Sabtu, 31 Juli 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" BAGIAN I (1)

SATU



PADA  ABAD  KEDELAPAN  BELAS  di  Prancis,  tinggallah seorang  pria  yang  dikenal  sebagai  salah  seorang  tokoh paling  berbakat  sekaligus  paling  ditakuti  di  zaman  yang belum lagi mampu menoleransi  karakter  paradoks  seperti itu.  Kisah  inilah  yang  akan  dituturkan.  Namanya  Jean-Baptiste Grenouille.  Tak  seperti  tokoh  paradoks  terkenal lain  seperti  de  Sade,  Saint-Just,  Fouche,  atau  Bonaparte, nama Grenouille kini terlupakan. Dan ini bukan lantaran ia kekurangan  atribut  pendukung  seperti  arogansi, misantropi,  amoralitas,  atau  bahkan  kekejian,  tapi  lebih karena  bakat  dan  ambisinya  diletakkan  secara  ketat  di ranah yang memang tak bisa dilacak dan diendusi sejarah. 

Pada zaman itu kota-kota disesaki aroma yang asing bagi hidung manusia modern: jalan raya berbau pupuk kandang, halaman  gedung  berbau  pesing,  anak-anak  tangga  berbau 
jamur  kayu  dan  kotoran  tikus,  dapur  berserakan  sampah potongan  cabe  dan  lemak  daging  domba,  ruang  tamu berbau  apak  serta  berdebu,  kamar-kamar  tidur  seprainya tak  pernah  diganti  sampai  berminyak,  bantal-bantal lembap dan aroma manis yang  tajam dari pispot di kolong tempat  tidur,  amis  sulfur  mengembang  dari  perapian, aroma  alkali  menyengat  dari  bilik-bilik  penyamakan  kulit, 
sementara  rumah-rumah  jagal  menebar  bau  darah  beku. 

Orang-orang berbau keringat dan pakaian tak dicuci, mulut menebar  bau  gigi  busuk,  dari  perut  mengambang  aroma bawang, dan tubuh mereka - kalau tak lagi muda, menebar 
aroma  keju  anyir,  susu  basi,  dan  penyakit  tumor.  

Sungai-sungai juga  tak kalah berlomba aroma. Bau busuk hadir di pasar, di gereja, di kolong jembatan, dan bahkan di istana. 
Rakyat  jelata  tak  beda  baunya  dengan  para  pendeta.  Para murid berbagi aroma dengan istri-istri guru mereka, begitu pula kaum ningrat - bahkan sampai pada sang Raja, baunya seperti  seekor  singa  sementara  sang  Ratu  seperti  bandot tua,  tak  peduli  musim  panas  atau  musim  dingin.  Tak  ada 
yang  mampu  menghentikan  kesibukan  bakteri  pembusuk pada  abad  kedelapan  belas,  maka  tak  heran  jika  tak  satu 
pun kegiatan manusia - baik konstruktif maupun destruktif, yang tidak disertai oleh bau busuk.

Kebusukan  tentu  saja  paling  parah  mendera  Paris sebagai  kota  terbesar  di  Prancis.  Dan  konon  ada  satu tempat  di  Paris  yang  selain  berbau  busuk  juga  menebar keangkeran.  Terletak  di  antara  jalan  Fers  dan  jalan Ferronnerie,  persisnya  di  sebuah  tanah  permakaman bernama  Cimetière  des  Innocents.  Selama  delapan  ratus tahun  mayat-mayat  dibawa  ke  tempat  ini  dari  Hôtel-Dieu dan gereja setempat. 

Selama delapan ratus tahun, siang dan 
malam,  lusinan  mayat  digelandang  ke  dalam  satu  lorong yang digali memanjang, ditumpuk tulang demi tulang, baik dalam  bangunan  makam  terpisah  maupun  dalam  rumah makam. Baru pada saat menjelang Revolusi Prancis, setelah beberapa bangunan makam runtuh dan baunya sedemikian tak  tertahankan  sampai  diprotes  masyarakat  sekitar, tempat  itu  ditutup  dan  terlantar.  

Jutaan  tulang  dan tengkorak  diserok  begitu  saja  ke  dalam  liang  kubur Montmartre.  Di  tempat  ini  pula  sebuah  makanan  pasar 
kemudian didirikan. 

Alkisah,  di  tempat  terbusuk  seantero  kerajaan  inilah Jean-Baptiste  Grenouille  lahir  pada  tanggal  17  Juli  1738. Kelahirannya disambut musim panas paling menggerahkan 
tahun  itu.  Panasnya  sampai  mengelamkan  pekuburan  dan menebar aroma busuk yang kalau diendusi kira-kira seperti gabungan antara melon busuk dan bekas bakaran  kotoran binatang.  

Sedemikian  meluas  sampai  ke  gang-gang  di sekitarnya.  Saat  didera  rasa  sakit  menjelang  bersalin, ibunda Grenouille tengah berada di kedai ikan di jalan Fers dengan muka pias seperti baru saja perutnya dibelek. Ikan 
di  tempat  itu  baru  dipanen  pagi  ini  dari  sungai  Seine, dengan  amis  yang  sengatannya  mampu  menutupi  aroma mayat.  

Namun seperti umumnya manusia zaman  itu, hidung ibunda Grenouille sudah tumpul  dan tak lagi mampu membedakan antara bau amis ikan dan bau busuk mayat. Apalagi  ditambah sakit di perut yang tentunya semakin mematikan kepekaan indra.  

Ia hanya ingin rasa sakit  ini  berhenti  - bagaimana  caranya  agar  proses melahirkan  segera  berlalu.  Toh  ini  sudah  yang  kelima 
kalinya. Semua proses persalinan dilakukan di warung ikan seperti  ini,  dalam  kondisi  keguguran  atau  bayi  setengah sempurna, karena daging belepotan darah yang keluar dari rahim itu tak ubahnya jeroan ikan yang berserakan di situ. 

Kalaupun sukses lahir, hidup si bayi juga  tak lama.  Ibunda Grenouille tak pernah terlalu ambil pusing karena biasanya saat magrib seluruh porak-poranda ini sudah akan tersiram 
bersih  dan  diserok  ke  tanah  pekuburan  atau  ke  sungai.

Demikian pula yang akan terjadi hari ini. 

Ibunda  Grenouille  ketika  itu  masih  belia - belum  lewat 25  tahun.  Berparas  lumayan  cantik,  gigi lumayan utuh, dengan  rambut  kusut  tak terawat dan tidak  sedang mengidap penyakit serius - kecuali mungkin sedikit encok, sifilis,  dan  paru.  Ia  masih  ingin  hidup  lebih  lama  - katakanlah,  lima  atau  sepuluh  tahun  lagi  dan  bahkan menikah  kalau  memang  cukup  beruntung.  

Dengan  status normal sebagai seorang istri atau setidaknya janda, ia baru merasa  pantas  punya  momongan.  Ibunda  Grenouille 
sungguh berharap momen menyakitkan ini segera berlalu. 

Saat  kontraksi  terakhir  dimulai,  ia  berjongkok  di  bawah meja  jagal  lalu  bersalin  tanpa  bantuan  siapa  pun  seperti 
empat  kesempatan  sebelumnya.  Kemudian  ia  memotong tali pusar si jabang bayi dengan pisau jagal. 

Tapi  tiba-tiba, karena  tak  tahan  sengatan  cuaca  panas  dan  bau  busuk  di tempat itu  (sebenarnya ia  tak menganggapnya  bau  busuk, hanya  bau  sesuatu  yang  tak  tertahankan  seperti  kebun bunga lili atau ruangan yang dipenuhi bunga narsis), ia pun 
pingsan.  Menggelosor  jatuh  dari  bawah  meja  jagal  ke tengah  jalan  dan  tergeletak  di  situ  dengan  tangan  masih 
menggenggam pisau.

Kehebohan  merebak.  Orang-orang  berkerumun  di sekeliling,  menonton,  dan  beberapa  memanggil  polisi. 

Wanita  dengan  pisau  di  tangan  itu  masih  terbaring  di jalanan dan perlahan siuman. 
Apa  yang  terjadi  padanya?  Terdengar sejumlah orang bertanya.

Apa yang ia lakukan dengan pisau itu? 

“Tidak ada apa-apa.” 

Darah apa itu di roknya? 

“Ini darah ikan.” 

Ibunda  Genouille  bangkit  berdiri. Membuang  pisau  ke  samping lalu berjalan gontai hendak membersihkan diri.

Lalu  tiba-tiba  saja,  si  jabang  bayi  di  bawah  meja  jagal menjerit  keras.  Orang-orang  segera  celingukan.  Dan  di situlah, di balik kerumunan lalat, kotoran, dan kepala ikan, 
mereka  menemukan  sesosok  bayi  yang  baru  lahir,  lalu diangkat. Dus, sesuai hukum, segera mereka bawa si bayi ke seorang  ibu  susu  sementara  ibunya  mereka  jebloskan  ke penjara. Dan karena si wanita mengaku terus terang bahwa ia lebih suka membunuh si jabang bayi sebagaimana empat bayi  sebelumnya,  ia  pun  diadili,  diputuskan  bersalah  atas pengguguran  kandungan  beruntun  dan  dihukum  penggal beberapa minggu kemudian di de Gréve. 

Selama  beberapa  minggu  itu  si  bayi  sudah  tiga  kali berganti ibu susu. Tak ada yang ingin memeliharanya lebih dari  beberapa  hari.  

Mereka  bilang  si  bayi  begitu  rakus. Porsi  menyusunya  setara.  dengan  jatah  dua  bayi. 
Menghabiskan  jatah  susu  dan  daya  hidup  si  ibu  susu sedemikian  rupa.  Wajar  jika  tak  ada  yang  bersedia menampung  karena  tak  mungkin  bagi  seorang  ibu  susu untuk  membiayai  hidup  dengan  upah  menyusui  hanya seorang  bayi.  

Petugas  polisi  yang  bertanggung  jawab  atas kasus  ini  adalah  seorang  laki-laki  bernama  La  Fosse.  Ia terus‐terusan  dibuat  pusing  dan ingin agar  si  bayi  dikirim saja  ke  rumah  yatim-piatu  di  ujung  terjauh  jalan  Saint-Antoine,  di  mana  lalu  lintas  bayi  dan  anak-anak  ramai setiap hari dari dan ke rumah yatim-piatu publik di Rouen. 

Namun  karena  konvoinya  terdiri  atas  kuli  angkut  barang yang  membawa  keranjang  bayi  dengan  kemasan seekonomis mungkin sampai  tega menjejerkan empat bayi dalam satu keranjang, maka tak heran bila angka kematian di  lalu  lintas  tersebut  amat  tinggi.  

Sejak  itu  para  kuli disarankan  agar  hanya  mengangkut  bayi-bayi  yang  sudah dibaptis  dan  memiliki  sertifikat  transportasi  resmi  yang akan  distempel  setibanya  di  Rouen. 

Masalahnya  sekarang, bayi  Grenouille  belum  dibaptis  atau  bahkan  dinamai  agar bisa  dicatat  secara resmi di sertifikat transportasi. 

Sementara di pihak lain, secara sosial tak bisa dibilang baik jika seorang polisi menyelundupkan bayi begitu saja ke rumah yatim-piatu. Padahal hanya itu satu-satunya  cara menghindari  formalitas.  Dus,  dengan  alasan  kesulitan administrasi  dan  birokrasi  yang  pasti  terjadi  jika  si  bayi disingkirkan  begitu  saja,  dan  karena  desakan  waktu,  La 
Fosse  menarik  kembali  putusan  awal  dan  memberi instruksi agar si bayi diserahterimakan dengan kuitansi ke beberapa  lembaga  gereja  tertentu,  agar  bisa  dibaptis  dan diputuskan  nasibnya  lebih  jauh.  

Jadilah  sang  polisi membuang  si  bayi  ke  biara  Saint-Merri  yang  terletak  di jalan  Saint-Martin.  Di  sana  ia  dibaptis  dengan  nama  Jean-Baptiste.  Dan  karena  suasana  hati  pada  hari  sebelumnya sedang  baik  dan  kotak  amal  gereja  belum  kering,  mereka 
tidak  mengirim  si  bayi  ke  Rouen  dan  malah memanjakannya  atas  tanggungan  biara.  Pada  titik  ini  ia diserahkan  ke  seorang  ibu  susu  bemama  Jeanne  Bussie 
yang  tinggal  di  jalan  Saint-Dennis  dengan  bayaran  tiga franc seminggu sampai pemberitahuan lebih lanjut.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...