Senin, 26 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 31

BAB XXXI


COUNT of Monte Cristo tidak berbohong ketika ia menolak undangan Albert dengan dalih akan menerima kunjungan seorang mayor Italia.

Jam berbunyi tujuh kali. Sesuai dengan perintah yang diterimanya Bertuccio berangkat dua jam yang lalu ke Auteuil. Sebuah kereta kuda berhenti di muka rumah Monte Cristo di Paris. Dari dalamnya keluar seorang laki-laki
berumur kira-kira lima puluh tahun. Kepalanya yang kecil dan hampir berbentuk segi tiga, rambutnya yang putih dan kumisnya yang tebal abu-abu, cepat dikenali oleh BapUstin yang sudah menunggunya dan sudah menerima
gambaran tamu ini dari majikannya lebih dahulu.

Tamu segera dibawa ke ruangan yang sangat sederhana. Count of Monte Cristo sudah menunggu di sana dan segera bangkit menjemputnya. 

"Selamat datang,.Tuan. Saya menunggu
kedatangan Tuan."

"Benarkah? Pastikah Tuan bahwa saya yang Tuan tunggu?"

"Tentu saja. Tetapi kita dapat saling meyakinkan kalau Tuan menganggap perlu,"

"Selama Tuan yakin bahwa sayalah orangnya yang Tuan tunggu, sudah cukup bagi saya."

Tamu kelihatan agak kurang tenang.

"Lebih baik kita yakinkan saja dahulu, Tuan adalah Markls Bartolomeo-kz Cavalcanti, bukan?"

"Bartolomeo Cavalcanti," jawab tamu dengan gembira.

"Benar."

"Bekas mayor tentara Austria?"

"Apakah betul saya mayor?" jawab tentara tua ini agak malu-malu.

"Ya, mayor. Itulah nama yang kami berikan di Perancis untuk pangkat yang Tuan jabat di Italia."

"Untuk saya baik saja. Tuan ketahui.. "

"Selain itu Tuan disuruh orang menemui saya."

"Benar."

"Oleh Padri Busoni yang istimewa?"

"Benar!" jawab Bartolomeo gembira.

"Dan Tuan membawa sepucuk surat?"

"Inilah dia."

Monte Cristo menerima surat itu lalu membacanya.

“Surat itu berbunyi:...

Mayor Cavalcanti seorang bangsawan
terhormat dari Lucca, keturunan dari keluarga Cavalcanti dari Florence, mempunyai penghasilan sebesar setengah
juta...."

"Betulkah setengah juta?" tanya mayor itu.

"Betul, tertulis hitam di atas putih. Dan ini mesti benar, karena tidak ada orang lain yang lebih mengetahui tentang orang-orang kaya di Eropa daripada Padri Busoni."

"Setengah juta. Saya tidak menyangka sebesar itu."

Monte Cristo meneruskan membaca, 

"Dia hanya kekurangan suatu hal untuk melengkapi kebahagiaannya: menemukan
kembali putranya tersayang yang telah diculik
ketika masih kecil oleh musuh keluarganya atau oleh orang-orang kelana. 

Saya memberinya harapan bahwa Tuan akan
dapat menolongnya. Dia sendiri telah lebih dari lima belas tahun mencarinya, namun sia-sia."

Mayor itu memandang kepada Monte Cristo dengan air muka yang sukar digambarkan.

"Saya dapat menolong menemukannya kembali," kata Monte Cristo.

"Jadi surat itu benar?"

"Apakah Tuan meragukannya, Mayor?"

"Oh tidak, sedikit pun tidak! Seorang seperti Padri Busoni tidak akan berkelakar... Tuan belum selesai membacanya, Yang Mulia."

"Ah, ya. Di bawahnya masih ada catatan: 

Untuk memudahkan dia menerima uang yang diperlukannya di sini, saya telah memberinya dua ribu frank dan saya harap Tuan suka
memberinya lagi empat puluh delapan ribu frank dari uang saya yang ada pada Tuan."

Mayor Bartolomeo mengikuti pembacaan catatan ini dengan penuh perhatian.

"Baik," 

hanya itu komentar Monte Cristo.

"Catatan itu juga ..

"Mengapa?"

'Tuan mempercayai juga catatan itu seperti bagian-bagian lainnya?"

"Tentu saja. Antara Padri Busoni dengan saya ada hubungan keuangan. Saya tidak tahu apakah benar hutang saya kepadanya sekarang persis sebesar empat puluh delapan
ribu frank. Tetapi kami tidak pernah merisaukan jumlah beberapa ribu."

"Jadi Tuan bersedia membayar saya empat puluh delapan ribu frank?"

"Kapan saja Tuan memerlukannya."

Mata mayor terbelalak.

"Silahkan duduk, Mayor. Entah mengapa saya ini, membiarkan Tuan berdiri selama seperempat jam."

Mayor Bartolomeo mengambil sebuah kursi kemudian mendudukinya.

"Jadi," kata Monte Cristo, 

"Tuan tinggal di Lucca dan kaya, seorang bangsawan terhormat, menikmati penghormatan dan penghargaan dari masyarakat, dan hanya kekurangan suatu perkara saja untuk membuat kebahagiaan
Tuan sempurna."

"Hanya satu perkara, Yang Mulia."

"Dan perkara yang satu itu, menemukan kembali anak yang telah hilang."

"Ya, dan itu sangat penting bagi saya," 

kata Mayor terhormat itu, mengangkat matanya dan mencoba mengeluarkan sebuah keluhan.

"Sudikah Tuan, Mayor Cavalcanti, menceriterakan kepada saya tentang putra Tuan itu? Saya mendengar bahwa Tuan tetap membujang."

"Orang-orang memang berpendapat demikian, dan saya..."

"Dan Tuan mendukung pendapat orang-orang itu. Ada suatu dosa dalam masa muda Tuan yang ingin Tuan sembunyikan — tidak untuk kepentingan Tuan sendiri ~ karena laki-laki memang tidak berkepentingan, namun demi
kehormatan seorang wanita."

"Ya, demi kepentingan ibu anak saya!"

"Ibunya berasal dari keluarga terhormat di Italia, bukan?"

"Keturunan ningrat dari Fiesole, Yang Mulia. Keturunan ningrat dari Fiesole!"

"Siapa namanya?"

"Apakah itu perlu?"

"Ah, tak ada gunanya Tuan mengatakannya, karena saya sudah mengetahuinya."

"Tuan mengetahui segala-galanya," kata Mayor sambil membungkuk.

"Namanya, Oliva Corsinari. Betul?"

"Betul. Oliva Corsinari."

"Dan akhirnya Tuan menikahinya juga sekalipun ada tentangan dari pihak keluarga, betul?"

"Benar."

"Apakah Tuan membawa surat-suratnya?"

"Surat-surat apa?" tanya Mayor heran.

"Surat perkawinan Tuan dengan Oliva Corsinari dan surat kelahiran putra Tuan. Namanya Andrea, bukan?"

"Mungkin."

"Mengapa mungkin?"

"Saya tidak berani memastikannya.... karena sudah lama sekali saya tidak melihatnya lagi."

"Benar juga” kata Monte Cristo. 

"Tetapi surat-surat itu Tuan bawa?"

"Maaf, tak seorang pun memberitahu saya bahwa akan diperlukan, sehingga saya menganggap tidak perlu membawanya. 
Apakah itu penting betul? “

"Sangat penting. Tanpa dokumen itu perkawinan tidak diakui. Di Perancis ini, lain seperti di Italia, perkawinan tidak cukup hanya dengan menghadap pastur dan mengatakan:
‘Kami saling mencintai; kawinkan kami. Di Perancis perkawinan itu masih perlu dicatatkan di Kantor Catatan Sipil dan di sana setiap orang harus dapat membuktikan siapa dirinya. Untung sekali, surat-surat Tuan sudah ada pada saya,"

'Tuan sudah memegangnya?"

"Ya."

"Luar biasa” 

kata Mayor yang sudah ketakutan
mendapat kesukaran menerima uang yang empat puluh delapan ribu frank itu. 

"Saya tidak mengira Tuan mempunyai surat-surat itu."

"Orang tidak mungkin memikirkan semua soal. Untung sekali Padri Busoni menolong memikirkannya untuk Tuan."

"Orang yang mengagumkan sekali Padri Busoni itu! Beliau tentu mengirimkannya kepada Tuan."

"Inilah dia. Berikan ini kepada putra Tuan dan katakan supaya ia menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang.
Saya percaya Tuan dapat memahami betapa pentingnya surat-surat ini."

"Saya menganggapnya sebagai tak bernilai selama ini"

"Sekarang, tentang ibu anak muda itu ..."

"Ya, Tuhan!" teriak Mayor terkejut. 

"Apakah perlu-kita membicarakannya juga?"

"Tidak, Mayor "jawab Monte Cristo. 

"Lagi pula, bukankah dia ...te'

"Benar, dia ..."

'Telah memenuhi kewajibannya terhadap hukum alam?"

"Benar."

"Begitulah yang saya dengar. Dia telah meninggal sepuluh tahun yang lalu."

"Dan saya masih bersedih karena kehilangan dia," 

kata Mayor, mengeluarkan saputangannya lalu menyeka matanya.

"Jangan terlampau bersedih, Mayor. Semua kita tidak langgeng. Sekarang, karena ingatan Tuan telah segar kembali, tentu Tuan sudah dapat mengira bahwa saya telah mempersiapkan suatu hadiah bagi Tuan."

"Hadiah yang menyenangkan tentu.”

"Memang tidak mudah kita menipu mata dan hati seorang ayah. Tuan telah merasakan bahwa dia sudah berada di sini."

"Siapa yang sudah berada di sini?"

"Putra Tuan. Andrea."

"Bagus, bagus sekali!"

"Saya dapat memahami perasaan Tuan," kata Monte Cristo, 

"dan saya sadar bahwa saya harus memberi Tuan sedikit waktu untuk menenangkan diri. Juga saya ingin mempersiapkan putra Tuan untuk pertemuan yang membahagiakan Ini, sebab saya kira dia pun sama tidak sabarnya
seperti Tuan."

''Saya kira juga begitu."

"Baiklah, sebelum seperempat jam dia akan memasuki ruangan ini melalui pintu itu."

"Soal lain sedikit, Count," kata Mayor, 

"seperti Tuan ketahui saya hanya membawa dua ribu frank, dan..,"

"Dan Tuan memerlukan uang, bukan? Tentu saja Tuan akan memerlukannya, Ini delapan ribu frank. Tinggal empat puluh ribu frank lagi."

Mata mayor berkilat-kilat, 

"Apakah Tuan memerlukan tanda terima?" tanyanya.

"Tuan dapat memberikan tanda terima untuk seluruh jumlah nanti Antara orang-orang yang jujur surat-menyurat demikian sebenarnya tidak perlu."

"Ya, tentu saja, antara orang-orang yang jujur."

"Bolehkah saya memberikan sebuah saran sekarang?"

"Saya akan senang sekali menerimanya."

"Saya kira Tuan tidak keberatan bila Tuan melepaskan jas itu."

"Mengapa?" 

kata Mayor, melihat kepada pakaiannya
dengan semacam perasaan sayang.

"Memang masih mode di Italia, namun di Perancis sudah jauh ketinggalan jaman."

"Wah, memalukan sekali," kata Mayor. 

"Tetapi apa yang harus saya pakai?"

"Tuan akan menemukan pakaian baru dalam koper Tuan."

"Dalam kopor? Saya hanya membawa sebuah tas,"

"itu yang Tuan bawa sendiri. Tuan mengirimkan kopor Tuan terlebih dahulu. Kopor itu sekarang sudah berada di Hotel des Princes, di Jalan Richelieu, tempat Tuan menetap selama di sini Saya kira Tuan telah memerintahkan pelayan
Tuan untuk mengisi kopor itu dengan segala macam yang akan Tuan perlukan. Tuan akan mengenakan seragam dalam kesempatan-kesempatan yang penting saja. Ini akan
mengesankan sekali. Dan jangan lupa bintang-bintang kehormatannya."

"Baik sekali, baik sekali!" kata Mayor berpindah dari suatu kebingungan ke kebingungan yang lain.

"Sekarang, Mayor Cavalcanti," kata Monte Cristo,

"bersiap-siaplah untuk bertemu kembali dengan putra Tuan, Andrea."

Setelah membungkuk dengan hormat kepada mayor yang lagi kebingungan itu, Monte Cristo meninggalkan ruangan.

Di kamar lain yang bersebelahan, seorang anak muda yang perlente telah menunggu. Ia datang kurang lebih setengah jam yang lalu, Baptistin yang telah menerima gambarannya dari Monte Cristo tidak mendapat kesukaran mengenalinya sebagai orang yang berambut pirang, berjenggot merah dan bermata hitam.

Ketika Monte Cristo memasuki ruangan, anak muda itu sedang berbaring di kursi panjang sambil tanpa sadar memukul-mukul sepatunya dengan tongkatnya yang berkepala emas. 

Tatkala melihat Count of Monte Cristo ia
cepat bangkit dan bertanya, 

"Apakah Tuan Count of Monte Cristo?"

"Benar. Dan apakah benar pula saya berhadapan dengan Viscount Andrea Cavalcanti?"

'Viscount Andrea Cavalcanti," 

Anak muda itu mengulang dengan nada dan sikap seenaknya.

"Saya kira Tuan membawa surat perkenalan untuk saya."

"Saya tidak mau menyinggungnya karena tanda tangannya agak aneh bagi saya."

"Sinbad Pelaut, bukan?"

"Ya.

"Dia kawan karib saya. Seorang inggris, kaya sekali, eksentrik hampir-hampir mendekati gila Namanya yang sebenarnya adalah Lord Wilmore."

"Oh, kalau begitu dia orang Inggris yang .... Tetapi baiklah, apa yang harus saya lakukan sekarang, Count?"

"Saya minta Tuan berkata dengan terus terang," kata Monte Cristo. 

"Saya harap Tuan suka menceritakan sedikit
tentang Tuan sendiri dan keluarga Tuan."

"Dengan senang sekali, Count," kata anak muda itu dengan kefasihan yang menunjukkan kecerdasannya. 

"Saya adalah seperti Tuan katakan tadi, Viscount Andrea Cavalcanti, putra Mayor Bartolomeo Cavalcanti, keturunan keluarga Cavalcanti yang namanya tercatat dalam Buku
Emas di Florence. Ketika berumur lima tahun saya diculik guru yang berkhianat, dan sampai sekarang sudah lima belas tahun lamanya saya tidak berjumpa lagi dengan ayah saya. 

Setelah saya akil baligh saya selalu berusaha mencarinya, namun sia-sia belaka. Akhirnya, surat dari kawan Tuan itu memberi tahu bahwa ayah berada di Paris dan menyarankan saya untuk menemui Tuan guna
mendapatkan keterangan-keterangan yang lebih lanjut."

"Sangat menarik," kata Monte Cristo, 

"dan Tuan tidak salah datang kepada saya, karena pada saat ini, pada saat ini juga, ayah Tuan berada di sini."

Sejak ia memasuki ruangan itu Monte Cristo tidak pernah melepaskan pandangannya yang tajam pada Andrea. 

Dia mengagumi kemampuan menguasai diri dan ketenangan suaranya. Tetapi ketika mendengar bahwa ayah berada di sini, Andrea terkejut dan terlontar kata-kata dari mulutnya, 

"Ayah! Ayah di sini?"

"Benar," jawab Monte Cristo. 

"Ayah Tuan, Mayor Bartolomeo Cavalcanti ‘'

Keterkejutan anak muda itu cepat sekali menghilang.

"Ya, tentu saja Mayor Bartolomeo Cavalcanti. Tuan katakan beliau berada di sini sekarang?"

"Ya, Tuan dapat segera menjumpainya. Beliau sedikit kaku dan suka membesarkan diri. Mungkin karena dia terlalu lama menjadi militer. 

Selain dari itu, kekayaan yang melimpah-limpah dapat dengan gampang menyebabkan orang mengabaikan banyak hal."

"Maksud Tuan ayah saya seorang yang kaya-raya?"

"Seorang jutawan dengan penghasilan setengah juta frank setahun."

"Apakah ini berarti," 

tanya anak muda itu ingin segera
mendapat kepastian, 

"bahwa saya akan berada dalam keadaan
yang menyenangkan?"

"Keadaan yang sangat menyenangkan. Dia bermaksud memberi Tuan lima puluh ribu frank setahun selama Tuan tinggal di Paris."

"Apakah beliau bermaksud akan tinggal lama di Paris?"

"Kewajibannya tidak mengijinkan beliau tinggal lebih lama dari beberapa hari saja."

"Oh, Ayah!" kata Andrea. 

Jelas sekali bahwa ia sangat gembira mendengar itu. Monte Cristo pura-pura tidak menangkap nada gembira dalam suara anak muda itu. 

"Saya tidak bermaksud menahan Tuan lebih lama lagi, silakan Tuan masuk ruangan sebelah ini. Ayah Tuan berada di sana."

Andrea membungkuk dalam-dalam lalu memasuki ruangan yang ditunjukkan Monte Cristo. Setelah dia pergi, Monte Cristo memijit sebuah tombol yang tersembunyi dan sebuah lukisan di dinding bergeser ke samping memperlihatkan sebuah lubang cukup besar pada dinding, untuk mengintip ke ruangan sebelah.

Andrea menutup pintu lalu berjalan menghampiri Mayor yang segera berdiri ketika melihat kedatangannya.

"Ayah!" 

kata Andrea, cukup keras untuk didengar Monte Cristo dari balik pintu. 

"Benarkah ini ayah?"

"Benar, anakku," kata Mayor dengan nada tenang.

"Alangkah menyenangkannya bertemu kembali setelah sekian lama terpisah!" kata Andrea lagi sambil tetap mengawasi pintu.

"Benar, anakku. Sangat lama kita berpisah."

"Dan kita tidak akan berpisah lagi, bukan?"

"Aku khawatir, harus. Bukankah engkau telah menganggap Perancis sebagai tanah airmu yang kedua?"

"Terus terang, Ayah," kata anak muda itu, 

"hati saya akan hancur bila harus meninggalkan Paris lagi"

"Dan aku sendiri tidak dapat hidup di mana pun juga, kecuali di Lucca. Aku harus segera kembali ke Italia secepat mungkin."

"Tetapi sebelum Ayah kembali, haraplah Ayah memberikan dahulu surat-surat yang dapat membuktikan leluhur saya.

"Tentu. Kedatanganku ke mari justru sengaja untuk memberikan itu. Inilah dia."

Andrea setengah merebut surat-surat itu dari tangan Mayor, lalu menelitinya dengan mata yang terlatih. Setelah itu dia memandang wajah Mayor dengan senyuman yang aneh, lalu berkata dalam bahasa Italia yang sempurna,

"Apakah di Italia tidak ada penjara, Ayah?"

"Apa maksudmu?"

"Di Perancis, pemalsuan surat seperti ini bisa dihukum sekurang-kurangnya lima tahun."

"Maaf, aku tidak mengerti," 

kata Mayor, berusaha keras untuk menunjukkan air muka bangsawan.

"Berapa Tuan dibayar untuk menjadi ayah saya?" 

Tanya Andrea sambil menekan lengan Mayor.

Karena sangat terkejut Mayor membuka mulutnya.

"Ssstt!" kata Andrea merendahkan suaranya. 

"Saya akan membuka rahasia saya. Saya mendapat lima puluh ribu frank setahun untuk menjadi anak Tuan."

Mayor melihat ke sekelilingnya penuh kekhawatiran.

"Jangan takut ... kita hanya berdua saja," kata Andrea.

"Lagi pula kita berbicara dalam bahasa Italia."

'"Baiklah. Saya mendapat lima puluh ribu frank, tetapi hanya sekali."

"Tuan Cavalcanti, percayakah Tuan kepada dongeng-dongeng"?

"Sebelumnya tidak, tetapi sekarang terpaksa percaya."

"Tuan berpendapat saya dapat mempercayai janji-janji Count of Monte Cristo?"

"Ya, tetapi kita harus memainkan peranan kita masing-masing dengan baik oleh karena mereka mendesak saya menjadi ayah Tuan."

"Siapa mereka itu?"

"Tidak tahu... siapa pun orangnya yang menyurati kita."

"Tuan menerima surat?"

"Ya."

"Dari siapa?"

"Dari orang yang menamakan dirinya Padri Busoni."

'Tuan kenal kepadanya?"

"Belum pernah bertemu sekalipun."

"Apa isinya?"

"Apakah Tuan tidak akan menceriterakannya kepada orang lain?"

"Tentu saja tidak. Bukankah ini kepentingan kita bersama?"

"Bacalah, kalau begitu."

Mayor menyerahkan sepucuk surat yang berbunyi:

Tuan miskin, dan usia tua yang merepotkan sedang menghadang Tuan.
Maukah Tuan, kalaupun bukan kaya, sekurang-kurangnya mempunyai kecukupan sehingga tidak tergantung kepada orang lain? 

Bila demikian, pergilah segera ke Paris dan temui Count of Monte Cristo di Champs Elysees No.30, dan minta kepada beliau
diperkenalkan kepada anak Tuan dari Oliva Corsinari yang direnggut dari tangan Tuan ketika ia berumur lima tahun. 

Anak Tuan bernama Andrea Cavalcanti. Seandainya Tuan merasa ragu-ragu akan maksud baik saya, bersama ini saya-kirimkan
sehelai cek seharga empat puluh delapan ribu frank yang dapat Tuan uangkan di Paris.

Hendaklah sudah berada di rumah Count of Monte Cristo bulan Mei tanggal 26 pukul tujuh malam.

PADRI BUSONI

"Saya pun menerima surat yang hampir serupa ini," kata Andrea.

"Juga dari Padri Busoni?"

"Bukan. Dari Lord Wilmore, seorang inggris yang biasa menggunakan nama Sinbad Pelaut Ini suratnya." 

Mayor membaca:

Tuan miskin, dan Tuan hanya mempunyai masa depan yang buruk. Maukah Tuan menjadi orang yang merdeka, kaya dan menyandang nama yang terhormat? Bila demikian, temuilah
Count of Monte Cristo di Champs Elysee No.30 di Paris, pada bulan Mei tanggal 26 jam tujuh malam, lalu tanyakan kepada beliau tentang ayah Tuan. 

Tuan adalah putra Mayor Bartolomeo Cavalcanti dan Markise Oliva Corsinari. Buktinya akan Tuan lihat nanti dari surat-surat yang akan diberikan oleh Mayor
kepada Tuan. Dengan dokumen itu Tuan dapat memperkenalkan diri dengan nama itu kepada kalangan atas di Paris..

Untuk memelihara gelar dan kehormatan Tuan, kepada Tuan akan diberikan tunjangan yang memadai sebesar lima puluh ribu frank setahun. Bersama ini dikirimkan sehelai cek seharga lima puluh ribu frank dan sepucuk surat perkenalan untuk Count of Monte Cristo, yang telah saya minta untuk memenuhi semua keperluan Tuan.

SINBAD PELAUT

"Luar biasa!" kata Mayor. 

''Tuan sudah bertemu dengan Count of Monte Cristo?"

'Saya baru saja meninggalkan beliau di kamar sebelah."

"Apakah beliau menyetujui semua ini?"

"Semua."

"Mengerti Tuan persoalannya?"

"Sedikit pun tidak. Tetapi biarlah, mari kita selesaikan permainan ini sampai habis."

"Baik. Tuan akan lihat nanti bahwa saya cukup berharga untuk menjadi pasangan Tuan."

"Saya tidak meragukannya sedikit pun, ayah tercinta."

"Tuan membuat saya bangga, anakku sayang."

Monte Cristo memilih saat itu untuk memasuki ruangan tersebut. Ketika mereka mendengar suara langkah Monte Cristo segera mereka saling berpelukan bagaikan ayah dan anak yang benar-benar sedang melepaskan rasa rindu.

"Rupanya tuan puas dengan putra Tuan, Mayor," kata Monte Cristo.

"Saya benar benar diliputi rasa bahagia."

"Bagaimana dengan Tuan, anak muda?"

"Oh, kebahagiaan saya hampir meledak."

"Bagus sekali!" kata Count of Monte Cristo. 

"Sekarang Tuan-tuan sudah boleh pulang."

"Bilamana kami akan mendapat kehormatan menemui  Tuan lagi?" tanya Mayor.

"Oh, ya. Bilamana?" sambung Andrea.

"Sabtu yang akan datang, bila Tuan-tuan menghendakinya. Saya mengundang beberapa orang untuk makan malam di rumah saya yang di Auteuil, Jalan de Fontaine No, 28."

"Jam berapa kami harus hadir?" tanya Andrea.

"Setengah tujuh."

"Kami akan ,hadir," 

kata Mayor sambil memegang topinya seperti layaknya seorang militer.
Kedua orang itu membungkuk memberi hormat kepada Monte Cristo lalu pergi, Monte Cristo berjalan ke jendela untuk melihat mereka berjalan bergandengan tangan di pekarangan.

"Sepasang buaya!" katanya sendiri. 

"Memalukan sekali bahwa sebenarnya mereka bukan ayah dan anak!"



Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...