BAB XLIX
"LALU," kata Beauchamp melanjutkan ceritanya tentang kejadian di parlemen itu kepada Albert,
"Aku menyelinap ke luar Gedung Parlemen tanpa dilihat orang. Petugas yang membolehkan aku masuk sudah menunggu di pintu. Dia mengantarkan aku melalui gang ke sebuah pintu kecil yang berhubungan dengan jalan de Vaugirard. Hatiku penuh dengan rasa sedih dan kagum. Kesedihan buat dirimu dan kekaguman untuk wanita muda itu."
Albert memegang kepalanya. Dia menengadah, pipinya merah karena malu dan matanya basah berlinang.
Lalu dia memegang tangan Beauchamp.
"Kawan," katanya,
"riwayatku tamat. Yang masih tinggal sekarang hanyalah menemukan siapa orangnya yang membangkitkan nafsu balas dendamku. Bila aku menemukannya, salah seorang akan mati, dia atau aku. Aku percaya, sebagai sahabat engkau akan membantuku. Beauchamp, seandainya rasa hina bersahabat dengan aku tidak membunuh rasa persahabatan itu dalam hatimu."
"Rasa hina? Betapa malapetaka ini kau terima? Tidak, kita tidak lagi hidup dalam jaman di mana seorang anak harus bertanggungjawab untuk perbuatan orang tuanya.
Engkau masih muda dan kaya, Albert. Tinggalkan Perancis. Segalanya akan segera dilupakan orang dalam jaman modern yang serba cepat berubah ini. Kalau engkau kembali
tiga atau empat tahun lagi, orang sudah tidak akan memikirkan lagi kejadian kemarin itu."
''Terima kasih untuk maksud baikmu itu," jawab Albert,
"tetapi aku tidak dapat menjalankan saranmu itu. Tentu engkau dapat memahami mengapa aku tidak mungkin melihat persoalan ini dari sudut pandanganmu. Seandainya engkau masih merasa bersahabat, seperti yang engkau katakan, tolonglah aku menemukan tangan yang menghantamkan pukulan ini."
"Kalau itu kehendakmu, baik," kata Beauchamp.
"Kalau engkau sudah membulatkan hati untuk mencari musuhmu itu, aku akan menyertaimu."
"Terima kasih Mari kita mulai saja. Setiap menit penangguhan berarti seabad bagiku. Si pelaku belum terbalas, dan bila dia mengira akan bebas dari pembalasan, aku bersumpah
bahwa dia keliru!"
"Baik. Sekarang dengarkan"
"Ah, rupanya engkau mengetahui sesuatu. Ini menyebabkan gairah hidupku bangkit kembali."
"Aku tidak mau mengatakan bahwa inilah yang sebenarnya, namun paling tidak merupakan secercah cahaya dalam gelap. Aku mendapat tahu bahwa baru-baru ini Tuan Danglars menyurati rekannya di Yanina bertanya tentang
pengkhianatan terhadap Ali Pasha."
"Danglars!" Albert berteriak.
"Betul, sejak lama ia iri hati kepada ayahku. Dia bangga karena berasal dari orang kebanyakan, tetapi dia tidak dapat memaafkan Count of
Morcerf yang juga berasal dari orang kebanyakan menjadi seorang bangsawan Perancis. Dan cara dia memutuskan
pertunanganku dengan anaknya tanpa memberikan sesuatu alasan ya, dialah orangnya!"
"Jangan membiarkan dirimu terhanyut oleh kesimpulan-kesimpulan sementara, Albert. Sebaiknya, engkau menyelidiki dahulu, dan, kalau benar ...."
"Kalau benar, dia harus membayar untuk segala penderitaanku ini!"
"Albert, aku tidak bermaksud menyalahkan keputusanmu. Aku hanya ingin engkau bertindak hati-hati."
"Jangan khawatir. Di samping itu, bukankah engkau akan menyertaiku? Untuk persoalan yang maha penting ini selalu diperlukan seorang saksi. Kalau Tuan Danglars bersalah, dia atau aku akan mati di akhir hari ini."
"Sekali keputusan seperti ini dibuat, harus segera dilaksanakan. Mari kita ke rumah Danglars."
Ketika mereka sampai di rumah bankir itu, mereka melihat kereta Tuan Andrea Cavalcanti di muka pintu.
"Kebetulan," kata Albert.
"Kalau Tuan Danglars tidak bersedia berduel, aku akan membunuh menantunya. Cavalcanti
mungkin tidak mau menolak tantanganku."
Tatkala kedatangan Albert diberitahukan Danglars yang sudah mendengar kejadian kemarin di Parlemen memerintahkan untuk menolak anak muda itu. Tetapi terlambat,
karena Albert mengikuti pelayan itu ke dalam.
Ketika dia mendengar perintah Danglars dia memaksa membuka pintu diikuti oleh Beauchamp, memasuki ruang kerja Danglars.
"Apa artinya ini?" kata Danglars berteriak marah.
"Apakah orang sudah tidak mempunyai hak lagi untuk menentukan siapa yang mau dia terima di rumahnya?",
"Tidak, Tuan Danglars," jawab Albert dingin,
"banyak keadaan tertentu, dan ini adalah salah satu di antaranya, di mana orang harus menerima tamu tertentu, kecuali kalau dia seorang pengecut."
"Apa yang Tuan kehendaki?"
Albert maju beberapa langkah tanpa menghiraukan Cavalcanti yang berdiri di samping tungku api.
''Saya mau membuat perjanjian dengan Tuan," katanya,
"di suatu tempat terpencil di mana orang tak akan mengganggu kita untuk sekitar sepuluh menit, di mana salah seorang dari kita akan tinggal tergeletak di atas tanah."
Wajah Danglars cepat berubah menjadi pucat.
Cavalcanti bergerak. Albert berbalik kepadanya lalu berkata,.
"Oh, Tuan pun boleh hadir kalau mau, Tuan
Cavalcanti. Tuan hampir menjadi anggota keluarga di sini.
Dengan demi kian Tuan mempunyai hak untuk berada di sana, dan perjanjian serupa ini saya sampaikan kepada sebanyak orang yang mau menerimanya."
Cavalcanti menatap wajah Danglars dengan sedikit bingung.
Danglars bangkit lalu berdiri di antara kedua anak muda itu. Serangan Albert kepada Andrea menimbulkan pikiran baru kepada Danglars.
Dia berharap, kedatangan Albert ke rumahnya disebabkan alasan yang lain daripada yang disangkanya semula.
"Saya peringatkan, Tuan Albert de Morcerf, kalau Tuan ke mari untuk datang mencari gara-gara dengan Tuan Cavalcanti karena dia lebih saya sukai sebagai calon menantu, saya akan membawa persoalan ini ke hadapan pengadilan."
"Tuan keliru, Tuan Danglars,"
Jawab Albert tersenyum sinis.
"Masalah perkawinan tidak ada dalam benak saya, dan saya berkata demikian kepada Tuan Cavalcanti hanya karena saya melihat dia seperti mau mencampuri urusan kita.
Dalam satu hal Tuan benar, hari ini saya sedang siap untuk berkelahi dengan siapa pun. Tetapi Tuan jangan khawatir, Tuan akan mendapat kesempatan pertama."
"Tuan Morcerf,"
kata Danglars pucat karena marah dan takut,
"kalau saya melihat seekor anjing gila menghadang, saya akan membunuhnya tanpa rasa berdosa, bahkan saya akan merasa berjasa kepada masyarakat.
Bila Tuan bertindak gila dan mencoba hendak menggigit saya, saya peringatkan saya akan membunuh Tuan tanpa rasa iba. Apa salah saya kalau nama ayah Tuan tercemar?"
"Ya!" jawab Albert keras.
"Memang salah Tuan."
Danglars mundur selangkah.
"Salah saya?" Dia heran.
"Mengapa? Tuan sudah gila rupanya! Apa yang saya ketahui tentang sejarah Yanina? Apakah pernah saya kesana? Apakah saya menasihati ayah Tuan untuk menyerahkan istana Yanina, untuk mengkhianati "
"Diam!" kata Albert.
"Memang Tuan tidak secara langsung
bertanggung jawab untuk malapetaka yang terjadi kemarin itu, tetapi Tuanlah yang menyebabkannya. Siapa yang menjadi
sumbernya, kalau bukan Tuan?"
"Bukankah surat kabar mengatakannya dari Yanina?"
"Ya, tetapi siapa yang menulis surat ke Yanina mencari keterangan tentang ayah saya?"
"Setiap orang dapat melakukannya, bukan?"
"Tetapi hanya seorang yang menulis. Dan orang itu adalah Tuan!"
"Saya akui. Apabila seseorang bermaksud menikahkan anak perempuannya, saya rasa dia mempunyai hak untuk menyelidiki latar belakang keluarga calon menantunya.
Bahkan bukan hanya merupakan hak, melainkan kewajiban."
"Ketika Tuan menulis ke Yanina, Tuan telah mengetahui dengan pasti jawaban apa yang akan Tuan terima."
"Saya tidak akan menulis surat itu kalau saya sudah mengetahuinya. Bagaimana mungkin saya mengetahui malapetaka yang menimpa Ali Pasha?"
"Tentu ada orang lain yang menganjurkan Tuan
melakukannya?"
"Benar."
"Siapa?"
"Saya berbicara dengan seseorang tentang latar belakang ayah Tuan dan saya mengatakan bahwa asal kekayaan ayah Tuan tetap merupakan rahasia bagi saya. Orang itu
bertanya di mana ayah Tuan memperoleh kekayaan dan saya jawab di Yunani. Lalu dia menganjurkan saya mencari keterangan di Yanina."
"Siapa orang itu?"
"Sahabat Tuan, Count of Monte Cristo."
Albert dan Beauchamp saling berpandangan.
"Tuan Danglars”'
kata Beauchamp yang selama ini tidak ikut
bicara.
"Tuan menuduh Count of Monte Cristo, padahal beliau sekarang sedang tidak berada di Paris sehingga tidak mungkin membela dirinya."
"Saya tidak menyalahkan seseorang" jawab Danglars.
"Saya hanya menceriterakan apa yang terjadi dan saya akan senang sekali mengulanginya lagi di hadapan Count of Monte Cristo apabila dia sudah kembali."
"Apakah Count of Monte Cristo mengetahui jawaban yang Tuan terima?" tanya Albert.
"Saya memperlihatkannya."
"Tahukah beliau bahwa nama asli ayah saya Fernand Mondego?"
"Tahu, saya telah menceritakannya beberapa waktu yang lalu. Dalam peristiwa ini saya hanya melakukan apa yang akan dilakukan orang lain di tempat saya.
Bahkan mungkin apa yang saya lakukan sekarang ini tidak memadai. Sehari setelah saya menerima jawaban dari Yanina, ayah Tuan datang berkunjung, atas anjuran Monte Cristo
untuk meneguhkan rencana perkawinan Tuan dengan anak saya.
Saya menolak, ini saya akui, tetapi saya menolak tanpa memberikan alasan apa pun dan tanpa membuat ribut-ribut.
Dan mengapa pula saya harus membuat ribut-ribut? Apa arti nama baik atau nama buruk Count of Morcerf bagi saya? Tidak ada.
Namanya tidak akan menambah atau
mengurangi penghasilan saya"
Pipi Albert merah karena tersinggung. Dia merasakan sekali Danglars membela dirinya dengan cara yang keji, dengan keyakinan seorang yang berkata, walaupun tidak seluruhnya, paling tidak sebagian mengandung kebenaran.
Dalam pada itu Albert tidak mau menghiraukan sampai berapa jauh tanggung jawab Danglars atau Monte Cristo dalam perkara ini. Yang dia cari dan perlukan sekarang adalah seorang yang mau menerima tantangannya, orang yang mau berduel dengan dia. Jelas sekali bahwa Danglars tidak mau berkelahi.
Beberapa kejadian yang telah dilupakan atau yang semula kurang diperhatikan, kini bermunculan kembali dalam pikirannya.
Monte Cristo mengetahui segala-galanya, dia menganjurkan Danglars menulis surat ke Yanina. Dia membawa Albert berlibur tepat pada saat akan terjadinya malapetaka menimpa ayahnya.
Jelas sekarang bagi Albert bahwa Monte Cristo merencanakan semuanya dan yakin pula dia bahwa Monte Cristo berjalan seiring dengan musuh-musuh ayahnya.
Albert menarik Beauchamp menjauhi Danglars lalu berbisik-bisik menyampaikan pikirannya.
"Engkau benar" kata Beauchamp.
"Tuan Danglars hanya merupakan alat belaka. Engkau harus meminta pertanggungan
jawab dari Count of Monte Cristo."
Albert berbalik kepada Danglars.
"Saya harap Tuan memahami bahwa saya belum selesai dengan Tuan. Saya harus yakin dahulu apakah tuduhan Tuan benar atau tidak.
Sekarang saya akan langsung menemui Count of Monte Cristo untuk mengetahuinya."
Setelah memberi hormat dia keluar bersama Beauchamp tanpa menghiraukan Cavalcanti.
Danglars mengantar mereka sampai di pintu dan sekali lagi meyakinkan Albert bahwa secara pribadi dia tidak membenci ayahnya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar