Jumat, 02 Oktober 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER XVIII

The Siren

CHAPTER XVII

The Siren



Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
11.13 WIB
H minus 23:46:00


Lucia tersadar saat dia merasakan kerasnya lantai baja pada pipinya. Dia berada dalam posisi tertelungkup akibat ledakan yang terjadi belum lama, dan butuh beberapa waktu sebelum matanya mulai terbiasa dengan kegelapan yang menyeruak kemudian. Sesaat Lucia merasakan deja vu seperti ketika kejadian beberapa hari yang lalu, saat kapal KRI Antasena diserang musuh untuk pertama kalinya. Gelap gulita, dan nyaris tak ada yang memandunya.

Lucia menggerakkan tangannya yang terasa nyeri bukan kepalang, belum ditambah kepalanya yang sakit dengan amat hebat, hingga Lucia merasa semua aspirin di dunia tak akan sanggup meredakannya. Dia terbatuk, kesulitan bernapas akibat rambutnya sendiri terdorong ke depan dan sebagian masuk ke dalam mulut dan membuatnya tersedak. Udara yang sudah sesak semakin menyesakkan karena ada asap halus yang memenuhi bawah lantai, hanya setinggi 15 cm saja dari lantai.

Perlahan-lahan, Lucia pun menggerakkan tangannya yang masih gemetaran, seolah baru saja diguncang kekuatan yang amat besar. Telapak tangannya menapak ke sebuah pegangan yang bisa diraihnya, dan saat Lucia menggenggam pegangan itupun, tangannya berguncang hebat, seolah tak ada lagi kekuatan yang tersisa di tangan itu. Guncangan pada tangan itu semakin hebat ketika Lucia mulai menumpukan dan menarik tubuhnya pada tangan itu. Bahkan untuk memegang saja sudah amat sulit, apalagi untuk menarik tubuh, Lucia merasa tak ada lagi tulang yang tersisa pada tangan itu. Bagaimanapun, dia harus memaksakan diri, karena kalau dia tak segera berdiri, dia bisa saja mati akibat keracunan asap yang menggenang di lantai.

Ketakutan akan kematian membuat Lucia memompakan semua tenaganya yang tersisa ke dalam tangan yang kini sudah menapak itu. Pelan-pelan, guncangan pada tangan pun berhenti dan akhirnya tubuhnya sedikit demi sedikit mulai bergetar dan bergeser. Sekujur tubuhnya terasa amat sakit, dan di beberapa titik tertentu nyerinya tak tertahankan. Saat ini hanya tangan dan kepala saja yang oleh Lucia rasakan bisa bergerak, entah dengan bagian tubuh yang lain. Lucia merasa seolah dia berada di dunia ini sendirian, semuanya gelap kecuali beberapa kilatan-kilatan cahaya, juga sunyi, hanya sayup-sayup suara yang tidak jelas.

Dengan susah payah, akhirnya dia bisa menarik kepala dan tubuh bagian atasnya untuk menjauh dari genangan asap itu. Tapi dia masih belum selamat, karena belum bisa menegakkan tubuhnya, dan hanya bersandar pada tangan yang masih rapuh, dan kini semakin berguncang hebat. Baru saja Lucia hendak menyerah, sebuah tangan lain mendadak terasa mencengkeram bahu Lucia dan menariknya, dan saat itulah dia serasa direnggut dari dunia kesepian yang sejak tadi menderanya.

Cahaya putih menyilaukan menerpa wajahnya, dan sesosok wajah di balik cahaya itu berkali-kali memanggil namanya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Lucia menyadari bahwa cahaya putih itu bukan cahaya akhirat, melainkan cahaya senter putih yang dipakai sebagai penerangan darurat di kapal selam. Secepat kilat kesadarannya kembali dan Lucia merasakan tenaganya seolah dikembalikan ke masing-masing bagian tubuhnya, membuatnya bisa bergerak, satu hal yang beberapa saat lalu belum bisa dilakukannya dengan benar. Kenyataan pahit pun kembali menyeruak, bahwa dia masih terjebak di kapal selam ini, dan kali ini Lucia merasakan keadaannya lebih parah daripada sebelumnya.

“Kau sudah sadar, Nn. Lucia?” tanya Laksma. Mahan, wajah yang tadi Lucia lihat dari balik cahaya.

“Ya, apa yang terjadi?” tanya Lucia,

“kenapa gelap sekali?”

Keadaan kapal selam sekarang memang jauh berbeda dengan yang terakhir kali Lucia ingat. Udara kini semakin pengap, dan lampu pun tak menyala, bahkan lampu pada panel. Lampu darurat pun tak menyala juga, sehingga satu-satunya penerangan hanyalah berasal dari senter-senter para kelasi.

“Si pengkhianat busuk itu,” kata Laksma. Mahan sambil menunjuk mayat Ridwan Juhari yang kini berada dalam kondisi mengenaskan,

“dia memasang bom di dalam kapal ini, dan meledak sebelum sempat kuhentikan; sekarang semua cadangan listrik mendadak mati, dan seorang awak sedang mencoba mencari tahu apa yang rusak,”

“Bom??” tanya Lucia,

“tapi bukankah kalau bom itu maka...”

“Tenanglah, kemungkinan besar itu hanya peledak low-explosive yang jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin dia hanya bisa menyelundupkan sejumlah kecil itu ke kapal ini,” kata Laksma. Mahan,

“tapi di mana dia memasang bom-nya, aku tak bisa perkirakan; karena bom itu terlalu kecil untuk bisa membuat kerusakan serius,”

“Tapi sepertinya yang ini walau kecil bisa membuat kerusakan serius, Laksamana,” kata Lucia.

Laksma. Mahan hanya mengangguk saja. Lucia memang benar, karena listrik saat ini adalah vital bagi kapal selam ini, mengingat banyak mekanisme yang bekerja berdasarkan listrik. Sungguh pintar sekali Ridwan Juhari bisa menyasar bagian ini, bukan bagian-bagian lain yang lebih mentereng.

Seorang awak pun datang dengan berlari sambil tergopoh-gopoh memegang lampu senter yang bersinar tak beraturan. Dilihat dari yang akan dia katakan, sepertinya hal ini amat gawat.

“Bagaimana?” tanya Laksma. Mahan.

“Celaka, Kep, baterai dan generatornya meledak,” kata awak itu,

“seluruh pasokan listrik lumpuh, termasuk untuk catu daya cadangan,”

“Semuanya?” tanya Laksma. Mahan.

“Masih ada beberapa baterai yang masih utuh, tapi akibat ledakan sudah tak lagi tersambung,” kata awak itu.

“Berapa baterai yang masih utuh?” tanya Sers. Andre yang dari tadi juga mendengarkan.

“Sekitar 3-4 baterai,” kata awak itu.

“Bila bisa kusambungkan, cukup untuk mengembalikan listrik cadangan kita selama 4 jam,” kata Sers. Andre,

“tapi tanpa pasokan daya, kita tidak bisa menaikkan atau melebihkan untuk fungsi dan lain-lain, jadi sebaiknya aku bergegas,”

“Tunggu, kau sendiri yang harus melakukannya?” tanya Laksma. Mahan,

“bagaimana dengan sonar yang rusak?”

“Hanya saya yang masih selamat dari semua perwira teknisi, Kep,” kata Sers. Andre,

“kalau bukan saya, siapa lagi yang bisa? Terpaksa pekerjaan memperbaiki sonar harus dilakukan oleh Reza sendiri; itupun kalau listrik tidak ada, sonar tak akan bisa dijalankan, walau memakai daya cadangan,”

“Jadi walaupun bisa diperbaiki, maksudmu adalah...” kata Lucia.

“Ya, kecuali bila kita bisa menemukan sumber listrik lain, sebaiknya kita lupakan saja soal memperbaiki sonar dan menghabiskan waktu 4 jam terakhir untuk berdoa,” kata Sers. Andre dengan nada pahit.

Laksma. Mahan pun mengumpat sambil menghantam panel dengan keras. Gara-gara ulah satu orang, semua usaha selama berjam-jam akhirnya sia-sia saja. Sonar hancur akibat tembakan, dan kini semua usaha untuk memperbaikinya akan sia-sia tanpa adanya sumber listrik. Ini karena listrik untuk cadangan memang tidak bisa dialihkan ke sistem umum, karena listrik cadangan bertugas untuk menyuplai kebutuhan minimal dalam kapal selam, yang apabila dipecah, maka semua orang pun terancam, karena salah satu sistem yang disokongnya adalah sistem penopang hidup.

“Kep, saya jalan dulu,” kata Sers. Andre.

Permintaan itu pun ditanggapi oleh Laksma. Mahan dengan anggukan pahit. Tapi sebelum Sers. Andre melangkah, tiba-tiba...

“Tunggu dulu! Sumber listrik lain, maksudmu?” tanya Lucia.

“Ya, benar,” kata Sers. Andre.

“Kalau misal ada apa bisa dikonversi untuk kebutuhan kapal selam?” tanya Lucia.

“Kalau memang ada, pasti bisa,” kata Sers. Andre, 

“masalahnya sumber listrik lain itu...”

“Ada!” kata Lucia,

“Laksamana, ada sumber listrik lain yang bisa kita pakai,”

“Apa maksudmu, Nona?” tanya Laksma. Mahan,

“di kapal selam ini hanya ada baterai dan generator, dan sekarang generator ini sudah meledak!”

“Tapi masih ada ‘generator’ yang lain, bukan?” tanya Lucia.

Laksma. Mahan pun menatap Lucia dengan pandangan mata yang ganjil.

“Tidak mungkin, hal itu tidak bisa dilakukan,” kata Laksma. Mahan,

“bisakah?”

“Sers. Andre, selama ini baterai diisi menggunakan daya dari mesin diesel, bukan?” tanya Lucia,

“bisakah dialihkan supaya tenaga dari mesin tidak masuk ke baterai tapi langsung ke jaringan listrik kapal selam?”

“Bisa, tapi bukannya kalau kita pakai mesin diesel, itu akan mengotori udara dalam kapal selam ini?” tanya Sers. Andre.

“Siapa bilang kita pakai mesin diesel?” tanya Lucia.

“Lho? Kalau bukan pakai mesin diesel lalu pakai apa?” tanya Sers. Andre bingung.

“Kami belum pernah mencoba hal itu hingga 100%, Nona Lucia,” kata Laksma. Mahan.

“Tapi potensinya ada, bukan?” tanya Lucia,

“untuk bisa 100% itu; lagipula pilihan kita untuk saat ini tidak banyak, Laksamana,”

“Tapi itu baru untuk potensi di atas kertas,” kata Laksma. Mahan,

“kita baru bisa menjalankannya dengan 70% efisiensi,”

“Itu sudah cukup luar biasa, mengingat di luaran efisiensinya hanya 30%,” kata Lucia,

“kita hanya punya waktu kurang dari 24 jam sebelum oksigen di sini habis, dan saat ini kita hanya butuh beberapa jam saja untuk bisa menghidupkan sonarnya lalu memberi sinyal pertolongan,”

Laksma. Mahan termenung sejenak, kemudian melihat ke arah jenazah Letkol. Ari La Masa yang terbaring di lantai. Pesan terakhir almarhum Letkol. La Masa supaya Laksma. Mahan membawa semua orang keluar dengan selamat pun kembali terngiang di kepalanya. Dia kemudian melayangkan pandangan kepada semua orang di sana sebelum akhirnya melihat ke arah Sers. Andre.

“Sersan, perbaiki sambungan baterainya segera,” kata Laksma. Mahan.

“Siap, Kep,” kata Sers. Andre.

“Dan setelah itu segera laksanakan Protokol Beta,” kata Laksma. Mahan.

“Apa? Sekarang, Kep?” tanya Sers. Andre.

“Ya, sekarang,” kata Laksma. Mahan,

“kau sudah dengar apa yang kami bicarakan tadi, bukan?”

“Siap, Kep,” kata Sers. Andre sambil berlalu.

Meskipun tak mengerti dengan apa yang disebut sebagai “Protokol Beta”, tapi Lucia bisa menebak apa kira-kira isinya. Segera setelah Sers. Andre berlalu, Laksma. Mahan pun beralih ke Reza yang masih termenung memandangi sirkuit sonar yang rusak akibat tembakan nyasar Ridwan Juhari tadi.

“Apa sirkuitnya bisa diperbaiki?” tanya Laksma. Mahan.

“Sirkuitnya? Mustahil dalam waktu kurang dari 24 jam, apalagi Sers. Andre masih harus menangani yang lain,” kata Reza,

“tapi aku punya cara, nggak menjamin bisa berhasil, tapi setidaknya bisa dicoba,”

“Cara apa?” tanya Laksma. Mahan.

“Sirkuit kuncinya hancur, dan tanpa kunci, kita tidak bisa mengaktikan sonar,” kata Reza,

“saranku adalah kita melakukan override manual atas kunci ini; ada dua variabel utama kunci ini, yaitu gerbang dengan rangkaian nada sebagai penyaring, serta suara dengan timbre yang sesuai dengan timbre yang diprogramkan pada alat sonar ini; kita sudah tahu soal gerbangnya, dan sekarang bila aku benar, kita pun sudah punya suara dengan timbre yang sama,”

“Suara apa?” tanya Laksma. Mahan.

“Dia,” kata Reza sambil menunjuk ke arah Lucia.

Lucia tentu kaget bukan kepalang ketika Reza langsung menunjuk seperti itu. Apa benar dari ratusan timbre yang ada di dunia ini, ternyata Dr. Sedorenkov secara kebetulan memilih timbre suara yang sama dengan Lucia?

“Nggak mungkin, Za, kamu tahu dari mana?” tanya Lucia.

“Alat yang berbunyi tadi,” kata Reza,

“ternyata alatnya tidak rusak, hanya saja sensitivitasnya terlalu peka,”

Reza membicarakan alat yang berbunyi melengking yang tadi berhasil mengalihkan perhatian Ridwan Juhari.

“Saya juga baru sadar bahwa alat ini merespons hanya saat Mbak Lucia ngomong,” kata Reza,

“karena sudah saya set dengan timbre dari sonar, maka kesimpulan saya, Mbak Lucia secara mukjizat ternyata punya timbre yang sama sehingga bisa dimanfaatkan untuk melakukan override; sekarang tinggal membuat alat peng-input suara yang langsung ke mesin sonar supaya bila nanti listrik berhasil dipulihkan, kita sudah siap,”

“Bagus, laksanakan,” kata Laksma. Mahan,

“kau siap, Nona Lucia?”

Lucia pun mengangguk. Soal apakah dia siap untuk membantu tentu saja dia siap, apalagi ini masalah nyawa yang bukan hanya nyawanya sendiri tapi juga semua yang ada di dalam kapal selam ini. Hanya saja fakta ini masih amat susah dicerna baginya, sehingga mau tak mau Lucia berpikir tentu ini lebih dari sekadar kebetulan, tapi tangan Tuhan-lah yang ikut bermain di sana.

Samudera Indonesia
11.14 WIB
H minus 23:45:00

Kepanikan pun pecah begitu rudal Stalemate mulai meninggalkan peluncurnya dan menuju ke arah Armada Australia. Seperti dikatakan oleh Anton, rudal ini bukan hanya digunakan untuk menghancurkan kapal induk lawan semata, tapi juga untuk mengacaukan keseluruhan gugus tempur kapal induk. Prinsip kerjanya adalah rudal ini pertama akan bergerak secara subsonik sebelum pada suatu titik mesin supersonik-nya akan mengambil alih pada “sprint terakhir”. Dan rudal ini juga tidak menghantam kapal secara langsung, melainkan mengambil posisi untuk menyelam ke bawah laut dan meledak pada bagian bawah kapal sasarannya. Ledakannya cukup luas untuk mengakibatkan ruang vakum di dalam air yang akan membuat lambung kapal di atasnya serta semua kapal yang ada dalam radius ledakannya untuk tertarik masuk secara tiba-tiba dan mematahkan struktur lambung kapal. Setelah itu terjadi, hulu ledak kedua pada rudal Stalemate akan meledak dan menimbulkan kerusakan lanjutan yang lebih parah pada lambung kapal yang tegang akibat ledakan pertama. Pengujian di Arktik menunjukkan bahwa sebuah rudal ini bisa merusakkan satu flotilla kapal yang bergerak dalam formasi rapat, dan hanya dibutuhkan 4 buah rudal ini untuk mencerai-beraikan sebuah gugus tempur kapal induk, membuat rudal ini dianggap sebagai ancaman serius oleh Angkatan Laut Amerika Serikat yang memang bertulang punggung pada gugus-gugus tempur kapal induk. Russia sendiri tak pernah sekalipun menjual rudal ini, bahkan kepada sekutu dekatnya sekalipun, meskipun di kalangan Pentagon sendiri ada ketakutan bahwa rudal-rudal ini secara di bawah tangan akan tetap bisa sampai di tangan musuh-musuh Washington.

“Kita harus menghentikan rudal itu segera sebelum dia mencapai kecepatan supersonik!” kata Anton dengan agak panik.

Dalam keadaan amat genting seperti ini, tentu saja lumpuhnya satu gugus tugas Australia akibat tembakan “nyasar” bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Australia sendiri pasti tak akan menerima bahwa penembakan kapalnya oleh sebuah rudal yang bahkan oleh Amerika Serikat sendiri disebut sebagai yang paling mematikan, terjadi akibat ketidaksengajaan. Terlalu mahal harga yang harus dibayar atas ketidaksengajaan itu.

Tiba-tiba sebuah rudal lagi ditembakkan, tapi kali ini bukan dari kapal Russia, melainkan dari kapal KRI Keumalahayati. Jenisnya juga bukan rudal antikapal, melainkan rudal Mistral antipesawat. Rudal kedua dan ketiga pun menyusul dari kapal yang sama, diikuti tembakan dua rudal Mistral lagi oleh KRI I Gusti Ketut Jelantik. Tampaknya Kol. Niken sama juga tak ingin supaya terjadi perang hanya karena “keteledoran” seorang awak kapal Russia, karena yang akan menjadi korban nanti bukanlah Russia dulu, melainkan Indonesia. Kelima rudal Mistral itu segera membubung memburu si rudal Stalemate yang ketinggiannya semakin bertambah. Semua harapan pun membuncah pada kelima rudal ini, tapi apakah lima Mistral itu cukup dan akan melaksanakan tugasnya dengan baik?

Mistral yang pertama dengan cepat merangsek ke arah Stalemate, tapi menjelang detik-detik kritis, rudal itu meluncur hanya sedikit melenceng dari Stalemate dan bablas menuju lautan terbuka. Overshoot. Semua orang yang melihat pun mendesah kecewa, terutama Kol. Niken. Dalam latihan, dia biasa menembak sebuah rudal antikapal yang dengan Mistral, dan rekornya selama ini tak pernah meleset, baru kali ini, dalam situasi yang amat dibutuhkan, keahliannya pun mengecewakannya. Tangannya terkepal meninju panel sambil sumpah serapah keluar dari mulutnya.

Tinggal 4 Mistral yang kali ini bersamaan memburu Stalemate. Tapi dengan semakin naiknya ketinggian Stalemate, harapan pun semakin menipis, karena pada dasarnya, Mistral memang hanya dipakai untuk jarak pendek. Namun bagaimanapun juga, dengan mantap keempat Mistral yang tersisa terus mendekati Stalemate yang ketinggiannya semakin sulit dilihat mata. Kapt. Kadek dan Kol. Niken bahkan harus menggunakan teropong untuk melihat perkembangan kejar-mengejar antar rudal itu. Dengan 4 buah Mistral yang mengejarnya, sepertinya Stalemate tak akan lolos, hingga…

“BLAAAR!!”

Bunyi dan api ledakan terpancar di udara, membuat semua orang nyaris berteriak. Kapt. Kadek pun terlonjak girang menganggap bahwa Mistral tadi berhasil menemukan sasarannya. Tapi seketika itu terdiam kembali ketika jejak asap Stalemate masih ada, dan kali ini hanya 2 rudal Mistral yang mengejarnya. Rupanya ledakan tadi berasal dari dua Mistral yang saling berpotongan arah trajektorinya sehingga saling sampyuh.

Harapan terakhir kini hanya tinggal di dua Mistral yang masih tersisa, yang masih terus membuntuti Stalemate. Jarak kedua rudal Mistral agak jauh, sehingga susah untuk bisa sampyuh seperti tadi. Asa pun naik kembali setelah Stalemate tampak mulai mengurangi kecepatan pendakiannya, dan siripnya mulai bergerak, menandakan rudal hendak berganti trajektori. Bila dia berhenti menanjak, maka Mistral akan bisa mencapainya, tanpa kegagalan lagi.

Lt.Com McGraw hanya mengangguk saja.

“Dan bila boleh aku permisi, aku ingin beristirahat di kabinku,” kata Cdr. van Huydt,

“sepertinya aku sudah terlalu tua untuk semua ketegangan ini; aku yakin kau tahu yang harus kaulakukan di sini, bukan?”

“Siap, Sir, aku mengerti,” kata Lt.Com McGraw.

“Tapi tetap jangan kendurkan kewaspadaan,” kata Cdr. van Huydt.

“Tidak akan, Sir,” kata Lt.Com McGraw.

“Baiklah, Commander, aku permisi dulu,” kata Cdr. van Huydt.

Cdr. van Huydt lalu menghormat yang kemudian dibalas oleh Lt.Com McGraw dan semua orang yang ada di sana. Ada sesungging senyuman kecil di bibirnya, kemudian dia menurunkan tangan dan berbalik hendak meninggalkan ruangan.

“Commodore, Sir, tunggu dulu,” kata Lt.Com McGraw.

“Ya, ada apa, Commander?” tanya Cdr. van Huydt.

“Saat semua ini berakhir, rasanya banyak yang ingin kubicarakan kepada Anda, tentang segala sesuatunya, Sir,” kata Lt.Com McGraw,

“itu pun bila Commodore tak keberatan,”

“Kabinku selalu terbuka, Commander, datanglah saat kau ada waktu nanti,” kata Cdr. van Huydt.

“Terima kasih, Sir,” kata Lt.Com McGraw.

Cdr. van Huydt kembali membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju ke kabinnya. Kini dia bisa lebih tenang meninggalkan Lt.Com McGraw menjaga anjungan, dan memang benar yang dia katakan bahwa dia sudah terlalu tua untuk semua ketegangan ini. Dalam hati, Cdr. van Huydt mendoakan semoga di seberang sana, para awak kapal selam Indonesia yang terjebak berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya.

Di seberang, para awak KRI Ternate masih ribut ke sana kemari mempersiapkan segala sesuatunya. Kedua wahana, Tiram-IIC dan Kelomang sudah diangkat dengan amat hati-hati. Dalam posisi seperti ini, perhitungan untuk memindahkan keduanya tidak bisa sederhana, karena salah sedikit saja dan jatuh ke laut dengan posisi yang tidak benar, bisa dipastikan Kelomang akan langsung tenggelam karena bagian bawahnya hanya mengandalkan “moon pool” sebagai sekat. Bila Kelomang tenggelam, maka harapan pun akan musnah, walau masih ada DSRV Dugong-3 yang juga bersiap-siap. Ini karena peranan Kelomang amatlah penting dalam proses penyelamatan ini.

Sementara para awak mempersiapkan semua, Anton berdiri pada langkan di tepi pagar dek, merapat ke pagar agar tak menghalangi mereka yang berlalu-lalang untuk mempersiapkan prosesi penyelamatan. Angin laut menerpa rambutnya hingga berkibar, dan dia mengusap wajahnya yang mulai ditumbuhi kumis serta jenggot tipis akibat beberapa hari belum juga merawat diri. Kini tak ada lagi yang Anton pikirkan selain istrinya, Lucia. Armada Australia di seberang sana maupun prospek perang besar Australia-Indonesia pun lenyap dari pikirannya, berganti dengan hal asasi kenapa dia ke sini pada awalnya. Untuk Lucia, istrinya, istri yang paling dia sayangi, yang dia harapkan akan mendampinginya hingga hari terakhir hidupnya nanti, sekaligus juga ibu bagi putrinya, Lani.

Anton membuka genggaman tangannya, dan sebuah salib perak berada di dalamnya, putih perak di tengah, kontras dengan darah yang mewarnai ujungnya akibat Anton berulangkali menggenggamnya dengan terlalu erat. Kesakitan akibat ujung-ujung salib itu yang menusuk telapak tangannya tak lagi dirasakan oleh Anton. Apalah artinya sakitnya telapak tangan ini bila dibandingkan penderitaan istrinya jauh di bawah sana? Dia menggenggam tangannya kembali, dan dengan bergetar, mendekatkannya ke mulutnya serta menciumnya dalam-dalam. Sembari dalam hati dia memohon dengan amat sangat kepada Tuhan, semoga masih diberi kesempatan, semoga semua bantuan ini bisa datang tepat pada waktunya. Tapi benarkah bantuan akan datang tepat waktu?

Jauh di dalam laut, semua awak KRI Antasena sudah mencapai titik terakhir ketahanan mereka. Udara memang belum habis, tapi tak lagi ada daya untuk melakukan segala sesuatu, hanya diam pasrah untuk menunggu takdir yang sepertinya sudah dipastikan, serta makin waktu berlalu, harapan akan pertolongan pun semakin memudar. Semakin banyaknya udara kotor hasil pernapasan yang terbentuk kini mulai dirasa terlalu berat bagi semua yang ada di sana.

Sebagaimana yang lain, Lucia pun juga tergolek tanpa daya. Hanya Laksma. Mahan yang masih duduk dengan tegaknya, karena dia memegang kendali atas tombol penghancuran diri, dan dia tak ingin putus asa terlalu cepat karena yakin bahwa pertolongan akan segera datang. Laksma. Mahan pernah beberapa kali mengikuti prosedur penyelamatan kapal selam, sehingga dia bisa menghitung kapan dia harus menyerah dan menekan tombol peledakan diri.

Baik Lucia maupun Laksma. Mahan kini tak lagi bertegur sapa, terlalu melelahkan bahkan untuk sekadar berbicara. Lucia mengeluarkan handphone yang sedari tadi terus dibawanya. Hanya tersisa sedikit sekali daya baterai di handphone itu, tak akan cukup untuk pemakaian lama, tapi Lucia ingin melihat rekaman saat-saat dia masih bisa berbahagia bersama putri dan suaminya. Setidaknya, bila itu merupakan akhir dari hidup Lucia, dia ingin kehidupannya diakhiri dengan sebuah keindahan sebelum akhirnya dia menutup mata untuk selama-lamanya.

Rangkaian foto dan video pun dimainkan di tengah baterai yang semakin menipis. Lucia tersenyum saja melihat rangkaian gambar masa-masa bahagia itu. Bahkan sebelum dia menikah dengan Anton, kemesraannya bersama dengan Anton serta putri sambungnya, Lani, sudah terjalin cukup lama, dan semuanya terekam di sana. Saat-saat mereka berjalan-jalan di taman, menikmati cahaya lembayung senja di tepian pantai, saat-saat Lani dan Anton memberinya kejutan di hari ulang tahunnya, lalu detik-detik ketika Anton melamar Lucia dengan diabadikan oleh Lani, semua ada terekam dengan jelas. Lucia kini tak kuasa untuk tetap tersenyum, hanya hangat air mata yang kini meleleh di pipi dan membasahi muka Lucia, air mata yang akan menjadi air mata terakhirnya, biarlah itu menjadi air mata bahagia, bukan air mata duka lara. Lucia pun terisak dan menangis di tengah suara kebahagiaan yang muncul dari handphone itu, senggukannya terdengar dengan amat keras di ruang yang sunyi dan pengap ini. Laksma. Mahan yang mendengarnya pun juga tak bisa berbuat apa-apa, karena semua orang saat ini seolah tengah ingin berdamai dengan diri mereka sendiri sebelum malaikat Elmaut turun dari langit, masuk ke dasar laut dan mengambil nyawa mereka.

“Jika ini adalah sebuah akhir,” bisik Lucia sambil terisak perlahan,

“maka biarkanlah ini menjadi akhir yang indah, dan biarkan wajah kalian, yang telah memberiku kebahagiaan sejati di akhir hidupku terpatri dengan kuat hingga saat aku dibangkitkan nanti,”

Perlahan-lahan dengan tangan gemetaran, Lucia mengangkat handphone lalu mencium layarnya dengan ciuman yang mungkin paling khidmat yang pernah dia lakukan. Sebuah ciuman yang merupakan akhir dari semua ciuman di dunia. Pandangan mata Lucia pun mulai buram akibat air mata yang memenunuhi pelupuk matanya, lalu dari buram, semakin lama pandangan itu semakin berat dan memudar, dan tahu-tahu handphone-nya sudah jatuh berkelontangan seiring tubuh pemegangnya yang semakin melemas dan tanpa daya. Matanya terpejam dan napasnya semakin melambat. Layar handphone itu menunjukkan foto bertiga Lani, Anton, dan Lucia dengan senyuman yang amat berbahagia, tepat setelah hari pernikahannya, dengan indikator baterai yang sudah merah dan berkedip-kedip. Kemudian layar itu pun menjadi hitam dan mati. Daya baterai itu akhirnya habis sudah, dan seiring dengan habisnya daya baterai; habis pula semua asa yang telah ada.

Mesin Tiram-IIC dinyalakan tepat sebelum kedua wahana dimasukkan ke air, begitu pula dengan mesin kecil milik Kelomang. Entah bagaimana mungkin mengharapkan daya pendorong yang besar untuk bisa mendorong badan Kelomang yang berat hanya dengan mesin sekecil itu. Tapi mesin ini memang tak dimaksudkan untuk mendorong Kelomang hingga bisa bergerak bebas di dalam air sebagaimana kapal selam ini, bukan. Kedua mesin mungil di sisi kiri dan kanan Kelomang hanya digunakan untuk melakukan manuver terbatas pada titik yang ditentukan. Gaya gesek air yang relatif kecil dengan daya angkat untuk menahan sebagian bobot Kelomang membuat kerja mesin mungil itu menjadi lebih efisien di dalam air, dan lagipula Kelomang memang bukan sebuah kapal selam, melainkan wahana untuk operasi selam yang benar-benar lain. Perannya dalam konteks ini akan menjadi vital saat sudah berada di atas kapal selam KRI Antasena.

Lalu bagaimana cara untuk menuju ke KRI Antasena? Itulah tugas dari Tiram-IIC. Dengan bentuk tubuhnya yang gambot dan penuh otot (porsi terbesar tubuh Tiram terdiri dari mesin), Tiram-IIC bagaikan kuda beban perkasa yang siap menarik beban seberat apa pun. Dalam hal ini, Tiram-IIC (kode pada lambungnya adalah T2C-002) akan menarik Kelomang menuju ke dasar laut ke tempat KRI Antasena bersemayam. Tentu ini bukan perkara yang mudah, bahkan bagi wahana seperkasa Tiram-IIC. Tantangan terutama adalah untuk bisa mengendalikan kedua wahana hingga mencapai titik yang ditentukan, yang pada posisi ini bagaikan mencari jarum di tengah tumpukan jerami secara tiga dimensi. Masalahnya, arus laut bisa saja membuat kedua wahana ini melenceng dari tujuannya, walaupun bobot gabungan keduanya sedikit bisa mereduksi pengaruh itu.

Semua menahan napas ketika kedua wahana mulai menyentuh air. Ombak membuat Kelomang sedikit oleng, tapi bobotnya sendiri akhirnya menyeimbangkannya dan kedua wahana pun, diikuti dengan tarikan napas lega semua orang berhasil masuk secara sempurna ke bawah air. Riak berembus keluar dari mesin Tiram-IIC yang tengah dinyalakan, tapi kabel crane belum ditarik. Kelomang memiliki logam yang tebal karena sebagai “bathysphere”, selain untuk menahan tekanan dari laut dalam, logam tebal ini juga berfungsi sebagai balast untuk menenggelamkan dirinya mencapai kedalaman yang diinginkan. Tiram-IIC akan dikendalikan oleh awak dari atas, tapi pada saat tertentu nanti, kedua awak yang ada dalam Kelomang akan mengambil alih pengendalian. Air pun mulai naik dari bawah “moon pool” dan membasahi bagian dalam Kelomang, namun terhenti akibat tekanan udara yang ada di dalam Kelomang.

“Baik, Kelomang siap,” kata Sers. Ali, salah satu awak Kelomang.

Kapt. Kadek yang mendapat laporan itu segera membuka komunikasi dengan kapal Russia RFS Malatinsky.

“Dr. Vorobyov, tolong ditera ulang lokasi dari KRI Antasena,” kata Kapt. Kadek.

“Siap, Kapitan,” kata Dr. Vorobyov,

“vektor, arah, dan kedalaman, semua sudah ditera ulang, sensor Rusal’naia akan memandu wahana Anda sampai ke sasaran,”

“Bagaimana dengan sambungan datanya?” tanya Kapt. Kadek.

“Sudah diperiksa dan tak ada masalah,” kata Dr. Vorobyov.

“Terima kasih, Doktor,” kata Kapt. Kadek.

“Siap untuk menjalankan Tiram dalam komando Anda, Pak,” kata operator Tiram-IIC.

“Laksanakan,” kata Kapt. Kadek.

“Siap, bersiap untuk melepaskan Tiram,” kata operator Tiram-IIC.

Bunyi tanda peringatan pun meraung-raung, dan dengan segera, crane melepaskan kaitannya pada Tiram-IIC dan juga Kelomang, yang dengan cepat langsung menyelam ke bawah air, dengan beberapa kabel yang masih menjuntai, menghubungkan antara kedua wahana itu dengan kapal utama KRI Ternate. Empat lampu sorot berkekuatan besar milik Tiram-IIC langsung menyala begitu air mulai menggelap. Baru sebentar saja mereka menyelam, Sers. Ali dan Sers. Banu, kedua operator di dalam Kelomang mulai merasakan cahaya matahari menghilang dan laut yang semula biru terang kini semakin menjadi gelap.

Kini mereka sudah meninggalkan dunia atas dan masuk ke dalam haribaan dunia bawah. Ada kesunyian yang mencekam di sini, perasaan yang sama seolah masuk ke dalam liang kubur. Hanya ada kegelapan dan air yang pekat seperti tinta. Tak ada ikan atau tanda kehidupan apa pun karena mereka ada di lautan terbuka, jauh dari landasan pesisir yang kaya akan kehidupan. Satu-satunya penerangan hanyalah sinar lampu sorot Tiram-IIC yang meski amat kuat namun tetap tak kuasa untuk menyibak kegelapan abadi yang ada di sekitarnya.

Sebagai navigator, mata Sers. Banu terus menerus terpaku pada sebuah komputer tablet yang berfungsi untuk menandai sejauh mana Tiram-IIC telah menarik Kelomang mereka.

“Memasuki kedalaman 150 meter,” kata Sers. Banu,

“jangan terlalu cepat, airnya mulai naik,”

“Katakan itu sama yang di atas,” kata Sers. Ali,

“kita nggak boleh terlalu lambat juga karena kita mempertaruhkan nyawa orang lain; bagaimana jalurnya?”

“Sejauh ini masih lancar, tapi di mana kapal selam itu?” tanya Sers. Banu,

“bagaimana kita akan mencarinya di tengah kegelapan yang pekat seperti ini?”

Sebuah suara berdentum pun terdengar agak keras, sensor Rusal’naia telah kembali dinyalakan, dan beberapa saat setelahnya, Tiram-IIC mengoreksi arah lajunya. Meski tahu mereka tak punya banyak waktu, tetap saja kecepatan Tiram-IIC dalam membawa Kelomang membuat Sers. Ali dan Sers. Banu sedikit was-was, karena dengan kecepatan ini, air pada “moon pool” mulai naik dengan cepat. Bila air naik melebihi batas kritis, maka Kelomang ini akan terbalik dan tenggelam.

Sekali lagi Sers. Ali melihat keluar dari jendela kecil, berharap untuk menemukan sesosok yang berupa seperti kapal selam, tapi di luar yang ada hanyalah kehampaan, hanya air laut yang kosong, luas, dalam, dan amat pekat. Dalam hati, Sers. Ali pun mengamini apa yang tadi dikatakan oleh Sers. Banu. Dalam kegelapan seperti ini, nyaris tak mungkin bisa mengetahui apakah ada kapal selam di luar sana.

“Apa mereka yakin kapal itu ada di sana? Jangan-jangan kita sudah mencari di tempat yang salah,” kata Sers. Banu khawatir.

“Sabarlah,” kata Sers. Ali,

“laut adalah dunia yang lain, alam yang berbeda dari yang biasa kita tinggali; di sini kita tak bisa memerintahkan laut untuk membuka apa yang dia sembunyikan; kita hanya bisa menunggu laut untuk mengungkapkannya sendiri pada saat dia sudah berkenan,”

“Aku hanya ingin memastikan kita berada pada arah yang benar,” kata Sers. Banu.

“Oh, kita sudah benar,” kata Sers. Ali,

“bila tidak benar, kita tak akan di sini,”

Sekali lagi kesunyian pun mendera. Kedua wahana itu, diselimuti oleh lampu dari Tiram-IIC bagaikan bola bercahaya yang memasuki alam pekat penuh kegelapan. Situasi mendadak menjadi asing seolah mereka baru saja keluar dari alam manusia dan memasuki alam lain yang sama sekali berbeda, tak seperti dunia yang mereka kenal. Mereka kini telah beralih dari wilayah kekuasaan Zeus menuju ke wilayah kekuasaan Poseidon yang misterius dan mencekam.

Di tengah keheningan itulah tiba-tiba Sers. Ali melonjak dari tempat duduknya. Di balik tabir cahaya menyilaukan yang dikeluarkan oleh Tiram-IIC, sayup-sayup di tengah kegelapan yang semakin pekat, dia melihat sebuah bayangan hitam yang tampak kontras walau nyaris samar dengan daerah sekitarnya. Tiram-IIC pun terus menarik Kelomang, nampaknya mendekati bayangan itu yang semakin lama semakin membesar.

“Ternate, kurasa kami melihat sesuatu,” kata Sers. Ali melapor ke atas sembari tak melepaskan pandangannya dari bayangan tersebut.

Sers. Banu pun turut bangkit dari tempat duduknya dan bersama Sers. Ali melihat ke arah bayangan hitam itu. Jelas ini bukan bayangan ikan paus, karena tak ada ikan paus yang bisa diam seperti itu, dan juga tak sebesar itu. Mungkinkah ini adalah Kraken atau Leviathan, makhluk mistis yang bersembunyi di bawah laut dan menjadi teror bagi pelaut zaman dulu? Mereka berdua menantikan dengan penuh kengerian hingga akhirnya bayangan itu menjadi cukup dekat untuk dijangkau oleh berkas lampu Tiram-IIC.

Rasa kengerian berubah menjadi ketakjuban setelah memastikan bahwa bayangan itu adalah sebuah struktur yang terbuat dari logam, sebuah kapal selam! Inilah KRI Antasena, yang akhirnya kembali terlihat oleh orang setelah terakhir kali yang menyaksikannya adalah penyerangnya sendiri, HMAS Pitcairn. Tubuh KRI Antasena sendiri penuh dengan baret dan bopeng juga beberapa bagian ada yang terbuka, bekas luka akibat pertempuran singkatnya dengan HMAS Pitcairn, dan dari semua segi, tak bisa dibilang bahwa kapal selam itu baik. Beberapa siripnya sudah bolong, bengkok, atau terlepas bagian logamnya, bahkan salah satu sirip ekornya lepas sama sekali, hanya meninggalkan rangkanya saja. Patahan tiang, entah radio atau periskop masih menjuntai tersangkut pada conning-tower, dan salah satu shaft baling-baling juga sedikit bengkok dengan bilahnya sudah tak lagi utuh; tapi mengingat keadaannya, sungguh menakjubkan kapsul besi raksasa ini masih utuh!

Sers. Ali dan Sers. Banu terpana melihat betapa besarnya kapal selam itu, jauh lebih besar daripada kapal selam yang selama ini dimiliki oleh Indonesia sebelumnya. Semakin dekat, sinar lampu pun akhirnya menyinari inci demi inci tubuh penuh luka KRI Antasena. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, KRI Antasena masih terlihat gagah, mengancam, dan menakutkan; tak salah memang TNI-AL memilih kapal selam ini sebagai kapal selam mutakhirnya. Tapi kegagahan KRI Antasena disertai dengan sebuah kemuraman yang amat sangat, badan besarnya kini lebih seperti sebuah onggokan hampa daripada sebuah kapal yang perkasa. Sejenak melihat, kedua awak Kelomang ini menjadi amat ragu. Kapal selam memang boleh masih utuh, tapi apakah awak di dalamnya masih ada yang hidup? Atau apakah kapal selam ini sudah berubah menjadi kapal hantu?

Sers. Ali dan Sers. Banu terpana melihat betapa besarnya kapal selam itu, jauh lebih besar daripada kapal selam yang selama ini dimiliki oleh Indonesia sebelumnya. Semakin dekat, sinar lampu pun akhirnya menyinari inci demi inci tubuh penuh luka KRI Antasena. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, KRI Antasena masih terlihat gagah, mengancam, dan menakutkan; tak salah memang TNI-AL memilih kapal selam ini sebagai kapal selam mutakhirnya. Tapi kegagahan KRI Antasena disertai dengan sebuah kemuraman yang amat sangat, badan besarnya lebih seperti sebuah onggokan hampa daripada sebuah kapal yang perkasa. Sejenak melihat, kedua awak Kelomang ini menjadi amat ragu. Kapal selam memang boleh masih utuh, tapi apakah awak di dalamnya masih ada yang hidup? Atau apakah kapal selam ini sudah berubah menjadi kapal hantu?

“Ternate, kami menemukannya,” kata Sers. Ali setelah berhasil mengatasi ketakjubannya,

“tolong pindahkan kendali ke mode manual,”

“Roger, Kelomang, kami akan memindahkan kendali kepadamu,” kata operator Tiram-IIC,

“dalam hitungan ketiga, tiga, dua, pindahkan,”

Begitu aba-aba diberikan, tiba-tiba joystick di tangan Sers. Ali berubah berat dan dengan segera menggerakkannya untuk menyeimbangkan diri. Saat kemudi berpindah dari KRI Ternate ke Kelomang, saat-saat kritisnya memang pada waktu itu, karena bila operator pada Kelomang tidak siap, Tiram-IIC dan Kelomang bisa oleng akibat proporsi bobot antara keduanya yang sebenarnya tak begitu berimbang. Sers. Ali mematikan mesin utama Tiram-IIC dan menggantinya pada mesin auxiliary yang walau tenaganya lebih kecil, tetapi lebih fleksibel untuk digunakan bermanuver. Tiram-IIC pun menghela Kelomang menuju ke bagian di depan conning-tower KRI Antasena.

“Ban, tolong siapkan untuk menembakkan beacon,” kata Sers. Ali.

“Beacon siap,” kata Sers. Banu sambil memegang sebuah joystick pada panel lain, dan ada satu monitor lain di hadapannya dengan crosshair pada tengahnya.

“Hati-hati, kita hanya punya satu beacon,” kata Sers. Ali.

“Roger that,” kata Sers. Banu.

Dengan sigap Sers. Banu mengarahkan crosshair pada sasarannya, dekat dengan pintu palka depan. Memang ada empat pintu yang ada dalam KRI Antasena, yaitu pintu palka depan, pintu palka belakang, pintu palka atas di conning-tower, dan pintu kargo yang lebih besar untuk memasukkan barang-barang semacam torpedo atau rudal yang memang berukuran besar. Kali ini yang diincar adalah pintu palka depan yang bersama dengan pintu palka belakang dipakai sebagai tempat docking untuk kapal selam mini atau DSRV.

Sekali tekan tombol, dan sebuah piranti melesat langsung menempel pada logam KRI Antasena via magnet yang walau kecil tapi kuat. Ada semacam kabel yang menghubungkan pelat magnet di bawah dengan bagian transmitter yang juga terdapat lampu warna merah berkelip-kelip.

“Periksa beacon,” kata Sers. Ali pada KRI Ternate.

“Affirmative, beacon berfungsi dengan baik,” kata operator,

“silakan lanjutkan,”

“Roger that,” kata Sers. Ali.

Sers. Ali kemudian menggerakkan kemudi dan Tiram-IIC kembali bergerak, memutari conning tower menuju ke arah buritan. Tak henti-hentinya kedua operator Kelomang ini berdecak kagum melihat KRI Antasena yang luar biasa. Saat melewati sisi port conning-tower, mereka melihat nomor lambung KRI Antasena (420) yang sudah tidak karuan lagi bentuknya akibat pertempuran. Sebuah kamera pada Tiram-IIC terus dipakai untuk merekam keadaan KRI Antasena yang menyedihkan ini. Keadaan menjadi cukup tegang saat mereka melewati tiang yang menjuntai, karena jangan sampai tiang ini menyangkut pada kabel-kabel yang menghubungkan Kelomang dengan KRI Ternate. Bila kabel ini sampai tersangkut dan salah satunya putus, alamat buruk bagi semua misi penyelamatan, karena misi terpaksa harus diulang dari awal lagi, pemborosan waktu yang bisa saja memakan korban jiwa. Tapi untunglah Sers. Ali bisa mengendalikan wahananya dengan cukup cekatan.

“Mendekati palka buritan, nyalakan lampu pendarat,” kata Sers. Ali.

“Roger,” kata Sers. Banu.

Sers. Banu menekan tombol lain, dan kali ini lampu berkekuatan besar yang melingkari bagian bawah “moon pool” pun menyala, menerangi bagian kapal KRI Antasena sehingga terlihat dengan lebih jelas. Sers. Banu, tanpa dikomando segera meletakkan pandangannya pada sebuah piranti mirip periskop, yang hanya saja kali ini digunakan untuk melihat lurus ke bawah, mirip seperti piranti pisir bom pada pesawat pembom.

“Jangan sampai meleset,” kata Sers. Ali.

“Roger, sedikit lebih ke depan,” kata Sers. Banu.

Sers. Ali pun mempertunjukkan keahliannya memanuverkan kedua wahana inci demi inci yang sebenarnya amat susah, karena harus mengatur vektor dari mesin-mesin pemanuver, baik yang ada pada Tiram-IIC maupun pada Kelomang. Bila tidak seimbang dan salah satu mesin ada yang kelebihan daya, akibatnya bisa fatal karena wahana akan terdorong jauh dari posisinya semula dan butuh waktu untuk melakukan akuisisi ulang.

“Beberapa yard lagi,” kata Sers. Banu,

“tiga, dua, satu, oke,”

Dengan cepat Sers. Ali mematikan semua mesin manuver dan kedua wahana langsung anjlok menempel pada KRI Antasena. Sers. Ali segera memasang jangkar berupa pengisap udara dan elektromagnet untuk menempel kuat pada KRI Antasena, bagaikan ikan remora yang tengah menempel pada seekor hiu.

“Kosongkan air pada ‘moon pool’,” perintah Sers. Ali.

Sers. Banu kembali menekan tombol dan kali ini sebuah pompa udara berkekuatan tinggi menguras semua air pada “moon pool”, membuat dasar “moon pool” pun terlihat dengan jelas: pintu palka KRI Antasena. Sers. Banu rupanya berhasil memanuverkan Kelomang pada pintu palka dengan baik sehingga pintu palkanya tepat berada pada dasar “moon pool”. Mereka berdua menarik napas sejenak saat melihat pintu palka itu, kemudian Sers. Ali mengambil sebuah alat mirip kunci inggris dan memukulkannya pada pintu palka dengan irama ketukan tertentu.

Mereka menunggu sejenak, tapi tak ada jawaban. Sers. Ali dan Sers. Banu saling berpandangan, kemudian memutuskan untuk mencobanya lagi. Dua kali lagi mereka mencobanya, tapi tetap tak ada jawaban dari dalam KRI Antasena. Apakah jangan-jangan...

“Ambil pembuka pintu,” kata Sers. Ali.

Sers. Banu segera mengambil alat yang mirip dengan kunci T. Alat ini digunakan untuk membuka pintu palka kapal selam dari luar dalam keadaan darurat. Ada semacam bor amat tajam di ujungnya untuk mengebor paksa kunci pintu kapal selam tepat pada bagian yang disebut sebagai “tumit Achilles”-nya. Setelah bagian luar dibor, maka kunci akan bisa dimasukkan ke dalam sebuah gir darurat yang kemudian akan diputar untuk membuka pintu sekat terluarnya. Di dalamnya ada semacam ruangan penyekat kecil dan sebuah pintu lagi, tapi untuk pintu sekat dalam sudah disediakan engkolan untuk membukanya dari luar. Pintu sekat terluarlah yang harus dibuka dari dalam.

Alat pembuka pun sudah ditempelkan pada “tumit Achilles”, siap untuk membuka pintu. Baik Sers. Ali dan Sers. Banu tampaknya sudah siap untuk menerima kemungkinan bahwa yang ada di balik pintu adalah sebuah kapal yang penuh dengan mayat, yang berarti mereka terlambat untuk melakukan penyelamatan.

“Kita lubangi sekarang?” tanya Sers. Banu. 

“Ya, setidaknya kita pastikan bahwa mereka semua di dalam sudah gugur,” kata Sers. Ali.

Pada saat Sers. Banu hendak menyalakan alat pembuka itu, mendadak terdengar suara seperti logam beradu dari balik pintu palka. Mereka berdua pun terkejut dan hampir terlompat mendengarnya, namun suara itu sangat jelas: engkolan pintu yang tengah diputar untuk dibuka! Buru-buru, mereka segera naik menjauh dari pintu itu supaya tidak menghalangi terbukanya pintu, karena pintu akan membuka ke luar.

Palka pun akhirnya terbuka, dan kedua sersan ini menunggu dengan was-was. Perlahan-lahan dari dalam pintu palka, keluarlah seorang kelasi, jelas masih hidup, dengan rambut acak-acakan, seluruh tubuh memerah dan bersimbah keringat, dan tampaknya masih agak bingung dengan suasana yang dia temui di dalam Kelomang. Udara panas sempat menyeruak ke dalam Kelomang dari kapal selam, namun akhirnya segera ditanggulangi oleh udara sejuk yang disalurkan dari permukaan laut ke dalam Kelomang ini. Mata kelasi itu tampak berkaca-kaca melihat kedua sersan yang berbaju selam ini.

“Ada yang pesan pizza?” tanya Sers. Banu bercanda.

“Dari mana saja kalian? Kenapa lama sekali baru datang?” jawab kelasi itu.

“Lain kali kalau mau cepat, kasih alamatnya yang jelas,” balas Sers. Banu.

Mereka bertiga terdiam canggung sejenak, baru beberapa detik kemudian pecahlah gelak tawa di antara ketiganya. Si kelasi kemudian memeluk Sers. Ali dan Sers. Banu dengan penuh sukacita. Dia pun bahkan tak kuasa menahan air matanya, akhirnya setelah beberapa lama, bisa juga dia berhubungan dengan dunia luar. Suasana di dalam ruang Kelomang yang kecil itu amat sentimentil, penuh emosi, dan tak bisa diungkap dengan kata-kata. Bila pernah mendengar seorang musafir yang kehilangan unta di gurun pasir, kemudian berjalan jauh hingga menemukan sebuah oasis, lalu di sana untanya yang hilang telah menunggu, perasaan bahagia yang meluap dari si musafir itu mungkin adalah perumpamaan yang pantas bagi perasaan bahagia si kelasi ini.

“Baiklah, Pelaut, sudah cukup sentimentilnya, ada yang harus kita lakukan,” kata Sers. Ali,

“bagaimana semuanya, apa ada yang selamat?”

“Ya, masih banyak yang selamat selain yang gugur dalam pertempuran,” kata kelasi itu sambil tersedu-sedu,

“tapi sebaiknya kalian berdua periksa dari buritan ke haluan,”

“Baiklah, sekarang ayo kita bekerja,” kata Sers. Ali.

Sers. Ali kemudian mengeluarkan sebuah selang yang besarnya dua kali lengan orang dewasa, dan juga beberapa kabel, kemudian dengan bantuan si kelasi menarik selang dan kabel itu ke dalam kapal selam. Inilah peran penting dari Kelomang. Selang itu adalah selang untuk menarik udara kotor dari dalam kapal selam untuk langsung dibuang keluar lewat KRI Ternate, dan kabel merupakan kabel komunikasi serta kabel listrik untuk mengambil alih semua daya di kapal selam yang mungkin sudah terkuras. Udara bersih sendiri akan dipasok melalui Kelomang, langsung ke dalam pintu palka ke kapal selam. Untuk pertama kalinya, angin sejuk dari luar pun berembus masuk ke dalam kapal selam, bagaikan air pelepas dahaga yang mengguyur tenggorokan kering kerontang.

Di bawah palka, sudah menunggu dua kelasi lagi, sepertinya mereka tengah menikmati semua kesegaran yang turun dari dalam Kelomang. Tapi tanpa membuang waktu, dengan cekatan mereka memasang selang besar itu ke sebuah katup, lalu menyambungkan kabel-kabelnya ke dalam panel. Lima menit kemudian, setelah kabel tersambung, Sers. Ali mengambil sebuah alat mirip telepon, lalu menghubungi KRI Ternate di atas.

“Ternate, di sini Kelomang, kami sudah berada di dalam KRI Antasena dan sedang menguji sambungan komunikasi, apa kau bisa mendengar, over?” tanya Sers. Ali.

“Kelomang, kami bisa mendengar dengan jelas, apa semua selamat di bawah sana?” tanya operator.

“Semua selamat, Ternate, segera mulai proses penyelamatan, dan suruh semua DSRV kemari,” kata Sers. Ali.

“Baik, Kelomang, apakah sudah bisa juga untuk melakukan override sumber tenaga,” tanya operator.

“Sudah, silakan,” kata Sers. Ali.

“Roger,” kata operator.

Tiba-tiba lampu menyala diikuti dengan pulihnya kembali beberapa sistem yang selama ini lumpuh akibat keterbatasan daya, termasuk di antaranya adalah sistem penyedot udara kotor. KRI Ternate kini telah mengambil alih operasional semua sistem dalam KRI Antasena. Udara yang semula pengap pun perlahan-lahan menjadi semakin ringan, meski tentu saja butuh waktu sebelum semua udara bersirkulasi dengan baik.

Sers. Banu kemudian turun dari atas Kelomang sambil membawa dua buah tabung oksigen ukuran sedang. Tentu ini bukan untuk mereka pakai, hanya sebagai tindakan penyelamatan saja mengingat pasti banyak awak kapal yang menderita akibat kekurangan oksigen. Kelasi yang ada di sana pun diperintahkan untuk mengumumkan kepada semua awak agar bersiap untuk evakuasi yang akan dilaksanakan tak beberapa lama lagi. Prioritas evakuasi adalah semua orang yang sakit dan terluka, baru disusul oleh tamu sipil, kemudian baru awak kapal, dan terakhir adalah para perwira kapal.

Di atas, begitu mendapatkan laporan dari bawah, DSRV pun segera disiapkan. Tenaga medis serta beberapa orang dan perbekalan langsung dinaikkan ke dalam DSRV yang saat ini masih berposisi di geladak kapal KRI Ternate. DSRV milik Indonesia adalah Dugong-3, yang memiliki kapasitas 20 orang. Tentu saja dalam penyelamatan nanti tidak semua kapasitasnya akan dipakai. Diharapkan dengan DSRV ini, semua awak kapal KRI Antasena akan berhasil dievakuasi dalam 5 kali perjalanan. Bila ditotal dengan DSRV Beluga IV milik Russia, waktu bolak-balik pun akan terpotong setengahnya, ditambah lagi DSRV Beluga memiliki kapasitas lebih besar, yaitu 25 orang. Sebagian korban nanti akan ditampung oleh KRI Ternate, dan sebagian lagi oleh RFS Malatinsky. Bila memukul rata proses perjalanan dan evakuasi sekali jalan akan memakan waktu 40 menit ditambah 2 x 1 jam istirahat mengisi baterai, maka keseluruhan prosesi hingga semua awak KRI Antasena berhasil diselamatkan adalah 5 jam 20 menit. Waktunya memang lama, tapi dengan diambilalihnya seluruh sistem KRI Antasena oleh KRI Ternate, maka ketakutan kehabisan udara pun hilang sudah. Yang jadi pertanyaan adalah dengan cukup babak belurnya KRI Antasena, berapa lama lagi dia bisa bertahan di dalam sana?

Kembali ke KRI Antasena, Sers. Ali dan Sers. Banu mulai menyusuri koridor dan memberi pertolongan oksigen kepada awak kapal yang sudah kepayahan. Kapal selam itu sendiri sudah menjadi pengap tak tertahankan, meskipun berangsur-angsur udara pengap mulai diserap oleh sistem sirkulasi yang kemudian akan langsung dibuang ke atas via sistem sifon KRI Ternate, sekaligus udara luar yang bersih dipompakan ke dalam melalui Kelomang. Ada hawa semilir yang sejuk mulai meresap ke dalam setiap ruangan, yang pastinya ini memberi gairah baru bagi para kelasi yang tadinya sudah amat putus asa ini.

Seiring dengan udara yang menjadi semakin ringan, Sers. Ali dan Sers. Banu akhirnya sampai ke dalam anjungan. Keadaan di anjungan, sebagaimana keadaan di ruang-ruang lain cukup berantakan. Laksma. Mahan yang masih sadar meski sudah amat kepayahan masih terduduk di sana, tampak tersenyum melihat kedua orang ini memasuki anjungan. Dengan sigap, Sers. Banu pun memberikan bantuan oksigen kepada Laksma. Mahan. Baru beberapa kali menghirup oksigen segar, Laksma. Mahan merasa kekuatannya sudah pulih kembali.

“Pertolongan sedang dalam perjalanan, Laksamana,” kata Sers. Banu,

“akan ada DSRV kita dan DSRV Russia yang akan melakukan evakuasi atas seluruh awak,”

“Terima kasih, Sersan,” kata Laksma. Mahan,

“kau bilang ada DSRV Russia, apa ada kapal Russia juga yang sampai ke sini?”

“Benar, kapal perusak Udaloy, RFS Malatinsky,” kata Sers. Banu. 

“Kaptennya Vassily Chugainov?” tanya Laksma. Mahan.

“Benar, Laksamana,” jawab Sers. Banu,

“Anda mengenalnya?”

“Kawan lama, boleh dibilang, semenjak kami berlatih bersama di Novossibirsk,” kata Laksma. Mahan,

“oh ya, segera tolong wanita itu, kalau tidak ada dia, kalian tak akan bisa menemukan kami,”

Wanita yang dimaksud tentu saja adalah Lucia. Dia tergolek lemah, tak sadarkan diri dengan mata terpejam dan napas yang amat pelan sehingga secara sekilas tampak seolah dia sudah mati.

“Dia?” tanya Sers. Banu,

“dia ini wanita yang bernama Lucia-kah?”

“Benar, suaminya ada di atas bersama kalian, bukan?” tanya Laksma. Mahan.

“Ya,” kata Sers. Banu.

“Akan kutangani,” kata Sers. Ali.

Sers. Ali pun membungkuk dan menangkupkan regulator-nya ke muka Lucia, lalu mengalirkan oksigen murni untuk dihirup oleh Lucia. Beberapa detik, dan Lucia pun tampak mulai terbangun. Dia terkejut melihat ada orang yang berdiri di dekatnya sambil membawa masker oksigen. Sers. Ali pun berusaha untuk menenangkannya, tapi Lucia tetap melihatnya dengan pandangan mata curiga.

“Tidak apa-apa, mereka orang kita juga,” kata Laksma. Mahan menenangkan Lucia.

“Benar, kami dari KRI Ternate,” kata Sers. Ali,

“dan ada seseorang yang sudah menunggu Anda di atas, Nn. Lucia,”

“Suamiku?” tanya Lucia dengan suara yang tiba-tiba menjadi cerah.

“Ya, dia sudah menanti Anda lama sekali,” kata Sers. Ali,

“kalau bukan karena dia mungkin kami tak akan bisa menemukan Anda,”

“Bagaimana suamiku? Apa dia baik-baik saja? Apa dia cukup makan?” tanya Lucia,

“dia belum pernah naik kapal sebelumnya,”

“Sebaiknya, Nn. Lucia, Anda tanyakan saja sendiri padanya nanti,” kata Sers. Ali sambil tertawa,

“akan ada banyak waktu untuk kalian berdua setelah kita semua berhasil keluar dari sini,”

Lucia pun tersipu, dan dia tampak senang meski tak mengatakan apa-apa. Penantian ini pun terbayar sudah, dan di saat harapan untuk hidup mulai layu, pertolongan pun tiba dan membuat semua harapan bersemi kembali.

“Laksamana, kalau boleh, sebaiknya Anda membantu kami untuk mempersiapkan proses evakuasi,” kata Sers. Ali.

“Baru saja aku akan menanyakannya, ayolah kalau begitu,” kata Laksma. Mahan,

“Nn. Lucia, sebaiknya kau dan teman-temanmu mulai mempersiapkan barang-barang karena kita tak akan di sini lagi lebih lama,”

“Baik, Laksamana,” kata Lucia.

Lucia masih tak percaya dengan perubahan nasib yang cukup drastis ini. Belum beberapa lama lalu dia masih tergolek lemah siap menghadapi kematiannya, dan kini kesempatan untuk pulang pun terbuka lebar di depan matanya. Dan suaminya pun kini sudah ada di atas untuk menunggunya. Lucia tak tahu lagi, mimpi apa yang bisa lebih indah lagi dari ini.



15.42 WIB

H minus 19:07:00



DSRV dari KRI Ternate, Dugong-3 akhirnya sampai di pintu palka haluan KRI Antasena, 86 jam setelah KRI Antasena tenggelam, atau bila diterjemahkan nyaris sekitar 4 hari 4 malam. Begitu mulai masuk ke dalam air yang gelap, Dugong-3 segera mencari sinyal beacon yang ditempelkan oleh Kelomang sebagai pemandu mereka. Beacon ini menjadi krusial karena beberapa jam lagi matahari akan terbenam, dan laut yang sudah gelap akan menjadi semakin gulita. Tanpa adanya beacon ini, maka satu-satunya cara pendugaan hanyalah melalui beberapa kali ping dari Rusal’naia, yang mana akan memakan banyak waktu. Beacon akan memandu kedua DSRV, baik Dugong-3 maupun Beluga IV langsung ke arah palka haluan KRI Antasena sehingga menghemat waktu.

Dugong-3 bermanuver kecil untuk bisa meraih pintu palka. Sama seperti ketika Kelomang menemukan pintu palka buritan, urusan meraih pintu palka ini bisa menjadi runyam bila salah menempatkan tenaga pada mesin pemanuver. Mungkin untuk itulah maka yang menjadi pilot DSRV (atau di Indonesia disebut sebagai Wapalad/ Wahana Penyelamatan Laut Dalam) adalah orang yang sudah berpengalaman. Bahkan untuk ini TNI-AL sengaja mengirim calon-calon pilot DSRV ke Russia untuk pelatihan lanjutan setelah pelatihan dasar di Indonesia.

Hasilnya cukup terbayar ketika Dugong-3 dengan mulus berhasil mendarat di atas palka haluan. Kali ini awak Dugong-3 tak perlu menunggu lama hingga pintu palka terbuka karena sudah ada awak kapal selam yang bersiaga di bawah pintu palka. Dua orang tenaga medis segera turun terlebih dahulu masuk ke dalam kapal selam, diikuti oleh empat orang yang akan membantu proses evakuasi dengan dua orang di antaranya fasih berbahasa Russia untuk mempersiapkan nanti bila DSRV Beluga IV datang. Perbekalan pun diturunkan, berupa makanan-siap-makan dan terutama adalah air minum juga obat-obatan. Mereka yang terluka akibat pertempuran yang saat itu masih ditangani secara seadanya kini distabilkan dengan lebih baik minimal supaya bisa diangkut dengan Dugong-3 ke permukaan. Proses pengangkutan mereka yang sakit ini rupanya penuh tantangan, karena letak Dugong-3 yang ada di atas, dan ada beberapa orang yang tak mungkin bisa naik tangga sendiri, sehingga terpaksa harus diikat di dragbar lalu dikerek supaya bisa naik ke Dugong-3. Saking susahnya, baru 3 orang pasien yang sempat dikerek masuk dalam Dugong-3 sebelum Dugong-3 harus segera naik ke permukaan untuk berganti peran dengan rekannya, DSRV Beluga IV dari Russia. Salah satu dari 3 orang itu adalah Sers. Andre yang masih lumpuh akibat berusaha menghidupkan reaktor air. Sers. Andre mendapat prioritas karena dia harus segera ditangani oleh tenaga medis di permukaan.

Lucia, Erika, Iwan, dan Reza sudah berada juga di dekat kabin tempat awak kapal menunggu sebelum naik ke DSRV. Tapi mereka tak ikut membantu, karena kali ini jumlah tenaga sudah cukup banyak untuk mempersiapkan semuanya. Alih-alih, Laksma. Mahan menyuruh mereka untuk beristirahat dan makan makanan-siap-makan untuk memulihkan tenaga karena setelah semua yang sakit diangkat naik, giliran mereka yang akan ke permukaan. Walau ramai, tapi suasana di sini sudah lebih enak, udara sudah tak lagi pengap dan keadaannya sudah lebih tidak muram karena harapan semua orang pun sudah tumbuh dan bersemi kembali. Tidak ada yang berebutan untuk segera pergi karena semua orang tahu bahwa tak akan ada yang ditinggalkan, setidaknya Laksma. Mahan akan memastikan hal itu. Bosun kapal pun sekali lagi mengabsen semua orang yang ada di sini, memastikan bahwa semua awak sudah lengkap untuk dievakuasi. Bagi mereka yang sudah gugur, Bosun langsung mencoret namanya dalam daftar.

Keempat orang ini duduk bersama dengan perasaan campur aduk yang canggung. Makanan-siap-makan yang biasa dipakai sebagai ransum tentara mereka makan dengan cukup lambat, seolah tak rela menghabiskan dan segera pergi. Ini bagaikan baru saja mengalami perjalanan di mana semua cerita sudah diungkapkan, sehingga menjelang akhir, sudah tak ada lagi cerita untuk dibahas. Ada beberapa perasaan yang kontradiktif, terutama pada mereka yang masih muda, seolah mereka ingin pulang tapi sekaligus juga tak ingin meninggalkan tempat atau kenangan ini.

Hanya satu dari keempatnya yang, meski tetap dilanda kecanggungan, hatinya sudah mantap untuk segera pulang. Ya, dia adalah Lucia, yang memang sudah menanti saat-saat dia bisa keluar nanti, ditambah lagi mengingat suaminya pun sudah ada di atas menunggunya. Tentu Lucia tidak secara terang-terangan menunjukkan antusiasmenya, tapi dari sendokan makannya yang ringan, siapapun bisa menebaknya. Pun, melihat rekan-rekannya yang hanya termenung saja sambil makan secara ogah-ogahan, Lucia pun tak bisa untuk ikut termenung.

“Cerialah,” kata Lucia,

“akhirnya kita bisa keluar dari sini,”

Baik Iwan, Erika, serta Reza hanya mengangguk saja, masih agak malas-malasan. Lucia sendiri maklum dengan semua reaksi ini. Amat sulit meninggalkan sebuah tempat di mana semua kenangan terjadi sekaligus, sebagaimana halnya di KRI Antasena. Mungkin juga karena mereka semua belum berkeluarga, jadi masih belum punya tanggungan yang menunggu mereka di luar sana; masih sebagai anak muda yang haus akan pengalaman hidup, dan KRI Antasena ini memberikan pengalaman yang luar biasa hanya dalam beberapa hari mereka berlayar. Lucia pun tersenyum.

“Banyak hal yang terjadi di sini, dan kalian akan menemui lebih banyak lagi di luar sana,” kata Lucia,

“jangan terpaku dengan apa yang kalian dapatkan di sini, tapi tataplah jalan yang masih akan kalian lalui di luar sana; ingatlah mereka yang menunggu di luar,”

Mereka bertiga pun meletakkan sendoknya pada kaleng makanan-siap-makan, dan menatap masygul ke arah Lucia, membuat Lucia merasa seperti seorang ibu yang tengah membujuk ketiga anaknya untuk melakukan sesuatu.

“Entah apa kita akan bisa melihat dunia luar sama seperti dulu lagi,” kata Reza berfilsafat,

“atau kita akan bisa melepaskan diri selamanya dari kenangan yang ada di sini,”

“Ya, banyak hal yang sudah terjadi,” kata Erika,

“hal yang mungkin belum seharusnya kita lihat,”

“Atau sesuatu yang seharusnya belum kita alami,” sambung Iwan diamini oleh ketiganya.

Lucia kembali tersenyum saja.

“Selamanya kenangan ini tak akan pernah kita lupakan dan akan selalu ada dalam hati serta pikiran kita,” kata Lucia,

“tapi pertanyaannya bukanlah bagaimana cara kita melupakannya, melainkan bagaimana kita akan kembali melangkah,”

Semua pun kini menyimak perkataan Lucia dengan saksama.

“Sebelum aku menikah dengan Anton, mungkin kalian sudah tahu ceritanya, tapi hari-hari menjelang berakhirnya pernikahan adalah salah satu saat-saat menakutkan bagiku; bila kita nalar dengan kondisi sekarang tentu itu hal yang aneh mengingat bagaimana suami pertamaku dulu, tapi meninggalkannya tetap menakutkan,” kata Lucia,

“mungkin karena aku memang telah terbiasa dengan semuanya, mungkin ada rasa ragu dengan apa yang terjadi di luar nanti, tapi intinya adalah, aku takut bila keadaan di luar mungkin lebih buruk daripada yang aku alami sebelumnya, karena itulah salah satu sisi dalam diriku membentuk penyangkalan untuk keluar dan maju,”

Lucia terhenti sejenak.

“Tapi Anton dan Lani, suami dan anakku sekarang adalah orang baik dan mengingat mereka membuatku mantap untuk melangkah keluar dari kesengsaraan itu; bukan berarti kemudian aku tidak takut lagi, tapi saat itu aku melihat bahwa di balik badai yang selama ini kutinggali, ada harapan akan cuaca yang cerah dan laut tenang,” kata Lucia, “dan semakin hari, aku mensyukuri keberanianku untuk melangkah pada hari itu, karena kini telah kutemukan pelabuhan aman bagiku; kalian pun nantinya akan harus juga begitu; selama di sini, kalian telah memupuk harapan untuk bisa keluar, kalian sudah bebas walau tubuh kalian masih ada di sini, sekarang jangan sampai ketika tubuh kalian sudah bebas nanti, jiwa kalian yang masih terperangkap di sini, karena dunia luar amat indah dan menjanjikan lebih banyak harapan,”

Setelah berkata seperti itu, kembali Lucia dengan ringan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Semua orang tampak merenung kembali, tapi terlihat jelas sebagian mendung yang mengelayuti mereka telah terangkat.

“Aku akan menikah,” kata Iwan tiba-tiba.

Semua pandangan kini tertuju pada Iwan.

“Aku akan menikahi Shely segera setelah keluar dari sini,” kata Iwan,

“tak usah menunggu sampai bulan depan, aku akan menikahinya begitu sudah keluar; aku paham sekarang, kita harus menghargai setiap waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kita, dan Tuhan memberi kita kesempatan untuk keluar dari sini, dari semua peluang yang amat sulit, Tuhan akhirnya memberi kita kesempatan kedua untuk hidup, sebaiknya jangan menyia-nyiakan kesempatan itu, karena siapa tahu kesempatan apa lagi yang akan atau tak akan Tuhan berikan,”

“Ya, dan Tuhan memberiku kesempatan untuk meminta maaf kepada Christo,” kata Erika,

“berada di sini, jauh darinya, berpikir aku akan mati tanpa sempat meminta maaf padanya... Dan saat Tuhan tetap memberiku kehidupan, siapa aku yang malah ingin kembali membuang kesempatan kedua itu dengan tetap meratap di sini? Tidak, aku akan minta maaf kepada Christo, dan akan menjadi kekasih yang lebih baik baginya, sebagaimana dia sudah amat baik bagiku,”

Semua kemudian mengalihkan pandangan ke Reza yang belum memberikan statement apa-apa.

“Bagaimana denganmu?” tanya Lucia pada Reza.

Reza tersenyum sejenak sebelum akhirnya menjawab.

“Hanya satu,” kata Reza, 

“memeluk Cory dan berteriak kalau aku mencintainya, nggak peduli itu di depan umum sekalipun,”

“Bagus! Akhirnya kamu berani buka kartu!” kata Iwan memberi salut.

“Hanya soal waktu,” kata Erika,

“tapi setidaknya itu sebuah langkah maju, dan lebih cepat dilakukan lebih baik,”

Kemuraman pun berubah menjadi rasa yang lebih ringan, walau masih agak jauh untuk disebut sebagai sebuah keceriaan, tapi setidaknya mereka bisa menyendokkan makanan mereka dengan lebih santai. Pengalaman di kapal selam ini rupanya mampu membuat mereka menjadi manusia yang baru, entah lebih baik atau tidak, setidaknya mereka bisa melangkah maju. Dalam suasana itu, mereka pun tak sadar kalau Laksma. Mahan sudah berada di dekat mereka. Tersenyum, mungkin dia sudah berada di sini sejak tadi dan mengamati semua pembicaraan mereka.

“Laut memang punya cara tersendiri untuk mengubah manusia,” begitu komentar pertama Laksma. Mahan yang mengejutkan semua orang di sana,

“apalagi di sini, kita sudah tak lagi berada di bawah naungan Zeus, tapi harus bergantung pada belas kasih Poseidon, dan Poseidon mengajar manusia dengan cara yang keras, sebagaimana besi panas ditempa di atas paron,”

“Kau mengejutkan kami, Laksamana,” kata Lucia.

Iwan bahkan nyaris tersedak karena itu, tapi dia tak merasa keberatan.

“Maaf, aku tak bermaksud melakukannya,” kata Laksma. Mahan,

“aku hanya ingin mengatakan bahwa kalian akan ikut pada rit berikutnya,”

“Berikutnya?” tanya Lucia dengan nada terkejut,

“tapi bukankah mereka yang luka...”

“Yang luka berat sudah diangkut terakhir tadi oleh DSRV Russia, sementara lainnya masih dirawat ulang, dan ada tempat kosong pada rit berikutnya, jadi kalian yang akan naik,”

“Kalau begitu kita harus bergegas,” kata Lucia.

“Santai saja, masih ada waktu setidaknya 20 menit lagi, DSRV Russia saja baru berangkat,” kata Laksma. Mahan,

“habiskan saja dulu makanan kalian dengan santai, tidak baik makan terburu-buru,”

Sepeninggal Laksma. Mahan, setiap suapan makanan berikutnya bagi mereka berempat terasa semakin ringan dan ceria. Tuhan yang memberi karunia berupa kesempatan kedua untuk hidup kini kembali memberi karunianya yang tak terbatas dengan mengizinkan mereka untuk keluar dengan lebih cepat dari kaleng baja ini. Mereka tentu saja tidak protes, karena mereka sudah ingin untuk cepat keluar segera setelah menemukan kembali tujuan hidup mereka di luar.

Ya, mereka yang telah lama tak merasakan hangatnya sinar matahari, lembutnya sinar rembulan, serta semilirnya angin yang bertiup. Hal-hal sehari-hari yang sering tak dihiraukan oleh orang, tapi kini amat mereka dambakan melebihi apa pun. Kerinduan pada dunia luar yang penuh warna yang sempat sirna kini menggelora di dalam dada, bukan hanya bagi mereka berempat, tapi juga semua orang yang ada di sini. Sekarang tiba saatnya untuk berpamitan dengan raksasa baja yang telah setia melindungi mereka dari hantaman kematian yang pasti, dan menyambut segarnya udara di luar dengan segala keindahannya, yang dulu tampak amat biasa tapi kini terlihat amat berharga melebihi apa pun.



17.17 WIB

H minus 17:25:00

(H stopped)



DSRV Dugong-3 pun kembali lagi ke KRI Antasena, bagaikan sebuah shuttle bus yang menjemput rombongan turis yang tengah tersasar. Sesuai janji Laksma. Mahan, Lucia dan semua awak NewsTV diperbolehkan menaiki DSRV ini dan menuju ke atas terlebih dulu. Barang-barang, termasuk kamera, semua diperiksa dan dinaikkan ke atas Dugong-3. Ruang di Dugong-3 lebih kecil dan lebih sempit, lebarnya hanya cukup untuk dua orang yang duduk saling berhadapan. Anggaplah seperti naik angkot bawah laut. Ada dua jendela kecil dengan kaca yang amat kuat di sana, tapi dalam keadaan laut yang gulita seperti ini, tak ada gunanya melihat ke luar jendela.

Kembali, Dugong-3 hanya membawa kurang dari kapasitas maksimal 20 orang. Kali ini hanya 10 orang termasuk 4 di antaranya adalah Lucia dkk. Kapasitas yang terisi hanya setengahnya ini membuat suasana menjadi lebih leluasa dan tidak pengap. Awak Dugong-3 dan KRI Antasena segera menutup palka pada bagiannya masing-masing, yang membuat suara bagaikan perlombaan memukul kaleng.

“Hatch aman!” kata awak penutup pintu.

“Roger that,” kata pengemudi Dugong-3.

Jangkar elektromagnetik pun dilepas dan kapal Dugong-3 terasa sedikit berguncang saat tekanan air laut mengangkat bobotnya yang kini tak lagi ditahan oleh magnet pada KRI Antasena. Mesin pun menderu dengan kencang dan perlahan-lahan Dugong-3 mulai menanjak naik. Dalam posisi sudut elevasi yang mencapai 15-20 derajat, maka semua orang di dalam harus berpegangan supaya tidak tergelincir pada lantai kapal yang miring. Hanya awak yang tadi menutup pintu yang masih tetap berdiri walau masih juga menunduk karena langit-langit yang agak rendah, mungkin dia memang sudah terbiasa dalam posisi seperti ini.

Sulit untuk mengatakan berapa lama Dugong-3 menanjak naik, berapa jauh perjalanan dari dasar hingga ke permukaan laut. Satu yang menjadi penanda adalah bahwa air laut yang terlihat dari jendela kecil semakin lama berangsur-angsur semakin terang. Dari yang tadinya biru gelap bagaikan tinta kini sudah menjadi biru terang yang menyenangkan. Erika duduk di sebelah Lucia dan memegang tangannya dengan ringan, harapan untuk pulang kini sudah mengejawantah menjadi sebuah kenyataan. Begitu pula dengan semua orang yang ada di sini.

Mungkin perjalanan ini akan lebih menyenangkan bila tidak tiba-tiba saja kapal Dugong-3 berguncang dengan hebat seolah membal. Semua orang pun terkejut dan berupaya mencari pegangan seketemunya. Iwan bahkan dengan gugup berusaha melindungi barang-barang dari kru NewsTV. Saat semua orang panik, pengemudi Dugong-3 hanya nyengir saja kepada mereka.

“Maaf, kita sudah sampai di permukaan,” kata si pengemudi,

“tadi saya masuknya terlalu cepat,”

“Maklum, sopir baru dia, jadi agak kasar,” kata awak pembuka pintu.

Itu membuat semua orang tenang, sekaligus juga mendongkol. Setelah terkocok-kocok dan terkurung beberapa hari di dasar laut, kenapa tak setidaknya perjalanan pulang bisa menjadi lebih nyaman. Tapi sinar matahari senja yang menembus jendela kecil pun membuat semua kedongkolan itu menghilang. Warna lembayung yang tak pernah lagi mereka lihat selama berada dalam kapal selam bagaikan pelipur dahaga di gurun pasir.

“Sepertinya sudah senja, jam berapa sekarang?” tanya Lucia.

“Sekarang sudah hampir jam 6 sore,” kata pengemudi.

“Hampir pukul 6 dan matahari masih seterang ini?” tanya Lucia.

“Di laut, matahari terbit dan terbenam dengan kecepatan yang lebih lambat daripada di daratan, Nona,” jawab si pengemudi.

Dugong-3 pun perlahan-lahan berenang menuju ke sebuah jetty terapung yang sengaja dibangung menjorok dari tangga turun KRI Ternate untuk proses evakuasi. Beberapa awak kapal KRI Ternate sudah ada di sana untuk menyambut para penyintas dari KRI Antasena yang sudah beberapa waktu ini mereka cari-cari. Awak pembuka pintu kemudian membuka pintu lain di sisi port Dugong-3. Pintu ini lebih lebar dan besar dan berbentuk lebih mirip pintu daripada palka. Memang ada 3 buah pintu utama di Dugong-3, yaitu di bawah, di sisi port, dan di atas. Pintu palka atas dipakai bila Dugong-3 tengah melaksanakan misi untuk inkursi pasukan khusus, sementara pintu port dipakai untuk kegiatan evakuasi, karena memang bentuknya lebih besar. Bentuk pintu itu sendiri sedikit miring ke atas, jadi mereka yang akan keluar harus memanjat sebuah tangga kecil yang berisi 2-3 anak tangga dulu.

“Dugong-3, bersiap untuk melaksanakan pengisian daya sebelum melanjutkan misi,” begitu perintah dari pengeras suara KRI Ternate.

Ya, memang daya pada mesin Dugong-3 sudah cukup menipis setelah proses evakuasi berjalan nyaris setengah jalan. Sebuah kabel dimasukkan melalui pintu port yang terbuka untuk mengisi ulang persediaan energi dalam baterai Dugong-3. Berarti pula untuk sementara Dugong-3 tidak akan mengambil rit ke bawah laut dan urusan evakuasi selama itu akan ditangani oleh Beluga-IV dari RFS Malatinsky. Pengisian daya ini juga disertai dengan penggantian awak Dugong-3 supaya dalam pelaksanaan evakuasi, awaknya masih tetap segar.

Cahaya matahari senja pun memasuki ruangan Dugong-3, terberkas dari luar pintu port yang dibuka, dan pelan-pelan, penumpangnya pun mulai berjalan keluar. Iwan, Reza, dan Erika melangkah keluar dengan ringan, sementara Lucia masih di belakang, sepertinya agak ragu untuk berjalan. Berkas sinar mentari itu membuat Lucia berpikir, inikah rasanya seorang narapidana yang akhirnya akan bebas? Inikah yang disebut sebagai menghirup udara bebas itu? Pikirannya pun menerawang untuk beberapa saat. Bau udara laut mulai semerbak memenuhi ruangan Dugong-3, aroma yang berbeda dengan yang selama ini dirasakan oleh Lucia di dalam KRI Antasena. Ya, kebebasan sudah di depan mata.

“Ayo, Mbak, kapalnya mau diisi baterai dulu,” kata si awak membuyarkan lamunan Lucia. 

Lucia tersenyum sesaat, kemudian dia melangkah menuju ke pintu itu. Sinar mentari yang masuk dari luar terasa amat hangat di tangannya, dan ketika melihat keluar, dia menyipitkan mata karena suasana mendadak menjadi amat silau, inilah sinar matahari yang sudah tak pernah lagi dia lihat semenjak pertama masuk ke pangkalan rahasia dan menyelam bersama KRI Antasena. Silaunya sinar matahari, semerbaknya udara laut, angin yang berembus kuat, dan suasana hiruk pikuk di luar membuat Lucia untuk sesaat limbung di depan pintu, untunglah sebuah tangan mengulur kepadanya saat dia hendak goyah.

“Terima kasih,” kata Lucia sambil menyambut tangan itu.

Dengan kuat, Lucia memanfaatkan tangan itu untuk menarik dirinya keluar dari Dugong-3, dan sejenak dirinya merasa tengah berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya. Lucia menutup matanya berusaha untuk membiasakan panca indranya pada keadaan yang baru ini, juga menghayati cahaya, angin, aroma laut, dan suara hiruk pikuk yang merupakan penanda bahwa dia baru saja keluar dari dunia milik Poseidon, dan kembali ke dunia Zeus. Yang dia rasakan saat itu sedikit campur aduk, kebanggaan, kebahagiaan, serta kelegaan yang luar biasa mengalahkan kenangan buruk yang sebelumnya telah dia alami di dalam rahim laut. Lucia tampak terdiam sementara sebelum akhirnya menyadari bahwa tangan yang sedari tadi memegangnya masih belum lepas, dan ini membuat Lucia agak heran.

“Maaf, Mas, tangannya boleh dilepas...” kata Lucia sambil melayangkan pandangan kepada siapa pun orang yang memegangnya itu.

Waktu pun serasa berhenti, dan kejadian selanjutnya membuat tubuh Lucia yang kecil terguncang seolah tak bisa menahan gelombang kejadian yang menerpanya. Orang itu, yang sedari tadi memegang tangannya, walau kini wajahnya sudah berhiaskan kumis dan jenggot tipis serta lebih tidak terawat daripada yang terakhir kali dia ingat, tapi Lucia masih mengenali bahwa itu adalah suaminya, Anton. Dan semesta pun seolah terhenti, saat Lucia hanya berdiri kaku melihat ke arah Anton, tak tahu harus berbuat apa. Wajah Anton pun mencoba untuk tersenyum, tapi matanya jelas berkaca-kaca.

Perlahan-lahan pegangan tangan Anton terlepas, dan masih tanpa berbicara, Lucia mengendurkan tangannya, kemudian pelan-pelan dia memegang wajah suaminya itu, mengelus pipinya, berusaha untuk merasakan kembali wajah tercinta yang terakhir dia rasakan seolah sudah berabad-abad lalu. Kemudian kedua tangannya pun kini sudah memegang pipi Anton, memegangnya untuk mengembalikan memori pada saat-saat indah ketika mereka bersama, dan Lucia, masih tak mampu berkata apa-apa, hanya mulut yang terbuka seolah tak mampu untuk mengungkapkan luapan perasaan yang kini campur aduk tumpah membanjiri dirinya. Awalnya matanya berkaca-kaca dan kini air mata menetes membasahi pipinya yang walau kotor namun masih indah bagaikan pualam.

Segera saja Anton maju memeluk istrinya itu, dan keduanya saling berdekapan erat, tangis Lucia pun langsung tumpah membasahi pundak suaminya itu, begitu pun dengan Anton yang tak mampu menahan keharuannya. Pun mereka tetap diam tanpa mengucap satu pun kata. Dalam keadaan perasaan yang menggelegak luar biasa, kadang kata-kata tak mampu mengungkapkan semua perasaan yang ada, dan diam justru bisa memberi lebih banyak mana dari kata-kata mana pun di dunia. Tepuk tangan dan sorak-sorai semua orang di sana pun sudah tak lagi dipedulikan oleh mereka berdua, dan kini mereka bagaikan patung yang saling berpelukan, gelap di depan latar matahari yang terbenam. Dan kembali, dunia seolah berhenti.

Mengenai Anton dan Lucia, tak banyak yang bisa diceritakan lebih lanjut kecuali mereka lebih memilih untuk diam dan terus lengket seolah tak mau terpisahkan lagi. Wajar, bila mengingat apa yang terjadi dan apa yang mereka alami. Lucia juga cukup surprise melihat Prita yang ada di sana, tapi sedikit banyak dia pun bersyukur karena bila ada yang bisa membuat suaminya untuk tak putus harapan, Prita-lah orangnya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak lama, cukup lama, bahkan sebelum Anton menikah dengan Lucia sehingga hubungan Anton-Lucia dengan Prita lebih kental daripada adik-kakak. Matahari pun akhirnya terbenam dan gelap pun menyelimuti samudera sementara operasi penyelamatan terus berlangsung. Satu hal yang disyukuri adalah selama operasi ini, cuaca tetap tenang sehingga memudahkan proses evakuasi.

Lucia mengamati proses penyelamatan di atas geladak kapal KRI Ternate sambil terus menyandarkan kepalanya di bahu Anton, suaminya, dan seolah ia tak ingin melepasnya lagi, tidak untuk sedetik saja. Tak ada yang berani mengganggu, tidak juga Prita, meski antara Anton dan Lucia lebih banyak diam. Namun diamnya mereka seolah memancarkan makna yang lebih luas daripada ribuan bahkan jutaan kata-kata. Prita sendiri menilai Anton dan Lucia sebenarnya tak sedang diam, melainkan melakukan percakapan batiniah yang tak bisa didengar secara ragawi, yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua, momen intim yang tak mau mereka bagi kepada dunia. Tak mau dan tak berani untuk mengganggu, Prita pun memilih mendengarkan cerita seru dari para kru NewsTV lain yang selamat, yang kali ini mereka bertiga seolah tak mau diam mengetahui ada orang yang antusias mendengarkan.



23:17:00 WIB

200 meter kedalaman



Laksma. Mahan menghela napas panjang sambil memperhatikan semua panel di anjungan yang rusak. Rasanya seolah sudah cukup lama dia memimpin anjungan ini, walau kenyataannya baru beberapa hari. Kapal selam tercanggih, kebanggan dari TNI-AL dan pertama serta satu-satunya, riwayatnya kini akan benar-benar berakhir. Dan walau hanya beberapa hari, pelaut dan kapten mana pun tak akan rela hatinya meninggalkan kapal yang sebegini hebat, meski dalam keadaan yang sudah amat rusak parah. Di tangan Laksma. Mahan kali ini tergenggam sebuah buku, logbook dari kapal KRI Antasena, bukti dari catatan perjalanan singkat KRI Antasena, yang setelah ini tak akan kembali lagi ke permukaan dan harus menumbalkan diri untuk masuk dalam Davy Jones’s Locker.

Awak kapal terakhir yang harus dievakuasi sudah dinaikkan ke DSRV Beluga-IV, dan yang tersisa kini hanyalah Laksma. Mahan beserta bosun kapal dan dua kelasi yang menjadi asisten bosun. Tapi kini di anjungan, hanya Laksma. Mahan saja yang sendirian berada di sini, karena ketiga awak lainnya sedang di bagian lain untuk “melaksanakan suatu tugas”. Ya, beberapa awak dari KRI Ternate yang tadi ikut saat Dugong-3 pertama kali datang sudah ikut dalam rit Dugong-3 sebelum ini, dan bahkan awak Kelomang pun sudah mohon diri beberapa menit setelah DSRV Beluga-IV berangkat, hanya meninggalkan dua orang awak KRI Ternate yang bertugas sebagai operator pintu untuk DSRV. Daya pada kapal pun kembali memakai daya darurat seperti sebelum Kelomang tiba, begitu pula pasokan udara dari KRI Ternate pun telah terputus. Namun dengan hanya beberapa orang saja di sini, dan seluruh udara kotor telah tergantikan dengan udara bersih dari permukaan, maka hal ini tidak menjadi sebuah persoalan. Masih akan ada cukup banyak udara bersih saat Dugong-3 nanti kembali ke KRI Antasena untuk terakhir kalinya demi menjemput Laksma. Mahan dan awak yang tersisa.

Laksma. Mahan membungkuk pada sebuah panel dan membuka salah satu pintu penutupnya. Dari situ, dia mencabut beberapa bagian yang mirip seperti cartridge mesin permainan video game masa dulu. Ada sekitar 8 cartridge yang harus dia cabut, masing-masing untuk fungsi berbeda dalam anjungan ini. Walau KRI Antasena nanti harus gugur, tapi data-data ini tak boleh sampai ikut gugur pula, karena di sinilah tersimpan rekam jejak dari seluruh fungsional KRI Antasena. Laksma. Mahan pun mengantongi semua cartridge itu ke dalam kantung-kantung pada jaketnya, tepat ketika bosun tiba bersama dua asistennya.

Sama seperti Laksma. Mahan, bosun kapal pun membawa cartridge serupa, tapi hanya ada 4 buah saja, serta dua buah piranti berupa kotak terbuat dari logam seukuran kotak sepatu dan berwarna merah-jingga. Dari beberapa lubang soket pada kotak-kotak itu, tampak jelas bahwa tadinya ada beberapa kabel yang terhubung kepadanya. Apa pun isi kedua kotak itu, tampaknya bobotnya sedikit berat karena bosun harus mengatur posisi tangannya supaya beban kedua kotak itu tak memberatkan lengannya.

“Sudah semuanya?” tanya Laksma. Mahan.

“Siap, sudah,” kata bosun.

“Sudah tak ada lagi awak kapal yang masih tersisa?” tanya Laksma. Mahan.

“Siap, sudah tak ada yang tersisa,” kata bosun sambil meringis menahan bobot benda yang dibawanya.

Dia tak bisa meminta dua asistennya untuk membantunya karena mereka pun membawa benda yang tak kalah beratnya. Asisten pertama membawa lonceng kapal beserta besi “L” yang menjadi dudukannya, dan sudah kewalahan membawa lonceng yang terbuat dari perunggu itu, sementara asisten kedua memegang lencana kapal berupa peneng besar terbuat dari kuningan bergambar kapal selam dengan latar belakang tokoh wayang Antasena dan tulisan “KRI ANTASENA” besar di atas dengan semboyannya di bagian bawah yang berbunyi “Ulebbiringi Telling Natualie” yang merupakan kalimat bahasa Makassar yang artinya “Lebih baik tenggelam daripada balik surut”. Di atas lencana kapal itu ada tiga bendera yang dilipat dengan rapi. Paling bawah adalah bendera kesatuan kapal selam TNI-AL, diikuti di atasnya adalah ular-ular perang berupa bendera 9 strip selang-seling merah putih, dan paling atas adalah bendera Sang Saka Merah Putih. Sambil tersenyum, Laksma. Mahan pun mengambil salah satu kotak dari bosun untuk meringankan bebannya.

“Ayo kita ke titik ekstraksi,” kata Laksma. Mahan sambil tersenyum.

Keempat orang itu pun lalu segera berjalan ke tempat penambatan DSRV. Di sana, dua orang awak dari KRI Ternate masih bersiaga di bawah pintu palka tempat ditambatkannya DSRV. Mereka berdua menghormat sejenak ketika Laksma. Mahan memasuki ruangan.

“Berapa lama lagi?” tanya Laksma. Mahan.

“Mereka sedang berusaha untuk tambat, Laksamana,” kata awak pertama.

“Cepat sekali?” tanya Laksma. Mahan.

“Ya, Dugong-3 langsung berangkat dari permukaan setelah DSRV Russia lepas tambat,” kata awak pertama,

“tak lama lagi kita akan segera pergi dari sini,”

“Baiklah, lanjutkan dan tolong bantu mereka menaikkan barang-barang ini begitu Dugong-3 siap,” kata Laksma. Mahan,

“dan tunggu saya 3 menit lagi,”

“Ada yang masih harus dilakukan, Laksamana?” tanya awak pertama kebingungan.

“Ya, begitulah,” kata Laksma. Mahan,

“setelah ini semua kuserahkan padamu, Bosun,”

“Siap, Pak,” kata bosun,

“tapi benarkah 3 menit?”

“Kau dengar aku tadi, Bosun,” kata Laksma. Mahan,

“tiga menit,”

Bosun mengangguk mengerti, dan Laksma. Mahan pun meninggalkan semua urusan pemuatan terakhir kepada bosun sebelum dia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke anjungan. Ya, ada satu hal terakhir yang harus dilakukan, kewajiban terakhir Laksma. Mahan sebelum akhirnya dia meninggalkan kapal ini.

Sesampainya di anjungan, kembali Laksma. Mahan menarik napas panjang, mengenang semua yang telah terjadi di dalam kapal ini, kemudian mulai mendekati sebuah panel yang sebenarnya selama ini sudah dia tongkrongi ketika nasib KRI Antasena dan semua korban di dalamnya masih terkatung-katung. Panel itu memang khusus karena hanya Laksma. Mahan saja yang berani dan boleh mendekatinya, tak ada awak kapal lain yang mau atau berani untuk itu, karena konsekuensi pengaktifan panel ini amat besar. Ya, inilah panel penghancuran diri kapal selam, dan bila seluruh awak kapal selam telah berhasil dievakuasi, maka kapal selam yang sudah lumpuh ini tetap tak boleh jatuh ke tangan orang lain.

Interkom pun berbunyi dan bosun kapal menghubungi Laksma. Mahan yang ada di anjungan.

“Kep, semua sudah siap, barang-barang sudah dinaikkan, dan kami tinggal menunggu Anda,” kata bosun.

“Baiklah, Bosun, segera semua naik, dan sudah di atas Dugong-3 saat nanti aku kembali, satu menit lagi,” kata Laksma. Mahan.

“Siap, Kep,” kata bosun,

“tapi Anda tak ingin melakukan yang aneh-aneh, ‘kan?”

“Tidak, tunggu saja, aku akan ke sana satu menit lagi,” kata Laksma. Mahan.

Inilah saatnya, pikir Laksma. Mahan. Sejenak Laksma. Mahan tergoda untuk turut tenggelam bersama dengan kapal selam ini, tapi kemudian dia sadar bahwa dirinya adalah salah stau tokoh penting dalam kapal selam ini, dan kepulangannya dengan selamat akan lebih banyak membantu untuk masa depan bila dibandingkan bila dia harus pulang tanpa nama. Ada kalanya untuk masa depan, gengsi pribadi harus dikesampingkan, dan dia walau mungkin dia akan dicap sebagai bukan pelaut sejati, tapi dia adalah prajurit sejati yang meletakkan bahwa negara-lah yang akan menentukan apakah dia harus hidup atau mati, keputusannya salah atau benar.

Setelah memantapkan tekat, Laksma. Mahan pun menekan tombol penghancuran diri. Lampu darurat segera menyala dan alarm pun meraung-raung memberi tanda bahwa proses penghancuran diri akan segera dimulai dalam 3 menit lagi. Seperti halnya Laksma Mahan, bosun juga mengetahui tahapan-tahapan penghancuran diri sehingga dia tahu bahwa bosun pasti akan menunggunya hingga setidaknya pada batas aman kapan DSRV harus langsung pergi sebelum ikut hancur bersama kapal.

Dan memang bosun tidak terlalu panik mendengar peringatan penghancuran diri itu, alih-alih dia langsung mengecek arlojinya untuk mengukur waktu. Justru awak Dugong-3 lah yang belingsatan karena mereka sebelumnya tak pernah diberi tahu soal proses penghancuran diri ini. Berkali-kali mereka berteriak supaya diizinkan segera meninggalkan lokasi, tapi bosun dengan tenang menolaknya. Bahkan bosun kini berada di antara pintu palka luar dengan pintu bawah Dugong-3 sehingga pintu itu tak bisa ditutup.

Kepanikan makin menjadi, karena kapal selam mengeluarkan suara desisan yang amat keras dan mengerikan. Inilah tahap dari penghancuran diri, yaitu kapal selam melakukan emergency ballast-blow untuk memunculkan kapal selam ini ke permukaan demi memudahkan penyelamatan awak kapal. Setelah kapal selam ke permukaan, maka dalam tempo 3 menit, evakuasi total harus segera dilakukan sebelum kapal selam akan tenggelam kembali dan meledak pada kedalaman 300 meter atau bila tekanan air telah mencapai titik tertentu atau bila pergerakan turunnya terhenti.

Bosun terlihat cukup tenang dan memperhatikan arlojinya, tak begitu mengindahkan para awak Dugong-3 yang ketakutan setengah mati, dan dalam kepanikan seperti ini, waktu pun seolah berjalan lambat. Untung tak begitu lama kemudian Laksma. Mahan sudah tiba di tangga bawah DSRV.

“Berapa waktuku?” tanya Laksma. Mahan.

“49 detik,” kata bosun,

“ini rekor baru,”

“Bagus, kalau begitu kita segera pergi,” kata Laksma. Mahan.

“Benar, kasihan awak di Dugong-3 sudah pada berteriak,” kata bosun.

Tentunya kini mereka lebih lega saat Laksma. Mahan akhirnya datang dan pintu ditutup. Tapi rupanya kepanikan tak juga beranjak, mengingat awak Dugong-3 belum pernah bekerja dalam kondisi semendesak ini. Beberapa kali bahkan pengemudi terlihat agak gugup saat hendak melepas jangkar elektromagnetiknya. Tapi di tengah cucuran keringat yang sebesar biji jagung, akhirnya jangkar elektromagnetik pun terlepas, tepat waktu ketika KRI Antasena akan mulai memasuki fase tenggelam dengan cara membuka semua kompartemen pelampung dan membiarkan air masuk.

Mesin Dugong-3 meraung dengan kencang, tapi suara raungan mesin itu rupanya kalah dengan suara berton-ton air yang kini tengah berlomba masuk ke dalam kompartemen udara KRI Antasena. Dari jendela Dugong-3 terlihat conning-tower KRI Antasena mulai goyah dan terbenam sedikit demi sedikit. Proses memasukkan air sekaligus banyak terbukti sedikit terlalu berat bagi badan kapal yang sudah babak belur, dan dalam proses itu saja, beberapa bagian panel luar yang memang sudah longgar pun akhirnya lepas dan bertebaran di laut; beberapa yang berat tenggelam sementara yang lebih ringan langsung lepas ke permukaan. Dan hingga detik-detik terakhir saat KRI Antasena tenggelam, Dugong-3 masih masuk dalam wilayah vorteks yang tercipta akibat gerakan turun mendadak KRI Antasena yang menimbulkan ruang hampa di dalam air. Bila tak segera keluar dari vorteks itu, Dugong-3 bisa turut terseret tenggelam bersama KRI Antasena karena mesin Dugong-3 memang tidak dirancang untuk bisa melawan arus yang kelewat deras.

“Cepat bawa kita keluar dari sini, pengemudi!” kata Laksma. Mahan yang agak cemas mengetahui Dugong-3 masih masuk dalam zona bahaya.

“Kita sudah maksimal, Laksamana! Flaps dan mesin sudah dalam kondisi penuh!” kata pengemudi yang tengah berjuang mengendalikan kapal di tengah vorteks yang semakin deras terbentuk.

Tentu saja ini bukan jawaban yang diharapkan bila mengingat suasana yang amat genting. Bahkan bosun yang sedari tadi terlihat tenang pun mulai gugup dan panik. Ini bukan situasi yang biasa dihadapi. Laksma. Mahan langsung saja bergerak maju dan menghampiri pengemudi, melihat ke arah panelnya. Memang benar bahwa flaps dan juga mesin semua sudah menunjukkan daya maksimal dan tak mungkin ditambah lagi.

“Kapal ini dibuat berdasarkan desain DSRV Beluga milik Russia, bukan?” tanya Laksma. Mahan.

“Apa, Pak?” tanya pengemudi yang masih berkonsentrasi.

“Kapal ini dibuat sesuai Beluga, bukan?” tanya Laksma. Mahan lebih keras.

“Benar, Pak!” jawab pengemudi.

“Kalau begitu pasti juga ada tombol untuk ini,” kata Laksma. Mahan.

Tanpa bisa dicegah si pengemudi, Laksma. Mahan meraih sebuah tombol pada panel dan begitu tombol itu ditekan, mendadak serasa ada dorongan dan Dugong-3 melaju dengan amat kencang. Saking kencangnya sehingga semua orang yang ada di sana terjungkal ke belakang. Kecepatan tinggi sesaat itu rupanya cukup untuk membawa Dugong-3 keluar dari pusaran vorteks bagian dalam yang berbahaya. Walau hanya sampai ke sisi luar vorteks, tapi arus di sini lebih ringan dan bisa ditangani oleh mesin-mesin Dugong-3.

Laksma. Mahan tersenyum sambil menepuk pundak pengemudi, kemudian kembali ke belakang, meninggalkan pengemudi yang kini berusaha untuk menstabilkan kapal sebelum kembali ke jalur ekstraksi yang benar.

“Apa itu tadi, Pak?” tanya bosun,

“kenapa bisa begitu?”

“Kapal Dugong kita dibuat berdasarkan desain dari DSRV Beluga milik Russia yang tadi juga menjemput sebagian awak kita; dalam Beluga, ada satu mekanisme untuk melepaskan udara bertekanan tinggi yang cukup kuat untuk mendorong kapal melawan arus yang sangat kuat sekalipun,” kata Laksma. Mahan,

“dorongannya memang singkat, tapi untuk melepaskan diri dari arus kuat, itu sudah cukup; dan kuduga, yang mana ini benar, DSRV kita pun punya mekanisme serupa, meski aku yakin jarang ada yang tahu,”

“Untung saja itu benar,” kata bosun.

“Itulah salah satu kelemahan salinan desain dari bangsa kita, bahwa semua mekanisme yang ada akan langsung ditiru, tapi ini adalah fitur yang bermanfaat, karena kita tahu bahwa arus bawah air di perairan Indonesia kadang lebih ganas daripada di perairan beku di Russia,” kata Laksma. Mahan.

“Lihat, KRI Antasena mulai tenggelam!” kata salah seorang awak yang melihat keluar dari jendela.

Semua berjejal mencoba melihat keluar dari jendela kecil itu, dan siluet raksasa KRI Antasena perlahan-lahan mulai tenggelam menghilang ditelan gelapnya laut dalam. Hanya gelembung udara dan puing-puing ringan saja yang masih bisa terlihat semakin Dugong-3 yang terus menanjak. Tak lama kemudian, terlihat nyala api yang berkilap-kilap dari dasar laut, menandakan bahwa KRI Antasena kini telah meledak dan hancur berkeping-keping. Suara gemuruh ledakan KRI Antasena terdengar hingga ke Dugong-3, dan itulah akhir dari KRI Antasena, kapal selam terhebat yang pernah dimiliki oleh Indonesia.

Dengan musnahnya KRI Antasena, ada mendung yang tiba-tiba bergelayut di wajah Laksma. Mahan dan semua orang di Dugong-3 yang pernah mengawaki kapal selam itu. Laksma. Mahan melepas topinya, kemudian menghormat kepada kedalaman lautan, diikuti oleh bosun dan awak eks-KRI Antasena. Sang bosun bahkan sampai menitikkan air mata saat memberikan penghormatan terakhir kepada KRI Antasena yang kini sudah kembali ke haribaan laut untuk selamanya.

“Recquiescat in pace, Antasena,” gumam Laksma. Mahan,

“semoga dalam birunya laut ini, tak ada yang akan mengusikmu lagi untuk selamanya,”


00:02 WIB


Setelah perjalanan singkat itu, Laksma. Mahan dan awak terakhir dari KRI Antasena sampai di permukaan, beberapa menit serelah tengah malam. Bahkan dalam malam gelap, area itu tampak terang karena KRI Ternate, KRI Keumalahayati, KRI I Gusti Ktut Jelantik, dan juga RFS Malatinsky menyalakan semua lampunya termasuk lampu sorot. Di kegelapan malam, mereka menjadi mirip seperti parade pasar malam, tapi selain untuk membantu evakuasi, prosedur penyalaan lampu ini menjadi penting untuk menunjukkan pada Armada Australia bahwa mereka tak berniat jelek, karena dalam keadaan seperti ini, keempat kapal akan menjadi target yang jelas terlihat.

Hanya jetty milik KRI Ternate yang masih terlihat terpasang, karena jetty dari RFS Malatinsky sudah terlebih dahulu dibereskan dan diangkat bersama dengan DSRV Beluga IV. Itu pun orang yang berada di atas jetty sudah tak sebanyak tadi, karena semua tahu bahwa semua korban dengan kondisi luka berat sudah selesai dinaikkan dan dirawat, hanya tinggal Laksma. Mahan dan 3 ABK lain yang relatif masih sehat. Berbeda dengan Lucia tadi, Laksma. Mahan turun dari Dugong-3 dengan langkah yang lebih mantap. Dia sudah cukup lama bertugas di kapal selam, sehingga lebih terbiasa dengan proses debarkasi-embarkasi. Hanya saja, Laksma. Mahan tampak terdiam sejenak dan mengheningkan cipta sesaat setelah dia menginjakkan kaki di jetty. Tampaknya dalam keadaan seperti ini, tak ada yang melupakan Tuhan.

Dugong-3 segera siap untuk dikerek kembali ke atas KRI Ternate, seiring dengan purnanya tugas DSRV ini menyelamatkan awak terakhir dari KRI Antasena. Dan Laksma. Mahan serta ketiga ABK terakhir KRI Antasena ini disambut dengan tepukan tangan yang tak kalah meriah dari semua orang di KRI Ternate. Sebuah penghormatan karena sikap ulet dan pantang menyerah luar biasa yang ditunjukkan oleh semua awak KRI Antasena dalam bertahan hidup hingga akhir, dan sekaligus rasa syukur dari awak KRI Ternate karena berhasil melaksanakan tugas dengan baik dan tak kurang suatu apa pun walau sempat mengalami keadaan yang amat mencekam.

Laksma. Mahan mulai berjalan menaiki tangga dari jetty, dan sorak-sorai itu terhenti digantikan oleh keheningan yang khidmat. Kelasi terdekat dari jetty segera menghormat kepada Laksma. Mahan, diikuti oleh para kelasi lain seiring Laksma. Mahan mendekat. Di atas geladak, para kelasi segera berbaris di kiri kanan gang menciptakan sebuah lorong kelasi untuk Laksma. Mahan dan awak terakhir KRI Antasena. Beberapa ada yang merupakan awak KRI Antasena yang dievakuasi pada awal-awal dan masih cukup sehat untuk bisa bergabung. Siapa pun itu, entah dari KRI Ternate atau KRI Antasena, semua memberikan penghormatan kepada Laksma. Mahan, komandan pertama dan terakhir dari KRI Antasena.

Menjelang akhir barisan, Laksma. Mahan berhenti sejenak. Dia tersenyum saat dua orang yang tengah dia hadapi memberi hormat. Ya, orang itu adalah Lucia, yang kini seolah tak mau lepas dari suaminya yang rela pergi jauh untuk menjemputnya. Laksma. Mahan membalas hormatnya, kemudian segera menyalami Anton.

“Akhirnya aku bertemu juga dengan si kesatria berzirah putih seperti dalam dongeng-dongeng, yang dengan gagah berani memacu kudanya untuk menyelamatkan sang putri tercinta,” kata Laksma. Mahan,

“istri Anda banyak sekali bercerita tentang Anda, Tuan Anton,”

“Saya hanya manusia biasa, Laksamana,” kata Anton,

“dengan takdir yang kebetulan memihak kepada saya,”

“Sungguh bersahaja,” kata Laksma. Mahan,

“tapi meski aku percaya dengan kekuatan cinta, baru kali ini aku melihat bukti kehebatannya dengan mata kepalaku sendiri, dan sedikit banyak, semua korban selamat dari KRI Antasena berutang kepada kalian berdua,”

Anton dan Laksma. Mahan pun saling menghormat dengan takzim, sebelum Laksma. Mahan beralih pada Lucia.

“Nona Lucia,” kata Laksma. Mahan,

“kuharap di suatu hari kita bisa bertemu lagi pada saat-saat yang lebih ceria di bawah sinar matahari; kau sudah memperkenalkanku kepada pangeranmu, dan nanti akan kujamu kalian di tempatku bersama istri dan anak-anakku; aku berjanji bahwa pintu rumahku akan selalu terbuka bagi kalian,”

“Dan pintu rumah kami pun terbuka kapan pun Anda berkunjung, Laksamana,” balas Lucia.

Mereka bertiga saling melempar senyum dan salam takzim sebelum Laksma. Mahan kembali berjalan menuju ke akhir barisan, di mana di sana ada ketiga kapten dari kapal-kapal ini, yaitu Kapt. Kadek, Kol. Niken, dan Kpt-1. Chugainov. Ya, bahkan untuk menyambut Laksma. Mahan, Kpt-1. Chugainov sampai rela meninggalkan kapalnya, RFS Malatinsky dan bergabung di KRI Ternate. Ketiga kapten ini langsung memberi hormat kepada Laksma. Mahan.

“Selamat datang di KRI Ternate, Laksamana,” kata Kapt. Kadek.

“Kehormatan bagiku, Kadek, dan kau sepertinya sudah melakukan tugasmu di kapal ini dengan baik,” kata Laksma. Mahan.

“Aku masih bukan apa-apa, Laksamana,” kata Kapt. Kadek merendah.

“Tapi kalau bukan berkat dia, bisa jadi sudah pecah perang antara Indonesia dan Australia, dan kita akan gagal menyelamatkan Anda semua,” tukas Kol. Niken.

“Dan pastinya peranmu sendiri juga besar, bukan?” tanya Laksma. Mahan,

“aku kenal kau, Niken, tak perlu merendah seolah-olah aku atasan yang jauh,”

Kol. Niken hanya tersipu saja mendengarnya.

“Aku hanya pandai bertempur, Laksamana, bukan bernegosiasi,” kata Kol. Niken,

“semua hal mengenai diplomasi ditangani oleh Kapt. Kadek sebagai pimpinan misi,”

“Kau masih muda, dan banyak yang bisa kaupelajari, Kolonel,” kata Laksma. Mahan sambil menepuk bahu Kol. Niken.

Kali ini tinggal Kpt-1. Chugainov yang berada di hadapannya. Kedua perwira ini pun tersenyum saat saling berhadapan. Kpt-1. Chugainov tampak gagah, tinggi semampai dengan baju telnyashka garis biru tua yang sengaja ditonjolkan dari balik seragam perwiranya.

“Dobro pozhalovat’, Dino,” kata Kpt-1. Chugainov.

“Spasibo, ochin’ priyatno, Vassily,” jawab Laksma. Mahan.

Kedua perwira ini kemudian tertawa dan saling berpelukan, sembari berbicara dalam bahasa yang asing bagi semua orang di sini, karena memang tak ada yang fasih berbicara dalam bahasa Russia. Laksma. Dino Mahan sendiri memang sudah pernah beberapa kali ikut dalam misi muhibah TNI-AL ke Russia sehingga dia cukup fasih berbicara dalam bahasa itu. Dalam salah satu misi muhibah-nya inilah, dia bersahabat dengan Kapitan-1 go-ranga Vassily Chugainov. Dan kini kedua sahabat ini bersua kembali. Meski keduanya memang sudah merencanakan pertemuan ini dalam suasana yang lebih gembira, tapi pertemuan saat ini justru berasa pada momen yang amat pas. Suara deheman dari Kapt. Kadek-lah yang kemudian memecahkan momen ini.

“Laksamana, hari sudah malam, dan sebaiknya Anda beristirahat setelah apa yang Anda lalui beberapa hari ini,” kata Kapt. Kadek,

“saya akan ambil giliran ronda untuk malam ini dan Anda boleh mengambil kabin saya,”

“Terima kasih, Kapten, tapi kurasa aku dan sahabatku Vassily sedang ingin bermain catur untuk malam ini,” kata Laksma. Mahan,

“ada permainan yang belum sempat kami selesaikan saat kami di Russia dulu,”

“Tentu saja, Laksamana,” kata Kapt. Kadek.

“Soal kabin Anda, sepertinya saat ini ada yang lebih membutuhkan,” kata Laksma. Mahan sambil melirik ke arah Anton dan Lucia.

“Baiklah, saya mengerti, Laksamana,” kata Kapt. Kadek,

“lagi pula mereka pantas mendapatkannya,”


01.21 WIB


Satu jam sudah berlalu semenjak DSRV terakhir diangkat dan segala peralatan penyelamatan pun kini telah selesai dibereskan. Kol. Niken juga telah kembali ke kapalnya, KRI Keumalahayati, sementara Kpt-1. Chugainov tetap tinggal, dengan komando atas RFS Malatinsky diserahkan kepada wakilnya, Kapitan-3 go-ranga Semyon Kovarchenko. Kapt. Kadek mengambil giliran ronda malam dan kini tengah berada di anjungan saat menerima laporan bahwa semua prosesi penyelamatan telah berhasil dilakukan.

“Kolonel Niken, Kapitan Kovarchenko, kita sudah mendapat lampu hijau dan bisa segera pergi dari sini,” kata Kapt. Kadek,

“mulailah untuk berbalik arah, saya akan menyusul di belakang,”

“Dimengerti, Kapten,” kata Kol. Niken dan Kpt-3. Kovarchenko nyaris dalam waktu bersamaan.

Kapt. Kadek kemudian menarik napas sejenak sebelum akhirnya memberi perintah kepada perwira radio.

“Sambungkan pada komando Armada Australia,” kata Kapt. Kadek.

“Siap, Pak,” kata perwira radio.

Panggilan dari Kapt. Kadek itu langsung diterima oleh Capt. Henry Crowley di HMAS Hera yang menjadi pemegang komando pasca-dibebastugaskannya Cdr. Lesley van Huydt dari HMAS Amphitrite.

“This is commander of Australian fleet, Captain Henry Crowley of HMAS Hera speaking,” kata Capt. Crowley.

“Capt. Crowley, we have done what we came here for and rescuing our friends out of the depth. We’re grateful for your patience and the chance you give to us to do our rescue mission,” kata Kapt. Kadek,

“we now will leave and go back to our own country, thank you,”

“You’re welcome, Sir,” kata Capt. Crowley,

“I hope things ran very well,”

“It was, Captain,” kata Kapt. Kadek,

“may we see each other again in a happier time,”

“We shall, Captain,” kata Capt. Crowley.

Seusai berbincang begitu, KRI Ternate pun segera bergerak dan mengambil manuver cikar kiri untuk berbalik arah, menyusul KRI Keumalahayati, KRI I Gusti Ktut Jelantik, dan RFS Malatinsky yang telah terlebih dulu bergerak menjauh. Baru setelah KRI Ternate meninggalkan wilayah Australia dan masuk kembali ke wilayah Indonesia, kapal-kapal Armada Australia akhirnya mulai bergerak dan berbalik arah pula. Kedua armada akhirnya berpisah di kegelapan malam.

Kapt. Kadek pun merebahkan dirinya di atas kursi nakhoda dan menarik napas panjang dengan penuh kelegaan. Misi sulit itu pun akhirnya selesai sudah, dan kali ini dia amat puas dengan hasilnya. Seorang kelasi atas inisiatifnya sendiri segera mendekati Kapt. Kadek yang tengah berdiam.

“Mau kuambilkan sesuatu, Kapten?” tanya kelasi itu.

“Ya, ambilkan aku kopi,” kata Kapt. Kadek,

“tapi ambilkan juga semua minuman yang ada bagi semua awak di sini, misi kita sudah selesai dan saatnya kita bersantai sembari pulang ke rumah,”

“Siap, Kep!” kata si kelasi sambil tersenyum.



2 Hari Kemudian
Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma
Jakarta
09.42 WIB


Sebuah pesawat Boeing 737-800 angkutan VVIP TNI Angkatan Udara mendarat dengan mulus di tarmac pangkalan udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, meski suasana pagi itu sedikit gerimis. Pesawat sempat berputar-putar selama satu jam sebelum akhirnya diizinkan mendarat setelah pemeriksaan atas landasan memutuskan bahwa meski basah, landasan tetap masih cukup aman untuk pendaratan. Tak seperti biasanya, lanud itu kini cukup ramai dengan insan pers yang tampaknya bersiap untuk menyambut siapa pun yang akan turun dari pesawat itu. Dampak keramaian yang tak biasa ini membuat satuan pengamanan pangkalan udara musti menyiagakan tambahan orang mengingat wartawan bisa cukup nekad dalam hal mencari berita.

Ya, di dalam pesawat beregistrasi A-7303 itu, terdapat Anton dan Lucia beserta semua awak NewsTV lain yang telah terlibat dalam insiden pada ground zero, ditambah para awak KRI Antasena yang berhasil selamat minus Sers. Andre, karena Sers. Andre malam sebelumnya baru saja menghembuskan napas terakhirnya akibat cedera serius yang didapatkannya kala berusaha menghidupkan reaktor air KRI Antasena. Dengan ini, Sers. Andre menjadi korban terakhir dari peristiwa tragedi KRI Antasena, dan sesuai keputusan Presiden Chaidir yang telah diumumkan sebelum ini, pangkatnya, bersama seluruh korban tewas lain, akan dinaikkan dua tingkat secara anumerta atas dasar kegigihan yang tak kenal menyerah walau nyawa menjadi taruhannya.

Lucia sudah terbangun setelah tadi sepanjang perjalanan tertidur dengan pulas sambil bersandar di bahu suaminya, dengan kedua tangan mereka saling menggenggam dengan erat seolah tak mau lagi untuk lepas. Bagi Anton dan Lucia, penerbangan ini adalah perjalanan jauh terakhir yang harus dilalui sebelum akhirnya mereka bisa pulang ke rumah. Akan halnya, semua di pesawat ini pun juga sudah tak sabar untuk segera pulang. Mereka kini sudah terlihat berbeda dari saat mereka pertama kali diangkat dari KRI Antasena ke permukaan. Wajah-wajah yang semula kuyu dan tirus kini sudah menjadi lebih segar dengan senyum ceria yang tak henti-hentinya mengembang.

Armada Indonesia berhasil mencapai pangkalan laut di Pelabuhan Ratu 12 jam setelah penyelamatan, dan seluruh penyintas dari KRI Antasena langsung dievakuasi ke dalam pangkalan secara tertutup untuk diberikan perawatan lanjutan. Mereka semua masih harus menghabiskan waktu selama 18 jam ke depan di dalam pangkalan karena selain proses perawatan, ada pula proses debriefing yang dilakukan oleh dinas intelijen. Rekaman milik NewsTV bahkan tidak luput dari proses sensor, tapi itu memang sudah kesepakatan dari awal. Jangan sampai ada informasi vital dari KRI Antasena yang bocor ke publik, karena implikasinya cukup berbahaya. Tetap saja, proses ini menjadi proses yang menjengkelkan, karena tak ada yang suka untuk ditanya-tanyai, apalagi saat seperti ini.

Tapi prosedur tetaplah prosedur, dan semua itu sudah berlalu. Kini yang diinginkan oleh semua orang hanyalah untuk pulang ke rumah. Soal lain urusan belakangan, meski itu adalah jamuan kenegaraan yang akan diadakan oleh Presiden Chaidir di Istana Merdeka nanti malam, dan semua yang terlibat pada ground zero ini diundang, termasuk Anton dan Lucia. Belum lagi masih ditambah dengan selama 6 bulan ke depan, mereka semua yang ada di sini pasti akan jadi sirkus media. Tak masalah sepanjang semuanya tetap ingat “versi resmi kejadian ini” yang sebelumnya telah didoktrinkan kepada mereka, yang lebih tidak seru dan lebih masuk akal dibandingkan dengan kejadian sebenarnya. Tak ada drama soal perbaikan sonar yang memakan korban, tak ada cerita mengenai sensor Rusal’naia yang membantu pencarian, tak ada insiden mengenai pengorbanan awak pesawat “Blue Sky”, apalagi tentang reaktor air. Semua pengujian yang dilakukan di KRI Antasena 100% dilarang diekspos, hanya rekaman yang sudah disensor saja yang boleh dipublikasikan, tidak lebih. Satu-satunya hal yang tidak ditutupi adalah bahwa tenggelamnya kapal KRI Antasena adalah akibat serangan dari kapal perang AL Diraja Australia, yaitu HMAS Pitcairn, namun menurut “versi resmi”, insiden ini akibat kerusakan pada peralatan GPS dan komunikasi pada kedua kapal yang mengakibatkan kapal HMAS Pitcairn salah mengira KRI Antasena sebagai ancaman. Lucia sendiri bersumpah tak ada yang salah pada malam kejadian dan bahwa semua instrumen pada KRI Antasena berfungsi dengan baik, dan serangan HMAS Pitcairn sendiri adalah serangan yang disengaja dan cukup keji. Tapi seperti halnya yang lain, Lucia tetap bersedia untuk tutup mulut dan mengikuti versi resmi.

Satu yang mungkin masih agak berat diterima oleh semua adalah dengan “dihilangkannya” peran pengkhianatan dari Ridwan Juhari, dengan dikatakan bahwa dia mati pada serangan pertama. Tentu saja semua orang di KRI Antasena berharap itu benar, karena gara-gara dialah Letkol. Ari La Masa dan juga Sers. Andre mati. Tapi keinginan untuk mengungkap kebusukan oknum utusan dari DPR ini harus diurungkan. Lucia sendiri tak perlu bertanya alasannya, karena interogatornya dari BIN sudah mengatakan alasannya, bahwa pengkhianatan semacam ulah Ridwan Juhari tidak bisa ditangani dengan cara biasa dan semua penanganan soal ini harus diserahkan kepada BIN. Memberitakan bahwa Ridwan Juhari mati pada serangan pertama akan lebih bermanfaat daripada diberitakan bahwa dia hidup dan menjadi penghambat upaya penyelamatan KRI Antasena. Semua orang hanya bisa menerima sambil berharap bahwa BIN memang tahu apa yang harus dilakukan.

Pesawat B-737-800 A7303 dengan anggun kini bermanuver menyusuri tarmac menuju ke titik terdekat dengan pintu kedatangan. Sebuah band militer pun langsung memainkan lagu untuk menyambut para korban selamat dari KRI Antasena, yang membuat mereka sendiri heran, karena disambut bak pahlawan yang pulang dari medan laga dengan kemenangan, padahal bagi mereka, ini sebuah kekalahan karena kapal KRI Antasena, yang seharusnya mereka jaga, telah tenggelam. Tak jauh dari terminal bandara, orang-orang, terutama adalah keluarga para awak kapal, telah bersiap di sana, baik dari mereka yang masih hidup, maupun yang sudah gugur.

Anton dan Lucia turun dari pesawat, dari pintu yang lain dari Laksma. Mahan. Bahkan sepanjang perjalanan pun mereka duduk terpisah. Laksma. Mahan hanya memberi salam hangat kepada Anton dan Lucia sebelum akhirnya dia berlari dan memburu istri dan anaknya yang memang sudah menunggunya. Semua awak lain pun melakukan hal yang sama kepada keluarga mereka. Beberapa awak bahkan menghadap pada keluarga mereka yang telah gugur dan memberikan rasa belasungkawa. Suasana miris pun cukup terasa, karena tak ada jasad yang bisa dikembalikan kepada keluarga, semua yang meninggal ditinggalkan di dalam KRI Antasena untuk hancur dan terkubur di dalam samudera, sebagai kuburan sejati dari para pelaut. Tak ada lagi perasaan yang lebih hebat selain bercampuraduknya segala macam perasaan yang tengah berlangsung di landasan ini, dan untuk sejenak, suasana bagai berada di dalam sebuah video yang diputar lambat.

Tiba-tiba, di tengah semua keharuan itu, sesosok anak kecil menubruk Anton dan Lucia, dan tentu saja baik Anton maupun Lucia mengenalinya sebagai Lani, putri mereka. Lani tampak menangis saat melihat ayah dan ibunya kembali, dan untuk sesaat tak berkata apa pun selain tangisan. Lucia langsung saja memeluk Lani dengan amat erat seolah tak ingin lagi kehilangan dirinya. Walau bukan anak kandungnya sendiri, tapi Lucia sudah amat mencintai Lani, dan saat-saat dia merasa nyaris kehilangannya sewaktu di kapal selam adalah saat-saat yang paling berat bagi Lucia. Setelah ini, semua pelukan dan ciuman kepada Lani akan menjadi sesuatu yang amat berharga bagi Lucia, jauh lebih berharga melebihi apa pun yang ada di dunia.

“Dia awalnya protes ayahnya pergi begitu saja tanpa kabar,” kata Fiona yang mengikuti Lani dari belakang, 

“tapi karena tahu bahwa ayahnya pergi menjemput mamanya, maka dia tidak begitu kecewa, bahkan mendoakan supaya kalian berdua selamat,”

Anton tersenyum saja, dan dia segera berdiri. Selama Anton dan Lucia pergi, Lani memang dititipkan kepada Fiona, yang oleh Anton sudah dianggap sebagai kakak. Lagi pula rumah Anton dan Fiona hanya berada pada blok yang sama dan amat dekat.

“Da jie, dou xie,” kata Anton sambil menunduk takzim.

“Na li, na li,” kata Fiona sambil tersenyum dan tertawa renyah,

“ni wo de Didi, wo ni de Jie Jie, bie ke qi,”

Fiona lalu mengusap kepala Anton yang hanya diam sambil mengangguk. Sebuah kesalahan besar mengatakan sesuatu kepada Fiona dalam bahasa Mandarin, karena dia pasti akan membalasnya dengan kalimat yang lebih rumit. Dan bertahun-tahun Anton mengenal Fiona, bahkan bertetangga dan jadi saudara angkat, Anton masih belum bisa berbahasa Mandarin, padahal Mandarin adalah bahasa yang digunakan di rumah Fiona karena memang dia dan ibunya kelahiran Beijing, RRC, dan “baru” 10 tahun terakhir menjadi WNI.

“Ci Fio,” sapa Prita yang mengikuti Anton dan Lucia di belakang. Dari tadi memang Prita sengaja menjaga jarak dari Anton dan Lucia untuk memberi mereka waktu berdua. Prita memberi Fiona pelukan dan ciuman di kedua pipi.

“Akhirnya pulang juga si anak hilang,” kata Fiona,

“ada yang nungguin dari tadi,”

“Danny?” tanya Prita berubah sumringah.

Fiona mengangguk sambil tersenyum manis, dan hanya berselang sedetik, Danny, tunangan Prita sudah menubruk dan memeluk Prita dengan amat erat, hampir saja menabrak Fiona bila Fiona tak dengan sigap menghindar.

Ikut di belakang mereka, ada Tita, Mutia, dan Fitri. Semua tampak senang dengan kembalinya Anton dan Lucia. Mereka menyambut Anton dan Lucia dengan pelukan, meski Lucia masih menggendong Lani yang kini seolah tak mau lepas. Lucia pun semakin senang melihat wajah-wajah yang tak asing setelah sekian lama terisolasi dari peradaban.

“Nana tidak bisa dapat penerbangan ke Jakarta tepat waktu,” kata Mutia sambil tersenyum,

“lagipula dalam 2 minggu ke depan, mungkin NewsTV akan amat sibuk di Australia, jadi dia akan menjadi ujung tombak di sana; tapi dia titip salam dan janji setelah semua beres akan segera ke Jakarta,”

“Tampaknya semua repot sekali menyambut kedatangan kami,” kata Anton,

“oh ya, bagaimana dengan kantor? Apa yang kulewatkan?”

“Heh? Keadaan seperti ini masih ingat kantor saja?” tanya Fiona.

“Aku khawatir pekerjaan menumpuk di kantor,” kata Anton.

“Mengenai itu tak usah khawatir, karena semua sudah diurus ama Tita,” celetuk Fitri,

“si ulat sudah keluar dari kepompong, dan kau harus hati-hati, karena Bu Sabrina puas dengan kinerja Tita selama menggantikanmu,”

Anton tertegun sejenak, tapi kemudian dia tersenyum pada Tita yang kini tersipu malu mendengar perkataan Fitri.

“Benarkah, Tita?” tanya Anton,

“akhirnya,”

“Begitulah,” kata Tita,

“tapi andai kau meninggalkanku dalam keadaan yang jauh lebih baik, mungkin...”

“Bila keadaannya lebih baik, mungkin kau tak akan seperti sekarang,” kata Anton,

“besi itu ditempa saat panas, bukan saat dingin,”

“Ya apa pun itu,” kata Tita,

“tapi aku senang kau sudah kembali, beberapa hari terakhir ini keadaannya cukup gila,”

“Rupanya aku melewatkan banyak hal, ya,” kata Anton.

“Sudahlah, nanti saja ceritanya,” kata Lucia yang masih menggendong Lani,

 “aku mau pulang dulu, dan kurasa Lani juga sudah tidak sabar ingin pulang,”

“Baik, kuceritakan nanti sambil kita berjalan,” kata Tita.

Semua orang pun, kini telah saling menemukan satu sama lain, berbalik menuju masuk ke bandara untuk segera meninggalkan tempat ini.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita adakan untuk merayakannya,” kata Mutia.

“Bagus, aku akan memasak,” kata Fiona sambil tersenyum.

“Tidak, Cici tidak boleh masak, hari ini semua harus bersantai,” kata Mutia.

“Boleh juga, kebetulan aku tahu tempat yang enak,” kata Fitri, “bagaimana menurutmu, Ton?”

“Terserah kalian saja, tapi jangan terlalu lama, karena kami ada undangan makan malam di Istana,” kata Anton,

“tidak baik menolak undangan dari Presiden, kan?”

“Tentu saja,” kata Fitri,

“dan jangan khawatir, kami yang traktir,”

Semua tampak menyetujui ide itu, dan sambil melepas tawa, mereka pun berjalan untuk segera merayakan kepulangan dan berbagi cerita atas apa yang terjadi. Dalam pada itu, Lani pun memeluk Lucia dengan erat sambil berbisik.

“Mama tidak akan pergi lagi, kan?” tanya Lani manja.

“Tidak, Sayang,” kata Lucia sambil mencium kening Lani,

“Mama dan ayahmu tidak akan pergi lagi,”

Anton dan Lucia saling melempar senyum, kemudian dengan tangan Antonmenggamit pinggang Lucia, mereka pun berjalan pulang.






“Penulis (stuka1788) mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas atensi dari seluruh pembaca baik di Formil Kaskus maupun di forum lain tempat cerita ini dimuat. Juga atas kesabaran mereka dalam menantikan hingga selesainya novel selama 1,5 tahun terakhir.
Atas semua kesalahan dan kekurangan yang dibuat oleh penulis dalam novel ini, penulis memohonkan maaf yang sebesar-besarnya, dan semoga kritik serta saran yang diberikan menjadi pemacu bagi penulis untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
Sampai jumpa.”



TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...