★HENING★ Part 34 (1)
" KITA MULAI..!"
Heru berjalan tergesa-gesa menuju ruang interogasi yang berada di sudut lorong belakang kantor itu.
Heru terus melangkahkan kakinya sambil sesekali memperhatikan orang-orang di kantor itu yang mulai pada beranjak pulang mengingat jam kerja mereka telah habis.
Sesampainya didepan pintu ruang interogasi Heru diam sejenak berusaha memikirkan kembali apa yang hendak ia lakukan,
" ... Aku rasa.. Aku harus",
gumamnya dalam hati,
Ia menghela nafas panjang, merogoh kunci di sakunya..
"Hey, sedang apa kau?",
seseorang memanggil dari belakangnya,
" Glek.."
Heru sedikit terhenyak menyadari ada orang yang melihatnya,
"Hmm, tidak ada.., saya hanya memastikan pintu ini terkunci..",
jawab Heru segera membalikkan badannya melihat siapa gerangan orang tersebut,
"Oh.., kau anak baru itu ya? Ayo ikut denganku.., kebetulan, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padamu..",
kata seseorang itu yang ternyata adalah seniornya di BPN.
"Yah, siap bang..",
sahut Heru berjalan mendekat dan segera mengikuti seniornya itu.
"Huhhh, hampir saja...",
gumamnya dalam hati.
............
Markas pusat, Jakarta..
18.00 wib
"Jendral, kenapa anda belum pulang..?",
seorang Sersan bertanya melihat Jendralnya masih duduk di salah satu meja aula kantor tersebut padahal sudah pukul 18.00 tepat, tidak seperti biasanya sekitar pukul 3 sore sang Jendral sudah pulang meninggalkan kantornya.
"Tidak apa Sersan, banyak yang harus saya selesaikan saat ini juga..",
jawab Jend.Purnomo sembarari membuka-buka map-map di meja,
"Apa perlu saya bantu Jendral..?",
tanya Sersan tersebut kembali,
"Tidak perlu sersan.., kau pulanglah lebih dahulu, tak apa..",
sahut Jend.Purnomo.
"Baik, izin komandan..!",
kata Sersan itu sembari berlalu meninggalkan Jendral Purnomo.
Tak lama kemudian muncul lagi seorang prajurit menghampiri Jendral itu, sepertinya memang ditunggu oleh sang Jendral Purnomo.
"Lapor ndan, semua yang komandan perintahkan telah saya siapkan..",
kata prajurit itu pelan,
" Apa kau sudah memastikan semuanya?",
tanya Jend.Purnomo,
"Siap, Sudah Ndan.., lalu bagaimana dengan saya?",
prajurit itu balik bertanya,
"Baiklah, saya akan pastikan kepindahanmu ke Sumatra.., kerja bagus, dan ingat, ini hanya saya dan kamu yang tahu..",
jelas Jend.Purnomo.
"Siap ndan, dimengerti..!"
"Izin pamit ndan..!",
seru prajurit itu,
"Yah, silahkan",
sahut Jend.Purnomo,
"Terima kasih ndan, terima kasih",
seru prajurit itu kegirangan dengan sesekali menundukkan kepalanya.
Sebelumnya Jendral Purnomo menyuruhnya mengambil beberapa pucuk senjata serta perlengkapan tempur lainnya dan diletakkan di sudut belakang kantor ini sehingga Mahda dan Adam akan dengan mudah mengambilnya.
Prajurit suruhan Jendral Purnomo itu meminta sedikit ganti atas kerjanya, karena dia berasal dari sumatra, ia meminta bantuan Jendral Purnomo untuk dipindah tugaskan ke sumatra.
"..."
Jend.Purnomo sejenak memperhatikan keadaan kantor yang telah sepi dan segera beranjak pulang.
.........
Adam dan Mahda..
22.00 Wib
Adam tampak berdiri santai bersandar disebuah mobil kijang hitam berplat militer di jalan dibelakang Markas Pusat komando tersebut, terkadang ia harus menegur sejumlah prajurit penjaga yang berkeliling sekitar area markas tersebut.
"Cari angin aja mas.., sekalian iseng-iseng nelpon pacar",
Begitu jawaban Adam ketika salah satu prajurit penjaga menanyakan sedang apa ia berdiri disitu, prajurit-prajurit penjaga itu pun mempercayainya karena melihat mobil berplat militer yang dibawanya, jadi tak ada yang patut dicurigai.
Tak lama kemudian Mahda muncul tergesa-gesa membawa sebuah kotak yang tak terlalu besar.
"Buka pintu..",
seru Mahda pelan,
Adam segera membuka pintu tengah mobil dan Mahda segera meletakkan kotak tersebut di kursi tengah mobil mereka.
" Mengapa lama sekali? Mulutku capek ngoceh terus pura-pura lagi telponan kalau ada penjaga yang lewat..",
keluh Adam,
"Huhh, kau kira mudah menyusup halaman markas ini.., spot jantung aku..",
"Sukur Jendral naruh nih perlengkapan di tempat sepi jauh dari pantauan kamera pengawas",
jelas Mahda terengah-engah.
"Dan Untung saja kita tak mengikuti kata Jendral mengambil peralatan ini pukul 1 nanti, bisa dicurigai kita.., tapi Sudahlah, ayo..",
sahut Adam masuk ke mobil.
" Brmmm "
Adam segera memacu mobil mereka meninggalkan lokasi tersebut.
...............
Ruang Interogasi BPN..
23.09 Wib
"Bukk..! Bukk!! Bukk..!"
Tampak dua orang sedang menghadiahi Elang dan Jim pukulan demi pukulan, percikan darah mengotori hampir seluruh pakaian yang Elang dan Jim kenakan.
Tampak juga seseorang berdiri menjaga jarak memperhatikan itu, yah, itu Heru, ia tidak diperkenankan pulang sore tadi oleh seniornya disini, ia malah disuruh menyaksikan senior-seniornya itu menghajar Elang dan Jim.
"Hahahaha..,"
sesekali kedua seniornya itu tertawa puas.
"Ini dek, abang serahkan mereka sama kamu.., malam ini kau nginap disini yah, gantikan kami berdua.., di luar juga ada 4 orang adek abang yang berjaga, jadi kau tidak usah takut..",
kata salah seniornya itu menyudahi acaranya memukuli Elang dan Jim, tak lama kedua seniornya di BPN ini pamit pulang, meninggalkan Heru melakukan tugas yang harusnya mereka kerjakan.
" . . . "
Keadaan di ruangan itu menjadi hening, hanya sesekali desah nafas Elang dan Jim yang terdengar tak teratur lagi, yah keadaan fisik mereka menurun drastis.
"Maaf... Apa kalian bisa bicara..?",
tanya Heru mendekat,
" Ekhhh.. Tentu saja..",
sahut Elang parau,
" Apa kalian benar mata-mata yang ramai diisukan di fitnah itu?, aku tahu ini pertanyaan bodoh, tapi aku rasa aku ingin menanyakannya..",
lanjut Heru mendekat.
"Ukhhh, sepertinya sekarang kami mulai terkenal yah..",
sahut Jim pelan terbatuk-batuk.
"Jika itu pertanyaanmu.. Kami tak akan menjawab! Kami hanya akan memperkenalkan diri saja..",
jawab Elang.
"Aku Jim, agen korea..",
kata Jim,
"Dan aku Elang, aku Agen indonesia.. Dari divisi mata-mata TNI, dia rekanku di thailand kemarin..",
tambah Elang.
" Jadi isu itu benar?",
kata Heru pelan,
"Aku tak mengatakan tentang isu itu, kami hanya memperkenalkan diri kami.., kami juga tak ingin kau mempercayai ini, akan menjadi bumerang untukmu jika kau mempercayainya..",
kata Elang pelan.
"Jadi aku harus diam saja diantara kebohongan dan kebenaran ini??",
tanya Heru lagi,
Elang terhenyak mendengar perkataan Heru.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar