The Decission
CHAPTER XVI
The Decission
Oval Office Gedung Putih
Washington DC
21.02 EST (10.02 WIB)
H minus 24:55:00
Malam sudah mulai larut di Washington DC, tapi kesibukan masih berlangsung di Gedung Putih. Perkara yang saat ini tengah terjadi di Samudera Indonesia, ketegangan antara armada Indonesia dengan armada Australia kali ini menjadi perhatian utama baik oleh Gedung Putih maupun oleh Pentagon. Untuk itulah kali ini Jenderal Al McKenna berada di sini, sekalian dengan beberapa orang pejabat serta ahli yang berkepentingan, karena mereka telah dikumpulkan oleh Pres. Herbert Clarke, yang mana agendanya adalah untuk membahas persoalan di Samudera Indonesia tersebut.
Sudah sejak beberapa hari ini masalah ini membuat Jenderal McKenna tidak bisa tidur, dan sejak itu pula setiap perkembangan diikutinya dengan penuh rasa waswas. Sebagaimana pendahulunya sebagai Joint Chief-of-Staff, Al McKenna menganggap persoalan di Asia Tenggara secara serius, wilayah potensial konflik terbaru di dunia dengan implikasi yang amat serius bagi Amerika Serikat, jauh lebih serius daripada, katakanlah, Timur Tengah. Ini dikarenakan posisi cair yang diidap oleh Asia Tenggara, dan juga masalah potensial menyangkut penguasaan atas Laut Cina Selatan, serta pengaruh RRC yang semakin kentara di wilayah itu. Dan RRC bukanlah Irak atau Afganistan yang bisa ditaklukkan oleh Amerika Serikat dengan mudah; setiap konflik yang terjadi di Asia Tenggara, apalagi bila melibatkan Amerika Serikat, tentu akan mengundang intervensi dari RRC, mengingat Cina sudah sejak lama mengidamkan untuk “merebut kembali” pengaruh di Laut Cina Selatan, yang terakhir mereka kuasai pada era Dinasti Qing, sebelum perang Sino-Prancis meletus.
Mengingat semua itu, maka Al McKenna pun mengharapkan supaya keseimbangan yang selama ini terbangun di Asia Tenggara, dengan ASEAN sebagai buffer-nya, diharapkan untuk tidak terganggu, demi mencegah intervensi lebih jauh dari Cina. Tercatat bahwa ini kedua kalinya Al McKenna merasa resah atas masalah di Asia Tenggara. Yang pertama adalah beberapa tahun lalu; saat itu dia masih menjadi Kepala Staf Angkatan Darat AS, ketika terjadi Krisis Serawak yang terutama diakibatkan oleh intervensi Indonesia atas permasalahan di Serawak. Dan kini negara yang sama “membuat ulah” kembali, namun kali ini lawannya bukan main-main, yaitu Australia, sekutu lama Amerika Serikat. Perang Indonesia-Australia akan “memaksa” Amerika Serikat untuk membela sekutu lamanya di Samudera Indonesia itu, dan secara otomatis akan menarik perhatian pula dari Cina, yang saat ini tengah mencari kesempatan untuk menguasai Laut Cina Selatan. Masalah diperparah dengan terlibatnya dua kapal perang Russia di sana; resep yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah Perang Dunia baru, yang mana Al McKenna tidak yakin akan kesudahan perang ini. Fakta menunjukkan perang antar-raksasa tak pernah berlangsung kurang dari setahun, dan Amerika harus menjalani perang ini mungkin dengan lebih berdarah-darah daripada berpuluh tahun lalu di Perang Pasifik atau Perang Vietnam. Memori Vietnam pun kini kembali menyeruak, namun dengan skala dan intensitas yang lebih besar daripada Perang Pasifik.
Pintu Oval Office pun terbuka, dan seseorang berpakaian setelan jas rapi disertai oleh dua ajudan masuk ke dalam ruangan. Perawakan orang itu agak gemuk dan tak begitu tinggi, setidaknya menurut ukuran orang Kaukasus. Rambutnya yang mulai keperakan hanya tersisa di bagian belakang kepalanya, meninggalkan bekas kebotakan yang cukup kentara. Mata orang itu agak sipit dengan wajah yang mulai menghasilkan kerutan bekas usia. Sesungging senyum yang lebih terkesan arogan terpasang di antara kedua pipinya yang gemuk, sesuai dengan gaya jalannya yang sedikit menunjukkan kepongahan. Namun sebuah kearoganan nampaknya pantas disandang oleh orang ini, mengingat statusnya sekarang sebagai orang paling kuat di dunia, Presiden Amerika Serikat, Herbert Friedrich Wilhelm Clarke, atau dikenal sebagai Herbert Clarke saja. Nama tengah “Friedrich” dan “Wilhelm”, yang diambil dari nama dua kaisar besar Prussia-Jerman, konon disematkan sebagai pengingat bahwa Herbert Clarke masih memiliki trah dari Wangsa Hohenzollern yang pernah berkuasa pada zaman Kekaisaran Jerman Kedua (Second German Reich). Dan bagi kawan atau lawan politiknya, sisa-sisa karisma kebangsawanan Hohenzollern masih cukup terlihat pada diri Herbert Clarke. Fakta ini sebenarnya tak pernah dikonfirmasikan secara resmi oleh Wangsa Hohenzollern di Eropa, tapi hubungan antara Herbert Clarke dengan Wangsa Hohenzollern cukup dekat untuk dikatakan bahwa itu benar. Clarke, sewaktu menjadi Gubernur Tennessee, diketahui sering hadir di Eropa dalam acara-acara yang diadakan oleh Wangsa Hohenzollern yang beberapa di antaranya padahal hanya dikhususkan bagi keluarga. Posisi Clarke di mata sesepuh Hohenzollern sendiri juga “terlalu signifikan” bagi sekadar seorang anggota keluarga biasa.
Reputasi Herbert Clarke sebagai seorang presiden sendiri lebih diwarnai dengan banyak kontroversi. Dia dipilih untuk menggantikan presiden AS incumbent, John Forsythe Mayweather, yang kebijakan luar negerinya dinilai sebagai “ramah tapi lemah”, dan menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih keras selain mencabut beberapa kebijakan luar negeri dari pendahulunya itu. Pres. Clarke juga menekankan untuk mempererat kerjasama dengan negara-negara sekutu lama Amerika Serikat seperti Inggris, Australia, dan Israel; alih-alih dengan negara-negara kekuatan baru semacam negara-negara Asia, seperti yang dimaktubkan oleh Pres. Mayweather. Pendekatan kekerasannya pada aksi terorisme pun dikecam oleh banyak pihak, di samping penambahan perkuatan militer AS untuk mengantisipasi “potensi Perang Dunia”.
Namun kontroversi terbesar mengenai sosok Herbert Clarke justru datang dari latar belakangnya. Salah satu jaringan TV terbesar di Amerika Serikat pernah memunculkan kisah kontroversial mengenai Pres. Clarke yang saat itu membuat seluruh bangsa gempar bukan main. Dalam kisah itu dikatakan bahwa salah satu kakek buyut Pres. Clarke merupakan bekas pejabat SS Nazi Jerman yang pernah bertugas di kamp konsentrasi di Spandau dan Auschwitz; dan salah satu mantan anggota Nazi yang “diputihkan” statusnya oleh CIA pasca-Perang Dunia II. Ditambah lagi pembeberan bahwa kakek Pres. Clark, Frank Rudolf Albrecht Clarke Sr. merupakan salah satu pemuka dari kelompok radikal Ku Klux Klan pada masa Emansipasi Ras. Namun beberapa hari kemudian stasiun TV bersangkutan mengeluarkan ralat yang mengatakan bahwa “sumber yang mereka pakai ternyata salah”, dan beberapa orang juga ditahan akibat “memberikan informasi palsu yang menjelekkan Presiden”. Dua bahkan tak tahu rimbanya, diduga mereka sudah “dilenyapkan” oleh CIA sehubungan masalah “pemutihan” atas bekas anggota Nazi. Pres. Clarke sendiri kemudian mengadakan sebuah talk show yang mana dia tak menampik bahwa kakeknya turut serta dalam Ku Klux Klan, tapi dikatakan pula bahwa ayahnya tak menyetujui perbuatan kakeknya itu hingga kabur dari rumah. Dan Pres. Clarke tumbuh “berdasarkan didikan dari ayahnya, bukan kakeknya”. Pun hal ini mengganggu sebagian warga AS berkaitan dengan kebijakan Pres. Clarke yang memang cukup keras.
Semua orang pun berdiri menghormat ketika Pres. Clarke masuk ke dalam ruangan, dan dengan satu isyarat tangan, dia meminta semua orang duduk kembali sebelum akhirnya dia sendiri duduk di kursi kerjanya. Semua orang memegang tablet PC yang sepertinya berisi hal-hal yang ingin dilaporkan, namun...
“Simpan semua laporan itu, aku tak mau membacanya,” kata Pres. Clarke.
Wajah semua yang ada di sana dipenuhi dengan tanda tanya. Tidak mau baca laporan, lalu untuk apa mereka semua...
“Aku hanya ingin tahu,” kata Pres. Clarke,
“apakah semua perintahku sudah dijalankan secara benar dan mendetail, dimulai dari kau, Jenderal McKenna,”
Jend. McKenna pun menarik napas panjang sembari melihat ke arah Pres. Clarke sejenak sebelum akhirnya berkata.
“Sudah, Tn. Presiden, 3 gugus tugas kapal induk kita, yaitu dari USS Ronald Reagan, USS George HW. Bush, dan USS John C. Stennis...” kata Jend. McKenna.
“Cuma 3? Bukankah perintahku sudah jelas untuk mengirimkan 4 gugus tugas kapal induk?” tanya Pres. Clarke.
“Sebagian besar kapal induk kita masih di Atlantik, Tn. Presiden, bahkan USS Theodore Roosevelt dan USS George Washington masih ada di Mediterania,” kata Jend. McKenna.
“Lalu bagaimana dengan USS Carl Vinson? Bukankah dia saat ini ada di San Diego?” tanya Pres. Clarke,
“kenapa dia tak ikut digerakkan?”
“USS Carl Vinson, saat kita bicara saat ini, masih dalam proses perbekalan,” kata Jend. McKenna,
“paling cepat lusa baru bisa...”
“Besok subuh,” kata Pres. Clarke,
“aku ingin Carl Vinson bisa berangkat maksimal besok subuh; atau akan ada yang harus mendapatkan pensiun dini, dan aku serius,”
“Siap, Tn. Presiden,” kata Jend. McKenna.
“Dan apakah pesanku sudah dikirimkan sesuai dengan yang aku instruksikan secara rinci tanpa kurang satu detail pun?” tanya Pres. Clarke.
“Sudah, Tn. Presiden,” jawab penasihat keamanan Gedung Putih, Marion Stainer.
“Sampai detail yang paling rinci?” tanya Pres. Clarke.
“Ya, Pak, saya sudah kirimkan memakai…”
“Tak perlu detailnya, Ny. Stainer, terima kasih,” kata Pres. Clarke,
“silakan bubar sekarang, kita rapat lagi besok pagi jam 8,”
Semua hanya melongo tak percaya, tak mengerti, bila akhirnya hanya sesingkat ini, mengapa mereka semua dikumpulkan? Pres. Clarke cukup memanggil Jend. McKenna dan Marion Stainer saja, mengingat hanya kedua orang itu yang ditanyai. Tapi satu isyarat tangan dari Pres. Clarke membuat mereka mau tak mau harus bubar, walau masih memendam kedongkolan. Ya, semua orang pun bubar kecuali satu.
“Boleh minta waktu untuk bicara sebentar, Tn. Presiden?” tanya Jend. McKenna.
“Aku tak punya banyak waktu, Jend. McKenna, tapi silakan,” kata Pres. Clarke.
Setelah orang terakhir keluar dan pintu Oval Office ditutup, hanya tersisa Jend. McKenna dan Pres. Clarke saja yang masih ada di ruangan itu. Jend. McKenna tampak betul menginginkan jawaban atas masalah yang selama ini mengganggu tidurnya. Dan hanya Pres. Clarke sendiri yang bisa menjawabnya.
“Tn. Presiden, minta izin berbicara bebas,” kata Jend. McKenna.
“Silakan, Al,” kata Pres. Clarke.
Sejenak Jend. McKenna menarik napas, tampaknya tengah berusaha untuk mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bertanya.
“Anda sadar kan, kalau semua langkah ini, yang Anda instruksikan sedetail mungkin, bisa memiliki konsekuensi politik yang amat buruk,” kata Jend. McKenna.
“Dan seperti yang telah kau ketahui, Al, urusan politik bukanlah urusan tentara, melainkan urusan dari para politisi dan negarawan,” kata Pres. Clarke.
“Masalahnya, Tn. Presiden, tentara lebih sering menjadi korban pertama dari konsekuensi atas keputusan politik yang diambil oleh politisi dan negarawan,” kata Jend. McKenna.
Pres. Clarke hanya terkekeh saja mendengarnya, seolah baru mendengar sebuah lelucon satirik. Jend. McKenna paham bahwa sang Presiden sebenarnya mengerti, tapi tetap tak ada tanda-tanda kemarahan di wajahnya.
“Itu pernyataan yang bagus, Al, dan memang benar,” kata Pres. Clarke,
“jadi konsekuensi politik apa yang sedang kita bicarakan ini?”
“Dengan semua perintah yang Anda berikan pada angkatan laut kita di seberang lautan; lalu pesan yang Anda tujukan pada London dan Canberra,” kata Jend. McKenna,
“Anda tentu sadar bahwa semua itu berisiko untuk memicu sebuah peperangan,”
Pres. Clarke hanya manggut-manggut saja, sepertinya menunggu Jend. McKenna menyelesaikan uneg-unegnya.
“Cina sedang menanti pergerakan kita, Tn. Presiden, dan bila perang pecah, mereka, sebagaimana juga kita, tak akan tinggal diam,” kata Jend. McKenna,
“ini akan jadi perang regional skala penuh sebagaimana tahun 1940-an silam, Tn. Presiden, kita menghadapi risiko Perang Dunia,”
Suasana pun hening sejenak.
“Katakan, Al, apakah kekuatan militer kita sekarang tidak cukup kuat untuk menghadapi sebuah Perang Dunia yang baru?” tanya Pres. Clarke.
“Tentu bukan itu maksud saya, Tn. Presiden...”
“Jawab saja, Al,” kata Pres. Clarke lagi,
“apa kekuatan kita lebih lemah daripada musuh potensial kita, Cina atau Russia?”
“Dengan kekuatan kita sekarang, Tn. Presiden, kita masih mampu mengalahkan Cina dalam sebuah kampanye perang,” kata Jend. McKenna,
“tapi maksud saya adalah...”
“Kalau begitu tak ada yang perlu dikhawatirkan, Jenderal,” kata Pres. Clarke,
“dan ya, aku paham bahwa semua instruksiku bisa berujung pada sebuah Perang Dunia yang baru; aku sepenuhnya sadar 100%,”
“Kalau begitu kenapa...”
“Bila kartumu bagus, Jenderal, dan kau melihat kesempatan di depanmu untuk menggunakannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Pres. Clarke.
Jend. McKenna hanya mendengus saja mendengar perkataan Pres. Clarke. Nada bicaranya menyiratkan bahwa Pres. Clarke tak ingin memperpanjang pembicaraan ini lagi.
“Saya mengerti, Tn. Presiden,” kata Jend. McKenna,
“dan saya permisi karena ada banyak hal yang harus saya lakukan,”
“Aku tahu, Jenderal, lanjutkan tugasmu,” kata Pres. Clarke,
“mungkin dalam beberapa waktu mendatang tugasmu akan lebih berat lagi, jadi bekerjalah dengan baik dan jangan mengecewakan bangsa Amerika,”
“Baik, Tn. Presiden,” kata Jend. McKenna.
Jend. McKenna sudah membuka kembali pintu Oval Office untuk keluar ketika tiba-tiba Pres. Clarke memanggilnya kembali.
“Soal instruksi terakhir yang kuberikan padamu, Jenderal,” kata Pres. Clarke,
“aku sengaja tak menanyakannya tadi di hadapan semua orang,”
“Sudah dilakukan, Tn. Presiden,” kata Jend. McKenna.
“Berapa lama ‘mereka’ akan siap?” tanya Pres. Clarke.
“Kami sudah mempercepat pengerjaannya,” kata Jend. McKenna,
“dalam satu bulan akan sudah bisa digunakan,”
“Sebaiknya usahakan lebih cepat lagi, Jenderal,” kata Pres. Clarke,
“bila memang Cina akan ikut berperang melawan kita, mungkin hanya ‘mereka’-lah satu-satunya harapan kita untuk meredam gelombang kemajuan serangan Cina ke Laut Cina Selatan,”
“Baik, Tn. Presiden,” kata Jend. McKenna.
“Selamat malam, Jenderal,” kata Pres. Clarke.
Pintu Oval Office pun tertutup, meninggalkan Pres. Clarke sendiri di ruangannya. Sejenak kemudian, Pres. Clarke membuka koran dan membacanya dengan raut muka ringan.
Bina Graha
10.03 WIB
H minus 24:56:00
Presiden Chaidir keluar dari ruangan tempur, yang langsung disongsong oleh Arfa. Wajah Pres. Chaidir mengisyaratkan ada sesuatu hal amat berat yang saat ini tengah mengganggu pikirannya. Arfa mengerti soal ini, dan dia tahu bahwa masalah yang saat ini tengah mengganggu pikiran sang presiden bukanlah masalah yang main-main. Tak ada presiden atau pemimpin negara mana pun yang ingin menyeret negerinya ke dalam sebuah peperangan, apalagi tak ada ketentuan atau kepastian kapan perang ini, andainya pun terjadi, akan berakhir.
“Pak Presiden,” kata Arfa,
“apa kata Ketua DPR dan MPR?”
“Mereka memanggil semua anggota DPR dan MPR untuk melakukan sidang darurat menyikapi masalah ini,” kata Pres. Chaidir,
“dan diharapkan sidang akan berlangsung secepatnya menjelang waktu dhuha ini,”
“Tapi ini gila, bersidang? Pada saat seperti ini?” tanya Arfa.
“Mereka memiliki prosedur protokoler yang harus ditaati, Arfa,” kata Pres. Chaidir.
“Ya, tapi apakah Anda sudah mengatakan pada mereka betapa gentingnya situasi yang saat ini tengah kita hadapi?” tanya Arfa,
“kita tak bisa menunggu mereka untuk selesai bersidang, di bawah kekhawatiran bahwa sewaktu-waktu Armada Australia bisa berubah pikiran dan menyerang Armada kita di Samudera Indonesia,”
“Aku tahu, kita memang tak bisa menunggu,” kata Pres. Chaidir,
“dan kita juga tak akan menunggu,”
“Maksud Anda?” tanya Arfa.
“Sebarkan perintahku, siagakan seluruh Komando Daerah Militer dan pangkalan militer kita di seluruh Indonesia, terutama yang ada di Selatan,” kata Pres. Chaidir,
“aku juga sudah meminta seluruh menteri untuk hadir dan mengadakan rapat kabinet darurat,”
“Pak, Anda akan bergerak tanpa kewenangan dari DPR-MPR?” tanya Arfa.
“Presiden memiliki kewenangan untuk menyatakan perang atau menggerakkan sebuah operasi militer selama 2x24 jam,” kata Pres. Chaidir,
“bila mereka bijaksana, mereka akan sudah memutuskan sesuatu dalam selang waktu itu; dan semoga saja itu keputusan yang bijaksana juga,”
Pres. Chaidir menatap Arfa dalam-dalam. Ada sesuatu di mata Arfa yang menunjukkan bahwa Arfa tengah mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Pres. Chaidir tentu tahu sebabnya, karena Arfa-lah yang merancang strategi perang melawan Australia, atau Warplan C. Jadi tentu Arfa tahu apa yang akan terjadi bila Indonesia memutuskan untuk berperang melawan Australia, dan jelas apa pun itu, bukanlah hal yang dia sukai. Apalagi sebagaimana termaktub dalam Warplan C, Indonesia diharapkan bisa mengalahkan Australia dengan perang panjang sembari menghemat sumber daya tempur mereka, namun semua rencana itu tidak akan berarti bila Amerika Serikat turut berperang; hal yang justru saat ini amat meresahkan Arfa.
“Kita akan melalui ini,” kata Pres. Chaidir.
Pres. Chaidir pun menepuk pelan pundak Arfa, sementara Arfa hanya mendengus dengan berat dan perlahan.
“Dan bagaimana dengan rakyat?” tanya Arfa,
“jika kita ingin menuju ke sebuah peperangan, maka mereka berhak untuk tahu,”
“Aku tahu, aku sudah bilang kepada Widya untuk mengumpulkan semua insan pers, dan Istana Merdeka akan mengadakan konferensi pers setengah jam dari sekarang,” kata Pres. Chaidir,
“dalam hal ini, katakan kepada kapten-kapten kapal di sana mengenai keadaan sebenarnya yang tengah kita hadapi, dan jangan ada yang ditutup-tutupi,”
“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa pelan,
“tapi bagaimana dengan Russia? Kapal mereka ada di sana, dan mau tak mau, mereka akan terlibat,”
“Aku sudah meminta Dubes Shalimov untuk menemuiku langsung setelah konferensi pers, aku akan menjelaskan keadaannya,” kata Pres. Chaidir,
“dan bila perlu, aku akan katakan sendiri kepada PM Chagayev dan Presiden Mostovoi,”
Arfa pun mendengus nyaris tak kentara ketika Pres. Chaidir berlalu. Apa pun yang dikatakan oleh Pres. Chaidir, tak ada yang mampu meredakan kegalauan di dalam hatinya. Bahkan seandainya semua dukungan sudah diberikan oleh pihak Russia, meski itu oleh PM Bilyat Chagayev atau Presiden Konstantin Mostovoi sendiri sekalipun, apa yang ada di dalam hati Arfa tak akan berubah. Meningkatnya ketegangan yang ada di Samudera Indonesia antara Indonesia dengan Australia tak terelakkan lagi menjadi pusat perhatian dari negara-negara besar dunia. Moskwa dan Washington DC, bahkan tak menutup kemungkinan Beijing pun mungkin tengah mengamati perkembangan dari memanasnya keadaan ini.
Asia Pasifik, seperti yang selalu Arfa tekankan dalam setiap penjelasannya, merupakan “lingkaran api”. Ini bukan hanya merujuk pada alur pegunungan Sirkum Pasifik yang memang membentang mulai dari Andean, Trans-Mexico, Anahim, Kam***a, Okhotsk-Chukotka, Jepang, Izu-Bonin-Mariana, Filipina, Indonesia, Selandia Baru, hingga berakhir di Antarktika; melainkan juga mengacu bahwa wilayah Asia Pasifik dikelilingi oleh negara-negara pemilik “api”, alias senjata nuklir. Mulai dari Amerika Serikat di barat, lalu Russia, Korea Utara, dan Republik Rakyat Cina, masih ditambah dengan India yang memang letaknya dekat dengan Asia Pasifik. Dengan kekuatan nuklirnya, bersama-sama, kelima negara itu mampu memengaruhi wilayah-wilayah di dalam lingkaran Pasifik, belum bila ditambah negara-negara Asia Pasifik yang berafiliasi kepada salah satu negara pemilik nuklir tersebut.
Fakta ini membuat Arfa, yang turut dalam pembahasan Warplan Indonesia, dalam kata akhirnya selalu menekankan supaya Indonesia menghindari perang setidaknya dalam 25 tahun ke depan. Pada saat itulah dalam perencanaan jangka panjang, reorganisasi militer diharapkan sudah selesai dengan Indonesia punya kemampuan penuh untuk “bertahan dalam perang konvensional berskala besar”. Disebut bertahan karena doktrin perang Indonesia memang tak mensyaratkan untuk memulai perang secara disengaja, namun sedikit banyak doktrin ini dilanggar ketika Indonesia memutuskan untuk turut campur dalam Krisis Serawak. Kemampuan Indonesia melakukan penyerangan hingga ke Miri boleh dibilang cukup menjadi perhatian yang serius bagi semua negara yang berkepentingan di Asia Tenggara. Saking pentingnya hingga Presiden Zakaria pada saat itu sampai mengumpulkan semua kepala negara ASEAN (termasuk PM Malaysia Datuk Mohammad Noh Syafi’i Rajab) untuk menjelaskan keperluan Indonesia dalam intervensi di Serawak. Meskipun krisis ini berhasil diselesaikan melalui mediasi ASEAN dan PBB, tak pelak Serawak membuka perspektif baru mengenai kemampuan tempur Indonesia setelah terakhir kali Indonesia melakukan intervensi pada Krisis Integrasi Timor-Timur.
Tapi perspektif itulah yang kini menjadi musuh bagi Arfa saat ini. Di sisi lain, sebagai faktor deteren tentu saja maksud itu sudah terpenuhi, namun di saat ancaman perang menjadi amat nyata seperti saat ini, beberapa kenyataan pahit pun menyeruak. Ya, dalam pandangan Arfa saat ini memang Indonesia belum siap untuk konflik berskala besar, apalagi bila melibatkan negara-negara besar yang memiliki kemampuan militer yang berpuluh kali lebih hebat. Invasi tak bisa dilawan dengan gerilya saja, dan tank pun tak bisa dilawan dengan bambu runcing. Beberapa pameo yang akhirnya menjadi mitos semenjak zaman perjuangan pun kini mulai terasa menyerang balik. Apalagi potensial musuh di belakang Australia bukanlah main-main, Amerika Serikat, negara pemenang dua kali Perang Dunia, pemilik Armada laut terbesar di dunia, sekaligus pemenang dalam berbagai macam konflik baik simetris maupun asimetris. Dan negara ini merupakan sekutu lama Australia yang sudah bermula semenjak Perang Dunia I berpuluh-puluh tahun lalu. Bila Amerika Serikat pernah “mengkhianati” Belanda dalam krisis Trikora, kecil kemungkinan untuk mengkhianati Australia, sekutu lama yang telah sedemikian setia mendampingi Amerika Serikat dalam setiap kampanye perangnya. Dan keyakinan akan itu menebal di sanubari Arfa setelah menerima sadapan pesan rahasia dari Washington DC. Tapi apa isi pesan itu?
Parliament House
Canberra, Australia
13.06 AEST (10.06 WIB)
H minus 24:53:00
Perdana Menteri Phillip Andrews duduk gontai di dalam ruangan saat sidang parlemen Australia mengalami reses setelah pagi yang amat melelahkan. Dikatakan melelahkan karena hingga reses ini, parlemen belum memutuskan apakah insiden kapal Australia akan berujung pada perang atau hanya sekadar menghasilkan nota protes belaka. Bahkan pendapat di kalangan anggota parlemen pun berbeda-beda, dan sudah sejak beberapa hari mereka belum memutuskan apa-apa, membuat masalah ini buntu dari segi politik, meskipun Armada Timur sudah dikirimkan untuk melakukan pencegahan di ground zero.
Opini terutama pecah di antara dua partai utama Australia, yaitu Partai Buruh dan Partai Koalisi Liberal/Nasional. Partai Buruh menginginkan keseluruhan permasalahan antara Indonesia dengan Australia ditinjau dan diadakan investigasi menyeluruh atas insiden di Samudera Indonesia antara HMAS Pitcairn dengan “Kapal X”. Sementara Koalisi Liberal/Nasional yang dimotori oleh tokoh-tokoh konservatif meminta pemerintah Australia untuk bertindak tegas mengingat penyerangan kapal perang yang membawa nama “Australia” dan Sri Paduka bukanlah perkara yang bisa dianggap sepele, apalagi penyerangan dipercaya dilakukan di wilayah perairan Australia. Pendeknya, Partai Buruh menginginkan peredaman ketegangan, sementara Koalisi Liberal/Nasional menghendaki tindakan tegas yang bisa diartikan pula perang apabila perlu. Partai-partai kecil pun mengambil sikap mereka sendiri-sendiri walau sebagian besar condong kepada salah satu dari dua kubu. Partai Hijau menyarankan perundingan bilateral antara kedua negara dengan perantaraan negara ketiga di tempat netral, misalnya di Jenewa atau Den Haag; sementara Partai Kristen Demokrat condong untuk menunggu sikap dari sekutu-sekutu lama Australia: Inggris dan Amerika Serikat sebelum memutuskan untuk berperang atau tidak.
Sebagai salah seorang politisi yang memiliki pengalaman di Asia, PM Andrews memang condong pada opsi untuk berdamai dengan Indonesia dan mencegah peperangan sejauh mungkin, karena seperti halnya Pres. Chaidir, PM Andrews pun tahu bahwa Indonesia merupakan poros keseimbangan terpenting di Asia-Pasifik. Dengan Russia dan Cina yang kini mulai memperkuat pengaruhnya di wilayah Asia-Pasifik, posisi Indonesia menjadi amat krusial, yang membuat PM Andrews menerapkan politik luar negeri yang pro-Asia. Perang dengan Indonesia secara otomatis sama saja memberi alasan bagi Cina untuk segera turun tangan ke Asia Tenggara, yang ini cukup berbahaya mengingat kepentingan Australia sendiri juga terancam. Apalagi selama ini Indonesia cukup menikmati perannya sebagai penyeimbang, dan sejak masa kekuasaan dua presiden terakhir, Indonesia berusaha mendapatkan hasil yang luar biasa dari perannya tersebut. Artinya, Indonesia secara militer saat ini hampir setara dengan Australia bila tak lebih baik, mengingat sederet armada bomber strategis yang dimiliki oleh Indonesia sekarang. Perang hanyalah opsi yang bodoh.
Tapi bagaimana bila ternyata perang itu diperlukan? Bila akhirnya parlemen memutuskan untuk berperang, maka PM Andrews tak bisa lagi untuk mengelak. Namun masalah PM Andrews bukan hanya dari parlemen Australia sendiri. Sri Paduka tidak senang dengan hal itu, itulah kabar terakhir dari London yang diterima oleh PM Andrews. London sudah menghimbau pada Canberra untuk segera melakukan tindakan nyata, yang bila diterjemahkan sama saja seperti Inggris meminta Australia untuk berperang dengan Indonesia. Bagi London, penyerangan sebuah kapal yang membawa nama Sri Paduka jelas bukan masalah yang sepele, yang oleh pihak London sendiri dianggap sebagai “pelecehan besar”. Sikap keras London ini membawa masalah dalam pertimbangan PM Andrews. Masalah pertama adalah bahwa Inggris sendiri belum bisa menjamin akan membantu Australia dalam konflik bersenjata melawan Indonesia. PM Andrews sendiri bahkan tak yakin Inggris mampu berpartisipasi bila saatnya memungkinkan. Inggris sekarang bukan lagi Inggris yang dulu yang menguasai lautan dan pemenang dua Perang Dunia. Akibat resesi dunia bertahun-tahun berselang, kekuatan militer dan politis Inggris semakin melemah, dan berkurang pula reaksi Inggris untuk menangani konflik secara cepat di belahan dunia lain. “Matahari sudah terbenam di Kerajaan Inggris Raya”, begitu tulis salah satu koran sosialis di Inggris menyikapi keadaan Inggris sekarang. Serawak adalah bukti ketidakmampuan Inggris melindungi kepentingan dominion-nya, mengingat lambatnya reaksi Inggris yang membuat pemberontakan RRIM semakin menjadi-jadi; Serawak pula yang menjadi penyadaran atas kemampuan militer Indonesia pada saat ini. Dan itulah yang menjadi masalah kedua, karena sikap Inggris ini (yang walau pun dimengerti lebih berupa gertakan daripada serangan sesungguhnya) mampu memberi dorongan bagi kaum konservatif untuk mendesak perang dengan Indonesia. Mereka masih yakin bahwa Inggris akan dengan cepat membantu Australia dalam konflik dengan Indonesia, dan bahwa kekuatan gabungan Inggris-Australia akan menaklukkan Indonesia sebelum Cina atau Russia turut campur. Harapan yang kosong, tapi justru itu yang dijadikan sebagai kartu truf, dan akibat desakan London ini, beberapa fraksi di parlemen yang semula netral atau memilih menghindari perang pun mulai goyah dan mempertimbangkan untuk mengalihkan suaranya mendukung Koalisi Liberal/Nasional. Bila itu benar-benar terjadi, dan Australia benar-benar harus berperang dengan Indonesia, apakah kali ini Inggris bisa datang tepat waktu, tak seperti yang terjadi di Serawak?
Suasana dalam ruangan pun menjadi amat tegang bagi PM Andrews, dengan desakan untuk perang yang semakin menguat, PM Andrews mulai kehabisan pilihan. Satu-satunya kartu truf yang benar-benar bisa dipakai dalam keadaan seandainya perang benar-benar terjadi adalah sekutu lama mereka, Amerika Serikat. Ya, itu adalah pilihan paling logis dalam hal ini, Amerika Serikat memiliki 2 Armada di Pasifik dan 1 Armada di Samudera Hindia yang masing-masing bisa mengepung posisi Indonesia secara efektif. Bila Australia turut berperang, maka pengepungan itu akan jadi sempurna. Gabungan dari kapal-kapal induk raksasa Amerika Serikat beserta puluhan kapal berpeluru kendali miliknya akan mampu menaklukkan Indonesia dalam tempo yang tak lama. Belum lagi bila Amerika juga mengerahkan pasukan dari negara-negara klien-nya seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Sekarang tinggal menunggu bagaimana sikap dari Amerika Serikat. PM Andrews yakin bahwa masalah ini pasti tak akan luput dari pengamatan Gedung Putih. Satu-satunya yang diharapkan adalah bahwa Amerika Serikat tetap berpegang pada prinsip keseimbangan kekuatan di kawasan Asia-Pasifik, walau pun sebenarnya PM Andrews dalam hal ini kurang bisa mempercayai presiden Amerika Serikat yang sekarang, Herbert Clarke, yang konon berasal dari keluarga pemuka ex-Ku Klux Klan dan memiliki sedikit pandangan ultranasionalis.
“Mr. Andrews, Sir,”
PM Andrews terkejut dipanggil seperti itu yang membuat semua lamunannya buyar. Seorang ajudan sudah berada di dekatnya dan memanggilnya.
“Ada apa, George?” tanya PM Andrews.
“Sir Walcott meminta Anda menemuinya saat ini juga,” kata George,
“ada hal penting yang harus beliau bicarakan pada Anda tanpa bisa menunggu,”
“Baiklah, mari George,” kata PM Andrews sambil bangkit dari tempat duduknya.
Diiringi oleh George, PM Andrews berjalan ke ruangan Sir Walcott, yang tak bisa disembunyikan, dia merasa merasa sedikit gusar. Walaupun PM Andrews merupakan perwakilan dari rakyat Australia, namun Sir Walcott, sebagai Gubernur Jenderal, merupakan perwakilan dari kehendak Sri Paduka di London atas Australia. Dalam artian, maka semua permasalahan negara yang dihadapi oleh Australia, terutama berkaitan dengan hubungannya dengan negara luar, Sir Walcott-lah yang sebenarnya paling berhak untuk memutuskan, termasuk di antaranya adalah menyatakan perang.
“Sir Walcott, Mr. Andrews sudah di sini,” kata George begitu sampai di ruangan Sir Walcott.
“Terima kasih, George, sekarang tinggalkan kami berdua,” kata Sir Walcott.
George membungkuk sedikit untuk memberi hormat, kemudian menutup pintu ruangan, meninggalkan PM Andrews untuk bersama dengan Sir Walcott. Dilihat dari raut wajah Sir Walcott, PM Andrews bisa menduga hal yang buruk tengah terjadi.
“Ada perkembangan apa, Sir Walcott?” tanya PM Andrews.
“Aku baru saja mendapat pesan diplomatik, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott sambil meletakkan secarik kertas di atas meja,
“dan pesan ini tak bisa kita abaikan,”
PM Andrews berjalan mendekati meja Sir Walcott kemudian mengambil kertas yang disodorkan oleh Sir Walcott tadi.
“Dari London?” tanya PM Andrews.
“Bukan, dari Gedung Putih,” kata Sir Walcott,
“dari Presiden Clarke sendiri,”
“Pernyataan simpatik?” tanya PM Andrews lagi.
“Kusarankan kau membacanya, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott.
Dengan tenang, PM Andrews pun membaca pesan dari Pres. Clarke yang sepertinya ditujukan untuknya dan Sir Walcott. Beginilah bunyi pesan itu, pesan yang sama yang sebelumnya telah berhasil diintersep oleh Indonesia dan dibaca oleh Arfa.
“Saudaraku, Bangsa Australia. Permasalahan yang terjadi antara Indonesia dengan Australia tak luput dari pantauan kami di Washington. Dan prospek perang antara Australia dengan Indonesia menjadi perhatian kami yang amat serius, mengingat peperangan antara kedua negara di kawasan Asia akan membuat stabilitas kawasan, yang mana ini merupakan tujuan dari kita semua, akan terganggu. Ketakutan terbesar dari Gedung Putih adalah bahwa peperangan ini akan menarik Cina untuk ikut dan kemudian memicu terjadinya efek domino yang akan menyebabkan perang dunia baru di Asia, yang mana itu bukan sesuatu yang kita semua butuhkan saat ini. Oleh karena itu, kami meminta supaya Australia bisa bertindak dengan arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah ini, bila memang Indonesia tak mampu menunjukkan sikap yang sama. Bagaimanapun, Amerika Serikat mengerti bahwa masalah ini bukan jenis yang bisa dianggap lalu begitu saja. Penenggelaman sebuah kapal perang milik negara jelas bukan merupakan sebuah ketidaksengajaan, dan oleh karena itu, maka Amerika Serikat pun memaklumi apabila Australia hendak menuntut pertanggungjawaban yang serius. Beberapa pejabat dari lintas departemen secara khusus mencemaskan mengenai kehadiran kapal perang Russia di daerah konflik. Apakah kapal perang Russia tersebut benar-benar datang dalam misi kemanusiaan ataukah ada agenda tersembunyi dari kedua negara untuk melawan Australia? Diperkirakan bahwa semua hal terlalu rapi untuk bisa disebut sebagai kebetulan besar. Mengenai apakah Indonesia mampu menggelar sebuah skenario untuk memancing Perang Dunia, amatlah diragukan. Namun Russia lebih dari mampu untuk melakukannya. Bila memang Australia menginginkan, dan bila situasi berubah menjadi tak terkendali serta perang memang harus meletus, maka Amerika Serikat akan menghormati kesepakatan yang telah dibuat jauh pada masa yang telah lampau, dan sekali lagi akan bertempur di sisi Australia sebagaimana dukungan yang kami berikan saat Australia berperang melawan kekuatan fasis Jepang berpuluh-puluh tahun silam. Persekutuan Australia dan Amerika Serikat terbukti berjaya dalam melewati dua Perang Dunia, dan kami yakin masih akan berjaya dalam menghadapi perang dunia yang berikutnya. Maka kami berharap Australia tak akan ragu lagi dalam mengambil tindakan dan keputusan apa pun, karena Amerika Serikat akan mendukung setiap keputusan yang diambil, meskipun bila itu artinya membawa kedua bangsa kita untuk berperang dengan Russia dan Cina. Semoga Tuhan memberkati kita.”
PM Andrews meletakkan kertas itu di atas pangkuannya, kemudian dia menyandarkan punggungnya di kursi, seolah kini sebuah beban amat berat baru saja dijatuhkan di atasnya.
“Ini bukan pesan, Sir Walcott,” kata PM Andrews,
“ini adalah cek kosong,”
“Ini adalah pernyataan sikap dari sekutu lama kita, dan sepanjang pengetahuanku, banyak yang menantikan jawaban yang diberikan oleh pesan ini,” kata Sir Walcott,
“karena itu aku akan mengungkapkannya ke Parlemen, Mr. Andrews,”
“Apa?? Sir Walcott, kau mau memicu perang??” tanya PM Andrews.
“Seingatku kaulah yang akan mengotorisasi apakah Australia akan berperang atau tidak,” kata Sir Walcott.
“Tapi bila Parlemen memutuskan untuk berperang, saya tak bisa menolaknya, Sir Walcott!” jerit PM Andrews.
“Parlemen akan memutuskan yang terbaik, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott,
“dan mereka akan bisa melakukannya bila diberikan informasi yang cukup, dan pesan ini terlalu penting untuk disembunyikan dari Parlemen,”
PM Andrews terduduk gontai di atas kursinya. Kepalanya kini terasa amat sangat berat dan migrainnya mulai kambuh.
“Setidaknya beri waktu sebentar lagi, Sir Walcott,” kata PM Andrews mengiba.
“Kau tahu dari awal tak pernah ada banyak waktu, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott,
“proses pengambilan keputusan akan menyita banyak waktu dan bila pesawat pembom Indonesia berhasil sampai ke Canberra sebelum keputusan diambil, maka celakalah kita,”
Sir Walcott dan PM Andrews pun saling berpandangan selama sejenak.
“Kau tahu aku pun tak menyukai adanya perang, Mr. Andrews, tapi keinginan rakyat tak bisa dibantah,” kata Sir Walcott,
“bila Parlemen memutuskan bahwa Indonesia harus menjawab atas kehilangan kita maka biarlah mereka menjawabnya,”
“Aku tak ingin mengambil keputusan gegabah, Sir Walcott,” kata PM Andrews,
“setidaknya aku tak ingin bahwa perang terhebat dalam sejarah Australia akan terjadi pada masa kepemimpinanku,”
“Aku juga, tapi kita tak punya banyak pilihan sekarang,” kata Sir Walcott,
“Parlemen akan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, jadi sebaiknya kau pun melakukan hal yang sama, Mr. Andrews,”
Sir Walcott pun segera mengambil pesan dari Pres. Clarke itu dari hadapan PM Andrews, kemudian setelah menepuk pundak PM Andrews dengan tegas dan pelan, dia pun berjalan menuju pintu keluar sementara PM Andrews masih duduk dengan gontai dan lesu.
“Semoga Tuhan memberkati kita, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott sesaat sebelum pergi dan menutup pintu.
Pintu tertutup dan suasana sepi langsung menyergap diri PM Andrews. Dalam kesunyian, PM Andrews menatap ke peta dunia besar yang tergantung di dinding, dan berulangkali memindahkan pandangannya dari gambar Australia ke gambar Indonesia. Belum pernah dalam sejarah kedua negara berada begitu dekat dengan bahaya peperangan.
“God save Australia,” gumam PM Andrews.
Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
10.10 WIB
H minus 24:49:00
Waktu bagi Lucia terasa berhenti, dan saat tersadar, dia masih ada di dalam ruangan yang terkunci ini, bersama dengan beberapa orang dan sepucuk pistol terarah di hadapannya. Cepatnya semua kejadian ini membuat Lucia merasa seolah bermimpi. Jelas bukan mimpi yang baik, dan bila dilihat dari keadaannya, lebih mirip seperti menambahkan bubuk cabai ke dalam sup yang sudah terlalu pedas.
Otak analisa Lucia yang telah terasah sebagai jurnalis pun terus berpikir menganalisa situasi walaupun dia tak menginginkannya. Glock 19 memiliki 10 peluru, dan peluru yang ada di pistol itu lebih dari cukup untuk semua orang. Ridwan Juhari memegang pistolnya dengan santai dan mantap, pertanda dia sudah pernah menggunakannya sebelumnya bahkan untuk menodong orang. Jika ditambah posisi jarinya yang juga mantap dekat dengan trigger guard, jelas bahwa orang ini pun tak keberatan bila harus menembak dan membunuh orang; mungkin dia memang pernah melakukannya juga.
Posisi berdiri Ridwan Juhari juga cukup mantap, santai, dan tak menunjukkan adanya ketegangan sama sekali. Bila diingat kembali, inilah pertama kalinya Lucia melihat Ridwan Juhari santai pascapenyerangan itu, seolah-olah hal ini sudah lama dia nanti-nantikan. Dia berdiri bersandar pada dinding yang kokoh sehingga menguatkan posisinya. Tak mungkin ada yang bisa menyerangnya dari belakang, dan tak akan bisa karena pintu sudah terkunci. Satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan berhadapan secara frontal, tapi bila yang dipikirkan oleh Lucia tadi benar, itu sama saja cari mati. Lucia mendengus agak keras, seolah mereka sudah kekurangan opsi cara mati saja kalau begini keadaannya.
“Siapa Anda?” tanya Lucia tiba-tiba.
Bahkan Lucia sendiri heran mengapa dia tiba-tiba punya keberanian untuk membuka sebuah pembicaraan.
“Aku utusan dari DPR, aku tak akan menyangkal itu, karena memang itulah aku,” kata Ridwan Juhari.
“Yang juga mata-mata?” tanya Lucia setengah menegaskan.
“Aku tak akan menyebutnya begitu, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari santai.
“Ya, kau memang mata-mata!” hardik Lucia,
“kalau tidak untuk apa kau melakukan ini?”
Mungkin inilah puncak dari semuanya bagi Lucia. Dia amat geram sekali bahwa pada posisi seperti ini di mana semua orang tengah menghadapi kematian, masih ada saja orang yang membuat ulah.
“Tenanglah, Nn. Lucia, tak perlu berkata kasar, bukan? Untuk kau tahu, aku memang utusan DPR, dan aku tidak bangga atas itu,” kata Ridwan Juhari,
“walau memang kuakui sebagai utusan DPR aku menikmati beberapa hal yang tidak kalian nikmati, seperti pemeriksaan yang tak terlalu ketat; walau aku pun kini tahu bahwa lebih mudah menyelundupkan pistol perbagian daripada seluruhnya dalam bentuk pistol,”
“Kenapa kau mau repot-repot untuk masuk ke dan ikut dalam pelayaran kapal selam ini sementara kapal selam ini dibombardir oleh kapal musuh,” kata Lucia,
“atau jangan-jangan kau yang membocorkan lokasi kapal selam ini pada musuh?”
“Bukan aku yang membocorkan soal kapal selam ini, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari,
“semuanya bisa terjadi karena memang berjalan seperti rencana,”
“Rencana? Rencana apa?” tanya Lucia,
“aku tak percaya semua kata-katamu,”
“Dalam keadaan seperti ini, silakan limpahkan semua kesalahannya padaku,” kata Ridwan Juhari,
“asal kau tahu saja, Nn. Lucia, aku bukanlah dalang, hanya wayang, sama seperti kalian semua,”
Ridwan Juhari mengedikkan pistolnya ke arah Laksma. Mahan dan Letkol. La Masa. Mereka tampak diam saja, tak bereaksi apa-apa, namun dalam sekali lirik, entah kenapa Lucia merasa Laksma. Mahan paham apa yang dikatakan oleh Ridwan Juhari. Hanya saja untuk saat ini, kemarahan dan kegeraman Lucia tengah ditujukan kepada satu orang dan hanya satu orang saja, yaitu dia yang berpistol di hadapannya.
“Siapa yang membayarmu untuk ini, Pak Ridwan?” tanya Lucia.
“Tak ada yang bisa membayarku cukup banyak, Nn. Lucia, jika itu maksudmu,” kata Ridwan Juhari.
“Australia? Cina? Amerika Serikat? Israel?” tanya Lucia,
“berapa bayaran yang kau terima untuk mempertaruhkan hidupmu di sini?”
“Sudah kubilang tak ada yang membayarku,” kata Ridwan Juhari.
“Benarkah? Tak ada yang membayarmu untuk menjadi pengkhianat negaramu?” tanya Lucia.
Mendengar kata-kata terakhir ini, Ridwan Juhari tampak merasa tak nyaman. Seolah dia tak menyukai apa yang Lucia katakan ini.
“Aku bisa jadi apapun, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari,
“tapi aku tak akan menyebut diriku sebagai pengkhianat,”
“Benarkah? Dan yang kau lakukan sekarang ini apa bukan berkhianat namanya?” tanya Lucia.
“Orang yang mencoba untuk berbuat benar dan mengembalikan negaranya ke jalan yang benar!” kata Ridwan Juhari.
Ketenangan yang dari tadi menyelimuti Ridwan Juhari pun sirnalah sudah dan pistol Glock-19 kini dipegang dengan lebih erat dan tegang, mengancam hidup siapa pun yang ditunjuk oleh larasnya.
“Itu hanya pembenaranmu belaka!” kata Lucia,
“katakan yang sebenarnya!”
“Yang sebenarnya? Kau tak akan mampu menerima kebenaran itu, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari,
“mengingat pekerjaanmu di dunia di mana kau harus terus mencari informasi, sepertinya kau tidak tahu apa-apa,”
“Apa yang perlu kutahu?” tanya Lucia.
“Lihat sekelilingmu, Nn. Lucia, ini semua salah,” kata Ridwan Juhari,
“kapal selam sialan ini dari awal adalah sebuah kesalahan!”
“Apa yang salah dari sebuah bentuk…” kata Lucia.
“Berhenti bicara omong kosong soal kemandirian itu, Nn. Lucia! Ini bukan soal apakah kita nantinya akan mandiri atau tidak!” bentak Ridwan Juhari.
Lucia pun terdiam, laras pistol itu tepat mengarah padanya, dan tak bisa dipungkiri bahwa kakinya gemetar melihat pistol itu bisa meletus kapan saja.
“Ada hal yang lebih dari sekedar itu, Nn. Lucia, hal yang selama ini mereka sembunyikan, yang membuat seluruh proyek ini adalah sebuah kesalahan yang amat besar,” kata Ridwan Juhari,
“mungkin hal ini tak kentara, mungkin mereka menyembunyikannya dengan amat rapi, tapi percayalah, kami tahu, kami tahu apa yang disembunyikan,”
“’Kami’? ‘Kami’ siapa?” tanya Lucia.
“Kami adalah yang akan mengoreksi semua kesalahan ini; kami adalah yang tahu apa yang orang lain tidak tahu; tugas kami selama ini adalah untuk menjaga kestabilan dan perimbangan kekuatan yang ada di kawasan,” kata Ridwan Juhari,
“Indonesia adalah negara dengan tanpa musuh, zero enemy, dan demi kestabilan kawasan kami ingin menjaganya supaya tetap seperti itu,”
“Zero enemy bukan berarti kita tanpa pertahanan sama sekali, Tn. Ridwan,” kata Lucia,
“posisi Indonesia terlalu penting untuk bisa ditinggalkan tanpa pertahanan atau dipertahankan oleh alutsista tua yang sudah bobrok yang kalian orang DPR amat enggan untuk menggantinya,”
“Ya, kau dan juga yang lain yang telah teracuni oleh pikiran-pikiran dari Pemerintah; dan kini kalian menjadi anjing Pemerintah sehingga tak bisa melihat di luar apa yang telah diperintahkan,” kata Ridwan Juhari,
“Aku yakin pemerintahmu tak akan bisa menjawab pertanyaan mengapa semua proyeksi alutsista yang dikembangkan sekarang berbeda dari renstra yang diungkapkan ke DPR, itu karena mereka menyembunyikan sesuatu, mereka menyembunyikan apa yang tak ingin DPR dan rakyat tahu, yang pada akhirnya akan menjebloskan seluruh negeri dalam peperangan yang akan terjadi di masa depan, persis seperti ketika Hitler menjebloskan Jerman dalam Perang Dunia II; dan pembenaran kalian hanyalah MEF atau efek deteren atau apalah itu tanpa melihat perkembangan yang sebenarnya tengah terjadi,”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Tn. Ridwan?” kata Lucia.
“Tak perlu kujelaskan, peristiwa beberapa tahun lalu adalah bukti yang amat jelas bagi mereka yang benar-benar berpikir,” kata Ridwan Juhari.
“Krisis Serawak?” tanya Lucia.
“Apa ada bukti yang lebih gamblang dari itu, Nn. Lucia? Ya, Serawak, bukti dari kedigdayaan militer Indonesia; pertama kalinya kita kembali terjun ke Serawak setelah Politik Dwikora, dan kini sejarah kembali berulang,” kata Ridwan Juhari,
“tapi kami tak akan menunggu sampai rakyat kelaparan sementara uang untuk membeli beras kalian pakai untuk membeli bom yang akan dijatuhkan di tanah asing, atau membuat tugu kemenangan yang hanya memuaskan mata, tidak,”
“Dan ada apa dengan kapal selam ini?” tanya Lucia,
“apa hubungan kapal selam ini dengan transformasi ke masa depan yang kau sebutkan tadi?”
“Kapal selam ini adalah elemen penting transformasi ke arah itu, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari,
“karena itulah penting bagi kapal ini untuk dihancurkan beserta seluruh data yang ada di sini; termasuk juga semua orangnya,”
“Termasuk kau?” tanya Lucia.
“Setelah hari ini, aku akan jadi martir, dan Indonesia di masa depan akan lebih menghargai jasaku setelah pemerintahan yang lebih ramah pada kami berkuasa,” kata Ridwan Juhari.
Saat itulah, nyaris tanpa sepengetahuan Lucia, Laksma. Mahan dan Letkol. Ari La Masa tengah berbagi pandangan seolah berbincang tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ridwan Juhari tak menyadari hal ini karena Lucia membuatnya terus sibuk untuk berbicara. Lucia sendiri juga baru menyadarinya saat dia tak sengaja melirik ke arah Letkol. Ari La Masa. Si Kolonel tampak siap untuk menyerang saat ada kesempatan. Tapi jauhnya jarak antara Letkol. La Masa dengan Ridwan Juhari membuat Lucia tak yakin penyerangan itu akan efektif. Harus ada decoy yang lebih hebat dari sekadar manuvernya kali ini yang membuat Ridwan Juhari terus bicara.
Saat itulah Lucia melihat Reza secara sembunyi-sembunyi member isyarat kepadanya supaya tetap mengajak Ridwan Juhari berbicara. Hanya wartawan yang akan live saja yang mengerti isyarat semacam itu, dan itu keuntungan baginya. Sambil dia melirik ke arah sebuah alat yang dikenali oleh Lucia sebagai alat uji yang membuat suara berdenging keras saat Lucia mencobanya beberapa waktu lalu, dan Lucia pun paham maksudnya.
“Kenapa harus seekstrem itu? Kapal ini bisa saja tenggelam dengan sendirinya tanpa kau harus ikut campur,” kata Lucia.
“Aku harus memastikannya,” kata Ridwan Juhari.
“Kenapa? Kenapa sampai kau harus memastikannya?” tanya Lucia.
“Kau belum mengerti juga rupanya ya? Bahkan setelah melihat semua isi kapal selam ini?” tanya Ridwan Juhari.
Lucia hampir saja mengatakan apa yang tempo hari dikatakan oleh Laksma. Mahan, tapi dalam sekali lirik pada Laksma. Mahan, dia tampak keberatan bila Lucia mengatakannya, sehingga Lucia tetap menutup mulutnya, dan membiarkan Ridwan Juhari terus berbicara.
“Biar kukatakan sekarang supaya kau tak mati penasaran, Nn. Lucia,” kata Ridwan Juhari,
“bulu, batang kayu, dan batu api tak berarti apa-apa bila terpisah, tapi bila disatukan, mereka akan menjadi anak panah,”
Reza tiba-tiba memberi aba-aba berhenti dan dengan kilat menyalakan alat uji itu. Lucia langsung berteriak yang otomatis membuat alat itu mengeluarkan lengkingan yang memekakkan telinga. Tanpa menduga “serangan suara” itu, Ridwan Juhari menutup satu telinganya, membuat posisinya limbung sejenak. Keadaan itu segera dimanfaatkan oleh Letkol. La Masa untuk melompat dan menerjang Ridwan Juhari. Panik, Ridwan Juhari pun menembak sekenanya dan peluru memantul liar di ruangan kecil itu.
“Tiarap!!” teriak Laksma. Mahan yang langsung diikuti oleh semua orang, karena peluru dari pistol Glock-19 Ridwan Juhari ber-rikoset secara brutal, mengincar siapa pun yang berada di dalam lintasannya.
Sebuah bogem mentah didaratkan Letkol. La Masa di wajah Ridwan Juhari, membuatnya limbung, dan sekali lagi pistol ditembakkan ke atas yang kembali ber-rikoset liar. Lucia dan yang lain berbaring nyaris rata dengan lantai sambil tangan ditangkupkan di atas kepala. Berdoa supaya mereka tak jadi korban dari peluru yang liar.
Pukulan demi pukulan dilancarkan, dan kini Letkol. La Masa bergumul dengan Ridwan Juhari untuk memperebutkan pistol yang dia pegang. Dia tahu bahwa selama pistol itu masih dipegang oleh Ridwan Juhari, pistol itu masih amat berbahaya. Keduanya bergumul hingga jatuh ke lantai, dan bertarung dengan sengit dengan satu tujuan.
“DOR!!”
Pistol kembali menyalak, tapi anehnya kali ini tak ada peluru yang memantul. Letkol. La Masa melancarkan pukulan kembali ke arah wajah Ridwan Juhari, tepat di mata sehingga membuat Ridwan Juhari limbung sejenak. Disusul pistol pun kembali menyalak dua kali lagi dan seperti tadi, tak ada suara pantulan peluru. Dua kelasi yang tadi tiarap dengan sigap segera bangkit dan maju membantu Letkol. La Masa. Salah seorang kelasi langsung menghujani wajah Ridwan Juhari dengan pukulan bertubi-tubi, membuatnya terlepas dari gumulan dengan Letkol. La Masa, dan kelasi lainnya dengan cepat menendang tangan Ridwan Juhari yang masih memegang pistol hingga si pistol meluncur ke sudut gelap, tak lagi bisa membahayakan orang lain. Berdua mereka berhasil menyeret dan meringkus Ridwan Juhari. Pukulan dan tendangan berikutnya dari kedua kelasi ini akhirnya benar-benar melumpuhkan Ridwan Juhari hingga hanya bisa meringkuk di lantai dengan tubuh babak belur. Salah seorang kelasi lalu membuka pintu yang sedari tadi dikunci, dan masuklah para kelasi lain yang tertarik mendengar bunyi ledakan pistol tadi.
Letkol. La Masa perlahan menyeret tubuhnya ke panel terdekat, dan saat dia menyandar, terlihatlah bahwa bagian depan tubuhnya penuh dengan darah dan ada tiga lubang berhias lingkaran hangus. Jelaslah sudah kenapa tiga letusan pistol terakhir tak menghasilkan peluru yang memantul liar, karena ketiga peluru itu kini sudah bersarang di tubuh Letkol. La Masa. Darah mengalir dari mulutnya saat dia menoleh ke arah Laksma. Mahan yang terpaku penuh kengerian pada apa yang dia lihat.
“Ari!!” teriak Laksma. Mahan yang langsung merangsek ke arahnya dan mendekap Letkol. La Masa dalam pelukannya.
“Kep…” kata Letkol. La Masa lemah sedikit tersedak darah.
Mata Letkol. La Masa menjadi nanar dan semakin redup, saat sinar kehidupan mulai sirna. Dia hanya tersenyum saja sementara rasa dingin mulai menjalar di tubuhnya. Mungkin ini adalah akhir yang dinantikan oleh semua prajurit sejati, mati di ujung peluru musuh. Laksma. Mahan pun menitikkan air mata, berusaha mencegah Letkol. La Masa untuk menutup matanya, meskipun dia tahu bahwa dengan skala luka seperti yang diderita saat ini, hal itu adalah sia-sia belaka.
“Kep… bawa semua orang keluar dari sini, ya… bawa semua orang keluar dengan selamat,” kata Letkol. La Masa dengan terbata-bata, seolah tengah berpacu dengan sesuatu.
Tarikan nafas Letkol. La Masa terasa amat kasar, dan sebagian terkotori dengan sedakan akibat darah yang mengalir. Lucia yang melihat momen itu pun turut pula menitikkan air mata, entah berapa lama lagi Malaikat Maut memberinya waktu untuk mengucapkan pesan terakhir.
“Ya, Ari, akan kukeluarkan semua orang dengan selamat, termasuk kau juga,” kata Laksma. Mahan dengan putus asa,
“bertahanlah, kita akan cari pertolongan di luar nanti, pasti ada yang bisa melakukan sesuatu.
Letkol. La Masa menggeleng sambil memberi senyum penuh kedamaian, sementara rona wajahnya semakin memucat seiring raut mukanya yang mendingin. Dengan mengerahkan sisa kekuatan terakhirnya, tangannya yang bersimbah darah dia tangkupkan di atas tangan Laksma. Mahan. Tangan itu terasa dingin sedingin es, dan yang tadinya meremas dengan hangat, kini mulai mematung dan kaku.
“Saya sudah keluar, Kep…. Saya sudah bebas,” kata Letkol. La Masa.
Kata-kata terakhir setelah itu hanya berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh Laksma. Mahan, dan Letkol. La Masa pun tak bergerak atau berkata-kata lagi untuk selama-lamanya. Dia kini telah gugur, menyusul puluhan awak kapal KRI Antasena lain yang telah gugur sebelum dirinya. Air mata Lucia meledak saat Letkol. La Masa menghembuskan nafas terakhirnya, sementara Laksma. Mahan bergetar seolah menahan tangis supaya tak meledak. Semua orang di ruangan itu hening seketika. Sers. Andre berdiri dari tiarapnya menatap tubuh tak bernyawa Letkol. La Masa, lalu dengan tubuh gemetaran, dia mengangkat tangannya dan menghormat. Kedua kelasi yang menjatuhkan Ridwan Juhari pun melakukan hal yang sama, diikuti semua orang yang tadi masuk belakangan dan bahkan Reza pun turut pula melakukannya. Sebuah penghormatan terakhir bagi seorang pelaut yang pemberani.
“Selamat jalan dan beristirahatlah dalam damai, Putra Laut,” kata Laksma. Mahan sambil menutup mata Letkol. La Masa. Dan dengan itu, semua pun menurunkan tangan mereka, dan larut dalam haru.
Laksma. Mahan berdiri setelah membaringkan almarhum Letkol. La Masa dengan sepantasnya. Dia tampak agak terguncang dan gemetaran, dan untuk pertama kalinya, terlihat tidak fokus, padahal beliau tetap tegar saat pertempuran tempo hari.
“Sersan Andre…” kata Laksma. Mahan.
“Siap, Kep!” sahut Sers. Andre.
“Siapkan untuk alat sonar seperti sebelum diinterupsi tadi,” kata Laksma. Mahan.
“Siap!” kata Sers. Andre yang langsung menuju ke alat sonar.
“Kep, bagaimana dengan orang ini?” tanya kelasi yang tadi menjatuhkan Ridwan Juhari sambil menunjuk Ridwan Juhari yang masih tersungkur tanpa daya di lantai.
“Soal dia…”
“Berengsek!!!!!” teriak Sers. Andre.
Suara teriakan Sers. Andre memecahkan suasana. Teriakan itu terdengar putus asa, sehingga membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah Sers. Andre.
“Ada apa?” tanya Laksma. Mahan.
“Pelurunya mengenai sistem gerbangnya! Sistemnya sekarang hancur!” kata Sers. Andre.
“Bisa kauperbaiki lagi?” tanya Laksma. Mahan.
“Kita harus membuatnya lagi, dan itu tak bisa dilakukan dalam waktu sebentar!” kata Sers. Andre.
Sers. Andre terduduk di alat sonar sambil meninju frame alat itu dengan penuh kefrustrasian. Reza pun turut pula terduduk lesu. Semua jerih payah mereka berdua selama berjam-jam tanpa kenal lelah kini musnahlah sudah.
Laksma. Mahan tampak gamang dan ada pancaran kemarahan tertahan yang kentara. Dia dengan gelisah melihat sekeliling, dan akhirnya melihat sebuah kunci inggris besar yang tertinggal setelah dipakai memperbaiki anjungan. Dengan penuh kegeraman, diambilnya kunci inggris itu dan dia berjalan mendekati Ridwan Juhari dengan tangan terayun siap memukulkannya ke kepala Ridwan Juhari.
“Jangan, Laksamana!!” kata Lucia sambil menahan Laksma. Mahan.
“Lepaskan!” bentak Laksma. Mahan.
“Bukan seperti ini, dia tidak pantas untuk ini,” kata Lucia,
“dia akan dihukum untuk ini, tapi dengan hukum yang benar, hukum yang pantas, bukan seperti ini,”
“Aku adalah pemimpin kapal ini, dan itu berarti aku adalah hukum di sini!” teriak Laksma. Mahan penuh dendam,
“sekarang minggir!”
Susah payah Lucia berusaha menahan Laksma. Mahan yang tengah kalap. Agak kesulitan baginya, mengingat Lucia bertubuh kecil sementara Laksma. Mahan tinggi, tegap, dan kekar. Tapi Lucia tetap bergeming dan menahan Laksma. Mahan, karena dia yakin bahwa itu adalah hal benar yang harus dilakukan. Lucia pun memang marah pada Ridwan Juhari yang telah membunuh Letkol. Ari La Masa, tapi dia tak ingin Laksma. Mahan turun derajat menjadi binatang hanya karena dendam.
“Minggir!!” bentak Laksma. Mahan berusaha melepaskan diri dari Lucia.
Lucia tahu bahwa Laksma. Mahan bisa saja melemparnya hingga jatuh tersungkur, dia mampu untuk itu. Fakta bahwa Lucia masih berdiri membuatnya yakin bahwa jauh di lubuk hati, Laksma. Mahan pun masih bergulat melawan kemarahan yang menggelora di dalam hatinya.
“Kau memang kapten dari kapal ini, dan sabdamu adalah hukum,” kata Lucia,
“tapi kau adalah prajurit Republik Indonesia, yang menjunjung tinggi hukum dan peraturan negara ini; apa pun yang kau lakukan, itu akan tercermin balik kepada negaramu, ingatlah sumpahmu, Prajurit!”
Mendengar kata-kata Lucia seperti itu, ajaibnya, Laksma. Mahan menjadi lebih tenang, dan dia seperti komat-kamit beristighfar. Kunci inggris besar yang dipegangnya pun akhirnya dia turunkan, meskipun tak dilepaskan, dan sinar kemarahan yang tadinya berkobar menyala-nyala dari matanya kini mulai memadam.
“Kita akan perbaiki alat itu lalu keluar tepat waktu dari sini, baru kemudian orang ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, semua perbuatannya,” kata Lucia,
“aku bersumpah, kita tak akan biarkan dia atau pun konco-konconya lolos,”
Laksma. Mahan mengangguk-angguk tanda mengerti. Maka Lucia pun melepasnya, yakin bahwa Laksma. Mahan sudah tenang sepenuhnya.
“Sers. Andre, kau bisa perbaiki itu?” tanya Laksma. Mahan.
“Siap, bisa, Kep,” kata Sers. Andre,
“walau mungkin akan memakan sedikit waktu,”
“Lakukan, dan tak perlu kukatakan bahwa nyawa kita semua tergantung pada itu,” kata Laksma. Mahan.
“Siap, Kep!” kata Sers. Andre.
“Kita akan mulai lagi, Sersan,” kata Reza sambil menjabat tangan Sers. Andre, yang disambut oleh Sers. Andre dengan senyuman yakin.
Laksma. Mahan berjalan mendekati Ridwan Juhari, masih dengan kunci inggris besarnya yang menjuntai di tangan. Lucia sempat khawatir Laksma. Mahan bisa saja berubah pikiran dan membunuh Ridwan Juhari, tapi dia yakin itu tak akan terjadi.
“Setelah kita keluar dari sini, kau akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu, mau utusan DPR atau bukan, Angkatan Laut akan memastikan bahwa kau tak akan bisa lolos,” kata Laksma. Mahan.
Samar-samar, mereka semua mendengar suara tawa terkikik dari Ridwan Juhari. Aneh, dengan keadaan nyaris sekarat akibat babak belur begitu, tak ada raut kekalahan, hanya ada suara tawa nyaris tak terdengar dari Ridwan Juhari.
Ridwan Juhari pun mendongakkan kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang sudah babak belur akibat dihajar sana-sini. Dia perlahan-lahan coba mengangkat tubuhnya, tapi gagal karena seluruh tulangnya terasa rontok. Tangannya memegang dadanya yang sakit akibat pukulan dan ia pun terbatuk-batuk, mengeluarkan liur merah akibat bercampur darah.
“Tak ada... jalan keluar, Laksamana,” kata Ridwan Juhari,
“kupastikan itu...”
Dengan cepat, tangannya yang ada di dada mengeluarkan sesuatu alat yang semua orang mengenalinya sebagai mirip dengan sebuah kunci alarm mobil. Tapi dalam sepersekian detik kemudian, semua orang pun laksana tersambar petir saat akhirnya sadar alat apa yang dikeluarkan.
“Matilah semua kaum laknat!!!” teriak Ridwan Juhari.
“Tidak!!!” teriak Laksma. Mahan.
Dalam pertunjukan refleks yang berlangsung pada tempo sepersekian detik, Laksma. Mahan langsung mengayunkan kunci inggrisnya kuat-kuat ke arah kepala Ridwan Juhari. Waktu berlangsung amat lambat, dan diakhiri dengan pukulan kuat yang meremukkan kepala Ridwan Juhari. Darah pun muncrat berhamburan beserta isi kepala Ridwan Juhari yang memancar keluar mengotori lantai dan juga semua orang yang ada di sekitarnya. Tubuh tak bernyawa Ridwan Juhari pun jatuh berdebum di lantai dengan mata membelalak pada kepala yang pecah.
Tapi terlambat, pada tarikan nafas penghabisannya, Ridwan Juhari sempat menekan tombol pada alat yang dia bawa itu: sebuah detonator bom!
“KABOOOM!!!!”
Ledakan keras terdengar hingga anjungan, membuat kapal selam berguncang dan semua orang yang dalam posisi berdiri tak mantap langsung jatuh tersungkur. Suasana pun menjadi gelap gulita.
Istana Merdeka
10.23 WIB
H minus 24:36:00
Arfa terduduk diam mematung di taman di luar Istana Merdeka sementara dunia berputar di sekitarnya. Orang-orang ramai untuk mempersiapkan apa yang akan disebut sebagai “pidato kenegaraan”. Bagi orang yang sudah beberapa hari ini ada di Bina Graha dan mengikuti perkembangan krisis di Samudera Indonesia, termasuk Arfa, sedari awal, ini bukanlah sebuah pidato kenegaraan biasa. Sementara di ruangan lain, para kuli disket yang sudah sejak beberapa hari ini menunggu tanpa adanya kejelasan di depan Istana Merdeka yang tertutup untuk umum, saling bercengkerama dengan penuh keheranan karena tiba-tiba saja mereka disuruh masuk, hanya maksimal 3 orang perwakilan untuk masing-masing media, untuk apa yang disebut sebagai “pernyataan resmi” yang akan dikeluarkan oleh Istana. Tak ada yang tahu apa isi dari “pernyataan resmi” itu, tapi semua orang tampaknya ada yang bisa menduga apa kira-kira yang akan dinyatakan.
Salah satu dari jurnalis yang ada di ruangan itu adalah Uki, yang sedari awal semenjak Anton belum pergi memang sudah ditugaskan ke Bina Graha. Uki belum pulang ke rumah ataupun ke kantor sejak saat itu, memimpin tim NewsTV yang ada di Istana Merdeka. Karena posisi Uki yang sudah amat terbiasa dengan situasi di Istana Merdeka, maka posisi koordinator untuk peliputan krisis ini jatuh ke tangan Andini, setelah Erwina yang seharusnya berada langsung di bawahnya, tak ada di tempat. Bagi Uki yang sudah kenyang makan asam garam dalam dunia peliputan, terutama di kalangan Istana, keseluruhan kasus ini amatlah aneh dan ganjil. Istana yang menutup diri, lalu Erwina yang menghilang.
Sebagai orang NewsTV yang pada tahapan awal mendapat “informasi orang dalam”, dia tentu tahu skenario besar yang terjadi, namun dari awal dia sudah diinstruksikan oleh Tita untuk tak membocorkan kejadian apa yang terjadi kepada rekan pers manapun. Dan instruksi ini dia pegang teguh bahkan pada anggota tim lain yang ada di bawahnya. Posisi para wartawan NewsTV dalam perhelatan kali ini pun tak biasanya ada di samping, padahal biasanya mereka selalu ada di pusat dari semua. Ini supaya Uki tak perlu ditanyai macam-macam lagi oleh semua orang, hal yang dalam beberapa hari ini selalu mengganggunya. Apapun yang akan dinyatakan oleh Istana pada hari ini, firasat Uki mengatakan bahwa itu pasti bukanlah hal yang bagus.
Pada sisi lain dari Istana Merdeka, Arfa masih termenung mematung dengan pikirannya masih mengembara jauh di dunia awang-awang. Benaknya dipenuhi dengan perhitungan-perhitungan akan apa yang terjadi seandainya ini atau itu berlangsung. Yang manapun, tak ada yang sepertinya masuk dalam hitungan Arfa. Hasilnya tak ada yang bagus ataupun sesuai pengharapannya, walau memang sejak awal dia sudah memprediksikannya.
“Kopi?”
Arfa terkejut ketika sebuah aroma wangi kopi yang baru diseduh membuyarkan lamunannya. Sam sudah di sana, dengan segelas kopi panas disodorkan ke depan mukanya. Arfa lalu melihat ke arah Sam, ilmuwan muda ini yang terseret masuk ke dalam semua ini di luar kuasanya. Dan dia masih di sini, bertahan, walau Arfa yakin Sam tahu apa yang akan terjadi selanjutnya misal keadaan memburuk.
“Ya, aku butuh kopi, terima kasih,” kata Arfa.
Sam pun memberikan kopi itu kepada Arfa, yang langsung disambut dengan senang hati. Arfa menghirup pelan-pelan kopi itu, bukan karena panas, lebih karena beban pikiran yang masih menggelayuti pikirannya. Beban itu terasa sedikit lebih ringan seiring dengan hirupan kopi yang membasahi tenggorokannya.
“Aku akan kembali ke ruangan untuk…”
“Tidak, Sam, duduklah di sini sebentar,” cegah Arfa.
Sam agak heran dengan sikap Arfa ini, karena sejak pertama kali bertemu dengan Arfa, dia mengenalnya sebagai seorang “wanita besi”, sosok yang kuat dan tak tertembus apa pun. Tapi saat ini yang dia lihat hanyalah seorang wanita biasa, tak jauh beda dari yang lain.
“Ayo, duduklah di sebelahku,” kata Arfa sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya pada bangku panjang yang dia duduki.
Dengan canggung, Sam pun duduk di samping Arfa, suasana kekikukan yang awalnya amat sangat kentara, tapi menjadi agak mencair ketika Arfa menyunggingkan sebuah senyum kecil, walau setelah itu dia melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya sendiri seolah berusaha menghapus beban pikiran apa pun yang menggelayutinya.
Dari dekat, barulah Sam bisa melihat seperti apa Arfa sebenarnya, seorang wanita yang sebenarnya cantik walau tanpa make up, bibir tipis, lesung pipit yang seringkali terlihat, juga mata yang jernih dan tajam. Namun raut wajahnya mengisyaratkan dia sudah mengalami banyak sekali terpaan waktu, yang mungkin belum seharusnya diterima oleh wanita lain yang sebaya dengannya.
“Katakan padaku, Sam, apa kau siap menghadapi perang dengan Australia?” tanya Arfa.
“Perang?” tanya Sam.
Sam mengangkat bahu saja. Baginya “perang” adalah kata yang hanya dia temukan di buku-buku, juga berita-berita mengenai tempat-tempat yang jauh yang sebagian besar belum pernah dia kunjungi. “Perang” juga hanya muncul pada cerita-cerita yang dulu pernah diceritakan oleh almarhum kakeknya, yang selalu membuainya dalam imajinasi liarnya sebelum dia tidur, tanpa pernah menyangka bahwa suatu hari, dia akan mengalami sendiri berada sedekat ini dari ancaman peperangan.
“Apa yang kulakukan salah, Sam?” tanya Arfa,
“hingga kita bisa terjebak dalam masalah sepelik ini?”
“Sejujurnya, Anda sudah melakukan yang terbaik, Nn. Aryanti,” jawab Sam,
“mengingat bahwa yang kita lakukan sebenarnya adalah menyelamatkan sebuah kapal selam, bukan mengatasi kemungkinan peperangan,”
“Dan itupun juga belum banyak kemajuannya,” kata Arfa.
“Jika Anda terus memimpin sebagaimana yang Anda lakukan, Nn. Aryanti,” kata Sam,
“kita pasti akan berhasil; pasti akan berhasil,”
Arfa menoleh ke arah Sam dan dia tersenyum cerah sebagaimana pelangi yang menembus awan hujan.
“Menurutmu begitu?” tanya Arfa.
“Ya, tentu saja,” kata Sam,
“dan Anda tampak cantik kalau tersenyum,”
“Apa iya?” tanya Arfa sambil tak bisa menyembunyikan mukanya yang mendadak merona merah.
“Ya, dan setelah apa yang kita lalui saat ini, rasanya sebuah senyum cukup pantas untuk membuat hari bersemangat,” kata Sam.
“Hati-hati, Sam, mulutmu terlalu manis,” kata Arfa,
“kalau tak hati-hati, banyak gadis yang akan kau buat patah hati,”
“Maaf,” kata Sam balik tersipu.
Arfa tertawa kecil melihat ulah Sam ini. Yah, mungkin anak muda ini ada benarnya juga, karena Arfa merasa perasaannya sudah sedikit lebih enak setelah dia tersenyum. Dia kemudian meminum kopinya dalam regukan yang lebih banyak, dan seolah sinar surya terbit menyinari kekelaman pikirannya yang tadi mencekam.
“Baik, Sam, setelah ini kembali ke posisimu,” kata Arfa sambil berdiri dari bangku panjangnya dan merapikan blazer yang dia pakai.
“Siap, dan Anda mau ke mana?” tanya Sam.
“Mencegah sebuah perang, sebelum itu benar-benar terjadi,” kata Arfa,
“terima kasih kopinya,”
Arfa memberikan senyuman yang teramat manis bagi Sam, yang membuat Sam bersumpah detak jantungnya mendadak berhenti sejenak sebelum berdetak kembali dua kali lipat lebih kencang. Dengan langkah ringan, Arfa pun bergerak setengah berlari ke dalam Bina Graha.
Sekali lagi Arfa menoleh ke arlojinya, dan dia sadar tak punya banyak waktu, karena dia harus bertemu Pres. Chaidir sebelum beliau mengadakan konferensi pers, yang akan berlangsung sebentar lagi. Karena telah mengenal baik tempat ini, Arfa pun langsung menuju kamar tempat Pres. Chaidir bersiap-siap. Anggota paspampres yang mengawal Presiden pun membiarkan saja Arfa lewat karena selain sudah amat mengenalnya, Presiden pun member perintah supaya kapan saja Arfa dipersilakan lewat setiap kali dia ingin menemuinya.
“Pak Presiden,” kata Arfa langsung setelah memasuki kamar Pres. Chaidir.
Tampak di sana Pres. Chaidir tengah dipersiapkan untuk memberi pernyataan di depan umum oleh para ajudannya. Pres. Chaidir sudah memakai pakaian resmi lengkap yang terbaik dan sekiranya pantas, dan tak lupa sebuah peci berpin Garuda Pancasil disematkan sebagaimana tradisi semua Presiden Republik Indonesia yang pertama kali dicetuskan oleh Bung Karno dulu.
“Aku akan berpidato, Arfa,” kata Pres. Chaidir,
“kuharap kau juga bisa ikut kalau kau mau,”
“Rasanya untuk saat ini di sana tak ada yang membutuhkan keahlian saya, Pak Presiden,” kata Arfa,
“tapi kalau boleh, saya harus bicara dengan Anda,”
“Pers dalam dan luar negeri sudah menungguku, Arfa,” kata Pres. Chaidir.
“Lima menit saja, Pak, saya mohon,” kata Arfa.
Pres. Chaidir menatap Arfa sejenak kemudian mengangguk, dan memerintahkan semua ajudan untuk meninggalkan ruangan itu sehingga hanya tinggal mereka berdua di sana.
“Ada apa?” tanya Pres. Chaidir.
“Waktunya belum terlambat sekarang, Pak,” kata Arfa,
“untuk membuka hubungan dengan Australia dan membicarakan soal perdamaian,”
“Mereka memutuskan kontak dengan kita, Arfa,” kata Pres. Chaidir.
“Kalau begitu buat kontak lagi,” kata Arfa,
“kalau perlu jangan menyerah sampai Canberra bersedia untuk berbicara dengan kita,”
“Lalu untuk apa?” tanya Pres. Chaidir,
“rasanya ini pertama kalinya aku melihatmu mundur dari gelanggang sebelum pertempuran dimulai,”
“Saya bukan mundur dari gelanggang, Pak,” kata Arfa,
“dan pertempuran sebenarnya sudah dimulai semenjak KRI Antasena hilang,”
“Kalau begitu apa maksudmu?” tanya Pres. Chaidir.
“Pak Presiden, perang adalah hal terakhir yang dibutuhkan oleh kedua negara, dan perang ini akan berlangsung panjang dan lama, kita semua tahu itu,” kata Arfa,
“Russia sudah terlibat, dan kini Amerika Serikat turut juga; hanya soal waktu sebelum India dan Cina ikut terjun dalam perang skala besar ini; Asia akan hancur akibat perang ini, dan keputusannya kini ada di tangan kita dan Australia,”
Pres. Chaidir termenung sejenak. Arfa biasanya adalah pribadi yang tak kenal kompromi bila sudah menyangkut masalah kedaulatan negara. Analisanya kali ini pun amat masuk akal juga, tapi bagi Pres. Chaidir, tak ada yang baru dari analisa Arfa kali ini. Itu adalah risiko yang sudah dia mafhumi.
“Dengar, Arfa, aku paham kalau kau takut...”
“Saya tidak takut, Pak Presiden, tapi kita harus memikirkan kepentingan yang lebih besar,” kata Arfa.
“Tidak ada kepentingan yang lebih besar daripada sebuah kapal selam yang membawa nama Republik Indonesia diserang dan ditenggelamkan secara sengaja dan keji!” teriak Pres. Chaidir.
“Tepat sekali, itu yang mereka ingin kita pikirkan,” kata Arfa.
“Mereka? Mereka siapa?” kata Pres. Chaidir.
“Saya masih belum tahu, tapi firasat saya mengatakan ada sesuatu yang aneh dari kasus ini,” kata Arfa.
“Firasat? Kau ingin aku mengambil keputusan hanya berdasarkan firasatmu semata?” kata Pres. Chaidir sengit,
“atau mungkin lebih tepatnya ketakutanmu? Mana buktimu?”
“Saya masih belum punya bukti apapun, Pak Presiden,” kata Arfa,
“tapi apa pun itu, kita belum siap untuk berperang...”
“Kita tak pernah siap untuk berperang, Arfa!” bentak Pres. Chaidir.
Bentakan itu membuat Arfa sedikit gemetaran, tapi dia berusaha untuk tetap bertahan, dengan tangan menumpu pada sebuah lemari kecil untuk mencegahnya merosot turun.
“Pada tahun 1945, kita tak pernah siap untuk berperang melawan tentara Belanda dan Sekutu yang kekuatannya jauh lebih besar, tapi kita tetap berperang,” kata Pres. Chaidir,
“kita tak pernah siap berperang dalam tiap konflik manapun yang kita jalani, Arfa, tapi kita tetap harus berperang; dan itu karena kita tak pernah siap! Tak ada sesuatu yang disebut kekuatan deteren yang bisa kita pakai sebagai perisai antara kita dan peperangan itu sendiri,”
Arfa terdiam sejenak.
“Kau selalu jadi anak asuhku yang paling cerdas, Arfa, dan aku selalu mendengarkan setiap pendapatmu, tapi penasihatku bukan hanya kau seorang, dan aku harus mengambil keputusan secepatnya walau mungkin tidak mengenakkan,” kata Pres. Chaidir.
“Kumohon, Pak Presiden,” kata Arfa.
Pres. Chaidir menatap tajam ke arah mata Arfa, dan walau ada sedikit binar ketakutan di dalamnya, Arfa tetap bertahan untuk tidak berpaling. Menunjukkan bahwa dia amat bertekad untuk mempertahankan pendapatnya soal ini. Pres. Chaidir pun melihat sejenak ke arah arlojinya, menghela nafas, kemudian merapikan jasnya.
“Waktu lima menitmu sudah habis,” kata Pres. Chaidir,
“dan kini seluruh bangsa ini membutuhkanku,”
Pres. Chaidir pun berjalan ke pintu keluar, dan ketika melewati Arfa, dia menyempatkan untuk menepuk pundak salah satu penasihat terpercayanya ini. Arfa masih tampak gemetaran, yang mana ini cukup gamblang bagi Pres. Chaidir.
“Pidato ini, Pak,” kata Arfa sebagai pembicaraan penutup,
“akan disiarkan oleh pers dalam dan luar negeri, dan ini adalah kesempatan Anda bicara pada Canberra,”
Kali ini ganti Pres. Chaidir yang terdiam.
“Perdana Menteri Andrews pasti tak akan luput untuk memperhatikan setiap usaha kecil untuk perdamaian, Pak Presiden,” kata Arfa,
“tak pernah ada kata terakhir dalam diplomasi,”
Pres. Chaidir hanya tersenyum saja tanpa Arfa bisa mengetahui apa makna di balik senyumannya, dan beliau pun berlalu meninggalkan Arfa dalam ruangan itu.
Sepeninggal Pres. Chaidir, Arfa langsung merosot dan jatuh terduduk di lantai ruangan. Lututnya yang sedari tadi gemetaran akhirnya tak kuat juga untuk menahan berat tubuhnya. Berbicara dengan Pres. Chaidir selalu merupakan hal yang berat bagi Arfa, meskipun mereka berdua sudah seringkali bertatap muka. Arfa menatap kepergian dari Pres. Chaidir dengan penuh kegalauan, dan dalam hatinya dia berdoa semoga Pres. Chaidir mempertimbangkan apa yang tadi dia katakan.
Pres. Chaidir memasuki ruangan konferensi pers yang sudah penuh dengan wartawan. Semua orang berdiri untuk memberikan penghormatan, dan baru duduk kembali setelah Presiden berada di atas mimbar. Kali ini tak ada yang berani untuk berbicara, semua diam untuk memperhatikan apa yang akan dibicarakan oleh orang nomor satu di Indonesia ini.
Raut muka Pres. Chaidir yang serius membuat semua hadirin yang ada di sana amat tegang, karena mereka sudah mendengar banyak rumor yang beredar, dan takut bahwa yang akan menjadi kenyataan justru adalah rumor yang paling buruk. Pres. Chaidir menyempatkan diri mengambil kacamata dari saku jasnya, tapi tak ada naskah untuk dibaca, tak ada kertas yang dikeluarkan, dan layar teleprompter yang biasa menunjukkan naskah pidato dalam kesempatan biasa pun mati, karena tak ada waktu untuk tim Kepresidenan dalam menyiapkan semua itu. Apa pun yang akan dikatakan nanti, itu hanya ada dalam kepala Pres. Chaidiri sendiri, maka Pres. Chaidir berdoa sejenak semoga nanti dia tak akan keseleo lidah.
“Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air,” kata Pres. Chaidir mengawali pidatonya dengan ucapan salam formal,
“juga kawan-kawan insan pers baik dari dalam maupun luar negeri,”
Suasana kini menjadi amat hening ketika Pres. Chaidir berhenti sejenak. Semua berkonsentrasi penuh untuk menyimak perkataan Pres. Chaidir selanjutnya. Sementara, Pres. Chaidir menatap sejenak pada alas mimbar yang kosong. Menarik nafas sebelum memulai yang akan dia katakan.
“Mungkin Anda sekalian sudah penasaran akan apa yang terjadi belakangan ini, mengapa Istana melakukan ini dan mengapa ada kejadian itu, bahkan masalah ini sudah berkali-kali muncul dalam setiap liputan khusus dari TV nasional semenjak beberapa hari ini,” kata Pres. Chaidir, “dan oleh karena itu, maka saya berdiri di sini untuk menjawab segala macam rasa penasaran yang muncul di dalam diri semua orang,”
Pres. Chaidir kembali berhenti sejenak dan tetap tak ada suara yang terdengar di ruangan itu. Padahal ruangan itu penuh dengan orang, tapi senyapnya mengalahkan aula konser yang kosong. Presiden pun melirik ke kanan dan melihat Arfa sudah ada di sana, memperhatikannya dari balik gordin di sisi panggung. Pres. Chaidir tersenyum sejenak sebelum akhirnya melanjutkan berbicara.
“Lima hari lalu, kami menerima kontak darurat dari KRI Antasena, dan ya, itu adalah kontak darurat, yang mengindikasikan bahwa KRI Antasena, kapal selam canggih buatan dalam negeri, berada dalam masalah dan kini tengah tak diketahui keberadaannya di suatu tempat di Samudera Indonesia,” kata Pres. Chaidir,
“saat ini, Pemerintah, dan juga TNI-AL tengah berusaha untuk mencari dan mengevakuasi KRI Antasena, karena diperkirakan masih ada korban yang masih hidup di dalamnya,”
Kasak-kusuk pun terdengar, membuat ruangan itu berubah menjadi seperti sebuah sarang lebah yang sibuk.
“Untuk keperluan evakuasi dan penyelamatan, kami telah meminta bantuan dua kapal perang Russia yang kebetulan berada di sini untuk misi muhibah, sebagai tambahan dari armada TNI-AL sendiri yang saat ini sudah berada di ground zero,” kata Pres. Chaidir,
“tapi dekatnya posisi ground zero dengan perbatasan Australia membuat pada saat ini juga, armada Australia tengah membayangi gugus tugas kita di sana. Ini adalah untuk pertama kalinya gugus tugas kapal perang kita berhadap-hadapan dengan gugus tugas kapal perang asing semenjak gugus tugas KRI Monginsidi berhadapan dengan fregat Portugal Commandante Joao Bello dalam Operasi Seroja, dan boleh dikatakan bahwa suasana di perbatasan sekitar ground zero saat ini tengah dalam ketegangan tinggi,”
“Perhatian utama Pemerintah saat ini adalah untuk secepatnya melakukan penyelamatan atas awak KRI Antasena yang masih hidup, dan tak ada niatan lain; dan mengingat ketegangan yang amat luar biasa dalam perbatasan, maka saya pun mengimbau pada pimpinan gugus tugas dari masing-masing negara untuk bisa menahan diri supaya tak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan,” kata Pres. Chaidir lagi,
“Indonesia dan Australia adalah dua negara bertetangga yang memiliki kemampuan tempur cukup besar, dan peperangan antara kedua negara tak akan membawa manfaat bagi siapa pun; terutama dalam masalah ini, karena fokus utama Indonesia bukanlah untuk mengobarkan pertempuran, melainkan melakukan sebuah misi demi kemanusiaan,”
Pres. Chaidir melihat semua orang tercengang mendengar pidatonya tersebut.
“Apa ada pertanyaan?” tanya Pres. Chaidir.
Sontak seketika semua insan pers tersadar dan langsung mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. Entah bagaimana, walaupun posisinya di pinggir, bukan di tengah seperti biasanya, Pres. Chaidir tetap bisa melihat para wartawan NewsTV.r
“Silakan, dari NewsTV,” kata Pres. Chaidir.
Uki pun segera bangkit dari duduknya diiringi pandangan iri dari rekan-rekan wartawan yang lain. Bagaimanapun apa yang akan Uki tanyakan mungkin sama seperti yang ada di benak semua orang.
“Saya Uki dari NewsTV, KRI Antasena, apa yang menyebabkannya hilang kontak?” tanya Uki,
“benarkah akibat diserang oleh kapal tak dikenal?”
“Dari mana Anda dapat kabar itu, Nn. Uki?” tanya Pres. Chaidir.
“Itu kabar yang beredar di kalangan wartawan saat ini, Pak Presiden,” jawab Uki tanpa ragu.
“Kami masih menyelidikinya, Nn. Uki, dan tak mungkin bila belum menyelamatkan awak KRI Antasena yang masih terjebak,” jawab Pres. Chaidir,
“selanjutnya?”
Semua wartawan kembali menangkat tangan, dan kali ini Pres. Chaidir menunjuk seorang wartawan pria.
“Terima kasih, Pak Presiden, saya Revo dari DiamondTV,” kata wartawan bernama Revo ini,
“mengapa ada armada Australia di tempat kejadian, apakah kasus ini berhubungan dengan Australia?”
“Saya tak tahu soal alasan mereka, Saudara Revo, dan sebaiknya untuk bisa tahu Anda tujukan saja pertanyaan Anda kepada PM Andrews dari Australia,” kata Pres. Chaidir,
“tapi kami akui bahwa kami memang mengerahkan banyak kapal perang ke dekat perbatasan, namun itu hanya dalam rangka penyelamatan kapal selam KRI Antasena; beberapa kapal itu memiliki fungsi yang berbeda-beda yang bisa menyokong tindakan penyelamatan atas KRI Antasena,”
“Terima kasih atas jawabannya, Pak Presiden,” kata Revo.
“Baik, selanjutnya, pertanyaan terakhir,” kata Pres. Chaidir.
Semua wartawan kembali mengangkat tangannya. Tapi akhirnya pemenang pertanyaan terakhir jatuh pada seorang wartawan wanita muda dengan rambut highlight sepundak dan paras muka Oriental yang sepertinya dia bukan berasal dari pers dalam negeri.
“Mr. President, I’m Karen Ling from The CNN,” kata wartawan itu.
“Ah, yes, Ms. Ling, I always like your reports on The CNN,” kata Pres. Chaidir ber-intermezzo.
“Thank you, Mr. President,” kata Karen Ling agak tersipu.
“And your question, Ms. Ling?” tanya Pres. Chaidir.
“We learnt recently that there are escalation in both Indonesian and Australian military activities prior to this so-called incident,” kata Karen Ling,
“if, and I meant is if necessary and should the situation in the ground zero goes ill, would that be mean that there will be war between Indonesia and Australia in immediate time?”
Semua orang langsung terdiam mendengar pertanyaan dari Karen Ling.
“That’s a good question, Ms. Ling,” kata Pres. Chaidir.
Pres. Chaidir berhenti sejenak, dia melirik ke arah Arfa, yang langsung menggeleng pelan, tanpa terlihat hadirin yang lain.
“Just like I said before, that our main concern is for rescue operation, not for invoking war, and therefore, we don’t seek the war ourselves,” kata Pres. Chaidir,
“however, I should remind that Indonesia can, able, and will defend ourselves under enemy attack, regardless who the enemy would be; and like our forefathers before us, we will never surrender; either we succeed, or we perished trying,”
Pres. Chaidir memberi isyarat untuk mengakhiri sesi acara ini. Para wartawan pun langsung riuh dan mengangkat tangan sambil meneriakkan pertanyaan mereka sendiri, namun Pres. Chaidir tetap berjalan meninggalkan tempat acara.
Parliament House
Canberra, Australia
13.42 AEST (10.42 WIB)
H minus 24:17:00
Televisi yang sengaja dipasang di ruangan sidang umum parlemen Australia pun dimatikan. Baru saja seluruh anggota parlemen Australia, bersama dengan Sir Walcott dan PM Andrews sama-sama menyaksikan prosesi pernyataan resmi dari Presiden Chaidir. Ruangan sidang pun kembali menjadi penuh dengungan bagaikan di sarang lebah ketika televisi itu dimatikan.
“Semua tenang!” kata Sir Walcott sambil memukul palu.
Keadaan menjadi sedikit lebih tenang.
“’Bisa, mampu, dan akan’,” kata Sir Walcott,
“itu yang tadi dikatakan oleh Presiden Indonesia Hariman Chaidir, yang mana menurutku harus kita perhatikan,”
Sir Walcott menarik nafas sejenak.
“Tuan-tuan, kita semua sudah mengetahui isi pesan dari kawan kita Presiden Clarke dari Amerika Serikat, dan kini kita tahu pernyataan dari Presiden Indonesia,” kata Sir Walcott,
“oleh karena itu alangkah eloknya bila kita lompati semua saja prosedur birokrasi dan langsung menuju ke proses pemungutan suara, apakah kita akan meminta pertanggungjawaban Indonesia, meski bila itu berarti perang, atau tidak,”
Semua anggota parlemen terdiam. Mereka nampak memikirkan sesuatu, bahkan mereka yang sejak dari awal menggembar-gemborkan untuk memilih opsi perang melawan Indonesia. Nyatalah bahwa menyatakan perang ternyata tak semudah dan seromantis yang selama ini orang pikirkan.
“Mari kita ambil suara kalau begitu,” kata salah seorang parlemen dari Partai Buruh.
Semua mengangguk tanda setuju dan mulai bersiap-siap, tapi tak ada antusiasme berlebih sebagaimana terlihat waktu debat pembahasan tadi.
“Baiklah kalau begitu maka akan kita persiapkan…” kata Sir Walcott.
“Tunggu,” kata PM Andrews.
PM Andrews berdiri dari tempat duduknya, dan melihat ke arah Sir Walcott.
“Jika boleh, ada yang ingin kusampaikan pada semuanya, sebelum kita memulai pemungutan suara,” kata PM Andrews.
“Silakan, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott.
“Terima kasih, Sir Walcott,” kata PM Andrews.
PM Andrews kemudian maju ke arah mimbar dan melempar pandangan kepada semua anggota parlemen yang tampaknya menantikan betul apa yang akan dia katakan. Sikap PM Andrews, semua orang sudah tahu, dan ini mungkin upaya terakhir sebelum keputusan diambil, apakah Australia akan maju perang atau tidak.
“Anggota Parlemen yang terhormat,” kata PM Andrews memulai pernyataannya,
“berdasawarsa lalu, Kaisar Jerman, Wilhelm II, memberikan sebuah pesan kepada diplomat Austria-Hongaria, Graf von Hoyos, apa yang kemudian disebut sebagai ‘insiden cek kosong’, yang sayangnya, berujung pada berkobarnya Perang Dunia I, dan menimbulkan korban dengan jumlah fantastis di Eropa,”
Suasana hening sejenak.
“banyak dasawarsa lalu, Australia bersama Amerika Serikat menggabungkan kekuatan di Eropa, melawan kekuatan Kekaisaran Jerman, dan menang; dan 40 tahun kemudian Australia kembali menggabungkan kekuatan dengan Amerika Serikat melawan pendudukan Reich Ketiga Jerman dan Kekaisaran Jepang, dan menang; setelah itu kita selalu ikut dalam setiap kampanye militer yang dilakukan bersama oleh Amerika Serikat, dan kebanyakan berujung pada kemenangan: di Semenanjung Korea, Afganistan, dan Irak, tapi tidak ada dalam semua konflik ini di mana Australia akan memulai perang terlebih dahulu,” kata PM Andrews,
“dan aku tak ingin memulainya sekarang, aku tak ingin menjadi Graf von Hoyos atau Leopold von Berchtold, atau siapapun yang tak menyadari bahwa mereka tengah memegang api yang amat panas,”
“Nama Australia pernah harum dalam berbagai konflik besar, tapi aku tak percaya bahwa untuk saat ini perang adalah hal yang kita butuhkan, apalagi sebuah perang dunia yang baru,” kata PM Andrews,
“kuharap kalian semua bisa memikirkan hal yang sama denganku,”
PM Andrews melemparkan pandangannya sejenak ke seluruh ruangan.
“Terima kasih,” kata PM Andrews.
Suasana hening sejenak sebelum dipecah oleh beberapa anggota parlemen yang bertepuk tangan, meskipun bukan tepuk tangan meriah. Seluruh parlemen pun akhirnya ikut bertepuk tangan, walau beberapa orang jelas tampak enggan dan melakukan itu hanya sebagai formalitas saja.
“Baiklah, kini kita akan mulai pemungutan suaranya, bila tak ada lagi yang ingin disampaikan,” kata Sir Walcott,
“silakan duduk, Mr. Andrews,”
PM Andrews pun duduk di kursinya, dan para pegawai Parliament House dengan sigap segera mempersiapkan semua peralatan untuk pengambilan suara. Selama periode bersiap-siap ini, semua anggota parlemen tampak saling berkasak-kusuk, mungkin meminta pendapat, melakukan lobi, atau hanya sekedar membicarakan masalah ini. Apa pun itu, PM Andrews tak tampak bisa duduk dengan tenang.
Satu persatu anggota parlemen pun akhirnya turun untuk memberikan suaranya dalam pemungutan yang oleh PM Andrews disebut “akan menentukan nasib Australia” ini. Setiap anggota yang turun selalu diikuti oleh tatapan mata penuh rasa khawatir dari PM Andrews dan, walau tak begitu kentara, begitu pula halnya dengan Sir Walcott.
Segera setelah anggota terakhir memberikan suara, bilik suara pun disegel dan pegawai parlemen langsung menghitung suara yang masuk saat itu juga. Penghitungan ini bagi PM Andrews tetaplah berlangsung amat lama dan membuatnya semakin resah dan senewen. Baru setelah beberapa waktu kemudian, seorang petugas membawa kertas tertutup berisikan hasilnya kepada Sir Walcott.
“Apakah ini sudah benar?” tanya Sir Walcott ketika menerima kertas hasilnya.
“Sudah, sudah kami periksa dengan saksama,” jawab si petugas.
“Terima kasih,” kata Sir Walcott.
Petugas itu kembali dan Sir Walcott merebahkan diri di kursinya sambil membuka kertas tertutup itu dan membacanya. Tampak Sir Walcott membacanya beberapa kali, mungkin untuk memastikan saja, tapi PM Andrews tak bisa menduga apa isi kertas itu, karena Sir Walcott menyembunyikan emosinya dengan amat baik.
“Sekarang,” kata Sir Walcott,
“dengan suara terbanyak secara mayoritas mutlak, 70% lawan 30%, untuk keputusan apakah kita akan berperang dengan Indonesia atau tidak; hasilnya adalah…”
Jantung PM Andrews pun seakan berhenti berdetak.
Samudera Indonesia
10.47 WIB
H minus 24:12:00
Suasana di KRI Ternate mendadak riuh ketika sebuah blip sonar terdeteksi. Masalahnya blip ini muncul secara simultan di beberapa lokasi yang berbeda, sehingga tak bisa diketahui dari mana asalnya blip sonar ini, tapi dari sifat blip yang terjadi, bisa dipastikan bahwa ini adalah blip dari KRI Antasena, sebuah pertanda baik setelah sekian lama menunggu. Harapan semakin meninggi karena perwira sonar di kedua kapal, baik Russia maupun Indonesia, tak mendengar suara metal retak bernada tinggi yang biasanya menjadi pertanda kehancuran sebuah struktur di bawah air, yang mana ini hanya berarti satu hal: KRI Antasena masih hidup!
“Bagaimana, Dr. Vorobyov?” tanya Anton via telewicara,
“apakah itu benar-benar blip dari KRI Antasena?”
“Benar, walau gelombang yang kami terima tidak lengkap dan terlalu sedikit untuk melakukan pelacakan secara menyeluruh, tapi bisa dipastikan bahwa itu adalah dari sistem Rusalka,” kata Dr. Vorobyov,
“sayang blip yang terjadi tak bisa lebih lama lagi supaya kami bisa mengisolasi dan melacak polanya, tapi setidaknya itu mempersempit area pencarian,”
“Rupanya caramu berhasil, Tn. Anton,” kata Kapt. Kadek sambil menepuk pundak Anton,
“maaf saya sudah meragukan,”
Dr. Vorobyov pun mengalihkan gambar pada peta yang tadinya berisi 16 titik perkiraan posisi KRI Antasena pascapelacakan pertama memakai sistem Rusal’naia. Sambil itu, Dr. Vorobyov terus bicara soal bagaimana sinyal itu terdiri dari beberapa sistem modulasi dan frekuensi yang rumit sehingga tidak cukup sebuah blip sedetik untuk bisa melacaknya dengan sempurna. Anton kurang begitu paham apa yang dia katakan, karena dulu dia memang agak lemah dalam pelajaran fisika soal amplitudo dan frekuensi. Tapi Anton pun yakin bahwa hampir semua orang di sini, bahkan di kapal Russia itu sekali pun, tak akan paham soal ini. Apalagi Dr. Vorobyov juga mencampurnya dengan berbagai istilah Russia.
“Jadi kini hanya tersisa enam kemungkinan?” tanya Anton melihat peta di layar.
“Ya, tiga ada di posisi Indonesia, dan tiga di posisi Australia, dan masing-masing masih terpisah jarah cukup jauh,” kata Kapt. Kadek,
“bahkan mencari satu-satu pun masih nyaris mustahil, ditambah hanya ada 50% kemungkinan yang bisa kita jangkau,”d
“Kenapa nyaris mustahil, bukannya...” tanya Prita.
“DSRV kita, meski punya jendela, tapi tetap saja pencarian di bawah laut tak bisa dilakukan secara visual, karena jarak pandangnya terbatas, jadi ini bukan seperti pesiar kapal selam di Bali,” kata Kapt. Kadek,
“dan hanya ada satu DSRV, jadi tak mungkin bisa melingkupi wilayah tiga dimensi dengan jangka seluas itu,”f
“Dua, sepertinya kapal Russia itu juga membawa satu DSRV,” kata Anton,
“tapi tetap saja itu mustahil; jarak pandangnya terlalu pendek,”
“Jadi bagaimana?” tanya Prita.
Anton hanya mengangkat bahunya saja, dan semua antusiasme yang tadi membuncah seiring dengan munculnya tanda dari yang diduga adalah KRI Antasena pun kembali meredup.
“Jadi kita hanya bisa mendengarnya, tapi belum bisa mencapainya,” kata Anton,
“bahkan tahu tempatnya pun belum,”
Prita dengan senyumnya segera menepuk dan mengelus pundak Anton.
“Setidaknya kita sudah mendengarnya, itu sesuatu,” kata Prita.
“Terima kasih,” kata Anton menyambut senyum Prita,
“semua orang kini boleh yakin kalau KRI Antasena masih hidup,”
“Kuharap dengan begitu mereka juga mengerti,” kata Prita.
“Mereka siapa? Mengerti apa?” tanya Anton.
“Mereka, orang Australia, kuharap mereka mengerti kita benar-benar datang ke sini untuk menyelamatkan kapal selam kita, bukan melakukan misi tersembunyi,” kata Prita.
“Apa maksudmu?” tanya Anton.
“Mereka pasti mendengar suaranya juga, kan?” tanya Prita,
“kita bisa dengar, berarti mereka juga…”
Tiba-tiba saja mata Prita membelalak penuh kengerian saat menyadari apa yang baru saja dia katakan. Benar, selama ini KRI Antasena tak pernah sekalipun terdeteksi baik oleh sonar pasif maupun sonar aktif dari KRI Ternate. Yang bisa mendeteksi kemungkinannya hanyalah ketika RFS Malatinsky mengaktifkan system Rusal’naia sehingga terdapat 16 kemungkinan yang kali ini berhasil dipersempit menjadi 6 kemungkinan. Tapi bila saat ini KRI Ternate bisa menangkap blip dari yang diduga oleh kapal selam itu, apakah bukan berarti Australia kini juga pasti bisa menangkapnya juga?
“Dr. Vorobyov, kalau kita bisa mendeteksi blip dan memetakan kemungkinan asal blip; mungkinkah mereka juga bisa melakukannya?” tanya Anton takut-takut.
“Sistem ini tak bisa dideteksi oleh sembarang peralatan,” kata Dr. Vorobyov,
“jadi kemungkinan besar, walau mereka bisa mendeteksi blip, tapi untuk memetakannya tak akan lebih baik daripada kapal kalian yang tak dilengkapi Rusal’naia; kecuali bila sensor mereka sama pekanya dengan sensor Rusal’naia walau kujamin itu pun masih membuat pelacakan secara tepat menjadi cukup sulit,”
“Tapi bisa, kan?” tanya Anton.
Dr. Vorobyov agak gelagapan, tak mampu untuk menjawabnya.
Dan ketakutan Anton sebenarnya memang beralasan, karena nun jauh di seberang sana, HMAS Calgoorlie, salah satu kapal kelas Calypso yang menyertai gugus tempur HMAS Amphitrite, menangkap pula blip tersebut. HMAS Calgoorlie memang diproyeksikan sebagai penjaga armada dari ancaman bawah air, dan oleh karena itu, dari empat kapal kelas Calypso yang dibawa, HMAS Calgoorlie-lah yang memiliki sensor bawah air terbaik, termasuk di antaranya adalah sensor ARGUS, yang merupakan sensor terbaik di Barat. Hanya Amerika Serikat dan Australia sajalah yang memiliki sensor hebat ini.
Oleh karena itu, tak tepat juga bila Dr. Vorobyov coba menghibur diri dengan pernyataannya sebelumnya, karena sensor ARGUS merupakan ekuivalen dari Rusal’naia dalam hal kepekaan pendeteksian pasif, meskipun cara kerja kedua sensor ini sejatinya amatlah berbeda. Benar bahwa ARGUS tak akan bisa mengetahui posisi sebenarnya dari KRI Antasena, tapi blip yang diberikan itu cukup jelas untuk bisa ditangkap sebagaimana Rusal’naia menangkapnya, dan oleh karena itu, maka perkiraan posisi yang ditangkap oleh Rusal’naia pun bisa ditangkap pula oleh ARGUS, meskipun yang kemudian ditangkap bukanlah berbentuk titik sebagaimana Rusal’naia, karena memang ARGUS tak memiliki kemampun Rusal’naia untuk mendekripsi sinyal Rusalka. Pun, itu cukup bagi HMAS Calgoorlie untuk meneruskannya kepada Cdr. van Huydt di HMAS Amphitrite.
“Jadi benar begitu?” tanya Cdr. van Huydt kepada Capt. Derek Coleman di HMAS Calgoorlie.
“Ya, tapi kami belum bisa mendeteksi apa itu, bahkan blip-nya bagi kami terlalu luas, bukan sekadar seperti sebuah titik,” kata Capt. Coleman.
“Bisa di-relay kira-kira pusat wilayah dari masing-masing gema blip?” tanya Cdr. van Huydt.
“Bisa, Pak, akan segera dilaksanakan,” kata Capt. Coleman.
“Dan siagakan semua senjata,” kata Cdr. van Huydt.
“Pak?” tanya Capt. Coleman tak mengerti.
“Siagakan semua senjata sampai pemberitahuan selanjutnya,” kata Cdr. van Huydt.
“Siap, Pak,” kata Capt. Coleman.
Cdr. Lesley van Huydt pun mengakhiri transmisi, dan mengamati laporan dari HMAS Calgoorlie itu dengan saksama. Tentu saja Cdr. van Huydt bisa menebak apa yang kira-kira menyebabkan blip itu, tapi dia tak mengatakan apa-apa. XO Lt.Cdr. McGraw mengamati komandannya itu dengan penuh harap.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?” tanya Lt.Cdr. McGraw.
“Jangan bertindak gegabah, kita teruskan ini ke Sydney, dan minta petunjuk lebih jauh; semoga mereka cepat memberikannya,” kata Cdr. van Huydt,
“dan seperti perintahku tadi, siagakan semua senjata untuk menghadapi semua ancaman,”
“Siap, Pak,” kata Lt.Cdr. McGraw.
Parliament House
Canberra, Australia
13.59 EST (10.59 WIB)
H minus 24:00:00
“Mr. Jameson, silakan maju,” kata Sir Walcott kepada Steve Jameson, juru bicara dari Partai Buruh.
Maka Steve Jameson pun segera maju ke mimbar yang tadinya dipakai oleh Phillip Andrews untuk menyampaikan sambutan terakhirnya sebelum pemungutan suara.
“Jika boleh, Mr. Jameson, tolong sebutkan lagi apa yang menjadi pilihan dari parlemen,” kata Sir Walcott.
“Baik, Sir Walcott,” kata Steve Jameson,
“Partai Buruh, mewakili dari suara rakyat Australia, dengan ini memilih opsi untuk melakukan penyelidikan mendalam atas insiden ini, oleh kedua negara, baik Indonesia maupun Australia,”
Terlihat Phillip Andrews menghembuskan nafas lega mendengar jawaban ini.
“Bisa Anda jelaskan kenapa memilih opsi itu?” tanya Sir Walcott.
“Tanpa bermaksud tidak hormat kepada Sri Paduka Yang Mulia, memang benar bahwa kapal yang membawa nama Sri Paduka telah tenggelam, namun sebelum semua kepala menjadi panas dan melampiaskan kemarahan pada pihak yang tak semestinya, kita harus ingat bahwa penyebab tenggelamnya kapal itu sendiri masih simpang siur, dan pastinya pihak Indonesia pun juga kehilangan sebuah kapal pada malam kejadian,” kata Steve Jameson,
“apakah tenggelamnya kapal kita dan mereka ini karena sebuah kesengajaan atau tidak, kita belum yakin, tapi dengan adanya jaminan bahwa sekutu dekat kita, Amerika Serikat untuk membantu langkah perang melawan Indonesia, membuat kita sebagai bangsa Australia harus memikirkan langkah kita selanjutnya dengan lebih arif, karena gerakan Amerika Serikat di Asia Tenggara bisa meletuskan perang yang selama ini selalu coba kita hindari,”
“Australia telah melalui dua perang dunia, dan walau kita menang pada kedua perang itu, kerugian yang kita tanggung pun amat besar; dan bila krisis ini akan meletuskan kembali perang dunia yang baru, maka perang ini akan berlangsung di halaman depan kita sendiri, tak begitu jauh dari rumah kita, jalan-jalan kita, kota kita, dan anak-anak kita; dan walau Australia sendiri tak gentar menghadapi perang dengan siapapun, ada beberapa hal yang kembali harus kita pertimbangkan masak-masak,” kata Steve Jameson lagi,
“oleh karena itu kami merekomendasikan untuk membuka kembali kontak diplomatik dengan Presiden Indonesia, dan mengajak serta mereka untuk menyelidiki dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saat insiden itu, siapa yang bertanggung jawab, dan baru setelah itu kita akan memutuskan apakah Indonesia dan Australia akan berperang atau tidak,”
“Terima kasih, Mr. Jameson, kau boleh kembali...” kata Sir Walcott.
“Satu hal lagi, Sir Walcott, jika boleh,” kata Steve Jameson.
“Silakan,” kata Sir Walcott.
“Walau di tataran elite kami sudah setuju untuk membuka keran diplomasi, suasana di garis depan sendiri saat ini tengah berada dalam keadaan panas; dan sewaktu-waktu situasi bisa berubah menjadi tak terkendali, dan pada saat itu, maka apa yang kita putuskan saat ini di sini tak akan menjadi relevan lagi,” kata Steve Jameson,
“karena itu kami meminta pada PM Andrews untuk segera mengeluarkan perintah supaya pasukan kita di garis depan menahan diri dan tak memprovokasi lawan; kita harus mengambil inisiatif untuk mendinginkan suasana supaya mereka juga mau lebih tenang. Situasi bisa berbalik dengan segera, dan bila ada lagi kapal kita yang tenggelam atau diserang akibat ketegangan di perbatasan yang berubah menjadi tak terkendali, kami tak akan ragu sedetik pun untuk mengubah keputusan ini,”
“Segera kulaksanakan, Mr. Jameson,” kata Phillip Andrews yang berdiri dengan tegap.
Dan memang benar, karena tanpa membuang waktu, saat tadi Steve Jameson memberikan jawabanny sebelum pandangan umum, PM Andrews sudah mengutus kurir untuk segera menyampaikan pesan yang sama persis dengan yang dikatakan oleh Steve Jameson, langsung ke Mabes AL Australia. Kini PM Andrews hanya berdoa supaya si kurir ini tak terlambat dalam menyampaikan pesannya, karena perdamaian dunia kini bergantung padanya. Atau benarkah begitu?
Samudera Indonesia
11.06 WIB
H minus 23:53:00
Waktu semakin berlalu dan suasana di kedua belah pihak pun semakin membuat senewen. Sementara itu, rudal-rudal yang ada di atas kapal kedua belah pihak pun setiap detik menjadi semakin siap untuk ditembakkan. Hanya butuh satu kesalahan konyol saja dari satu pihak untuk meletuskan konflik yang efek dominonya bisa amat besar ini. Dan baik di pihak Indonesia maupun Australia, tak ada yang mau menjadi si konyol itu. Tapi bagaimanapun juga, hal itu akan segera berubah.
Perwira radio di kapal HMAS Amphitrite berteriak, mengatakan bahwa ada transmisi yang sepertinya merupakan balasan dari markas besar mereka atas permohonan yang mereka kirim barusan.
“Dari Sydney,” kata perwira radio kepada Cdr. van Huydt.
“Konfirmasikan pesan,” kata Cdr. van Huydt.
“Siap konfirmasikan,” kata perwira radio.
Cdr. van Huydt menunggu sejenak hingga perwira radio mengonfirmasikan pesan yang tadi didapat. Berbeda dari anak buahnya yang rata-rata masih berusia muda, tak ada tanda kegelisahan saat dia menunggu.
“Dikonfirmasi, memang benar ini dari Sydney,” kata perwira radio akhirnya.
“Bagus, bawa ke sini,” kata Cdr. van Huydt.
Perwira radio segera memberikan sebuah kertas kepada Cdr. van Huydt, yang langsung segera dia baca. Dahi Cdr. van Huydt tampak berkerut ketika dia membaca pesan itu, dan dia tampak mengambil napas panjang dan berat. Sepertinya ada sesuatu dalam pesan itu yang memberatkan baginya.
“Com. McGraw, boleh minta tolong?” tanya Cdr. van Huydt akhirnya.
“Ada apa, Pak?” tanya Lt.Com McGraw.
“Baca ini dan baca dengan keras agar semua orang di sini dan juga di kapal-kapal kita yang lain mengetahuinya,” kata Cdr. van Huydt.
“Pak, itu melanggar prosedur, itu adalah pesan...”
“Baca saja, ini perintah,” potong Cdr. van Huydt.
Cdr. van Huydt menyodorkan kertas yang dengan ragu-ragu diterima oleh Lt.Com McGraw. Ini jelas tidak biasa, dan pesan bagi komandan tak biasanya boleh diberikan begitu saja kepada bawahannya. Tapi atas perintah dari Cdr. van Huydt, akhirnya Lt.Com McGraw pun membacanya.
“Perintah khusus Markas Besar Angkatan Laut Australia, untuk komandan Eskader Tempur ke-12 Armada Timur, Commodore Leslie Arrington van Huydt.”
“Dengan ini Anda diperintahkan untuk segera mengambil solusi agresif atas krisis yang terjadi menyusul tenggelamnya HMAS Pitcairn. Lakukan secara elegan dan dengan cara-cara yang untuk ke depannya tak akan merugikan kita. Amerika Serikat sudah memberikan persetujuan supaya kita mengambil langkah-langkah agresif dan konfrontatif, dan masalah di perbatasan tak lagi bisa diatasi dengan cara kita berdiam diri. Kompromi dengan Armada Indonesia tidak disarankan, dan bila mereka menolak untuk menjawab, atau menjawab dengan cara-cara yang tidak berkenan, Australia harus mengambil inisiatif secepatnya atas respons tersebut.”
Semua orang di anjungan tampak diliputi oleh horor pasca pembacaan perintah itu.
“Pak, tapi ini...” kata Lt.Com McGraw tercekat tak mampu melanjutkan.
“Ya, Commander, benar,” kata Cdr. van Huydt sambil menganggukkan kepala.
“Tapi, Pak...” kata Lt.Com McGraw.
“Ingat saat aku berkata untuk tak mengusik sarang lebah, Commander?” tanya Cdr. van Huydt,
“bagaimana bila tak ada pilihan? Bagaimana bila kau terpaksa harus melakukannya? Bagaimana bila kau DIPAKSA untuk melakukannya?”
Lt.Com McGraw tak mampu menjawabnya.
“Ini perintah tolol, Commander!” hardik Cdr. van Huydt,
“tapi sebagai anggota AL Australia, maka kita harus menunjukkan dedikasi dan melaksanakan semua perintah SETOLOL APAPUN; siagakan senjata!”
Kontan seisi anjungan pun bergerak ke posisi mereka masing-masing. Senjata kembali disiagakan, dan semua tak mau dalam posisi yang tidak siap mengingat konsekuensi dari ini adalah akan menyulut perang, dan merekalah yang saat ini ada di garis depan.
“Aktifkan radar, kunci sasaran ke arah 5 kapal perang mereka yang paling berbahaya,” kata Cdr. van Huydt.
“Indonesia saja atau kapal Russia juga?” tanya perwira senjata.
“Aku bilang, 5 kapal perang mereka yang paling berbahaya, Chief,” kata Cdr. van Huydt,
“artinya semua kapal yang saat ini kita hadapi,”
“Aye, Sir,” kata perwira senjata,
“memulai untuk laminasi target,”
“Siapkan semua countermeasure yang kita punya, Sea-Sparrow, Phalanx, chaff, flare, apa saja,” kata Cdr. van Huydt,
“dan jangan menyerang sebelum rudal mereka sampai ke sini,”
“Aye, Sir,” kata perwira senjata,
“countermeasure siap,”
“Ingat, countermeasure dulu baru senjata,” kata Cdr. van Huydt menegaskan.
Perwira senjata pun memasukkan perhitungan rumitnya ke dalam komputer. Dalam suasana hiruk pikuk ini, Lt.Com. McGraws pun mendekati Cdr. van Huydt dengan wajah yang tegang.
“Lalu selanjutnya apa, Pak?” tanya Lt.Com. McGraws.
“Berdoa,” kata Cdr. van Huydt,
“semoga kapten mereka di seberang sana punya pikiran yang lebih waras daripada kita,”
Sementara itu di seberang, aksi HMAS Amphitrite yang melaminasi kapal-kapal Indonesia dengan radar mereka jelas ditangkap dengan baik oleh sistem KALIMASADA yang ada di setiap kapal yang dilaminasi.
“Laporkan situasi,” perintah Kapt. Kadek.
“Mereka menyasar kita, Kep,” kata perwira radar,
“radar mereka berfokus pada kita dan beberapa kapal lain, dan sensor kapal menunjukkan pemandu rudal mereka juga diarahkan ke kita,”
“Apa senjata mereka sudah disiapkan?” tanya Kapt. Kadek.
“Pada titik ini, hanya tinggal tekan tombol saja,” kata perwira senjata,
“apa sebaiknya saya mulai melakukan solusi penembakan, Pak?”
“Negatif, jangan balas dengan solusi tembakan atau kuncian apapun itu,” kata Kapt. Kadek,
“dan itu berlaku bagi siapapun, termasuk Anda, Kol. Niken,”
“Diterima dengan baik, Kapten,” kata Kol. Niken di KRI Keumalahayati,
“kami tak akan balas menargetnya dengan radar,”
“Mereka pernah berusaha memprovokasi kami,” kata Kapt. Kadek,
“sepertinya kali ini mereka akan mencobanya lagi,”
“Roger, Kapten, tapi saya akan mengaktifkan countermeasure, hanya untuk berjaga-jaga,” kata Kol. Niken,
“dan saya sarankan kau lakukan hal yang sama,”
“Siap, Kolonel,” kata Kapt. Kadek.
Situasi pun seketika itu mencekam karena bunyi peringatan kuncian berbunyi dengan amat keras, dan semua orang harus menahan diri untuk tak melakukan apa-apa. Ini jelas berbeda dengan yang biasa mereka latihkan, karena pada keadaan seperti ini, melakukan persiapan tembakan balasan adalah langkah yang lebih lazim.
“Kapten, saya menangkap ada tindakan kuncian balasan,” kata perwira radar tiba-tiba.
“Dari kapal kita?” tanya Kapt. Kadek terkejut.
“Bukan, dari kapal Russia,” kata perwira radar.
Kapt. Kadek tampak tercekat seolah langit runtuh menimpanya.
“Komandan kapal Russia belum diberi tahu soal gerakan gertakan itu, Kep,” kata Anton yang juga ada di sana.
“Gawat kalau mereka tiba-tiba berbuat macam-macam,” kata Kapt. Kadek,
“sambungkan dengan Kapt. Chugainov segera,”
Kapt. Kadek pun segera mengambil alat komunikasi sementara perwira radio menghubungkan pada Kpt-1. Chugainov di RFS Malatinsky.
“Kapten Chugainov, di sini Kapt. Kadek,” kata Kapt. Kadek,
“segera hentikan kuncian atas kapal Australia segera, kemungkinan ini hanya gerakan gertakan, saya ulangi, kemungkinan ini hanya gerakan gertakan,”
Agak sementara waktu terdengar bunyi derau hingga akhirnya Kpt-1. Chugainov pun membalasnya.
“Ini Kapt. Chugainov; nyet, kami tidak bisa mematikannya, ini adalah sistem otomatis dari radar Aurora kami,” kata Kpt-1. Chugainov, “dia akan secara otomatis membalas kuncian dari kapal musuh dengan mengunci pula pada sumber asalnya,”
“Kapten, ini kemungkinan hanya gertakan untuk memancing kita,” kata Kapt. Kadek,
“jangan terpancing untuk memulai perang,”
“Tenanglah, Kapitan, hanya sistem radarnya saja yang otomatis, sementara untuk menembakkannya masih manual,” kata Kpt-1. Chugainov,
“jadi untuk menembak kita masih harus menekan tombol, yang mana...”
Tiba-tiba terdengar suara cuitan yang melengking dengan frekuensi tinggi memekakkan telinga. Kpt-1 Chugainov tentu saja terkejut karena bunyi itu hanya berarti satu hal. Sebuah rudal telah ditembakkan!
“Ublyudok! Siapa yang menembak??” teriak Kpt-1. Chugainov.
“Nyet, Kapitan! Bukan dari kita, tapi dari Andrei Nikolov!” kata perwira senjata.
“Andrei Nikolov?? Sambungkan ke Kapt. Sutyagin, si Sapi Kurapan itu!” kata Kpt-1. Chugainov,
“Cepat!!”
“Di sini Kapt. Sutyagin, Kamerad Kapitan,” kata Kapt. Sutyagin dari Andrei Nikolov nyaris tanpa jeda setelah Kpt-1. Chugainov memerintahkan menyambungkan.
“Kostya! Dasar Sapi Kurapan! Siapa suruh menembak??” hardik Kpt-1. Chugainov.
“Beribu maaf, Kamerad Kapitan, ini ulah anak muda itu, si Vassily, dia amat gugup hingga terkencing-kencing dan menekan tombol peluncuran rudal,” kata Kapt. Sutyagin.
Dari latar belakang terdengar rengekan seorang pemuda dalam bahasa Russia yang sepertinya berusaha untuk memohon maaf.
“Aku tak peduli apa dia mau terkencing-kencing atau berak di celana!” kata Kpt-1. Chugainov murka,
“tapi takut sampai menekan tombol peluncuran rudal dan memulai Perang Dunia itu tidak bisa diterima!! Aku ingin dia dipindahkan ke Siberia dan selamanya tak boleh melihat kapal lagi!!”
“Siap, Kamerad Kapitan,” kata Kapt. Sutyagin.
“Dan batalkan peluncuran rudal itu, totchas!” bentak Kpt-1. Chugainov.
“Soal itu tidak bisa, Kamerad Kapitan,” kata Kapt. Sutyagin dengan gugup.
“Apa perintahku tidak jelas, Kapitan?” hardik Kpt-1. Chugainov.
“Jelas, Kamerad Kapitan, tapi itu adalah rudal Scherschen,” kata Kapt. Sutyagin takut-takut.
Seketika itu pula raut muka Kpt-1. Chugainov menjadi berubah surut dan melihat ke jendela kapal ketika rudal berukuran besar itu meluncur meninggalkan peluncur vertikalnya di kapal RFS Andrei Nikolov. Itu adalah rudal “Scherschen”, atau jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “Hornet”. Kode di Russia adalah 4M-209A, sementara NATO menyebutnya SS-N-39A Stalemate, salah satu rudal anti-kapal terbaru milik Russia yang ringkas sehingga bisa dibawa oleh fregat sekelas Neustrashimyy.
Kegemparan pun pecah juga di kapal-kapal Indonesia saat melihat rudal Scherschen meluncur. Anton segera saja bergegas ke jendela untuk melihat peluncuran rudal sakti mutakhir buatan Russia itu. Hanya sekilas melihat, tahulah dia bahwa yang meluncur kali ini bukanlah rudal anti-kapal biasa.
“Stalemate...” gumam Anton tercekat.
Anton lalu menoleh ke arah Kapt. Kadek yang terus menerus meminta Kpt-1. Chugainov untuk membatalkan peluncuran rudal itu. Tapi sayangnya, Kpt-1. Chugainov tak kuasa untuk melakukan itu seberapa pun dia mau, karena seperti halnya senjata Kuntawijayadanu milik Adipati Karna dalam mitologi pewayangan, sekali dihunus tak akan bisa lagi dimasukkan. Bergegas pun Anton segera menuju ke Kapt. Kadek.
“Kapten, kita harus berbuat sesuatu segera,” kata Anton,
“rudal itu adalah Stalemate, dan dirancang bukan hanya untuk menghancurkan sebuah kapal induk raksasa dalam sekali serang, tapi juga untuk membuat kekacauan dalam sebuah battle group,”
“Aku tahu, Tn. Anton, tapi kata Kapten Chugainov ini, di rudal itu tak ada program pembatalan,” kata Kapt. Kadek.
“Harus kita hentikan apa pun caranya!” kata Anton,
“begitu rudal itu mencapai kecepatan supersonik, maka kita tak ada senjata kita yang bisa mengejarnya, dan bila dia berhasil melewati perbatasan Australia dan menemukan targetnya...”
Anton hanya terdiam saja, tak meneruskan perkataannya. Tapi tanpa dikatakan pun, Kapt. Kadek sudah tahu apa yang akan terjadi bila rudal itu menyeberang perbatasan. Sementara itu jauh di sisi lain perbatasan, meluncurnya sebuah rudal, walau belum mengetahui bahwa itu adalah Scherschen alias Stalemate, cukup membuat siapapun awak AL Australia yang melihatnya menjadi bergidik ngeri, sementara Cdr. Lesley van Huydt berdiri dingin bagai patung.
“Courage, Lad,” kata Cdr. van Huydt,
“begitu rudal itu melewati perbatasan, tembaki dengan semua countermeasure yang kita punya, dan bersiaplah... untuk berperang,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar