Sabtu, 31 Juli 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 2

DUA


BEBERAPA  MINGGU  KEMUDIAN,  si  ibu  susu  Jeanne Bussie  berdiri  di  pintu  gerbang  biara  Saint-Merri  dengan tangan  menenteng  keranjang  belanja.  Pintu  dibuka  oleh seorang pendeta botak berusia paruh baya  yang  tubuhnya menebar aroma cuka. 

“Bapa  Terrier,”  seru  si  ibu  susu.  “Ini!”  katanya  sembari meletakkan keranjang belanja di muka gerbang. 

“Apa ini?” 

bertanya Terrier sambil membungkuk ke arah 
keranjang  dan  mendengus  membaui, berharap  isinya sesuatu yang bisa dimakan. 

“Ini  anak  haram  milik  perempuan  dari  jalan  Fers  yang tadinya hendak ia bunuh itu.” 

Si  pendeta  dengan lembut  membuka  keranjang itu dengan jarinya sampai terlihat wajah  si bayi yang lelap. 

“Kelihatannya baik-baik  saja.  Pipinya  merona  dan tampak kenyang minum.” 

“Terang  saja  begitu,  karena  ia  menempelkan  dirinya padaku. Memompaku  begitu  kering  sampai  ke  tulang. Aku tak  sudi.  Kini  terserah  kau  mau  disusui  dengan  susu kambing,  bubur,  atau  gula  biang...  aku  tak  peduli.  Haram jadah ini akan melahap apa saja.” 

Bapa  Terrier  dikenal  ramah  dan  supel.  Salah  satu  dari sekian  tanggung jawabnya adalah menangani administrasi kotak  amal  biara  dan  pendistribusiannya  kepada  fakir 
miskin.  Untuk  itu  ia  berharap  agar  orang  tahu  berterima kasih dan  tidak mengganggunya dengan  tetek bengek lain. 

Ia  benci  detail  teknis  karena  detail  baginya  berarti kesulitan  dan  kesulitan  berarti  gangguan  kesehatan  - ia sangat menolak  hal ini.  Ia menyesal  telah membuka  pintu gerbang  dan  berharap  si  wanita  segera  pergi  membawa keranjang itu pulang ke rumah atau apalah, pokoknya tidak lagi  mengganggunya  dengan  remeh-temeh  seperti  ini. 

Perlahan  ia  menegakkan  tubuh  sembari  menghela  napas. Hidungnya menangkap aroma susu dan keju murahan yang ditebarkan tubuh si ibu susu. Bau yang enak. 

“Aku  tak paham apa maumu,” ia berkata. 

“Sungguh, aku tak  mengerti  apa  maksudmu.  Setahuku  tak  ada  salahnya bagi  si  bayi  untuk  bernaung  beberapa  waktu  lagi  di 
dadamu.” 

“Memang  tak  apa  baginya,”  si  ibu  susu  menyalak  balik, 

“tapi  aku  rugi  besar.  Beratku  turun  lima  kilo  dan  harus menanggung  nafsu  makan  tiga  perempuan  digabung  jadi satu. Semua ini demi apa? Demi tiga Franc seminggu?!!” 

“Ah...  begitu  rupanya,”  desah  Bapak terier lega Sekali lagi, ini hanya soal uang, kan?” 

“Bukan!!” jerit si ibu susu kesal. 

“Tentu  saja  iya!”  bantah  si  pendeta.  “Ujung-ujungnya selalu uang. Semua ketukan di pintu gerbang ini selalu soal uang.  Sampai-sampai  aku  berharap  agar  sesekali menemukan seseorang berdiri di sini dengan masalah yang 
sama  sekali  berbeda  - seseorang  dengan  cukup  tenggang rasa  dan  kebijaksanaan  untuk  membawa  oleh-oleh  buah, misalnya.  

Atau  sekadar  kacang.  Lagi  pula,  di musim  gugur begini  pasti  banyak  yang  bisa  dijadikan  hadiah.  Bunga, misalnya.  Atau  sepatah  dua  patah  kata  beramah-tamah, 
'Semoga  Tuhan  memberkatimu,  Bapa  Terrier..  semoga harimu menyenangkan!' dan semacamnya. 

Tapi sepertinya  aku  tak  akan  pernah  menemui  hal  demikian  sampai  aku mati.  Yang  datang  kemari  kalau  bukan  pengemis  pasti saudagar.  Kalau  bukan  saudagar,  pasti  pedagang.  Jika bukan  minta  sedekah,  pasti  menyorongkan  tagihan.  Aku bahkan  tak  bisa  lagi  keluar  jalan-jalan  dengan  tenang. 
Belum tiga langkah  pasti  sudah  ada  saja  yang  menodong minta uang.” 

“Tapi aku kan tidak begitu,” protes si ibu susu.

“Benar,  tapi  biar  kuberi  tahu:  kau  bukan  satu-satunya ibu  susu  dalam  jemaah  kita.  Ada  ratusan  ibu  angkat jempolan yang berebut ingin menyusui bayi mempesona ini 
Untuk  tiga  Franc  seminggu,  atau  memberi  bubur, jus atau makanan lain....” 

“Kalau begitu, serahkan saja ia pada mereka!” 

“...  di  pihak lain,” lanjut  Bapa  Terrier,  “tak  baik  kiranya mengoper-oper seorang bayi seperti itu. Siapa  tahu ia bisa lebih baik menyusu padamu ketimbang orang lain? 

Apalagi kau pasti juga tahu bahwa ia sudah terbiasa dengan aroma tubuhmu, begitu pun dengan degup jantungmu.” 

Sekali  lagi  si  pendeta  menghela  napas  panjang, menghirup  dalam-dalam  kehangatan aroma  tubuh h  si  ibu susu. 

Tapi  saat  menyadari  bahwa  kata-katanya  tak  mempan, segera  ia  menambahkan,  

“Sekarang  bawalah  anak  ini kembali  pulang!  Keluhanmu  akan  kubicarakan  dengan 
kepala biara.Akan kusarankan agar kau diberi empat Franc seminggu” 

“Tidak,” bantah si ibu susu. 

“Baiklah... lima!” tukas si pendeta. 

“Tidak.” 

“Lantas,  kau  ingin  berapa  kalau  begitu?”  bentak  Bapa Terrier. 

“Lima Franc sudah berlebihan untuk tugas seremeh menyusui bayi!” 

“Aku sama sekali tak ingin uang,. timpal si ibu susu. “Aku ingin haram jadah ini keluar dari rumahku.” 

“Tapi kenapa demikian, wahai wanita yang baik?”  tanya Bapa  Terrier  sambil  menjawil  lagi  keranjang  itu  dengan lembut.  

“Lihatlah!  Ia  sungguh  bayi  yang  menggemaskan. Kulitnya segar kemerahan, ia tidak menangis dan juga telah dibaptis.” 

“Anak ini dirasuki setan.” 

Kontan Terrier menarik jarinya dari keranjang.

“Tidak  mungkin!  Sama  sekali  tidak  mungkin  seorang bayi  bisa  dirasuki  setan.  Bayi  adalah manusia  yang  belum lengkap  - makhluk  pramanusia,  yang  karenanya  belum 
memiliki jiwa yang terbentuk sempurna. Oleh karena itu, ia tak mungkin diminati setan. Atau barangkali ia sudah bisa bicara,  ya?  Apa  ia  meronta-ronta,  begitu?  Mampu menggerakkan sesuatu, barangkali? Apa ada bau setan dari badannya?” 

“Tidak, ia sama sekali tidak berbau,” jawab si ibu susu. 

“Nah, itu dia! Itu bukti yang jelas bahwa ia tidak dirasuki setan. Sebab jika iya, mestinya berbau tak sedap.” 

Demi  meyakinkan  si  ibu  susu  dan  menguji 
keberaniannya  sendiri,  Terrier mengangkat  keranjang  dan mendekatkannya ke hidung.

'Aku  tak  mencium  bau  aneh  apa  pun,”  katanya  setelah mengendus  beberapa  kali.  

“Sungguh  tak  ada  yang  aneh. Meski  memang  ada  bau  tertentu  dari  popoknya.”  

Terrier menyorongkan keranjang agar wanita itu yakin. 

“Bukan  itu  maksudku,”  jawab  wanita  itu  kesal  sambil menjauhkan  keranjang  dari  wajahnya.  

“Bukan  bau  popok yang  jadi  masalah.  Kotorannya  memang  bau,  itu  wajar. Masalahnya  si anak  itu  sendiri  ‐  ia  tidak  berbau  sama sekali.” 

“Itu  karena  ia  sehat!”  bantah  Terrier  jengkel.  

“Wajar  ia tidak berbau karena badannya sehat! Hanya bayi sakit yang badannya bau. Semua orang tahu itu. Bukan rahasia bahwa anak yang terserang cacar pasti berbau kotoran kuda, yang terserang  demam  berbau  apel  busuk,  dan  yang  terserang TBC  berbau  seperti  bawang.  Tapi  anak  ini  sehat  walafiat. Apa itu salah? Apa menurutmu ia mestinya berbau, begitu? 
Apa anak-anakmu sendiri bau?” 

“Tidak,” jawab si ibu susu. 

“Anak-anakku berbau seperti normalnya bau anak manusia.”

Terrier  meletakkan  kembali  keranjang  itu  ke  tanah dengan  hati‐hati.  Kejengkelan  mulai  naik  ke  ubun-ubun menghadapi  perempuan  keras  kepala  ini.  

Rasanya  butuh lebih  bebas menggerakkan  tangan  kalau mau melanjutkan debat  tanpa  harus  melukai  si  bayi  dengan  menenteng 
keranjang  terus-menerus.  

Tapi  untuk  sekarang  ia  masih  merasa  cukup  menahan  tangan  di  belakang  punggung, menyorongkan  perut  buncitnya  ke  arah  si  ibu  susu,  lalu bertanya dengan nada tajam, 

“Kau bersikeras kalau begitu, bahwa  kau  tahu  bagaimana  mestinya  bau  seorang  anak 
manusia  - yang  kalau  boleh  kuingatkan  bahwa  begitu seorang anak di baptis maka  ia  adalah  juga  anak  Tuhan. Benar?” 

“Ya,” jawab wanita itu. 

“Dan kau juga bersikeras bahwa jika seorang anak tidak berbau  ‐ menurut engkau, wahai ibu susu bernama  Jeanne Bussie  dari  jalan  Saint-Dennis-maka anak  tersebut  sudah 
pasti dirasuki setan?” 

Tangan  kiri  si  pendeta  berkelebat  dari  balik  punggung menegaskan  pertanyaan  dengan  jari  telunjuk  di  depan wajah si ibu susu. 

Membuat perempuan itu meragu.  Ia  tak 
menyukai  arah  percakapan  yang  sekonyong-konyong berubah  mempertanyakan  keyakinannya,  di  mana  sendiri menjadi pihak yang salah. 

“Maksudku  sama  sekali  tidak  begitu,”  elaknya.  

“Kalian para  pendeta  selalu  saja  seenaknya  memutuskan  apakah segala  sesuatunya  harus  berhubungan  dengan  setan  atau 
tidak,  Bapa  Terrier.  Bukan  hakku  memutuskan  demikian. 

Aku  hanya  tahu satu  hal:  bayi  ini  membuatku  merinding karena ia tidak berbau sewajarnya bau anak manusia.” 

“Aha!”  

jawab  Terrier  puas  sambil  mengibaskan  tangan kembali.  

“Sekarang  kau  menarik  tuduhan  soal  setan  tadi, ya?  Bagus.  Tapi  sekarang  tolong  katakan  padaku:  seperti apa kiranya  bau  seorang  bayi  yang  wajar menurut pendapatmu? Hmm?” 

“Mestinya ia berbau enak,” jawab si ibu susu. 

“Enak  bagaimana  maksudmu?”  desak  Terrier.  

“Banyak hal lain yang baunya juga bisa dibilang enak. Seikat bunga, misalnya.  Taman  bunga  Arab  baunya  juga  enak.  Tapi bagai mana mestinya bau  seorangng bayi yang enak? Itu  yang kutanya.”  

Si  ibu  susu  tergugu.  Ia  tahu  persis  bagaimana  bau seorang  bayi.  Ia  tahu  persis  karena  ia  kenyang  menyusui, merawat, menggendong, dan menciumi mereka.  Ia bahkan mampu  mengendusi  mereka  di  kegelapan  sekalipun.  

Saat ini  pun  ia  mencium  bau  tersebut  dengan  jelas.  Tapi  baru sekarang ia diminta menggambarkannya dengan kata¬kata. 

“Bagaimana?”  desak  Terrier  lagi  sambil  menjentikkan jari tak sabar. 

“Yaah... ini...,” gugu si ibu susu, “...tidak mudah dikatakan, karena... karena masing-masing baunya berbeda, walaupun masing¬masing  juga  baunya  enak.  Bapa,  kau  tahu maksudku,  kan?  Kaki  mereka,  misalnya.  Baunya  seperti batu  halus  yang  hangat - atau...  tidak,  lebih  seperti  susu... 
atau  mentega...  persisnya  mentega  segar.  

Kaki  mereka berbau mentega segar. Dan  tubuh mereka berbau seperti...  seperti kue serabi berbalur susu. Lantas kepala, sampai ke ubun-ubun  dan  bagian  belakang  di  mana  rambut  mulai mengijuk... itu lho,... tahu maksudku, kan? Bagian yang kini tak lagi berambut di kepalamu ...... seraya menepuk bagian yang  botak  di  kepala  si  pendeta - yang  dalam  ketakjuban menyimak,  tanpa  sadar  merundukkan  kepala  dengan 
patuh.  

“Di  sini,  persis  di  sini,  baunya  paling  enak.  Seperti karamel.  Begitu  manis.  Pokoknya  enak  sekali,  Bapa.  Sulit dijelaskan!  Sekali  mampu  mengendusi,  kau  akan menyukainya  tanpa  peduli  itu  bau  anakmu  sendiri  atau 
bukan. Dan begitulah mestinya bau bayi. Tak boleh berbau lain.  Kalau  tidak  begitu - kalau  mereka  tidak  berbau  apa-apa  sama  sekali  di  ubun-ubun  itu  atau  bahkan  nyaris  tak 
berbau seperti si haram jadah ini, maka... terserah kau mau bilang  apa,  Bapa,  tapi  aku  ...,”  ia  bersedekap  dengan  tegas sambil menyalangkan pandangan jijik ke arah keranjang di kakinya  seolah-olah  berisi  katak.  'Aku,  Jeanne  Bussie,  tak sudi menerima benda itu lagi!” 

Bapa  Terrier  perlahan  mengangkat  kepala  sambil melayangkan jemari mengelusi  kepala.  botaknya  beberapa kali  seolah  merapikan  rambut,  lalu  mendaratkan  jemari 
tersebut  ke bawah hidung seperti  tak  sengaja.  Ia mengendus-endus sambil berpikir. 

“Seperti  karamel,  katamu  ...  ?”  ia  bertanya,  sambil mencoba  membangkitkan  ketegasan.  

“Karamel!  Tahu  apa kau soal karamel? Memangnya kau pernah mencicipi?” 

“Tidak  juga  sih,”  jawab  si  ibu  susu,  

“tapi  sekali  aku pernah berada di sebuah rumah besar di jalan Saint-Honore dan  melihat  sendiri  bagaimana  pembuatannya  dari  gula dan krim cair. Baunya begitu enak dan tak terlupakan.” 

“Ya, ya... baiklah,” jawab Terrier sambil menarik jari dari hidung. 

“Tapi  tolong  jangan  bicara  lagi  sekarang!  Aku  capek berdebat. Kuputuskan saja sekarang bahwa dengan ini kau menolak  bayi  yang  telah  diserahkan  oleh  biara  untuk  kau 
rawat  bernama  Jean-Baptiste  Grenouille  dan mengembalikannya  ke  pihak  pelindung  sementara,  yaitu biara  Saint-Merri.  

Terus  terang,  ini sungguh  meresahkan,
tapi sepertinya tak ada pilihan lain. Kau resmi dipecat.” 

Dengan  itu  ia  mengangkat  keranjang,  melepaskan endusan  terakhir  dari kehangatan  dan  aroma  susu  yang menyenangkan  dari  tubuh  si  ibu  susu,  membanting  pintu, lalu langsung menuju ruang kantor.




"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" BAGIAN I (1)

SATU



PADA  ABAD  KEDELAPAN  BELAS  di  Prancis,  tinggallah seorang  pria  yang  dikenal  sebagai  salah  seorang  tokoh paling  berbakat  sekaligus  paling  ditakuti  di  zaman  yang belum lagi mampu menoleransi  karakter  paradoks  seperti itu.  Kisah  inilah  yang  akan  dituturkan.  Namanya  Jean-Baptiste Grenouille.  Tak  seperti  tokoh  paradoks  terkenal lain  seperti  de  Sade,  Saint-Just,  Fouche,  atau  Bonaparte, nama Grenouille kini terlupakan. Dan ini bukan lantaran ia kekurangan  atribut  pendukung  seperti  arogansi, misantropi,  amoralitas,  atau  bahkan  kekejian,  tapi  lebih karena  bakat  dan  ambisinya  diletakkan  secara  ketat  di ranah yang memang tak bisa dilacak dan diendusi sejarah. 

Pada zaman itu kota-kota disesaki aroma yang asing bagi hidung manusia modern: jalan raya berbau pupuk kandang, halaman  gedung  berbau  pesing,  anak-anak  tangga  berbau 
jamur  kayu  dan  kotoran  tikus,  dapur  berserakan  sampah potongan  cabe  dan  lemak  daging  domba,  ruang  tamu berbau  apak  serta  berdebu,  kamar-kamar  tidur  seprainya tak  pernah  diganti  sampai  berminyak,  bantal-bantal lembap dan aroma manis yang  tajam dari pispot di kolong tempat  tidur,  amis  sulfur  mengembang  dari  perapian, aroma  alkali  menyengat  dari  bilik-bilik  penyamakan  kulit, 
sementara  rumah-rumah  jagal  menebar  bau  darah  beku. 

Orang-orang berbau keringat dan pakaian tak dicuci, mulut menebar  bau  gigi  busuk,  dari  perut  mengambang  aroma bawang, dan tubuh mereka - kalau tak lagi muda, menebar 
aroma  keju  anyir,  susu  basi,  dan  penyakit  tumor.  

Sungai-sungai juga  tak kalah berlomba aroma. Bau busuk hadir di pasar, di gereja, di kolong jembatan, dan bahkan di istana. 
Rakyat  jelata  tak  beda  baunya  dengan  para  pendeta.  Para murid berbagi aroma dengan istri-istri guru mereka, begitu pula kaum ningrat - bahkan sampai pada sang Raja, baunya seperti  seekor  singa  sementara  sang  Ratu  seperti  bandot tua,  tak  peduli  musim  panas  atau  musim  dingin.  Tak  ada 
yang  mampu  menghentikan  kesibukan  bakteri  pembusuk pada  abad  kedelapan  belas,  maka  tak  heran  jika  tak  satu 
pun kegiatan manusia - baik konstruktif maupun destruktif, yang tidak disertai oleh bau busuk.

Kebusukan  tentu  saja  paling  parah  mendera  Paris sebagai  kota  terbesar  di  Prancis.  Dan  konon  ada  satu tempat  di  Paris  yang  selain  berbau  busuk  juga  menebar keangkeran.  Terletak  di  antara  jalan  Fers  dan  jalan Ferronnerie,  persisnya  di  sebuah  tanah  permakaman bernama  Cimetière  des  Innocents.  Selama  delapan  ratus tahun  mayat-mayat  dibawa  ke  tempat  ini  dari  Hôtel-Dieu dan gereja setempat. 

Selama delapan ratus tahun, siang dan 
malam,  lusinan  mayat  digelandang  ke  dalam  satu  lorong yang digali memanjang, ditumpuk tulang demi tulang, baik dalam  bangunan  makam  terpisah  maupun  dalam  rumah makam. Baru pada saat menjelang Revolusi Prancis, setelah beberapa bangunan makam runtuh dan baunya sedemikian tak  tertahankan  sampai  diprotes  masyarakat  sekitar, tempat  itu  ditutup  dan  terlantar.  

Jutaan  tulang  dan tengkorak  diserok  begitu  saja  ke  dalam  liang  kubur Montmartre.  Di  tempat  ini  pula  sebuah  makanan  pasar 
kemudian didirikan. 

Alkisah,  di  tempat  terbusuk  seantero  kerajaan  inilah Jean-Baptiste  Grenouille  lahir  pada  tanggal  17  Juli  1738. Kelahirannya disambut musim panas paling menggerahkan 
tahun  itu.  Panasnya  sampai  mengelamkan  pekuburan  dan menebar aroma busuk yang kalau diendusi kira-kira seperti gabungan antara melon busuk dan bekas bakaran  kotoran binatang.  

Sedemikian  meluas  sampai  ke  gang-gang  di sekitarnya.  Saat  didera  rasa  sakit  menjelang  bersalin, ibunda Grenouille tengah berada di kedai ikan di jalan Fers dengan muka pias seperti baru saja perutnya dibelek. Ikan 
di  tempat  itu  baru  dipanen  pagi  ini  dari  sungai  Seine, dengan  amis  yang  sengatannya  mampu  menutupi  aroma mayat.  

Namun seperti umumnya manusia zaman  itu, hidung ibunda Grenouille sudah tumpul  dan tak lagi mampu membedakan antara bau amis ikan dan bau busuk mayat. Apalagi  ditambah sakit di perut yang tentunya semakin mematikan kepekaan indra.  

Ia hanya ingin rasa sakit  ini  berhenti  - bagaimana  caranya  agar  proses melahirkan  segera  berlalu.  Toh  ini  sudah  yang  kelima 
kalinya. Semua proses persalinan dilakukan di warung ikan seperti  ini,  dalam  kondisi  keguguran  atau  bayi  setengah sempurna, karena daging belepotan darah yang keluar dari rahim itu tak ubahnya jeroan ikan yang berserakan di situ. 

Kalaupun sukses lahir, hidup si bayi juga  tak lama.  Ibunda Grenouille tak pernah terlalu ambil pusing karena biasanya saat magrib seluruh porak-poranda ini sudah akan tersiram 
bersih  dan  diserok  ke  tanah  pekuburan  atau  ke  sungai.

Demikian pula yang akan terjadi hari ini. 

Ibunda  Grenouille  ketika  itu  masih  belia - belum  lewat 25  tahun.  Berparas  lumayan  cantik,  gigi lumayan utuh, dengan  rambut  kusut  tak terawat dan tidak  sedang mengidap penyakit serius - kecuali mungkin sedikit encok, sifilis,  dan  paru.  Ia  masih  ingin  hidup  lebih  lama  - katakanlah,  lima  atau  sepuluh  tahun  lagi  dan  bahkan menikah  kalau  memang  cukup  beruntung.  

Dengan  status normal sebagai seorang istri atau setidaknya janda, ia baru merasa  pantas  punya  momongan.  Ibunda  Grenouille 
sungguh berharap momen menyakitkan ini segera berlalu. 

Saat  kontraksi  terakhir  dimulai,  ia  berjongkok  di  bawah meja  jagal  lalu  bersalin  tanpa  bantuan  siapa  pun  seperti 
empat  kesempatan  sebelumnya.  Kemudian  ia  memotong tali pusar si jabang bayi dengan pisau jagal. 

Tapi  tiba-tiba, karena  tak  tahan  sengatan  cuaca  panas  dan  bau  busuk  di tempat itu  (sebenarnya ia  tak menganggapnya  bau  busuk, hanya  bau  sesuatu  yang  tak  tertahankan  seperti  kebun bunga lili atau ruangan yang dipenuhi bunga narsis), ia pun 
pingsan.  Menggelosor  jatuh  dari  bawah  meja  jagal  ke tengah  jalan  dan  tergeletak  di  situ  dengan  tangan  masih 
menggenggam pisau.

Kehebohan  merebak.  Orang-orang  berkerumun  di sekeliling,  menonton,  dan  beberapa  memanggil  polisi. 

Wanita  dengan  pisau  di  tangan  itu  masih  terbaring  di jalanan dan perlahan siuman. 
Apa  yang  terjadi  padanya?  Terdengar sejumlah orang bertanya.

Apa yang ia lakukan dengan pisau itu? 

“Tidak ada apa-apa.” 

Darah apa itu di roknya? 

“Ini darah ikan.” 

Ibunda  Genouille  bangkit  berdiri. Membuang  pisau  ke  samping lalu berjalan gontai hendak membersihkan diri.

Lalu  tiba-tiba  saja,  si  jabang  bayi  di  bawah  meja  jagal menjerit  keras.  Orang-orang  segera  celingukan.  Dan  di situlah, di balik kerumunan lalat, kotoran, dan kepala ikan, 
mereka  menemukan  sesosok  bayi  yang  baru  lahir,  lalu diangkat. Dus, sesuai hukum, segera mereka bawa si bayi ke seorang  ibu  susu  sementara  ibunya  mereka  jebloskan  ke penjara. Dan karena si wanita mengaku terus terang bahwa ia lebih suka membunuh si jabang bayi sebagaimana empat bayi  sebelumnya,  ia  pun  diadili,  diputuskan  bersalah  atas pengguguran  kandungan  beruntun  dan  dihukum  penggal beberapa minggu kemudian di de Gréve. 

Selama  beberapa  minggu  itu  si  bayi  sudah  tiga  kali berganti ibu susu. Tak ada yang ingin memeliharanya lebih dari  beberapa  hari.  

Mereka  bilang  si  bayi  begitu  rakus. Porsi  menyusunya  setara.  dengan  jatah  dua  bayi. 
Menghabiskan  jatah  susu  dan  daya  hidup  si  ibu  susu sedemikian  rupa.  Wajar  jika  tak  ada  yang  bersedia menampung  karena  tak  mungkin  bagi  seorang  ibu  susu untuk  membiayai  hidup  dengan  upah  menyusui  hanya seorang  bayi.  

Petugas  polisi  yang  bertanggung  jawab  atas kasus  ini  adalah  seorang  laki-laki  bernama  La  Fosse.  Ia terus‐terusan  dibuat  pusing  dan ingin agar  si  bayi  dikirim saja  ke  rumah  yatim-piatu  di  ujung  terjauh  jalan  Saint-Antoine,  di  mana  lalu  lintas  bayi  dan  anak-anak  ramai setiap hari dari dan ke rumah yatim-piatu publik di Rouen. 

Namun  karena  konvoinya  terdiri  atas  kuli  angkut  barang yang  membawa  keranjang  bayi  dengan  kemasan seekonomis mungkin sampai  tega menjejerkan empat bayi dalam satu keranjang, maka tak heran bila angka kematian di  lalu  lintas  tersebut  amat  tinggi.  

Sejak  itu  para  kuli disarankan  agar  hanya  mengangkut  bayi-bayi  yang  sudah dibaptis  dan  memiliki  sertifikat  transportasi  resmi  yang akan  distempel  setibanya  di  Rouen. 

Masalahnya  sekarang, bayi  Grenouille  belum  dibaptis  atau  bahkan  dinamai  agar bisa  dicatat  secara resmi di sertifikat transportasi. 

Sementara di pihak lain, secara sosial tak bisa dibilang baik jika seorang polisi menyelundupkan bayi begitu saja ke rumah yatim-piatu. Padahal hanya itu satu-satunya  cara menghindari  formalitas.  Dus,  dengan  alasan  kesulitan administrasi  dan  birokrasi  yang  pasti  terjadi  jika  si  bayi disingkirkan  begitu  saja,  dan  karena  desakan  waktu,  La 
Fosse  menarik  kembali  putusan  awal  dan  memberi instruksi agar si bayi diserahterimakan dengan kuitansi ke beberapa  lembaga  gereja  tertentu,  agar  bisa  dibaptis  dan diputuskan  nasibnya  lebih  jauh.  

Jadilah  sang  polisi membuang  si  bayi  ke  biara  Saint-Merri  yang  terletak  di jalan  Saint-Martin.  Di  sana  ia  dibaptis  dengan  nama  Jean-Baptiste.  Dan  karena  suasana  hati  pada  hari  sebelumnya sedang  baik  dan  kotak  amal  gereja  belum  kering,  mereka 
tidak  mengirim  si  bayi  ke  Rouen  dan  malah memanjakannya  atas  tanggungan  biara.  Pada  titik  ini  ia diserahkan  ke  seorang  ibu  susu  bemama  Jeanne  Bussie 
yang  tinggal  di  jalan  Saint-Dennis  dengan  bayaran  tiga franc seminggu sampai pemberitahuan lebih lanjut.






"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER"

Parfum: Kisah Seorang Pembunuh  

Das Parfum: Die Geschichte eines Mörders, adalah novel fantasi sejarah sastra 1985oleh penulis Jerman Patrick Süskind . Novel ini mengeksplorasi indera penciuman dan hubungannya dengan makna emosional yang mungkin dimiliki aroma.


Tentang Penulis:

PATRICK  SÜSKIND  lahir  pada  tahun  1949.  Ia  memelajari  sejarah  di  Munich  dan  telah  menjadi  penulis  di  dunia  pertelevisian sebelum  menulis  Das Parfum ini.  Novel 
keduanya  bertajuk  Die Taube  (Burung  Merpati)  yang  kemudian  diadaptasi  menjadi  naskah  panggung  dan dipentaskan pertama kali di Gedung Teater BAC di London pada  bulan  Mei  1993.  Naskah  panggung  lainnya  yang berjudul  Der Kontrabaß (Bas  Ganda)  pertama  kali dipentaskan  di  Munich  pada  tahun  1981,  dan  sejak  itu menjadi salah satu kisah yang paling sering dipentaskan di  Jerman, Swiss, dan Austria. Karya ini telah pula dipentaskan di  Festival  Edinburgh  dan  Royal  National  Theatre  (Teater Nasional Kerajaan) di London. Novel Süskind lain berjudul Die Geschichte von Herrn Sommer  (Kisah  Tuan  Sommer) terbitan  1992  telah  pula  mendulang  sukses  internasional sebagaimana Das Parfum. Selanjutnya ia juga menerbitkan Drei Geschichten  (Tiga  Kisah)  pada  tahun  1996.  Patrick üskind tinggal di Munich. 



Daftar Isi
Perfume: The Story of a Murderer


BAGIAN I
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan

Bagian II
Sepuluh
Sebelas
Dua Belas
Tiga Belas
Empat Belas
Lima Belas
Enam Belas
Tujuh Belas
Delapan Belas
Sembilan Belas
Dua Puluh
Dua Puluh Satu
Dua Puluh Dua
Dua Puluh Tiga
Dua Puluh Empat
Dua Puluh Lima
Dua Puluh Enam
Dua Puluh Tujuh
Dua Puluh Delapan
Dua Puluh Sembilan
Tiga Puluh
Tiga Puluh Satu
Tiga Puluh Dua
Tiga Puluh Tiga
Tiga Puluh Empat
Bagian III
Tiga Puluh Lima
Tiga Puluh Enam
Tiga Puluh Tujuh
Tiga Puluh Delapan
Tiga Puluh Sembilan
Empat Puluh
Empat Puluh Satu
Empat Puluh Dua
Empat Puluh Tiga
Empat Puluh Empat
Empat Puluh Lima
Empat Puluh Enam
Empat Puluh Tujuh
Empat Puluh Delapan
Empat Puluh Sembilan
Lima Puluh

Bagian IV
Lima Puluh Satu

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER"




Jean-Baptiste Grenouille terlahir tanpa bau tubuh, tubuhnya buruk rupa, dan ia sama sekali tidak berbau bayi. Kelahiran dan keberadaannya seolah membuat setiap orang yang bersentuhan dengannya merasa takut, datar, jijik, dan entah bagaimana jahat. Karena aura negatifnya yang sangat kental, masa kecilnya begitu suram, dilempar ke sana kemari ibarat anak yang terbuang: mulai dari biara hingga menjadi pekerja ilegal di tempat penyamakan kulit. Hidupnya begitu terlunta-lunta karena—entah bagaimana—orang-orang di dekatnya seperti tahu bahwa Grenouille itu unik, bukan …lebih tepatnya anak itu … bukan anak biasa (dalam arti yang negatif sayangnya).

Namun dibalik segala cacat dan aura negatifnya, Grenouille memiliki indera penciuman yang luar biasa. Ia mampu memilah seluruh bau yang ada, mengolahnya dalam arsip di ingatan, dan membagi-baginya untuk kemudian dilabeli. Ia mampu mengendus datangnya hujan, membedakan keringat setiap orang, bahkan melihat dengan bau-bauan. Tampaknya, hanya satu yang lebih dari anak ini, yakni kepekaannya akan aroma. Nasib baik kemudian mengantarkannya bekerja ke seorang ahli parfum kenamaan di Paris yang bernama Giuseppe Baldini. Seolah tercipta untuk saling melengkapi, keduanya kemudian saling bekerja sama dalam menciptakan aroma parfum paling luar biasa dan paling laku di Paris. Grenouille senang karena ia mampu menyalurkan hobinya, sementara si ahli parfum juga senang karena parfum2 temuan anak buahnya itu ternyata laku keras.

            Seiring berjalannya waktu, keahlian Grenouille semakin piawai dalam membuat parfum. Aroma adalah sekutunya, parfum adalah senjatanya yang utama. Ia ditakdirkan untuk mencintai aroma, bukan yang lainnya. Dari bengkel kerja sang maniak aroma ini, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana penyulingan bebungaan sehingga menghasilkan minyak essence yang sangat kental dan pekat. Begitu banyak pelajaran pembuatan parfum ala abad pertengahan yang diketengahkan, mulai dari siapa Bapak Parfum Dunia, apa manfaat alkohol dalam pembuatan parfum, serta bagaimana memindahkan jiwa dari bebungaan ke dalam sebuah botol kecil. Semuanya dinarasikan dalam alur prosa yang indah.

            “Parfum sejati bersifat langgeng. Memiliki tiga tahapan masa—sebutlah masa remaja, masa dewasa, dan masa tua. Hanya apabila mampu memberikan aroma yang tetap segar dan enak di ketiga tahapan itu, sebuah parfum bisa disebut berhasil. (87)

            “Penyulingan sesungguhnya tidak lebih dari sekadar proses memisahkan substansi kompleks menjadi komponen yang mudah menguap  dan yang tidak mudah menguap. Ini hanya berguna dalam seni membuat parfum, karena sari minyak yang mudah menguap dari tanaman tertentu bisa diekstraksi atau dipisahkan dari subtansi lain yang sedikit atau tidak memiliki bau. (132)

            Ternyata, novel ini bukan sekadar penarasian dari sebuah pabrik parfum rumahan di Prancis abad ke-17. Alur yang dibikin penulis baru mencapai awalnya ketika Grenouille berhasrat untuk menciptakan parfum paling harum didunia. Parfum yang setetes darinya akan membuat semua orang tertunduk takjub akan kehebatan pemakaian, parfum yang dibuat dari 25 orang perawan. Maka, dimulailah kejadian demi kejadian ketika para gadis muda dibunuh di kamarnya sendiri, di halaman depannya, di luar gerbang kota. Mereka semua ditemukan telanjang dan tubuhnya bersih, seolah-olah ada iblis jahat yang mencuri jiwa mereka—dan aroma tubuhnya. Dari ke-25 aroma perawan inilah Grenouille akhirnya berhasil meracik sebuah parfum paling manis, harum, dan memabukkan di seluruh dunia. Dalam hal ini, Grenouille sudah berhasil menemukan apa yang disebut dengan kekuatan aroma, hal-hal di udara yang sering kali membuat perasaan kita tiba-tiba berubah saat menghitunya, aroma khas yang biasa menyertai sosok yang menawan dan mempesona. Grenouille bahkan mengutuk manusia biasa yang keliru dalam menggunakan hidungnya.

            “Dan karena mereka sedemikian bodoh, menggunakan hidung hanya untuk bernapas dan hanya meyakini apa yang bisa dilihat mata, lantas berpendapat bahwa ini pasti disebabkan oleh kecantikan, keanggunan, dan pesona fisik si gadis. … Tidak satupun sadar bahwa sesungguhnya bukan penampilan yg telah menjerat mereka. Bukan keindahan eksternal yang membuai jagat, tapi murni aroma tubuh  (217-9)

            Hanya bersenjatakan aroma, maniak parfum ini menghabisi korban-korbannya. Polisi dan bangsawan tidak bisa mencegah atau menangkapnya, karena Grenouille melihat dengan hidungnya. Dan, akhirnya, ketika parfum beraroma perawan itu jadi, maka euphoria pun melanda Paris, menjadikan rakyatnya mabuk dan terbutakan oleh kekuatan aroma.

            Bagus sekali novel ini ditulisnya. Dengan alur cerita memikat dan riset data yang kaya, pembaca pasti akan menikmati perjalanan hidup Grenouille yang muram. Bukan, bukan karena kesadisan dan kebiadabannya, tapi lebih pada setting abad ke-17nya yang begitu indah, begitu membuai, begitu antik. Kita akan diajak mengamati suasana kota Paris yang kumuh di abad ke-17, dengan jalanan yang kotor dan becek, dengan sungai yang menjadi bahan pembuangan sampah, hingga ke laboratorium seorang ahli parfum yang lebih mirip lab seorang alchemist.

            Mengambil setting di Prancis menjelang dan paska Revolusi Prancis, novel ini turt menggambarkan perubahan tatanan sosial yang tengah merebak besar-besaran di Eropa pada saat itu. Revolusi Industri, bangkitnya minat pada penjelajahan samudra dan kutub utara, penemuan jasad renik, hingga karya-karya besar yang kelak akan sangat dikenang. Aura sadis dalam buku ini memang agak mendominasi di awal, tapi di bagian tengah pembaca akan lebih banyak disuguhi semacam reportasi dari keadaan sosial di Prancis pada pertengahan abad ke-17. Ada banyak sekali peristiwa sejarah yang turut menjadi latar belakang atau sekadar pemanis alur cerita. Dan semuanya ditata begitu rupa, menghasilkan sebuah novel yang mirip sebuah karya seni nan tercipta secara sempurna. Bagi Anda yang suka mempelajari bagaimana keadaan Prancis di masa-masa krusial dalam sejarah, yakni seputar revolusi industri dan revolusi Prancis, maka bacalah novel yang sangat berbobot ini.


"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 71

BAB LXXI



JAM enam sore sebuah kapal pesiar kecil mungil meluncur cepat sekalipun pada saat itu tidak ada angin yang cukup, bahkan untuk membelai rambut seorang gadis pun.

Di haluannya berdiri seorang pemuda tinggi dengan air muka murung, menatap daratan yang makin lama makin jelas seakan-akan muncul dari bawah permukaan laut.

“Itukah Pulau Monte Cristo?" tanyanya dengan nada sedih.

"Benar, Tuan," jawab kapten kapal. 

Beberapa menit kemudian mereka melihat kilat di atas pulau disusul suara tembakan.

"Itu isarat buat kita, Tuan. Apakah Tuan mau
membalasnya sendiri?"

"Ya."

Kapten menyerahkan karaben yang telah berisi kepada anak muda itu yang dengan perlahan-lahan mengarahkannya ke udara, lalu menarik picunya. 

Tak lama kemudian kapal itu sudah membuang jangkar dan sebuah sekoci dengan empat orang pendayung dikeluarkan. Anak muda itu naik ke sekoci, berdiri di buritan dengan
bersidekap. 

Kedelapan bilah kayu pendayung bergerak
bersama-sama, boleh dikatakan tanpa memercikkan air setitik pun. Sekoci melaju dengan begitu cepatnya, sebab di karenakan di dayung oleh empat orang. 

Sedangkan Maximilie duduk terdiam dengan muka yang masam dan pikiran serta hatinya yang terasa kelam oleh kepedihan."

Sesampainya di ujung dermaga mereka disambut oleh penjaga dan dengan sigap Maximilie melompat terus berjalan mengikuti orang tersebut. 

Sesampainya di sebuah istana yang berada di atas pulau monte Cristo itu, dia segera masuk yang di sambut oleh count dengan senyum yang ceria, serta mempersilahkan Maximilien masuk ke meja makan, Monte Cristo mengambil tempat di hadapannya. 

Mereka berada di ruang makan yang mewah.
Beberapa patung pualam berdiri di sudut-sudut yang tepat, pada masing-masing kepalanya terdapat keranjang penuh bermacam-macam bunga dan buah-buahan.

Maximilien memperhatikan seluruh isi ruangan.

"Sekarang saya mengerti mengapa Tuan meminta saya datang ke istana bawah tanah di pulau terpencil ini, yang akan merupakan kuburan, yang bagi seorang raja pun akan
merasa iri melihatnya, karena Tuan mencintai saya.

Bukankah begitu? Rupanya Tuan bermaksud memberi saya kematian yang nyaman, kematian tanpa penderitaan, kematian yang memungkinkan saya pergi dengan nama
Valentine di bibir dan tangan Tuan di tangan saya."

"Terkaanmu tepat sekali, Maximilien," kata Monte Cristo. 

"Itulah maksudku."

"Terima kasih. Mengingat bahwa penderitaan saya akan segera berakhir membuat saya tenteram sekarang."

"Apakah tak ada yang akan kausesalkan sama sekali?"

"Tidak."

"Juga tidak untuk meninggalkan saya?" 

tanya Monte Cristo dengan perasaan yang mendalam.

Maximilien terdiam. Sebutir air mata tergulir.

"Air matamu itu menunjukkan bahwa di dunia ini ada yang terasa berat kautinggalkan tetapi engkau tetap berniat mati".

"Harap jangan berkata lagi. Tuan. Jangan memperpanjang penderitaan saya."

Monte Cristo yakin Maximilien sudah mulai ragu. Ia ingat kepada keraguannya sendiri yang berhasil ia tundukkan di penjara d'If. 

"Aku bermaksud memberi dia kebahagiaan," pikirnya. "Dan aku anggap maksudku ini
sebagai imbalan kepada keburukan yang pernah aku perbuat. Bagaimana kalau aku keliru? Bagaimana kalau orang Ini merasa tidak berbahagia untuk mengecap kebahagiaannya? Apa yang akan terjadi dengan aku sendiri
yang hanya dapat melupakan keburukan dengan mengingat-ingat kebaikan? Setelah itu dia berkata keras:

"Aku tahu kesedihanmu sangat mendalam, Maximilien, tetapi engkau tetap masih mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, tetapi pula tidak mau mengambil kesempatan agar
menolong jiwamu."

Maximilien tersenyum sedih. 

"Tuan telah cukup mengenal saya; saya bukanlah pemain sandiwara. Saya bersumpah
bahwa jiwa saya sudah bukan milik saya lagi."

"Coba dengarkan baik-baik, Maximilien," kata Monte Cristo. 

"Seperti kau tahu, aku ini sebatang kara. Aku menganggapmu sebagai anak sendiri. Aku bersedia mengorbankan diri untuk keselamatan jiwa anakku, berarti juga aku bersedia mengorbankan seluruh kekayaanku."

"Apa maksud Tuan?"

"Maksudku, engkau mau mati karena tidak mengetahui kebahagiaan yang mungkin diberikan oleh harta kekayaan..

Aku memiliki hampir seratus juta frank. Aku akan berikan itu semua kepadamu. Dengan kekayaan sebanyak itu kau dapat memenuhi semua yang kauinginkan. Kalau engkau cukup mempunyai ambisi, semua kedudukan terbuka bagimu.

Kemudian dunia Ini dan rubahlah wajahnya. Jangan biarkan dirimu hanyut dibawa gagasan-gagasan gila. Kalau perlu biarlah jadi penjahat, asal jangan bunuh diri"

"Tuan telah berjanji," jawab Maximilien dingin. 

"Dan sekarang sudah setengah dua belas."

"Maximilien! Tegakah engkau melakukannya di hadapan mataku, di dalam rumahku?"

"Kalau begitu, izinkan saya pergi," 

Maximilien berdiri. Mendengar ini wajah Monte Cristo bersinar. 

"Baik kalau begitu " katanya. 

"Engkau mau mati dan kemauanmu itu
sudah tidak dapat dirubah lagi. Memang, engkau sangat tidak berbahagia, seperti katamu sendiri, hanya suatu keajaiban saja yang akan dapat menyembuhkan harimu. Duduklah Maximilien, dan tunggu."

Maximilien menurut, Monte Cristo berjalan ke sebuah lemari. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak perak, lalu menaruhnya di atas meja. Kotak itu dibukanya dan dikeluarkannya lagi sebuah kotak lain yang lebih kecil yang diperbuat dari emas. Dengan menekan tombol yang kecil dan tersembunyi penutup kotak emas itu membuka.

Di dalamnya terdapat zat berminyak yang setengah padat dan warnanya serasi sekali dengan warna emas, mirah delima dan jamrut yang menghias kotak itu. 

Monte Cristo mengambil sebagian kecil dari zat itu dengan sebuah sendok kecil dan memberikannya kepada Maximilien sambil
menatap wajahnya dengan tetap. Pada waktu itu warna zat tadi berubah menjadi hijau.

"Inilah yang kauminta dan inilah pula yang kujanjikan."

"Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati, Tuan,"

kata anak muda itu ketika menerima sendok.

Monte Cristo mengambil lagi sedikit dengan sendok lain.

"Apa maksud Tuan?" 

Tanya Maximilien dengan menahan tangan Monte Cristo.

"Semoga Tuhan mengampuniku," jawab Monte Cristo tersenyum. 

"Tetapi aku rasa aku pun sudah bosan hidup
sama seperti engkau. Dan karena sekarang ada kesempatan yang baik…”

"Jangan!" pekik Maximilien, 

"Tuhan masih mempunyai apa yang Tuan cintai, dan dicintai. Tuan masih mempunyai
kepercayaan dan harapan... Janganlah berbuat seperti yang hendak saya perbuat! Bagi Tuan akan berarti kejahatan.

Selamat tinggal, wahai sahabat yang mulia dan sejati. Akan saya ceriterakan kepada Valentine di seberang sana semua jasa Tuan kepada saya."

Dengan perlahan-lahan namun tanpa keraguan
Maximilien menelan zat yang aneh itu. Sedikit demi sedikit lampu-lampu yang berada di tangan patung-patung pualam tampak berkurang cahayanya, demikian juga wangi-wangian menjadi kurang semerbak. 

Di hadapannya duduk Monte Cristo menatapnya. Tetapi Maximilien sudah tidak
dapat melihatnya dengan jelas, kecuali cahaya matanya yang berkilat-kilat.

Maximilien merasa badannya berat. Semua benda di sekelilingnya sudah kehilangan bentuk dan warna. Matanya yang sudah buram seperti melihat banyak pintu dan tirai
terbuka.

"Saya sudah hampir habis, kawan," katanya. 

"Terima kasih." 

Dia mencoba mengulurkan tangannya kepada Monte Cristo tetapi terjatuh lagi di sisinya. Badannya terkulai di kursi dan merasakan dirinya melayang terbang ke alam mimpi. 

Sekali lagi dia mencoba mengangkat tangan. Sekarang bahkan sama sekali tidak berdaya lagi. Dia mau mengucapkan selamat tinggal, tetapi lidahnya sudah kaku.

Monte Cristo membuka sebuah pintu. Samar-samar Maximilien melihat seorang wanita yang sangat cantik masuk.

Dengan wajah yang sedikit pucat dan senyum yang sangat menawan seakan-akan dia seorang bidadari dari kayangan.

"Apakah pintu surga sudah terbuka?" 

Pikir orang yang sudah tidak berdaya itu.

"Tampaknya bidadari itu serupa benar dengan Valentine!"

Wanita itu datang mendekatinya.

'Valentine! Valentine!" 

Pekik Maximilien dari dalam hatinya. Tetapi tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya. Dan seperti semua tenaganya terhimpun dalam
perasaannya, dia menarik napas panjang. 

Tertutuplah kedua matanya. Valentine memburunya. Bibir Maximilien bergerak lagi
sedikit.

"Dia memanggilmu dalam tidurnya," kata Monte Cristo.

"Kematian hampir saja memisahkan kalian. Untung sekali aku berhasil menghindarkannya. Valentine, jangan hendaknya kalian berpisah lagi di dunia ini. Kalau itu terjadi dia bersedia membenamkan dirinya ke dalam kubur dan itu
tidak baik. Tanpa pertolonganku, mungkin sekali kalian sudah tiada. 

Aku kembalikan masing-masing kepada hak
masing-masing. Mudah-mudahan Tuhan sudi memperhitungkan kebaikanku ini dengan keburukan-keburukan yang telah aku perbuat!"

Valentine memegang tangan Monte Cristo dan dengan kegembiraan yang tidak terbendung dia menciumnya.

"Berterima kasihlah kepadaku, Valentine!" kata Monte Cristo. 

"Katakanlah berulang-ulang bahwa aku telah membahagiakanmu

. .. Engkau tak akan dapat merasakan betapa perlunya keyakinan itu bagiku."

"Ya, Tuan, terima kasih banyak. Saya mengucapkannya dari kedalaman lubuk hati saya!" jawab Valentine. 

"Kalau tuan masih meragukan perasaan saya, silakan bertanya kepada Haydee, saudara saya yang tulus dan telah membuat saya sabar menantikan saat bahagia ini dengan jalan banyak sekali bercerita tentang hal Tuan sejak kami meninggalkan Perancis bersama-sama."

"Oh, engkau mencintai Haydee, Valentine," 

tanya Monte Cristo dengan perasaan yang tidak berhasil dia sembunyikan.

"Dengan sepenuh hati."

"Kalau begitu, rasanya aku mempunyai hak untuk meminta sesuatu darimu..”

"Kepada saya? Cukup berhargakah saya untuk itu?"

"Engkau menyebut Haydee sebagai saudara yang tulus. Saya minta anggaplah dia sebagai saudara kandung sejati.

Valentine. Bayarkanlah kepadanya segala apa yang kauanggap sebagai hutang budi kepadaku. Lindungilah dia oleh kalian, engkau dan Maximilien, karena ..." 

Suara Monte Cristo hampir tidak terdengar, 

"Sejak sekarang dia akan menjadi sebatang kara."

"Sebatang kara?" tanya suara di belakang Monte Cristo.

"Mengapa?"

Monte Cristo membalikkan badan. Haydee berdiri di belakangnya menatap wajahnya dengan air muka heran dan cemas.

"Karena besok engkau akan menjadi orang merdeka, Haydee," jawab Monte Cristo. 

"Karena mulai besok engkau harus menempati tempatmu yang terhormat dalam dunia ini. Karena aku tidak menghendaki hidupku membuat gelap jalan hidupmu. Engkau putri seorang pangeran. Aku kembalikan kepadamu nama dan kekayaan ayahmu."

Haydee menjadi pucat, dan berkatalah dia dengan suara tertahan tahan.

"Kalau begitu Tuan bermaksud meninggalkan
saya?"

"Haydee! Haydee! Engkau masih muda dan cantik, lupakan aku dan carilah kebahagiaan."

"Baik, Tuan. Perintah Tuan akan saya laksanakan dengan baik dan patuh. Saya akan melupakan Tuan dan mencari kebahagiaan." 

Dia mundur untuk pergi.

"Oh Tuhanku!" Valentine memekik cemas. 

"Tidakkah Tuan lihat betapa pucat wajahnya. Tidakkah Tuan lihat betapa menderitanya?"

"Mengapa engkau mengharapkan beliau mengerti, Valentine?"

Tanya Haydee dengan air muka menunjukkan
putus asa. 

"Beliau adalah tuanku dan aku budaknya. Beliau berhak untuk tidak mau melihat apa yang ada padaku dan terasa olehku."

Monte Cristo bergetar mendengar suara Haydee yang telah menyentuh tali-tali terhalus hatinya. 

''Mungkinkah idamanku menjadi kenyataan? Haydee, apakah engkau merasa bahagia bersamaku?"

"Saya masih muda, Tuan," jawab Haydee perlahan-lahan.

"Saya mencintai kehidupan manis yang telah Tuan berikan kepada saya, dan saya akan merasa menyesal bila harus mati"

"Maksudmu, bila aku meninggalkanmu engkau akan ..."

"Saya akan mati. Benar, Tuan."

"Berarti engkau mencintaiku."

"Oh, Valentine. Beliau menanyakan apakah aku
mencintainya! Tolong menjawabnya, Valentine. Tolong!"

Hati Monte Cristo mengembang karena bahagia. Dia membuka kedua lengannya dan Haydee melemparkan dirinya ke dalam pelukannya sambil menangis bahagia. 

"Saya mencintaimu!" katanya. 

"Saya mencintaimu seperti mencintai
jiwa saya sendiri, oleh karena bagi saya, Tuan adalah laki-laki yang terbaik, yang termulia dan teragung dalam dunia ini!"

''Terima kasih, bidadariku," jawab Monte Cristo. 

"Rupanya, Tuhan yang telah membesarkan aku untuk menghadapi musuh-musuhku dan memberikan kemenangan kepadaku, tidak menghendaki aku menebus dosa pada akhir
kemenanganku. Aku bermaksud menghukum diri sendiri, namun rupanya Tuhan mengampuniku. 

Mungkin cintamu itu akan membuat aku melupakan segala sesuatu yang harus aku lupakan. Sepatah katamu itu, Haydee, telah
membukakan hatiku lebih lebar daripada kearifan selama dua puluh tahun. Hanya engkaulah sekarang yang masih kumiliki dalam dunia ini. Bersamamu aku akan mengarungi
hidup baru. Bersamamu aku akan tahan menderita dan bersamamu pula aku akan merasa berbahagia. 

Betulkah saya telah dapat menangkap kebenaran ini, ya Tuhan? Namun, apakah ini hukuman atau ganjaran, saya ikhlas menerimanya. Mari Haydee, mari."

Sambil menggandeng Haydee, Monte Cristo menekan tangan Valentine lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

Satu jam lamanya Valentine menunggui Maximilien dengan penuh ketegangan. 

Akhirnya dia melihat dada Maximilien
naik-turun, yang menunjukkan kehidupan telah kembali ke dalam tubuh anak muda itu. 

Lambat laun mata Maximilien terbuka. Mereka saling berpandangan pada mulanya. 

Penglihatan Maximilien makin lama makin terang. Bersamaan dengan pulihnya penglihatannya, perasaannya pun kembali. Namun pedih pun mulai datang.

"Oh!" katanya putus asa. 

"Aku masih hidup! Count of Monte Cristo menipu!" 

Dia bangkit untuk mengambil pisau di atas meja.

"Sadarlah, kekasih, dan pandanglah aku," 

Kata Valentine dengan senyum yang menawan.
Maximilien berteriak lagi. Maximilien meragukan panca inderanya. Kepalanya terasa pening melihat apa yang disangkanya tadi sebagai bayangan. Akhirnya dia jatuh berlutut.

Esok paginya ketika matahari baru terbit Maximilien dan Valentine berjalan-jalan bergandengan sepanjang pantai.

Bintang-bintang terakhir masih berkilat-kilat di langit pagi. Tiba-tiba Maximilien melihat seorang laki-laki berdiri di balik sebuah batu karang, menunggu Maximilien memanggilnya.

Maximilien berkata kepada Valentine sambil
menunjuk, 

"Jacopo, kapten kapal pesiar.”

Valentine memanggil Jacopo.

"Ada apa, Kapten Jacopo?''tanya Maximilien.

"Count of Monte Cristo menyuruh saya menyerahkan surat ini''. 

Maximilien membuka dan membacanya:

Maximilien yang baik, Sebuah kapal telah menantimu di pelabuhan. Jacopo akan
membawamu ke Livorno, di mana Tuan Noirtier menunggu kedatangan cucunya yang ingin beliau berkahi sebelum kaubawa dia ke jenjang perkawinan. 

Segala sesuatu yang berada dalam gua di pulau ini, rumahku di Champs Elysees dan sebuah rumah peristirahatan kecil di Treport adalah hadiah perkawinan dari Edmond Dantes untuk putra majikannya, Tuan Morrel. 

Ajaklah bidadari yang mulai hari ini akan mendampingi hidupmu berdo'a bagi seorang laki-laki yang untuk sesaat seperti Setan pernah merasa dirinya sama dengan Tuhan, tetapi pada akhirnya dengan segala kerendahan hatinya menyadari bahwa
kekuasaan dan kebijaksanaan yang mutlak hanya berada di tangan Tuhan.

Camkanlah ini, Maximilien, rahasia yang kutemukan dan mudah-mudahan dapat menjadi pegangan bagimu: 

sebenarnya dalam dunia ini tidak ada kebahagiaan atau ketidakbahagiaan
itu.

Yang ada hanyalah perbandingan antara sesuatu keadaan dengan keadaan yang lain. Hanya orang yang pernah merasakan puncak kepedihan akan dapat merasakan puncak kebahagiaan.

Ada perlunya suatu saat kita mengharapkan kematian, Maximilien, untuk mengetahui dengan tepat, betapa baiknya sebenarnya hidup ini. 

Hiduplah, Maximilien, dan berbahagialah, wahai belahan hatiku, dan janganlah lupa bahwa, sampai saat Tuhan berkenan membuka tabir masa depan seseorang, seluruh kebijaksanaan kemanusiaan bersimpul hanya kepada dua kata ini: Menunggu dan mengharap.

Sahabatmu

EDMOND DANTES COUNT OF MONTE CRISTO

Maximilien melihat ke sekelilingnya seperti mencari sesuatu,

"Kebaikan Count of Monte Cristo ini sudah sangat di luar jangkauan perkiraan," katanya. 

"Di mana beliau sekarang? Antarkan saya kepadanya."

Jacopo menunjuk ke kaki langit.

"Apa artinya?" tanya Valentine. 

"Di mana beliau? Di mana Haydee?"

"Lihatlah," kata Jacopo.

Kedua muda belia itu melihat ke arah yang ditunjukkan Jacopo. Pada garis hitam yang memisahkan langit dan samudera mereka melihat layar putih.

"Sudah pergi!" kata Maximilien. 

"Selamat jalan, sahabatku, ayahku!"

"Sudah pergi,” ulang Valentine. 

"Selamat jalan, sahabatku! Selamat jalan, saudaraku!"

"Mungkinkah kita akan bertemu kembali?"

"Kekasih,” jawab Valentine, 

"Count of Monte Cristo baru saja menasihati kita bahwa seluruh kebijaksanaan manusia bertumpu hanya kepada dua patah kata:

Menunggu dan mengharap."





                              TAMAT

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...