Minggu, 11 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 21

★HENING★ Part 21 


" TERUNGKAP "



Tim 5 Kapten Dimas..

Jet-jet tempur indonesia itu tampak masih berputar-putar di kawasan udara thailand, namun kini luncuran rudal-rudal dan deru ledakan sudah tak terdengar lagi, hanya desingan mesin jet Sukhoi-sukhoi itu yang terdengar memenuhi langit.

Kepulan asap di tiap blok jalan-jalan kota bangkok menyisakan bangkai-bangkai tank, reruntuhan gedung, dan jasad-jasad prajurit yang gugur.

Para prajurit pasukan Panglima Katsuun tampak merapatkan diri ke bangunan yang ada di sekitar memandangi alat-alat tempur berat mereka hancur berkeping-keping di buat jet-jet tempur yang masih mengitari langit tanah air mereka.

"Kapten Dimas Tim 5, kapten Dimas tim 5..",

Radio kapt. Dimas menyala,

"Diterima, disini kapten dimas.. Chief Garuda Tim 5, ganti..",

Sahut Kapt. Dimas,

"Perintah langsung dari komnando operasi untuk segera kembali ke markas apabila memungkinkan..",

"Mohon dikonfirmasi kebenarannya, disini Tim 5 sedang dalam misi, ganti..",

Sahut Kapt. Dimas sedikit terkejut perihal perintah kembali ke markas untuk Tim-nya,

"..Panglima 1 Komando operasi, APR 12, diminta anda dan seluruh Tim 5 untuk segera kembali..",

Suara di radio terdengar jelas,

"..., Baik, diterima Tim 5 segera kembali ke markas, keluar..",

Sahut Kapt. Dimas memastikan itu benar.
Tak lama berselang jet-jet tempur itu bertolak menjauh..

"Kapten, lihat.. mengapa mereka menjauh?",

Lettu Adam menunjuk ke jet-jet Tim 5 yang bergerak menjauh untuk kembali ke markas,

"Entahlah.., mungkin mereka kembali untuk mengisi ulang perlengkapan mereka..",

Jawab Kapt. Joko,

Pasukan Kapt. Joko dan Lettu Adam masih bersiaga dengan sisa kekuatan yang ada di sekitar Istana PM thailand tersebut, mereka masih menunggu pasukan marinir Kapten Hari sampai di lokasi mereka, di lihat dari situasi, mereka jelas akan sangat kesulitan jika harus bertempur langsung kembali dengan jumlah prajurit dan perbekalan yang tinggal sedikit.

...............
Puea Thai Party...

"Tastt..!",

Sers.Tari melepaskan tembakan, seorang prajurit musuh roboh,

"Klak..",

Sers.Tari mengokang senjatanya kemudian dilanjutkan lagi ke prajurit musuh lainnya,

"Tastt..!",...
"klakk ..Tastt!",

Sers.Tari menembak satu prajurit kemudian menembak prajurit disebelah prajurit sebelumnya yang tampak terkejut mengetahui rekannya roboh.

Sementara dibawah sana Elang dan Jim juga Letnan Mahda telah merangsek masuk ke kawasan markas militer thailand, setelah melalui pintu besi besar yang tak terkunci itu, kemudian mereka bersiap di depan pintu masuk belakang Markas tersebut,

" 2 penjaga menuju kemari..!",

Bisik Letn. Mahda melihat ada dua prajurit thailand di dalam markas itu dan berjalan ke arah mereka,

"..Jim..!",

Elang melirik Jim, dan Jim menganggukkan kepala sambil mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya, begitu juga Elang.

Letn. Mahda sedikit mundur menjaga jarak, sementara Elang dan Jim berdiri di kanan dan kiri pintu tersebut dengan pisau di tangan mereka..

Dua prajurit thailand itu lewat dan secara tiba-tiba Jim membungkam mulut salah satunya dengan tangannya dan menusukkan pisaunya ke bagian dada prajurit itu, sementara Elang menarik lengan salah satunya lagi, kemudian disaat prajurit thailand itu seperti akan terjatuh, Elang menarik kepalanya dan segera menyayat leher prajurit tersebut..

"..Huhhh..",

Letn. Mahda menarik nafas melihat kedua sahabat itu beraksi.

"..Ayo..",

kata Jim langsung bergerak masuk ke dalam markas di ikuti Elang dan juga Letn. Mahda.

"..Tari, kami masuk..",

Kata Letn. Mahda dari radionya,

"Baik..!",

Sahut sersan Tari langsung mengarahkan teropong senapannya ke tiap-tiap jendela di lantai 2 dan 3 markas tersebut,

"Sebaiknya kita ke atas, ke ruangan pusat markas ini, mungkin disitu kita bisa menemukan Panglima sialan itu..!",

Seru Jim, suasana lantai bawah markas itu memang terlihat sepi, mengingat para prajurit hanya berjaga di luar dan bagian depan ruangan markas, situasi ini sedikit menguntungkan Elang dan yang lainnya.

"Kau tampak• Sangat berkonsentrasi.., tidak seperti biasanya..",

Kata Sers. Hardi,

"Tentu saja.., mereka mempercayaiku untuk menangani dari atas sini..!",

Sahut Sers.Tari,

"Mereka atau lelaki dingin itu..?",

Lanjut Sers. Hardi tertawa kecil,

"Apa maksudmu Elang..???",

Sers.Tari balik bertanya dengan raut pipi yang memerah,

"Sudahlah, aku memperhatikan gelagatmu semenjak kita bersamanya.., hehehe.,, sudahlah, ayo fokuslah ke mereka disana..",

Jawab Sers.Hardi terbahak,

Sers.Tari menghela nafas dan kembali mengawasi lewat teropongnya, sesekali matanya melirik Sers.Hardi diam-diam, terkejut dengan perkataan rekannya itu.

...........
Markas pusat, Jakarta..

Sementara itu Panglima Rokhim tampak telah kembali ke ruangan pusat operasi, ia tampak sibuk berkordinasi dengan para perwira navigasi dan komunikasi untuk memerintahkan penarikan semua pasukan yang berada di thailand, sesekali ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.02 Wib, ia berharap proses penarikan pasukan dan segala sesuatunya yang sedang berlangsung sekarang ini selesai dan berakhir sebelum pagi kembali menjelang.

.............
Di lain ruangan..

"Letnan.. apa kau masih merindukan dia sehingga sepertinya kau berfikir keras bagaimana caranya perang ini berakhir dengan baik dan dia juga dalam keadaan baik.., kau tetap berusaha menyeimbangkan antara perasaan dan tugas.. Saya bangga padamu..",

Ungkap Jend. Purnomo Melihat Letn.Vega yang tengah membolak-balik suatu berkas,

Sejenak Letn. Vega terdiam,

"Izin bicara bebas pak..",

Sahut letn.Vega,

"Silahkan Letnan..",

Jawab Jend. Purnomo mengizinkan,

"Saya tidak tau apakah saya merindukannya atau tidak pak, saya hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan, sebenarnya saya tidak boleh mengatakan ini, tapi... Saya sedikit merasa senang dengan peperangan ini, karena dengan adanya peperangan ini keberadaan dirinya bisa saya ketahui, saya merasa senang sebelumnya anda mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke indonesia karena masalah agen hitam.., dan yaa anda benar pak.. Saya merindukannya..",

 Jawab Letn. Vega,

"Hmmm.. Setidaknya kau sudah mengatakannya..",

Sahut Jend. Purnomo.

.............
Kantor pusat Badan Pengamanan Negara, jakarta..

Seorang Jendral baru turun dari mobil dinas militer di depan kantor BPN, langkahnya tampak tergesa-gesa memasuki kantor itu setelah meninggalkan markas pusat komando,
Ia Jendral Irwan, kepala dari BPN yang sesaat sebelum perang bergulir sibuk mempersoalkan masalah agen mata-mata seperti Elang.

"Bagaimana sekarang! Ini semakin rumit, Letnan Jauhar dikabarkan tewas disana..!",

Keluh Jend. Irwan ketika sampai di ruang kerjanya, ia baru menerima berita tewasnya letnan Jauhar tangan kanannya yang ia susupkan ke tim Letnan Mahda untuk membunuh Elang.

"Tenanglah.., ini sudah semakin rumit.,, Panglima telah menahan PM thailand, dan ada kabar malaysia juga terlibat.., tidak ada gunanya kau masih mempermasalahkan soal itu..",

Sahut rekannya di BPN yang berpangkat Kolonel, kol. Musdi.

"..",

Jend. Irwan tampak diam memikirkan sesuatu, sementara Kol. Musdi dengan tenang menghisap cerutu di tangannya.

.............
Puea Thai party, thailand..

Pang. Katsuun sudah mengetahui bahwa jet-jet tempur indonesia telah mundur,

"Mereka berfikir apabila PM Ghoydee sudah mereka tangkap, berarti kita kalah.., justru kita menang! Tidak ada lagi si Pemimpin bodoh itu..! Hahahaha",

Pang. Katsuun terbahak di ruang operasinya,

"Semuanya! Tetap jalankan rencana, mereka pasti berniat menarik seluruh pasukan, jangan biarkan! Habisi semua tentara indonesia itu..!",

Perintah Panglima Katsuun kepada pasukan yang sedang dalam perjalanan menuju kawasan istana yang ia kirimkan sebelumnya, pasukan-pasukan itu menuju tepat dimana lokasi pasukan Kapten Joko dan Lettu Adam berada.

............
(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...