BAB II
SETELAH berjalan sepanjang Canebiere Dantes berbelok ke Rue de Noilles, kemudian memasuki sebuah rumah kecil di sebelah kiri jalan Alles de Meilhan. Ia menaiki tangga gelap kemudian berhenti di depan sebuah pintu kamar yang setengah terbuka. Itulah kamar tempat ayah Edmond Dantes tinggal.
"Ayah! Ayah!"
Orang tua yang sedang berdiri membelakangi pintu terkejut kemudian membalikkan badan dan kemudian jatuh dalam rangkulan tangan anaknya. Badannya gemetar dan mukanya pucat.
"Mengapa Ayah? Sakitkah Ayah?"
"Tidak, tidak Edmond. Aku tidak mengira bahwa engkau akan datang hari ini. Kegembiraan yang mendadak inilah yang ..."
"Kata orang, kegembiraan tidak pernah membahayakan. Itulah sebabnya saya langsung menemui Ayah. Saya telah kembali dengan selamat dan kita akan berbahagia lagi bersama-sama."
"Sedap sekali, anakku! Tetapi bagaimana kita akan berbahagia? Apakah maksudmu tidak akan meninggalkan lagi aku seorang diri seterusnya? Coba ceriterakan apa yang
membuat kau segembira ini."
"Semoga Tuhan memaafkan, karena saya bergembira mendapatkan keuntungan yang disebabkan ke matian seseorang. Tetapi saya tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.
Kapten Leclere meninggal dan tampaknya saya
akan diangkat untuk menggantikannya.
Dapatkah Ayah membayangkan? Seorang kapten dalam usia dua puluh tahun? Dengan gaji sebanyak seratus louis ditambah hak
mendapat bagian dari keuntungan?
Dapatkah seorang pelaut miskin seperti saya ini mengharapkan yang lebih dari itu?"
"Benar anakku, engkau sangat beruntung."
"Dari gaji yang pertama saya bermaksud membelikan Ayah sebuah rumah dengan kebunnya . . . Mengapa Ayah? Tampaknya Ayah sakit."
"Tidak apa-apa. Sebentar juga berlalu," kata orang tua itu mencoba menghilangkan kerisauan anaknya, tetapi badannya telah sangat lemah dan ia jatuh terkulai.
"Sebaiknya Ayah minum anggur,' kata Edmond.
"Dimana Ayah menyimpannya?"
"Aku tidak memerlukannya, Nak," kata orang tua itumencoba mencegah anaknya mencari anggur.
"Mesti, Ayah, biar hangat. Katakan saja di mana!”
Edmond membuka dua tiga lemari yang ada dalam kamar itu, namun semua kosong.
"Tak usah dicari, Edmond, karena aku tidak mempunyai anggur.''
"Tidak ada anggur???" Edmond terkejut.
Dengan mata terbelalak ia berpindah-pindah memandang pipi ayahnya yang kempot dan lemari yang kosong.
"Apakah ayah kehabisan uang?"
"Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang karena engkau telah kembali"
"Tetapi, tetapi tiga bulan yang lalu ketika saya akan pergi bukankah saya memberi Ayah dua ratus frank," kata Edmond sedikit terbata-bata.
"Benar, Edmond. Tetapi ketika itu engkau lupa akan hutangmu kepada tetangga kita Caderousse. Dia menagih kepadaku dan mengatakan akan melaporkannya kepada Tuan Morrel apabila aku tidak membayarnya. Aku
khawatir, laporannya dapat merugikan engkau. Itulah sebabnya aku bayar dia."
'Tetapi hutangku berjumlah seratus empat puluh frank. Apakah Ayah melunasinya dari uang yang dua ratus itu?" Orang tua. itu mengangguk.
"Dan Ayah hidup selama tiga bulan hanya dengan empat puluh frank saja? Ya, Tuhan ampunilah saya!!!"
"Sudahlah, Edmond Yang penting engkau telah kembali dengan selamat."
"Ya, saya telah kembali dengan membawa sedikit uang dan harapan akan masa depan yang cerah. Nih Ayah, ambillah semua dan belilah segala sesuatu yang diperlukan."
Dantes mengeluarkan semua isi dompetnya di atas meja: selusin emas batangan, dua puluh lima atau tiga puluh frank dan beberapa uang kecil lainnya.
Wajah orang tua itu menjadi cerah.
"Milik siapa itu?”
"Milik saya, milik Ayah, milik kita berdua! Ambillah dan belilah persediaan makanan. Dan jangan khawatir, esok saya akan membawa lebih banyak lagi. Selain uang saya masih punya kopi dan tembakau yang baik untuk Ayah. Tetapi masih di kapal. Besok akan saya bawa . , .. Saya mendengar ada orang datang."
"Mungkin sekali Caderousse untuk mengucapkan selamat datang kepadamu."
"Orang yang lidahnya tidak seia dengan hatinya," Edmond menggerutu.
"Tetapi biarlah, dia adalah tetangga dan
pernah berbuat jasa kepada kita"
Sesaat kemudian Caderousse memasuki kamar. Usianya kurang lebih dua puluh lima tahun. Rambut dan janggutnya hitam. Di tangannya ada selembar kain — karena ia
seorang penjahit — yang sedang dikerjakannya untuk membuat sebuah jas.
"Engkau telah kembali, Edmond!" katanya dengan logat Marseilles yang masih jelas. Senyumnya yang lebar memperlihatkan giginya yang putih.
"Ya, saya telah kembali. Dan siap untuk melakukan apa saja untukmu sepanjang kemampuan saya."
"Terima kasih. Tetapi untung, saya tidak memerlukan apa-apa Biasanya, orang lain yang kadang-kadang memerlukan pertolongan saya”
Edmond sudah akan menjawab pernyataan tetangga ini tetapi Caderousse cepat meneruskan,
"Bukan engkau yang saya maksud. Benar saya meminjamimu uang tetapi engkau telah mengembalikannya, jadi antara kita telah selesai."
"Kami tidak pernah merasa selesai dengan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kami. Sekalipun kami sudah tidak berhutang uang lagi tetapi kami tetap berhutang
kebaikan kepadanya.”
"Mengapa engkau berbicara tentang itu? Yang sudah lewat biarlah. lalu. Lebih baik kita berbicara tentang kepulanganmu saja, kawan. Saya kebetulan berjumpa dengan kawan kita Danglars di pelabuhan.
Dialah yang mengabariku bahwa engkau telah pulang. Dia juga mengatakan bahwa engkau telah mendapat tempat yang baik di hati Tuan Morrel. Sebaiknya engkau tidak menolak
undangannya untuk makan malam di rumahnya. Apabila seseorang ingin menjadi kapten, dia harus pandai mengambil hati pemilik kapal."
“Saya harap dapat menjadi kapten tanpa berbuat begitu,"
"Kalau dapat tentu saja lebih baik. Kawan-kawan lamamu tentu turut bergembira melihat engkau berhasil maju.
Dan aku tahu ada seorang lagi yang akan lebih bergembira mendengar berita baik itu."
"Kau maksud Mercedes?" tanya ayah Dantes.
"Benar, Ayah." kata Edmond.
"Karena kita telah bertemu dan saya lihat Ayah baik-baik saja dan segala keperluan sudah dapat disediakan, saya mohon Izin, Ayah, untuk
menemui Mercedes," Dantes memeluk ayahnya, mengangguk kepada Caderousse, kemudian pergi.
Caderousse masih tinggal beberapa saat, kemudian pamitan kepada ayah Edmond, pergi ke bawah dan bertemu dengan Danglars yang sengaja menunggu dia.
"Nah," kata Danglars,
"Apakah ada dia katakan kepadamu tentang harapannya untuk menjadi kapten?"
"Dia berbicara seperti sudah menjadi kapten, dan hal itu sudah membuatnya angkuh. Dia menawarkan jasa baiknya kepadaku seakan-akan ia seorang besar."
"Apakah ia masih mencintai Mercedes?"
"Tergila-gila! Dia sedang pergi ke sana sekarang. Kecuali kalau aku keliru, aku kira dia akan menemui hal-hal yang tidak menyenangkan baginya”
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak begitu yakin. Tetapi yang aku ketahui, setiap kali Mercedes datang ke kota selalu ditemani seorang pemuda Catalan yang tegap yang wajahnya selalu memancarkan gelora cinta kepada Mercedes."
"Menurutmu, Dantes sekarang sedang menuju rumahnya?" tanya Danglars.
"Ya, ia berangkat sesaat sebelum saya pamitan."
"Kalau begitu mari kita pergi ke arah yang sama. Kita berhenti di kedai kopi La Reseve dan menunggu berita sambil minum anggur."
"Siapa yang akan memberi kita berita?"
"Kita akan duduk-duduk di sebelah jalan menunggu Dantes lewat kembali. Dari wajahnya kita akan dapat mengetahui apa yang telah terjadi."
"Baiklah," kata Caderousse.
"Tetapi engkau yang membayar anggur itu, bukan?"
"Tentu saja," jawab Danglars.
Kedua sahabat itu bergegas-gegas pergi.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar