★HENING★ Part 33
" HERU "
Perumahan TNI AD, Cijantung Jakarta Timur..
07.25 wib.
Letnan Vega tampak diam duduk di kursi rodanya di beranda rumah dinas yang ditempatinya, sesekali beberapa prajurit-prajurit yang lewat di jalan kecil didepan rumahnya menegur dan dibalasnya dengan ramah.
"Kakak, kakak banyak melamun akhir-akhir ini..? apa yang sedang kakak pikirkan?",
Tari muncul dari dalam rumah membawa beberapa butir pil obat dan segelas air putih untuk kakaknya,
"Tidak ada Tari, kakak cuma ingin menikmati pagi ini..",
Jawab kakaknya menebar senyum kepada adiknya itu,
"Hmmm, kalau begitu kakak segera minum obatnya ya..,",
Sahut Tari sembari menyodorkan obat yang dia bawa,
"Oh ya, bukankah hari ini kau harus kembali ke barak?",
Tanya Letn.Vega,
"..iya kakak, hari ini aku harus kembali kesana, tapi kalau melihat kakak seperti ini, aku. . . "
"Sudahlah, kakak tak apa.., kau prajurit hebat di kesatuanmu, jangan sampai karena kakakmu ini kau di anggap lari dari tugas.., bagaimana dengan lukamu?",
Sela Letn.Vega,
"..hmm, masih sedikit sakit, butuh waktu lama sepertinya untuk pulih kak..",
Jawab Tari manja,
"Hmm mm",
Letn.Vega tersenyum kecil sambil membelai rambut adiknya itu, membuatnya teringat akan masa-masa saat mereka kecil dahulu, dimana Tari selalu bersikap manja terhadapnya.
...........
Ruang Interogasi BPN..
10.15 wib
"Jim.. Jim.., bangun.. Ada yang datang lagi..",
Elang mencoba membangunkan Jim yang sedang tertidur,
" Hey, Jim..",
Seru Elang setengah membentak,
" Emm..",
Jim mulai membuka matanya,
"Kriekkk"
Decit pintu berbunyi menandakan ada yang masuk,
" Ini makanan kalian, makanlah.., maaf aku tidak bisa membuka ikatan kalian, jadi makanlah dengan menggunakan mulut saja..",
Kata seorang berpakaian serba hitam meletakkan 2 buah piring berisi nasi putih yang hanya di taburi bawang goreng dan sepertinya juga disiram air menandakan tak ada jatah minum buat Elang dan Jim.
"terima kasih..",
Sahut Jim pelan,
Prajurit tadi segera bermaksud beranjak pergi,
".. Kau dari unit mana?",
Tanya Elang kepada prajurit itu, prajurit itu menghentikan langkahnya,
"Kau tahu Aku tak diizinkan bicara kepadamu.., mengapa kau menanyakan itu?",
Sahut prajurit tersebut,
"Aku berani bertanya karena kau berbeda dari mereka.., aku yakin kau baru berada disini..",
Tambah Elang lagi,
"..."
" Apa maksudmu..?",
Yanya prajurit itu membalikkan badannya,
" Lihat kami.., dari semua orang yang masuk ruangan ini, tak ada seorangpun yang mengatakan MAAF, kau mengatakannya saat memberi kami makanan aneh ini...",
Jelas Elang sambil mengangkat wajahnya.
Tampaklah setiap sudut wajahnya sudah lebam kebiru-biruan, darah kering membekas di sekitar hidung dan bibirnya, serta luka robek di pelipis mata kirinya, begitu pula keadaan Jim tak jauh beda dengan Elang.
" 2 malam sebelumnya banyak yang datang menggunakan kami untuk latihan pukul, semua hanya melontarkan makian dan semburan ludah.. Tidak ada yang mengatakan MAAF..",
Jelas Elang pelan, suaranya juga sudah serak mungkin akibat keadaan fisiknya yang semakin melemah.
" ... ",
Sejenak prajurit itu memperhatikan Elang dan Jim,
"Yah kau benar, aku baru sampai disini tadi pagi.., aku dari kepolisian dan ditarik ke badan ini.., untuk hari ini aku ditugaskan mengawasi teroris seperti kalian hingga sore nanti..",
Sahut prajurit itu yang ternyata berasal dari kepolisian.
"Teroris..? Hmm..",
Jim tersenyum lebar,
" Kenapa kau tertawa?",
Tanya prajurit itu,
"Jadi mereka mengatakan padamu bahwa kami teroris..? Hahahah lucu sekali..",
Jim terbahak,
"Apa kau ada melihat tv 2 hari belakangan ini? Emm..Heru?",
Tanya Elang melihat bet nama prajurit itu yang bertuliskan Heru,
" Tv? Emang ada yang salah dengan sesuatu tv..?"
Heru balik bertanya,
"Tidak ada.., kami hanya heran.. Jika kami teroris, kenapa kami tidak terkenal di Tv..",
Sahut Elang.
Heru sedikit terhenyak..
"Dan kami lebih heran, kenapa bukan unit khusus kepolisian yang menangani kami.. seperti Densus 88",
Tambah Jim,
Heru makin terhenyak seperti memikirkan sesuatu, ia mulai merasa apa yang dikatakan Elang dan Jim ada benarnya.. Namun ia berusaha berfikir bahwa ini hanya obrolan semata.
"Aku rasa pembicaraan kita berakhir disini..",
Kata Heru berbalik beranjak pergi,
"Yah tak apa, terima kasih atas makanannya..",
Sahut Elang.
"Iya, sampai nanti..",
Kata Heru sembari pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
" Apa kau berusaha mempengaruhinya?",
Tanya Jim,
"Tidak.., aku hanya ingin mengobrol dengan orang-orang, karena aku yakin umur kita tak akan lama lagi jika terus seperti ini...",
Ucap Elang menatap langit-langit gelap ruangan itu.
" Hmm, aku rasa begitu..",
Sahut Jim juga menengadahkan kepalanya ikut melihat langit-langit ruangan itu.
"Maaf Jim...",
Kata Elang pelan,
"Apa...?",
"Maaf..kau terlibat akan hal ini.. Seharusnya kau tak disini dan seperti ini...",
Tambah Elang..
"..tak apa teman.. Ini jauh lebih baik dari yang pernah aku alami..",
Jawab Jim,
"Maksudmu..?",
Tanya Elang,
" Yah, lebih baik.., dahulu hal seperti ini aku alami sendiri.., namun sekarang aku alami bersama dengan sahabatku...",
Jelas Jim..
"Apa kau bercanda..?",
Sahut Elang tersenyum,
"Hey, aku serius mengatakannya...",
Kata Jim,
"Perkataanmu membuatku ingin memakan makanan aneh ini..",
Sahut Elang sambil mendekatkan kepalanya ke piring makanan mereka,
"Huhhh.., sepertinya memang lebih baik kita makan makanan ini, hahahahah",
Jawab Jim tertawa,
"Hahahahah...",
Elang juga tertawa.
Dua sahabat itu kembali tertawa bersama tak perduli dalam keadaan suka maupun duka yang sedang mereka alami...
15.00 wib
Seseorang tampak sibuk mengotak-atik sebuah komputer seperti mencari sesuatu,
Heru, petugas yang ditugaskan mengawasi ruangan penahanan Elang dan Jim sibuk memperhatikan data-data dilayar komputer dikantor tersebut, ia sedang mencari sesuatu tentang semua yang berhubungan dengan Elang dan Jim, kejanggalan mulai menghampiri pikirannya ketika memang tak ada data tentang terorisme yang ditangani oleh BPN, terlebih lagi data tentang Elang dan Jim atau dua orang terduga teroris memang tak ada sedikitpun, ia kembali teringat kata-kata Elang dan Jim,
"Sial.. Ini kebenaran atau aku terpengaruh kata-kata mereka?",
Gumam Heru dalam hati.
Tidak sampai disitu, karena rasa penasarannya ia menghubungi seorang perwira Kopassus yang adalah pamannya sendiri..
"Halo.. Paman, paman ini Heru..",
kata Heru dari ponselnya,
"Eh, kamu Heru.., gimana kabarnya? Denger-denger kamu ditarik BPN ya?", sahut pamannya itu,
"Iya paman, paman lagi dimana sekarang, apakah dikantor?",
tanya Heru,
"Tidak, paman sedang diluar, menunggu bibimu belanja Her..",
jawab pamannya,
"Paman, Heru ingin menanyakan sesuatu..",
sela Heru,
"Tentang apa Her..?",
"Paman, dikantor paman ada desas-desus penangkapan dua orang atau semacamnya ya?",
tanya Heru gugup,
"Kenapa tanya itu Her?",
sahut pamannya,
"Enggak apa paman, dikantor sini juga ramai desas-desus itu, Heru pingin tau saja?",
jelas Heru berusaha membuat pamannya tak curiga bahwa dia sedang mencari informasi.
"Oh, iya her, kabarnya dua orang itu adalah pahlawan perang yang dijatuhkan...",
kata pamannya,
"Maksudnya gimana paman?",
Heru berusaha menyelidiki,
"Yah, kabarnya mereka adalah mata-mata kita yang difitnah oleh suatu badan militer kita..",
jelas pamannya itu,
Heru terdiam,
"Eh, paman.. Nanti Heru hubungi lagi ya, ada tugas paman, salam sama bibi ya paman..",
kata Heru buru-buru menyelesaikan pembicaraannya,
"Iya Heru, baik-baik kerja di jakarta yah, nanti paman sampaikan salammu.."
"Dah pamam",
"Tut"
Heru menutup teleponnya,
sekarang pikirannya semakin kacau setelah mengetahui ini, ia tak tau harus melakukan apa.. Sebentar ia merenung apa yang harus ia lakukan.
"Huhhh.. Sial, aku benci hal seperti ini..",
gumam Heru dalam hati, ia kemudian beranjak bangkit buru-buru menuju ruang dimana Elang dan Jim dikurung.
...........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar