BAB LXI
ALBERT dan ibunya menyewa sebuah kamar di lantai tiga di sebuah hotel di Rue Saint-Germain-des-Pres. Kamar lain di lantai kedua disewa oleh seorang laki-laki yang sangat aneh. Penyewa ini tidak pernah kelihatan wajahnya baik ketika memasuki maupun ketika keluar dari kamarnya, bahkan juga tidak oleh penjaga pintu. Ini disebabkan, kalau musim salju dia selalu membungkus wajahnya dengan
selendang merah, sedang di musim panas ia selalu memalingkan wajah kalau melalui penjaga.
Kedatangannya selalu teratur. Dia datang menjelang jam empat sore, tetapi tidak pernah menginap di kamarnya. Dua puluh menit setelah dia masuk kamar, selalu saja datang
sebuah kereta yang membawa seorang wanita yang berpakaian hitam atau warna gelap dan selalu memakai cadar.
Setelah melalui penjaga wanita itu biasanya terus langsung naik tangga dengan langkah-langkahnya yang ringan tidak bersuara. Tidak ada orang yang iseng menanyakan siapa yang hendak dikunjunginya. Oleh sebab itu pula wajahnya tidak pernah diketahui oleh penjaga yang dua orang itu.
Barangkali hanya dua orang itulah dari
seluruh penjaga hotel di Paris yang mampu menahan diri tidak mencampuri urusan orang lain.
Wanita itu tidak pernah naik ke tingkat lebih atas dari lantai dua. Di sana dia mengetuk pintu kamar dengan cara tertentu, lalu pintu akan terbuka, dan dia segera masuk kemudian pintu cepat-cepat ditutup rapat-rapat lagi.
Demikian pula caranya mereka meninggalkan hotel. Dengan tetap bercadar wanita itu selalu keluar lebih dahulu, naik ke dalam keretanya lalu berangkat, sekali menuju ke arah sana, lain kali mengambil arah yang lain. Dua puluh menit kemudian baru yang laki-laki keluar, wajahnya tertutup selendang atau saputangan, lalu menghilang.
Pada hari Monte Cristo mengunjungi rumah Danglars, atau pada hari penguburan Valentine, penghuni kamar yang penuh rahasia ini datang pada jam sepuluh pagi, bukan jam empat sore. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta datang, dan wanita bersandar itu berlari menaiki tangga ke lantai dua. Pintu kamar terbuka dan menutup lagi setelah wanita
itu masuk. Tetapi sebelum pintu itu rapat betul wanita itu sudah berteriak,
"Oh, Lucien!"
Mau tak mau penjaga di bawah mendengar teriakan ini. Baru kali inilah dia mendengar bahwa penyewa kamar itu bernama Lucien. Namun, sebagai seorang penjaga hotel teladan ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak
memberitahukan kepada istrinya.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu.
"Bisa aku mengharapkan bantuanmu?"
"Tentu saja, engkau tahu itu. Tetapi katakan dahulu ada apa? Suratmu tadi pagi sangat mencemaskan."
"Lucien, suamiku telah pergi tadi malam."
"Pergi? Tuan Danglars pergi? Ke mana?"
'Tidak tahu."
"Maksudmu, dia pergi untuk selama-lamanya?"
"Aku kira begitu. Dia meninggalkan surat. Ini, baca saja."
Nyonya Danglars mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Debray. Debray menerimanya dan membaca kalimat:
"Kepada istriku yang setia."
Tanpa sadar dia berhenti dan melihat kepada Nyonya Danglars, yang pipinya menjadi merah padam.
"Baca," katanya,
Debray melanjutkan membaca:
Kalau engkau membaca surat ini, engkau sudah tidak mempunyai suami lagi. Oh, jangan terlampau terkejut dahulu:
engkau tidak mempunyai suami dalam arti kata sama dengan engkau tidak mempunyai anak lagi. Dengan kata-kata lain, aku sudah berada di salah satu dari empat puluh jalan yang menuju ke luar Perancis.
Aku wajib memberi penjelasan, dan engkau adalah wanita yang dapat memahaminya dengan baik. Tadi pagi aku harus melakukan pembayaran sebanyak lima juta frank, dan aku
memenuhinya. Tetapi hampir pada saat yang bersamaan, permintaan lain untuk jumlah yang sama diajukan kepadaku.
Aku menangguhkannya sampai besok. Aku pergi hari ini untuk menghindari hari esok itu yang akan sangat tidak menyenangkan bagiku. Engkau tentu mengerti, bukan?
Engkau akan dapat memahaminya karena engkau mengetahui semua persoalanku
seperti aku sendiri. Bahkan sebenarnya, engkau lebih mengetahui daripada aku sendiri, karena bila ada orang bertanya apa yang terjadi dengan setengah dari kekayaanku yang pernah menakjubkan orang, aku tidak akan dapat menjawabnya, sedangkan engkau aku yakin dapat memberikan jawaban yang
masuk akal.
Pernahkah engkau kagum akan kecepatan kejatuhanku, Nyonya? Pernahkah engkau merasa heran melihat betapa mendadaknya emasku mencair dan menguap? Aku mengakui, aku pun bingung.
Aku hanya mengharap mudah-mudahan engkau masih dapat menemukan beberapa keping dari puing-puing kehancuranku. Dengan harapan itulah aku pergi, wahai istriku yang baik dan bijaksana, tanpa sedikit pun merasa mentelantarkanmu.
Engkau masih mempunyai kawan-kawan, puing-puing yang kumaksud tadi, dan terutama sekali engkau mempunyai kemerdekaan yang kuberikan lebih cepat.
Sekarang baiklah kutambahkan beberapa penjelasan pribadi.
Sepanjang engkau berusaha untuk kepentingan keluarga kita ataundemi masa depan kita, aku bersedia menutup mata. Tetapi karena ternyata engkau justru menghancurkan keluarga kita, aku berkeberatan untuk menjadi sumber kekayaan orang lain. Engkau memang kaya, tetapi kurang dihormati orang ketika aku
mengawinimu (maafkan karena berbicara terus-terang).
Tetapi karena aku percaya bahwa hanya engkau sendiri yang akan membaca surat ini aku tak melihat alasan mengapa aku harus
memilih kata-kata ini.
Aku berhasil melipatgandakan kekayaan kita, yang terus meningkat selama lima belas tahun sampai terjadinya serangkaian musibah yang sampai sekarang tetap tidak dapat aku pahami.
Yang pasti bukan karena kesalahanku. Sebaliknya engkau berusaha hanya untuk menambah kekayaanmu sendiri, dan aku percaya engkau berhasil. Aku tinggalkan engkau sekarang dalam keadaan seperti ketika aku menemukanmu dahulu, dengan kekayaan yang lumayan dan nama yang tidak begitu baik.
Mulai hari ini aku pun akan bekerja untuk diriku sendiri. Terima kasih untuk teladan yang kau berikan kepadaku. Suamimu yang tercinta.
BARON DANGLARS
Nyonya Danglars tidak melepaskan pandangannya kepada Debray selama dia mambaca surat yang panjang dan pedih itu. Dua kali dia melihat pipi Debray memerah,
padahal laki-laki itu terkenal kuat menguasai diri.
Dengan tenang Debray melipat kembali surat itu dan diam untuk beberapa lamanya.
"Bagaimana?" tanya Nyonya Danglars.
"Bagaimana?" tanya Debray kembali seperti tak acuh
"Apa pendapatmu sesudah membaca surat itu?"
"Sederhana sekali. Pendapatku, suamimu itu menaruh sesuatu kecurigaan.”
"Jelas, tetapi hanya itukah pendapatmu?"
"Aku tidak mengerti" jawab Debray dingin.
"Dia sudah pergi . . . pergi untuk selama-lamanya! Dia tidak akan kembali!”
"Aku kira tidak."
"Tidak, dia tidak akan kembali. Aku cukup
mengenalnya. Dia teguh sekali kalau sudah mengenai kepentingannya sendiri. Kalau dia-berpendapat aku dapat berguna baginya, tentu aku sudah dibawanya.
Ternyata dia meninggalkan aku di Paris, berarti perceraian adalah rencananya selanjutnya. Ini tidak perlu disangsikan lagi, dan aku merdeka untuk selama-lamanya,"
kata Nyonya Danglars dengan air muka mengharap. Tetapi Debray tidak mengacuhkannya.
"Apa tak ada yang akan kaukatakan?" akhirnya dia bertanya.
"Aku hanya mempunyai sebuah pertanyaan: apa rencanamu?”
"Justru aku yang mau menanyakan itu kepadamu," kata Nyonya Danglars, hatinya harap-harap cemas.
"Maksudmu engkau meminta nasihatku?"
"Betul . . . aku minta nasihatmu” jawab Nyonya
Danglars harapannya mulai menipis.
"Karena engkau meminta," jawab Debray masih tetap dingin,
"aku sarankan untuk berpergian.”
"Berpergian!"
"Ya, berpergian. Seperti kata suamimu, engkau kaya dan merdeka, dan aku pikir menyingkir dari Paris perlu sekali bagimu setelah mengalami musibah ganda, yaitu putusnya
pertunangan putrimu dan menghilangnya suamimu.
Engkau harus berusaha sedemikian rupa sehingga orang percaya bahwa engkau ditelantarkan oleh suamimu dan mengira engkau miskin. Tetaplah di Paris untuk beberapa minggu dan ceriterakan kepada kawan-kawanmu bagaimana engkau ditinggalkan oleh suamimu. Mereka
akan menceriterakan-nya kembali kepada yang lain-lain
Setelah itu barulah pergi, dan tinggalkan semua perhiasanmu. Percayalah, semua orang akan berpihak kepadamu. Selanjutnya masyarakat akan beranggapan bahwa engkau benar-benar ditinggalkan kabur dan miskin,
karena hanya akulah yang tahu tentang keadaan keuanganmu.
Dan sekarang aku sudah siap untuk membagi
keuntungan kita sebagai rekan yang jujur.”
Nyonya Danglars mendengar kata-kata ini dengan kecemasan dan keputusasaan yang setara dengan ketenangan dan ketidakacuhan Debray.
"Ditinggal kabur!" kata Nyonya Danglars mengulang.
"Ya, aku ditinggal kabur. Orang tak akan menyangsikannya."
Hanya itulah jawaban yang dapat diberikan Nyonya Baron yang sudah hilang harapannya untuk menjadi istri Debray.
"Jangan lupa, engkau ini kaya, kaya sekali"
lanjut Debray sambil mengeluarkan seberkas kertas dari tasnya, lalu membeberkannya di atas meja.
Nyonya Danglars sedang sibuk menahan debar jantung dan air mata yang terasa sudah mendesak. Rasa harga dirinya menang, sekalipun hatinya masih tetap berdebar-debar, namun ia berhasil menahan air mata.
"Kita sudah bekerjasama selama enam bulan," kata Debray.
"Engkau mulai menurunkan modal seratus ribu
frank. Kita membangun kerjasama ini dalam bulan April dan mulai bergerak sejak Mei. Dalam bulan Mei kita mendapat untung empat ratus lima puluh ribu frank.
Bulan Juni keuntungan kita bertambah dengan sembilan ribu. Bulan Juli kita memperoleh satu juta tujuh ratus frank — ini dari saham-saham Spanyol itu.
Permulaan bulan Agustus kita merugi tiga ratus ribu,' tetapi pada tanggal lima belas
bulan itu juga kita berhasil meraihnya kembali.
Keuntungan kita sejak permulaan sampai hari kemarin menunjukkan jumlah dua juta empat ratus ribu frank, atau satu juta dua ratus ribu untuk masing-masing. Uangmu ada di sini
sekarang.
Aku menganggap lebih aman membawanya
selalu daripada menyimpannya di rumah atau
menitipkannya kepada notaris."
Setelah mula-mula membuka lemari, lalu koper, Debray berkata lagi,
"Ini, delapan ratus lembar uang kertas seribuan, dan ini surat berharga yang dapat ditukarkan setiap saat. Karena bankirku bukan Tuan Danglars, engkau boleh yakin bahwa surat ini dapat segera ditukarkan dengan uang tunai."
Kekayaan yang begitu banyak yang terletak di atas meja, sama sekali tidak memberikan kesan apa-apa kepada Nyonya Danglars.
Dengan mata kering tetapi hati bengkak
karena sedih, dia mengambil uang itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Setelah itu dia menanti dengan penuh harap akan kata-kata manis Debray. Namun harapannya
sia-sia.
"Dengan kekayaan itu," kata Debray,
"engkau akan mempunyai penghasilan sebanyak sekitar empat puluh ribu frank setahun, suatu jumlah yang cukup besar untuk seorang wanita yang tidak akan berumah tangga sekurang-kurangnya setahun lagi.
Jumlah itu akan dapat memenuhi semua keinginan apa saja yang timbul dalam hatimu."
Tanpa menunjukkan tanda-tanda marah, tetapi juga tanpa ragu-ragu Nyonya Danglars mengangkat kepala, membuka pintu lalu berlari ke luar, bahkan juga tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada laki-laki yang memperlakukannya
begitu rupa.
Dengan tenang Debray mengambil buku catatannya, lalu menuliskan jumlah yang baru dibayarkannya.
Di atas kamar Debray, ada kamar lain yang dihuni oleh dua orang lain. Mercedes dan Albert. Mercedes berubah banyak sekali dalam beberapa hari ini Matanya sudah tidak bercahaya lagi, bibirnya sudah tidak berhiaskan senyuman lagi, dan kebingungannya menghilangkan kefasihan bicaranya.
Bukan kemiskinan itu yang mematahkan semangatnya, bukan pula karena keberanian untuk menanggung kemiskinan, sekalipun tak
dapat disangkal bahwa apa yang berada di sekelilingnya menunjukkan tanda-tanda kemiskinan.
Dinding kamar dilapisi dengan kertas dinding berwarna abu-abu yang sengaja dipipih oleh pemilik hotel agar tidak lekas kotor. Perabotan
kamarnya seakan-akan berteriak-teriak meminta perbaikan.
Pendeknya segala apa yang berada dalam kamar itu sangat tidak menyenangkan bagi orang yang sudah terbiasa dengan kemewahan dan selera yang tinggi.
Albert berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya sekarang, tetapi hatinya masih terganggu juga karena masih ada sisa-sisa kemewahan yang melekat pada dirinya.
Dia menganggap tangannya terlalu putih bersih untuk tidak mengenal sarung tangan, dan berpendapat sepatunya masih terlalu mengkilap untuk berjalan kaki sepanjang jalan.
"Ibu,"
katanya, pada saat Nyonya Danglars meninggalkan kamar Debray,
"mari kita hitung kekayaan kita. Saya perlu tahu untuk dapat menentukan rencana saya."
"Jumlahnya, nol," kata Mercedes dengan senyum sedih.
"Tidak? Jumlahnya tiga ribu frank, dan saya kira kita dapat hidup lumayan dengan jumlah itu."
"Anakku!" Mercedes mengeluh,
"Mengapa? Tiga ribu jumlah yang cukup besar. Saya sudah merencanakan masa depan yang meyakinkan dengan jumlah itu."
'Terlebih dahulu harus kita tetapkan, apakah kita akan menerima jumlah yang tiga ribu itu?" tanya Mercedes, pipinya memerah.
"Saya kira kita sudah sepakat untuk menerimanya, terutama sekali karena uang itu masih tetap terkubur dalam kebun rumah di Marseilles.
Kita mempunyai bekal yang memadai untuk bepergian sampai Marseilles.
Saya telah menjual arloji saya seharga seratus frank, dan itu belum semua . . . apa pendapat Ibu tentang ini?"
Albert mengeluarkan uang kertas seribu frank.
"Dari mana kaudapat itu?"
"Begini, tetapi harap Ibu jangan terkejut. Saya telah mendaftarkan diri masuk resimen Spahis kemarin. Saya sadar, sekurang-kurangnya badan saya adalah milik sendiri, oleh karena itulah kemarin saya menjual diri menjadi perjurit.
Ternyata saya menerima lebih besar daripada yang saya harapkan,"
Albert mencoba tersenyum,
"Saya akan dibayar dua ribu frank."
"Jadi, yang seribu ini . . .”
"Baru setengahnya Yang setengahnya lagi akan saya terima tahun depan."
Dua butir air mata bergulir di pipi Mercedes.
"Harga darahnya?" katanya perlahan-lahan.
"Kalau saya mati terbunuh, benar," jawab Albert tertawa.
"Tetapi saya ingin meyakinkan Ibu bahwa saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbunuh dalam pertempuran.
Saya- tidak pernah mempunyai gairah hidup
sekuat sekarang. Selain dari itu, coba bayangkan betapa Ibu akan merasa bangga melihat saya dalam seragam yang bagus itu!
Saya akui, saya memilih resimen Spahis itu
semata-mata karena seragamnya yang gagah."
Mercedes pun mencoba tersenyum.
"Jadi," lanjut Albert,
"Ibu mempunyai empat ribu frank. Dengan uang itu Ibu akan dapat bertahan untuk selama dua tahun."
"Kaukira begitu?"
kata-kata ini meluncur dalam nada sedih yang benar-benar murni sehingga Albert menangkap
maksud yang sebenarnya. Darahnya tersirap.
Dia memegang tangan ibunya dan menekannya dengan lembut, lalu berkata,
"Ya, Ibu akan tetap hidup."
"Aku akan hidup!" kata Mercedes, semangatnya menaik lagi.
''Tetapi hendaknya engkau jangan meninggalkanku."
"Ibu," jawab Albert teguh,
"Ibu begitu mencintai saya sehingga Ibu tentu tidak akan mengijinkan saya tetap menganggur dan tak berguna. Lagi pula saya sudah menandatangani kontraknya."
"Bertindaklah menurut kemauanmu, anakku, dan aku akan menyerahkan diri kepada keinginan Tuhan."
"Saya tidak bertindak menurut kemauan sendiri, Ibu, melainkan menurut pemikiran dan keperluan. Kita berada dalam keadaan terdesak. Apa arti hidup buat kita sekarang?
Tak ada. Dan apa arti hidup bagi saya tanpa Ibu. Saya ingin menegaskan kalau tidak untuk kepentingan Ibu, saya sudah bunuh diri pada hari saya menolak memakai nama ayah.
Tetapi saya akan tetap mempertahankan hidup kalau Ibu berjanji untuk tidak putus harapan.
Kalau Ibu mempercayakan kebahagiaan Ibu di masa depan ke dalam tangan saya, ini akan melipatgandakan kekuatan saya.
Setelah nanti berada di Afrika, saya akan mencoba menghadap Gubernur Aljajair. Saya akan menceritakan latar belakang kita, dan saya akan memohon agar beliau sudi
memperhatikan saya sewaktu-waktu.
Kalau beliau mau memperhatikan saya berjuang, dalam enam bulan saja, mungkin saya sudah menjadi perwira atau menjadi mayat.
Kalau saya menjadi perwira, hidup kita akan terjamin, karena saya mempunyai cukup uang dan nama baru yang dapat kita banggakan.
Dan seandainya saya gugur ... terserah
kepada Ibu jalan mana yang akan Ibu tempuh untuk mengakhiri penderitaan."
"Baik, anakku,"
Jawab Mercedes dengan sorot mata bergairah.
"Engkau benar, mari kita buktikan bahwa kita
cukup berharga untuk disayangi orang."
"Ibu dapat berangkat hari ini juga ke Marseilles. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan itu."
"Dan engkau sendiri?"
"Saya masih harus tinggal di Paris untuk dua atau tiga hari lagi Saya memerlukan surat-surat perkenalan untuk urusan di Afrika dan keterangan tertentu mengenai negri itu. Saya akan menyusul kemudian."
"Baik. Kita berangkat saja,"
kata Mercedes, sambil melilitkan satu-satunya selendang yang ia bawa. Albert cepat-cepat membereskan surat-menyuratnya.
Setelah itu dia memanggil pemilik hotel untuk membayar rekeningnya. Sambil menuntun ibunya dia menuruni tangga. Seorang laki-laki yang berjalan di mukanya, menoleh ke
atas karena mendengar gemerisiknya suara pakaian wanita.
"Debray!" Albert berteriak heran.
"Engkau di sini, Morcerf?"
Jawab Debray tidak kalah heran. Dia berhenti. Keinginan tahunya lebih kuat dari pada keinginan tidak dikenal. Lagi pula dia toh sudah diketahui. Dalam cahaya remang-remang dia melihat wanita bercandar hitam di samping Albert. Dia lalu tersenyum. "Oh, maaf, aku tidak akan mengganggumu."
Albert mengerti maksud Debray.
"Ibu!"
Katanya agak keras sambil menoleh kepada Mercedes,
"ini Tuan Debray, Sekertaris Kementerian Dalam Negri dan bekas kawan saya."
"Apa maksudmu dengan bekas kawan?" Debray heran.
"Karena sekarang saya sudah tidak mempunyai kawan lagi, dan tidak boleh mempunyainya lagi. Aku berterima kasih sekali karena engkau sudi menyapa.”
Debray memegang tangan Albert erat-erat.
"Percayalah Albert, betapa sedihnya aku mendengar kejadian yang menimpamu dan betapa aku gembiranya kalau dapat
membantumu.”
"'Terima kasih.” jawab Albert tersenyum.
"Di tengah-tengah musibah itu kami masih cukup kaya untuk tidak meminta bantuan siapa pun juga. Kami akan meninggalkan Paris dengan lima ribu frank di tangan, sisa dari segala ongkos-ongkos perjalanan dan lain-lain."
Walaupun Debray bukan orang yang mampu menilai perbandingan-perbandingan yang puitis, namun tak urung terlintas dalam pikirannya bahwa dalam hotel yang itu, pernah ada dua orang wanita, yang satu sering dihinakan orang dan merasa tetap miskin walau mempunyai satu setengah juta frank di tangannya, sedang yang seorang lagi ditimpa musibah bukan karena kesalahannya, namun tetap tabah dan merasa kaya dengan hanya beberapa ribu frank.
Perbedaan ini sangat mempengaruhinya, sehingga dia terlupa kepada sopan santun. Dia berkata perlahan-lahan kepada dirinya sendiri, lalu pergi cepat-cepat tanpa pamit.
Pada hari itu, anak buahnya di kantor banyak menderita karena Debray sering marah-marah tak menentu. Tetapi pada malam harinya, dia sudah berbahagia lagi karena berhasil memiliki sebuah rumah indah dan mempunyai penghasilan lima puluh ribu frank setahun.
Setelah mencium dan dicium anaknya dengan mesra, Mercedes naik ke atas sebuah kereta pos sekira jam lima sore.
Seorang laki-laki mengawasi kepergiannya dari sebuah tempat tersembunyi Sambil mengusap dahinya, laki-laki itu berkata kepada dirinya sendiri:
''Bagaimana saya harus mengembalikan kebahagjan yang telah kurenggut dari kedua orang yang tidak berdosa itu? Semoga Tuhan
menolongku."
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar