★HENING★ Part 29
" AKHIR??? "
"deg..deg..deg"
Dua heli pertama mendarat di tanda yang diberikan Lettu Adam, tampak semua tengah bersiap..
Panglima Katsuun buru-buru dipapah seorang prajurit bawahan Lettu Adam dibawa naik ke salah satu helikopter,
"Sekarang pergilah, aku akan ikut heli selanjutnya..",
Kata Elang,
"Terima kasih, tapi berjanjilah kita akan bertemu kembali..",
Sahut Sers.Tari yang sekarang di papah oleh dua orang prajurit Lettu Adam,
"Yah, aku janji..",
Jawab Elang tersenyum kecil melepas Sers.Tari kepada 2 orang prajurit yang hendak memapahnya ke helikopter,
"Heh..heh.. Kelihatannya dia menyukaimu...",
Kata Jim pelan menghampiri Elang,
"Apa?",
Gumam Elang,
"Atau mungkin kau juga menyukainya..?",
Ucap Jim lagi,
"Hmm, sudahlah... Ayo kita bersiap untuk Heli berikutnya..",
Sahut Elang,
"Huhhhh...",
Jim menarik nafas panjang,
"Kenapa jim? Ada yang salah..?",
Tanya Elang,
"Tidak ada yang salah teman.., aku hanya merasa sedikit aneh akan pulang ke kampung halaman orang..",
Ungkap Jim sambil memandangi dua heli tadi yang sudah mengudara kembali,
" Sepertinya kau harus merubah caramu melihat sesuatu..",
Sahut Elang,
"Maksudmu?",
Jim menanggapi,
"Ubah pandanganmu menjadi seperti : kau akan pulang ke kampung halaman saudara laki-lakimu, yang berarti itu juga kampung halamanmu..",
Kata Elang,
Jim hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu sambil di iringi deru heli-heli selanjutnya yang sudah mendarat,
"Ayo..",
Seru Elang dan kemudian diikuti Jim dan yang lainnya menaiki Heli-heli tim evakuasi itu secara terpisah..
"Deg..deg..deg..."
Tak lama heli-heli yang membawa mereka telah membumbung tinggi di angkasa thailand, dari atas sini terlihat jelas kota bangkok tak ubahnya seperti reruntuhan peninggalan bersejarah jaman dahulu, tak ada yang tersisa kecuali sebuah Istana saksi bisu penggulingan kepemimpinan dalam peperangan.
............
"Tang teng tang teng...!"
"Sial...!",
Lettu Adam menyadari Heli-heli mereka ditembaki oleh pasukan musuh yang telah menyadari proses evakuasi mereka tadi, bila terlambat sebentar saja mungkin heli-heli ini tak ada yang bisa mengudara kembali,
"Bagaimana ini..??",
Seorang pilot heli yang ditumpangi Lettu Adam bertanya,
"Beritahu pada semuanya untuk menghindar..! Hindari pertempuran..! Kita hanya harus pulang kali ini..",
Perintah Lettu Adam,
"Baik..!",
Sahut pilot itu,
"Huh.. Bahkan mereka tak mengizinkan kita pergi dari sini..",
Kata Jim pelan mengetahui heli yang membawanya juga ditembaki dari bawah oleh pasukan musuh yang menyergap pasukan Kapten Joko dan Kapten Hari sebelumnya.
Elang hanya diam memperhatikan keadaan, sesekali matanya melirik memikirkan sesuatu, sepertinya sebuah rencana kecil,
"Jim, suruh pilot kita untuk terbang tepat diatas mereka disana..",
Kata Elang,
"Hey, itu terlalu berbahaya.., apa yang hendak kau lakukan sekarang?",
Sahut Jim,
"Sudah lakukan saja..!",
Bentak Elang sambil mengeluarkan sesuatu dari ranselnya,
"Pilot.., kau dengar dia tadi, jadi lakukanlah..",
Pinta Jim ke pilot heli yang mereka tumpangi,
"Baik..",
Sahut pilot itu,
Kemudian Heli mereka keluar dari formasi berputar kembali menuju pasukan musuh tersebut.
"Apa yang mereka lakukan..?",
Gumam Lettu Adam melihat itu,
"Sudahlah.., biarkan saja.. Kau tak akan perlu menghawatirkan apa yang mereka berdua lakukan jika kau pernah melihat mereka bersama..",
Sahut Letnan Mahda,
"Maksudmu?",
Tanya Lettu Adam,
"Hmm.. Lain kali kau harus bertempur bersama dengan mereka.., nanti juga kau akan mengerti..",
Jelas Letnan Mahda yang sudah mengerti pasti ada saja aksi berbahaya Elang dan Jim jika mereka sudah bersama.
"Teng..teng..teng..teng..!!!"
Heli Elang dan Jim sudah ditembaki oleh pasukan musuh dibawah mereka,
"Teng..teng..teng..teng!!!"
Heli mereka sudah terlalu banyak menahan peluru-peluru, tampak lubang-lubang kecil menganga di sekeliling badan heli.
"Jim.. Lemparkan ini ke mereka di bawah..!",
Seru Elang memberikan Jim beberapa buah peledak C-4 dan beberapa Claymore yang terikat menjadi satu seperti gumpalan,
"Ini.. Bukannya curian Letnan itu..",
Sahut Jim mengingat sebelumnya Letnan Mahda mencuri peledak itu dari markas musuh yang mereka datangi,
"Sudah.., lemparkan saja..!"
Seru Elang yang tampak menyiapkan senjatanya..
"Pilot.. Segera Bawa kita menjauh dari sini..!
Teriak Jim yang sudah paham akan apa yang hendak dilakukan sahabatnya itu dan segera ia melempar gumpalan bom itu,
"Ini untuk mereka yang gugur...",
Gumam Elang melepaskan tembakannya ke gumpalan peledak yang dilemparkan Jim tadi,
"Tash..!"
"DUAAAAAARRRRRMMMMPPPPP..!!!"
Ledakan besar terjadi kurang dari 10 meter di atas kepala pasukan musuh dibawah mereka,
"Ssshhhhh!...
Kau selalu melakukan hal yang mendebarkan..!",
Seru Jim berpegangan erat karena Heli yang mereka tumpangi juga terkena dorongan udara imbas dari ledakan tersebut, gumpalan api tampak menyala diselubungi kepulan asap hitam.
Dengan bersusah payah akhirnya pilot heli mereka berhasil menghindari tekanan udara yang tercipta karena ledakan besar itu,
"Hmm... Aku rasa aku menyukai mereka berdua..",
Kata Lettu Adam memperhatikan dari pintu heli yang ia tumpangi,
"Heheh.. Yah, mereka punya cara tersendiri untuk membuat seseorang mengikuti mereka berdua, atau setidaknya bertempur bersama mereka..",
Sahut Letnan Mahda tersenyum.
Sebuah kawah tercipta karena ledakan tadi, di hiasi oleh potongan-potongan tubuh manusia.., sadis memang, namun tak pernah bisa ditemukan alasan kenapa dalam setiap peperangan kekejaman ada di peringkat teratas, tak bisa dipungkiri hukum rimba dalam perang yang membuatnya kekal.
..........
Sementara itu canda tawa terlihat diantara Elang dan Jim, mereka tertawa bersama, saling merangkul dan terbahak-bahak, tidak ada yang lucu, tidak ada yang dibicarakan, dan tidak ada yang dipikirkan oleh mereka berdua, mereka hanya melakukan apa yang seharusnya dua orang sahabat lakukan, yaitu saling terhubung dan berbagi emosi dengan sendirinya.
Sementara Letnan Mahda dan Lettu Adam merenung untuk rekan-rekan mereka yang gugur kali ini, berkali-kali mereka mencoba merelakan semua rekan mereka yang telah tiada, namun kenyataan bahwa mereka juga menusia membuat mereka tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan, amarah, dan benci yang bercampur aduk didalam hati mereka masing-masing.
............
Markas pusat, Jakarta. 5 Jam kemudian..
Berita kembalinya Tim Lettu Adam dan yang lainnya telah tersebar, tampak kesibukan sudah berlangsung sedari tadi di lapangan areal markas tersebut, sirene berbunyi tanda pasukan terakhir telah kembali dan peperangan telah usai.
Jauh didalam sebuah ruangan, PM Ghoydee tampak tersenyum melihat ke arah luar dari jendelanya, sepertinya ia senang semua ini akan segera berakhir.
..........
RS.TNI AL Dr.Mintoharjo, Jakarta..
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau bisa bergerak Letnan?",
Tanya Jend. Purnomo,
"Hmm, sekitar 5 jam yang lalu dokter berupaya mengelurkan peluru di dada kiri saya.. Setidaknya saya harus menggunakan kursi roda itu pak..",
Jawab Letn. Vega melirik ke sebuah kursi roda lengkap dengan infus yang menggantung disebelah tempatnya berbaring ,
"Baiklah, tak apa.. Karena saya hendak menepati janji saya kepadamu Letnan..",
Ungkap Jend. Purnomo.
Letnan Vega tersenyum lebar mendengarnya, ia buru-buru menekan tombol disebelah kasurnya untuk memanggil perawat.
"Selain itu mereka juga bersama adikmu, Tari..",
Sambung Jend. Purnomo,
"Tari? Apakah ia baik-baik saja?",
Tanya Letnan Vega,
"Yah, dia hanya sedikit terluka., tapi ia baik saja.., ayo..kau harus menyambutnya kali ini, tak semestinya loyalitasmu menutupi hubungan antara kau dan adikmu",
Jelas Jend. Purnomo yang memahami tidak semua orang di jajaran Markas pusat mengetahui bahwa Letnan Vega dan Sers.Tari adalah kakak beradik, hanya beberapa mereka yang dekat dengan keduanya yang mengetahuinya.
.............
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar