Kamis, 29 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 47

BAB XLVII


MONTE Cristo berseru gembira ketika pada suatu pagi dia menerima kunjungan Albert de Morcerf dan kawannya, Beauchamp. 

"Rupanya Kami mengganggu. Tampaknya Tuan sedang sibuk membereskan berkas surat-surat," kata Albert.

"Sama sekati tidak. Itu berkas Tuan Cavalcanti.”

"Tuan Cavalcanti?" tanya Beauchamp.

"Ya!" kata Albert. 

"Apakah engkau tidak tahu dialah anak muda yang diperkenalkan Count of Monte Cristo ke
dalam masyarakat Paris?"

"Nanti dulu," kata Monte Cristo, 

"saya tidak memperkenalkan siapa pun juga, apalagi Tuan Cavalcanti."

"Dan dialah yang akan menggantikan saya mengawini putri Tuan Danglars," lanjut Albert. 

“Dapat kaubayangkan bagaimana perasaanku."

"Apa?" Beauchamp heran. 

"Cavalcanti akan mengawini Nona Danglars?"

"Bagaimana mungkin sebagai seorang wartawan, Tuan tidak mengetahuinya?" kata Monte Cristo. 

"Setiap orang sibuk mempergunjingkannya."

"Tuankah yang mengatur perkawinan itu?”

"Saya yang mengaturnya? Ya Tuhan! Rupanya Tuan tidak mengenal saya. Bahkan sebaliknya sekali, saya menentangnya."

"Oh saya mengerti. Tentu karena Albert.”

"Karena aku?" seru Albert. 

"Sama sekali tidak. Count of Monte Cristo dapat mengatakan bahwa aku meminta
pertolongan beliau untuk memutuskan pertunangan kami.

Dan sekarang telah putus, sekalipun beliau mengatakan bukanlah kepada beliau tempat aku berterima kasih untuk kebahagiaan ini."

"Walau demikian, tampaknya engkau tidak berbahagia,” kata Monte Cristo. 

"Mungkinkah, meskipun tidak kau sadari sebenarnya engkau mencintai Nona Danglars?"

"Tidak tahulah," kata Albert tersenyum.

"Tetapi engkau agak aneh hari ini. Ada apa?”

"Sakit kepala.”

"Kalau begitu, saya mempunyai obat yang manjur sekali.’

“Apa?”

"Bepergian. Kebetulan sekali saya pun sedang menghadapi banyak hal yang menjengkelkan, sebab itu saya merencanakan untuk berpergian. Mau ikut?"

"Dengan senang hati. Ke mana?"

"Ke tempat-tempat di mana udara jernih, di mana setiap suara menenangkan saraf-saraf, di mana orang akan merasa sakan dirinya rendah dan kecil betapapun angkuh sebenarnya
. . . pendeknya, kita akan berlayar. Saya mencintai lautan seperti orang lain mencintai wanita piaraannya dan saya selalu rindu kepadanya bila telah lama tidak melihatnya.”

"Baik, Count, mari kita berangkat!" kata Albert.

"Ke laut?"

“Ya.”

"Berarti kau menerima undanganku?"

"Ya."

"Terima kasih. Nanti sore di pekarangan rumahku akan ada sebuah kereta di mana kita dapat melonjorkan kaki dengan leluasa seperti di atas ranjang sendiri. 

Tuan Beauchamp, kereta itu cukup luas untuk empat orang. Apa Tuan ada minat?"

"Terima kasih, tetapi saya baru saja kembali dari lautan. Dari Kepulauan Borromei."

"Tak apa, ikutlah!" kata Albert.

"Tidak. Aku yakin kau tahu, kalau aku menolak betul-betul karena tidak dapat meninggalkan Paris waktu ini."

"Bukan karena sangat penting untuk saya, tetapi bolehkah saya tahu ke mana tujuan kita?" tanya Albert.

"Ke Normandia. Setuju?"

"Setuju sekali. Betulkah kita akan berada di dalam desa terpencil tanpa masyarakat tanpa tetangga?"

"Kawan kita hanyalah kuda-kuda untuk ditunggangi, anjing-anjing untuk berburu dan sebuah kapal kecil untuk mancing di lautan."

"Itulah yang saya perlukan sekarang. Saya akan memberi tahu ibu dan setelah Itu saya siap berangkat kapan saja Tuan suka."

"Baik. Kita akan berangkat jam lima sore. Dapat?"

"Dapat. Saya tidak mempunyai kesibukan apa-apa sampai sore nanti kecuali mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ini."

Albert meminta diri. Setelah mengangguk sambil tersenyum, Monte Cristo berdiri bagai patung untuk beberapa saat seperti orang yang fana dalam semedi. Dia mengusap kan tangan kanannya ke dahi seakan-akan hendak menghapus khayalannya, lalu menghampiri gong dan memukulnya tiga kali. Bertuccio masuk.

"Bertuccio, saya berangkat ke Normandia sore nanti. Bukan besok atau lusa seperti direncanakan semula. Suruh orang memberitahukan tempat penggantian kuda yang pertama akan dilalui. Tuan Albert de Morcerf akan menyertaiku.”

Bertuccio menurut. Seorang kurir bergegas pergi ke Pontoise untuk memberitahukan bahwa kereta Count of Monte Cristo akan lalu sore itu. Dari Pontoise kurir yang lain diperintahkan pergi ke tempat penggantian kuda berikutnya, dan seterusnya, sampai enam jam kemudian semua kandang yang berada dalam jalur perjalanan itu sudah diberi tahu.

Sebelum berangkat Monte Cristo pergi menemui Haydee memberitahukan bahwa ia akan berangkat dan tempat tujuannya, lalu meminta agar Haydee menguruskan seluruh
urusan rumah tangganya.

Albert datang tepat pada waktunya. Perjalanan yang semula menjemukan segera berubah karena kecepatannya. Albert belum pernah mengalami hal seperti ini.

"Inilah suatu kenikmatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya: kenikmatan kecepatan," katanya. 

"Tetapi dari mana Tuan mendapatkan kuda-kuda seperti ini? Apakah Tuan menyuruh membuatnya?"

"Tepat sekali," jawab Monte Cristo. 

"Enam tahun yang lalu di Hongaria saya menemukan seekor kuda jantan yang termashur kecepatan larinya. Saya membelinya, entah dengan harga berapa karena Bertuccio yang mengurusnya.

Pada tahun itu juga kuda itu sudah menjadi bapak dari tiga puluh dua ekor anak kuda. Ketiga puluh dua kuda yang akan kita gunakan malam ini semuanya berasal dari kuda yang satu itu. Semuanya hampir sama, hitam legam dengan titik putih seperti bintang pada dahinya, karena induk induknya dipilih dengan cermat sekali seperti seorang sultan memilih harem kesayangannya."

"Luar biasa! Apa yang Tuan lakukan dengan semua kuda itu?"

"Untuk bepergian seperti sekarang ini."

"Ya,ya. Tetapi kan tidak selalu bepergian?"

"Pada suatu saat, kalau saya sudah tidak memerlukannya lagi, Bertuccio akan menjualnya. Menurut dia, dia bisa menjualnya dengan harga antara tiga puluh dan empat puluh ribu frank."

"Bolehkah saya mengutarakan sesuatu yang tiba-tiba terpikirkan?"

"Silakan."

"Rupanya Tuan Bertuccio itu orang yang terkaya di Eropa setelah Tuan."

"Keliru sekali, Viscount. Saya yakin, kalau Tuan membalikkan saku bajunya, Tuan tidak akan menemukan uang lebih dari sepuluh sen."

"Mengapa begitu?" kata Albert. 

"Kalau begitu, dia mesti merupakan keajaiban yang kedelapan setelah tujuh keajaiban
dunia yang tersohor itu. Saya ingatkan Tuan. Count, kalau Tuan menceriterakan lagi macam-macam keanehan saya tidak dapat mempercayai lagi Tuan."

"Tidak ada yang aneh dalam kelakuan saya ini, Albert. Ini hanya masalah angka-angka dan logika. Coba, pikirkan pertanyaan ini: Mengapa seorang pengurus rumah tangga mencuri?"

"Ya, karena bakatnya sudah begitu. Dia mencuri untuk mencuri."

"Bukan. Dia mencuri karena dia mempunyai istri dan anak-anak, karena dia ingin memenuhi keinginannya sendiri dan keluarganya, dan di atas segala-galanya, karena dia tidak yakin akan dapat terus bekerja pada majikannya
sehingga perlu memastikan masa depannya. 

Tetapi Bertuccio seorang yang sebatang kara. Dia mengeluarkan uang saya tanpa harus mempertanggungjawabkannya dan dia yakin tidak akan meninggalkan saya."

"Mengapa dia seyakin itu?"

"Karena saya tidak mungkin mendapatkan pengurus rumah tangga yang lebih baik."

"Tuan bermain dengan kemungkinan-kemungkinan."

"Sama sekali tidak. Justru saya selalu bersandar kepada kepastian. Buat saya, seorang pelayan yang baik adalah pelayan yang merasa mati-hidupnya berada di tangan
majikannya."

"Dan Tuan merasa mempunyai hak itu terhadap Bertuccio?"

"Ya,” kata Monte Cristo. 

Ada beberapa kata yang dapat menutup sebuah percakapan seperti sebuah pintu besi. Dan perkataan "ya" dari Monte Cristo itu adalah salah satu di antaranya.

Sisa dari perjalanan dilakukan dengan kecepatan yang sama. Ketiga puluh dua ekor kuda yang terbagi pada delapan buah tempat penggantian menempuh tujuh puluh dua
kilometer dalam waktu delapan jam.

Di tengah malam buta mereka sampai di pintu gerbang sebuah perkebunan yang indah. Seorang penjaga pintu membukakannya untuk mereka. Rupanya ia sudah diberitahu oleh kurir dari tempat penggantian kuda yang terakhir.

Albert diantarkan ke tempat menginapnya, di mana ia menemukan bak mandi dan makanan sudah disediakan.

Setelah mandi dan makan ia tidur. Sepanjang malam ia dibuai oleh senandung ombak yang memecah pantai. Ketika pagi harinya terbangun segera ia pergi ke jendela, membukanya, dan terhamparlah di hadapannya samudera yang luas.

Di teluk berlabuh sebuah kapal kecil, tiang layarnya tinggi sedang badannya ramping. 

Sekelilingnya terdapat beberapa buah perahu milik nelayan-nelayan dari kampung-kampung
sekitarnya. Perahu-perahu itu nampak seperti
pelayan-pelayan sederhana yang patuh menantikan perintah dari catunya, kapal milik Count of Monte Cristo itu.

Hari itu dihabiskan dengan berbagai macam olahraga.

Dalam semua bidang Count of Monte Cristo mengungguli tamunya. Mereka berhasil menembak selusin ekor burung kuau, menangkap sejumlah ikan dan akhirnya minum teh di ruang perpustakaan.

Menjelang senja pada hari ketiga. Albert merasa kepayahan karena kebanyakan olahraga yang banyak memeras tenaganya. 

Untuk Monte Cristo olahraga itu tak ubahnya
seperti permainan anak kecil. Albert tertidur dekat jendela.

Suara kuda berlari di pekarangan membuatnya bangun dan melihat ke luar melalui jendela, ia terkejut karena yang datang itu pelayannya sendiri.

"Mengapa Florentin ada di sini?" katanya keras sambil bangkit melompat. 

"Apakah ibu sakit mungkin?" 

Dia berlari menemui orang yang baru tiba dan nampak masih terengah-engah. Florentin menyerahkan sebuah bungkusan yang bersegel yang ternyata berisi selembar surat kabar dan sehelai surat.

"Dari siapa surat ini?"

"Dari Tuan Beauchamp.’'

"Tuan Beauchamp yang menyuruhmu ke mari?"

"Betul, Tuan. Beliau memberi saya uang untuk perongkosan di jalan, menyewakan seekor kuda dan beliau meminta saya berjanji untuk tidak berhenti sebelum saya menemui Tuan. Saya tempuh perjalanan ini dalam lima belas
jam."

Albert membuka surat. Setelah membaca beberapa alinea dia mengeluarkan suara terkejut, lalu menyambar surat kabar dengan tangan gemetar. Tiba-tiba penglihatannya
menjadi kabur, kakinya melemah tidak kuat menahan berat tubuhnya. Dia bersandar kepada Florentin yang mencoba menahannya dengan kedua belah tangannya.

"Anak muda yang malang," 

Gumam Monte Cristo yang mengawasinya sejak tadi. 

"Tidak dapat dipungkiri bahwa dosa seorang ayah akan membebani anak-anaknya dan
keturunannya sampai ke tingkat keempat."

Sementara itu Albert sudah dapat menguatkan dirinya kembali dan melanjutkan membaca, setelah itu meremas-remas surat kabar dan surat dari temannya itu. 

"Florentin, apakah kudamu masih kuat untuk kembali ke Paris sekarang?”

"Hanya seekor kuda tua. Tuan "

"Ya Tuhan! Bagaimana di rumah ketika engkau pergi?”

"Tenang-tenang saja tampaknya, Tuan. Tetapi ketika saya kembali dari rumah Tuan Beauchamp saya mendapatkan Nyonya de Morcerf berada di teras berlinang air mata.

Beliau memerintahkan saya mencari keterangan di mana Tuan berada, dan bila Tuan akan kembali. 

Saya katakan kepada beliau bahwa Tuan Beauchamp meminta saya berangkat untuk membawa Tuan kembali. Mula-mula beliau
hendak mencegah saya pergi, tetapi rupanya setelah berpikir kembali beliau berkata, 

"Ya, Florentin, pergilah dan katakan cepat pulang."

Albert membalikkan badan lalu masuk ke dalam ruangan di mana Count of Monte Cristo mengawasinya. 

"Count," katanya. 

"Saya berterima kasih sekali untuk penerimaan
Tuan di sini dan sebenarnya saya masih mau menikmati lebih lama lagi, tetapi sayang saya harus segera kembali ke Paris."

"Ada apa, begitu tiba-tiba?"

"Suatu malapetaka'’ Ijinkan saya berangkat segera ....
sesuatu yang lebih berharga dari nyawa saya sendiri sedang dalam pertaruhan. Saya harap Tuan tidak bertanya, tetapi berilah saya seekor kuda!"

"Silakan pilih mana yang Tuan sukai. Tetapi tuan akan mati kepayahan kalau kembali dengan berkuda. Lebih baik ambillah kereta."

"Tidak, saya kira itu akan mengambil waktu terlalu lama. Selain itu saya memang memerlukan sekali kepayahan yang Tuan khawatirkan itu. Untuk saya bahkan akan baik
sekali."

Albert terhuyung-huyung seperti orang kena tembak lalu terjatuh ke atas kursi dekat pintu. Monte Cristo tidak melihatnya karena dia sudah berjalan ke jendela untuk berteriak, 

"Ali, sediakan kuda untuk Tuan de Morcerf!
Cepat . . . beliau akan berangkat sekarang juga!"

Teriakan ini membangunkan Albert kembali kepada kenyataan. Dia berlari ke luar ruangan dan Monte Cristo mengikutinya. 

"Terima kasih," 

Kata anak muda itu ketika ia sudah duduk di pelana. 

"Apakah ada kata sandi yang perlu saya ucapkan di tempat penggantian kuda?"

"Tidak ada. Berikan saja kuda ini kepada mereka dan mereka akan menggantinya dengan yang baru."

"Mungkin sekali Tuan menganggap keberangkatan saya ini aneh dan kurang bijaksana " kata Albert. 

"Tuan mungkin tidak akan mengerti mengapa beberapa kalimat dalam sebuah surat kabar dapat mengantarkan seseorang kepada
keputusasaan. Bacalah ini, Tuan. Tetapi harap setelah saya pergi. Dengan demikian Tuan tidak akan melihat bagaimana saya merasa malu." 

Albert lalu melemparkan koran yang dipegangnya selama Itu.

Ketika Monte Cristo memungut koran Albert menekankan tumitnya ke perut kuda dengan keras sekali dan kuda itu lalu melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya.

Monte Cristo mengawasinya dengan pandangan iba. Dia menunggu sampai Albert hilang dari pandangan. Baru setelah
itu dia membaca berita ini:

"Terdapat banyak petunjuk bahwa seorang opsir Perancis yang diberi tugas oleh Ali Pasha, penguasa Yanina, untuk mempertahankan benteng pertahanan kota Yanina, telah menyerahkan benteng itu secara khianat kepada musuh Ali Pasha, yaitu bangsa Turki. 

Opsir itu dikenal dengan nama Fernand Mondego. Setelah peristiwa itu namanya berubah karena mendapat gelar bangsawan.

Sekarang dia dikenal dengan nama Count of Morcerf dan menjadi anggota parlemen Perancis."





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...