Minggu, 25 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 21

BAB XXI


KETIKA Franz siuman kembali, ia melihat Albert sedang minum segelas air. Menilik wajahnya yang pucat, jelas sekali ia sangat memerlukannya. Sedangkan Count of Monte Cristo sudah berganti pakaian dengan pakaian
pelawak istana. Franz melepaskan pandangannya ke arah lapangan. Semuanya telah tiada: gjlyotin, algojo dan korban. Yang ada tinggal serombongan manusia dengan
teriakannya.

"Ada apa?" tanya Franz.

"Tak ada apa-apa," jawab Count of Monte Cristo. 

"Sama sekali tak ada apa-apa. Gemuruh manusia itu berarti bahwa karnaval sudah dimulai. Silakan cepat berganti pakaian.
Lihat, Tuan de Morcerf sudah memberi contoh.”

Dengan pikiran entah di mana Albert mengenakan celana kain tafeta di luar celana hitamnya, lalu mengenakan sepatu bot yang tinggi. Akan sangat tidak lucu kalau Franz
tidak mau segera mengikuti contoh kawannya. 

Oleh sebab itu ia pun mengenakan pakaian karnavalnya, juga topengnya yang warnanya tidak sepucat wajahnya.

Kereta telah menunggu di bawah, penuh dengan bunga-bunga dan kertas konfeti. Tak mudah membayangkan perubahan yang begitu sempurna seperti yang terjadi sekarang di Piazza del Popolo. Kalau tadi dicekam oleh suasana murung dan kedinginan kematian, sekarang diliputi kegaduhan pesta-pora yang liar. 

Bergerombol-gerombol orang bertopeng datang dari semua penjuru. Ada yang keluar
melalui pintu-pintu gedung sekeliling lapangan, banyak pula yang bergelantungan menuruni jendela-jendela. 

Kereta-kereta pun berdatangan dari semua jalan. Penumpangnya bermacam-macam: badut, bangsawan, satria, petani dan lain-lain yang pakaiannya menggelikan, semuanya berteriak-teriak gembira, melambai-lambai atau menaburkan konfeti dan bunga-bunga baik kepada yang dikenal maupun kepada yang tidak dikenal. Yang dilempari bukannya marah, justru malah senang. 

Balkon dan jendela-jendela gedung bertingkat empat atau lima yang berjejer sepanjang Via de Corso semuanya berhias indah mewah. 

Semuanya penuh dengan manusia berbagai bangsa yang berdatangan dari empat penjuru dunia. Di jalanan orang-orang bergembira
hampir lupa diri, liar dan tak mengenal lelah, berseliweran dengan pakaian karnaval yang beraneka ragam. Yang seorang ingin lebih aneh atau lebih lucu dari yang lain. 

Ada kubis raksasa menggelinding, manusia berkepala banteng, atau anjing besar seperti berjalan di atas kedua kaki belakangnya. Di tengah tengah kepadatan dan keramaian itu banyak yang berusaha melepaskan topeng orang lain mencari wajah tampan atau cantik. 

Kalaupun ditemukan toh tak mungkin diikuti oleh karena antara mereka seakan-akan
terhalang oleh wajah-wajah setan seperti dalam mimpi.

Setelah mereka mengelilingi lapangan sebanyak dua kali. Count of Monte Cristo menghentikan keretanya di depan Palazzo Rospoli lalu meminta diri meninggalkan mereka.

“Tuan-Tuan," katanya, 

"apabila Tuan-tuan telah merasa lelah dan ingin menjadi penonton kembali, Tuan-tuan mengetahui bahwa Tuan-tuan mempunyai tempat menonton di jendela kamar saya. 

Sementara itu kereta dan saisnya saya serahkan untuk dipergunakan sesuka hati."

Franz mengucapkan terima kasih untuk tawaran yang demikian baiknya.

Setelah kereta berjalan lagi Albert berpaling kepada kawannya dan bertanya, 

"Kau lihat itu?"

"Apa?"

"Lihat di sana, sebuah kereta penuh dengan gadis-gadis berpakaian petani Roma Aku yakin mereka cantik-cantik."

"Buat apa kita bertopeng, pikirmu? Nanti akan ada kesempatan mengejar kekurangan petualangan cintamu di Italia ini."

"Oh," 

kata Albert setengah bergurau setengah sungguh-sungguh,

"aku pikir tak lucu kalau karnaval ini berlalu
begitu saja tanpa sesuatu imbalan."

Meskipun Albert tetap berharap, namun hari itu berlalu tanpa memberikan kejadian-kejadian yang mengesankan selain bertemu dengan kereta penuh gadis itu dua tiga kali lagi. 

Pada salah satu kesempatan, entah disengaja entah tidak, topeng Albert terlepas ketika ia melemparkan bunga-bunga ke dalam kereta mereka. Rupanya salah seorang dari gadis-gadis itu terkesan oleh sikap Albert. Ketika mereka bertemu sekali lagi, dialah yang sekarang melemparkan bunga ungu ke dalam kereta Albert. Albert segera mengambilnya
dan Franz membiarkannya, karena Franz tidak
mempunyai alasan untuk mengira bunga itu dilemparkan untuknya. Albert menyelipkannya di lubang kancing bajunya dan kereta berjalan terus,

"Tampaknya," kata Franz, 

"ini merupakan awal suatu petualangan."

"Engkau boleh tertawa Franz, kalau mau, tetapi aku yakin, begitulah adanya."

Keyakinan Albert bertambah kuat ketika mereka bertemu sekali lagi. Melihat bunga yang dilemparkannya telah mendapat tempat terhormat pada jas Albert, gadis itu bertepuk
gembira.

Esok paginya, Count of Monte Cristo mengunjungi mereka di kamarnya. 

"Tuan-tuan, saya datang untuk mengatakan
bahwa Tuan-tuan dapat menggunakan kereta sesuka hati sampai karnaval berakhir. Saya masih mempunyai dua buah lagi. Bila ada sesuatu yang perlu dibicarakan, kita dapat bertemu di Palazzo Rospoil"

Kedua bangsawan itu mencoba menolak, tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menolak tawaran itu, terutama karena tawaran itu sangat menyenangkan. 

Count of Monte Cristo masih tetap
tinggal untuk kira-kira seperempat jam lamanya, berceritera tentang bermacam-macam perkara dengan penuh gairah.

Dia sangat menguasai bacaan berbagai negara Bila melihat dinding ruangannya Franz dan Albert yakin bahwa dia pun seorang kolektor lukisan yang baik. Dari pembicaraannya jelas juga bahwa ilmu pengetahuannya pun luas sekali terutama dalam bidang ilmu kimia.

Setelah tamunya berangkat, Franz dan Albert turun menuju kereta yang sudah menunggu. Albert masih memasang bunga ungunya yang sudah layu di bajunya.

Hanya beberapa saat setelah mereka sampai di Via del Corso, bunga-bunga harum yang masih segar dilemparkan orang ke dalam keretanya, Albert mengganti yang layu dengan yang segar, dan memegang sisanya di tangan dan menciumnya ketika bertemu kembali dengan kereta pembawa gadis-gadis. 

Suatu tindakan yang bukan saja menyenangkan gadis pelemparnya, tetapi juga kawan-kawannya.

Sehari penuh mereka bercumbu dari kereta masing-masing. Ketika kembali ke hotelnya pada malam hari, Franz menemukan sebuah surat dari Kedutaan Perancis memberitahukan
bahwa dia mendapat kehormatan diterima berkunjung oleh Paus, esok hari. la menghabiskan waktunya sehari penuh di Vatikan.

Setelah itu langsung pulang ke hotelnya Jam lima lebih lima menit Albert masuk. Jelas kelihatan ia sangat gembira karena gadis pelempar bunga ungu telah melepaskan topengnya ketika bertemu, dan ternyata ia sangat cantik.

Franz mengucapkan selamat dengan tulus, dan Albert menerimanya dengan bangga. Dia bermaksud menyurati gadis itu esok hari. 

Franz tidak punya niat menghalangi petualangan sahabatnya yang penuh harapan ini, bahkan bersedia memberinya kesempatan. Ia menyilakan Albert
menggunakan kereta sesukanya sedangkan ia akan memuaskan diri dengan menonton dari jendela Palazzo Rospoli.

Esok paginya Franz melihat Albert dengan keretanya hilir-mudik di sepanjang Via del Corso. Ia mempunyai persediaan bunga banyak sekali yang jelas tujuannya untuk
pengantar tintanya.

Malam itu Albert tidak gembira Ia sudah tergila-gila dirundung rindu. Dia yakin gadisnya akan membalas suratnya, tetapi menunggunya, itulah yang menyiksa. 

Franz memahami keadaan Albert, sebab itu dia berdalih bahwa kegaduhan karnaval sangat melelahkan dan ia bermaksud esok tinggal seharian di kamar membaca dan menulis.

Harapan Albert tidak dikecewakan. Malam berikutnya Franz melihat dia berlari masuk kamar sambil mengacung-acungkan sehelai kertas di tangannya.

"Surat balasan?" tanya Franz.

"Baca saja," 

kata-kata itu diucapkannya dengan air muka yang sukar dilukiskan. Franz mengambil surat dari tangan Albert dan membacanya:

Selasa malam jam tujuh, tinggalkan kereta Tuan di muka Via del Ponrefeci Jangan lupa memakai pita merah sebagai tanda pengenal. Apabila sudah sampai di kaki tangga Geraja San Ciacomo, seorang gadis akan merenggut moccoletti dari tangan Tuan. Ikuti dia. Tapi Tuan tidak akan melihat saya. Harap jangan mengecewakan dan hati-hati.

"Nah, apa katamu, Franz?"

"Kupikir, engkau berada diambang petualangan yang menggairahkan."

"Begitu juga perasaanku. Karena itu aku khawatir engkau harus memenuhi undangan Duke Bracciano seorang diri."

Franz dan Albert telah menerima undangan dari seorang bankir Roma ternama tadi pagi.

Akhirnya, hari terakhir dan hari yang menjadi puncak kegembiraan karnaval, tiba. Semua teater dibuka sejak jam sepuluh pagi karena masa berpuasa akan dimulai jam delapan malam nanti. Mereka yang selama karnaval tidak turut serta karena kekurangan waktu, uang atau semangat, pada hari terakhir itu semua turun ke jalanan turut meramaikan
puncak acara.

Menjelang petang para penjual moccoletti telah mulai kelihatan di mana-mana. Moccoletti atau moccoli berarti lilin dalam berbagai ukuran. Tujuannya dalam pesta ini ada dua. Pertama, bagaimana menjaga agar moccoletti sendiri tetap menyala, dan kedua bagaimana memadamkan milik orang lain.

Franz dan Albert bergegas membeli moccoletti seperti orang lain. Ketika bintang-bintang pertama mulai bersinar di langit yang seakan-akan dianggap sebagai isyarat, ribuan cahaya lilin berkelap-kelip dan menari sepanjang jalan,
dibarengi dengan teriakan dan nyanyian gembira yang memekakkan telinga.

Setiap lima menit sekali Albert melihat arlojinya. Jam tujuh tepat, kedua sahabat itu sudah sampai di sudut Via del Pontefeci. Albert meloncat ke luar dari keretanya dengan
sebuah moccoletti di tangan. Dua tiga orang mencoba memadamkannya atau merenggut lilin dari tangannya, tetapi Albert yang memang seorang petinju yang terlatih berhasil menggagalkan usaha mereka Dia berjalan ke
Gereja San Giacomo.

Franz mengikuti Albert dengan pandangannya dan melihat dia sudah sampai di kaki tangga gereja Seorang wanita bertopeng, berpakaian seperti petani Roma merebut lilin Albert Sekali ini Albert tidak mengadakan perlawanan.

Jaraknya terlampau jauh bagi Franz untuk menangkap pembicaraan mereka, tetapi jelas mereka tidak bertengkar sebab selanjutnya Franz melihat mereka berjalan sambil
bergandengan tangan.

Tiba-tiba bunyi lonceng tanda berakhirnya karnaval bergema. Serempak moccoletti padam semua bagaikan dihembus angin ajaib. Keadaan menjadi gelap gulita. Segala kegaduhan dan kebisingan berhenti bersamaan dengan padamnya lilin-lilin. Yang terdengar tinggal suara kereta-kereta berlari membawa peserta-peserta pesta pulang ke rumahnya masing-masing.

Yang masih tampak jelas dalam kegelapan itu hanya cahaya teram-temaram dari beberapa jendela. Karnaval telah berakhir.

Franz belum pernah mengalami perubahan yang begitu mendadak dan tajam seperti sekarang. Dari kegembiraan kepada kesepian. Perubahan ini pun seakan-akan disebabkan
angin ajaib tadi yang menghembuskan setan-setan untuk merubah Roma yang gembira menjadi suatu kuburan luas yang sepi mengerikan.

Dia kembali ke hotel dan mendapatkan makanan sudah disiapkan. Oleh karena Albert sudah memberitahu bahwa mungkin sekali ia akan pulang lambat, Franz makan sendirian.

Jam sebelas, Albert masih juga belum pulang. Franz memesan keretanya dan berangkat ke rumah Duke Braciano. Ketika Duke melihat Franz datang sendiri, yang paling dahulu ditanyakan kemana Albert. Franz menjawab
bahwa ia kehilangan Albert ketika moccoletti padam semua

"Dan apakah ia belum pulang?"

"Saya menunggu sampai jam sebelas."

'Tahukah Tuan ke mana dia pergi?"

"Tidak, tetapi saya rasa dia mempunyai janji dengan wanita."

"Sekarang ini sebenarnya kurang aman untuk berada di luar pada larut malam," kata Duke. 

"Tuan yang telah mengenal Roma lebih baik, selayaknya menghalangi dia pergi."

"Mencegah Albert pada waktu ini sama halnya dengan menahan kuda kabur. Tetapi saya meninggalkan pesan di hotel bahwa saya berada di sini dan meminta pemilik hotel agar segera memberitahu apabila dia sudah datang."

"Nah, itu pelayan. Saya kira, dia mencari Tuan."

Duke tidak keliru. Ketika pelayan itu melihat Franz segera ia menghampirinya dan berkata, 

"Yang Mulia, Signor Pastrini memberitahukan bahwa ada seseorang menunggu Tuan di hotel dengan membawa surat dari Tuan de Morcerf."

"Mengapa dia tidak mengantarkannya ke mari?"

”Tidak ada penjelasan, Yang Mulia."

"Mana sekarang suruhan Sign or Pastrini itu?"

"Dia pergi lagi setelah menyampaikan pesannya kepada saya."

Franz mengambil topinya dan segera meninggalkan pesta. Ketika sudah dekat hotelnya ia melihat seorang laki-laki berdiri di tengah jalan. Franz yakin, dia mesti orang yang
membawa surat dari Albert Franz menghampirinya, tetapi mengejutkan sekali, orang itu yang lebih dahulu bertanya:

"Ada apa?"

"Apakah Tuan yang membawa surat untuk saya dari Tuan de Morcerf?"

"Siapa nama Tuan?"

"Baron Franz d'Epinay."

"Benar, surat itu dialamatkan kepada Tuan."

"Apa perlu jawaban?" tanya Franz sambil menerima surat.

"Ya, setidak-tidaknya demikianlah harapan teman Tuan."

"Mari masuk, nanti saya berikan jawabannya."

"Saya lebih senang menanti di sini," jawabnya tertawa.

"Mengapa?"

'Tuan akan memahami setelah membaca surat itu."

Franz masuk ke dalam, menyalakan sebatang lilin dan membaca:

Franz yang baik,
Setelah engkau membaca surat ini, tolong ambilkan uangku dalam dompet yang kusimpan dalam laci lemariku. Tambah dengan uangmu sendiri apabila tidak mencukupi.

Berikan empat ribu piaster kepada pembawa surat ini. Sangat penting, aku memerlukannya sekarang juga.

Aku percaya padamu seperti engkau dapat mempercayaiku.

Sahabatmu

ALBERT DE MORCEF. 

Sekarang aku percaya akan ceritera tentang bandit Italia. Di bawah itu, dengan tulisan tangan yang berbeda, terbaca lagi beberapa kalimat dalam bahasa Italia:

PS

Apabila uang yang empat ribu piaster itu belum saya terima pada jam enam pagi, jam tujuh Count Albert de Morcerf hanya tinggal nama saja.

LUIGI VAMPA

Tanda tangan yang kedua ini menjelaskan semua persoalan, dan dia mengerti mengapa pengantar surat itu tidak mau dibawa masuk. 

Albert telah jatuh ke tangan kepala bandit yang tersohor, yang semula dianggapnya ada dalam
dongeng belaka. Ia tidak boleh kehilangan waktu. Franz lari ke laci lemari Albert dan mengambil dompetnya. Uang yang ada hanya
tiga ribu piaster. Franz sendiri, karena ia tinggal di Florence dan bermaksud tinggal di Roma hanya untuk tujuh hari, hanya membawa uang secukupnya saja dan sekarang tinggal kurang lebih dua ratus piaster lagi. Kekurangan delapan ratus piaster. Tiba-tiba ia teringat kepada Count of Monte Cristo. Dia akan memanggil Pastrini ketika yang bersangkutan muncul.

"Signor Pastrini," tanya Franz, 

"Apakah Count of Monte Cristo ada di kamarnya?"

"Ada, Tuan. Beliau baru saja kembali"

"Tolong tanyakan apakah beliau dapat menerima saya sekarang?"

Pastrini pergi membawa pesan itu, dan kembali tak lama kemudian.

"Count menunggu Tuan," katanya.

Franz menemukan Count dalam sebuah kamar kecil yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Sekeliling dindingnya dipasangi dipan.

"Angin baik apakah kiranya yang membawa Tuan pada malam selarut ini?" tanya Count of Monte Cristo. 

"Barangkali Tuan hendak mengundang saya makan malam?''

"Tidak, saya datang untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting. Apakah kita hanya berdua saja?"

Count of Monte Cristo pergi ke pintu dan melihat ke luar kamar. 

"Tak ada orang lain."

Franz memberikan surat dari Albert. 

"Silahkan Tuan baca."

Setelah ia selesai membacanya, Franz bertanya lagi,

"Bagaimana pendapat Tuan?"

Untuk sesaat Count mengerutkan dahinya. 

"Di mana orang yang mengantarkan surat ini?"

"Dijalan."

"Saya akan memanggilnya."

"Saya kira tak akan ada gunanya. Dia menolak masuk ke kamar saya."

"Mungkin ia tidak mau masuk ke kamar Tuan, tetapi lain lagi kalau ke kamar saya." 

Dia pergi ke jendela yang menghadap ke jalan, lalu bersiul dengan lagu yang khusus. Orang
suruhan itu meninggalkan dinding tempat ia bersandar, pergi berdiri di tengah jalan.

"Ke mari!" 

Count of Monte Cristo berteriak dengan nada
memerintah dalam bahasa Itali. Orang itu menurut tanpa ragu ragu Beberapa saat kemudian dia sudah berada dalam kamar.

"Ah, engkau kiranya, Peppino!"

Laki-laki itu bukan menjawab, melainkan berlutut kemudian mengambil tangan Count of Monte Cristo dan menciuminya beberapa kali.

"Aku lihat engkau tidak lupa bahwa aku telah menyelamatkan jiwamu," kata Count. 

"Aneh, padahal kejadian itu terjadi seminggu yang lewat."

'Tidak, Yang Mulia, saya tidak akan pernah melupakannya,"

Jawab Peppino dengan nada penuh terima kasih.

“Tak pernah? Waktu yang sangat lama! Setidak-tidaknya aku terkesan karena engkau percaya tidak akan dapat melupakan itu. Berdiri, dan jawab pertanyaanku."

Peppino melemparkan pandangan ragu kepada Franz.

"Engkau dapat berbicara bebas di depan Tuan ini," 

Kata Count yang faham akan maksud Peppino. 

"Beliau kawanku."

"Baik," jawab Peppino, 

"silahkan Tuan bertanya."

"Bagaimana Viscount Albert bisa jatuh ke tangan Luigi?"

"Begini, Yang Mulia, beberapa kali kereta Bangsawan Perancis itu berpapasan dengan kereta yang ditumpangi Teresa."

"Piaraan Luigi?"

"Benar. Bangsawan Perancis itu menaruh hati kepadanya, dan hanya sekedar untuk bermain-main, Teresa membalasnya.
Mereka saling melempar bunga. Semua ini
dengan seizin Luigi tentu. Dia pun berada dalam kereta itu."

"Apa!" Franz terkejut. 

"Luigi Vampa ada dalam kereta itu?"

"Benar, dia yang menjadi saisnya. Tuan Albert membuka topengnya dan Teresa juga dengan izin pemimpin, memperlihatkan wajahnya. Orang Perancis meminta suatu pertemuan,
Teresa menyetujuinya Hanya saja, yang datang pada waktunya bukan Teresa melainkan Beppo,"

"Apa!" 

Sekali lagi Franz tak dapat menahan dirinya. 

"Wanita yang berpakaian petani yang merebut moccoletti dari tangan Albert..."

"Adalah seorang laki-laki berumur lima belas tahun," kata Peppino mengisi.

''Tetapi kawan Tuan tidak perlu malu jatuh ke dalam perangkapnya karena telah banyak yang terpedaya oleh Beppo."

"Lalu Beppo membawanya ke luar kota?" tanya Count of Monte Cristo.

"Benar, Yang Mulia. Sebuah kereta telah menanti mereka di ujung Via Macello. Tuan Albert dengan sopan sekali membantu Beppo naik kereta itu. Beppo mengatakan akan
membawanya ke sebuah vila beberapa kilometer di luar Roma. 

Dalam perjalanan Tuan Albert telah berlaku
terlampau bebas sehingga Beppo terpaksa menodongkan pistolnya Sais pun menghentikan keretanya dan membantu Beppo, Pada saat yang bersamaan empat orang kami yang bersembunyi di pinggir jalan bermunculan mendekati kereta. 

Tuan Albert berusaha sekuat tenaga
mempertahankan diri. Saya dengar beliau hampir berhasil mencekik Beppo tetapi apa daya beliau menghadapi lima orang bersenjata. Beliau terpaksa menyerah dan mereka membawanya kepada Luigi dan Teresa yang sudah menanti di pekuburan bawah tanah Saint Sebastian."

“Ceritera yang menarik sekali," kata Count of Monte Cristo melirik kepada Franz.

"Saya akan menganggapnya menarik juga," kata Franz,

"kalau kejadian itu menimpa orang lain, bukan Albert."

"Seandainya Tuan tidak datang kepada saya. petualangan cinta kawan kita itu harus dia bayar mahal sekali Sekarang, paling tinggi ia hanya mengalami ketakutan yang sangat. 
Lagi pula, ia berada di tempat yang sangat menyeramkan. Pernahkah Tuan ke pekuburan Saint Sebastian?"

"Belum."

"Kebetulan, sekarang ada kesempatan yang baik untuk melihatnya."

Count of Monte Cristo memijit bel dan seorang pelayan muncul.

"Suruh siapkan kereta. Sais tak perlu dibangunkan, biar Ali saja yang membawanya."

Beberapa saat kemudian terdengar kereta berjalan dan berhenti di muka pintu. Count of Monte Cristo melihat jamnya dan berkata, 

"Setengah dua belas. Sebenarnya kita dapat berangkat nanti jam lima pagi dan masih dapat mengejar waktu, tetapi kelambatan kita akan menyebabkan kawan kita gelisah sepanjang malam. Sebab itu lebih baik kita berangkat sekarang."

Franz dan Count keluar, diikuti oleh Peppino.

Kereta itu melalui jalan kuno Appian yang berbatasan dengan pekuburan. Sekali-sekali Franz melihat pengawal muncul dari balik persembunyian tetapi terus menghilang lagi setelah diberi isyarat oleh Peppino.

Tak seberapa jauh sebelum sampai ke dataran Caracalla kereta berhenti Peppino membuka pintu, Franz dan Count keluar.

"Kita akan sampai dalam sepuluh menit," kata Count kepada Franz. 

Count of Monte Cristo menarik Peppino ke
samping dan memberikan suatu perintah dengan berbisik.

Peppino mengambil obor dari dalam kereta lalu pergi. Selang lima menit kemudian, Franz dan Count menempuh jalan menurun yang dilalui Peppino, sampai mereka tiba di kaki sebuah lembah kecil. Di sana mereka melihat dua orang sedang bercakap-cakap di tempat yang gelap.

"Apakah kita berjalan terus atau menunggu di sini?" tanya Franz.

"Kita terus," jawab Count. 

"Peppino pasti telah memberitahukan
kedatangan kita kepada penjaga."

Salah seorang dari kedua laki-laki itu, memang Peppino. Yang seorang lagi, bandit yang sedang bertugas menjaga.

"Silakan mengikuti saya, Yang Mulia," kata Peppino kepada Count, 

"pintu pekuburan itu hanya beberapa yard
lagi"

"Baik," jawab Count. 

"Engkau di depan."

Di belakang semak belukar, di tengah-tengah sejumlah batu karang, mereka melihat sebuah lubang yang hanya cukup besar untuk dilalui satu orang. Peppino menyelusup lebih dahulu. 

Setelah ditempuh beberapa langkah, terowongan itu agak melebar. Dia berhenti, menyalakan obornya dan membalikkan badan untuk melihat apakah
kedua tamunya telah mengikutinya. Franz dan Count of Monte Cristo terpaksa berjalan dengan membungkuk-bungkuk dan beriringan. 
Jalan itu tidak cukup lebar untuk berdampingan. Setelah berjalan kira-kira lima puluh langkah, mereka dihentikan oleh teriakan, 

"Siapa itu?" 

pada saat yang bersamaan, cahaya obor dapat menangkap laras sebuah karaben.

"Kawan!" kata Peppino. 

Dia maju beberapa langkah dan berkata dengan suara ditahan kepada penjaga kedua ini, yang seperti penjaga pertama, membungkukkan badan memberi hormat dan mempersilakan tamu melanjutkan
perjalanannya.

Di belakang penjaga ada sebuah tangga dengan kira-kira dua puluh anak tangga. Franz dan Count menuruni tangga itu, dan mereka sekarang berada pada semacam sebuah persimpangan jalan. 

Ada lima buah jalan menuju ke lima arah
seperti sudut-sudut sebuah bintang. Dinding-dinding di sekitar yang berlubang-lubang dalam bentuk peti mayat, menunjukkan bahwa mereka telah berada dalam pekuburan.

Dari salah satu rongga yang besarnya sukar dipastikan mereka melihat berkas-berkas cahaya.

Count of Monte Cristo meletakkan tangannya di pundak Franz. 

"Maukah Tuan melihat gua penjahat dalam keadaan tenteram?"

“Tentu," jawab Franz.

"Baik, mari ikut saya. Peppino, matikan obor."

Peppino menurut. Keadaan menjadi gelap gulita. Kurang lebih lima puluh yard di hadapannya mereka dapat melihat cahaya kemerah-merahan yang lebih jelas lagi kelihatannya dalam gelap itu. Mereka berjalan terus tanpa berkata Count yang mempunyai mata terlatih dalam gelap berjalan di depan.

Mereka tiba di tiga buah kubat. Satu di antaranya berlaku sebagai pintu. Di belakang kubat itu terdapat sebuah lapangan yang cukup luas yang dinding-dinding sekelilingnya dipenuhi oleh relung-relung seperti dinding di
luar tadi. Di tengah-tengah ruangan terdapat empat buah batu yang dahulunya dipergunakan sebagai altar, ternyata dari salib yang masih terdapat di atasnya. Satu-satunya
lampu yang terletak di kaki sebuah tiang mempertunjukkan suasana dalam ruangan itu secara remang-remang kepada kedua pendatang yang tersembunyi dalam gelap.

Seorang laki-laki duduk dekat lampu sambil membaca membelakangi pintu masuk. Dialah pemimpin gerombolan bandit itu, Luigi Vampa. 

Sekeliling dia, berkelompok-kelompok dengan kawan masing-masing, ada kira-kira dua puluh orang lagi, masing-masing dengan sebuah senapan karaben yang terletak di tanah dalam jangkauannya. 

Di ujung paling jauh dari ruangan itu seorang penjaga berjalan bolak-balik. Ketika Count of Monte Cristo mengira bahwa Franz sudah cukup lama memperhatikan ruangan itu, dia meletakkan telunjuknya di bibirnya sebagai isyarat untuk tidak bersuara, lalu menaiki tiga buah anak tangga yang menuju ke dalam ruangan dan berjalan mendekati Vampa yang lagi asyik membaca sehingga ia tidak mendengar langkah-langkah orang menghampirinya

"Stop! Siapa itu?" 

teriak penjaga tadi yang melihat sesosok tubuh mendekati pemimpinnya dari belakang. Karena
teriakan ini Vampa bangkit dan menarik pistol dari ikat pinggangnya. Dalam saat yang bersamaan pula semua penjahat sudah berdiri, dan dua puluh laras senapan diarahkan
kepada Count of Monte Cristo.

"Selamat malam, Vampa yang baik," 

kata Count of Monte Cristo dengan ketenangan suara yang sempurna,

"rupanya beginilah penyambutan bagi seorang kawan!"

"Letakkan senjata!" 

perintah Vampa. Dengan gaya seorang
bangsawan ia menggerakkan sebuah tangannya dan mengangkat topinya dengan tangan yang satu lagi. Kemudian berpaling kepada orang yang telah menguasai suasana
dalam ruangan itu, dan dia berkata, 

"Maafkan saya, Count, saya sama sekali tidak mengira akan mendapat kehormatan dengan kunjungan ini sehingga saya tidak mengenal Tuan."

"Rupanya ingatanmu sangat pendek, Vampa," jawab Count, 

"dan bukan saja engkau cepat lupa kepada wajah seseorang, tetapi juga cepat lupa kepada perjanjian-perjanjian yang engkau buat dengan orang itu."

"Perjanjian manakah yang saya lupakan, Count?" 

tanya Vampa dengan suara seperti orang yang telah berbuat suatu kesalahan besar, atau setidak-tidaknya dengan nada suara orang yang ingin memperbaiki kesalahannya.

"Bukankah telah kita sepakati, bahwa engkau bukan saja akan menghormati aku, tetapi juga kawan-kawanku."

"Dan bagaimana pula saya telah melanggar perjanjian itu?"

"Engkau telah menangkap Viscount Albert de Morcerf dan menahannya di sini. Pemuda itu kawanku. Dia tinggal dalam satu hotel yang sama dengan aku, seminggu lamanya
mempergunakan keretaku, tetapi saya ulangi, engkau menangkapnya dan menahannya di sini dan meminta uang tebusan."

"Mengapa aku tidak diberi tahu?" 

tanya Vampa kepada anak buahnya yang pada mundur melihat pandangan marahnya.

"Mengapa kalian membuat aku mengingkari janji kepada Count of Monte Cristo? Kalau nanti kuketahui ada yang merahasiakan ini kepadaku, akan kuhancurkan kepalanya."

"Seperti telah saya katakan tadi, ada kekeliruan," kata Count of Monte Cristo kepada Franz.

"Tuan tidak sendiri?" tanya Vampa agak heran.

"Aku datang dengan Tuan yang menerima surat permintaan uang tebusan. Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa Luigi Vampa bukan orang yang suka melanggar janji."

Franz memasuki ruangan. Luigi Vampa maju selangkah menyambutnya. 

"Selamat datang, Yang Mulia. Tuan telah
mendengar apa yang dikatakan oleh Count of Monte Cristo dan apa jawaban saya. Saya hanya ingin menambahkan bahwa saya tidak menghendaki itu terjadi sekalipun untuk empat ribu piaster."

''Tetapi di mana Tuan Albert sekarang?" 

tanya Franz sambil melihat ke sekelilingnya. 

"Saya tidak melihatnya."

"Saya percaya tidak terjadi apa-apa dengan dia," kata Count of Monte Cristo mengerinyit.

"Beliau ada di dalam " 

kata Vampa menunjuk ke lubang yang dikawal oleh penjaga. 

"Saya sendiri yang akan mengatakan bahwa beliau bebas."

Dia pergi ke tempat Albert ditahan, Franz dan Count mengikutinya. Vampa menarik sebuah palang lalu membukakan pintunya. Dalam ruangan yang diterangi lampu yang sama seperti lampu di ruangan Vampa mereka melihat Albert terbungkus dengan pakaian yang dipinjamkan oleh seorang bandit. Dia tidur dengan lelapnya di sudut ruangan.

"Wah, wah!" 

kata Count tersenyum. 

"Bagus sekali bagi orang yang akan ditembak mati jam tujuh pagi nanti."

Vampa memandang Albert dengan pandangan kagum untuk keberaniannya 

”Tuan benar, Count,” katanya, 

"Tuan ini pasti salah seorang kawan Tuan." 

Kemudian dia mendekati Albert dan menepuk bahunya. 

"Bangun, Yang Mulia."

Albert menggeliat dan menggosok matanya. 

"Ah, rupanya Tuan, Kapten!" katanya. 

"Sebaiknya saya dibiarkan terus tidur karena sedang mimpi berdansa dengan seorang
wanita cantik dalam pesta di rumah Duke Bracciano." 

Dia melihat erlojinya.

"Apa sebab Tuan membangunkan saya
pada waktu seperti ini?"

"Untuk mengatakan bahwa Tuan telah bebas, Yang Mulia."

"Apakah uang tebusan sudah dibayar?"

"Tidak, Yang Mulia. Tetapi seseorang yang permintaannya tidak mungkin saya tolak telah datang meminta Tuan."

"Baik sekali orang itu!" 

Albert melihat ke sekelilingnya dan matanya berhenti pada Franz. 

"Apa!" katanya terperanjat,

"engkaukah yang..."

"Bukan, bukan aku,” jawab Franz, 

"tetapi tetangga kita, Count of Monte Cristo."

"Lagi-lagi Count of Monte Cristo," 

kata Albert gembira sambil memperbaiki letak dasinya. 

"Harap Tuan suka menerima pernyataan saya bahwa saya berhutang budi untuk seumur hidup kepada Tuan. Mula-mula untuk kereta,
dan sekarang untuk ini!" 

Dia mengulurkan tangannya kepada Count of Monte Cristo. Yang diajak berjabat tangan
menerimanya dengan agak gemetar.

Vampa melihat adegan ini dengan keheranan. Dia sudah terbiasa melihat tawanannya gemetar berpeluh dingin di hadapannya Sekarang dia menghadapi seorang tawanan
yang tidak pernah kehilangan semangat. Franz sendiri, sangat bangga melihat sikap Albert yang sekaligus berarti menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negaranya. 

"Kalau engkau mau bergegas," kata Franz kepada Albert,

"kita masih sempat pergi ke rumah Duke Bracciano, dan engkau dapat melanjutkan dansamu yang terganggu tadi.

Dengan demikian engkau tidak akan menyalahkan Signor Vampa yang benar-benar telah bersikap dan bertindak sebagai seorang terhormat dalam urusanmu ini".

"Engkau benar, kita bisa sampai di sana jam dua. Signor Vampa, apakah masih ada hal-hal yang harus kami lakukan sebelum minta diri?"

"Tidak ada, Yang Mulia," jawab kepala bandit itu. 

''Tuan bebas, sebebas udara."

"Kalau begitu, saya mengucapkan selamat tinggal dan semoga Tuan panjang usia dan hidup berbahagia. Mari, Tuan-tuan."

Albert diikuti oleh Franz dan Count of Monte Cristo menuruni tangga pintu lalu berjalan melalui ruangan yang luas.

Semua bandit berdiri dengan topi di tangan masing-masing.

"Peppino!" kata Luigi Vampa, 

"berikan obor itu."

"Apa yang hendak kaulakukan?" tanya Count.

"Saya sendiri yang akan menunjukkan jalan, Yang Mulia. Inilah kehormatan terkecil yang dapat saya lakukan." 

Setelah mengambil obor dari tangan Peppino,
Vampa berjalan mendahului tamu-tamunya, tidak sebagai pelayan menunjuk jalan, melainkan sebagai seorang raja memimpin rombongan duta besar. Pada pintu pekuburan
dia membungkukkan badan sambil berkata,

"Count of Monte Cristo, ijinkanlah saya mengulangi permintaan maaf saya, dan saya harap Tuan tidak menyimpan rasa dendam
kepada saya karena kejadian yang tidak sengaja ini."

"Sama sekali tidak, Vampa yang baik," kata Count.

"Lagipula, engkau telah memperbaiki kesalahan itu demikian baiknya sehingga orang hampir-hampir cenderung untuk
berterima kasih karena kejadian itu."

"Tuan-tuan," 

katanya menghadap kepada kedua bangsawan
muda, 

"tawaran saya ini mungkin sekali tidak menarik
bagi Tuan-tuan, tetapi seandainya pada suatu waktu Tuan-tuan ada keinginan berkunjung lagi, pintu kami selalu terbuka, di mana pun saya berada"

Franz dan Albert membungkukkan badan tanda berterima kasih.

"Apakah masih ada sesuatu yang ingin Tuan-tuan tanyakan atau minta?" tanya Vampa tersenyum.

"Ya," jawab Franz, 

"saya mengakui tidak dapat menahan rasa ingin tahu buku apa yang sedang Tuan baca dengan penuh minat ketika kami datang."

"Ulasan dan kritik tentang Julius Caesar. Buku kesenangan saya."

"Bagaimana Franz, kita pergi sekarang?" tanya Albert.

"Ya, ya," 

kata Franz sambil melangkah ke luar dari
pekuburan bawah tanah masuk ke udara terbuka.

"Dan sekarang, Count," kata Albert, 

"Dapatkah kita pergi secepat mungkin? Saya bernafsu sekali untuk menghabiskan sisa malam ini dalam pesta di rumah Duke Bracciano!"

Ketika terbangun pagi-pagi, pikiran pertama yang timbul pada Albert, mengajak Franz berkunjung kepada Count of Monte Cristo Dia telah mengucapkan terima kasih tadi malam
kepadanya, namun untuk pertolongan yang tidak ternilai itu ia merasa wajib mengucapkannya lebih dari satu kali. 

Franz, yang memang terkesan sekali oleh Count of Monte Cristo, tetapi juga dibarengi semacam perasaan takut, tidak ingin membiarkan kawannya pergi sendirian.

Mereka diantarkan pelayan ke ruang lukisan. Lima menit kemudian Count of Monte Cristo datang menemui mereka.

"Count," kata Albert, 

"ijinkanlah pada pagi ini saya mengulangi lagi apa yang tadi malam saya ungkapkan dengan
tidak begitu baik. Bahwa saya tidak akan pernah melupakan pertolongan Tuan, dan selalu akan saya camkan dalam hati bahwa saya berhutang nyawa kepada Tuan."

"Ah, tetanggaku yang baik," jawab Count tertawa, 

"Tuan terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya apa yang telah saya lakukan hanyalah menolong Tuan menghemat dua puluh ribu frank atau empat ribu piaster. Lain tidak. Suatu jumlah yang tidak berharga untuk dipersoalkan."

"Tidak, Count, rasa hutang budi saya sangat besar" kata Albert, 

"dan saya datang sekarang untuk menanyakan kalau-kalau saya, atau sahabat-sahabat saya atau kenalan-kenalan saya, dapat melakukan sesuatu bagi Tuan."

"Tuan de Morcerf" jawab Count of Monte Cristo, "

Saya akui bahwa memang saya agak mengharap tawaran itu, dan saya ingin menerimanya dengan segala senang hati. Saya
telah mempunyai rencana meminta bantuan Tuan yang berharga sekali."

"Apakah itu?"

"Saya belum pernah mengenal Paris dan..."

"Apa!" Albert terkejut 

"Dengan keadaan seperti Tuan, Tuan belum pernah ke Paris? Sungguh mustahil!"

"Mustahil tetapi benar. Memang, sewaktu-waktu timbul juga pikiran pada saya, seperti pada Tuan, bahwa tidak mungkin saya terus dalam keadaan tidak mengenal kota yang termashur akan kemajuannya. Perjalanan yang tidak mungkin saya hindari ini sebenarnya dapat saya lakukan dahulu, seandainya saya mempunyai seseorang yang dapat memperkenalkan saya kepada masyarakat Paris. 

Tawaran Tuan sekarang, sangat menentukan. Oleh sebab itu, sudikah Tuan de Morcerf yang baik,” 

Count of Monte Cristo menyertai ucapannya itu dengan Senyum yang ganjil,

"memperkenalkan saya kepada dunia yang masih asing bagi saya?"

"Dengan segala senang hati, Tuan. Semua kawan dan sahabat saya akan membantu Tuan."

"Saya terima tawaran Tuan, kalau begitu," kata Count.

"Saya telah lama merencanakan perjalanan ini, dan inilah kesempatan baik untuk melaksanakannya."

"Bila Tuan bermaksud datang di Paris?"

"Bila Tuan sendiri akan kembali?"

"Dalam dua atau tiga minggu mendatang."

"Dalam hal demikian," kata Count, 

"saya akan datang tiga bulan lagi. Seperti Tuan lihat, saya memberi waktu yang longgar sekali."

''Tiga bulan sejak sekarang Tuan akan mengetuk pintu rumah saya?" tanya Albert gembira seperti anak kecil. 

"Apakah Tuan menghendaki kita menentukan hari dan jamnya sekali? Baik saya beritahukan, bahwa saya seorang yang biasa tepat memegang waktu sampai kepada detiknya"

"Hari dan jamnya" kata Albert 

"Tak ada yang lebih saya senangi dari pada itu."

"Baiklah. Hari ini, tanggal dua puluh satu Pebruari jam setengah sebelas siang. Bersediakah Tuan menantikan kedatangan
saya pada tanggal 21 Mei jam setengah sebelas siang?"

“Tentu, dan makan siang sudah akan siap pada waktu itu."

"Di mana alamat Tuan?"

"Rue du Helder No. 27."

Count of Monte Cristo menuliskan alamat itu dalam buku catatannya, 

"Apakah kita masih akan bertemu lagi sebelum saya pulang?" tanya Albert

"Tergantung . .. kapan Tuan akan berangkat?"

"Besok jam lima sore."

"Kalau begitu, saya mengucapkan selamat jalan sekarang. Saya mempunyai sesuatu urusan di Napoli dan belum akan kembali ke sini sampai hari Sabtu malam atau Minggu pagi yang akan datang. Bagaimana dengan Tuan, Baron Franz d'Epinay? Apakah Tuan pun akan segera pulang?"

"Ya."

"Ke Perancis?"

"Tidak. Ke Venesia. Saya akan tinggal di Italia untuk satu atau dua tahun lagi."

"Baiklah, Tuan-tuan, saya mengucapkan selamat jalan,"

kata Count lalu menjabat tangan tamunya seorang-seorang. Baru untuk pertama kali itu Franz merasakan tangan Count of Monte Cristo. Dia terkejut, oleh karena tangan itu
terasa sangat dingin seperti tangan mayat.

"Sekali lagi," kata Albert, 

"tanggal dua puluh satu Mei jam setengah sebelas siang, bukan?"

''Tanggal dua puluh satu Mei jam setengah sebelas siang," kata Count mengulang.

Kedua bangsawan muda itu membungkukkan badan meminta diri, lalu keluar.

"Mengapa?" 

Tanya Albert kepada Franz ketika mereka berjalan menuju kamarnya. 

"Seperti ada yang mengganggu
pikiranmu."

"Ya, aku akui," jawab Franz. 

"Orang itu sangat aneh, dan aku merasa agak khawatir tentang perjanjian yang kalian buat untuk di Paris itu."

"Engkau gila, Franz."

"Gila atau tidak, aku tetap merasa khawatir."




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...