Sabtu, 24 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 37

★HENING★ Part 37 



" JEBAKAN KECIL "



Dua orang berseragam militer tampak turun dari sebuah SUV pabrikan jerman yang dipelataran Markas pusat Jakarta,

 Beberapa prajurit tampak mengawal kedua orang itu hingga di ambang pintu masuk, selanjutnya hanya tinggal 2 orang prajurit saja yang ikut masuk.
Mereka adalah Panglima Rokhim dan Jendral Purnomo.

"Bagaimana menurutmu Jendral? Apa yang harus kita lakukan sekarang?",

 tanya Pang.Rokhim sesampainya mereka diruangan khusus Perwira TNI itu.

"Sepertinya menemukan kembali agen kita itu tidak terlalu penting sekarang.., kita punya masalah yang lebih serius sekarang..", 

ucap Jend.Purnomo berusaha memberi Elang dan yang lainnya sejumlah waktu dalam pelarian mereka karena Jendral Purnomo sendiri tidak mengetahui keberadaan para anak didiknya tersebut.


"Apakah ini tentang yang disampaikan Menhan?", 

tanya Pang.Rokhim lagi.

"..iya pak, saya rasa kali ini kita tidak bisa menganggap sepele, karena kali ini yang mungkin kita hadapi adalah negara sebesar Amerika..", 

jelas Jend.Purnomo dengan wajah tegang.

Sesaat Panglima Rokhim mengerutkan dahinya, begitu juga wajah dua prajurit pengawalnya yang berdiri di depan pintu tampak tegang tanpa sengaja mendengar penjelasan Jend.Purnomo.


"Dan jika benar terjadi, mungkin saja negara tetangga seperti Australia juga akan ikut campur membantu Amerika mengingat hubungan kita dengan Australia kurang baik akhir-akhir ini..",

 tambah Jend.Purnomo lagi.

"Hmm... Saya rasa kita bisa melakukan sesuatu terlebih dahulu", 

sahut Panglima Rokhim,

"Maksud anda pak?",

 tanya Jend.Purnomo.

"Maksud saya, mungkin saja Amerika telah mengirim mata-mata mereka kemari.., mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?", 

ucap Panglima besar TNI itu.

"Itu terlalu beresiko pak..", 

sahut Jend.Purnomo.

"Jendral, aku ingin kau memanggil prajurit dari Kopassus seperti Letnan Mahda atau Lettu Adam.., aku ingin kau memanggil salah satu dari mereka",

 pinta Panglima Rokhim.

" ?!? "

Jendral Purnomo tertegun, ia sendiri saja tak tau dimana keberadaan kedua Letnan terbaiknya itu, bahkan Danjen Kopassus Mayjen Rizal Harahap pasti akan sangat berang jika mengetahui kedua anak buahnya itu tidak diketahui dimana keberadaannya, selama periode perang dan beberapa saat kedepan Danjen Kopassus itu menyerahkan kedua Letnannya itu kepada Jendral Purnomo karena itu permintaan khusus dari Jendral Purnomo sendiri.

Jendral Purnomo diam tertegun berusaha mencari alasan yang tepat.
Namun secara tiba-tiba seorang prajurit yang mengenakan seragam doreng merah salah satu pasukan khusus di indonesia masuk ke dalam ruangan itu.


"Lapor ndan, komandan pasukan khusus anti teror regu 4 melapor..!", 

ucap Lettu Adam dengan gagah.

" Adam!?", 

Jendral Purnomo terkejut mengetahui Adam tiba-tiba saja muncul.

"Diterima Letnan, atas otoritas siapa kau menghadap kemari..?", 

tanya Panglima Rokhim.

"Siap Panglima, saya menghadap untuk otorisasi dari Mayor Rizal kepada Jendral Purnomo..",

 jawab Lettu Adam tegas.

"Sepertinya prajurit kita ini mempunyai insting yang bagus Jendral, baru saja dibicarakan dia sudah muncul..", 

ucap Panglima Rokhim.

Jendral Purnomo hanya tersenyum kecil karena ia sendiri semakin menjadi bingung dengan apa yang sedang terjadi karena kehadiran Lettu Adam secara tiba-tiba, ingin rasanya ia bertanya kepada Lettu Adam dimana Mahda dan Elang sekarang, tapi ia mengurungkannya.

..........
Samudra Hindia, 10 KM dari perbatasan Laut Australia-Indonesia..

KRI Malahayati yang dinahkodai oleh Kapten Laut Ashar Sudirman sedang dalam keadaan tegang ketika melihat sebuah kapal kelas frigat tanpa nama berbendera  Amerika mendekati batas perbatasan laut antara Indonesia dengan Australia.

"Bagaimana bisa ada kapal Amerika di perairan Australia..?",

 ucap Kapt.Ashar,

"Cari frekuensinya dan sambungkan..!",

Seru Kapt.Ashar lagi menyuruh seorang perwira komunikasi untuk segera menyambungkan mereka ke kapal asing tersebut.

"Negativ kapten..! Tidak bisa..",

Seru perwira komunikasi tersebut sambil berulang-ulang menekan sejumlah tombol serta panel-panel alat pencari frekuensi komunikasi dihadapannya.

"Ini aneh..", 

gumam Kapt.Ashar.

"5 kilometer dan terus mendekat kapten..!", 

periwira radar mengingatkan bahwa kapal itu sudah sangat dekat dan terus mendekat.

"Siapkan persenjataan, dan kau.. Acak ke seluruh frekuensi yang ada, katakan untuk menjauhi batas wilayah kita atau kita tembak..!",

 perintah Kapt.Ashar kepada perwira komunikasi tadi, kapten berumur 34 tahun itu tampak canggung dalam memimpin kRI Malahayati ini, ini merupakan pengalaman pertamanya menghadapi situasi seperti ini.

"Ini sangat aneh, kita bahkan tak melihat kapal perang Australia.. Mengapa saat ini bisa ada kapal berbendera amerika?",

 gumam Kapt.Ashar.

200 km dari perbatasan Laut Indonesia-Australia..

Sebuah kapal perang berbendera Australia tampak tenang mengapung di perairannya sendiri, kapal itu adalah HMAS YARRA-M87.

"Apakah tipuan seperti ini bisa berhasil?", 

Capt.Willy shean selaku kapten dari HMAS YARRA bertanya kepada dua orang yang berada disampingnya, dua orang itu memakai seragam berwarna hitam, sebuah emblem bergambar pisau dengan bentuk segitiga ditengahnya tampak angker menunjukan darimana ia berasal.

Mereka adalah Liutenant Jones dan Sergeant David, mereka adalah anggota dari pasukan khusus Amerika, Delta Force.

Sepertinya Major O'Connor mengirim mereka untuk bekerja sama dengan AL Australia untuk memprovokasi indonesia.

"Pasti bisa, mereka sangat mudah untuk diprovokasi kapten..", 

jawab Lt.Jones yakin.

"Jika benar begitu.., bagaimana dengan kapal angkatan Laut kalian itu..?",

 tanya Capt.Willy ingin tau lebih detil apa yang sebenarnya pasukan Khusus Amerika ini lakukan.

"Kami hanya diperintahkan memprovokasi indonesia dengan kapal bekas itu kapten, kapal itu akan terus melaju sampai ada yang menghentikannya.., tenang saja, kapal itu tak berawak, kapal itu sengaja kami siapkan untuk dihancurkan oleh mereka..", 

jawab Ltn.Jones tenang.

"Lalu orang-orang di pentagon akan mempermasalahkan masalah ini sehingga kita bisa menyerang indonesia.., hmmm ide yang bagus..",

 sahut Capt.Willy terkagum.

"Lapor Kapten..! Mereka melebar frekuensi mereka yang berisi pesan agar menjauh dari wilayah mereka atau ditembak..", 

perwira komunikasi memberi tahu Capt.Willy setelah ia menerima pesan yang disebar melalui frekuensi secara acak oleh Kapt.Ashar KRI Malahayati.

"Sebaiknya kita diam saja agar rencana ini berhasil..",

 Ltn.Jones mengingatkan Capt.Willy.

"Mereka akan sangat terkejut jika melihat dari dekat.. Mereka tidak tahu kapal apa itu sebenarnya, dan ada banyak kapal seperti itu yang sebentar lagi akan bergabung dengan kalian kapten", 

tambah Ltn.Jones.

"Hmm? Rencana seperti apa yang kalian lakukan?", 

gumam Capt.Willy heran.

Sementara itu sirine tanda situasi siaga 1 terdengar meraung diseluruh anjungan KRI Malahayati yang bernomor lambung 362 tersebut.

"1 kilometer Kapten!", 

perwira Radar memberi tahu posisi kapal asing berbendera Amerika tersebut dari garis perbatasan.

"Siapkan Rudal dan kunci mereka..!",

 perintah Kapt.Ashar.

"Siap kapten!",

 seluruh perwira pengoperasi sistem-sistem tempur kapal itu segera melakukan tugas masing-masing.

Ketegangan jelas sekali menumpuk di raut wajah Kapt.Ashar yang sebenarnya dia ragu akan apa yang dia lakukan sekarang, namun akan sangat lebih berbahaya jika membiarkan kapal itu lewat mengingat negara-negara seperti Amerika sangat menganggap remeh indonesia sehingga Kapt.Ashar merasa Amerika akan berbangga hati melihat kapalnya bebas berlenggok diperairan indonesia.

" 10 detik lagi mereka melewati perbatasan..!",

 seru perwira radar kembali.

"Dengar aba-aba saya.., bersiaplah..!",

 sahut Kapt.Ashar memantapkan keyakinannya terhadap apa yang dia lakukan sekarang.

Detik-detik krusial itu berlangsung lambat, perwira komunikasi masih berusaha mencari frekuensi kapal asing itu, namun nihil.

Sementara seorang perwira tampak tegang dengan sebuah tombol merah dibawah jarinya.

"Mereka telah lewat Kapten!", 

perwira radar memberi tahu.

"Tembak mereka!", 

seru kapt.Ashar.

"Bsssttttt....!"

Sebuah rudal anti kapal tampak meluncur menuju kapal berbendera Amerika tersebut.

"Hmmm.. Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari mereka?", 

pikir Kapten Ashar.

"Teropong..!",

 pinta Kapt.Ashar sembari meraih teropong yang disodorkan salah satu anak buahnya, kemudian ia mulai melirik kapal asing itu yang sesaat lagi dihantam oleh rudal yang ia tembakkan.

" ?!?! "

"Sialan..!!! Ini jebakan mereka..!", 

seru Kapt.Ashar ketika melihat tulisan kecil dilambung kapal asing itu yang bertuliskan "UN", ia semakin terkejut melihat bendera berwarna biru kecil jauh dibawah bendera amerika yang sengaja dipasang tinggi.

"DUARRRR...!!!!"

Kapal UN berbendera Amerika itu meledak ketika sebuah rudal menghantam tepat di lambung kiri depan, gumpalan api beserta asap hitam mengepul bak letupan gunung merapi.

" Mereka menjebak kita..",

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...