Jumat, 30 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 66

BAB LXVI


PERISTIWA yang baru saja berlangsung di ruang pengadilan telah menjadi buah bibir seluruh masyarakat Paris. Emmanuel dan Julie membicarakannya dengan ketakjuban yang mudah dimengerti.

Mereka membandingbandingkan malapetaka yang mendadak menimpa Danglars, Morcerf dan Villefort. Maximilien yang datang
berkunjung mendengarkan tanpa ikut berbicara. Pikirannya terbenam dalam kesedihannya.

"Mengerikan sekali," 

kata Emmanuel, ingat kepada Danglars dan Morcerf.

'Dan betapa berat pula penderitaannya" 

Jawab Julie, ingat kepada Valentine. Naluri kewanitaannya membuat dia enggan menyebut nama itu di depan kakaknya.

"Bila benar ini hukuman Tuhan," lanjut Emmanuel,

"tentu karena Tuhan mengetahui tidak ada jasa sedikit pun dalam masa lalu mereka yang dapat meringankan dosanya."

Berbarengan dengan habisnya kalimat Emmanuel, pintu ruang duduk terbuka dan Monte Cristo muncul. Julie dan Emmanuel berseru gembira menyambutnya. Maximilien
menengadah sebentar, lalu merunduk kembali.

"Maximilien " 

kata Monte Cristo tanpa menghiraukan
perbedaan kesan yang ditimbulkannya pada ketiga orang itu. 

"Saya datang untuk menjemputmu."

"Menjemput?" 

Tanya Maximilien seperti orang yang baru sadar dari mimpi.

"Ya, bukankah sudah kukatakan agar bersiap-siap?"

"Saya sudah siap," jawab Maximilien. 

"Saya justru datang ke mari untuk pamitan."

"Hendak ke mana, Count?" tanya Julie.

"Pertama-tama, ke Marseilles."

"Ke Marseilles?" 

Sepasang suami-istri itu menjawab hampir berbarengan.

"Ya, dan saya bermaksud membawa saudaramu."

"Oh, tolong kembalikan dia dalam keadaan sembuh!" kata Julie.

Maximilien memalingkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya.

"Ini, berarti kalian mengetahui bahwa dia sangat menderita?”

"Tentu saja. Saya takut dia sudah merasa bosan dengan kami."

"Saya akan mencoba mengalihkan perhatiannya."

"Saya sudah siap, Count," kata Maximilien.

"Selamat tinggal, Emmanuel, selamat tinggal Julie!"

''Apa artinya ini?” tanya Julie. 

"Bagaimana engkau akan berangkat mendadak seperti ini, tanpa persiapan dan tanpa paspor?”

"Kalau ditangguhkan lagi, perpisahan akan terasa makin berat," kata Monte Cristo, 

"dan saya yakin Maximilien sudah mengatur segala-galanya. Artinya, saya sudah meminta
menyelesaikannya."

"Paspor sudah ada dan kopor pun sudah selesai," kata Maximilien acuh-tak acuh.

"Dan engkau mau berangkat hari ini juga, tanpa
memberitahu kami sebelumnya?" tanya Julie.

"Kereta sudah siap di depan. Lima hari yang akan datang saya sudah harus berada di Roma."

"Apakah Maximilien juga turut ke Roma?" tanya
Emmanuel.

"Saya akan pergi ke mana saja dibawa Count of Monte Cristo," 

Jawab Maximilien dengan senyum sedih. 

"Saya menjadi miliknya untuk sebulan ini."

"Aneh sekali kata-katanya itu, Count!"

"Saudaramu akan selalu bersama saya, jadi tak usah khawatir."

"Selamat tinggal, Julie! Selamat tinggal, Emmanuel!"

"Saya bingung karena keanehannya," kata Julie. 

"Oh, Maximilien, engkau menyembunyikan sesuatu!"

"Kalian akan melihat dia kembali dengan sehat dan gembira," kata Monte Cristo.

Maximilien melemparkan pandangan mata marah kepada Monte Cristo.

"Mari kita berangkat," kata Monte Cristo lagi.

"Sebelum berangkat," kata Julie, "saya ingin mengatakan dahulu bahwa kemarin "

"Apa pun yang akan engkau katakan tak akan lebih berharga daripada apa yang saya lihat pada sorot matamu, apa yang terkandung dalam hatimu dan apa yang aku rasakan dalam hatiku sendiri," 

Kata Monte Cristo sambil memegang
tangan Julie. 

"Sebenarnya saya harus pergi tanpa menemuimu dahulu, seperti pahlawan-pahlawan dalam buku, tetapi ternyata saya ini tidak sekuat mereka, saya ini lemah dan senang sekali melihat orang berterima kasih,
gembira dan penuh cinta kasih. 

Saya pergi sekarang, dan egoisku mendesak untuk mengatakan: Jangan lupakan aku karena mungkin sekali kita tak akan bertemu lagi."

"Tak akan bertemu lagi?" 

tanya Emmanuel heran, sedangkan di pipi Julie bergulir dua butir air mata. 

"Apakah Tuan ini malaikat yang harus kembali lagi ke langit setelah muncul di bumi berbuat kebaikan?"

"Jangan berkata begitu," kata Monte Cristo. 

"Para malaikat tidak pernah berbuat keburukan. Tidak, saya seorang manusia biasa, Emmanuel, dan kekagumanmu itu tidak layak dan kata-katamu merendahkan segala sesuatu yang suci"

Monte Cristo memegang tangan Emmanuel erat-erat, sedang tangan Julie diciumnya. Setelah itu segera meninggalkan rumah yang penuh kebahagiaan itu, lalu melirik kepada Maximilien yang masih murung seperti pada hari kematian Valentine.

"Tolong gembirakan lagi saudara kami!" Julie berbisik ke telinga Monte Cristo.

Monte Cristo memegang lagi tangan Julie dengan erat seperti yang pernah dilakukannya sebelas tahun yang lalu di tangga yang menuju kamar kerja ayahnya. 

"Apakah engkau masih mempunyai kepercayaan kepada Sinbad Pelaut?" tanyanya tersenyum.

"Tentu, tentu saja."

"Kalau begitu, jangan khawatir."

Seperti dikatakan Monte Cristo tadi, keretanya sudah lama menunggu di muka pintu. Empat kudanya yang gagah-gagah menggerak-gerakkan kepalanya dan menginjak-injak tanah seperti sudah tidak sabar menunggu.

Ali menunggu di bawah anak tangga, wajahnya berkilat kilat karena keringat. Rupanya dia baru kembali dari perjalanan jauh,

"Bertemu dengan orang tua itu?" tanya Monte Cristo dalam bahasa Arab.

Ali mengangguk.

"Dan kaubuka surat itu di hadapannya seperti yang kuperintahkan?"

Ali mengangguk sekali lagi.

"Apa katanya, atau apa yang dia perbuat?"

Ali menutup matanya seperti yang biasa dilakukan Noirtier kalau dia bermaksud mengatakan,

"ya".

"Bagus, artinya dia setuju. Mari kita berangkat."

Kereta bergerak, makin lama makin cepat. Dari telapak kaki kuda yang beradu keras dengan jalan keluar percik percik api. Maximilien duduk di sudut tanpa mau berbicara.

Setengah jam telah berlalu. Kereta berhenti, Monte Cristo menarik tali sutra yang ujungnya terikat pada jari tangan Ali. Ali turun dan membuka pintu. Malam cerah, bintang pun bertebaran. Mereka sudah sampai di puncak bukit Villejuif Dari sini Paris kelihatan seperti lautan terhampar, jutaan cahayanya bagaikan ombak yang berkilat-kilat, ombak yang lebih dahsyat, lebih bergelegak, lebih membahayakan dari ombak lautan yang sedang marah, ombak yang tidak pernah mengenal tenang, ombak yang selalu membelah-belah, selalu berbuih, selalu menelan
...
Monte Cristo berdiri sendiri. Atas isaratnya kereta bergerak ke depan beberapa depa. Dia berdiri untuk beberapa saat dengan tangan sedekap, merenungkan kota Babilonia modern ini yang telah membuat penyair-penyair keagamaan maupun para pengejek agama, terharu melihatnya. 

"Kota yang besar!" 

Katanya perlahan-lahan, lalu menundukkan
kepala seperti orang yang sedang berdo'a. 

"Kurang dari enam bulan yang lalu aku memasuki gerbangmu. Aku percaya bahwa kehendak Tuhanlah yang membawa aku ke
sana, dan sekarang Tuhan membawa aku keluar lagi dengan kemenangan. Hanya Dia sendiri yang mengetahui bahwa kini aku berangkat tanpa rasa benci ataupun bangga,
tetapi juga tanpa sesal. Hanya Dia sendiri yang mengetahui bahwa aku tidak menyalahgunakan kekuasaan yang di percayakanNya kepadaku, baik untuk kepentingan diriku sendiri maupun untuk kepentingan-kepentingan yang tidak berguna. 

Wahai Kota Yang Besar, dalam rongga dadamulah aku menemukan apa yang kucari! Seperti seorang penggali tambang yang sabar, aku telah menggali dalam sekali untuk mencabut akar-akar kejahatan. Sekarang
tugasku sudah selesai. Engkau tidak akan dapat lagi memberiku kesenangan ataupun kesusahan. Selamat tinggal Paris! Selamat tinggal!"

Untuk terakhir kalinya dia melayangkan pandangannya kepada hamparan yang luas. Setelah itu dia naik kembali ke dalam keretanya yang segera menghilang ditelan kegelapan dan kepulan debu.

Mereka berjalan untuk beberapa lama tanpa berbicara.

"Maximilien," 

Akhirnya Monte Cristo menyobek kesunyian,

"menyesalkah engkau pergi bersamaku?"

"Tidak, Tuan, tetapi meninggalkan Paris itu...."

"Kalau aku yakin bahwa engkau akan menemukan kebahagiaan di sana, aku tidak akan mengajakmu pergi."

"Tetapi di sanalah Valentine dibaringkan. Meninggalkan Paris bagi saya berarti kehilangan Valentine untuk kedua kalinya."

''Maximilien, kekasih-kekasih yang telah meninggal, kita kuburkan dalam hati kita, bukan dalam tanah. Saya mempunyai dua orang sahabat yang selalu saya bawa dalam hati. Yang satu adalah orang yang menyebabkan saya lahir ke dunia ini, yang satu lagi, yang memberikan saya kepandaian dan kebijaksanaan. 

Aku selalu meminta nasihat mereka kalau aku dalam kebimbangan, dan kalau pernah aku berbuat baik dalam dunia ini, itu berkat nasihat-nasihat mereka. Mintalah nasihat kepada hati nuranimu sendiri, Maxiimlien, dan tanyakan kepadanya apakah patut engkau terus-menerus bermuram durja seperti ini.”

"Sahabat," jawab Maximilien, 

"suara hati nurani saya sangat memilukan, tak ada yang dijanjikannya kecuali kesedihan."

"Seorang yang lemah selalu melihat persoalan dari segi gelapnya saja. Jiwamu sedang gelap, sebab itu apa saja yang kaulihat tampak gelap semua."

"Mungkin sekali," jawab Maximilien. 

Dia bersandar kembali pada sudutnya untuk bermimpi lagi. Perjalanan mereka berlaku cepat sekali, berkat kekuasaan dan pengaruh uang dari Monte Cristo. Kota demi kota dilampaui. Keesokan harinya mereka sampai di Chalons, di mana kapal api Monte Cristo telah menanti. 

Kereta langsung dimuatkan ke dalam kapal dan mereka meneruskan perjalanan melalui lautan.

Kapal ini sengaja dibuat untuk berlayar cepat. Bahkan Maximilien pun mabuk karena kecepatannya. Angin yang sewaktu-waktu meniup rambutnya seakan akan untuk sejenak
menghapus awan gelap di wajahnya.

Sedangkan Monte Cristo, makin jauh la meninggalkan Paris, makin bergairah kelihatannya. Seakan-akan suatu kekuatan gaib menopangnya. Dia seperti seorang buangan yang kembali ke kampung halamannya.

Segera Marseilles kelihatan putih hangat dan penuh dengan kehidupan. Sejumlah kenangan indah membayang pada kelopak mata kedua orang itu, ketika mereka melihat menara bundar, benteng Saint-Nicolas, Hotel de Ville dan pelabuhan berbata merah tempat mereka bermain-main waktu kecil.

Seperti merupakan persetujuan sebelumnya, keduanya berhenti di Cannebiere. Ada sebuah kapal yang sudah siap untuk berlayar ke Aljazair. 

Para penumpang berkerumun sepanjang geladak dan sanak saudara serta kawan-kawan mereka berteriak dari bawah sambil melambai-lambaikan tangan mengucapkan selamat jalan. 

Pemandangan serupa ini selalu mengharukan, sekalipun bagi mereka yang melihatnya setiap hari. Namun terhadap Maximilien sama sekali
tidak berpengaruh. Hal itu tidak mampu mengalihkan pikirannya yang timbul begitu dia menginjakkan kakinya di pelabuhan.

"Lihat," 

katanya sambil memegang lengan Monte Cristo, 

"di sanalah ayah saya berdiri ketika Le Pharaon masuk untuk berlabuh. Di sinilah laki-laki perkasa yang Tuan selamatkan dari kematian dan kecemaran merangkul saya.

Saya masih dapat merasakan kehangatan air matanya pada pipi saya. Dan dia tidak menangis sendirian; banyak orang sekeliling kami turut menangis."

Monte Cristo tersenyum. 

"Saya di sana ketika itu,” katanya,

sambil menunjuk ke sebuah tempat di sudut jalan. Ketika mengucapkan ini, dari arah yang dia tunjuk terdengar suara memilukan, dan tampak seorang wanita melambaikan tangan kepada seorang penumpang muda di atas geladak kapal yang hendak berangkat. 

Mukanya bercadar. Monte Cristo mengawasinya dengan perasaan yang dengan mudah dapat terbaca Maximilien, seandainya saja dia sedang tidak melihat ke arah kapal.

"Lihat" seru Maximilien. 

"Anak muda berseragam itu, yang melambaikan topinya .... Albert de Morcerf!"

"Betul’ jawab Monte Cristo. 

"Saya pun melihatnya."

"Bagaimana mungkin Tuan mengenalinya padahal Tuan melihat ke arah lain?"

Monte Cristo tersenyum kalau dia tidak mau menjawab, lalu memalingkan lagi pandangannya kepada wanita bercadar yang sudah menghilang di ujung jalan. Monte Cristo
berkata, 

"Sahabat, tidakkah engkau mempunyai sesuatu
urusan pribadi di sini?”

"Saya ingin menangis di kuburan ayah," jawab Maximilien bodoh.

"Baik, pergilah ke pekuburan dan tunggu saya di sana."

"Tuan sendiri mau ke mana?"

"Saya pun mempunyai urusan pribadi sedikit"

Monte Cristo mengikuti Maximilien dengan matanya sampai dia menghilang. Setelah itu dia sendiri berjalan ke arah rumah kecil di Allees de Meilhan. Rumah itu masih dalam keadaan cantik, sekalipun telah menua dan tidak terurus. Keadaannya tetap sama seperti ketika ayah Edmond Dantes masih tinggal di sana. Rumah itu seluruhnya sekarang diberikan kepada Mercedes.

Mercedes sedang duduk di tempat yang teduh, menangis. Cadarnya telah diangkat. Dengan menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya dia melepaskan tangisnya.

Monte Cristo mendekatinya. Mercedes menengadah, terkejut melihat seorang laki-laki yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.

"Saya sudah tidak mampu lagi membuatmu bahagia’ kata Monte Cristo, 

"tetapi saya dapat menawarkan sesuatu
yang mudah-mudahan menjadi penghibur. Bersediakah engkau menerimanya seperti pemberian dari seorang sahabat?"

"Tidak dapat disangkal bahwa aku sangat tidak bahagia," jawab Mercedes, 

"aku betul-betul sebatang kara. Satu-satunya
yang kumiliki adalah anakku, dan dia telah pergi."

"Apa yang dilakukannya benar sekali. Dia mempunyai hati yang mulia. Seandainya dia tetap bersamamu, hidupnya akan menjadi tidak bermanfaat dan dia tidak akan pernah berhasil membiasakan dirinya kepada kesedihanmu itu. 

Ketidakmampuannya akan membuat dia sakit. Sekarang ia akan menjadi orang yang kuat berkat perjuangannya melawan kemalangannya, dan dia akan berhasil merubahnya menjadi keberuntungan. 

Berilah dia kesempatan membangun kembali kebahagiaanmu. Masa depanmu berada di tangan yang aman."

"Oh," 

Kata wanita malang itu sambil menggelengkan kepala dengan sedih, 

"aku tidak akan sempat menikmati kebahagiaan yang kaumaksud itu, yang aku do'akan supaya diberikan Tuhan kepada anakku. Terlalu banyak kejadian yang menyayat-nyayat hatiku sehingga aku merasa sudah dekat ke alam kubur. 

Bijaksana sekali engkau mengembalikan
aku ke mari, Edmond, ke tempat aku pernah merasa berbahagia. Sebaiknya orang mati di tempat di mana ia pernah merasa berbahagia."

"Kata-katamu membakar hatiku, Mercedes. Terutama sekali karena engkau mempunyai cukup alasan untuk membenciku, setelah aku menyebabkan kemalanganmu ini."

"Membencimu, Edmond? Membenci orang yang pernah menyelamatkan jiwa anakku . .. bukankah pernah menjadi niatmu membunuh anak yang menjadi kebanggaan Morcerf? 

Pandanglah mataku, engkau tidak akan
menemukan tanda-tanda penyesalan atau menyalahkanmu pada diriku!"

Monte Cristo mengambil tangan Mercedes lalu
menciumnya dengan penuh penghargaan. 

Namun Mercedes merasakan ciuman itu dingin seperti ciuman pada sebuah patung pualam seorang suci. 

"Banyak orang-orang yang rusak masa depannya karena kesalahannya di masa lalu," kata Mercedes. 

"Ketika aku menyangka engkau telah mati, selayaknya aku pun harus mati Apa artinya bagiku berkabung terus-menerus dalam hati? Tak ada hasilnya, kecuali membuat seorang wanita berumur tiga puluh sembilan seperti berumur lima puluh tahun. Aku memang lemah dan pengecut! Aku mengkhianati cintaku sendiri, dan seperti seorang murtad aku
menimbulkan kemalangan di sekelilingku."

"Tidak, Mercedes," kata Monte Cristo, 

"engkau menghukum diri sendiri terlalu keras. Engkau seorang wanita terhormat dan mulia dan kesedihanmu membuatku lengah sejenak. Di belakangku, tidak tampak dan tidak diketahui ada Tuhan. 

Aku hanya menjadi alatNya. Renungkanlah
masa lalu dan sekarang cobalah menduga apa yang terkandung masa depan, lalu ambil kesimpulan benarkah atau tidak aku hanya alat Tuhan semata. 

Malapetaka yang paling mengerikan, penderitaan yang paling pedih, terjauhnya aku dari mereka yang mencintaiku, dan hukuman, yang ditimpakan oleh orang yang sama sekali
tidak mengenalku . . itulah bagian pertama dari hidupku.

Lalu, setelah penangkapan, pengasingan dan penderitaan, datanglah kebebasan disertai dengan kekayaan yang luar biasa sehingga akan dungu dan butalah kalau aku tidak melihatnya dan mengertinya bahwa Tuhan sengaja memberikannya kepadaku sebagai suatu bagian dari sebuah rencana besar. 

Sejak itulah aku menganggap kekayaan
merupakan amanat suci dari Tuhan, sejak itu aku tidak pernah berpikir untuk hidup biasa dengan segala kesenangan duniawinya, sejak saat itu aku tidak pernah mengenal detik-detik kedamaian. 

Aku merasa naluriku sebagai awan panas dihalau dari langit untuk menghancurkan dan membakar kota. Seperti seorang kapten yang hendak berkelana, aku mempersiapkan semua
keperluan sehari-hari, mengisi semua senjata dan mempelajari semua cara menyerang dan bertahan.

 Aku membiasakan tubuhku dengan latihan-latihan yang berat dan melatih jiwaku untuk menghadapi kejutan yang paling dahsyat. 

Aku melatih tanganku untuk membunuh, melatih mataku melihat penderitaan seseorang dan melatih bibirku tersenyum pada pemandangan yang paling mengerikan. 

Dari seorang yang lunak, percaya dan pemaaf, aku merubah diriku menjadi seorang pembalas dendam, terampil dan kejam, atau barangkali lebih tepat dikatakan tak berperasaan, tuli dan buta seperti nasib itu sendiri. 

Lalu aku menjalani jalan yang terbentang di hadapanku dan tercapailah tujuanku.

Celakalah mereka yang menghalangi perjalananku!"

"Cukup, Edmond. Percayalah, bahwa satu-satunya wanita yang mengenali penyamaranmu, adalah juga satu-satunya
wanita yang dapat memahaminya. Sekalipun engkau menghancurkanku dalam perjalananmu, Edmond, aku tetap akan mengagumimu! Seperti ada jurang luas antara
aku dan masa laluku, begitu juga ada jurang yang sangat luas antara dirimu dan orang-orang lain. 

Dan aku akui, bahwa kepedihan yang paling menyiksa bagiku adalah mencari bandingan bagimu. Aku tidak berhasil, karena di dunia ini tidak seorang pun setaraf denganmu atau sama denganmu. Sekarang sebaiknya kita ucapkan selamat berpisah, Edmond. Mari kita berpisah."

"Sebelum aku pergi, Mercedes, katakanlah dahulu apa yang kau kehendaki."

"Aku hanya menginginkan satu hal: 
kebahagiaan anakku."

“Berdo'alah kepada Tuhan agar dia terhindar dari kematian, dan aku akan melakukan sisanya."

"Terima kasih, Edmond"

"Bagaimana dengan engkau sendiri?"

"Aku tidak memerlukan apa-apa. Aku hidup di antara dua kuburan. Satu, kuburan Edmond Dantes, laki-laki yang sangat kucintai dan yang sudah lama sekali meninggal. 

Aku tidak mau menghilangkan kenangan itu dari pikiranku, apa pun ditawarkan orang sebagai penggantinya. Kuburan yang satu lagi, kuburan laki-laki yang dibunuh oleh Edmond Dantes. 

Aku dapat membenarkan tindakannya itu, tetapi aku wajib tetap mendo'akan bagi kebaikan arwah korban."

"Tetapi apa yang hendak kaulakukan?"

"Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali berdo'a, dan aku tidak perlu bekerja mencari nafkah, karena aku telah menemukan harta karun yang kaukubur dua puluh empat tahun yang lalu."

"Mercedes, aku tidak bisa menyalahkan sikapmu itu, tetapi aku kira pengorbananmu itu terlalu berlebihan ketika engkau meninggalkan semua harta kekayaan suamimu, yang sebenarnya setengahnya menjadi hakmu berkat kehematan dan pemeliharaanmu."

"Aku tahu apa yang hendak kautawarkan, Edmond, tetapi aku tidak dapat menerimanya. Anakku akan melarangnya."

''Kalau begitu, aku tidak akan berbuat apa pun yang tidak akan disetujui olehnya. Aku ingin mengetahui apa yang menjadi keinginannya dan akan berpegang teguh kepadanya.

Seandainya dia menyetujui apa yang hendak aku lakukan, apakah engkau pun akan setuju?"

"Aku bukan orang yang berpikir lagi, Edmond, Tuhan telah menggoncangkan jiwaku sehingga aku sudah tidak mempunyai kemauan lagi. 

Karena aku tetap hidup, berarti DIA tidak menghendaki aku mati. 
Kalau Tuhan mengantarkan pertolongan, berarti Tuhan menghendaki aku menerimanya."

"Bukan begitu caranya kita memuja Tuhan," kata Monte Cristo. 

"Tuhan menghendaki kita mengertiNYA dan memikirkan tujuanNYA: Itulah sebabnya kita diberi kebebasan kemauan”

"Jangan berkata begitu!" seru Mercedes cepat. 

"Kalau aku mempercayai bahwa Tuhan memberiku kebebasan kemauan, kemauanku adalah mati, dan ini berarti pula bahwa aku sudah tidak percaya lagi bahwa masih ada sesuatu yang dapat menyelamatkan aku dari puncak keputus asaan."

Monte Cristo mengalah kepada kemurungan yang sudah memuncak pada wanita itu.

"Maukah engkau mengatakan 'sampai berjumpa lagi’?”

tanyanya sambil mengulurkan tangan kepada Mercedes.

"Ya, 'sampai berjumpa lagi," 

jawab Mercedes khidmat sambil melihat ke langit. 

"Aku mengatakannya karena aku hendak membuktikan kepadamu bahwa aku masih mengharapkan bertemu kembali."

Setelah memegang tangan Monte Cristo yang gemetar Mercedes berbalik, lalu berlari menaiki tangga.

Monte Cristo berjalan perlahan-lahan kembali ke pelabuhan. Sekalipun Mercedes berada di muka jendela kamar yang pernah ditinggali ayah Dantes, dia tidak melihat kepergian
Monte Cristo. 

Matanya mencari-cari kapal yang membawa
anaknya di lautan. Matanya mencari bayangan anaknya, tetapi bibirnya mengucapkan, 

"Edmond! Edmond!"





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...