Senin, 26 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 39

★HENING★ Part 39 



" PASUKAN KHUSUS "



Sejumlah negara mulai meragukan tindak tanduk Indonesia karena peristiwa tenggelamnya kapal berlambang UN di perbatasan laut Indonesia-australia, tak ayal Indonesia menjadi tujuan utama para pemburu berita dari seluruh dunia.

Sementara itu PM Australia Dubbront dan Presiden Amerika Frank Carlton semakin mempererat hubungan mereka untuk bekerja sama menghancurkan Indonesia yang semakin berkembang karena kepemimpinan Presiden Ir.Darwinsyah

Hal itu dibuktikan dengan kedatangan tim kecil dari pasukan khusus Delta force US Army ke Australia.

........
Royal Australian Navy (RAN) basecamp, Brisbane Australia..

Commander Australian Fleet Rear Admiral Deckker Wallaby menyambut kedatangan Major O'Connor dan ke-4 anggota terbaiknya menyusul kedua rekan mereka yang telah datang terlebih dahulu 2 hari sebelumnya.

Tanpa banyak basa-basi Major O'Connor tampak langsung menyusun strategi bersama Admiral Deckker.

Entah apa yang direncanakan, namun tampaknya ada semacam Deadline yang dikejar oleh pasukan Khusus Amerika tersebut, baru saja tiba mereka sudah langsung menyusun strategi.

Sementara dirumah persembunyiannya Elang dan Jim beserta Heru tampak sibuk mempersiapkan sesuatu setelah mereka mendapat telepon dari Jendral Purnomo.

"Apa yang mereka katakan..?",

tanya Jim.

"..tadi itu seorang Jendral, dia satu-satunya komandan ku.. Kita harus bersiap, ada suatu rencana yang akan melibatkan kita.., tapi aku meragukan dia..",

sahut Elang melirik Heru yang sedang membereskan sejumlah peralatan Mahda dan Adam yang juga akan mereka bawa.

"Kenapa dengannya?", 

tanya Jim.

" Entahlah.., aku tak tahu..", 

kata Elang menahan suatu hal yang sedang dipikirkannya.

Tak lama kemudian sebuah mobil kijang berwarna biru berplat militer menjemput mereka, segera saja mereka berlalu pergi menaiki mobil suruhan Jendral Purnomo itu.

Sesaat sebelumnya Jendral Purnomo beserta Lettu Adam dan Mahda sibuk membicarakan suatu rencana untuk membersihkan nama Elang dan menggulingkan Jend.Irwan dari kepemimpinannya di BPN, dan itu membutuhkan otorisasi Panglima Rokhim.

Setelah berbicara panjang lebar dengan Panglima itu, Jendral Purnomo mendapatkan Otorisasi tingkat 'sangat rahasia' dari Panglima Rokhim.

"Berarti kau yang bertanggung jawab atas kejadian di BPN??!?", 

kata Panglima Rokhim terkejut begitu mendengar penjelasan Jendral Purnomo tentang semua kejadian sebelumnya secara detil.

"Kau sudah keterlaluan..!, saya akan melaporkan ini ke Presiden", 

tambah Pang.Rokhim beranjak hendak menghubungi pihak Provost dengan telepon disudut meja kerjanya.

"..panglima.., apakah tidak benar jika seorang prajurit seperti saya dan mereka berusaha membela negara ini..?", 

ucap Jend.Purnomo.

"..tentu saja itu benar..", 

jawab Pang.Rokhim sambil mulai menekan tombol teleponnya.

"Anda harusnya bisa melihat kejanggalan yang terjadi sebelumnya setelah presiden melarang Jendral Irwan untuk terlibat..

Agen itu sedang dalam perjalanan kesini bersama beberapa temannya, anda bisa mengetahui kebenaran tentang negara ini, anda takkan menyangka bahwa anda tidak mengetahui setengah kegiatan militer kita di dunia internasional padahal anda adalah seorang panglima besar...

Dan anehnya agen kita itu mengetahui semuanya..",

jelas Jend.Purnomo dengan mimik serius.

" Apa yang sedang kau bicarakan..?

Apa maksudmu banyak kegiatan atau misi rahasia yang tak ku ketahui atau tanpa persetujuanku..?",

tanya Pang.Rokhim tertegun.

"Ya panglima.., saya pertaruhkan jabatan dan harga diri saya serta nyawa saya untuk ini.., jadi biarkanlah saya dan mereka melakukannya sebelum semua terlambat, sebelum negara ini hancur..",

 terang Jend.Purnomo.

Panglima Rokhim terhenyak mendengarnya, ia ragu.. Namun hati kecilnya merasa bahwa ia harus mempercayai Jendralnya ini.

Segera Panglima Rokhim mengurungkan niatnya melaporkan Jendral Purnomo ke Polisi Militer.

.......
4 oktober 2012
19.25 wib
Kantor Duta besar Australia, Jakarta Selatan

Dua mobil pabrikan Jepang tampak memasuki kantor Dubes Australia untuk indonesia tersebut dan enam orang berjas hitam turun dari mobil-mobil itu, Dubes Australia untuk indonesia sir Robbert Hawkins menyambut ke 6 orang tamunya itu dengan ramah disela-sela kesibukannya.

Tak jauh dari situ tampak seorang penjual kopi keliling mengamati situasi tersebut, dia adalah salah satu anggota inteligen dari unit 1 kopassus yang ditugaskan mengamati kantor Sir Robbert Hawkins itu karena situasi yang menegang antar kedua negara akibat peristiwa di perbatasan laut sebelumnya.

"Bagaimana perjalanan kalian..? Sebaiknya kalian bersiap, saya yakin kita tak punya waktu banyak dalam kondisi seperti ini..", 

ucap Sir Robbert kepada ke-6 orang tamunya itu.

"Yah semuanya baik saja pak Dubes, kami mengerti..", 

sahut salah seorang tamunya yang ternyata adalah Liutenant Jones, Chief dari tim Alpha-2 pasukan khusus Amerika Delta force bersama ke lima anak buahnya yaitu Sergeant Major Bradley, Sergeant David, Sergeant joey, Corporal Luis, dan Corporal Hopkins.

"Ternyata tak sulit untuk masuk ke negara ini..", 

kata sgt.David setelah memikir ulang perjalanan mereka dengan menyamar sebagai pengusaha-pengusaha Australia yang di undang Sir Robbert Hawkins selaku Dubes Australia untuk Indonesia.

" Maaf, sebaiknya kita tidak menganggap remeh negara ini.., bukan tidak mungkin kalian telah diamati oleh satuan khusus negara ini tapi mereka membiarkan kalian karena kalian belum melakukan apa-apa..", 

sahut Sir Robbert mengingatkan.

"Itu benar, ingat.. Kita berada di negara yang mempunyai pasukan khusus yang hebat..", 

sambung Lt.Jones.

"Apa itu Kopassus..?", 

tanya Cpl.Hopkins sebagai anggota tim ini yang paling bungsu.

"Yah.., mereka pasukan yang sangat hebat, saya yakin kalian belum pernah berhadapan dengan mereka..",

 sahut Lt.Jones serius.

"Maksud anda chief..?", 

tanya Sgt.David, sementara sir Maloney hanya diam mendengarkan.

"Saya punya cinderamata dari mereka..",

 kata Lt.Jones sembari membuka bajunya memperlihatkan sesuatu.

Kelima anak buahnya terkejut melihat ada bekas luka sayatan pisau di dada kiri dan satu bekas luka tembak di lengan kanan Chief mereka.

"..apakah itu..", 

sgt.Joey hendak bertanya.
"Yah, ini dari salah satu dari mereka..",

 jawab Lt.Jones mengingat kembali peristiwa tersebut.

...........
Papua Barat..
23 februari 2000
01.00

Disebuah perbukitan kecil ditengah hutan lebat Liutenant Jones yang kala itu masih berpangkat Private tampak berjongkok diam diantara rimbun semak belukar disekelilingnya.

Saat itu ia dan seorang atasannya yang berpangkat Sergeant Major disisipkan diantara 6 orang dari SAS Australia untuk menjaga titik 'Dropping' yang dilakukan Australia untuk men-suplai senjata-senjata untuk para pemberontak dikawasan itu.

Semua berlangsung lancar meskipun rintik hujan terus mengguyur tak henti-henti, paket telah sampai dengan aman dan setelah 3 hari berlalu kini saatnya mereka kembali.

Pvt.Jones masih diam mengamati daerah sekitar yang gelap itu, guyuran hujan semakin menyulitkan matanya untuk melihat sekitarnya, sesekali ia menggunakan teropong Night vision yang ia bawa, namun ia tetap saja merasa kesulitan.

Ia melirik jam kecilnya yang menunjukan sudah pukul 3 pagi dan jemputan belum juga datang, disaat-saat ia mulai didera kantuk ia seperti melihat pergerakan tak jauh darinya.

Yah, Pvt.Yakin bahwa itu adalah sebuah pergerakan dan semakin jelas ketika tampak berbentuk seperti beberapa orang yang sedang tiarap diantara semak belukar.

"Sial.., terlalu jauh..",

Gumam Pvt.Jones ketika berniat memanggil rekan-rekannya yang sedang tertidur di balik mantel-mantel mereka sekitar 6 meter darinya.

Pvt.Jones melirik M16A2 nya yang tergeletak disebelahnya beserta seluruh peralatannya namun jauh dari jangkauan tangannya, ia tidak ingin bergerak agresif karena ia memperkirakan beberapa orang didepannya itu pasti sedang mengamati, dan itu berbahaya.

"Mereka semakin dekat.., sungguh sialan..!",

Umpat Pvt.Jones dalam hati menyadari sejumlah musuh sudah merayap tak kurang dari 15 meter didepannya, dengan bergerak pelan ia mencoba meraih senjatanya.

Sesaat ia hampir meraih senjatanya, secara mengejutkan seseorang tiba-tiba muncul dari semak disebelahnya sambil mengarahkan pistol ke arahnya.
Menyadari itu ia buru-buru meraih senjatanya, namun

"Tssshhh!"

Sebuah peluru menghantam lengannya sehingga senjatanya terlepas dari tangannya.

Namun Pvt.Jones tak menyerah, ia segera berbalik sambil melayangkan tangan kirinya membuat seseorang itu menjatuhkan pistolnya, melihat posisi lawannya tertekan, Pvt.Jones berniat melayangkan tinjunya.

Namun secara cepat lawannya itu mencabut pisaunya dan menyabetkannya ke Pvt.Jones.

"CraSshhh"

Darah segar meluncur dari balik seragam Pvt.Jones, Pvt.Jones mengerang kesakitan dan terjatuh terbaring, ia kehabisan tenaga mengingat ia masih menahan perih luka tembak dilengannya.

"Lalu..bagaimana anda bisa selamat Chief??",

Sgt.Joey bertanya memotong cerita Lt.Jones.

"Itu tak perlu kuceritakan.., aku yakin kalian tak ingin mengalaminya..", 

jawab Lt.Jones dengan mimik tegang.
Kejadian itu masih segar dalam ingatnnya, ia yakin tak akan bisa melupakannya.

"Yang paling saya ingat saat itu adalah sebuah Emblem didada seseorang itu.., yang baru kuketahui itu adalah emblem Kopassus indonesia 5 bulan setelahnya.., mereka bergerak senyap, tak terbaca.., namun disaat kita mengetahui posisi mereka, salah seorang dari mereka sudah sedari tadi berada disebelah kita.., itu sungguh gila..", 

jelas Lt.Jones.

"Namun bukan berarti kita tidak bisa mengalahkan mereka.., ingat kita adalah Delta Alpha..!", 

seru Letnan berkulit hitam itu.

"Tentu saja pak",sahut kelima anak buahnya tersebut, sementara Sir Robbert tampak tercengang mendengar cerita letnan dari pasukan khusus tersebut.


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...