacara penguburan
Tuan dan Nyonya de Saint-Meran dan dia menyangka pasti akan terjadi sesuatu. Oleh sebab itu ia berjaga jaga di luar tembok, siap untuk bertindak dengan penuh kepercayaan bahwa Valentine akan berlari kepadanya pada
kesempatan yang pertama.

Ketika melihat kedatangan Valentine, hatinya merasa yakin. Ketika mendengar kata-kata Valentine yang pertama hatinya melonjak karena gembira.

"Kita selamat!" kata Valentine.

"Selamat?" 

Maximilien mengulangi, tidak percaya kepada
nasib yang sangat baik itu. 

"Siapa yang menyelamatkan kita?"

"Kakek. Oh, engkau harus mencintainya, Maximilien!"

Maximilien bersumpah akan mencintai orang tua itu sepenuh hati. Sumpah itu tidak sukar keluar dari lubuk hatinya, karena pada saat itu ia tidak merasa puas dengan hanya mencintainya sebagai sahabat saja atau sebagai seorang ayah, melainkan mau memujanya seperti kepada malaikat.

'Tetapi bagaimana beliau melakukannya?"
tanya Maximilien.

Valentine sudah akan membuka mulutnya untuk menceriterakan segala-galanya, tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa ceritanya itu akan menyangkut sebuah rahasia besar yang juga melibatkan orang lain selain kakeknya. 

"Akan aku ceriterakan nanti," katanya.

"Bila?"

"Kalau aku sudah menjadi istrimu."

Jawaban ini cukup membuat Maximilien menyetujui saja. Sebab itu dia sudah merasa puas dengan apa yang sudah dikatakan Valentine, yang cukup untuk hari itu.

Namun demikian dia meminta agar Valentine menemuinya lagi esok hari. Valentine memberikan janji itu dengan senang hati. 

Pandangan Valentine kini berubah sama sekali.
Sekarang ia merasa lebih percaya bahwa ia akan kawin dengan Maximilien daripada tidak akan kawin dengan Franz.

Esok harinya Noirtier meminta notaris datang lagi. Surat wasiatnya yang terdahulu disobek dan menyuruh membuat lagi yang baru, di dalamnya ditetapkan bahwa ia akan mewariskan seluruh kekayaannya kepada Valentine, asal saja dia tidak dipisahkan denganya.

Banyak orang segera memperhitungkan bahwa Nona Valentine de Villefort, satu-satunya ahli waris Tuan dan Nyonya de Saint-Meran dan diangkat kembali menjadi ahli waris Tuan Noirtier, pada suatu saat nanti akan mempunyai penghasilan hampir tiga ratus ribu frank setahun.

Sementara perkawinan Valentine dibatalkan, Count of Morcerf mengenakan seragam letnan jendralnya, menghiasinya dengan semua tanda kehormatan yang dimilikinya, lalu meminta disiapkan kuda-kudanya yang terbaik untuk berkunjung kepada Baron Danglars.

Bankir itu sedang sibuk mempelajari neraca bulanannya, dan dalam waktu-waktu terakhir ini sukar sekali menjumpai dia dalam keadaan yang cerah gembira. Ketika sahabat lamanya masuk, ia mencoba memperlihatkan air muka
kebangsawanannya dan duduk tegak di kursinya. 

Sebaliknya, Morcerf yang biasa kaku dan resmi pada kesempatan ini berusaha meninggalkan kekakuannya dengan tersenyum ramah. 

''Inilah aku, Baron," katanya. 

"Selama ini kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk melaksanakan rencana kita”

"Rencana apa, Count?" tanya Danglars, seakan-akan tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Morcerf.

"Ah, aku tahu sekarang bahwa engkau seorang yang suka resmi dan menghendaki upacara sesuai dengan kebiasaan. Baik." 

Dengan senyum yang dipaksakan Morcerf berdiri, membungkuk dalam-dalam kepada Danglars lalu berkata,

"Baron Danglars, bolehkah saya mempunyai kehormatan untuk meminang puteri Tuan, Nona Eugenie Danglars untuk anak saya, Viscount Albert de Morcerf."

Tetapi Danglars bukannya memberi jawaban yang menyenangkan seperti yang diharapkan oleh Morcerf, melainkan mengerutkan dahi sambil berkata, 

"Sebelum memberi jawaban, Count, saya memerlukan sedikit waktu untuk memikirkannya lebih dahulu."

"Untuk memikirkannya dahulu!" seru Morcerf terheran-heran.

"Bukankah engkau telah mempunyai waktu delapan tahun untuk memikirkannya sejak kita merundingkannya?"

"Count, setiap hari timbul kejadian-kejadian yang mengharuskan kita meninjau kembali segala persoalan yang pernah kita anggap sebagai telah selesai diputuskan."

"Maaf, Baron, tetapi saya tidak dapat memahami apa yang Tuan maksudkan."

"Yang saya maksudkan, bahwa belum lama ini timbul keadaan-keadaan baru dan bahwa .,."

"Ungkapan yang samar-samar, bahkan kosong, Baron. Ungkapan itu mungkin saja dapat memuaskan orang biasa, tetapi Count of Morcerf bukanlah orang biasa. Apabila ada orang menarik kembali janji yang telah diberikan kepadanya, dia berhak menuntut alasan-alasan yang masuk akal."

Sekalipun sebenarnya Danglars seorang pengecut, namun tidak mau tampak sebagai pengecut. Selain dari itu, ia merasa tersinggung mendengar nada suara Morcerf.

"Saya mempunyai alasan yang kuat," jawabnya, 

"tetapi akan sukar sekali mengatakannya kepada Tuan."

"Suatu hal dapat dipastikan, Tuan menolak menikahkan puteri Tuan kepada anak saya."

"Bukan begitu, saya hanya menangguhkan keputusan saya."

''Tetapi pasti Tuan tidak akan menikmati keangkuhan Tuan dengan mengira bahwa saya akan sedia menuruti kehendak Tuan dan menunggu dengan patuh datangnya kemurahan hati Tuan!"

"Apabila Tuan tidak dapat menunggu, baiklah kita anggap rencana kita sebagai batal saja."

Morcerf menggigit bibirnya untuk menahan ledakan amarahnya yang sudah menjadi darah dagingnya, oleh karena ia masih sadar bahwa dalam keadaan seperti itu dialah yang akan menjadi bahan tertawaan apabila dia tidak
dapat menahan diri. 

Dia sudah sampai di ambang pintu keluar ketika tiba-tiba saja ia merubah lagi pendiriannya. Dia berbalik dan kembali lagi. Air mukanya yang marah karena tersinggung telah berubah. 

"Kita sudah berkenalan selama bertahun-tahun, Baron " katanya, 

"sebab itu pantas kita saling menghargai. Setidak-tidaknya Tuan dapat mengatakan kejadian buruk apakah yang menyebabkan
anak saya kehilangan nilai di mata Tuan."

"Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan anak Tuan secara pribadi. Hanya itulah yang dapat saya katakan,"

jawab Danglars yang menjadi sombong lagi setelah melihat kelunakan Morcerf.

"Kalau begitu, dengan siapa?" tanya Morcerf kurang enak.

Danglars menatap Morcerf dengan keyakinan diri yang lebih dari semula lalu berkata. 

"Berterima kasihlah karena saya tidak memberikan penjelasan yang terperinci"




Bersambung.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...