BAB LVIII
LAMPU di kamar Valentine masih menyala, cahaya yang kemerah-merahan menimpa tirai-tirai putih. Segala suara di jalan sudah menghilang dan kesunyian dalam rumah sungguh mencekam.
Pintu kamar Edouard terbuka. Sesosok tubuh tampak pada cermin di hadapan pintu, Nyonya de Villefort kembali untuk meyakinkan akibat racun yang dituangkannya ke dalam gelas Valentine, Dia berhenti dahulu di ambang pintu,
memasang telinganya, namun tiada suara terdengar kecuali suara api lampu yang sedang menyedot sisa-sisa minyak.
Setelah itu baru dia berani mendekati meja di sebelah ranjang Valentine, untuk melihat gelas apakah sudah diminum isinya atau belum.
Hampir setengahnya habis. Nyonya
de Villefort membuang sisanya ke tungku api. Dengan Hati-hati dia mencuci gelas itu, mengeringkannya dengan saputangannya
lalu menaruhnya kembali di atas meja.
Tampak dia ragu ketika dia mengamati Valentine. Si pembunuh merasa takut melihat akibat perbuatannya sendiri. Dengan menguatkan hati, dia maju selangkah lagi.
Valentine sudah tidak bernapas, bibirnya yang kebiru-biruan sudah berhenti bergetar. Nyonya de Villefort meletakkan tangannya di atas dada Valentine. Tidak terasa apa-apa.
Dengan cepat dia menarik kembali tangannya, bahkan disertai gemetar tubuhnya. Tangan kanan Valentine bergantung di tepi ranjang, pergelangannya sudah mulai kaku, dan sekeliling kuku-kuku jarinya tampak kebiru-biruan.
Nyonya de Villefort sudah tidak sangsi lagi. Semuanya
telah selesai, pikirnya. Tugasnya yang terakhir telah terlaksana.
Dia mundur beberapa langkah, lalu berhenti lagi
dan berdiri tanpa bergerak. Beberapa menit berlalu. Lampu berkelap-kelip untuk akhirnya mati sama sekali. Seluruh kamar menjadi gelap gulita. Dalam kegelapan itu terdengar
lonceng berbunyi menunjukkan jam setengah lima pagi.
Dengan meraba-raba Nyonya de Villefort kembali ke kamarnya sendiri. Dahinya basah berkeringat. Secercah demi secercah cahaya masuk ke dalam kamar Valentine. Akhirnya menjadi cukup terang untuk dapat
membedakan warna.
Perawat memasuki kamar dengan membawa sebuah gelas. Seorang ayah atau kekasih, segera melihat bahwa Valentine sudah mati. Tetapi perawat ini tidak. Dia mengira Valentine masih lelap tidur. Yang pertama-tama dikerjakannya, menghidupkan tungku pemanas. Setelah itu duduk di kursi dan sekalipun baru saja bangun, dia memanfaatkan
tidur Valentine untuk diri sendiri: tidur lagi beberapa saat lamanya.
Jam delapan baru dia terbangunkan lagi oleh
bunyi lonceng. Melihat Valentine masih kelihatan lelap dan tangannya tetap bergantung, dia merasa heran. Dia mendekatinya, barulah dia melihat dengan jelas bahwa bibir Valentine sudah biru kaku dan dadanya tidak turun naik. Dia mencoba
membenarkan letak tangan Valentine, namun tangan itu sudah demikian kakunya sehingga hanya dengan keras dia berhasil. Sebagai seorang perawat dia segera tahu apa arti kekakuan itu. Dia berteriak dan berlari keluar: .
"Tolong! Tolong!"
"Ada apa?"
Jawab Dokter d'Avrigny di bawah tangga.
Waktu itu adalah saat menjenguk Valentine yang setiap hari dilakukannya.
"Tuan mendengar ada yang meminta tolong?"
tanya Villefort keluar dari kamar kerjanya.
"Ya. Rupanya dari kamar Valentine. Mari kita lihat."
Sebelum Villefort dan dokter tiba, para pelayan sudah terlebih dahulu berada di kamar Valentine. Begitu mereka melihat keadaan putri majikannya, mereka menutup wajah masing-masing dengan kedua tangannya. Mereka merasa pusing bagaikan kena benturan yang keras mendadak.
"Panggil Nyonya! Bangunkan Nyonya!" teriak Villefort tanpa berani memasuki kamar.
Tetapi para pelayan itu bukannya menuruti perintah, melainkan memperhatikan Dokter d'Avrigny yang segera mendekati Valentine. Dokter memeriksanya sebentar.
"Satu lagi!" katanya mengeluh.
"Ya Tuhan, bilamanakah Engkau akan menghentikan ini?"
"Apa kata Tuan?" tanya Villefort terkejut.
"Maksud saya, Valentine telah mati," jawab dokter dengan suara yang mengharukan.
Villefort menjatuhkan diri ke lantai dan meletakkan kepala di pinggir ranjang Valentine. Semua pelayan berlarian ke luar. Terdengar mereka menuruni tangga, lalu tak berapa lama kemudian terdengar suara hiruk-pikuk di pekarangan. Para pelayan kabur meninggalkan rumah yang menurut mereka sedang dikutuk Tuhan.
Nyonya de Villefort muncul di ambang pintu. Dia berhenti sejenak di sana, berusaha mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba saja dia bergerak ke arah meja karena melihat Dokter d'Avrigny memeriksa meja dengan teliti, dan mengambil gelas yang dia yakin telah dikosongkannya dinihari tadi.
Ternyata gelas itu berisi lagi, persis sebanyak yang dia buang ke dalam tungku api. Seandainya ruh Valentine tiba-tiba saja berada di hadapannya, dia tidak akan terkejut seperti sekarang melihat isi gelas yang telah dibuangnya sendiri dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Warna isi gelas sama betul dengan warna cairan yang dia buang.
Dokter memeriksanya dengan teliti sekali. Dia yakin bahwa cairan itu racun. Ditemukannya racun itu merupakan suatu keajaiban dari Tuhan untuk menggampangkan cara menghancurkan si pembunuh.
Selagi Nyonya de Villefort yang sudah tidak sempat berbuat apa-apa lagi berdiri tegak bagaikan patung orang yang sedang terkejut, dan selagi Villefort sendiri membenamkan
kepalanya di ranjang Valentine, Dokter d'Avrigny berjalan ke dekat jendela untuk memeriksa gelas dengan lebih jelas.
Dia menjilat ujung telunjuknya yang sudah
dicelupkan ke dalam gelas itu.
"Ah!" katanya,
"sudah bukan brucine lagi. Kita lihat, apa."
Dia berjalan ke lemari yang sudah disulap menjadi apotik kecil. Dokter mengambil botol yang berisi asam sendawa lalu meneteskan isinya beberapa tetes ke dalam gelas.
Cairan dalam gelas segera berubah warnanya menjadi merah darah.
"Aha!"
dia bersorak seperti seorang hakim yang berhasil mengorek kebenaran dari pesakitan,
bercampur dengan kegembiraan seorang ilmuwan yang berhasil memecahkan sebuah persoalan.
Sekilas cahaya kemarahan dan ketakutan memancar dari mata Nyonya de Villefort, lalu meredup kembali. Dia membalikkan badan, berjalan dengan terhuyung-huyung ke luar kamar. Beberapa saat kemudian terdengar suara orang terjatuh.
Dokter d'Avrigny yang melihat Nyonya de Villefort meninggalkan kamar segera berlari ke pintu, dan melihat Nyonya de Villefort tergeletak di lantai.
"Tolong Nyonya de Villlefort" perintahnya kepada perawat.
"Beliau pingsan"
"Bagaimana dengan Nona Valentine?" tanya perawat ragu-ragu.
"Nona Valentine sudah tidak membutuhkan pertolongan lagi, karena dia sudah meninggal."
"Meninggal! Meninggal!"
Villefort mengulang-ulang kata-kata itu dengan nada yang sangat mengharukan karena keluar dari seorang yang terkenal berhati baja.
"Meninggal!" terdengar suara lain.
"Siapa yang mengatakan Valentine telah meninggal?"
Kedua laki-laki itu memalingkan wajah ke arah suara itu dan mereka melihat Maximilien Morrel berdiri di ambang pintu dengan mata liar dan kebiru-biruan di seputarnya.
Pada jam seperti biasa dia mengunjungi Noirtier setiap pagi, Maximilien tiba di pintu kecil yang berhubungan dengan kamar Noirtier. Karena lain dari kebiasaan dia melihat pintu tidak terkunci, dia masuk tanpa membunyikan bel.
Maximilien memanggil pelayan untuk minta diberitahukan kedatangannya kepada Noirtier, namun tak seorang pun datang.
Maximilien tidak mempunyai alasan untuk merasa risau karena mendapat keyakinan dari Monte Cristo bahwa Valentine akan tetap hidup, dan selama ini janji Monte Cristo itu terbukti.
Setiap malam Monte Cristo memberinya kabar baik, yang dibenarkan esok paginya oleh Noirtier. Walaupun demikian kesunyian rumah itu mengherankannya juga.
Dia memanggil dan memanggil lagi, tetapi keadaan tetap sunyi.
Dia mengambil keputusan untuk naik ketingkat atas. Pintu kamar Noirtier terbuka. Mata kakek tua itu menunjukkan ketegangan dalam jiwanya, dan hal ini dikuatkan oleh wajahnya yang tampak sangat pucat.
"Tuan seperti merisaukan sesuatu," kata Maximilien.
"Apa perlu saya memanggil pelayan?"
"Ya,"
Jawab Noirtier seperti biasa dengan isarat matanya.
Maximilien menarik tali lonceng, tetapi tak seorang pun datang. Kerisauan Noirtier semakin jelas tampak pada matanya.
"Mengapa tak ada yang datang?" tanya Maximilien heran.
"Apakah ada yang sakit?"
Mata Noirtier seakan-akan hendak terloncat ke luar dari kelopaknya.
"Ada apa, Tuan? Apakah Valentine .. .'
"Ya! Ya! Ya!"
Maximilien berlari ke luar dan menuruni tangga. Kurang dari satu menit dia sudah berada di pintu kamar Valentine. Pintunya terbuka. Yang pertama-tama dia dengar suara orang terisak-isak. Lalu melihat sesosok tubuh berlutut dekat ranjang. Dia berdiri di ambang pintu dicekam rasa takut. Ketika itulah dia mendengar orang berkata,
"Dia sudah meninggal,"
disusul orang lain yang mengulang-ulangnya bagaikan gema suara,
"Meninggal! Meninggal!"
Villefort berdiri. Dia merasa sedikit malu kedapatan menangis kesedihan. Jabatan yang sudah dijalaninya selama dua puluh lima tahun terus-menerus, sedikit banyak telah merubah dia menjadi kurang manusiawi.
Dia memandang Maximilien.
"Siapa Tuan? Dan mengapa Tuan lupa bahwa seseorang tidak boleh masuk rumah di mana orang sedang berkabung?
Harap segera meninggalkan rumah ini!"
Maximilian tetap tidak bergerak, tanpa sanggup mengalihkan pandangannya dari ranjang dan wajah pucat yang tergeletak di atasnya.
"Harap pergi! Apa Tuan tidak mendengar?"
Dokter d'Avrigny maju selangkah menjaga kemungkinan kalau-kalau Villefort memerlukan bantuannya.
Maximilien tampak ragu. Dia membuka mulutnya, tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata sepatah pun untuk menjawab, sekalipun bermacam pikiran, bermunculan di benaknya.
Dia berbalik berlari sambil memegang kepala
dengan kedua belah tangannya. Villefort dan Dokter d'Avrigny saling berpandangan seakan-akan masing-masing hendak mengatakan,
"Orang gila!"
Beberapa menit kemudian mereka mendengar tangga berderak karena menahan beban yang berat. Mereka melihat Maximilien menuruni tangga sambil mengangkat Noirtier dengan kursi rodanya sekali.
Setelah sampai di lantai bawah Maximilien meletakkan kursi roda dan mendorongnya
ke kamar Valentine dengan cepat.
Wajah Noirtier dengan cahaya matanya yang berkilat-kilat merupakan hantu yang sangat mengerikan bagi Villefort.
Setiap kali dia bertemu dengan ayahnya sendiri, selalu saja ada perasaan takut.
"Lihat apa yang mereka lakukan terhadap Valentine''.
Kata Maximilien dengan sebelah tangannya di kursi roda dan tangan lainnya menunjuk kepada Valentine.
"Lihat Kakek, lihat!"
Villefort terkejut mendengar anak muda yang tidak dikenalnya ini memanggil "Kakek" kepada Noirtier. Pada saat itu seakan-akan seluruh isi hati orang tua itu memancar lewat matanya.
Pembuluh darah di tengkuknya membengkak, pipi dan pelipisnya merah padam. Kalau saja
dia dapat berteriak lengkaplah ledakan jiwanya itu.
Jeritan yang tidak dapat keluar melalui mulut seakan-akan keluar melalui setiap pori-pori kulit sehingga diamnya kakek tua itu sangat mengerikan.
"Mereka bertanya siapa saya dan berdasarkan hak apa saya berada di sini,"
kata Maximilien sambil memegang tangan Noirtier.
"Tuan mengetahuinya. Katakanlah kepada mereka! Katakanlah!" Suaranya tertahan-tahan.
Dada Noirtier mengembang dan matanya berlinang.
"Katakan bahwa saya kekasih Valentine! Katakan bahwa Valentine satu-satunya kecintaan saya di dunia ini. Katakan bahwa jenazahnya milik saya!"
Tenaga anak muda yang gagah itu luluh sama sekali. Dia jatuh terlutut di sisi ranjang.
Kesedihan Maximilien menyentuh sekali sehingga Dokter d'Avrigny terpaksa memalingkan muka untuk menyembunyikan perasaannya, sedangkan Villefort tanpa
meminta penjelasan lebih lanjut — tergerak oleh keharuan yang membangkitkan kasih sayang kepada orang yang diratapi mengulurkan tangannya.
Tetapi Maximilien tidak melihatnya. Dia memegang tangan Valentine yang sudah sedingin es, tanpa dapat menangis. Dia hanya menggigit alas ranjang. Untuk sementara waktu tak terdengar suara lain dalam kamar itu kecuali suara isak tangis, kutukan dan do'a. Akhirnya Villefort yang paling mampu menguasai dirinya berkata kepada Maximilien:
"Tuan katakan baru saja bahwa Tuan mencintai Valentine dan bahwa Tuan kekasih Valentine. Saya sama sekali tidak mengetahuinya, namun demikian, sebagai ayah Valentine saya dapat memaafkan karena kesedihan Tuan benar-benar murni dan tulus. Di samping itu hati saya sendiri sudah sesak dengan kesedihan sehingga tidak ada tempat lagi buat marah.
Tetapi, seperti Tuan lihat sendiri, bidadari
yang Tuan cintai itu telah pergi meninggalkan bumi ini.
Ucapkan selamat jalan kepadanya dan kuatkan hati untuk berpisah buat selama-lamanya. Valentine tidak memerlukan siapa pun lagi, kecuali seorang padri yang akan memberikan doa kepadanya "
''Tuan keliru!"
Jawab Maximilein sambil merubah sikapnya menjadi berlutut dengan sebelah lutut saja.
"Valentine bukan hanya memerlukan seorang padri, tetapi juga seorang penuntut balas! Silakan panggil padri, Tuan de Villefort, dan sayalah yang akan menjadi penuntut balas."
"Apa maksud Tuan?" tanya Villefort sedikit gemetar.
"Saya maksud, Tuan de Villefort, sebagai seorang ayah tuan telah cukup mencurahkan kesedihan Tuan. Sekarang saatnya bagi Tuan untuk melakukan kewajiban sebagai seorang jaksa."
Mata Noirtier berkilat-kilat. Dokter d'Avrigny melangkah mendekat.
"Saya tahu apa yang saya katakan," lanjut Maximilien.
Setelah dia mengamati wajah semua yang hadir.
"Dan tuan pun tahu apa yang selanjutnya akan saya katakan Valentine, dibunuh orang!"
Villefort menundukkan kepala, Dokter d'Avrigny melangkah lebih mendekat lagi, dan mata Noirtier memberi isarat.
"ya".
'Tuan salah," jawab Villefort.
"Tidak ada kejahatan dalam rumah saya. Nasib buruk sedang bertubi-tubi menimpa saya. Rupanya Tuhan sedang mencoba saya. Memang tidak sedap mengingat-ingat hal itu, tetapi jelas tidak ada kejahatan'.
Mata Noirtier berkilat-kilat lebih terang. Dokter d'Avrigny membuka mulut, tetapi Maximilien memberi isarat dengan tangannya agar tidak berkata.
"Saya katakan bahwa ada pembunuhan dalam rumah ini!" katanya keras-keras.
"Saya tegaskan bahwa Valentine merupakan korban yang keempat! Saya tahu, bahwa Tuan telah mengetahuinya, karena dokter ini telah memperingatkan Tuan baik sebagai dokter maupun sebagai sahabat."
"Mengigau!"
kata Villefort, mencoba melepaskan diri dari jaring yang sudah terasa menangkupnya.
"Kalau Tuan mengira saya mengigau, saya persilakan Tuan bertanya kepada Dokter d’ Avigny Tanyakan apa yang dikatakannya kepada Tuan di dalam kebun pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran!"
Villefort dan Dokter d'Avrigny saling berpandangan.
"Saya kebetulan mendengarkan pembicaraan Tuan-tuan. Seharusnya saya menceriterakan kejadian itu kepada yang berwewenang.
Seandainya sudah saya lakukan dahulu pasti saya tidak akan merasa turut bersalah dalam pembunuhan terhadap Valentine tercinta.
Saya yang sudah terlibat ini akan menjadi penuntut balas untuk Valentine! Pembunuhan yang keempat ini sudah tidak akan dapat dirahasiakan lagi.
Kalau ayah Valentine sendiri tidak bertindak, saya bersumpah:
sayalah yang akan membalaskan kematian Valentine!"
''Dan saya sependapat dengan tuntutan Tuan Maximilien Morrel agar hukum ditegakkan,"
kata Dokter d'Avrigny tegas.
"Hati nurani saya menjadi sakit karena kepengecutan saya telah membantu memudahkan si pembunuh."
"Oh Tuhan! Tuhan!" Villefort bingung.
Maximilien melihat sorot mata Noirtier berkilat-kilat karena kemarahan yang sudah hampir melampaui batas.
'Tuan Noirtier ingin berbicara," katanya.
"Betul’ kata Noirtier dengan isarat.
"Tuan tahu siapa pembunuhnya?" tanya Maximilien.
''Tahu.”
"Mau Tuan menunjukkannya?"
Noirtier memberi tatapan yang ramah tetapi sedih, lalu memandang ke arah pintu.
''Tuan menghendaki saya pergi?" tanya Maximilien putus asa.
"Ya."
"Saya harus kembali lagi nanti?"
"Ya."
"Hanya saya yang harus pergi?"
'Tidak."
"Siapa lagi? Tuan de Villefort?"
"Bukan."
"Dokter d'Avrigny?"
"Ya."
Dokter d'Avrigny memegang tangan Maximilien dan menuntunnya ke kamar sebelah.
Seperempat jam kemudian Villefort muncul di pintu.
"Mari masuk," katanya.
Ketiganya masuk dan berdiri dekat Noirtier.
Wajah Villefort agak kebiru-biruan.
"Tuan-tuan," katanya memulai dengan suara tertahan-tahan.
"Saya meminta dengan sangat agar Tuan-tuan tidak membocorkan rahasia yang sangat memalukan ini"
Maximilien dan dokter itu terkejut.
"Bagaimana dengan pembunuh itu?" tanya Maximilien.
"Jangan takut. Hukum akan ditegakkan," jawab Villefort.
"Ayah saya telah memberitahukan siapa pembunuhnya. Beliau pun ingin membalas, sama seperti Tuan-tuan. Walau demikian beliau meminta seperti yang saya minta agar
Tuan-tuan suka memegang rahasia ini Betulkah demikian, Ayah?"
"Betul,"
jawab Noirtier dengan isarat matanya tanpa
ragu.
Maximilien terkejut dan tak percaya. Villefort memegang tangannya.
"Tuan mengetahui, betapa teguhnya pendirian ayah saya. Tuan boleh yakin kalau beliau mengajukan permintaan itu beliau tahu betul bahwa kematian Valentine tidak akan dibiarkan tanpa pembalasan."
Mata orang tua itu membenarkan ucapan Villefort.
Villefort melanjutkan:
"Ayah saya cukup mengenal saya, dan saya telah memberikan janji saya. Saya meminta tiga hari. Dalam tempo tiga hari itu pembalasan yang akan saya lakukan terhadap pembunuh anak saya akan membuat orang yang paling kejam pun bergetar terharu sampai ke lubuk hatinya!"
"Apakah janji itu akan ditepati, Tuan Noirtier?" tanya Maximilien.
"Ya!"
jawab Noirtier dengan pancaran mata gembira.
"Jadi, mau Tuan-tuan menyerahkan pembalasan itu kepada saya?" tanya Villefort.
Dokter d'Avrigny memalingkan muka sambil berkata lemah,
"Baik."
Maximilien tidak menjawab, melainkan berlari kepada Valentine, lalu mencium bibirnya yang dingin dan setelah itu berlari ke luar.
"Ada Padri tertentu yang ingin Tuan panggil?" tanya dokter.
”Tidak” jawab Villefort,
"Yang terdekat saja."
"Yang terdekat adalah padri bangsa Italia yang baru saja pindah menghuni rumah sebelah. Boleh saya memintanya datang sambil pulang?"
“Ya, ya. Tolong mintakan beliau datang."
"Tuan ingin berbicara dahulu dengannya?"
"Tidak. Saya ingin menyendiri. Tolong sekalian mintakan maaf. Seorang padri pasti dapat memahami apa artinya kesedihannya."
Villefort meminta diri dari Dokter d'Avrigny lalu masuk ke ruang kerjanya. Untuk beberapa orang tertentu, bekerja merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kesedihan.
Ketika pulang. Dokter d'Avrigny melihat orang berjubah berdiri di muka rumah sebelah. Dia menghampirinya lalu bertanya,
"Sudikah Bapak memberi jasa baik kepada seorang ayah yang baru saja kehilangan putrinya? Saya maksud tetangga Bapak, Tuan de Villefort."
"Ya, saya tahu bahwa ada kematian di sana,"
jawab padri itu dengan aksen Italia yang jelas.
"Saya justru hendak ke sana menawarkan jasa. Adalah tugas seorang padri untuk menyadari kewajibannya."
"Yang meninggal itu seorang gadis."
"Ya, saya tahu juga. Saya mendengar dari pelayan-pelayan yang berlarian meninggalkan rumah. Saya dengar namanya Valentine dan saya sudah berdo'a untuknya."
''Terima kasih, Bapak. Karena toh Bapak sudah mulai melaksanakan kewajiban suci itu, haraplah dilanjutkan. Harap Bapak suka melayat jenazah itu, seluruh keluarganya
tentu akan berterima kasih."
"Saya sedang menuju ke sana. Saya akan berdo'a dengan sungguh-sungguh sekali."
Dokter d'Avrigny menuntun padri dan tanpa mempertemukannya dahulu dengan Villefort yang mengunci diri di kamar kerjanya, langsung membawanya ke kamar Valentine.
Ketika mereka masuk, mata Noirtier bertemu dengan mata padri. Rupanya Noirtier menangkap sesuatu dari sorot mata padri itu, karena selanjutnya orang tua itu tidak mau melepaskan lagi pandangannya dari padri.
Agar tidak terganggu dalam berdo'a dan juga agar Noirtier tidak terganggu dalam melepaskan kesedihannya, padri itu bukan hanya mengunci pintu tempat keluar Dokter
d'Avrigny saja, tetapi juga pintu yang berhubungan dengan kamar Nyonya de Villefort.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar