BAB XLIV
MAXIMILIEN sangat berbahagia. Tuan Noirtier baru saja menyuruh Barrois memanggilnya. Dia ingin segera mengetahui apa maksud panggilan itu sehingga ia lebih percaya kepada kakinya sendiri daripada kepada kaki-kaki kuda kereta. Itulah sebabnya dia berlari-lari menuju rumah Tuan Noirtier dengan Barrois di belakangnya mencoba mengikutinya.
Maximilien berumur tiga puluh, Barrois enam puluh. Maximilien dibakar semangatnya oleh api cinta sedangkan Barrois kepayahan karena kepanasan.
Ketika sampai, Maximilien seperti tidak merasa cape, karena cinta memang bersayap, tetapi Barrois yang sudah bertahun-tahun tidak pernah jatuh cinta lagi, basah kuyup
bermandikan keringat.
Pelayan tua itu mempersilakan Maximilien masuk melalui pintu khusus. Tak lama kemudian suara gemerisik gaun wanita memberi tahukan kedatangan Valentine. Dia
tampak cantik sekali dengan pakaian paginya.
Maximilien sangat terpesona sehingga ia akan merasa gembira sekali, pun seandainya tidak jadi bertemu dengan Tuan Noirtier yang memanggilnya. Tetapi kakek tua itu telah datang, didorong di atas kursi rodanya.
Maximilien segera mengucapkan terima kasih untuk jasa-jasa Noirtier yang telah menyelamatkan Valentine dan dia sendiri dari kedukaan. Noirtier menjawabnya dengan
pandangan mata yang penuh kemurahan hati.
Lalu dia mengarahkan matanya kepada Valentine yang sedang duduk agak kemalu-maluan di sudut.
"Apakah perlu saya menceritakan semua yang Kakek katakan kepada saya?" Valentine bertanya.
"Ya," isyarat Noirtier.
"Maximilien, Kakek telah banyak sekali berceritera dalam tiga hari terakhir ini," kata Valentine.
"Beliau memanggilmu sekarang supaya aku menceritakannya kembali kepadamu. Oleh karena aku hanya sebagai penterjemah semata-mata, aku akan mengatakan semuanya
sama seperti yang dikehendaki beliau."
"Aku sudah tak sabar ingin mendengarnya," jawab Maximilien.
Valentine merendahkan pandangan matanya, suatu hal yang membuat Maximilien penuh harap, karena Valentine selalu merasa lemah apabila dia sedang berbahagia.
"Kakek ingin meninggalkan rumah ini," katanya.
"Barrois akan mencari sebuah apartemen yang memadai. Seandainya ayah mengizinkan, aku akan tinggal bersama Kakek dan akan meninggalkan rumah ini segera pula.
Seandainya tidak, aku akan menunggu sampai cukup usia, berarti delapan belas bulan lagi dari sekarang. Pada waktu itu aku bebas, dan aku akan mempunyai penghasilan dan kekayaan sendiri dan ..
"Dan?" tanya Maximilien.
"Dan, dengan restu Kakek aku akan menepati janjiku kepadamu."
Kata-kata terakhir diucapkannya dengan perlahan sekali sehingga Maximilien tidak akan dapat mendengarnya kalau saja ia tidak sedang mengikuti pembicaraan Valentine dengan seksama.
"Apakah saya tidak keliru, Kakek?" tanya Valentine kepada kakeknya.
''Tidak."
"Oh!"
Maximilien tak dapat menahan serunya.
Segera dia bersimpuh di muka kakek tua itu seakan-akan berlutut di hadapan Tuhan, dan bersimpuh di muka Valentine seperti dia bersimpuh di hadapan malaikat.
"Apakah jasa saya sehingga patut menerima kebahagiaan seperti ini?"
Noirtier memandang kepada kedua anak muda yang sedang dilanda cinta itu dengan penuh perasaan kasih. Barrois yang berdiri agak jauh dari mereka tersenyum sambil menghapus butir-butir keringat yang masih membasahi
dahinya.
"Oh, Barrois sangat kepanasan. Kasihan," kata Valentine.
"Karena saya habis berlari dengan cepat, Nona," jawab Barrois.
"Namun demikian saya akui bahwa Tuan Morrel berlari lebih cepat dari saya."
Noirtier mengarahkan matanya kepada sebuah baki yang di atasnya ada sebuah tempat air jeruk dan sebuah gelas. Noirtier telah meminumnya sebagian setengah jam yang
lalu.
“Minumlah air jeruk ini, Barrois," kata Valentine.
"Kulihat engkau sangat menginginkannya."
"Kalau saya boleh berterus-terang, Nona, saya hampir mati kehausan," jawab Barrois,
"dan saya akan sangat bergembira sekali apabila dapat minum demi kesehatan Nona
dengan air jeruk ini."
"Minumlah, dan kembali lagi nanti ke mari"
Barrois mengambil baki itu dan segera setelah ia berada di luar kamar dengan sekali teguk ia menghabiskan gelas yang telah diisi air jeruk oleh Valentine.
Valentine dan Maximilien sedang saling mengucapkan kata berpisah ketika mereka mendengar suara bel berbunyi di tangga. Berarti ada tamu. Valentine melihat jam.
"Hari telah siang," katanya,
"dan hari ini, hari Sabtu. Mesti dia dokter. Apakah Maximilien harus pergi, Kakek?"
“Ya,"
"Barrois!" Valentine berteriak.
"Ke mari!"
Suara pelayan tua itu menjawab,
"Saya datang, Nona."
"Barrois akan menunjukkan jalan"
kata Valentine kepada Maximilien. Barrois masuk.
"Siapa yang membunyikan bel?"
"Dokter d'Avrigny," jawab Barrois terhuyung huyung.
"Mengapa engkau, Barrois?" tanya Valentine heran.
Barrois tidak menjawab. Dia melihat kepada majikannya dengan penuh ketakutan. Tangannya mencoba meraih sesuatu untuk menahan dirinya.
"Dia hampir jatuh!" Maximilien berseru.
Barrois makin sempoyongan. Wajahnya menunjukkan adanya serangan penyakit yang gawat dan mendadak. Dia maju beberapa langkah lagi menuju Noirtier.
"Ya, Tuhan!"
katanya dengan susah payah.
"Mengapa saya ini? Sakitnya... mata saya kabur . .. kepala seperti dibakar. Oh, jangan
sentuh saya!"
Matanya berputar putar, kepalanya terkulai ke
belakang, sedangkan anggota badan lainnya kaku.
"Dokter d'Avrigny! Dokter d'Avrigny!" Valentine berteriak-teriak
"Ke mari cepat! Tolong!"
Barrois membalikkan badan, mundur lalu terjatuh di depan kaki Noirtier.
Villefort yang mendengar teriakan Valentine muncul di ambang pintu. Maximilien segera menyembunyikan diri di belakang tirai. Mata Noirtier berkilat-kilat karena tidak sabar dan cemas. Seakan-akan seluruh perasaan hatinya
tertumpah kepada orang tua yang malang itu, yang lebih merupakan sahabat daripada pelayan.
Urat-urat wajah Barrois bergerak menegang, matanya merah seakan-akan berdarah, lehernya terkulai lemah, tangannya menggapai-gapai. Kakinya begitu kaku, sehingga seakan-akan mungkin patah kalau ditekukkan.
Bintik-bintik buih keluar dari sela-sela bibirnya ketika dia mengerang kesakitan.
Villefort memandang Barrois dengan mata melotot dan mulutnya ternganga. Dia tidak melihat Maximilien. Segera dia membalikkan badan dan berlari sambil berteriak.
"Dokter! Dokter! Dokter! Tolong!"
Nyonya de Villefort masuk dengan diam-diam
Pandangannya yang pertama diarahkan kepada Noirtier yang dalam keadaan serupa ini layak terpengaruh oleh berbagai perasaan, namun tetap segar bugar. Lalu dia melihat kepada Barrois yang seperti sedang di ambang
kematian.
"Demi Tuhan, Ibu, di mana Dokter?" tanya Valentine.
"Di kamar Edouard, sedang memeriksanya. Dia agak sakit hari ini," jawab Nyonya de Villefort.
Lalu dia meninggalkan ruangan itu.
Maximilien keluar dari persembunyiannya. Tak seorang pun memperhatikannya dalam kebingungan seperti itu.
"Segera pergi, Maximilien," kata Valentine,
"dan tunggu sampai aku menyuruh orang."
Maximilien menekankan tangan Valentine ke dadanya lalu pergi melalui pintu khusus.
Beberapa detik kemudian Villefort masuk bersama dokter dari pintu yang lain. Barrois kelihatan sudah mulai akan sadar kembali Serangan pertama telah berlalu. Terdengar
keluhannya perlahan-lahan, dan dia mencoba duduk pada sebuah lututnya. Villefort dan Dokter d'Avrigny menggotongnya ke kursi panjang.
"Obat apa yang diperlukan, Dokter?" tanya Villefort.
"Tolong ambilkan air bening dan eter. Apa Tuan mempunyainya?"
"Ada."
‘Dan tolong suruh orang mencari minyak terpenten dan sedikit obat muntah."
"Kau, ambil!"
perintah Villefort kepada salah seorang pelayannya.
"Sekarang saya harap semua meninggalkan kamar ini."
"Apakah saya pun harus pergi" tanya Valentine agak malu-malu.
"Ya, terutama sekali Nona," jawab dokter itu pendek.
Valentine menatap wajah dokter itu dengan agak heran, mencium dahi Noirtier lalu pergi.
Dokter menutup pintu dengan air muka muram setelah Valentine keluar.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Barrois?" tanyanya.
"Sedikit baik, Dokter "
"Bisa kau meminum air dengan eter ini?"
"Akan saya coba, tetapi harap jangan sentuh saya"
"Mengapa?"
"Karena rasanya, kalau saya tersentuh, sekalipun dengan ujung jari, serangan akan datang lagi Minumlah."
Barrois menerima gelas, mendekatkan bibirnya yang keungu-unguan ke bibir gelas lalu meminum setengah dari isinya.
"Rupanya serangan itu mendadak sekali," kata Dokter.
"Seperti kilat"
"Bagaimana perasaanmu kemarin atau kemarin dahulu?"
"Tidak merasakan apa-apa."
"Apa yang kau makan hari ini?"
"Belum makan apa-apa. Saya hanya minum sedikit saja air jeruk Tuan Noirtier. Hanya itu."
Barrois mengangguk kepada Noirtier yang tanpa bergerak sedikit pun mengawasi dan mendengarkan seksama dari kursi rodanya.
"Di mana air jeruk itu sekarang?" tanya Dokter dengan cepat.
"Di dapur."
"Apa saya ambilkan, Dokter?" tanya Villefort.
"Biar, tinggal saja di sini Saya akan mengambilnya sendiri"
Dia berlari keluar dan turun ke dapur melalui tangga khusus untuk para pelayan. Hampir saja dia menubruk Nyonya de Villefort yang juga sedang menuju dapur.
Nyonya de Villefort berteriak terkejut, namun dokter tidak mengacuhkannya. Didorong oleh prasangkanya yang kuat dia melompati tiga empat anak tangga terakhir, lalu berlari cepat ke dapur. Di sana dia melihat tempat air jeruk di atas baki. Isinya hanya tinggal seperempat. Dia menyambarnya seperti burung elang menyambar mangsanya, kemudian berlari kembali ke kamar Noirtier. Napasnya hampir habis.
Nyonya de Villefort menaiki kembali tangga dengan perlahan-lahan ke kamarnya sendiri.
"Betul ini?" tanya Dokter d'Avrigny.
"Benar, Tuan."
"Ini pula yang kauminum?"
"Saya kira begitu."
"Bagaimana rasanya?"
"Sedikit pahit"
Dokter menuangkan air jeruk itu sedikit ke telapak tangannya, lalu mencicipinya. Segera pula ia meludahkannya kembali ke dalam tungku api "Sama," katanya.
"Apakah Tuan juga meminum air jeruk ini, Tuan Noirtier?"
"Ya," jawab Noirtier dengan matanya.
"Terasa pahit juga?"
"Ya."
"Oh, Dokter!" Barrois berteriak.
"Saya terserang kembali! Ya, Tuhan kasihanilah saya!"
"Tolong lihat apa sudah dapat obat muntah itu," kata dokter kepada de Villefort.
Villefort berlari keluar sambil berteriak,
"Obat muntah! Obat muntah mana?"
Tak seorang pun menjawab. Suasana ketakutan dan kekhawatiran mencekam seluruh rumah.
Barrois terserang lebih hebat dari pertama kali. Karena tidak dapat menolong meringankan penderitaannya, dokter meninggalkannya dan menghampiri Noirtier.
"Bagaimana dengan Tuan?" katanya dengan suara ditahan.
"Baik-baik saja?"
"Ya."
"Barroiskah yang membuatkan air jeruk itu?"
"Ya."
"Tuankah yang menyuruh dia meminumnya?"
"Bukan."
"Tuan de Villefort?"
"Bukan."
"Nyonya de Villefort?"
"Bukan."
"Valentine?"
"Ya."
Dokter d Avrigny kembali kepada Barrois dan bertanya,
"Siapa yang membuat air jeruk itu?"
"Saya."
"Lalu engkau langsung mengantarkannya kepada Tuan Noirtier?"
"Tidak, karena saya disuruh dahulu melakukan sesuatu yang lain. Karena itu saya tinggalkan air jeruk itu di lemari makanan."
"Jadi siapa yang mengantarkannya ke mari?"
"Nona Valentine."
Dokter memukul dahinya sendiri sambil berkata,
"Ya Tuhan! Ya Tuhan!"
"Dokter! Dokter!"
Barrois menjerit-jerit Dia merasakan datangnya serangan yang ketiga kalinya.
“Napas saya! Jantung! Kepala! Apa saya harus lama menderita, Dokter?"
"Saya mengerti,"
jawab Barrois yang sudah tak berdaya
itu.
"Ya Tuhan, ampunilah saya!"
Dia jatuh terkulai dibarengi jeritan yang mengerikan seakan-akan disambar petir.
Dokter meraba detak jantung Barrois lalu berkata kepada Villefort,
"Tolong ambilkan sirup bunga."
Villefort pergi dan kembali sesaat kemudian.
"Masih pingsan?" tanyanya.
"Dia sudah mati.''
Villefort terlompat selangkah ke belakang, memegang kepalanya dengan kedua belah tangannya, lalu berkata dengan suara sedih,
"Begitu cepat?"
"Ya, cepat sekali, bukan?" kata Dokter.
"Tetapi itu tak perlu mengagetkan Tuan. Tuan dan Nyonya de Saint-Meran juga meninggal secara mendadak. Banyak orang yang mati mendadak dalam rumah ini, Tuan de Villefort''
"Apa!"
seru Villefort dengan nada ketakutan dan terkejut.
"Masihkah Tuan dipengaruhi prasangka itu?"
"Tak pernah hilang dari ingatan saya sesaat pun," jawab dokter itu tenang.
"Dan saya akan membuktikan bahwa saya tidak keliru. Dengarkanlah baik-baik, Tuan de
Villefort."
Villefort gemetar bagaikan orang yang kena sawan.
"Ada sejenis racun yang sangat mematikan tanpa meninggalkan bekas," kata dokter.
"Saya telah menyelidiki jenis racun itu dan saya kenal benar kepada akibat-akibatnya. Saya baru saja melihat akibat-akibat itu pada Barrois
yang malang, dan saya juga melihatnya pada Nyonya de Saint-Meran. Ada cara untuk membuktikan adanya racun tersebut dalam suatu cairan. Cairan beracun itu akan mengubah kertas lakmus menjadi biru dan mengubah sirup bunga yang ungu menjadi hijau. Kita tidak mempunyai kertas lakmus di sini, tetapi ada sirup bunga. Perhatikanlah."
Dokter menuangkan air jeruk dengan hati-hati ke dalam cangkir berisi sirup bunga. Mula-mula warna sirup itu berubah menjadi kebiru-biruan, lalu sedikit demi sedikit berubah lagi menjadi hijau. Percobaan itu menghilangkan semua keragu-raguan.
"Barrois yang malang diracun dengan brucine," kata Dokter d'Avrigny.
"Sekarang saya telah siap untuk menjawab kebenaran ini baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia."
Villefort terhenyak ke atas kursi tanpa berkata sepatah pun, tak berdaya seperti mayat Barrois. Segera dokter menyadarkannya kembali.
"Oh, kematian berada dalam rumahku!" katanya gemetar.
"Pembunuhan berada dalam rumah Tuan," kata Dokter membetulkan.
"Apakah Tuan mengira racun itu ditujukan
kepada pelayan malang itu? Tuan Noirtier telah meminumnya sebagian bagaikan minum air biasa. Barrois meminumnya karena kecelakaan. Dan sekalipun Barrois yang menjadi korban, sebenarnya Noirtier yang diincar."
"Tetapi mengapa ayah saya masih tetap hidup?"
"Seperti telah saya katakan di kebun setelah meninggalnya Nyonya de Saint-Meran, dia sudah kebal terhadap racun itu, sehingga racun dalam jumlah tertentu yang tidak akan berakibat apa-apa kepadanya, telah mematikan
Barrois. Tak seorang pun, bahkan juga si pembunuh, mengetahui bahwa saya selama ini mengobati kelumpuhan Tuan Noirtier dengan racun brucine. Mari sekarang kita ikuti jejak-jejak pembunuh itu. Mula-mula dia membunuh
Tuan de Saint-Meran, lalu Nyonya de Saint-Meran . . .
warisan berganda dapat diharapkan dari kematiannya.
Tuan Noirtier telah mencabut hak waris keluarganya, dan bermaksud mewariskan kekayaannya kepada orang-orang miskin. Dia selamat. Tetapi segera setelah ia merubah lagi
surat wasiatnya, segera itu pula ia menjadi calon korban berikutnya. Surat wasiat yang baru itu baru dibuat kemarin dulu. Nah, Tuan lihat, tak ada waktu yang dibuang-buang."
"Oh, maafkan anak saya, Tuan d'Avrigny!" gumam Villefort.
"Ah, Tuan menyebut sendiri nama itu. Tuan ayahnya."
"Kasihanilah Valentine! Dengarkan saya, Dokter, tidak mungkin! Saya lebih suka menyalahkan diri sendiri dari pada
menyalahkan dia!"
''Tiada maaf! Kejahatan itu telah jelas sekali dan amat keji Putri Tuan yang membungkus obat yang dikirimkan kepada Tuan de Saint-Meran, dan dia mati.
Dia pula yang menyediakan makanan Nyonya de Saint-Meran, dan dia mati mendadak. Dia yang mengantarkan tempat air jeruk kepada Tuan Noirtier, dan Tuan Noirtier selamat karena
suatu keajaiban."
"Dengarkan!" Villefort berteriak.
"Kasihanilah saya, tolong saya! Tidak, anak saya tidak bersalah. Saya tidak mau menggusur anak saya ke tiang gantungan dengan tangan saya sendiri.
Pikiran itu saja sudah menyebabkan saya mau merobek-robek jantung saya sendiri rasanya.
Bagaimana bila di kemudian hari ternyata Tuan keliru Bagaimana kalau orang lain yang melakukannya, bukan Valentine? Bagaimana kalau pada suatu hari nanti saya datang kepada Tuan dan berkata, "Kau membunuh anakku!"
"Baik," kata dokter itu setelah diam sejenak.
"Saya akan menunggu."
Villefort menatap wajah dokter itu seakan-akan dia tidak percaya kepada apa yang di dengarnya.
"Tetapi,"
Lanjut Dokter dengan suara rendah dan khidmat,
"bila ada orang lain dalam rumah ini jatuh sakit, atau Tuan sendiri yang terkena, jangan memanggil saya oleh karena saya tidak mau lagi kembali ke rumah ini.
Saya bersedia memegang rahasia Tuan yang mengerikan ini, tetapi saya tidak bersedia membiarkan rasa malu dan sesal tumbuh dalam jiwa saya seperti tumbuhnya kejahatan dan kedukaan dalam rumah Tuan ini. Selamat tinggal, Tuan de Villefort."
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar