Kamis, 01 Oktober 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER XV

The Reason

CHAPTER XV

The Reason



Beberapa Jam Sebelum Present Day


Location Classified
Time Classified


“Ah, berengsek loe, jago banget, sih!” teriak salah seorang lelaki tanggung.

Di sebelahnya, seorang lelaki tanggung juga, badannya agak gemuk, dan mukanya penuh dengan bekas jerawat memerah di tengah-tengah kulit lusuh berminyak dan jenggot yang setengah tumbuh. Cara berpakaiannya bahkan hanya santai saja, memakai T-shirt kumal dengan beberapa bagiannya agak bolong. Pendek kata, untuk ukuran anak muda, dia bukanlah pribadi yang menarik apalagi enak dilihat. Si gemuk ini tampak berpuas diri setelah tim Barcelona yang dimainkannya dalam pertandingan Playstation mencetak gol ketiga lawan kawannya yang memakai Real Madrid.

“Sampai kapan juga loe gak bakal bisa ngalahin gue, Vin,” kata si gemuk berpuas diri.

Rekan main si gemuk yang bernama Alvin ini berkebalikan 180 derajat dari si gemuk. Dia atletis, bersih, dan berpenampilan kasual namun perlente. Ibarat kata membandingkan mereka berdua bagaikan bumi dengan langit. Namun dalam dunia persahabatan para pria, penampilan bisa jadi yang nomor sekian, yang penting adalah kecocokan.

“Tahu deh, Zak,” kata Alvin,

“loe kan maen ginian ampir tiap hari, pantes aja jago,”

“Makanya kalau mau ngalahin gue, banyak-banyak latihan, Bro,” kata si gemuk yang bernama Zaki ini,

“jangan pacaran mulu,”

“Eh, justru elo ini yang kudu gue tolongin,” kata Alvin,

“dari dulu sukanya ngendon di kamar mulu, keluar sekali-kali napa?”

“Wah, gue bisa lihat dunia dari kamar gue, kenapa gue kudu keluar,” kata Zaki sambil menyalakan sebuah rokok.

“Kebanyakan nonton internet jadi kuper loe, dunia nggak sesempit world-wide-web, Bro,” kata Alvin,

“dan interaksi ama orang itu nggak seperti chatting di MIRC,”

Tiba-tiba HP milik Alvin yang diletakkan di hadapannya berbunyi. Sebuah SMS rupanya masuk, dan Alvin segera membacanya.

“Siapa, Vin?” tanya Zaki.

“Si Sisil,” kata Alvin.

“Cewek loe?” tanya Zaki,

“ngapain?”

“Gue janji ngajakin dia jalan, dia udah nanyain,” kata Alvin,

“gue kudu ke sana nih, nggak boleh telat,”

“Alvin, Alvin, belum nikah aja loe udah diiket ampe segitunya,” sindir Zaki,

“ntar nikah jadi anggota ISSTI loe, Vin,”

“Zak, loe belum pernah pacaran, kan?” tanya Alvin,

“ntar kalau loe udah punya cewek, loe rasain sendiri deh; nggak semuanya soal diiket apa nggak, ada kenikmatan bagi kita buat ngebahagiain cewek yang kita cintai,”

“Wah, pujangga Alvin bersabda lagi nih,” kata Zaki,

“dah, cepeten sono, ntar telat si Sisil ngambek lagi,”

“Loe nggak mau ikutan, Zak? Kita mau perginya rame-ramean koq,” kata Alvin,

“ikut aja daripada ntar loe cuman sendirian di kosan,”

“Nggak lah, Vin, nggak suka rame-rame gituan, gue,” tolak Zaki.

“Yakin loe? Di sana bakal ada si Rani juga lho,” kata Alvin, “loe naksir kan, ama dia?”

“Cewek mah gampang Vin, buat gue, tapi serius, sore ini gue lagi ada urusan,” kata Zaki.

“Sombong banget loe,” kata Alvin sambil tertawa dan menepuk pundak Zaki,

“ya udah, mau gue salamin gak, ama si Rani?”

“Boleh deh, sekarang cepetan sono, gue nggak tanggung lho misal loe putus ama Sisil gara-gara loe telat,” kata Zaki.

“Iye, gue berangkat nih,” kata Alvin,

“cari cewek, Zak, jangan kencan ama tangan terus,”

Alvin pun segera berpamitan dan pergi dengan mobilnya menuju ke rumah pacarnya. Zaki hanya diam saja memerhatikan kepergian kawannya itu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Gak tahu loe, Vin; loe pikir gue cuman suka kencan ama tangan doang?” cibir Zaki,

“sorry, najis, nggak level kalau cuman itu,”

Rumah kos yang dipakai oleh si Zaki dan juga Alvin tergolong rumah kos yang soliter, terletak agak terpencil, dan memungkinkan antara satu penghuni dan penghuni lainnya untuk tak saling mengenal sebagai harga atas kenyamanan privasi yang diberikan. Hanya apabila penghuninya sudah saling mengenal sebelumnya seperti Alvin dan Zaki sajalah yang memungkinkan terjadi interaksi seperti tadi.

Setelah memastikan bahwa rumah kos sudah tidak ada orang lagi, Zaki pun menghisap rokoknya untuk yang terakhir kalinya, kemudian masuk ke dalam kamar. Di kamar itu, Zaki punya sebuah komputer rakitan sendiri yang cukup hebat yang dia klaim bisa untuk “melakukan download file besar dengan kecepatan dewa”. Dia membuka komputer itu dan langsung membuka situs-situs dewasa kesukaannya. Inilah salah satu rahasia yang dia sembunyikan, namun Alvin tentu saja akan tahu soal ini. Sebagai seorang pria, masuk dan melihat ke dalam situs dewasa tentu amat wajar. Namun sebagaimana seorang penjudi ulung, Zaki pun masih punya beberapa kartu di dalam lengan bajunya.

Dia pun mengambil salah satu ponselnya dari beberapa yang sedang dicas, kemudian menghubungi satu nomor, yang sepertinya juga nomor itu sering dihubungi olehnya.

“Halo, Mami? Gimana nih, Mi? Ada barang baru, gak?” kata Zaki via ponsel,

“jangan yang kaya kemarin, apaan tuh, badan kerempeng gitu mana berasa? Iya, kirim aja langsung ke tempat saya nih, biasa. Soal duit kan udah saya bilang, Mami nggak usah khawatir, yang Mami kudu khawatirin cuman gimana caranya nyetokin ane ama barang baru; kalau bisa sih yang masih keset; ya, oke, kirimin langsung ya Mi, kalau memuaskan ada bonus seperti biasa; yuk saya tunggu,”

Zaki menutup teleponnya dengan puas. Sejenak kemudian masuklah sebuah MMS yang berisi foto seorang gadis, yang jelas membuat Zaki semakin tersenyum lebar. Rupanya Zaki berhubungan dengan sindikat pelacuran yang menyediakannya para wanita PSK untuk sejumlah uang tertentu, dan salah satu mucikari dari sindikat ini kenal baik dengannya. Dialah yang sering memasok Zaki dengan wanita-wanita koleksi terbaru, bahkan seringkali lebih memprioritaskan Zaki daripada klien-klien lainnya yang berstatus baik sebagai pejabat bahkan hingga anggota dewan.

Kenapa bisa begitu? Salah satu sebabnya adalah bahwa melayani klien perorangan “biasa” seperti Zaki tak serumit apabila berurusan dengan pejabat yang pastinya akan memperhitungkan masalah pencitraan sebelum memutuskan untuk menyewa seseorang. Pers Indonesia yang ganas tentu akan langsung melahap berita soal pejabat tinggi yang ditemukan tengah bersama dengan wanita yang bukan muhrimnya. Berbeda dengan orang normal seperti Zaki yang tentu tak akan diributkan oleh hal-hal semacam itu. Alasan lainnya tentu saja adalah uang, karena pejabat yang kaya sekali pun boleh dibilang “kurang cukup royal” dalam membelanjakan uangnya untuk komoditi yang satu ini. Si Mucikari bahkan pernah kesal karena ada klien pejabatnya yang mengemplang pembayaran walaupun dia tahu si pejabat baru saja mendapatkan uang reses yang cukup besar. Dan karena pembayaran dari Zaki lebih lancar, maka semua komoditas terbaik pun diberikan kepadanya dulu sebelum akhirnya jadi “prasmanan” bagi klien lain. Tapi karena Zaki tampak seperti orang biasa, dari mana dia bisa dapatkan uang sebegitu banyaknya? Itu adalah kartu lain dalam lengan bajunya.

Zaki pun kemudian mengambil sesuatu dalam laci di ranjangnya, sebotol obat yang sepertinya merupakan obat kuat. Setelah itu, dia langsung memutar film bokep dari komputernya. Sebagai pemanasan sebelum hal yang asli datang sepertinya. Dari tempat si mucikari hingga ke rumah Zaki biasanya memerlukan waktu 15 menit, dan anak suruhan si mucikari biasanya tak datang lebih dari waktu itu, karena sebagaimana antaran pizza, Zaki mengancam akan menolak membayar penuh bila datang terlambat apa pun alasannya.

Bel pun berbunyi, dan Zaki segera menyudahi aktivitas menontonnya, kemudian menyambut siapa yang datang dengan hati yang riang. Jarak antara ruang kos Zaki dengan pintu depan memang agak jauh. Dan saat ini tak ada seorang pun yang ada di kosan ini selain Zaki sendirian. Perlahan-lahan dia membuka pintu dan takjublah dia melihat seorang wanita cantik, memakai hotpant amat pendek dan ketat sehingga memperlihatkan seluruh paha jenjangnya dan samar-samar membentuk garis bukit kemaluannya. Dia berambut panjang dan cukup manis, serta memakai tube warna marun dengan hanya dilapis jaket jeans yang lengannya cukup panjang. Tak ada aksesoris lain yang dia pakai kecuali dua cincin sederhana tanpa mata di masing-masing tangannya. Iris matanya terlihat agak mencolok karena memakai lensa kontak warna biru laut.

Zaki menatap wanita ini dengan pandangan mesum. Belum pernah sebelumnya dia mendapatkan wanita dengan tubuh yang proporsional dan berisi meski ukuran dadanya agak kecil. Sepertinya dia rajin berolah raga atau ke gym, begitu pikir Zaki. Cacat lainnya bagi Zaki adalah sepertinya wanita ini sudah mendekati 30 tahun, tapi toh wajah imutnya bagai menunjukkan dia masih 22-an tahun, jadi tak mengapa. Toh setelah di ranjang nanti siapa peduli umur saat aktivitas menggenjot dan digenjot.

“Mas Zaki yah?” tanya wanita ini dengan nada yang agak serak-serak basah.

“Kamu suruhannya Mami, ya?” tanya Zaki dingin.

“Iya, Mas,” jawab wanita ini kali ini agak manja.

“Kalau dari suara kamu kayaknya maennya ganas nih,” goda Zaki.

“Ah, si mas ini bisa aja,” kata si wanita dengan tersipu malu.

“Nama kamu siapa?” tanya Zaki.

“Namaku Lien, Mas,” kata wanita yang bernama Lien ini.

“Ya udah, masuk, Lien,” kata Zaki.

Zaki pun memandu Lien untuk masuk ke dalam. Sembari berjalan, Zaki kembali mencibir pemikiran temannya Alvin di dalam pikirannya. Kalau ada uang, bahkan wanita pun bakal takluk pada monster. Dunia Alvin hanyalah berkutat dengan si Sisil dan teman-temannya saja, mana dia tahu soal seperti ini? Lalu Rani yang katanya dia suka itu? Kalau dari segi body dan wajah jelas Rani kalah jauh dari wanita ini, dan wanita ini kini takluk di hadapan Zaki.

Lien memasuki kamar Zaki dengan takut-takut. Tapi Zaki cuek saja dan setengah menyeretnya masuk. Zaki pun langsung menuju ke kulkas rahasianya, dan mengambil beberapa kaleng bir.

“Mau bir, Lien?” tanya Zaki.

“Nggak usah, Mas Zaki,” kata Lien.

“Tumben, biasanya anaknya Mami pada suka,” kata Zaki.

“Saya nggak gitu suka bir, kalau ada soft drink boleh,” kata Lien.

“Sayangnya abis, belum beli lagi,” kata Zaki, “ya udah, langsung aja,”

Zaki mengambil sebuah remote control lalu menekannya dan tiba-tiba suara musik disko yang cukup keras terdengar mengalun dari sound system yang ada di kamarnya. Memang kamar Zaki ini boleh dibilang sebagai “Geek's Heaven”. Lien pun mulai menggoyangkan kepalanya mengikuti musik, tapi dia terlihat sedikit cemas.

“Apa nggak papa nih, Mas, nyetel musik sekenceng ini?” tanya Lien.

“Udah nggak usah khawatir, ini kosan orangnya lagi pada pergi semua, paling dini hari baru pada balik,” kata Zaki,

“udah, kamu mulai aja,”

Zaki pun langsung membuka pakaiannya, sehingga dia hanya duduk di kursi malas dengan hanya memakai kolor saja. Kalau Lien boleh jujur, tubuh Zaki memang agak menjijikkan dengan gumpalan lemak di sana-sini, rambut yang tumbuh tipis sekujur dada dan lengan, hampir seperti gorila. Tapi berhubung dia punya uang, maka semenjijikkan apa pun, Lien harus melayaninya. Lien pun akhirnya mulai bergoyang dengan erotis di hadapan Zaki.

“Asyik, buka dong, Lien!” perintah Zaki.

Lien hanya mengerling nakal pada Zaki, lalu dia pun menggerakkan tangannya di sekujur tubuhnya dengan gerakan yang erotis mengikuti musik. Kedua ibu jarinya dimasukkan ke bagian atas dari tube yang dia kenakan, kemudian perlahan-lahan tube itu dipelorotkan hingga turun ke perutnya, membuka buah dadanya yang sebagian masih tertutup oleh jaket yang tak dikancingkan, sehingga kadang areola dan putingnya mengintip keluar. Napas Zaki pun semakin memburu mesum melihat Lien melakukan adegan itu.

Lien pun maju ke arah kursi yang diduduki oleh Zaki, kemudian badannya mencondong ke arah Zaki dengan liukan menggoda. Pandangan mata Zaki hanya tertuju pada satu titik di tubuh Lien, tapi ketika Lien mendekatkannya cukup dekat dan Zaki mencoba meraihnya, Lien tiba-tiba menjauh sambil menggoyangkan jari telunjuk tangannya, membuat Zaki semakin penasaran. Lien pun meneruskan aksinya dengan menurunkan tube yang sudah melorot itu dan melepaskannya ke bawah melewati kaki jenjangnya. Tube itu kemudian dilemparkan ke arah Zaki yang menerimanya dengan ekspresi buas. Kini terlihatlah perut Lien yang ramping dan juga atletis, lebih memanjakan pandangan Zaki.

“Oh yeah, Baby!” teriak Zaki.

Lien tersenyum kecil sambil terus mengerling nakal ke arah Zaki. Tatapan matanya sayu dengan paras dan ekspresi wajah yang mampu membuat birahi semua laki-laki meluncur hingga ke antariksa. Dia kemudian menjetikkan kancing pada hotpantsnya, kemudian perlahan-lahan membuka reitsleting dari atas ke bawah. Zaki bisa melihat secarik kain sutra transparan warna hitam yang perlahan-lahan menyembul dengan setiap gerakan ujung retsleting. Tapi begitu retsleting itu sudah sampai di pangkalnya, Lien tak langsung membuka hotpants, alih-alih kedua tangannya dimasukkan ke dalam celah pada retsleting itu untuk menggoda Zaki lebih lama.

“Anj***!! Set** loe, Lien!! Gw san*** berat nih!!” teriak Zaki yang sudah tak kuat dengan display dari Lien dan mulai memelorotkan celananya sambil memegang “alutsista”-nya yang sudah “siap tembak”.

Lien kembali mengerling tersenyum, kemudian dengan sekali gerakan tangan, hotpants itu meluncur ke bawah, yang kembali dia lemparkan kepada Zaki, yang mengambilnya seolah-olah itu adalah harta yang amat berharga. Lien kemudian berhenti bergoyang dan berpose dengan tangan di pinggang seolah ingin memamerkan tubuhnya pada Zaki. Zaki sendiri hanya bisa menelan ludah melihat tubuh yang mulus sempurna itu dengan kulit kuning langsat yang mengilap bagai pualam. Pakaian yang tersisa di badan Lien kini hanyalah jaket kulit yang dia pakai, yang nyaris tak bisa menutupi gundukan payudaranya yang walau tak terlalu besar namun cukup indah ini, serta sebuah celana dalam model g-string yang terbuat dari kain sutra hitam transparan yang jelas tak menyembunyikan apa pun yang ada di baliknya.

“Suka, Mas?” tanya Lien.

“Ayo ke sini, B****, cepetan!! Gue udah nggak tahan!!” kata Zaki yang merasakan “alutsista”-nya sudah benar-benar meronta untuk ditembakkan.

Perlahan-lahan, Lien pun maju ke arah Zaki, dan Zaki pun mengubah kerebahan kursinya hingga setengah rebah. Lien segera saja menaiki tubuh Zaki, dan dia pun mencium mulut Zaki dengan amat erotis. Zaki segera saja merangsek bagaikan binatang buas, dan tak cukup hanya dengan bibir dan lidah, kedua payudara yang setengah menggantung tertutup oleh jaket itu pun langsung diserbunya hingga Lien pun mendesah dan melenguh keras. Dalam hati Zaki heran kenapa Lien tidak menanggalkan jaketnya, namun “sajian” Lien membuatnya tak terlalu merisaukan hal itu, hitung-hitung suasana baru.

Walau pun posisi Lien ada di atas, namun Zaki lalu mengambil inisiatif dengan memelorotkan g-string yang dipakai oleh Lien, dan karena posisinya agak sulit, celana dalam yang sebagian besar berupa tali itu direnggutnya saja hingga sobek. Lien tampak agak bersungut. Zaki hanya tersenyum mesum.

“Nanti saya belikan yang lebih bagus,” kata Zaki.

“Tapi itu kan mahal, Mas,” protes Lien.

“Nggak masalah, duit saya banyak,” kata Zaki.

Lien menjerit kecil ketika tangan Zaki mulai bermain-main pada kemaluannya. Pantatnya pun tak lupus dari remasan tangan besar Zaki, dan dalam birahi yang memuncak, kedua alat kelamin dua insan manusia ini pun saling bergesekan. Lien menekan liang kenikmatannya menggesek “peluru kendali” Zaki mulai dari pangkal hingga ujung, membuat Zaki menggelijang bagaikan tengah berusaha membendung sebuah ledakan bom atom.

Tampak agak tak rela dengan ulah Zaki yang merobek celana dalamnya, Lien terus menerus menggilas kemaluan Zaki namun tak kunjung memasukkannya, dan gerakan gesekannya makin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin intens, membuat Zaki menggelepar-gelepar bagai tersengat listrik ribuan volt, terpenjara dalam kursinya. Dan bukan itu saja “siksaan” dari Lien, karena kedua payudaranya pun otomatis ikut bergerak menggesek dada Zaki menimbulkan sensasi geli saat puting keras kedua manusia ini beradu. Bila itu masih belum cukup, Lien pun melakukannya sambil dengan ganas mencupang dan memainkan lidahnya pada leher Zaki, membuat Zaki meracau tak karuan. Dia berusaha untuk melepaskan “serangan” wanita ini, tapi entah kenapa wanita ini bisa tetap mempertahankan posisi dan serbuannya, sehingga Zaki pun hanya bisa pasrah.

“Kamp***!!!”

Bersama teriakan itu, meledaklah bom atom yang sedari tadi ditahan oleh Zaki, dan Lien pun merasakan seolah bumi bergetar hingga beberapa skala Richter. Cairan hangat yang putih dan kental pun seolah memancar tanpa kenal henti, sebagian terpercik hingga daerah genital Lien. Setelah semua “lahar hangat” itu dikeluarkan, Zaki pun akhirnya terbaring lemas, sementara Lien hanya melihat ke bawah dengan puas, melihat “rudal” Zaki yang mulai mendingin serta belepotan cairan putih kental.

Lien lalu beranjak dari tubuh Zaki, dan menjauh sejenak darinya yang masih seperti ikan paus terdampar di kursi. Tanpa terlebih dahulu melepas jaketnya atau pun memakai pakaian yang lain, Lien pun menuju ke sound system dan sedikit membesarkan suaranya. Zaki hanya melihatnya dengan lemas. Dia menatap ke arah botol obat kuat di meja, tapi seolah tak ada tenaga untuk meraihnya. Sementara pemandangan Lien yang semitelanjang juga cukup mengacaukan pikirannya, terutama saat Lien membungkuk membelakanginya sehingga memaparkan keseluruhan pantatnya. Lien sendiri hanya melihat Zaki yang lemas dengan geli.

“Masih kuat emangnya, Mas?” tanya Lien.

“Nggak usah dimasalahin, kayak gini biasa, ntar lima menit lagi juga udah siap tempur lagi,” kata Zaki.

Zaki pun membetulkan posisi celananya, kemudian dengan susah payah dia beranjak dari kursi untuk menuju ke meja tempat obat kuatnya diletakkan. Dia melihat walau Lien sudah melepas seluruh pakaiannya, tapi jaketnya masih belum dilepas.

“Nggak panas apa, Lien, pake jaket gitu?” tanya Zaki.

“Kenapa, Mas?” balas Lien sambil tersenyum nakal.

“Keringatan tuh,” kata Zaki sambil menunjuk bagian tubuh Lien yang makin seksi akibat mengilap berlumuran keringat.

Lien hanya tertawa saja.

“Tapi seksi, kan?” goda Lien.

“Iya, tapi lepas lah, habis ini langsung naik ke tempat tidur tuh,” kata Zaki.

“Terus kalau nggak mau gimana? Mau dirobek juga?” balas Lien masih dengan nada menggoda, “tapi ini lebih mahal, lho, daripada yang tadi,”

“Masukin aja ke tagihan gue entar,” kata Zaki.

Lien diam tapi tersenyum dingin. Dia melebarkan celah pada jaketnya sehingga semua tubuh bagian depannya terlihat dengan jelas yang masih berlumuran keringat.

“Ntar duitnya abis lho,” kata Lien.

“Duit gue banyak, nggak usah khawatir,” kata Zaki.

“Emang sebanyak apa, Mas?” tanya Lien lagi.

“Banyak deh, pokoknya, nggak perlu tahu,” kata Zaki.

“Banyak segitu emang dapetnya dari mana? Bisnis ya, Mas?” tanya Lien lagi.

“Iya, semacam itu,” kata Zaki mulai tidak sabar, 

“sekarang cepetan naik,”

“Bisnis dengan atas nama ‘jaco123’ bukan, Mas?” tanya Lien, 

Saat itulah Zaki mendadak terhenyak dan dia melihat ke arah Lien dengan raut muka penuh keterkejutan. Pelan-pelan Zaki pun merayap ke dekat sebuah pemukul sofbol yang memang ada di dekat ranjang. Lien masih terlihat telanjang dan memikat, tapi kini raut mukanya berubah menjadi dingin.

“Dari mana kamu tahu soal itu?” tanya Zaki.

“Kamu jaco123?” tanya Lien dingin.

Saat itu juga ketakutan merayap di sekujur tubuh Zaki, dan wanita yang ada di depannya ini pastilah bukan wanita biasa hingga sanggup mengetahui hal-hal semacam itu. Pelan-pelan dia mulai merapatkan genggamannya pada tongkat sofbol dari besi yang selama ini disimpan sebagai antisipasi adanya rampok, dan kini dia akan menggunakannya.

“Mengkhianati negara,” kata Lien dengan tatapan mata yang menusuk dingin menakutkan,

“hukumannya adalah mati,”

“Diam kamu!!” teriak Zaki.

Dan dengan segenap kekuatannya, Zaki tiba-tiba saja langsung merangsek menghantamkan tongkat sofbol itu ke arah Lien, namun Lien dengan ringan mengelak sehingga serangan Zaki mengenai udara kosong dan menghantam sound systemnya hingga hancur berantakan. Kalap, Zaki segera bangkit dan kembali menyerang Lien, yang langsung mengelak kembali dan...

“JLEEB!!!”

Darah langsung muntah dari mulut Zaki ketika sebuah pisau panjang menusuk pangkal tenggorokannya hingga tembus ke belakang lehernya, memutuskan pula koneksi antara dua tulang belakang. Pisau itu terjulur dari bracer tersembunyi yang ada di lengan bawah kiri Lien, yang mana menjelaskan kenapa Lien dari tadi tidak melepas jaketnya, untuk menyembunyikan alat pelontar pisau tersembunyi itu. Zaki melirik sekilas ke arah elmaut yang baru saja menyegel nyawanya, dan wajah Lien tampak sedingin es dengan tatapan mata yang kejam. Tangan Lien yang memegang lehernya kini tak lagi terasa menyenangkan sementara darah terus membanjir keluar, membuatnya tersedak dan tak bisa berkutik lagi.

Tongkat sofbol pun lepas dan jatuh berkelontangan di lantai, dan Lien masih menahan tubuh Zaki dengan satu tangan agar tidak jatuh. Melihat perbedaan postur yang cukup mencolok antara Zaki dan Lien, sungguh menakjubkan bahwa Lien bisa menahan seluruh tubuh Zaki yang beberapa kali lebih besar, hanya dengan satu tangan saja.

“As...Assas...Assassin...” Zaki berusaha berbicara dengan susah payah tersedak darahnya sendiri.

“Dalam kematian, tak ada lagi kebencian, semua dendam lama akan terhapuskan,” kata Lien dengan nada yang menenangkan,

“semoga kau pergi ke tempat yang lebih baik,”

Tiba-tiba Lien menjentikkan pegangannya dan tahu-tahu bilah pisau itu dengan cepat tertarik masuk kembali ke bracer penyembunyinya. Darah Zaki memuncrat banyak sekali ke tubuh dan jaket Lien, tapi Lien sama sekali tak bereaksi, seolah terkena darah baginya adalah hal yang biasa. Zaki sudah mati sebelum tubuhnya menyentuh lantai, di bawah kaki Lien. Sementara darah di tangan Lien pun menetes kembali membasahi kepala Zaki.

“Recquiescat in pace,” kata Lien.

Lien pun berjongkok dan menutup mata Zaki yang masih terbelalak terbuka. Dia lalu mencari hotpants dan tube-nya, kemudian mengenakannya sembarangan saja, sekedar untuk menutupi auratnya. Dan dengan ekspresi yang sama dinginnya seperti saat dia membunuh Zaki, Lien pun berjalan keluar meninggalkan kamar dan rumah kos Zaki.

Baru beberapa langkah keluar dari pintu gerbang kos, sebuah mobil wagon berhenti di depannya, dan beberapa orang berjaket hitam dan bertopeng kain pun segera turun dari mobil itu. Lien hanya diam saja ketika mereka mendekatinya. Siapakah mereka ini? Pertanyaan ini terjawab ketika salah satunya menghadap ke depan Lien dan langsung menghormat.

“Apa semua sudah siap?” tanya Lien.

“Sudah, Kolonel,” kata si pria bertopeng.

“Bagus, buat seperti perampokan,” kata Lien.

Orang-orang bertopeng itu segera menghormat kemudian bergegas menyerbu ke dalam rumah kos itu, melakukan apa yang harus mereka lakukan, sementara Lien berjalan ke salah satu sudut gelap jalan, di mana di situ ada sebuah motor yang terparkir nyaris tak terlihat. Seseorang yang menyaru sebagai tukang mie ayam tampak mengangguk, dia rupanya dari tadi mengamankan situasi di luar, dan setelah Lien naik ke atas motor, barulah dia berlalu dari jalan itu.

Lien memasang helmnya, dan menyalakan motor seolah tak terjadi apa pun. Baginya, sebuah tugas baru saja diselesaikan. Dan sorot mata yang dipancarkannya kini adalah sorot mata yang sama dengan yang dilihat oleh Lucia dan juga Erwina, karena “Lien” merupakan kependekan dari Kolonel Arliena, yang juga salah satu anggota dari pasukan rahasia. Dan misinya baru saja selesai.


Beberapa Waktu Sebelum Present Day


Gedung NewsTV

09.11 WIB

H minus 25:40:00



Sebuah taksi berhenti di depan kantor NewsTV. Tempat parkir NewsTV yang biasanya dipenuhi oleh kendaraan, baik pribadi milik karyawan atau pun kendaraan-kendaraan tugas NewsTV, termasuk mobil satelit, kini terlihat lengang. Sebagian besar sudah keluar akibat keadaan darurat yang terjadi selama beberapa hari belakangan. Karena suasana yang agak kalang kabut itulah, maka kehadiran sebuah taksi di depan kantor ini menjadi agak terabaikan oleh semuanya.

Baru saja taksi itu berhenti, dari langit, dua buah pesawat jet tempur Kohanudnas dari jenis F/A-50 langsung saja melintas menyambar-nyambar dari ketinggian yang relatif rendah, menimbulkan suara mirip letusan cemeti yang dilecutkan di udara. Kerasnya suara itu membuat seorang wanita yang ada di jok belakang taksi terbangun dari tidurnya.

“Sudah bangun, Mbak? Kita sudah sampai,” kata si sopir taksi kepada Erwina.

Ya, Erwina lah yang dari tadi berada di jok belakang taksi itu. Dan ditinjau dari sikapnya yang agak kebingungan, sepertinya dia memang sudah tertidur saat berada di taksi ini.

“Di mana ini?” tanya Erwina berusaha untuk mengenali keadaan.

“Di tujuan, tentu saja, seperti yang Mbak katakan tadi,” kata si sopir.

“Tujuan? Aku dari mana?” tanya Erwina.

“Jangan bilang Mbak nggak ingat,” kata sopir, 

“Mbak dari terminal, katanya pengin langsung ke kantor di sini,”

“Masa? Aku bilang gitu?” tanya Erwina.

Sopir itu hanya mendengus saja, sementara tangan Erwina meraba-raba dan menemukan tasnya berada di dekatnya. Pakaiannya lengkap seperti terakhir kali dia ingat memakaianya, dan tak ada barang yang hilang. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan dompet, dan jumlah uangnya pun masih seperti yang dia ingat terakhir kali. Hanya saja dia tak bisa mengingat apa yang telah terjadi. Bagaimana dia bisa berakhir ada di taksi ini. Erwina pun mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Sudah dibayar koq, Mbak, tadi,” kata si sopir taksi.

“Masa? Siapa yang bayar?” tanya Erwina bingung.

“Jadi nggak inget? Kan taksinya dicarter tadi, dan dibayar di muka,” kata si sopir.

“Masa sih?” tanya Erwina.

“Sudah ya, Mbak, saya mau cari penumpang lagi, yang penting Mbak udah saya anterin ke sini,” kata si sopir,

“ini bener kantornya, kan?”

Erwina melihat ke luar jendela, dan mengenali kompleks gedung NewsTV.

“Ya, bener,” kata Erwina.

“Kalau menurut saya, kayaknya Mbak lagi sakit deh, pucet gitu,” kata si sopir,

“yakin mau ngantor, Mbak?”

“Iya, nggak papa,” kata Erwina.

“Cek dulu barang-barangnya, Mbak, jangan sampai ada yang ketinggalan,” kata si sopir.

Erwina kembali mengecek barang-barangnya, tapi kali ini secara sekilas saja. Kepalanya terasa agak pusing, berat, dan berputar-putar. Seolah baru saja semua isi kepalanya disedot habis sehingga tak ada counter-balance di kepalanya. Dan memang benar kata si sopir taksi, dia memang merasa dirinya agak pucat dan sedikit panas dingin.

“Makasih ya, Pak,” kata Erwina sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

“Sama-sama, Mbak, hati-hati,” kata si sopir taksi sambil tersenyum ramah.

Begitu Erwina keluar dan pintu taksi ditutup, taksi itu segera mundur, tak menunggu Erwina berjalan dahulu. Erwina hanya sekilas menatap kepergian taksi itu, dan dia kembali merasa agak pusing serta pandangannya masih agak kabur. Si sopir taksi menurunkannya tidak tepat di pintu gerbang kantornya, sehingga dia masih harus berjalan sekitar 10 meter sebelum sampai ke pintu gerbang.

Jalanan masuk menuju kantor NewsTV ditumbuhi pepohonan peneduh yang rimbun sehingga hanya sedikit sinar matahari yang menyinari jalan itu, tapi entah kenapa Erwina merasa keadaan amat silau, sehingga dia seolah tengah berjalan di tengah gurun pasir. Tenggorokannya kering dan bibirnya juga agak keriput, rasa dahaga pun mulai menjalar membakar leher dan seluruh tubuhnya. Dia ingin sekali berjalan masuk ke kantor dan meminum segelas air dingin.

Ketika melangkahkan kaki, dia pun terhuyung, seolah tak ada lagi energi yang menyangga seluruh tubuhnya. Pun dekatnya gerbang membuat Erwina memaksakan berjalan dengan ransel di punggungnya, meskipun sempoyongan dan terlihat seperti orang yang amat mabuk. Pandangannya mulai berputar, dan gerbang depan itu seolah terlihat semakin menjauh. Keringat dingin keluar dari dahi Erwina, dan dia mulai berjalan lebih cepat, seolah ingin mengejar gerbang yang semakin menjauh. Sayup-sayup, dia bisa melihat ada sesosok orang yang berdiri dekat gerbang di kejauhan.

“Tolong…” kata Erwina.

Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dan tenggorokannya terasa semakin kerontang. Erwina menjulurkan tangannya berusaha untuk meraih apa yang bisa dia raih, tapi di depannya hanya ada kekosongan belaka. Pandangannya mulai berubah, dari berputar, menjadi kabur, dan kini mulai menggelap seolah ada yang menarik kelambu siang dan berubah malam dengan amat cepat. Saking kaburnya, Erwina sudah tak mampu melihat tangannya sendiri.

Di gerbang, salah seorang satpam kebetulan melihat Erwina, tapi dia masih bingung mengapa Erwina berjalan seperti orang linglung itu. Nama satpam itu adalah Berthus, seorang satpam bertubuh tinggi besar yang menjadi kepala satpam di NewsTV. Dan dia pun mengenal Erwina, dan melihat Erwina dalam keadaan seperti itu, Pak Berthus, begitu dia biasa dipanggil, mencium adanya gelagat yang tidak baik dan segera berjalan mendekati Erwina. Orang-orang yang kebetulan ada di sana pun berjalan mengikuti Pak Berthus.

“Erwina, ada apa?” tanya Pak Berthus dengan logat Papua-nya yang khas.

Tapi Erwina tak menjawab, hanya mulutnya membuka tutup seperti ikan yang dipaksa keluar dari air. Seketika itu juga, mendadak Erwina terjatuh.

“Erwina!” teriak Pak Berthus yang langsung berlari memburu Erwina.

Semua yang ada di situ pun mengikuti Pak Berthus dan segera berlari menyongsong. Pak Berthus segera mengangkat dan membopong Erwina. Beberapa kali dia berusaha memanggil Erwina, tapi Erwina tak bereaksi. Yang membuat semua orang takut adalah reaksi Erwina yang dingin bagai mayat, hanya Pak Berthus, yang membopong Erwina lah yang mengetahui bahwa Erwina masih bernapas, tapi itu juga amat pelan sekali.

“Cepat! Cari bantuan, saya bawa dia ke klinik!” kata Pak Berthus.

Salah seorang reporter laki-laki muda, Rudy, yang tampak gugup melihat keadaan Erwina yang seperti itu, segera saja tersentak lalu lari ke dalam. Dengan tenaganya yang besar, Pak Berthus pun menggendong Erwina seorang diri, dan beberapa orang mengiringinya untuk berjaga-jaga. Tubuh Erwina sebenarnya tidaklah kecil, dia agak montok dan pinggulnya relatif besar, tapi Pak Berthus heran bahwa bobot Erwina terasa ringan, padahal Pak Berthus tahu bahwa Erwina bukanlah wanita yang gila diet. Itu berarti ada sesuatu yang terjadi padanya.

NewsTV merupakan satu dari sedikit kantor yang memiliki klinik kesehatan sendiri, dan karena area kantor ini terhubung dengan apartemen karyawan, maka kebutuhan akan klinik pun menjadi vital. Dan kedatangan Pak Berthus yang membawa Erwina ke sini membuat klinik ini seketika menjadi gempar. Penanggung jawab klinik, dr. Annisa, segera saja sibuk mempersiapkan sebuah ranjang dan menginstruksikan Pak Berthus untuk meletakkan Erwina di sana. Dengan sigap dia pun memeriksa tanda-tanda vital pada Erwina.

“Dehidrasi, jelas,” kata dr. Annisa,

“ambilkan larutan saline, hubungi rumah sakit segera,”

Seorang suster yang memang membantu dr. Annisa di klinik itu langsung saja mempersiapkan beberapa perlengkapan yang diminta. Dia pun memberikan sebuah gelas berisikan cairan isotonik kepada Erwina. Awalnya Erwina memuntahkan cairan tersebut, namun dengan setengah mencekoki, dr. Annisa pun akhirnya berhasil memaksa Erwina untuk menelannya. Bagi dr. Annisa, kemampuan Erwina untuk minum sendiri cukup melegakan.

“Rumah Sakit akan mengirim ambulans, seharusnya 15 menit lagi datang,” kata si suster.

“Bagus, sekarang kita harus menstabilkan kondisinya dalam 15 menit ke depan,” kata dr. Annisa.

“Dia nggak bakal apa-apa, Dok?” tanya Pak Berthus.

“Seharusnya nggak bakal apa-apa, Pak Berthus,” kata dr. Annisa,

“tapi tetap harus ada pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit,”

“Syukurlah, Dok,” kata Pak Berthus sambil menatap ke arah Erwina yang tergolek lemah.

Berita tentang ditemukannya Erwina jelas membuat seisi NewsTV gempar, dan itu menjadi pokok pembicaraan dari semua orang. Tita dan Fitri, dengan diiringi oleh Rudy, langsung masuk ke poliklinik begitu mendengar berita itu. Hanya mereka bertiga saja yang diizinkan masuk, sementara beberapa orang lain yang ingin tahu harus menunggu di luar.

“Bagaimana Erwina, Dok? Apa dia…” tanya Tita.

“Dia baik-baik saja, hanya terkena dehidrasi,” kata dr. Annisa.

“Parah?” tanya Tita.

“Bagaimana menjelaskannya, cukup parah untuk membuatnya sampai begini, tapi tidak cukup parah untuk sampai membunuhnya,” kata dr. Annisa,

“ambulans akan datang sebentar lagi, dan mereka akan merawatnya dengan lebih baik di rumah sakit,”

“Siapa yang tadi bilang kalau Erwina sudah mati?” tanya Tita sambil menatap Fitri.

Rudy pun semakin bergetar ketakutan melihat kedua atasannya ini tampak cukup marah bahwa informasi yang dia katakan ternyata salah.

“Saya… saya nggak tahu, Bu… tadinya saya kira sudah…” kata Rudy.

“Kalau nggak tahu bilang aja nggak tahu, jangan kayak gini,” hardik Tita,

“kamu itu reporter, tugas kamu itu mencari dan melaporkan berita sebagaimana adanya, bukan untuk menafsirkan suatu berita; kalau hal kayak gini aja kamu salah, gimana kamu bisa kerja jadi reporter??”

“Ta, sudah, nggak usah marah-marah,” kata Fitri,

“soal si Rudy, mungkin dia hanya khilaf, maafkan saja buat kali ini, yang penting gimana Erwina,”

Tita mendengus mendengar perkataan Fitri itu.

“Kamu sekarang beruntung saya maafkan, tapi lain kali jangan sampai ini kejadian lagi,” kata Tita,

“gara-gara salah tafsir berita orang bisa aja saling bunuh, kamu kudu inget itu,”

“B…baik, Bu Tita,” kata Rudy tergagap-gagap.

Segera setelah meredakan emosinya, Tita pun menatap ke arah Erwina yang tergolek lemah, dan raut mukanya menunjukkan kenestapaan. Sungguh Tita tak menyangka dia akan bisa menemukan Erwina dalam kondisi yang jauh berbeda dari Erwina yang biasa dia kenal. Erwina yang energik, pemberontak, tapi ceria, yang bahkan sesakit apa pun selalu memaksakan diri untuk meliput di TKP; tapi kini rupanya Erwina benar-benar telah diremukkan sedemikian rupa, bahwa seluruh energinya akhirnya dikalahkan hingga dia hanya bisa tergolek terdiam, lemas, pucat, nyaris tanpa reaksi. Hanya dadanya yang naik-turun dengan pelan sajalah yang menunjukkan bahwa jiwanya masih bersemayam di dalam tubuhnya. Dan inilah yang membuat Tita cukup lega.

“Dia akan selamat, tenanglah,” kata dr. Annisa.

“Nah, jadi kita tak perlu khawatir lagi soal dia,” kata Fitri sambil menepuk pundak Tita.

“Bagaimana pun, aku ingin ada yang bisa terus mendampinginya terus-menerus sampai dia benar-benar bisa pulih,” kata Tita.

“Aku akan bilang ke Gilang, dia pasti seneng Erwina udah balik,” kata Fitri.

Tita menarik napas panjang, dan memang benar yang dikatakan oleh Fitri. Hilang sudah satu kekhawatiran, dan kini yang tersisa adalah masalah yang bahkan lebih besar daripada masalah mengenai Erwina.


Bina Graha

09.29 WIB

H minus 25:22:00



Salah satu ruangan yang saat ini tengah sibuk di Bina Graha, salah satunya adalah ruangan sandi, dan pada saat inilah Arfa memasuki ruangan setelah mendapatkan kabar bahwa sebuah transmisi terenkripsi yang lumayan panjang telah terdeteksi, dan kini semua sedang berusaha untuk mengartikannya.

“Laporan semuanya, dari mana asal transmisi itu?” tanya Arfa.

“Masih kami lacak,” kata juru lacak, 

“kemungkinan besar dikirimkan dari Amerika,”

“Sudah dipastikan?” tanya Arfa,

“dari Langley atau Washington DC?”

“Kami masih menunggu pelacakan penuhnya,” kata juru lacak,

“kami juga sudah menangkap beberapa sandi pendek masing-masing ditujukan ke San Diego, Guam, Yokosuka, Diego Garcia, Port Darwin, dan Bahrain.”

“Perintah harian?” tanya Arfa.

“Saya harap begitu, Nn. Aryanti,” kata juru lacak.

“Terus lakukan pelacakan,” kata Arfa.

Arfa pun segera beredar ke station yang lainnya.

“Bagaimana dengan pesan utamanya?” tanya Arfa.

“Sedang menyelesaikan fase kedua, fase ketiga akan segera dimulai beberapa menit lagi,” kata juru sandi.

“Kita tak punya banyak waktu, mesin sandi Barat biasa mengirimkan sandi dalam 3 fase, jadi bila fase berikutnya gagal, kita tak akan bisa menangkapnya,” kata Arfa,

“Dicky, Roni, kalian ke mari,”

Dua juru enkripsi yang sedang menangani station lain dengan tangkas segera memenuhi panggilan dari Arfa, tak berani untuk luput. Mereka bertiga berkumpul di meja tengah, di mana di sana ada beberapa monitor yang berbentuk seperti meja tembus pandang (tertanam pada meja tengah), beberapa stylus, dan masing-masing dilengkapi dengan keyboard ketik cepat.

“Lakukan seperti yang pernah kita latih sebelumnya, Tag Three, aku menangani enkripsi pertama,” kata Arfa.

“Siap, Bu!” kata Dicky dan Roni bersamaan.

“Maaf, apa tidak bisa dengan kita mengubah algoritma dari mesin pemecah sandinya?” tanya Dicky.

“Mengubah algoritma mesin butuh waktu lama, dan hanya cocok bila kita ingin memecahkan pesan terenkripsi amat panjang atau berseri yang disiarkan secara berulang pada jangka waktu yang lama,” kata Arfa,

“untuk pesan dengan tempo singkat, cara ini lebih cepat; siap di posisi kalian masing-masing,”

“Siap, Bu!” kata Dicky dan Roni yang masing-masing langsung mengambil tempat di depan monitor dan memegang sebuah stylus.

“Kalibrasi ulang sekuens pemecahan sandi,” kata Arfa,

“station satu dikalibrasi,”

“Station 2 dikalibrasi,” kata Dicky.

“Station 3 dan 4 dikalibrasi,” kata Roni.

“Mana juru ketik yang tadi kupesan?” tanya Arfa.

Saat itu juga ajudan yang tadi diperintahkan oleh Arfa untuk mencari juru ketik kembali dengan tergopoh-gopoh sambil membawa seorang wanita. Arfa mengenali wanita ini sebagai salah satu juru ketik di sekretariat kepresidenan.

“Siap, saya sudah dapat juru ketiknya!” lapor si ajudan.

“Bagus, tepat pada waktunya,” kata Arfa,

“siapa nama kamu?”

“Nama saya Yanti, Bu,” kata si juru ketik takut-takut.

“Dia juru ketik tercepat yang bisa kamu dapat?” tanya Arfa pada si ajudan.

“Siap, dia yang terbaik di sekretariat kepresidenan,” kata si ajudan.

Juru ketik yang bernama Yanti itu melihat sekelilingnya dengan takut-takut sekaligus takjub. Belum pernah sebelumnya dia mengintip apalagi masuk ke dalam ruangan ini, karena memang tidak semua personel Bina Graha bisa memasukinya, hanya beberapa personel saja dengan izin keamanan yang khusus. Bahkan jenjang jabatan tinggi pun tak menjamin seseorang untuk bisa masuk ke sini tanpa izin khusus tersebut. Arfa sendiri adalah satu-satunya orang di Bina Graha, selain Presiden, yang memiliki izin khusus untuk masuk ke dalam semua bagian terlarang.

“Baiklah, Yanti, sebelumnya prosedur rutin, cepat saja karena tak ada banyak waktu,” kata Arfa,

“apa kamu bersumpah bla bla bla untuk tidak membocorkan apa pun yang dilihat dan didengar di sini kepada orang lain dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya?”

“Ya, saya bersumpah,” kata Yanti.

“Bagus, ikut aku,” kata Arfa.

Tentu saja lafadz sumpah yang dibacakan oleh Arfa tadi bukanlah lafadz sumpah yang sebenanrnya. Tapi mereka tak punya banyak waktu, dan bagi Arfa, itu sudah cukup bagus. Arfa pun menempatkan Yanti pada tempat duduk di depan station 4. Di sana Arfa menekan monitor yang selain tembus pandang juga tertanam teknologi layar sentuh itu, dan display layar berubah memecah menjadi dua di bagian atas dan bawah.

“Tugasmu, adalah mengetik huruf atau kata ber-highlight di display atas yang muncul dan lakukan secepat dan setepat mungkin,” kata Arfa,

“jangan bertanya, jangan berpikir, cukup ketik saja karena kita memerlukan hasil ketikan itu dan tak ada waktu untuk mengulangi lagi, jadi sekali harus benar, mengerti?”

“Mengerti, Bu,” kata Yanti.

“Dan jangan sentuh layarnya, semua orang akan sibuk, dan memperbaiki display pada layar akan memakan waktu yang amat berharga,” kata Arfa,

“pendeknya, jangan lakukan apa pun kecuali mengetik,”

“Siap, Bu,” kata Yanti sambil bersiap dengan kedua tangan di atas keyboard.

“Sekuens terakhir akan mulai dalam 10 detik!” teriak juru sandi.

“Bersiap semuanya!” aba Arfa.

Arfa dan kedua juru enkripsi segera memegang stylus mereka, sementara Yanti bersiap dengan tangannya berada di atas keyboard. Tampaknya mereka (kecuali Arfa) agak tegang berkaitan dengan hal yang akan mereka lakukan ini.

“Lima, empat, tiga, dua, satu...”

Arfa dengan cepat menggerakkan stylusnya memecahkan yang disebut sebagai enkripsi pertama. Selang dua detik kemudian Dicky pun memainkan stylusnya, disusul Roni, juga dalam selang dua detik, dan akhirnya empat detik setelah Rony mulai, Yanti langsung mengetik dengan kecepatan tinggi. Suasana ruang sandi pun mendadak senyap ketika keempat orang ini mulai melaksanakan tugasnya. Mereka tahu bahwa pada saat seperti ini, tak ada seorang pun yang boleh mengganggu konsentrasi keempat orang ini. Bahkan pintu ruang sandi pun dikunci dari dalam, mencegah ada orang yang keluar masuk sehingga mengakibatkan keberisikan.

Tak ada dari baik Arfa, Dicky, Roni, maupun Yanti yang mengalihkan pandangannya dari layar komputer mereka. Bahkan untuk menyeka keringat pun tidak. Semua serius dan suara yang terdengar hanyalah suara ketukan stylus atau ketikan keyboard.

“Transmisi selesai!” kata juru sandi 10 menit kemudian.

“Selesai!” teriak Arfa beberapa detik setelah itu.

“Selesai juga!” susul Dicky beberapa detik setelah Arfa.

Roni pun juga menyusul selesai beberapa detik setelah Dicky, menyisakan Yanti yang masih mengetik. Arfa berharap-harap cemas, karena memang sebelumnya Yanti belum pernah mengikuti latihan semacam ini, bisakah dia mengikuti ritme proses pensandian ini? Tapi Arfa pun cukup yakin, karena meski wajah Yanti terlihat amat tegang, jari-jarinya mengetik dengan amat lancar, nyaris tanpa gemetar sedikit pun. Sesaat kemudian, sesungging senyum pun muncul di wajah Yanti dan pandangan matanya berubah menjadi berseri-seri.

“Selesai!” teriak Yanti sambil menjauhkan dirinya dari komputer.

Arfa menarik napas lega dan begitu pula dengan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

“Bisa tadi, Yanti?” tanya Arfa.

“Insya Allah bisa, Bu,” kata Yanti.

“Terima kasih, Yanti, mungkin kamu akan saya rekomendasikan untuk dipindah ke bagian sandi,” kata Arfa,

“susah untuk mencari juru ketik handal saat ini,”

Yanti hanya tersipu saja mendengar perkataan Arfa itu. Berikutnya Arfa langsung meminta supaya berkas hasil ketikan Yanti dicetak, sementara meminta segelas air supaya Yanti bisa minum setelah bekerja. Setelah menyeka keringat di dahinya, Arfa memperhatikan si juru lacak sudah berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah kertas kecil dan wajahnya tampak tegang, kontras dengan bagian lain yang terlihat lega.

“Ada apa?” tanya Arfa.

“Pelacakan asal dari transmisi tadi,” kata si juru lacak masih agak tegang.

“Ya, apa dari Langley?” tanya Arfa.

“Bukan, Bu, tapi dari Washington DC, dari...” kata si juru lacak.

“Pentagon?” tanya Arfa.

“Bukan...” jawab si juru lacak.

“Mustahil, maksudnya dari...” kata Arfa.

“Dari Gedung Putih, Bu, transmisi barusan dikirim langsung dari Gedung Putih, dengan tembusan ke Downing Street 10 dan Parliament House di Canberra,” kata si juru lacak.

“Mustahil, mana hasilnya,” kata Arfa sambil merebut kertas yang dipegang oleh si juru lacak.

Lutut Arfa lemas melihat data pelacakan dari si juru lacak. Semua koordinat benar dan tak ada kesalahan. Lalu dia melihat ke arah si juru lacak dengan tatapan mata hampa.

“Dan kau bilang tadi ada transmisi dari Pentagon ke mana saja?” tanya Arfa.

“San Diego, Guam, Yokosuka, Diego Garcia, Bahrain,” kata si juru lacak,

“dan Port Darwin,”

Arfa menarik napas panjang dan menatap ke arah dokumen hasil pengetikan yang baru selesai dicetak. Dengan cepat dia bergerak dan mengambil hasil pengetikan itu sambil membaca isinya dengan cepat. Semakin ke bawah, pembacaannya semakin lambat, dan matanya semakin membelalak. Semua kini menjadi tegang kembali melihat raut muka Arfa, karena mereka tahu sesuatu yang buruk pasti tengah terjadi. Kemudian Arfa melemparkan pandangan ke seluruh ruangan dan menatap mata semua orang yang ada di sana.

“Segera buat salinan dari pembacaan sandi ini,” kata Arfa,

“alamatkan untuk semua kepala angkatan dan pangkalan militer kita di seluruh Indonesia, kirim setelah ada otorisasi,”

“Siap, Bu!” kata semua staf hampir bersamaan.

“Ikut aku, kita akan menemui Presiden,” kata Arfa pada ajudannya.

“Apa ada sesuatu?” tanya si ajudan.

“Ya, kurasa masalah ini akan menjadi lebih lebar dari yang kita perkirakan sebelumnya,” kata Arfa,

“dan Presiden harus tahu soal ini, sebelum terlambat,”

Presiden Chaidir saat ini tengah berada di dalam ruangan yang disebut sebagai “Ruang Tempur” bersama dengan Panglima TNI, Laksamana Dedi Suprayitno, dan juga kepala staf dari ketiga Angkatan, yaitu Jenderal Sudhiarto Pamudji (KASAD), Laksamana Danoe Salampessy (KASAL) dan Marsekal Aloys Theofilius Kambu (KASAU). Tujuan dari pertemuan ini adalah supaya Pres. Chaidir bisa mendengar kesiapan dari seluruh angkatan bersenjata dalam menyikapi perkembangan masalah ini yang mungkin bisa jadi tak terkendali.

Kedatangan Arfa yang tampaknya sedikit mendobrak pintu itu cukup membuat semua orang yang ada dalam ruangan itu terhenyak. Namun mereka sadar bahwa Arfa tak akan datang dengan seheboh itu bila memang tak ada sesuatu.

“Ada apa, Arfa?” tanya Pres. Chaidir.

“Maaf mengganggu, tapi ini amat penting, Pak Presiden,” kata Arfa,

“dan juga tuan-tuan semuanya,”

Arfa segera saja membawa kertas yang sejak tadi dia pegang, dan menyerahkannya kepada Pres. Chaidir. Sang Presiden kemudian memakai kacamatanya dan membaca apa yang tertulis dalam kertas itu, dan tiba-tiba saja dahinya mengernyit. Tak ada seorang pun dalam ruangan itu yang berani berbicara, tapi mereka semua tahu bahwa bila Pres. Chaidir memasang ekspresi seperti itu, ada hal buruk yang terjadi.

“Apa kau yakin soal ini?” tanya Pres. Chaidir dengan lirih kepada Arfa.

“Saya 100% yakin soal ini, Pak Presiden, saya sendiri yang menerjemahkan sandi ini bersama kawan-kawan di ruang sandi,” kata Arfa.

Pres. Chaidir memberi isyarat supaya Arfa berdiri di dekatnya, kemudian secara perlahan dia melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja di hadapannya. Tangannya yang gemetar menunjukkan keseriusan situasi yang tengah dihadapi. Presiden pun menatap wajah semua panglimanya dengan sinar mata yang sedikit sayu.

“Tuan-tuan,” kata Pres. Chaidir memecah kebekuan suasana,

“rasanya apa yang kita takutkan akan segera terjadi; seseorang telah mengetuk kotak pandora, dan menunggunya untuk terbuka,

Semua menarik napas panjang, dan walau pun mereka terhenyak dengan perkataan Pres. Chaidir, hal ini bukannya belum mereka antisipasi sebelumnya.

“Perintah saya, lakukan semua persiapan seperti apa yang tadi kita bicarakan,” kata Pres. Chaidir,

“lakukanlah yang harus dilakukan; yang penting untuk dilakukan. Tapi untuk sementara, usahakan untuk tidak menimbulkan panik massal,”

Semua panglima hanya mengangguk saja. Sepertinya tugas yang diberikan oleh Presiden kali ini terasa amat berat yang hampir-hampir mereka sendiri tak bisa menanggungnya.

“Nn. Arfa akan memberi salinan dari apa yang saya baca sekarang, dan nanti kita akan bertemu kembali untuk membahas lebih detil mengenai permasalahan ini,” kata Pres. Chaidir,

“tapi sekarang mohon Anda sekalian meninggalkan ruangan dulu; ada yang harus saya bicarakan dengan Ketua DPR dan juga Ketua MPR,”

Dengan agak enggan, semua orang beranjak dan menghormat kepada Presiden Chaidir sebelum akhirnya mereka berjalan meninggalkan ruangan itu. Pres. Chaidir pun memberi isyarat kepada Arfa untuk turut keluar bersama dengan para panglima.

“Tuan Presiden,” kata Mars. Kambu begitu dia hampir mencapai pintu.

“Ada apa, Marsekal?” tanya Pres. Chaidir.

“Semoga Tuhan melindungi kita, Pak,” kata Mars. Kambu.

“Terima kasih, Marsekal,” kata Pres. Chaidir,

“karena Indonesia sekarang membutuhkannya lebih dari apa pun dan kapan pun,”

“Halo,” kata Prita yang tahu-tahu saja sudah ada di belakang Anton.

“Hai,” balas Anton sambil berusaha tersenyum.

“Ada kelasi yang bilang kalau kamu di sini,” kata Prita yang segera duduk di sebelah Anton,

“susah cari kamu ke mana-mana,”

“Cuman pengin ngademin kepala aja, Ta,” kata Anton, 

“tadi aku lepas kendali di sana,”

“Pastinya, sudah bertahun-tahun aku kenal ama kamu, dan baru kali ini aku lihat kamu bersikap kayak gitu,” kata Prita,

“mengejutkan, tapi tetap bisa dimengerti,”

“Bila suami kamu ada di bawah sana dengan kemungkinan nyaris nol persen untuk bisa ditemukan kembali,” kata Anton,

“kamu pasti juga ngelakuin hal yang sama,”

“Mungkin aja,” kata Prita,

“bisa jadi lebih parah,”

“Ini tidak adil buat Lucia,” kata Anton.

“Aku tahu, udah lama dia menderita sewaktu masih jadi istrinya Ben, dan sekarang dia bahagia tapi ngalamin hal macem gini,” kata Prita,

“tapi lebih nggak adil lagi buat Lani, soalnya sekali lagi dia bakal kehilangan seorang ibu,”

Prita lalu melihat ke arah Anton dan menepuk pelan pundaknya.

“Juga seorang ayah,” kata Prita,

“kalau perang ini bener-bener terjadi,”

“Aku tahu, aku bertindak bodoh dengan ninggalin Lani sendiri,” kata Anton.

“Bodoh atau pintar, itu tergantung pada hasilnya, bukan saat awal-awal,” kata Prita,

“Ci Fiona pasti bakal kasih tahu dia alasan sebenarnya ayahnya harus pergi, dan Lani pasti ngerti; malah mungkin Lani sendiri yang bakal minta kamu buat nyusulin Lucia,”

Anton hanya mengangguk kecil, kemudian dia kembali melepas pandangan ke laut lepas.

“Kira-kira di mana dia sekarang?” tanya Prita,

“di mana Lucia, di balik samudera biru yang luas ini?"

“Di bawah,” kata Anton sambil menunjuk ke lautan,

“entah di mana, andai ada cara untuk menghubunginya,”

“Ya, mereka terasing dan mungkin juga tak tahu bahwa kita sedang mencari mereka di atas sini,” kata Prita

“kau ingat pada saat banjir raksasa dulu? Saat Lucia terjebak di BMG, terkepung banjir, dan tak bisa ke mana-mana, dan tiba-tiba...”

“Itu beda, Ta,” kata Anton.

“Denger dulu, Ton, aku cuman pengin cerita dulu,” kata Prita,

“inget kan waktu itu, pas semua terisolasi, nggak bisa tahu siapa keadaannya gimana; maksud aku, pas keadaan mencekam itu bisa aja tiba-tiba ada sinyal masuk, kebaca ama semua yang pegang HT, dan pas itu kamu masih ama Wina; lucu aja,”

“Gila yah, pas itu?” tanya Anton sedikit terkekeh.

“Memang, dan cuman yang tahu kode morse aja yang tahu,” kata Prita.

“Ya, dan mengejutkan pas tiba-tiba aja Lucia ngebales,” kata Anton,

 “aku nggak nyangka aja ternyata dia tahu,

“Ya, andai aja bisa segampang itu,” kata Prita,

“kamu kirim pesan dan dia bales,”

Anton tiba-tiba terdiam. Hal ini membuat Prita menjadi sedih.

“Maaf, Ton, aku cuman pengin buka pembicaraan aja,” kata Prita.

“Kirim pesan dan dia bales,” kata Anton setengah bergumam.

“Aku minta maaf,” kata Prita,

“sudah, anggap aja aku nggak pernah ngomong, ya,”

Prita menepuk pundak Anton, dan tiba-tiba saja Anton langsung berdiri. Prita tentu saja terkejut, apalagi Anton langsung berjalan ke arah anjungan tanpa berkata apa-apa lagi. Merasa bersalah, Prita langsung mengejar dan memanggilnya.

“Ton! Tunggu!” kata Prita.

Tepat sebelum mendekati anjungan, Prita berhasil menyusul Anton dan memojokkannya di dinding. Wajah Prita tampak memelas, setengah sedih setengah merasa bersalah.

“Dengar, Ton, aku minta maaf udah cerita soal itu, tapi aku cuma...” kata Prita.

“Bukan soal itu, Ta,” kata Anton.

“Lalu kenapa kamu kayak gini?” tanya Prita sedikit bingung. 

“Inget nggak waktu kamu bilang mereka mungkin terasing dan nggak tahu kalau kita sedang cariin mereka,” kata Anton.

“Ya, tapi apa hubungannya?” tanya Prita.

“Ikut aku,” kata Anton.

Anton pun memegang tangan Prita dan mengajaknya masuk ke dalam anjungan, di mana Kapt. Kadek cukup terkejut melihat mereka berdua kembali.

“Apakah Anda sudah tenang, Tn. Anton?” tanya Kapt. Kadek,

“karena kalau belum, maka saya...”

“Saya sudah tenang, Kep, dan saya mendapat sesuatu,” kata Anton,

“mungkin bodoh, tapi ini perlu dicoba,”

“Bagaimana?” tanya Kapt. Kadek bingung.

“Bagaimana kalau mereka tahu bahwa ada yang mencari mereka di atas, tapi karena satu dan lain hal, mereka memutuskan untuk tidak menjawab setiap panggilan kita?” tanya Anton,

“mengira mungkin kita adalah pihak musuh yang kembali untuk menghancurkan mereka?”

“Ya, itu bisa saja terjadi,” kata Kapt. Kadek,

“tapi apa hubungannya?”

“Dr. Vorobyov mengatakan bahwa mereka harus ‘menjawab’ supaya RFS Malatinsky bisa mengunci frekuensi mereka,” kata Anton,

“lalu mengkonfigurasi ulang sensor Rusal’naia untuk bisa melacak KRI Antasena dengan lebih baik,”

“Ya, langsung saja pada intinya, Tn. Anton,” kata Kapt. Kadek,

“jujur saja saya mulai agak bingung dengan penjelasan Anda,”

“Saya akan mengirim pesan, Kep,” kata Anton,

“pesan yang hanya istri saya yang tahu bahwa itu berarti saya mengharapkan balasannya,”

Prita dan Kapt. Kadek saling berpandangan tidak mengerti.

“Ya ampun, jangan-jangan selama kamu tadi di atas sana kamu kesurupan ama Nyi Roro Kidul, ya?” tanya Prita,

“yang enggak-enggak aja, sih?”

“Saya setuju dengan Nn. Prita,” kata Kapt. Kadek,

“tapi katakanlah bahwa semua itu mungkin terjadi; bagaimana cara kita memberikan pesan itu?”

“Sonar aktif,” kata Anton.

“Maksudnya?” tanya Kapt. Kadek.

“Dengar, Kep, saya ingin Anda percaya dengan saya untuk kali ini,” kata Anton,

“di mana station untuk meluncurkan sonar aktif?”

Kapt. Kadek segera membawa Anton ke sebuah station, dan juru sonar yang tampak sudah mengerti langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian mempersilakan Anton untuk duduk.

“Tekan tombol ini untuk mengaktifkan sonar, Pak,” kata juru sonar,

“tapi sejujurnya...”

“Ini memang bodoh, saya tahu,” kata Anton.

“Bodoh atau tidak,” kata Kapt. Kadek,

“rasanya dalam keadaan seperti ini tidak ada cara yang terlalu bodoh untuk dicoba,”

Anton hanya tersenyum saja kepada Kapt. Kadek.

“Baiklah, beri tahu kepada semua kapal untuk menghentikan pelacakan dengan sonar aktif, dan biarkan Tn. Anton mengirimkan pesannya,” kata Kapt. Kadek kepada perwira radio.

Perwira radio pun segera memberitahukannya kepada semua kapal yang ada di Armada itu, meskipun dia sendiri merasa agak aneh dengan perintah tersebut. Tapi seperti yang dikatakan oleh Kapt. Kadek, saat ini tak ada cara yang bisa dianggap terlalu bodoh untuk dicoba.

“Kau yakin, Ton?” tanya Prita sambil bersimpuh di dekat Anton.

“Doakan saja,” kata Anton.

“Baik,” kata Prita,

“semoga kali ini berhasil,”

“Tn. Anton, silakan dimulai,” kata Kapt. Kadek.

Anton pun lalu meletakkan tangannya di atas tombol pengaktif sonar dan menekannya. 



Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

09.42 WIB

H minus 25:09:00



Telinga Lucia terasa pengang, dan seolah ada bunyi denging yang tak mau berhenti bergaung di suatu tempat di rongga kepalanya. Dia merasa seolah baru masuk ke sebuah lonceng kemudian lonceng itu dipukul dengan keras. Sebuah suara yang keras, lebih keras dan lebih mengerikan dari apa pun yang pernah dia dengar, baru saja berbunyi sebanyak dua kali. Dan suara itu telah berhasil membangunkan seisi kapal selam yang tadinya sepi hingga kini ramai kembali. Lucia bahkan bersumpah, andaikata lebih lama lagi, bisa-bisa mereka yang telah gugur pun bangkit kembali.

Semua orang kini tengah sibuk membicarakan suara apa yang tadi baru saja mereka dengar. Spekulasi pun bermunculan, mulai dari yang paling sederhana seperti suara ikan paus yang hendak kimpoi, hingga ke yang berbau mistis seperti yang mengatakan bahwa mereka telah mengganggu ular naga laut peliharaan Nyi Roro Kidul, dan kini si naga telah marah dan mengeluarkan suara yang menggelegar. Sementara satu hipotesis gila lagi adalah yang mengatakan bahwa suara itu adalah...

“Senjata sonik,” kata Erika.

“Yang benar saja? Senjata sonik?” tanya Lucia setengah tak percaya.

“Iya, kata salah seorang kelasi, Amerika Serikat dan Russia juga mengembangkan sebuah senjata berbasis suara yang konon bisa menjatuhkan pesawat atau rudal yang tengah terbang di angkasa,” kata Erika,

“dan senjata itu juga bisa digunakan untuk menghancurkan sasaran-sasaran di bawah air, termasuk kapal selam,”

“Lalu kamu berpendapat kalau musuh sedang memakai senjata sonik ke kita, begitu?” tanya Iwan yang masih terbaring di tempat tidurnya.

Kepalanya kembali sakit akibat benturan pada saat pertempuran dengan HMAS Pitcairn tempo hari.

“Ya, begitu kan?” tanya Erika,

“dari beberapa hari ini ada suara sonar yang sepertinya mereka sedang memburu kita, mencoba menghancurkan kita sampai berkeping-keping,”

Lucia sendiri hanya tersenyum mendengarnya. Suaminya adalah penggemar alutsista, dan belum pernah sama sekali dia mendengar sesuatu yang gila sebagaimana halnya senjata sonik ini. Memang, hal semacam ini pernah diangkat ke dalam cerita fiksi, contohnya seperti episode komik Tintin, “Penculikan Calculus”. Tapi kenyataannya penggunaan sonik atau suara sebagai senjata lebih susah daripada hal lain, katakanlah laser. Ini karena suara bersifat memancar ke segala arah dan hingga saat ini belum bisa diarahkan untuk memancar ke satu titik saja. Coba saja misal kita berdiri di belakang pengeras suara, kita pasti masih bisa mendengar suara dengan kencang. Karena itulah, Lucia tak begitu mempermasalahkan soal “senjata sonik” ini. Biarlah itu hanya menjadi sebuah topik pembicaraan saat waktu semakin merapat.

Selain dari itu, ada hal amat penting lain yang lebih menyita perhatiannya. Ya, karena akhirnya Reza dan Sers. Andre akan berhasil menyelesaikan perbaikan alat sonarnya, dan oleh karena itu, maka mereka pun akan bisa berhubungan dengan dunia luar. Apalagi selama beberapa hari ini, Lucia tahu bahwa KRI Antasena tidaklah sendiri. Dia sering mendengar sayup-sayup seperti sonar yang dibunyikan. Dilihat dari intensitasnya, jelas bahwa siapa pun yang di atas, dia pasti tengah mencari sesuatu, mungkin mencari KRI Antasena. Ini juga menunjukkan bahwa apabila KRI Antasena yang ganti mengirimkan sinyal, hampir bisa dipastikan bahwa kapal di atas akan segera menjawabnya. Nah, permasalahannya adalah, jawaban apa yang akan diberikan?

Satu-satunya hal yang paling dikhawatirkan oleh Lucia saat ini adalah apakah kapal yang ada di atas itu teman atau musuh? Berhubung peta elektronik rusak, dan dalam kegelapan laut biru yang dalam ini, susah untuk menentukan di mana posisi pasti dari KRI Antasena sekarang. Arus laut tidak bisa dijadikan patokan, karena perubahan sekecil apa pun susah untuk dideteksi mengingat penanda giroskopik juga rusak. Dan Lucia juga sudah belajar untuk tidak mencoba mengira-ngira ke mana kapal selam mengarah dalam posisi tidak mengetahui apa yang ada di luar. Bahkan saat bermobil di jalan pun amat susah bagi Lucia untuk mengetahui ke arah mana mobil tengah menghadap bila tanpa melihat kompas. Dan meski pun ada kompas di kapal selam ini, tanpa mengetahui perubahan kecepatan hanyut kapal, maka hampir mustahil pula untuk bisa melacak pergerakannya. Arus bawah air bisa saja membawa mereka amat jauh, tapi juga bisa pula hanya membawa mereka berputar-putar saja.

Maka masalah pelik dari ketidakmampuan untuk mengenali posisi kapal yang sekarang adalah, saat ini mereka ada di mana? Terakhir kali, KRI Antasena berada cukup dekat dengan perbatasan Australia, ini berarti ada kemungkinan bahwa mereka kini tengah ada di perairan Australia. Apabila hal itu terjadi, maka bisa dipastikan yang sedari tadi mencari dengan sonar itu adalah kapal musuh, dan apabila KRI Antasena berhasil mereka temukan, tanpa ampun mereka akan ditenggelamkan, seperti halnya yang coba dilakukan oleh almarhum HMAS Pitcairn beberapa hari lalu. Situasi makin runyam karena dengan semua keadaan KRI Antasena kali ini, kapal selam ini bukanlah kapal selam perkasa yang bisa head-to-head melawan HMAS Pitcairn beberapa malam lalu, melainkan hanya seonggok kaleng baja yang rentan dan tak memiliki pertahanan apa pun kecuali pengelak sonar pasifnya. Sebuah sasaran yang lebih empuk daripada seekor bebek yang sedang duduk.

Lucia merebahkan kepalanya pada bantal tipis di bunk-bed-nya. Matanya menatap langit-langit pendek di atasnya. Suara sonar kembali terdengar, dan terlepas dari kekhawatiran apa pun, rasanya menyenangkan mengetahui bahwa ada orang di atas sana yang menemani mereka. Tiba-tiba pikirannya melayang jauh ke masa beberapa tahun lalu, sebelum dia menikah dengan Anton, saat istri pertama Anton, Wina, belum meninggal, dan Lucia masih bersama Ben, suami pertamanya yang ingin dia lupakan. Saat itu banjir besar, terbesar dari yang pernah dia alami sebelumnya, melanda Jakarta, sebuah keterlambatan untuk mengetahui datangnya banjir ini akibat banyaknya sensor banjir yang dirusak atau dicuri orang. Lucia seharusnya tidak pergi meliput pada malam itu, suaminya tak memperbolehkannya, sebagaimana dia juga tak memperbolehkan Lucia untuk terus bekerja di NewsTV; tapi entah kenapa untuk malam itu Lucia membandel. Setelah persetubuhan yang bagi Lucia lebih mirip sebagai perkosaan, entah mengapa Lucia yang biasanya pendiam malam itu memilih untuk berontak.

Banjir yang kilat pun melanda Jakarta dengan cepat, dan orang-orang pun terjebak di kolom-kolom kering, mengubah Jakarta menjadi bak lautan hanya dengan beberapa daerah kering yang dari udara nampak seperti pulau-pulau di tengah samudera. Cepatnya banjir ini melanda membuat orang-orang di jalan tidak sempat bereaksi dan banyak yang mati tenggelam. Hanya mereka yang berada di puncak tinggi serta wilayah kering saja yang masih bisa bertahan. NewsTV terkena akibatnya dengan terisolasinya antara kantor pusat dengan para reporternya. Salah satu yang terisolasi adalah Lucia, dan bahkan dia menjadi satu-satunya reporter yang terisolasi di BMG, yang sudah sejak beberapa hari sebelumnya adalah tempat penugasannya.

Namun bukan soal banjir parah itu yang ia ingat saat ini, melainkan hal lain yang terjadi pada saat banjir parah itu. Apakah itu? Yaitu ketika Lucia merasa terasing, sepi, dan seorang diri, tiba-tiba pada radio HT-nya terdengar sebuah nada kode morse yang bila dieja akan menjadi: “L-U-C-I-A-I-M-I-S-S-Y-O-U” dan itu dikirimkan oleh Anton lewat frekuensi umum sehingga semua orang di frekuensi itu, yaitu orang NewsTV, baik yang di outpost maupun di kantor tentu saja dapat mendengar, dan beberapa orang yang mengerti kode morse tentu saja hanya tersenyum saja. Sekali lagi, itu adalah pesan yang aneh, dan mungkin bagi beberapa orang, cukup memalukan; karena Anton dan Lucia masing-masing menikah dengan istri dan suami mereka sendiri. Tapi bagi Lucia, itu adalah sebuah kenangan yang cukup indah, dan saat itulah Lucia merasa bahwa Anton adalah pria pertama yang membuatnya merasa tak sendiri lagi.

Mungkin itu awal Lucia menyukai Anton, tapi setelah “insiden morse”, mereka tetap setia pada pasangan mereka masing-masing hingga kemudian Wina, istri Anton, meninggal dunia. Kalau misal ada pertanyaan bagi Anton kenapa dia mengirimkan pesan itu, Anton pasti akan menjawab bahwa dari semua reporter yang dikirim mengungsi saat banjir belum mencapai puncaknya, hanya Lucia-lah yang Anton khawatirkan. Kenapa? Karena Lucia menjalani tugasnya seorang diri, dan dengan perbekalan dari kantor yang jauh dari memadai. Alasan khususnya, karena Lucia memang bertugas di BMG atas permintaan pribadi dari Anton supaya Bu Sabrina menempatkan orang di sana, sehingga Anton merasa turut bertanggung jawab kepada Lucia. Sonar kembali terdengar, dan entah kenapa Lucia mulai merasa semakin tenang mendengarnya, bahkan ketika sonar itu terdengar bertalu-talu seolah kacau dan tak seterpola sebelumnya.

“Wah, ada yang mainin sonar nih, di atas,” kata Erika mendengar suara sonar yang kacau itu.

“Tauk nih, anak siapa sih, main-main pake sonar,” gumam Iwan.

Kacau? Entahlah, mungkin kedengarannya begitu, tapi bagi telinga yang peka seperti Lucia, entah kenapa dia merasa bahwa sonar yang dilepaskan kali ini berarti apa pun kecuali kacau. Kepalanya yang memang amat terbiasa dengan hitungan ritmis, karena dulu Lucia pernah berlatih menyanyi, dengan segera menangkap sebuah pola yang kali ini benar-benar terasa amat tak asing.

“L... U... C... I... A... Lucia?” gumam Lucia.

Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang, karena pola ini pernah dia dengar sebelumnya.

“I... M... I... S... S... Y... O... U... I miss...” teriak Lucia.

Mendadak Lucia terbangun seolah terloncat. Sonar itu rupanya dikirimkan membentuk sebuah kode morse yang bila diterjemahkan menjadi “Lucia, I miss you.” Dan hanya ada satu orang yang akan mengirimkan sandi seperti itu, yaitu...

Diiringi tatapan mata keheranan semua orang yang melihatnya, Lucia langsung berlari menyusuri koridor bagaikan dikejar oleh sebuah cambuk mahadahsyat. Suaminya sudah datang! Suaminya sudah datang untuk menjemputnya! Dan kini suaminya menunggu jawaban darinya, menunggu jawaban bahwa dia sudah siap untuk diselamatkan. Segala pikiran mengenai kematian mendadak sirna di kepala Lucia, dan bayangan sosok suaminya yang menyambutnya dengan senyum hangat dan tangan terbuka pun muncul memenuhi pikirannya. Harapan mendadak tumbuh dan langsung memenuhi seluruh benaknya, bagaikan sebuah awan badai yang mendadak hilang dan digantikan oleh pelangi yang amat indah. Lucia pun berlari sambil tersenyum.

“Anton, aku datang,” begitu pikir Lucia.

Kemunculan Lucia di anjungan secara tiba-tiba mengejutkan semua orang, kecuali Laksma. Mahan. Apalagi Lucia datang dengan napas terengah-engah seolah dia baru saja berlari jauh. Dalam anjungan itu ada Reza, Sers. Andre, Letkol. Ari La Masa, juga dua kelasi lainnya, bersama Laksma. Mahan.

“Laksamana, saya mendengar...” kata Lucia sembari terengah-engah.

“Aku tahu, ada yang memanggilmu,” kata Laksma. Mahan sembari menunjuk ke atas,

“kami dari Angkatan Laut cukup familiar dengan kode morse, Nona,”

Lucia agak tersipu malu mendengarnya.

“Suamimu?” tanya Laksma. Mahan.

“Ya, dia pernah mengirimkan kode ini sebelumnya, pasti itu suami saya,” kata Lucia.

“Baiklah kalau begitu, rupanya suamimu orang yang cukup gigih, mau repot-repot datang ke sini untuk menjemput bola,” kata Laksma. Mahan.

“Bagaimana perbaikannya?” tanya Lucia.

“Hampir selesai, Mbak Lucia, tinggal nempelin satu komponen lagi,” kata Reza.

“Kavaleri datang karena cinta,” gurau Letkol. La Masa,

“ini pasti akan jadi salah satu cerita dalam novel-novel romansa,”

Berita kedatangan suaminya, dan fakta bahwa Reza serta Sers. Andre hanya tinggal sekejap lagi selesai mengerjakan sonarnya merupakan hal yang mendadak membubungkan semangat Lucia hingga menerjang langit. Belum pernah dia merasa sesenang ini sebelumnya, dan meskipun Lucia bahagia dengan Anton, rasanya belum pernah Lucia akan menyambut Anton dengan kegirangan yang amat sangat, bahkan mungkin melebihi seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang. Koreksi, bayangkan saja seorang musafir yang tengah kehausan di gurun pasir di mana semangatnya sudah amat redup hingga siap untuk mati, tiba-tiba dia menemukan sebuah oasis yang hijau dan subur, dan di situ ternyata untanya menunggunya dengan setia. Sesenang itulah Lucia saat ini, saking senangnya hingga wajahnya pun memerah, meronakan kulit Lucia yang putih bersih bagai pualam.

Tiba-tiba seseorang masuk ke anjungan di tengah semua euforia yang menyelimuti semua orang yang sudah ada di sana. Orang itu adalah Ridwan Juhari, dan dia agak terheran-heran melihat semua orang tengah tersenyum ceria, seolah kegelapan yang selama ini mendera sirna ditiup angin musim semi yang hangat.

“Ada apa ini?” tanya Ridwan Juhari,

“tadi saya melihat Nona Lucia lari ke sini, apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Kami sudah menyelesaikan alat sonarnya,” kata Sers. Andre,

“tepat pada waktunya,”

“Dan itu artinya...” kata Ridwan Juhari.

“Kita bisa melakukan kontak dengan dunia luar, Tn. Juhari,” kata Laksma. Mahan,

“seperti yang akan kita lakukan sekarang,”

“Melakukan kontak dengan dunia luar? Maksud Anda, Laksamana?” tanya Ridwan Juhari,

“dengan sonar itu?”

“Ya, kita akan membunyikan sonar ini, dan seseorang akan menangkapnya,” kata Laksma. Mahan.

“Menangkapnya? Tapi siapa yang menangkapnya, Laksamana?” tanya Ridwan Juhari.

“Sejak dari beberapa hari lalu ada yang mencari kita dengan sonar, Tn. Juhari,” kata Laksma. Mahan,

“dan mereka masih ada di sini; bila kita bunyikan sonar kita sekarang, maka mereka bisa menangkap keberadaan kita,”

“Lalu mereka menghancurkan kita?” sambung Ridwan Juhari,

“seperti saat pertempuran tempo hari? Ini gila, bagaimana kalau mereka adalah musuh?”

“Kita harus mengambil risiko itu, Tn. Juhari,” sambung Letkol. La Masa.

“Oh, aku tak bisa mengambil risiko itu,” kata Ridwan Juhari.

Tahu-tahu saja, Ridwan Juhari sudah mencabut sepucuk pistol, Glock 19, dan mengarahkannya kepada Letkol. La Masa yang paling dekat. Hal itu tentu saja membuat semua orang terkejut. Pistol? Tapi dari mana Ridwan Juhari bisa mendapatkan sepucuk pistol? Laksma. Mahan tahu bahwa satu-satunya senjata api dalam kapal selam ini hanyalah pistol miliknya dan milik Letkol. La Masa sebagai dua pemimpin yang mungkin memerlukannya untuk menegakkan aturan di kapal. Tapi kedua pucuk pistol ini nyaris tak pernah mereka sandang dan hanya disembunyikan di kabin. Lagi pula pistol milik Laksma. Mahan dan Letkol. La Masa adalah pistol FN, bukan Glock.

“Angkat tangan semuanya,” perintah Ridwan Juhari,

“ada 10 peluru di pistol ini, lebih dari cukup untuk membunuh semuanya,”

Semua orang pun perlahan-lahan mengangkat tangannya, masih dengan mimik muka bertanya-tanya, berharap bahwa kejadian ini tidaklah serius.

“Kau, tutup pintu dan kunci,” kata Ridwan Juhari pada seorang kelasi.

Kelasi itu melihat sejenak ke arah Laksma. Mahan, tampaknya bimbang apa yang harus ia lakukan, tapi Laksma. Mahan memberi isyarat kepadanya untuk mengikuti kemauan Ridwan Juhari, dan kelasi itu segera menutup pintu anjungan dan menguncinya di bawah pengawasan dari Ridwan Juhari. Kemudian Ridwan Juhari menyuruh semua orang untuk berada di satu sisi anjungan supaya dia bisa mengawasi semuanya dengan lebih baik. Pistol di tangannya masih mengarah ke mereka, dan dilihat dari caranya memegang pistol, jelas sekali bahwa Ridwan Juhari bukan orang amatir dalam hal ini.

“Dari mana Anda dapat pistol, Tn. Juhari?” tanya Laksma. Mahan,

“kurasa sudah jelas bahwa dilarang membawa senjata di sini kecuali kapten dan mualim satu,”

“Jadi utusan dari DPR kadang memiliki keistimewaan tersendiri,” kata Ridwan Juhari,

“tapi pistol ini bukan satu-satunya yang kuselundupkan dengan susah payah,”

“Lalu apa maumu?” tanya Laksma. Mahan.

“Kapal selam ini terlalu berharga, Laksamana,” kata Ridwan Juhari,

“aku tak bisa biarkan kapal selam ini jatuh ke tangan musuh, ke tangan orang yang salah,”

“Tapi, Tn. Juhari, mereka yang di atas sana bukanlah musuh,” kata Lucia,

“tak perlu melakukan hal semacam ini?”

“Dari mana kau tahu itu, Nn. Lucia?” tanya Ridwan Juhari.

“Anda mendengar rentetan sonar ini, Tuan? Ini adalah kode yang hanya akan digunakan oleh suami saya,” kata Lucia,

“suami saya ada di sini, jadi mereka pastilah teman, suami saya datang untuk menyelamatkan kita; mereka teman, bukan musuh,”

“Kau pikir begitu?” tanya Ridwan Juhari.

“Ya, tentu saja,” kata Lucia,

“suami saya kenal baik dengan petinggi di TNI-AL, mereka pasti telah mengajaknya, dan yang mencari di atas adalah kapal-kapal kita, kapal-kapal TNI-AL sendiri,”

Ridwan Juhari tergelak sejenak, kemudian dia terdiam sembari sebuah senyuman sinis kecil tersungging di bibirnya.

“Kau tahu, Nn. Lucia, saat mengatakan mengenai tangan yang salah,” kata Ridwan Juhari,

“merekalah yang kumaksudkan,”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...