★HENING★ Part 9
"SEGMEN TERAKHIR"
Di sebuah kawasan pesisir tak jauh dari markas mereka dahulu, Khao lak, Elang dan Jim tampak menghentikan jeep hitam mereka di sebuah jalan berbatu tak jauh dari jalan utama.
"Ayo.. Aku rasa disini tempatnya,",
Ajak Jim menyalakan senter kecilnya dan berjalan masuk ke jalan setapak di hutan kecil itu di ikuti Elang,
"Emm.. Tempat ini sedikit bertambah angker, heh..he",
Gurau Jim ho sambil menyingkirkan tumbuhan menjalar yang menutupi jalan setapak di situ, di kanan kiri hanya ada pepohonan rimbun dan acap kali terdengar suara deburan ombak dari lepas pantai yang tak jauh dari situ,
"..."
0Elang hanya diam tak menghiraukan,
"..Heh, kau juga tak punya selera humor ternyata.."
Tambah Jim melihat Elang tak begitu memperdulikan gurauannya.
Tak berapa lama...
"Nah, itu dia..ayo..!"
Seru Jim ho merasa sudah sampai di tujuan mereka, "
Sepertinya tidak pernah ada yang menggunakannya..",
Sahut Elang pelan melihat sebuah bunker terbuat dari kayu yang sudah terlihat usang, di dindingnya banyak di tumbuhi tumbuhan menjalar,
"Sudah.. Ayo!"
Kata Jim ho yang tengah berusaha membuka pintu bunker itu,
"kreekk...",
Pintu berdecit menyambut mereka,
"..Dilihat dari kondisinya, aku yakin masih ada..!",
Kata Jim sambil membuka sebuah pintu yang berada di lantai, lebih tepatnya seperti pintu bawah tanah,
"Hahaha..!
Sudah ku bilangkan..?!?",
Seru Jim,
"Hmm... Siapa yang mengumpulkan ini?, ini terlalu banyak untuk kita berdua..",
Sambung Elang setelah melihat tumpukan senjata lengkap dari pistol, senapan, senapan mesin, hingga peluncur roket. Namun matanya segera melirik satu senjata laras panjang yang menarik perhatiannya,
"..Jim, aku mau memegang yang itu..",
Tunjuk Elang,
"Sudah ku duga kau akan memintanya.",
Sahut Jim sambil mengambil senjata yang Elang mau,
"..Ini senjata anti materil yang hebat, beruntung ini versi kedua jadi lebih ringan..",
Jelas Elang sambil memperhatikan senapan M82 baretta.
......
Lanud Abdurrahman Saleh, Malang.
1 jam sebelum penyerangan...
Tampak para komando petinggi pasukan berkumpul dalam sebuah briefing oleh Panglima besar Rokhim beserta staff besar pusat Komando operasi, tampak hadir pula Jendral Irwan dan Jendral Purnomo, juga Kasau Marsekal Bayu pradana.
"Mohon perhatiannya saudara-saudara sekalian...",
Pang. Rokhim membuka brifing,
"Penyerangan kita lakukan dalam 3 gelombang.
Gelombang penyerangan pertama akan di pimpin oleh Kasau Marsekal bapak Bayu dengan skuadron udaranya.
Setelah itu di ikuti penerjunan 100 prajurit Divisi Infanteri 1/Kostrad yang sebentar lagi merapat kesini dari markasnya di depok.., dan juga 200 prajurit gabungan dari batalyon infanteri dari Sumatra yang di pimpin oleh Jendral Angkatan Darat bapak Purnomo",
"Berselang kemudian Gelombang kedua yang akan di pimpin oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Agung sucipto dengan Armada laut dan KRI, kemudian di lanjutkan penurunan 200 prajurit Marinir di kawasan pantai, dan apabila di perlukan akan di lakukan gelombang ke tiga yaitu bantuan Armada laut kapal selam dengan Kelas Cakra, Kapal Selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, juga pengerahan bantuan Udara dengan Jet tempur yang kita miliki...,, ada pertanyaan?..",
Jelas Pang. Rokhim,
"Ada pak..! Apa tidak terlalu sedikit jumlah pasukan infantri yang menyerang kesana pak..?",
Jendral Purnomo bertanya sigap,
"Begini... Target kita bukanlah Daerah keseluruhan daerah thailand, Target kita adalah pusat pemerintahan Di Bangkok thailand, kita akan menggunakan gabungan satuan khusus dari Kopassus, Paskhas, Raider untuk di tugaskan menculik Raja atau PM Thailand dengan bantuan Udara, nanti akan ada pasukan perdamaian PBB yang mengawal kita hingga ke perbatasan Thailand, juga Armada udara dan Laut Singapura..",
Jelas Pang. Rokhim dengan tegas.
