Sabtu, 24 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 14

BAB XIV


JAM tujuh malam keesokan harinya, segala sesuatu telah siap. Mereka memutari mercusuar pada jam tujuh lewat sepuluh, tepat pada saat lampu dinyalakan. Laut tenang dan
angin segar berhembus dari arah tenggara.

Pada jam lima sore hari berikutnya Pulau Monte Cristo sudah tampak jelas. Mereka mendarat pada jam sepuluh.

Jeune-Amelie yang datang paling dahulu di tempat pertemuan itu. Walaupun sudah terbiasa menguasai diri, sekali ini Dantes tidak berhasil menahan dirinya. Dia berlari ke
darat mendahului yang lain. Mau rasanya dia mencium tanah Monte Cristo itu seandainya tidak khawatir dicurigai orang. 

Tetapi, sia-sia apabila ia mencoba memulai mencari hartanya pada malam hari. Oleh sebab itu mau tak mau ia terpaksa menangguhkannya sampai esok harinya. Selain dari itu, dari arah laut sudah terlihat isyarat yang dijawab dengan isyarat yang sama oleh Jeune-Amelie. Isyarat itu berarti harus mulai bekerja. Kapal-kapal lain, setelah diyakinkan oleh isyarat itu segera bermunculan bagaikan hantu. Mereka membuang sauh tak berapa jauh dari pantai.

Kemudian para awak kapal bekerja, Dantes berpikir betapa ia akan dapat membuat orang berteriak kegirangan seandainya ia menceriterakan apa yang selama ini memenuhi pikirannya. Tak seorang pun menaruh curiga kepada Dantes ketika pagi berikutnya ia mengambil senapan dan memberitahukan
bahwa ia akan berburu biri-biri liar yang memang kelihatan meloncat-loncat dari satu karang ke karang yang lain. 

Kepergiannya dianggap sebagai pemenuhan
kesenangan berburu atau keinginan menyendiri. Hanya Jacopo yang memaksa ikut dan Dantes tidak berani menolaknya karena khawatir akan membangkitkan kecurigaan. 

Untung ia sudah berhasil menembak seekor
biri-biri sebelum mereka berjalan jauh. Dimintanya Jacopo mengantarkan hasil buruannya kepada teman-temannya dan mengajak mereka memasaknya, kemudian memberi isyarat dengan tembakan ke udara apabila sudah selesai.

Dantes meneruskan perjalanannya sambil berkali-kali menoleh ke belakang sampai ke tempat yang diperkirakannya sebagai tempat letak gua rahasia itu. 

Setelah memeriksa segala sesuatu di sekitarnya dengan ketelitian yang luar biasa, ia melihat bahwa pada beberapa batu ada goresan-goresan yang jelas merupakan perbuatan tangan manusia.

Tampaknya dibuat secara teratur, mungkin sekali dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu tujuan tertentu. Tanda-tanda itu menghidupkan harapan Dantes. Mungkinkah
goresan-goresan itu dibuat oleh Kardinal untuk memberikan petunjuk kepada kemenakannya? 

Dantes mengikutinya sampai habis, tetapi tanda-tanda itu tidak membawanya ke
gua apa pun. Tanda-tanda itu hanya mengantarkannya ke sebuah batu karang yang besar bundar menjulang di atas tanah yang keras. Rupanya ia bukan sampai pada akhir
jalan melainkan justru pada awalnya. Dia kembali lagi menelusuri tanda-tanda itu.
Dalam pada itu kawan-kawannya telah selesai memasak.

Ketika mereka mengangkat biri-biri itu dari
pemanggangnya, mereka melihat Dantes meloncat dari sebuah batu karang ke batu karang yang lain. Mereka menembakkan isyarat, Dantes mengubah arahnya dan
menuju kepada teman-temannya. Tiba-tiba kakinya tergelincir dan mereka melihat Dantes kehilangan keseimbangan pada ujung sebuah karang, kemudian jatuh menghilang Segera mereka berlari menuju tempat Dantes terjatuh, oleh karena mereka semua mencintai Dantes
sekalipun mempunyai lebih banyak kelebihan daripada mereka sendiri.

Mereka menemukan Dantes bercucuran darah dan hampir pingsan. Dia terjatuh dari ketinggian dua belas sampai lima belas kaki. Mereka menuangkan sedikit anggur ke dalam
mulut Dantes dan seketika itu juga Dantes membukakan matanya, ia mengeluh kesakitan pada lututnya, rasa berat pada kepalanya dan rasa nyeri yang tak tertahankan pada punggungnya. 

Ketika kawan-kawannya mencoba
mengangkatnya ke pantai, Dantes berteriak kesakitan dan mengatakan tidak cukup kuat mengikutinya. Kapten, yang harus berangkat pada pagi itu juga, memaksa mereka supaya mengangkat Dantes ke kapal, tetapi Dantes tetap bersikeras lebih baik mati daripada harus menanggung rasa sakit yang tak terkirakan. 

"Tinggalkan saja biskuit secukupnya, sebuah senapan untuk berburu, sebuah belincong
untuk membuat tempat berteduh kalau-kalau kalian terlambat menjemputku," katanya.

"Tetapi engkau akan mati kelaparan!" kata Kapten.

"Paling sedikit kami akan pergi seminggu lamanya."

"Begini, Kapten," kata Jacopo, 

"inilah jawaban untuk masalah ini: Saya akan tinggal di sini untuk merawatnya."

"Engkau mau melepaskan bagian keuntunganmu karena tinggal bersamaku di sini?" tanya Dantes.

"Ya," 

jawab Jacopo, 

"dan tanpa sesal."

"Engkau sahabat yang baik sekali, Jacopo," kata Dantes,

"pasti Tuhan akan membalas kebaikanmu, tetapi aku tidak memerlukan perawatan. Dengan istirahat dua hari, aku akan pulih kembali." 

Dia menjabat tangan Jacopo dengan
penuh kehangatan. Ketetapan hatinya untuk tinggal seorang diri, tak dapat digoyahkan lagi. Akhirnya para penyelundup itu memberikan semua yang diminta Dantes, lalu meninggalkannya.

Sejam kemudian kapal kecil itu sudah hampir hilang dari pemandangan. Dantes berdiri, tegap sigap dan lincah seperti biri-biri liar di pulau itu, memegang senapan di tangan kiri
dan belincong di tangan kanan, kemudian berlari ke batu besar tempat berakhirnya tanda-tanda goresan.

"Nah," 

katanya gembira, teringat kepada dongeng Arab yang diceriterakan Faria, 

"buka pintu!"

Setelah mengikuti goresan-goresan pada karang dengan mengambil arah yang sebaliknya, dimulai dari batu besar, Dantes menemukan bahwa tanda-tanda itu membawanya ke sebuah sungai kecil namun cukup lebar muaranya dan cukup dalam di tengah untuk dapat dilayari sebuah perahu.

Menurut perhitungannya Kardinal yang bekerja tanpa mau diketahui orang itu telah mendarat di sungai itu dan menyembunyikan perahunya di sana, kemudian berjalan sambil membuat tanda dengan goresan-goresan pada batu, dan
di ujung jalan itu mengubur hartanya. 

Perkiraan inilah yang menyebabkan Dantes kembali lagi ke batu karang yang besar tadi.
Tetapi ada suatu hal yang meragukan perhitungannya. 

Batu karang itu demikian berat, bagaimana Kardinal dapat mengangkatnya? Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas: mungkin bukan diangkat melainkan diturunkan. Dia naik ke atasnya untuk mencari tempat letak asalnya. Segera ia menemu kan tanah rniring. Batu itu didorong jatuh dari tempat asalnya sehingga berada dalam kedudukannya sekarang.

Sebuah karang lain di bawahnya menjadi pengganjal. Dantes memotong dahan pohon zaitun dan dengan dahan itu mencoba mencungkil batu besar itu. Tetapi karang
itu demikian berat dan tertanam begitu teguh sehingga tak mungkin tenaga manusia dapat menggeser.

Kiranya Dantes berpikir sejenak dan menyimpulkan bahwa ganjalnyalah yang harus dihilangkan dahulu. Dia melihat ke sekelilingnya dan matanya tertumbuk pada mesiu yang ditinggalkan Jacopo.

Dengan menggunakan belincong ia membuat lubang antara batu karang dan batu pengganjal, kemudian mengisinya dengan mesiu. Setelah itu dia menyobek saputangannya, dan sobekan itu digunakan untuk membungkus mesiu sehingga menyerupai sebuah gulungan. Dengan itulah dia membuat sumbu dinamitnya.

Dantes menyulut sumbu itu dan berlari menjauh. Ledakan yang dahsyat terjadi dalam waktu yang singkat. Batu karang yang besar itu bergeser dan batu pengganjalnya hancur
lumat.

Batu yang besar itu sekarang sudah tidak kokoh lagi letaknya. Dia mengelilinginya mencari bagian yang paling longgar. Dantes menancapkan ujung dahan pada sebuah celah,
kemudian dengan sekuat tenaganya mencungkil batu yang telah lemah kedudukannya itu. Batu itu bergerak, akhirnya bergulir jatuh menggelinding ke dalam laut.

Dengan bergulirnya batu besar itu tampak sekarang sebuah batu persegi buatan manusia yang tadinya tersembunyi. Untuk mengangkatnya, batu persegi itu telah diperlengkapi dengan sebuah gelang besi di tengah-tengahnya.

Dantes berteriak kegirangan. 

Lututnya gemetar dan hatinya berdebar demikian kuatnya, selungga ia terpaksa menghentikan pekerjaannya untuk sementara. Kemudian dia memasukkan dahan kayu itu ke dalam gelang besi dan mengangkatnya dengan sekuat tenaga. Dengan terangkatnya penutup ini, tampaklah sekarang sebuah tangga curam yang menuju ke kedalaman sebuah gua yang gelap.

Orang lain, karena sangat gembiranya pasti akan segera menuruni tangga itu tanpa berpikir panjang. Tetapi Dantes tidak. Dantes berdiri sejenak penuh ragu, dan mukanya yang sudah pucat bertambah pucat lagi. 

"Aku tidak boleh membiarkan diriku dihancurkan oleh kekecewaan," katanya
kepada dirinya sendiri, 

"sebab, kalau demikian, semua penderitaanku akan sia-sia belaka." 

Dengan senyum kebimbangan ia menuruni tangga diantar oleh satu-satunya kata yang menggambarkan kebijaksanaan terakhir manusia,

"Mudah-mudahan."

Setelah berada dalam gua untuk beberapa saat lamanya, matanya yang memang telah terbiasa dalam kegelapan, sudah dapat menembus ke setiap penjuru. Dinding gua itu terdiri dari batu granit yang keras seperti besi. Dia teringat
kepada salah satu kalimat dalam surat wasiat Kardinal itu: 

"Di ujung yang terdalam pada gua kedua." 

Dia baru menemukan gua yang pertama. Tugasnya sekarang menemukan gua yang kedua. Dengan belincongnya ia memukul-mukul dinding. Akhirnya dia menemukan tempat pada dinding yang tidak padat. Hal ini diketahuinya dari suara ketukan pada dinding. 

Tempat itu dipukulnya lagi dengan agak keras.
Sekali ini, terjadi suatu hal yang aneh. Pukulan belincongnya menyebabkan adukan tembok berguguran. Ternyata di sebelah dalam ada batu lain yang berwarna keabu-abuan dan bukan granit. Rupanya lubang pada dinding itu
ditambal dengan batu-batu lain, kemudian ditutupi dengan adukan tembok, dan permukaan tembok itu dibuat menyerupai
granit. 

Dantes menghantam batu itu dengan ujung
belincongnya yang runcing. Perkakas ini menembus batu sedalam satu inci. Dantes melanjutkan kerjanya. Setelah beberapa saat,
jelas bahwa batu-batu itu tidak disemen, melainkan hanya ditumpuk, kemudian ditutupi dengan adukan itu. Dia menekankan ujung belincong yang runcing di antara celah-celah
batu, kemudian menekan gagangnya ke bawah. Dan betapa gembiranya ketika salah sebuah batu itu terjatuh, dekat kakinya. Setelah itu, tugasnya hanya mencungkil batu-batu itu satu per satu. Akhirnya setelah mengalami lagi
keraguan untuk beberapa detik lamanya, Dantes memasuki gua yang kedua.

Gua ini kosong seperti yang pertama. Harta karun itu,bkalau memang ada, terkubur di sudut sebelah dalam. Saat-saat yang mendebarkan tiba. Jarak antara Dantes dengan puncak kegembiraan atau puncak kekecewaan hanya tinggal dua kaki lagi. Dia melangkah menuju sudut gua dan seperti didorong oleh suatu kekuatan gaib ia menghantamkan belincongnya dengan sekuat tenaga. Pada ayunan kelima atau keenam, belincongnya mengenai sesuatu barang dari logam. Sekali lagi ia mengayunkan
belincongnya agak ke pinggir. Masih juga tertumbuk pada sesuatu, tetapi suaranya berbeda dengan yang tadi. 

"Ini mesti sebuah peti kayu yang diperkuat dengan ikatan besi," katanya sendiri.

Tiba-tiba sebuah bayangan lalu, menghalangi cahaya matahari yang masuk melalui lubang di atas tanah. Dantes meletakkan belincongnya, mengambil senapannya dan cepat-cepat keluar dari dalam gua. Seekor biri biri liar rupanya
meloncat melangkahi lubang gua dan sekarang sedang merumput beberapa langkah dari situ. 

Dantes berpikir sebentar, kemudian menebang sebuah pohon cemara yang masih kecil, dan menyalakannya dari sisa api yang dipergunakan kawan-kawannya untuk memanggang biri-biri.

Dantes kembali lagi masuk ke dalam gua membawa obor. Dia ingin melihat semua yang berada dalam gua dengan jelas sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya. Dia menerangi lubang yang telah dibuatnya dengan obor. 

Benar, belincongnya mengenai kayu dan besi Dantes menancapkan obor di tanah dan melanjutkan lagi kerjanya. Dalam waktu yang tidak lama ia sudah berhasil menggali
lubang sebesar dua kali dua kaki dan dapat melihat dengan jelas sebuah peti kayu diikat dengan besi. Di tengah-tengah tutup peti terdapat lambang keluarga Spada, terbuat dari
perak, yang dengan mudah dapat dikenali Dantes karena Padri Faria telah berulang kali menggambarkannya. Tak ada keraguan lagi sekarang: harta karun itu ada. Tak mungkin ada orang yang mau bekerja begitu hati-hati dan teliti hanya untuk meninggalkan sebuah peti yang telah diambil seluruh isinya yang berharga.

Dantes membersihkan tanah di sekeliling peti itu. Mula-mula tampak kuncinya, sesudah itu pegangannya pada kedua pinggirnya. Dantes menarik peti itu dari pegangannya, namun peti itu tidak bergeser sedikit pun. Dia mencoba
membukanya, juga tidak dapat karena terkunci rapat.

Kemudian dia menempatkan ujung belincong di antara peti dan penutupnya, sesudah itu menekan gagangnya ke bawah. Terdengar suara berderak, dan terbukalah peti itu.

Mendadak kepala Dantes menjadi pusing. Dia memejamkan mata seperti kanak-kanak, kemudian membukanya lagi dan berdiri dengan takjub. Peti itu terbagi menjadi tiga bagian. Dalam petak pertama terdapat uang mas yang berkilauan. Petak kedua penuh
dengan emas batangan yang tersusun rapih. Dari petak ketiga yang hanya berisi setengahnya, ia menjumput segenggam
berlian, mutiara dan batu merah delima. Ketika dilepaskan lagi permata-permata itu mengalir melalui jari-jarinya bagaikan sebuah air terjun kecil yang berkilauan, mengeluarkan suara seperti hujan es menimpa kaca-kaca jendela.

Setelah menyentuhnya, menggenggamnya dan menguburkan tangannya yang gemetar ke dalam tumpukan emas dan batu-batu berharga itu, Dantes berlari ke bibir gua dengan gejolak hati seseorang yang sudah berada di ambang
kegilaan. Dia naik ke sebuah batu karang tinggi sehingga ia dapat memandang laut di sekelilingnya.

Dia hanya sendirian, sendiri dengan kekayaan yang tidak ternilai, yang hanya ada dalam dongeng, yang sekarang menjadi miliknya
pribadi. Apakah dia ada dalam alam mimpi atau alam nyata? 

Dia ingin melihat kekayaannya sekali lagi, namun ia merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya.

Dia menekan kepalanya dengan kedua belah tangan, seakan-akan ingin mencegah jangan sampai pikiran warasnya menghilang dari kepalanya. Dia berlari-lari sambil berjingkrak-jingkrak dan berteriak-teriak seperti kanak-kanak di seputar pulau itu sehingga menimbulkan ketakutan kepada biri-biri dan burung-burung laut. 

Akhirnya dia kembali, tetapi masih tetap diliputi keraguan. Dia masuk lagi ke dalam gua. Emas dan permata itu tetap berada di hadapannya. Sekali ini, dia berlutut dan
menekankan kedua belah tangan pada dadanya yang masih berdebar keras, kemudian mengucapkan do'a syukur yang hanya akan difahami oleh Tuhan sendiri.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...