Senin, 05 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 7

★HENING★ Part 7 


"TITIK PEPERANGAN DARI MASALAH AGEN HITAM!"

.........
Elang tersentak, baru ia sadari bahwa ia sedang berdiri diam di sebuah basement sebelum bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya, ia melihat sekitar, yah.. Cuma ada dia disitu.

Sementara itu, jauh di seberang samudera yang membentang membelah daratan di sebuah pusat militer sebuah negara republik, negara yang membesarkan Elang, tengah terjadi kontroversi dalam suatu badan pertahanan negara antara Badan Inteligen Negara dan Badan pertahanan Negara, seorang paruh baya mengenakan seragam militer dengan dua bintang bersemat di pundaknya terlihat memukul meja rapat yang di hadiri beberapa staf keamanan negara itu.

"Apa begini cara leluhur kita bertindak!?! Apa tidak ada lagi yang bisa menghormati seseorang yang membela negaranya!?!"

Kata sang jendral berbintang dua tadi, dia adalah Jendral Purnomo SH, komandan tinggi divisi mata-mata dari BIN, ia merasa terkejut semenjak kehilangan kontak dengan agen terbaiknya Elang.

Malah sebuah kabar mengejutkan, seputar pembebas tugasan yang di lakukan secara tak bermoral dengan memberikan data agennya sendiri kepada negara saingan yang di anggap menyulut perang karena mengambil andil besar dalam pemasokan senjata gelap ke sejumlah daerah nusantara.

"Ini, adalah jalan terbaik yang harus di ambil.. Anda dan jajaran anda harus mengerti..!",

Jawab seseorang berjas hitam yang diketahui adalah Jendral Ir. Marwan, menjabat sebagai kepala staf Badan Pertahanan Negara (BPN),

"Apa presiden mengetahui ini..?!?"

Tanya Jend. Purnomo tegas, tak ada yang menjawab, menandakan sedang terjadi suatu pergolakan wewenang komando operasi dalam pertahanan negara ini.

"..."

Jendral Ir. Marwan hanya diam tak berkomentar, wajahnya menyiratkan sesuatu,

"Aku akan bicarakan ini dengan Panglima ..!"

Tambah Jend. Purnomo meninggalkan ruang pertemuan itu, ia berjalan di dampingi seorang ajudan wanita berpangkat Letnan satu, Letnan Vega.

"Letnan, bagaimana kabar terakhir yang kita dapat..?"

Tanya sang jendral dengan terus berjalan,

"Terakhir Agen kita di kabarkan bergabung dengan beberapa agen dari Amerika, Korea, Uni soviet, juga inggris pak, tapi kita belum tahu kebenaran informasi ini.."

Jelas Letn. Vega, sejenak jendral berhenti,

"Apa tidak sebaiknya kita menjemput Agen kita sendiri pak?"

Letn. Vega memberi usul,

"Itu sangat beresiko Letnan, teruslah cari informasi.."

Perintah Jendral berlalu,

"Siap pak!"

Jawab Letn. Vega sambil memberikan Hormat.

Disisi lain...

Tampak juga seorang petinggi berseragam militer Thailand, negara yang disebut-sebut sebagai pemasok senjata kepada para teroris dan pemberontak di seluruh Asia, kabar itu menyeruak setelah tertangkapnya satu kapal berisi Ribuan senjata perang lengkap di perbatasan Indonesia - Malaysia yang menuju ke suatu daerah konflik di Indonesia, Thailand juga di kabarkan secara terbuka memiliki pabrik pembuat Bom-bom Nuklir yang mereka kirimkan ke kawasan timur tengah, melihat itu, beberapa negara di asia bahkan Eropa dan yang lainnya memata-matai negara tersebut, bahkan bukan tak mungkin perang akan berkecamuk jika Thailand terbukti bertanggung jawab atas semua tuduhan itu.

Panglima Katsuun, petinggi militer Thailand terlihat berkumpul dengan petinggi-petinggi lainnya,

"Bagaimana kabar terbaru dari situasi pasca operasi agen hitam?"

Panglima Katsun bertanya pada seorang Jendral yang bernama Teddo di depannya,

"Kabar terakhir yang saya terima adalah, di temukannya Jasad jendral Divisi mata-mata, ia sebelumnya menghilang pak, dan satuan Hitam yang kita bentuk dari para Mafia belum berhasil menangkap Agen-Agen itu.."

Jelas Jend. Teddo,

"Pak saya izin untuk berbicara..",

Seorang perwira Muda mengangkat tangannya di antara para petinggi militer negara itu,

"Silahakan anak muda.."

Pang. Katsuun mempersilahkannya,

".. Begini pak, suasana hubungan internasional kita sedang tidak baik.. Terutama Indonesia pak, mereka terlihat sedang berusaha memperoleh izin menyerang kita dari ASEAN dan PBB, mengingat segala tindakan kita..

Mungkin tak lama lagi kita akan segera berperang.. Saya rasa anda perlu mempertimbangkan hal ini"

Jelas perwira muda tersebut,

"..."

Sejenak panglima Katsun terdiam, seolah berfikir apa yang harus ia lakukan sebagai pemimpin tertinggi militer negara ini, ia menarik nafas..

"Bila harus perang, kita akan perang!"

Kata -kata sang panglima mengagetkan seluruh petinggi yang hadir disitu, perkataan sang panglima sedikit ada benarnya mengingat kejahatan negaranya sedikit demi sedikit tercium negara lain, meminta maaf tak bisa mengembalikan kepercayaan global, hanya akan menimbulkan perang dingin berkepanjangan., satu-satunya jalan adalah mengikuti arus yang ada.

Elang, Smith, Bob dan Fallen terlihat berkumpul di suatu ruangan..

Tak lama muncul Jim ho membawa secarik kertas,

"Lihat ini, kabar terakhir di luar sana adalah memanasnya hubungan Thailand dan Indonesia, negara tempat Elang rekan kita berasal.."

Jelas Jim ho,

"...Aneh, negara ku sepertinya tidak melakukan apa-apa setelah membuangku.."

Ungkap Smith heran,

"Begitu juga aku..",

"Aku juga!",

Bob dan Fallen mengiyakan perkataan Smith,

"Apa yang akan kita lakukan sekarang..?"

Tanya Elang seakan tak begitu perduli kabar itu,

"Smith, bob, dan juga Fallen akan pulang ke negaranya, mengadu kepada badan yang membesarkan mereka di negaranya menuntut keadilan dan hak sebagai pembela negara mereka..",

Smith, bob dan fallen menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Jim ho,

"Dan kau sendiri..?"

Elang balik bertanya,

" Aku..? Aku akan terus mengawasimu teman, lagi pula... Di kampung halamanku tidak ada yang menantiku.."

Jawab Jim ho tersenyum, 

...........

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...