........
Bangkok, Thailand,
45 menit sebelum penyerangan...
Belum terlihat ada aktivitas persiapan apapun di seluruh pusat militer negara ini, Panglima Katsuun mengira Indonesia Hanya menggertak, Sehingga... Hingga detik ini tak ada yang tahu pasti bahwa penyerangan oleh Indonesia akan segera berlangsung, suasana kota masih seperti biasanya, di sekitar Istana kerajaan juga masih terlihat Lengang.
Jauh dari kepadatan tata kota, masih di kawasan pesisir khaolaq, thailand.
Elang dan Jim tengah sibuk memasang dan memperbaiki sistem komunikasi mereka yang rusak,
"Biar aku rekatkan.."
Kata Elang sambil menaiki atap bunker dan berniat memasang parabola satelit mini yang mereka punya, sejenak... Elang tertegun melihat pemandangan lampu-lampu kota di kejauhan yang terlihat dari atas bunker mereka...
"Hei, Itu hanya kawasan sipil..!",
Kata Elang di balik teropong M40 nya dari sebuah bukit tak berapa jauh dari pusat kota kecil di depannya,
"Yang benar saja..?!? Mustahil..! Pusat mengatakan itu adalah markas Udara musuh..!",
Hawab Gondo rekan Se-timnya sambil mengarahkan binocularnya, (teropong).
"..astaga..!! Ini sebuah kesalahan..!!!",
Seru Gondo panik,
"Ada apa..? Apa yang sebenarnya yang terjadi?,,",
Tanya Elang,
"P0usat akan mengirimkan F-16 sepuluh menit yang lalu untuk meledakkan tempat itu. . . ",
Jawab Gondo berat,
"Ini tidak benar!!!, kita harus lakukan sesuatu!!!, hubungi komandan...!",
Teriak Elang panik setelah ia hanya melihat ratusan masyarakat sipil berada di daerah itu, tidak ada tanda-tanda pangkalan musuh seperti yang di informasikan..
Gondo bergegas membuka ranselnya, namun..
"Wusssshhhhhhhsssssswww!!!",
Deru jet tempur F-16 telah terdengar, 3 pesawat tempur pabrikan Amerika itu tampak menghiasi langit gelap malam itu, tak lama salah satu F-16 itu keluar dari formasi dan memutar..
Elang kembali melihat dengan teropongnya..
F-16 tadi menukik tajam..
"Tsshh!, dwissshhhhhssss:hhh..!"
Sebuah rudal berukuran besar di luncurkan F-16 tersebut, di susul 2 rudal lagi dari F-16 lainnya...
"KABOOOOOMMMMMmmmmmm...!!!!"
Ledakan besar terjadi, membentuk gumpalan asap putih dan hitam berbentuk jamur,
"..Ssshhhkk!",
Elang memegangi kepalanya ketika tekanan udara Ledakan sampai ke tempatnya..
Tak lama berselang, kota itu telah hilang.. Hanya tampak kobaran api dan puing-puing yang bertebaran.. Dalam sekejap saja kota berpopulasi padat penduduk itu lenyap seketika,
"...Ini tidak benar, ini sungguh kesalahan besar..!",
Ungkap Elang pelan,
"Sudahlah, kita tak bisa berbuat banyak.. Sebaiknya kita kembali..",
Sahut Gondo merangkul rekannya itu...
"Hei..hei, Elang..!!!",
"..!..",
Elang tersentak dari bayangan masa lalunya itu mendengar panggilan Jim,
"Mengapa kau diam saja disitu..? Apa ada yang salah?",
Tanya Jim heran,
"Tidak.. Aku hanya memikirkan bagaimana kita selesaikan ini..",
Jawab Elang kaku,
"Kau selalu saja bersikap aneh, itu membuatku takut..",
Ungkap Jim ho.
..........
Markas Besar Operasi,
30 menit sebelum penyerangan...
Jendral Purnomo kembali menemui Panglima TNI Rokhim maluda di temani ajudannya Letnan Vega,
"Pak, saya sudah siapkan Tim itu..",
Lapor Jend. Purnomo,
"Berikan datanya, masukkan mereka di salah satu pasukan penyerang Lepas pantai, minta Kordinasi kepada Laksamana Agung sucipto selaku staff angkatan laut...",
Perintah Panglima Rokhim tegas,
"Siap pak!",
Jawab Jend. Purnomo sembari berbalik badan dan segera berlalu,
"Letnan, siapa pemimpin tim pencari Elang? Dan siapa saja anggotanya?",
Tanya Jend. Purnomo,
"Tim pencari di pimpin oleh Letnan Mahda dan Letnnan Hardi sebagai asisten pak, dengan dua orang prajurit terbaik kita Sersan Tougar dan sersan Tari dari kopassus unit 2 pak..",
Jelas Letnan Vega,
"Suruh mereka bersiap.. Mereka akan segera berangkat..",
Sahut Jend. Purnomo,
"Baik pak, laksanakan..!",
Letnan Vega yang cantik itu segera berlalu.
........
Lanud Udara, pusat gelombang pertama, Malang.
Sepuluhmenit sebelum penyerangan...
Kesibukan telah tampak beberapa jam yang lalu, namun kali ini sudah mendekati klimaks, pesawat-pesawat penerjun telah berbaris siap lepas landas, begitu juga 4 jet tempur F-16 dan 2 Sukhoi SU-27 yang gagah siap untuk di terbangkan, sementara di Markas pusat terlihat Panglima tengah mengkaji segala sesuatu mengingat tak lama lagi para prajuritnya akan pergi ke medan tempur.
"Pusat ke Garuda ganti..",
Marsekal bayu menghubungi Komandan pilot Operasi Letnan Yudha di kokpit SU-27 nya melalui radio,
"Garuda 1 terima, ganti..",
Balas Letn. Yudha
"Siap mengudara, Sandi Garuda, 10 menit dari sekarang ganti,,",
Sahut Mars. Bayu
"Dimengerti, di lanjutkan, keluar..",
Jawab Letnan Yudha sembari menekan tombol-tombol di kokpitnya.
"Teeeeetttt.... Teeeeeetttt.."
Sirene di lapangan udara berbunyi, menandakan detik-detik tahap akhir persiapan, dan segera berpindah ke tahap awal penyerangan,
"Ngengggg,,,,",
Semua pesawat yang ada mulai menyalakan mesinnya kembali, para prajurit penerjun telah berbaris di kabin-kabin Hercules, Pilot Letnan Yudha beserta Co-pilot Letnan Wibowo menempatkan SU-27 nya di jalur lepas landas bersiap sebagai pemimpin serangan Gelombang pertaman di ikuti SU-27 dan F-16 lainnya.
..........
Khao laq, kawasan pesisir pantai, thailand.
Dua menit sebelum penyerangan...
"Berhasil..! kita mendapatkan sinyal! Alat ini berhasil.,, kau bisa menghubungi markasmu, cepat Elang..hahaha",
Teriak Jim ho kegirangan berhasil memperbaiki pemancar satelit mereka,
"Bagus, kau memang hebat Jim,",
Sahut Elang sambil mulai menekan beberapa tombol mulai mencari akses menghubungi markasnya,
"Bisa kah..?",
Elang bergumam,
"Yah, kita masuk.. Ayo kita sapa atasan ku Jendral purnomo,"
Tambah Elang senang mereka telah terkoneksi ke saluran markasnya melalui komputernya,
"Hah..? ",
Elang terdiam,
"Ada apa..? Apa itu?",
Tanya Jim melihat tulisan merah di layar komputer mereka yang bertuliskan
" OUT OF TERRITORY 86 ",
" apa maksudnya??",
Tanya Jim sekali lagi,
"..."
Elang menarik nafas berat,
"Negaraku sedang dalam Siaga Satu, mode Penyerangan...",
.........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar