★HENING★ Part 40
" TANDA TANYA? "
5 Oktober 2012
09.00 wib
Markas Pusat, Jakarta..
Seorang perwira TNI berjalan menyusuri ruangan utama Markas pusat tersebut sambil sesekali membalas teguran orang-orang yang menyapanya.
Letnan Vega mendapat sambutan hangat dari sejumlah rekannya karena ini kali pertama ia kembali bertugas semenjak ia mendapat cuti mendadak karena luka tembak yang ia dapat beberapa hari yang lalu.
meskipun kelihatan jelas ia belum pulih total, namun ia merasa harus melakukan kewajibannya disaat negaranya sedang mengalami tekanan militer.
.........
Aula Ruang Komando
09.20 wib
Panglima Rokhim menggelar rapat taktis mendadak yang dihadiri oleh Jendral Purnomo, Danjen Kopassus Mayjen Rizal Harahap beserta staffnya, juga Letnan Mahda, Lettu Adam dan Elang yang mengenakan seragam PDL angkatan darat berpangkat Letnan yang diterimanya kemarin langsung dari Panglima Rokhim, tampaknya Jendral Purnomo berhasil meyakinkan Panglima besar itu.
Elang merasa haru dan bangga ia telah kembali diterima sebagai salah satu bagian dari militer Indonesia, sesekali ia memperhatikan seragamnya tersebut, sebuah Emblem berbentuk jaring laba-laba tersemat didada seragamnya, emblem khusus dari satuan intelijen TNI.
"Baiklah langsung saja, tadi malam salah seorang anggota unit 1 dibawah pimpinan Mayjen Rizal Harahap mendapatkan sesuatu dari kantor Kedubes Australia untuk indonesia, jadi langsung saja kita mendengar langsung dari beliau..",
kata Pang.Rokhim membuka pertemuan mendadak itu.
"Terima kasih Panglima, baiklah.. Semalam selitar pukul 19.30 malam, salah satu anggota saya dari unit 1 yang ditugaskan mengamati kawasan Kedubes Australia melihat beberapa tamu Sir Robbert yang mencurigakan..
Menurut data inteligen mereka datang sebagai tamu yang berfrofesi sebagai pengusaha, untuk lebih mendetil, berikut foto-foto yang berhasil kami dapatkan..",
Ucap Danjen Kopassus tersebut sembari mengarahkan yang lainnya ke monitor 80 inci tak jauh dari mereka.
Satu persatu foto muncul secara slide di monitor tersebut, tampak Lt.Jones beserta ke-5 anak buahnya turun dari mobil dan tampak berjalan masuk ke kantor Kedubes Australia.
" !!! "
Lettu Adam tertegun begitu melihat foto Lt.Jones terpampang, Lettu Adam berusaha mengingat wajah yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.
"Ada apa Letnan?",
Mayjen Rizal Harahap menyadari gelagat prajurit terbaiknya itu.
"Lapor ndan..! Saya sepertinya mengenali wajah salah satu dari mereka..!",
Seru Letn.Adam.
"Benarkah, yang mana itu Letnan?",
tanya Mayjen Rizal Danjen Kopassus tersebut.
"Siap komandan, yang berkulit hitam..",
jawab Lettu Adam.
Sejenak Mayjen Kopassus itu menekan sebuah tombol di remot yang digenggamnya.
"Inikah letnan?",
tanya Mayjen Rizal ketika sebuah foto seorang berkulit gelap sedang berjalan.
"Siap, benar Komandan.. Tidak salah lagi",
sahut Lettu Adam merasa yakin bahwa ia pernah melihatnya.
"Siapa dia dan dimana kau melihatnya?",
sela Panglima Rokhim.
"Tidak salah lagi, saya melihatnya pada sekitar tahun 2000, pada saat saya ditugaskan bersama rekan-rekan saya dari unit 2 kopassus di hutan papua barat.. Orang itu adalah anggota pasukan Khusus Amerika..",
jawab lettu Adam.
"Lanjutkan letnan..",
sahut Mayjen Rizal.
"Siap ndan, pada saat itu saya bersama 7 orang lainnya dari unit 2 Kopassus diperintahkan memeriksa suatu area yang menurut intelijen adalah tempat "Dropping Zone' pihak asing menyuplai perbekalan para pemberontak disana..",
ucap Lettu Adam mengingat kembali kejadian itu.
..........
Papua Barat..
Seperti yang diceritakan oleh Lt.Jones perihal seorang anggota kopassus yang hampir membunuhnya, ternyata anggota kopassus itu adalah Lettu Adam yang kala itu masih berpangkat Letnan dua Kopassus.
Setelah perkelahian singkat yang berakhir dengan sabetan sangkur Letnan Adam didada Lt.Jones, Letn.Adam bermaksud menghabisi Lt.Jones saat itu juga.
Namun ternyata seorang rekan dari Lt.Jones menyadari perkelahian mereka dan berlari mendekat sambil melepaskan tembakan, sontak Letn.Adam mengurungkan niatnya menghabisi Lt.Jones dan meraih senapan SS-1 yang disandangnya.
Letnan Adam melompat mundur kebelakang sambil membalas tembakan, suara tembakan membuat rekan-rekan Lt.Jones yang lain juga ikut menembakkan senapan-senapan serbu mereka, ditengah kontak senjata tersebut Letn.Adam memilih mundur karena sayup-sayup ia mendengar suara helikoptar yang ternyata adalah heli penjemput tim Lt.Jones.
Dan benar saja, tak lama siraman peluru kalibar 50mm dari Heli tersebur mengarah ke posisi letn.Adam membuatnya hanya bisa bersembunyi dibalik batu besar dibalik semak belukar.
Sesekali rekan-rekan Letn.Adam menembaki heli tersebut namun tak berpengaruh banyak karena Heli itu masih terus memuntahkan peluru kaliber 50mm-nya dibalik kegelapan malam disertai hujan kala itu.
Tak berapa lama, Lt.Jones dan rekan-rekannya berhasil kabur dengan Heli tersebut.
"Namun saya masih ingat jelas wajahnya dan logo diseragamnya yang saya ketahui itu adalah logo dari pasukan Khusus Amerika..",
0jelas Lettu Adam mengakhiri ceritanya.
"Jadi benar orang itu adalah salah satu anggota pasukan Elit amerika..",
sahut seseorang yang tiba-tiba saja muncul diruangan tersebut.
Seketika semua orang melihat ke arah orang tersebut.
"Lapor panglima.., saya Letnan Vega melapor untuk kembali bargabung disini..",
kata seseorang itu yang ternyata adalah Letnan Vega.
"Diterima Letnan..",
sahut Panglima Rokhim merasa senang sang Letnan jenius telah kembali bertugas, Jendral Purnomo juga tampak senang dengan kehadiran Ajudannya tersebut, ia berfikir dengan begini akan ada seseorang yang piawai melihat situasi.
" . . ."
Elang yang sedari tadi serius mendengarkan juga tampak terkejut dengan kehadiran Letnan Vega, Jendral Purnomo menyadari keterkejutan Elang atas kehadiran wanita yang dahulu adalah seorang wanita yang berhasil menaklukan hati si 'Silent killer'.
" Kau. . .?",
Letnan Vega terbata mengetahui keberadaan Elang disitu.
"Silahkan Letnan, kau datang disaat yang tepat..",
sela Panglima Rokhim mempersilahkan Letnan Vega duduk diantara Elang dan Lettu Adam.
........
Pentagon, Amerika..
" pak presiden? Apa sebaiknya segera kita perintahkan Lt.Jones untuk menjalankan rencana K-4 itu..?",
Major O'Connor yang telah kembali ke Amerika tampak sedang membicarakan sesuatu dengan Prasiden Frank Carlton dan Menhan Sir Maloney.
"Hmm, tunggu dulu.. Itu terlalu awal, biarkan mereka membaca situasi disana terlebih dahulu",
jawab Presiden Frank Carlton tenang.
"Itu benar, karena target kita adalah target yang sangat vital bagi mereka.. Pasti Lt.Jones dan timnya perlu persiapan yang matang..",
sambung Sir Maloney.
"Benar juga.., kita tak mungkin melakukan serangan terbuka.., PBB sepertinya meragukan kebenaran skenario kapal UN kita di perairan perbatasan indonesia dan Australia..",
sahut Major O'Connor mengingat PBB masih menyelidiki peristiwa tersebut dan memberikan waktu bagi Indonesia untuk mengklarifikasi secara penuh.
........
Guest Room, Markas pusat Jakarta..
Tampak dua orang sedang berada diruangan tamu markas pusat Komando tersebut, mereka adalah Jim dan Heru.
"Apa kau tak merasa disingkirkan?",
ucap Heru pelan.
"Hah? Apa maksudmu?",
tanya Jim.
"Lihatlah, rekanmu itu meninggalkanmu disini..",
tambah Heru.
"Apa yang sedang kau katakan? Apa aku terlihat bodoh? Ia sedang ikut suatu rapat penting..
Aku orang asing tentu saja tak diizinkan ikut..",
jawab Jim gusar dengan kata-kata Heru.
"Yah benar, kau orang asing.. Aku lupa, hahaha..",
Heru tertawa.
"Ada apa kau ini..! Jika kau ingin memprovokasiku itu tidak akan berhasil..!",
kata Jim mendekati Heru, Jim merasa ada sesuatu dengan Heru.
Semula ia melihatnya sebagi pemuda tak banyak bicara, namun sekarang nyatanya Heru sangat banyak bicara.
"ini seperti..",
Jim bergumam dalam hati mengingat kembali saat Elang menatap Heru memikirkan sesuatu saat di rumah persembunyian.
"Begitukah? Kalau begitu kau sudah tak dibutuhkan lagi..!",
sahut Heru sembari mengeluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya dan berniat menusuk Jim.
" !!! "
Menyadari itu Jim segara menghindar, namun Heru kembali menyabetkan pisaunya ke arah jim.
"Crssshhh!"
Percikan darah segar terlihat menetes dilantai ruangan itu
Siapa sebenarnya Heru? Mengapa ia menyerang Jim?
.....,......
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar