Perlahan, kecepatan pendakian Stalemate semakin pelan, membuat kedua Mistral semakin mendekati rudal sasaran mereka. Jantung semua orang yang melihat drama ketiga rudal ini serasa berdegup keras. Ujung hidung Stalemate pun terus bergerak ke sudut deklinasi 45 derajat, kemudian terus hingga hampir mendekati 90 derajat. Mistral semakin mendekati dan dengan rudal Stalemate yang kini posisinya boleh dibilang tengah berhenti di udara, tak ada celah untuk bisa lolos!
Saat itulah sebuah hentakan kembali terjadi, tapi tak cukup keras untuk bisa dibilang sebagai rudal yang bertabrakan dengan rudal. Stalemate melepaskan bagian terbawahnya, atau yang disebut sebagai tangki penggalak, dan tiba-tiba saja bagian yang tersisa melesat dengan kecepatan amat tinggi, bisa sekitar 3-4 kali kecepatan sebelumnya. Manuver ini tak bisa dihalangi oleh Mistral dan salah satu Mistral malah menghantam bagian penggalak Stalemate yang baru saja dilepas. Tak ayal Mistral ini pun meledak dengan hebat, sementara Mistral yang satunya langsung mendeteksi api hasil ledakan dan mengubah haluan untuk menghantam debris hasil ledakan yang terbakar. Mistral terakhir pun akhirnya meledak tanpa membawa hasil apapun.
“Dia sudah mencapai kecepatan supersonik,” kata Anton lemas.
“Dan tak ada lagi rudal kita yang bisa mengejarnya,” kata Kapt. Kadek.
Tanpa adanya halangan, kini Stalemate melaju dengan kecepatan penuh untuk menyerang Armada Australia dengan fokus utamanya adalah HMAS Amphitrite. Di sisi Australia sendiri, semua Phalanx dan rudal anti pesawat sudah disiapkan untuk mencegat Stalemate yang mengarah ke mereka. Setelah Stalemate ini melewati perbatasan, maka semua pertunjukan kembang api pun dimulai. Perang pun kini tak terelakkan lagi. Atau benarkah begitu?
Saat semua harapan hampir hilang, tiba-tiba, entah dari mana asalnya, pesawat CN-295 “Blue Sky” yang sedari tadi sudah menjalankan fungsinya sebagai pelindung udara Armada Indonesia, muncul tepat di hadapan Stalemate. Semua melihat pesawat itu dengan penuh kengerian, tapi “Blue Sky” tak mengubah arah, malah terus mengejar alur yang akan dilewati oleh Stalemate.
“Farewell! Merdeka!!!” teriak komandan pesawat “Blue Sky”.
Sedetik kemudian, ledakan besar pun terjadi, ledakan yang lebih besar dari ledakan manapun. Stalemate akhirnya berhasil dihentikan setelah hancur menabrak CN-295 “Blue Sky” yang memang sengaja mengorbankan diri untuk bisa menghentikan rudal itu dan mencegah sebuah perang meletus. Ucapan “merdeka” itu menjadi ucapan terakhir dari Blue Sky sebelum berubah menjadi bola api yang membara di angkasa, dan membuat hujan api berupa serpihan-serpihan metal dan aluminium yang terbakar, tepat sebelum keluar dari perbatasan Indonesia. Tak hanya pihak Indonesia yang terkesima dengan peristiwa pengorbanan awak “Blue Sky” yang gagah berani itu. Pihak Australia pun melihat dengan penuh kengerian, sama tak percayanya.
Kapt. Kadek tertegun sejenak melihat gumpalan awan api nun jauh di depan sana. Itu pemandangan yang amat mengerikan, bahkan bagi perwira perang yang sudah berpengalaman seperti Kapt. Kadek.
“KRI Harimau…” kata Kapt. Kadek begitu mulai pulih dari keterkejutannya.
“Sudah berjalan, Kep!” kata Kapt. Ma’ruf, komandan di KRI Harimau.
Tanpa menunggu komando Kapt. Kadek, Kapt. Ma’ruf memang langsung memerintahkan supaya kapal KRI Harimau maju ke daerah ledakan. Memang sedikit lancang, tapi Kapt. Ma’ruf yakin bahwa hal itu akan diperintahkan cepat atau lambat.
Tapi Kapt. Kadek tidak menjawab, hanya menatap kosong pada KRI Harimau yang terus melaju ke wilayah laut yang kini juga terbakar membara, sementara awan api masih membubung dan hujan api masih terus berjatuhan, menimbulkan pemandangan indah dan mengerikan yang tiada duanya.
“Kapal mereka maju ke perbatasan, Commodore,” kata Lt. Cmd. McGraws,
Cdr. van Huydt hanya bisa menarik napas panjang saja.
“Biarkan, Commander,” kata Cdr. van Huydt,
“mereka hanya akan berusaha menyelamatkan teman-teman mereka, bila memang ada yang masih tersisa,”
“Apakah nantinya kita akan juga membiarkan mereka pada saat mereka menyelamatkan teman-teman mereka, Commodore?” tanya Lt. Cmd. McGraws.
“Kita lihat saja nanti, Commander,” kata Cdr. van Huydt,
“tapi untuk saat ini, biarlah kita menghormati mereka yang gugur dengan gagah berani,”
Berita gugurnya CN-295 Blue Sky akhirnya sampai juga di Bina Graha, dan juga ke telinga Pres. Chaidir yang kini tengah duduk termenung tanpa bisa berkata apa-apa. Arfa berusaha menyampaikan berita ini dengan seperlahan mungkin, tapi isi dari berita itu sendiri sebenarnya tetaplah menyesakkan dada. Sebuah pesawat mengalami total loss akibat mencoba mencegah pecahnya sebuah Perang Dunia. Tindakan yang heroik dan amat pemberani, tapi tetap saja menyesakkan.
“Berapa yang meninggal?” tanya Pres. Chaidir.
“Pilot beserta seluruh awak pesawat Blue Sky, totalnya ada 6 orang, dan semua mati di tempat,” kata Arfa,
“Stalemate digunakan untuk menghancurkan kapal, bukan pesawat, dan menurut laporan dari KRI Harimau yang melakukan evakuasi, tak ada serpihan pesawat yang tidak terbakar ataupun lebih besar daripada sebuah buku,”
“Jadi mereka yang meninggal itu, tak ada kuburnya?” tanya Pres. Chaidir.
“Dilihat dari ledakan itu, saya rasa adalah sebuah mukjizat bila ada tubuh yang masih setengah atau seperempat utuh,” kata Arfa dengan nada bergetar.
“Perang belum lagi mulai, dan korban sudah jatuh,” kata Pres. Chaidir,
“Dari laporan, ada provokasi dengan menggunakan penanda radar...” kata Arfa.
“Aku tidak membicarakan soal provokasi, tapi bagaimana mungkin bisa ada di pihak kita yang meluncurkan rudal hanya karena ada provokasi yang masih sebatas radar?” tanya Pres. Chaidir.
“Bukan pihak kita yang meluncurkan, Pak, tapi...” kata Arfa.
“Bila perang ini benar terjadi, Arfa, maka cap yang akan kita sandang adalah bahwa kitalah yang memulainya,” kata Pres. Chaidir,
“walau Russia yang menembak terlebih dulu, tapi akan tetap dicap bahwa kitalah yang menginginkan peperangan,”
Arfa hanya terdiam saja sementara melihat Pres. Chaidir gusar dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi akibat penembakan rudal ini. Walaupun berhasil dicegat oleh Blue Sky dengan mengorbankan nyawa, faktanya tetap tak berubah bahwa rudal Stalemate awalnya ditembakkan bagi Armada Australia. Pres. Chaidir hanya berharap semoga saja Australia juga mempertimbangkan pengorbanan seluruh awak Blue Sky, karena bila tidak, maka pengorbanan mereka akan sia-sia, dan mereka hanya akan jadi martir pertama dari sekian banyak korban kelak bila perang jadi berkobar.
“Bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya Pres. Chaidir.
“Pintu masih belum tertutup untuk perdamaian, Pak,” kata Arfa.
“Kau masih ingin berdamai pada saat seperti ini?” tanya Pres. Chaidir,
“Saya masih percaya bahwa PM Andrews tentu tak ingin mengobarkan perang dengan bangsa Asia,” kata Arfa,
“mengingat selama ini politiknya yang cenderung dekat ke Asia, cenderung dekat ke kita,”
“Ya, dan menjadikan kita sebagai cannon-fodder andaikata Cina akan menyerang ke selatan,” kata Pres. Chaidir,
“saya percaya kita masih punya kesempatan bila kita bisa bicara langsung dengan PM Andrews,”
Pres. Chaidir terdiam sejenak, kemudian dia berdiri dan berjalan ke jendela.
“Secara pribadi, Arfa, aku mengagumi Phillipe Andrews,” kata Pres. Chaidir,
“mungkin dia adalah satu-satunya Perdana Menteri Australia yang paling dekat dengan kita, dan sejujurnya kita pun memperoleh banyak manfaat semenjak dia naik sebagai Perdana Menteri; tapi ini sudah menyangkut harkat dan martabat bangsa, Arfa,
“Dan apakah yang saya bicarakan ini bukan juga menyangkut harkat dan martabat bangsa, Pak?” tanya Arfa.
“Maksudmu?” tanya Pres. Chaidir.
“Pada dasarnya setiap perselisihan di dunia, bisa diselesaikan secara damai, tapi entah kenapa kalau sudah masuk pada tataran kita sekarang, segala sesuatunya menjadi rumit,” kata Arfa,
“saya akan mengatakannya secara sederhana, Pak Presiden, misi awal kita di ground zero bukanlah untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal kita, meskipun kita membawa satu armada penuh, khitah utama mereka sebenarnya bukan itu; kita sedang mengadakan misi penyelamatan, Pak Presiden, misi kemanusiaan, dan bukan misi perang,”
“Dan menurutmu bagaimana misi penyelamatan ini bisa berlarut-larut hingga semakin mendekat kepada peperangan seperti sekarang ini?” tanya Pres. Chaidir,
“dan mengapa Australia mengirimkan armada tempurnya ke ground zero, juga beberapa kali melakukan provokasi?”
“Asumsi saya, memang ada pihak-pihak tertentu yang ingin kita berperang melawan Australia,” kata Arfa,
“ada pihak-pihak tertentu yang ingin menyeret kita, Australia, bahkan juga Amerika Serikat dan Russia ke dalam kancah perang dunia yang baru,”
“Teori konspirasi lagi?” tanya Pres. Chaidir.
“Sudah saya katakan, ini hanya sekadar asumsi,” kata Arfa.
Pres. Chaidir hanya mengangguk-angguk saja sambil terus melihat staf yang paling dipercayainya ini.
“Dalam posisi sepertiku, Arfa, aku tak hanya memutuskan bagi diriku sendiri, tapi bagi bangsa kita, negara kita, dan terlebih lagi rakyat kita,” kata Pres. Chaidir,
“aku sendiri ingin merangkul PM Andrews dan membicarakan hal ini bersama-sama dalam sebuah musyawarah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi; tapi ada hal-hal tertentu yang membuatku tidak bisa melakukannya,”
“Aku tak pernah melihatmu selembek ini kepada negara lain, Arfa,” kata Pres. Chaidir,
“biasanya kau selalu yang paling keras dalam menjawab permasalahan; semua kekuatan militer yang kita miliki sekarang, tataran diplomasi kita sekarang, sepertinya tak berlebihan jika kubilang bahwa kau berperan dan turut punya andil yang tak sedikit dalam semua itu; mengapa sekarang berubah?”
“Kata kuncinya, Pak Presiden, ada pada ‘mencari tahu’, karena saya tidak tahu apa yang terjadi di sana, Anda juga tidak tahu,” kata Arfa,
“dan saya yakin PM Andrews serta pihak Australia pun tidak tahu; karena begitulah kesan yang saya tangkap dari pemberitaan-pemberitaan dan reaksi dari pihak Australia,”
Arfa berhenti sejenak kemudian berjalan mendekati Pres. Chaidir.
“Mungkin analogi saya kurang tepat karena Indonesia punya banyak suku,” kata Arfa,
“tapi apakah Anda tahu kenapa orang Jawa menaruh kerisnya di belakang, Pak Presiden?”
“Ayolah, Arfa, kau masih berfilsafat pada saat seperti ini?” tanya Pres. Chaidir,
“Saya tahu, Pak, makanya dari awal saya katakan mungkin analogi saya kurang tepat,” kata Arfa,
Pres. Chaidir mendengus sejenak.
“Karena orang Jawa tidak ingin membuka sesuatu dengan konflik atau intimidasi, dari depan mereka menyambut dengan tangan terbuka dan persahabatan, tapi bila lawan mereka ingin macam-macam, mereka pun siap menggunakan keris mereka yang tersemat di belakang,” kata Pres. Chaidir.
“Benar, bagi orang Jawa, keris bukan hanya sekedar senjata, namun juga sebagai simbol kewibawaan, dan itulah yang ingin saya terapkan; semua prajurit kita, alutsista kita, dan rencana-rencana perang kita adalah keris, tapi bukan sekadar keris biasa, melainkan keris sakti mandraguna yang bila tiba saatnya nanti, akan siap dihunuskan demi membela kewibawaan penyandangnya,” kata Arfa,
“tapi untuk hubungan antar bangsa kita, bukan keris yang kita kedepankan, bukan prajurit, bukan kapal-kapal perang kita, bukan juga pesawat-pesawat pembom, melainkan kepiawaian diplomasi luar negeri kita; kekuatan yang kita pakai untuk menjaga kewibawaan kita dalam lingkup perdamaian, bukan sekadar perang,”
“Tapi itu keris yang amat besar yang kau buat, Arfa, melihat apa yang kita miliki sekarang, juga apa yang akan kita miliki kelak,” kata Pres. Chaidir.
“Karena yang akan kita lindungi juga besar, Pak Presiden; karena sudah saatnya Indonesia menjalankan perannya sebagai pelindung di Asia Tenggara,” kata Arfa.
“Pelindung Asia Tenggara?” tanya Pres. Chaidir.
“Ya, sejak dulu kita tak pernah dipandang sebelah mata oleh negara-negara di Asia Tenggara, bahkan saat kekuatan kita tengah surut,” kata Arfa,
“karena itulah kita punya tanggung jawab kepada seluruh negara-negara di Asia Tenggara; yang layak melindungi Asia Tenggara bukan Amerika Serikat, bukan Cina, India, atau Australia, tapi kita, salah satu dari negara Asia Tenggara itu sendiri.”
“Tidakkah itu terlalu chauvinis?” tanya Pres. Chaidir.
“Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘berpikir di luar kotak kita’, Pak Presiden,” kata Arfa,
“lagipula cita-cita Indonesia yang besar sudah ada sejak kita merdeka dulu, bahkan sebelum itu, dan saya tak berpikir bahwa memiliki angkatan perang besar dan kuat yang dddnantinya bisa melindungi kawasan adalah sebuah chauvinitas,”
“Kalau bukan chauvinitas lalu apa?” tanya Pres. Chaidir.
Pres. Chaidir mengangguk sambil tersenyum.
“Rupanya itu,” kata Pres. Chaidir,
“akhirnya kau mengatakannya juga, hal yang sudah kucurigai semenjak aku menjadi mentormu di Lemhanas,”
“Gagasan Indonesia Irredenta bukanlah gagasan baru, Pak Presiden, dan pada suatu saat pun kita pernah mencapainya,” kata Arfa,
“dan saatnya mengangkat irredentisme kita dalam suatu tataran baru, alih-alih menggabungkan semua entitas dalam satu negara besar, kita mempelopori pembuatan sebuah komunitas di mana kita menjadi pengayomnya, dan perkuatan militer kita hanyalah salah satu alat untuk mencapainya, Manifest Destiny, takdir kita,”
“Takdir juga yang membuatmu merekomendasikan Pres. Zakaria untuk melakukan aksi militer atas Serawak?” tanya Arfa,
“Sia-sia memiliki keris sakti mandraguna bila tak digunakan saat dibutuhkan; RRIM melakukan aksi membombardir tangsi kita di perbatasan dan merangsek ke Kalimantan Utara, cukup alasan bagi kita untuk melancarkan aksi militer, karena sekadar nota protes tak akan memberikan efek yang kita inginkan,” kata Arfa,
“Serawak juga menjadi pesan bahwa kita mampu untuk melakukan apa pun demi mempertahankan kedaulatan kita,”
“Lalu apa bedanya dengan kasus kali ini?” tanya Pres. Chaidir.
“Bila Australia melanggar wilayah kita secara terang-terangan dengan sikap bermusuhan, saya tentu akan segera merekomendasikan perang dengan Australia; tapi perang tak akan berbuah manis bagi semua pihak, dan hingga saat ini Australia hanya memprovokasi, tapi belum melakukan pelanggaran,” kata Arfa,
“mereka menunggu kesempatan karena mereka masih ragu untuk bergerak, pada saat-saat genting seperti inilah pena diplomasi harus bergerak dengan lebih cepat dan giat,”
Suasana menjadi hening sejenak.
“Perang Dunia I terjadi bukan karena semua pihak menginginkan peperangan, tapi karena damai diusahakan dengan setengah hati,” kata Arfa,
“bila diplomasi untuk damai dilakukan dengan setengah hati, kita akan menyesal nantinya saat peperangan ini tiba, dan Manifest Destiny tak akan terlaksana bila kita hancur dalam perang ini,”
Pres. Chaidir menghela napas sejenak, kemudian dia bergantian melihat ke arah Arfa dan ke luar jendela.
“Tak ada kata terakhir dalam diplomasi, katamu?” tanya Pres. Chaidir.
“Tak ada, sampai tetes darah pertama tertumpah,” kata Arfa.
“Baiklah, kita ikuti firasatmu,” kata Pres. Chaidir,
“tapi perintahkan pada Laks. Dedy Suprayitno untuk menyiagakan ketiga angkatan dan persiapan mobilisasi umum andai terjadi hal-hal yang tak diinginkan,”
“Terima kasih, Pak Presiden,” kata Arfa sambil menarik napas lega.
“Kalau begitu aku harus segera pergi karena aku akan menelepon seorang teman,” kata Pres. Chaidir,
Arfa memberi sebuah senyuman, kemudian meninggalkan Pres. Chaidir sendiri di ruangan itu. Sepeninggal Arfa, Pres. Chaidir menarik napas berat sambil melihat telepon yang tergeletak di meja. Tapi kemudian beliau segera maju, dan mengangkat telepon.
“Ya, sambungkan dengan Canberra,” kata Pres. Chaidir.
Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
11.43 WIB
H minus 23:16:00
Dengan cekatan dan hanya diterangi oleh cahaya senter yang disorotkan oleh dua orang ABK, Sers. Andre pun berusaha menyambungkan kembali semua koneksi listrik dengan baterai yang masih tersisa. Banyak baterai yang hancur terpanggang saat Ridwan Juhari meledakkan bom-nya yang kecil itu. Ibarat kata kalau boleh Sers. Andre mengandaikan adalah sepucuk jarum yang ditusukkan tepat ke jantung. Kecil tapi amat menyakitkan. Dan dari mana Ridwan Juhari bisa berpikir untuk meletakkan bom-nya di ruang motor listrik yang tersambung langsung ke baterai? Jujur dalam hati Sers. Andre merasa salut.
Baterai yang bisa diakses oleh Sers. Andre hanyalah baterai yang tertanam di bawah lantai logam kapal selam, pada ruangan mesin diesel, tepat di depan ruangan motor listrik. Sers. Andre tidak berani membuka ruangan motor listrik, karena selain di sanalah para kelasi meletakkan jenazah rekan-rekan mereka, pintu palka ruang motor listrik juga terasa agak panas dan ada asap tipis yang muncul dari sela-sela lantai. Dugaan Sers. Andre adalah bahwa terjadi kebakaran kecil di dalamnya, tapi Sers. Andre tak berani berspekulasi. Lebih baik kebakaran itu, kalau misal ada, tetap berada di sana, aman di balik pintu palka anti-api.
Total ada 4 sel baterai di dalam ruang ini, dari 22 sel yang dimiliki oleh kapal selam ini. Sepuluh sel berada di ruangan motor listrik, sementara 8 sisanya terletak di haluan sebagai tenaga cadangan, akan tetapi dari 8 sel baterai cadangan ini, 4 sudah rusak akibat serangan pertama, dan 4 sisanya sudah kehabisan daya yang tak mungkin untuk diisi kembali kecuali di pangkalan atau mesin diesel dihidupkan. Jadi hanya tinggal 4 sel yang ada di sini saja yang bisa dipakai. Tanpa adanya mesin yang bisa dinyalakan untuk menambah catu daya sel baterai, daya yang ada akan terkuras dengan amat cepat untuk mempertahankan sistem penopang kehidupan, apalagi motor listrik yang bisa berfungsi sebagai kapasitor sudah hancur akibat bom, yang membawa serta 10 sel baterai yang amat penting.
Tapi bagi Sers. Andre, menghidupkan kembali empat baterai yang tersisa adalah perkara yang gampang, begitu juga dengan mengubah switch-nya dari switch utama ke cadangan. Permasalahan yang kemudian mengganjal adalah perintah Laksma. Mahan mengenai “Protokol Beta”. Ini juga yang terus menghantui pikirannya sembari dia mengerjakan sambungan untuk keempat baterai yang masih tersisa.
Tak sampai 20 menit, semua sistem pun berhasil terpasang dengan sempurna, dan Sers. Andre segera menyalakan switch cadangan. Lampu kembali menyala, ditanggapi dengan gumaman lega semua orang yang ada di dalam kapal selam itu. Tapi hanya selang beberapa detik lampu menyala, Sers. Andre langsung mematikan switch-nya kembali, membuat semua orang yang sudah berharap kembali kecewa. Ini pun mengusik pikiran 2 ABK yang menemani Sers. Andre memperbaiki sambungan listrik.
“Sersan, kenapa diputus lagi?” tanya ABK pertama yang bernama Kelasi Tito.
Sers. Andre tidak menjawab, hanya memberi isyarat supaya kedua ABK itu mengikutinya. Dan mereka bertiga pun segera masuk ke dalam ruangan mesin diesel, yang selama ini dirahasiakan dan selain beberapa orang tertentu, hanya Lucia yang pernah memasukinya. Kedua ABK ini pun juga tak asing dengan ruangan ini, karena mereka berdualah yang bertugas melakukan maintenance pada mesin diesel, dan juga generator air rahasia yang tertempel pada mesinnya. Namun tugas terakhir ini sudah beberapa hari mereka tinggalkan pasca clash dengan HMAS Pitcairn yang mengharuskan mereka melakukan tugas lain.
“Tutup pintunya,” kata Sers. Andre.
ABK kedua, yang bernama Kelasi Jaka segera melaksanakan perintah dan menutup pintunya, walau seribu pertanyaan masih berkecamuk di dalam dirinya. Tapi Sers. Andre menunjukkan gesture yang terlalu percaya diri untuk bisa mengatakan bahwa dia tak tahu apa yang kini dilakukannya. Lebih tepatnya adalah Sers. Andre tahu benar apa yang akan dia lakukan, hanya saja konsekuensi melakukannya bukanlah sebuah hal yang bisa dibuat main-main.
“Baiklah, sekarang dengar baik-baik,” kata Sers. Andre,
“apapun yang terjadi nanti, kalian harus bisa bila di-debrief saat selamat nanti, itupun bila kita memang masih akan hidup sampai nanti,”
Perkataan ini saja sudah membuat kedua ABK ini semakin tegang. Sers. Andre pun menarik napas panjang sejenak sebelum mengatakan hal yang selama ini ditahannya.
“Atas perintah Laksamana,” kata Sers. Andre,
“kita akan melakukan Protokol Beta,”
Seketika itu juga keterkejutan bagai meledak dalam diri kedua ABK itu. Tentu saja mereka tahu apa yang dimaksud dengan Protokol Beta itu, dan mereka dilatih juga untuk menangani situasi dalam pelaksanaan Protokol ini. Namun ada satu hal yang tidak dilatihkan dalam penanganan situasi ini, yang membuat mereka sama gugupnya seolah belum pernah menangani hal ini segera.
“Sekarang, Sersan?” tanya Kel. Jaka,
“bukankah Protokol Beta itu...”
“Ya, aku tahu, Protokol Beta akan dilaksanakan pada saat kapal tengah berada di permukaan dalam kondisi berada pada perairan aman dan waktu yang aman pula serta semua awak dikondisikan berada dalam keadaan darurat evakuasi untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin salah,” kata Sers. Andre,
“aku tahu betul semua prosedur keamanan sebelum melakukan Protokol Beta, semua harus berada dalam kondisi yang ideal penuh; masalahnya kondisi kita tidak ideal, tapi Protokol ini perlu segera dilaksanakan,”
“Tapi prosedur ini membutuhkan kita menyalakan mesin diesel, dan dalam kedalaman ini...” kata Kel. Jaka.
“Aku tahu, bila menyalakan mesin diesel 2 menit saja, gas buangan diesel bisa langsung meracuni sepertiga kompartemen di kapal selam ini, dan membunuh semua orang dalam 3-4 jam ke depan,” kata Sers. Andre,
“karena itu kita tak akan memakai diesel, tapi menggunakan sisa daya listrik untuk menggerakkan motor penggalak,”
“Apa itu bisa dilakukan?” tanya Kel. Tito.
“Bisa, tapi butuh daya listrik besar, makanya kita perlu semua tenaga dari baterai,” kata Sers. Andre,
“sekarang tolong bantu mengalihkan semua dayanya,”
Sers. Andre dan kedua ABK segera mengutak-atik sebuah panel listrik di dekat mesin diesel. Protokol Beta bila dijabarkan secara singkat merupakan program rahasia untuk menguji apakah reaktor air yang ke depannya akan dipakai sebagai rintisan program Energi Biru bisa bekerja secara 100% tanpa dukungan dari mesin-mesin lainnya. Bila berhasil, maka aplikasinya cukup luas dan luar biasa. Mesin diesel kapal selam bisa digantikan dengan reaktor air yang bobotnya hanya sepertiganya untuk daya propulsi yang sama. Artinya kapal selam berikutnya bisa memiliki tambahan bobot entah untuk menambah suplai logistik yang lebih banyak, sensor yang lebih canggih, persenjataan yang lebih ampuh, ataupun armor yang lebih kokoh. Propulsi reaktor air yang lebih efisien dibandingkan diesel juga berarti kapal selam bisa melaju lebih cepat baik di atas maupun di bawah permukaan air, dan juga bersihnya reaktor air yang tak mengeluarkan emisi beracun layaknya mesin diesel membuat ketahanan bawah air kapal selam nantinya bisa menandingi kapal selam dengan reaktor nuklir konvensional milik negara maju, tapi dengan mesin yang lebih tidak berisik dan tanpa adanya bahaya kebocoran radiasi.
Tapi kapal selam hanyalah langkah awal. Reaktor air memungkinkan pembangunan kapal berukuran besar dengan ukuran mesin lebih kompak. Salah satu yang akan mendapat manfaat dari reaktor ini adalah kapal perusak proyek Yos Sudarso, dan juga pengembangan kapal induk helikopter multiguna tingkat lanjut (Advanced Multirole Helicopter-Carrier). Riset mengenai senjata laser dan elektromagnetik pun akan mendapat suntikan tenaga baru dengan reaktor ini, yang bisa memberi energi yang melimpah ruah.
Aplikasi dalam bidang sipil mungkin nantinya adalah yang paling mendapat faedah paling besar, karena satu reaktor berukuran kecil, hanya seperempat besar dari PLTGU sekarang, lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan listrik megapolitan Jakarta bersama kota-kota pendukungnya bahkan hingga Banten dan sebagian besar Jawa Barat. Ketiadaan emisi berbahaya juga membuat reaktor ini bisa dibangun di bawah tanah dalam kasus berjaga-jaga terhadap serangan udara musuh. Sisa listrik juga bisa dipakai untuk menyuplai kebutuhan mobil-mobil berenergi listrik yang kini tengah menjamur. Bila digabungkan dengan Energi Hijau yang telah berjalan, Indonesia akan melesat jauh dalam penguasaan teknologi energi ramah lingkungan. Pabrik-pabrik dan industri mulai dari skala mikro hingga besar pun akan memetik manfaat yang amat besar dari kemelimpahan energi ini.
Namun sebelum semua mimpi itu bisa terwujud, harus dilakukan dulu sebuah tes; tes yang kini menjadi satu-satunya harapan bagi semua korban selamat di KRI Antasena. Permasalahannya, seperti tadi diungkapkan, tes dikondisikan untuk dilakukan di atas permukaan dengan seluruh awak siap berada dalam posisi darurat evakuasi. Ini karena untuk bisa menyalakan reaktor air dengan 100% kapasitas, terlebih dahulu alat penggalak harus dinyalakan untuk memulai reaksi berantai pada tabung reaktor. Penggalak ini hanya bisa dinyalakan dengan kapasitas mesin penuh, dalam artian, disarankan untuk menggunakan mesin diesel, karena mesin diesel akan memberikan asupan tenaga yang konstan pada mesin penggalak. Tapi dalam kedalaman ini, mesin diesel tak boleh dinyalakan atau semua orang akan mati akibat keracunan karbon monoksida hasil buangan mesin.
Untuk itu, Sers. Andre akan menggunakan daya alternatif yang paling logis, kalau bukan satu-satunya alternatif yang dia punya saat ini: menggunakan energi baterai. Ya, baterai kapal selam secara teoretis bisa memberikan daya yang cukup untuk menghidupkan mesin penggalak, masalahnya, menurut perhitungan, mesin penggalak bisa dengan cepat menguras habis daya dari baterai kapal selam yang dipakainya, hanya sekedar untuk menyalakannya saja. Dan kini hanya tersisa empat buah baterai saja, artinya hanya ada empat kali kesempatan untuk mencoba menyalakannya, setelah itu semua harapan akan musnah, karena tak ada lagi daya cadangan bahkan untuk keperluan darurat. Ini benar-benar perjudian yang berisiko amat tinggi dengan nyawa semua orang di sini sebagai taruhannya.
Dengan cekatan, Sers. Andre dibantu kelasi Jaka dan Tito mulai menyambungkan panel mesin penggalak dengan baterai. Tak lupa, Sers. Andre memasukkan semua sambungan baterainya secara terpisah, karena bila tidak, alih-alih hanya satu baterai yang dayanya anjlok, bisa-bisa sekarang semua baterai yang akan habis bila hanya memakai sambungan seri. Semua sambungan diperiksa ulang untuk memastikan bahwa hubungan antara mesin penggalak dan masing-masing baterai terpasang secara terpisah, alias tak ada dua sambungan yang saling tersambung, atau akibatnya akan fatal. Tak memakan waktu terlalu lama, karena di samping waktu yang ada semakin menipis, semua sistem juga sudah dirancang supaya pemindahan sambungan semacam ini bisa dilakukan dengan cepat.
“Baiklah,” kata Sers. Andre segera setelah selesai,
“sekarang sudah ada sambungan ke empat baterai secara terpisah, dan masing-masing baterai akan digunakan untuk menyalakan penggalak; bila perhitunganku tepat, satu baterai saja sudah cukup untuk menjalankan mesinnya, tapi apapun itu, baterai itu akan kehilangan seluruh dayanya, sehingga bila mesinnya gagal menyala, kita akan kehilangan sebuah baterai,”
Kel. Jaka dan Tito pun mengangguk dengan muka tegang. Tak pernah terbayang di kepala mereka bahwa pengujian ini akan berlangsung dalam suasana sehebat ini.
“Berdoalah semoga berhasil,” kata Sers. Andre sambil memegang sakelar penyala.
Sers. Andre pun segera memutar sakelar penyala, dan mesin penggalak pun bergetar sementara air pada tabung reaktor mulai terlihat berpusar mengelilingi dua elektroda yang dimasukkan ke dalamnya. Sebuah kilatan mirip listrik terlihat memercik di antara kedua elektroda, dan makin lama percikan itu semakin banyak, membuat harapan Sers. Andre membuncah, hingga tiba-tiba...
DUAAAR!!!
Ledakan itu, walau mengagetkan, tapi tidak besar, hanya kecil saja. Sebuah bagian berbentuk silinder sepanjang kira-kira 60 cm meledak dan terlempar. Itu adalah pipa yang membungkus kawat penghantar listrik dari catu daya ke mesin penggalak, sehingga otomatis, aliran listriknya pun terputus. Buru-buru Sers. Andre segera memeriksa baterainya, dan tampak kecewa. Hanya beberapa detik saja, daya pada baterai telah terkuras amat banyak. Daya yang tersisa pada baterai itu kini tak akan cukup untuk menyalakan kembali mesinnya.
Dengan gontai, Sers. Andre memeriksa kenapa kawat penghantar itu bisa putus. Jelas, dua ujungnya sudah agak koyak, kemungkinan besar ini terjadi akibat penyerangan tempo hari, dan karena tidak ada yang mengotak-atik mesin ini pasca-penyerangan itu, wajar bila kerusakan ini terlambat diantisipasi. Namun, saat ini kewajaran itu harus ditebus dengan harga cukup mahal. Satu baterai sudah terbuang, dan hanya tersisa tiga baterai lagi, alias hanya tiga kesempatan saja untuk menyalakan kembali mesin penggalak.
Akan tetapi, hal itu pun tak akan bisa dilakukan bila kerusakan yang baru terjadi ini tak bisa diperbaiki dengan segera. Dan untuk menyambungkan kembali kawat itu, tak akan cukup dengan hanya solder saja, butuh sebuah las asetilen untuk bisa melakukannya, dan semua las di kapal selam ini sudah habis untuk memperbaiki kerusakan di bagian lain. Lagipula melakukan pengelasan di dalam ruang tertutup seperti ini amat tidak disarankan.
“Kita harus bagaimana, Sersan?” tanya Kel. Tito.
“Cari sesuatu untuk bisa menggantikannya, batang besi atau kabel atau apapun tapi diameternya jangan terlalu kecil,” perintah Sers. Andre.
Dengan cekatan, Kel. Tito dan Jaka melaksanakan perintah Sers. Andre, dan satu menit kemudian, mereka pun kembali dengan membawa satu-satunya alternatif paling masuk akal untuk pengganti penghantar yang bisa mereka temukan di ruangan itu: sebuah gagang pel yang terbuat dari logam. Sebelum diserahkan pada Sers. Andre, mereka telah terlebih dulu melepas kepala pelnya.
Sers. Andre menimang sejenak gagang pel itu, kemudian mengukurnya pada buntungan penghantar. Gagang pel itu panjangnya semeter lebih sedikit, alias dua kali lebih panjang daripada patahan penghantar, tapi berhubung ujung-ujung patahannya agak menjorok, sehingga gagang pel itu bisa dengan mudah disangkutkan di atasnya, cukup untuk solusi sementara, setidaknya hingga mesin penggalak dan reaktor menyala, karena setelah menyala, outputnya akan disalurkan menggunakan sambungan yang berbeda, jadi tidak memakai penghantar yang putus ini.
Perlahan-lahan, gagang pel itu diletakkan pada sangkutan penghantar. Setelah memastikan bahwa semua stabil, Sers. Andre mundur dan kembali untuk mencobanya. Dia agak gugup juga karena harus memastikan bahwa alternatif ini bisa berjalan dengan lancar, setidaknya harus lebih baik daripada sebelumnya.
Sakelar kembali dinyalakan. Mesin penggalak kembali mulai menyala, dan air pun turut berpusar, menandakan bahwa gagang pel itu bisa menggantikan penghantar yang rusak. Tapi ketika mesin mulai bergetar, gagang pel yang memang hanya sedikit tersangkut itu langsung jatuh berkelontangan di lantai. Sers. Andre buru-buru segera mematikan saklarnya dan langsung mengecek sisa daya baterai. Tidak terlalu terkuras banyak dan masih bisa digunakan untuk sekali lagi menyalakan mesin penggalak. Tapi kecuali ditemukan cara untuk bisa menjaga gagang pel itu tetap di tempatnya, semua usaha akan kembali sia-sia.
Kembali Sers. Andre berputar-putar tak tentu arah. Tidak ada alat yang bisa dipakai untuk mengikat kecuali sabuk yang dipakai oleh tiga orang yang ada di sini. Tapi masalah pentingnya adalah kalaupun bisa memakai sabuk, cerukannya terlalu kecil untuk bisa mengikatkan gagang pel. Mengakali mungkin bisa dilakukan, tapi tidak dalam waktu cepat, sehingga Sers. Andre langsung melakukan gagasan nekad pertama yang terlintas di pikirannya.
“Ambilkan kain yang kering,” kata Sers. Andre.
Kedua kelasi segera mencari yang diinginkan oleh Sers. Andre. Ada beberapa kain, rata-rata adalah lap yang dipakai untuk bersih-bersih, namun semuanya sudah kering sehingga agak keras. Pun, itu cukup bagi Sers. Andre. Entah kenapa, bagi Kel. Jaka, dia agak kurang sreg dengan perintah itu.
Setelah semua terkumpul, Sers. Andre segera mengikat kain-kain itu pada dua tempat di gagang pel, sepertinya buntalan kain ini akan berfungsi sebagai bantalan sesuatu. Sers. Andre memegang gagang pel tepat pada lilitan kain, kemudian dia meletakkan gagang pel itu di cerukan konduktor.
“Baik, nyalakan,” kata Sers. Andre, tapi tanpa melepas tangannya.
“Sersan, tangannya masih dipegang ke gagang?” tanya Kel. Jaka.
“Iya. Nyalakan saja,” kata Sers. Andre.
“Berbahaya, Sersan!” kata Kel. Jaka.
“Dengar, sudah kuperhitungkan semuanya, aku nggak bakal apa-apa,” kata Sers. Andre,
“sekarang cepat nyalakan!”
Dalam keraguan, Kel. Jaka pun akhirnya menyalakan sakelar. Listrik kembali mengalir dan Sers. Andre merasakan gagang pel ini mulai bergetar akibat dialiri oleh listrik, dia berusaha agar tidak melepasnya. Air di dalam reaktor pun berpusar semakin cepat. Sebentar lagi dia akan mencapai titik optimalnya, dan baru setelah itu reaktor akan memproduksi listrik secara mandiri. Dilihat dari kapasitas reaktor air, reaktor ini memang akan menyala hanya selama 1 jam, tapi waktu itu akan cukup untuk mengisi penuh semua baterai yang sudah habis, termasuk baterai haluan, dan masih ada cukup daya untuk menjalankan sonar. Setelah sonar berhasil, nanti sisa 8 baterai yang baru saja dipenuhi dayanya akan bisa menyokong kehidupan awak hingga 8 jam ke depan dalam keadaan semi-darurat.
Tiba-tiba Sers. Andre berteriak tercekat, dan dengan itu pula, pegangannya pada gagang pel itu terlepas dan si gagang pel langsung jatuh berkelontangan di lantai. Kel. Jaka yang memegang kendali atas sakelar buru-buru segera mematikan sakelarnya kemudian bersama Kel. Tito menghampiri atasannya yang kini tengah bersimpuh sambil kedua tangannya dijulurkan menegang. Dari dekat, terlihat bahwa otot-otot lengan Sers. Andre berdenyut dengan sendirinya dan tidak normal. Ekspresi wajah Sers. Andre sendiri seolah tengah menahan sesuatu yang amat menyakitkan.
“Sersan, kau tak apa-apa?” tanya Kel. Tito.
“Bagaimana dengan baterainya?” tanya Sers. Andre sambil mulutnya masih menyeringai menahan sakit.
“Sersan, kau harus...” kata Kel. Tito.
“Kubilang, bagaimana dengan baterainya??” hardik Sers. Andre.
Kel. Jaka segera melihat kondisi baterainya, lalu berlari kembali pada Sers. Andre.
“Hampir habis, tidak bisa dipakai lagi untuk ini,” kata Kel. Jaka.
“Sudah kuduga,” kata Sers. Andre,
“segera pindahkan ke baterai berikutnya, ikuti seperti yang tadi kulakukan,”
“Siap, Pak,” kata Kel. Jaka.
“Dan bersiap untuk menyalakan lagi, aku akan mencobanya lagi,” kata Sers. Andre.
“Coba lagi, Pak?” tanya Kel. Jaka terkejut,
“Anda tidak serius kan, Pak?”
“Aku tidak bercanda, sekarang kita tidak punya waktu untuk itu, bahkan untuk apa pun juga,” kata Sers. Andre.
“Tapi Anda harus dirawat dulu, Pak,” kata Kel. Tito,
“kejadian tadi itu...”
“Aku tak apa-apa, Pelaut; mati juga tidak,” kata Sers. Andre,
“ini hanya kumpulan ion bermuatan yang terbentuk di sekitar gagang pel, seperti tersengat listrik statis, tak ada masalah serius yang akan terjadi,”
“Statis atau tidak, Pak, daya listrik sebesar ini, mau AC atau DC akan cukup kuat untuk membunuh Anda dua kali,” kata Kel. Jaka.
“Jangan membantahku, dan aku tahu yang kulakukan,” kata Sers. Andre bengis.
Kel. Jaka dan Kel. Tito langsung terdiam.
“Lepas sabuk kalian, cepat,” kata Sers. Andre.
Masih dalam keadaan bertanya-tanya, mereka pun melepas sabuk mereka.
“Jaka, kau tahu bagaimana prosedurnya, setelah nanti reaktornya bisa menyala secara mandiri, ubah langsung ke mode operasi penuh, baterai yang ada akan otomatis diisi kembali oleh listrik dari reaktor,” kata Sers. Andre,
“kau tahu caranya mengubah modenya, kan?”
“Siap, tahu, Pak,” kata Kel. Jaka.
“Tito, sekarang kau bantu aku, ikatkan sabuk-sabuk ini ke kedua tanganku, ikat dengan erat supaya jangan sampai lepas walaupun nanti otot-ototku sampai menegang kena listrik,” kata Sers. Andre.
“Pak, tapi kau baru saja... Biar saya saja, Pak, yang memeganginya,” kata Kel. Tito.
“Tidak, aku sendiri masih mampu,” kata Sers. Andre.
“Tapi itu berbahaya, seperti tadi dibilang oleh Jaka...” kata Kel. Tito.
“Kau lihat sendiri, aku tak apa-apa, bukan?” kata Sers. Andre,
“lagi pula, misal aku salah, aku tak ingin anak buahku yang harus mati akibat kesalahan perhitunganku; sekarang ayo mulai,”
Setelah memastikan ikatannya kencang, Sers. Andre kembali berdiri, tampaknya cukup puas. Dia menempatkan diri kembali di posisi seperti tadi.
“Setelah menyala, segera salah satu dari kalian lari ke anjungan,” kata Sers. Andre,
“katakan pada orang sipil di sana yang bernama Reza, bahwa mulai dari situ, semua kuserahkan padanya,”
“Siap, Pak,” kata Kel. Jaka dan Tito bersamaan.
“Dan Jaka, untuk memastikan, setelah baterai ini habis, sebelum mesin penggalaknya mati, langsung pindah ke baterai terakhir, jangan sampai kehilangan momentum,” kata Sers. Andre.
“Tapi, Pak...” kata Kel. Jaka.
“Lakukan saja,” kata Sers. Andre.
Sers. Andre tersenyum sambil melihat kepada dua kelasi itu.
“Ayo lakukan,” kata Sers. Andre.
Sakelar pun segera dinyalakan, dan keseluruhan proses pun terulang kembali. Sers. Andre berdiri sedemikian rupa sehingga berat tubuhnya ditumpukan pada gagang pel untuk mencegah gagang itu bergeser ataupun meloncat. Saat energi yang terkumpul makin memuncak, Sers. Andre pun berteriak seakan menahan rasa sakit yang luar biasa. Ya, ada satu hal yang tak diberitahukan oleh Sers. Andre kepada Jaka dan Tito, bahwa dia merasakan aliran listrik menembus salah satu kain, mungkin akibat kena keringat, yang mana ini hal yang amat berbahaya. Tapi karena tak ada pilihan lain, maka Sers. Andre pun merahasiakannya. Ini juga yang membuat Sers. Andre menolak untuk digantikan oleh Tito.
Jaka hampir saja mematikan sakelarnya saat Sers. Andre berteriak kesakitan, tapi dia terus menahan tangannya sembari dengan penuh kengerian melihat ke arah Sers. Andre. Mematuhi perintah, Kel. Jaka kemudian segera mengganti baterai dengan yang terakhir ketika dayanya hampir habis, sehingga mesin penggalak terus mendapatkan asupan energi yang tak terputus. Air di dalam reaktor berpusar dengan kecepatan yang tak terbayangkan, dan percikan-percikan listrik mengalir dengan cepat pada kedua elektroda di dalamnya, cahaya yang dihasilkannya cukup terang bagai lampu halogen.
DUAAAR!!!
Ledakan kembali terjadi dan Sers. Andre terpelanting ke belakang, masih terikat pada gagang pelnya. Kel. Jaka buru-buru mematikan sakelar dan tanpa mengecek keadaan baterai, langsung memburu Sers. Andre. Tapi kali ini, meski mesin penggalak langsung mati, air dalam reaktor tak berhenti berpusar dan menghasilkan listrik. Berhasil! Akhirnya reaktor ini bisa bekerja secara mandiri. Air di dalam reaktor pun mulai menghilang ditelan cahaya yang perlahan-lahan menjadi amat menyilaukan.
Buru-buru, Kel. Jaka segera mengganti dari mode pengisian ke mode operasi. Dan lampu-lampu ruangan pun langsung menyala dengan terang, semua sistem sudah kembali normal! Setelah memastikan bahwa listrik dari reaktor juga mengisi semua baterai yang kini kehilangan daya, Kel. Jaka dibantu oleh Kel. Tito segera menyeret Sers. Andre keluar dari ruangan karena cahaya yang dihasilkan reaktornya mulai silau tak tertahankan.
Sesampainya di luar, mereka segera bergegas menutup pintu dan membuka ikatan pada tangan Sers. Andre. Salah satu tangannya mengalami luka bakar, tangan yang insulasi listriknya dikatakan bocor. Para kelasi lain pun segera memburu Sers. Andre, dan bersama-sama, mereka akhirnya membopongnya ke ruang pengobatan. Sepanjang jalan, Sers. Andre hanya bergumam.
“An...jung...an...”
Kel. Tito yang mendengar gumamannya langsung menepuk dahinya sendiri. Dia lupa dengan perintah terakhir Sers. Andre.
“Jak, aku ke anjungan dulu,” kata Tito yang langsung berlari meninggalkan semua orang.
Berita mengenai terlukanya Sers. Andre mengejutkan semua orang yang ada di anjungan, bahkan menutup kegembiraan yang tadinya menyeruak setelah lampu berhasil menyala. Semua orang pun tampak terpaku dengan raut muka yang tercekam. Pikiran akan kemungkinan terburuk pun melayang-layang.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Laksma. Mahan.
“Sedang dibawa ke ruang pengobatan,” kata Kel. Tito,
“saya langsung ke sini setelah dia memerintahkan saya, walaupun dengan susah payah,”
“Berarti dia masih hidup, tapi entah bagaimana keadaannya,” kata Lucia dengan nada khawatir.
“Aku pernah melihat bagaimana orang yang mati tersetrum dan itu bukan pemandangan yang bagus untuk dilihat,” kata Laksma. Mahan,
“bahwa dia masih hidup hingga saat ini, itu bagus, tapi untuk berapa lama, kita tak tahu,”
Perkataan Laksma. Mahan ini membuat semua orang kembali muram. Masih segar dalam ingatan beberapa saat yang lalu, Letkol. Ari La Masa telah gugur di tangan pengkhianat Ridwan Juhari. Dan kini, kemungkinan bahwa kapal selam ini masih ingin meminta tumbal pelaut pemberani terbayang jelas. Terlepas dari betapa beraninya Sers. Andre dalam mengambil risiko, sebuah kematian lagi masih akan tetap terasa tragis.
“Saya akan menengoknya, Laksamana,” kata Reza tiba-tiba.
“Tidak, kamu tetap di sini dan lakukan tugasmu!” kata Laksma. Mahan.
“Tapi saya tak bisa menyelesaikannya tanpa Sers. Andre,” kata Reza dengan nada pesimistis.
“Kamu bisa dan akan menyelesaikannya,” kata Laksma. Mahan,
“ada alasan kenapa Sers. Andre memercayakan semua hal di sini kepadamu,”
“Tapi, Pak...” kata Reza.
“Reza, sudahlah,” kata Lucia dengan nada tinggi.
Semua melihat ke arah Lucia yang memaksakan berdiri walau harus menumpu pada panel.
“Kau mau menambah korban jiwa?” tanya Lucia.
“Mbak Lucia, aku...” kata Reza tak mengerti.
“Kau dengar kata Laksamana tadi, kita tidak tahu berapa lama lagi Sers. Andre akan bisa bertahan,” kata Lucia,
“tapi yang pasti, dia tak akan bisa bertahan bila tak segera diberi pertolongan medis yang lebih intensif; dan itu tak akan kita dapatkan di sini, di dalam kapal ini,”
Reza terdiam dan agak tertunduk sementara Lucia menatapnya tajam seperti seorang ibu yang tengah memarahi anaknya yang nakal.
“Kamu bisa menyelesaikannya, Reza; selesaikan dan bawa kita keluar dari sini,” kata Lucia,
“bawa Sers. Andre keluar dari sini karena dia membutuhkan bantuan yang tak bisa kita berikan; demi Tuhan, bawa saja semua keluar dari sini,”
“Baik, Mbak Lucia,” kata Reza.
“Bagus, berapa lama lagi alatnya selesai?” tanya Lucia.
“Jika dibantu, 15 menit lagi selesai,” kata Reza.
“Oke, kelasi Tito, kamu bantu Reza, lakukan apa yang dia katakan,” kata Laksma. Mahan.
“Siap, Pak,” kata Kel. Tito.
Walau tak sepiawai Sers. Andre, tapi bantuan dari Kel. Tito cukup bagi Reza untuk bisa menyelesaikan alat pengganti kunci sonarnya, dan tepat setelah 15 menit berlalu, Reza memperlihatkan sebuah alat buatannya sendiri yang seperti mikrofon, tetapi tersambung langsung dengan sonar. Dia memberikan alat itu kepada Lucia.
“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Lucia.
“Secara prinsipnya, Mbak Lucia tinggal bicara di sini, lebih tepatnya menyanyi,” kata Reza,
“kami, aku dan Sers. Andre, memprediksi kalau ada orang dengan timbre yang tepat menyanyikan lagu ‘Silent Night’, kunci sonar akan otomatis terbuka, karena kunci sonar ini 100% mengenali suara,”
“Semudah itu?” tanya Lucia.
“Kita coba saja, sudah sejauh ini, toh tidak ada ruginya,” kata Reza.
“Terima kasih, Reza,” kata Lucia sambil tersenyum dan menepuk pundak Reza.
Reza hanya tersenyum balik sambil menarik napas lega. Bagiannya kini sudah selesai, dan semoga saja perkiraannya dan Sers. Andre benar.
“Ini saat penentuan, Nn. Lucia,” kata Laksma. Mahan.
“Aku tahu, Laksamana,” kata Lucia,
“jadi, Reza, pakai lagu ‘Silent Night’ atau ‘Malam Kudus’?”
“Entahlah, sensornya hanya mengenali suara, bukan bahasa, jadi sepertinya versi yang mana saja bisa,” kata Reza.
“Ayo kita mulai,” kata Lucia.
Lucia mendekatkan mikrofon itu dan mulai menarik napas. Hal yang paling disyukuri sekaligus satu yang diherankan adalah bahwa suara Lucia masih belum berubah, padahal dalam keadaan yang mencekam seperti ini. Dia memejamkan mata dan menenangkan diri, sambil membayangkan bahwa suami dan anaknya akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Perlahan-lahan, lagu itu mulai berkumandang di dalam kepalanya, dan Lucia pun membuka mulutnya.
“Silent night, Holy night.
All is calm, all is bright.
Round you Virgin Mother and Child,
Holy Infant so tender and mild.
Sleep, in heavenly peace.
Sleep in heavenly peace.”
Begitu Lucia menyanyikan lagu itu, lampu indikator pada sensor sonar mendadak menyala, tanda bahwa sonar kini sudah aktif dan akan mengirimkan suara ke luar kapal selam.
“Berhasil!” kata Laksma. Mahan, “terus bernyanyi, Nn. Lucia!”
“Baik,” kata Lucia sambil tersenyum.
Nyanyian Lucia berikutnya pun berkumandang bagai gema di dasar laut, didengar oleh semua orang di dalam kapal selam itu. Tapi bagi mereka yang tidak tahu, lagu itu terdengar menakutkan karena mereka tak mengharapkan ada yang menyanyi pada kedalaman laut seperti ini. Tapi mereka bukan satu-satunya yang mendengar nyanyian itu.
Samudera Indonesia
12.36 WIB
H minus 22:23:00
Perwira sonar pada KRI Ternate pun terkejut luar biasa ketika menerima sonar yang memang tak biasa ini. Alih-alih bunyi “ping” yang sederhana, sonar ini berupa lagu “Silent Night”, atau yang di Indonesia dikenal sebagai lagu “Malam Kudus”. Bahkan awalnya, dia mengira ini adalah suara dari Nyai Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan. Tapi tentu saja baik Nyai Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan tak akan menyanyikan lagu “Malam Kudus”.
“Sumpah, baru pertama kali aku mendengar suara sonar semacam ini,” kata perwira sonar.
“Aku pernah,” kata Prita yang juga mendengarnya, karena sonar ini lalu dipasang ke pengeras suara.
Semua kini melihat pada Prita.
“Di mana?” tanya Kapt. Kadek.
“Tadi sewaktu kapal RFS Malatinsky melakukan pendugaan sonar,” kata Prita,
“aku mendengar bukan bunyi ‘ping’, melainkan sebuah lagu; ‘Kalinka’, lagu rakyat Russia,”
“Aku tidak mendengar apa-apa,” kata Kapt. Kadek.
“Aku sejak kecil sudah biasa bermusik dan bermain lagu, mungkin telingaku menjadi cukup peka untuk menangkap nadanya,” kata Prita,
“dan memang nada ini tersembunyi amat samar di tengah suara sonar,”
“Bila sonar RFS Malatinsky menggunakan lagu Kalinka,” kata Kapt. Kadek, “jangan-jangan lagu Malam Kudus ini adalah sonar dari...”
“Tak usah dikatakan lagi, Kapten,” celetuk Anton tiba-tiba,
“aku mengenali suara yang menyanyikan ini; itu suara istriku, Lucia masih hidup!”
Kegembiraan pun seketika itu pecah di KRI Ternate. Akhirnya setelah sekian lama, ada juga berita positif yang mengatakan bahwa pencarian mereka selama ini tidak sia-sia.
“Kapten, bukankah kata Kapitan Chugainov, dia butuh lebih lama...” kata Prita.
“Aku tahu, aku sedang coba menghubunginya, sekarang,” kata Kapt. Kadek,
“Kamerad Chugainov, apakah kau juga mendengarkan yang kami dengar ini?”
Agak terdengar bunyi derau radio sebelum akhirnya Kpt-1. Chugainov menjawab.
“Da, Kamerad Kapitan,” kata Kpt-1. Chugainov,
“Dr. Vorobyov sedang mensinkronisasi sinyalnya sekarang, perkiraannya mungkin 2 menit lagi bisa kita dapatkan lokasi tepatnya,”
“Baik, terima kasih, Kamerad Chugainov,” kata Kapt. Kadek,
“Kolonel Niken, Anda mendengar semuanya, bukan?”
“Ya, saya akan siapkan semua KRI untuk bersiap bertempur bila perlu,” kata Kol. Niken dari KRI Keumalahayati.
“Tunggu, siap tempur? Tapi kenapa?” tanya Anton.
“Mungkin bila Anda lupa, Tn. Anton, tapi beberapa perkiraan posisi KRI Antasena ada di dalam wilayah laut Australia,” kata Kapt. Kadek,
“dan kalau perlu, demi menyelamatkan mereka semua, kita akan merangsek masuk ke wilayah Australia,”
“Dan mengambil risiko perang?” tanya Anton.
“Aku kira Australia tahu apa yang kita lakukan di sini,” kata Kapt. Kadek,
“dan bila mereka masih memiliki hati nurani atau rasa kemanusiaan, mereka pasti akan mengizinkan kita untuk lewat,”
“Kecuali bila mereka mengincar juga kapal selam itu,” kata Anton.
“Nah, ada gunanya juga KRI Keumalahayati dan KRI I Gusti Ktut Jelantik ada di sini, bukan?” kata Kapt. Kadek sambil tersenyum.
Anton hanya tersenyum pahit saja.
“Kita akan selamatkan mereka, Tn. Anton,” kata Kapt. Kadek sambil menepuk pundak Anton,
“walau itu adalah hal terakhir yang akan kita lakukan,”
Suara nyanyian Lucia itu tak hanya didengar oleh KRI Ternate dan kawan-kawannya, melainkan sampai pula di telinga seberang. Lt.Com. McGraw dari HMAS Amphitrite pun terkejut mendengar ada lagu aneh dari dalam lautan.
“Sepertinya itu target kita, Commander,” kata perwira sonar.
“Bisa kau triangulasi-kan posisinya?” tanya Lt.Com. McGraw.
“Aku bisa konfigurasi ulang sistem ARGUS untuk mengisolasi sinyalnya, tapi akan makan banyak waktu,” kata perwira sonar.
“Commodore, mohon perintah, Pak,” kata Lt.Com. McGraw kepada Cdr. van Huydt.
Tapi yang ditanyai, Cdr. van Huydt tampak duduk dengan lemas dan mata terpejam.
“Commodore, Sir?” tanya Lt.Com. McGraw lagi.
Belum ada reaksi dari Cdr. van Huydt. Tapi dia masih sadar, dan entah kenapa Lt.Com. McGraw merasa bahwa ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh perwira atasannya ini. Sesuatu yang sepertinya sudah lama dia tahan dan kini kekuatan untuk menahannya sudah habis.
“Bagaimana, Commander?” tanya perwira sonar memohon petunjuk dari Lt.Com. McGraw.
“Lakukan sebisamu, dan perhatikan gerakan dari Armada Indonesia,” kata Lt.Com. McGraw.
“Apakah Commodore baik-baik saja?” tanya perwira sonar.
“Ya, aku yakin dia baik-baik saja,” kata Lt.Com. McGraw,
“kerjakan perintahku, Pelaut,”
Perwira sonar segera berusaha untuk mengonfigurasi ulang sensor ARGUS supaya bisa menangkap lokasi pemancar dari lagu misterius itu. Tapi entah bagaimana dia tahu tindakannya sia-sia. Tak mungkin bagi sensor ARGUS untuk bisa menangkap sinyal dari pemancar Rusal’ka, setidaknya tidak dalam waktu sesingkat ini.
Melihat gelagat dari Cdr. van Huydt, Lt.Com. McGraw segera beringsut ke sebuah sudut ruangan di mana di situ ada sebuah kompartemen kecil untuk menyimpan dua pucuk pistol jenis Glock-17. Lt.Com. McGraw membuka kompartemen itu tanpa sepengetahuan yang lain, kemudian mengambil sepucuk Glock yang sedari awal memang sudah terisi penuh. Dalam hatinya, bagaimana pun juga, Lt.Com. McGraw berharap dia tak harus memakai pistol itu.
Suasana di sisi Indonesia semakin riuh, dan untuk pertama kalinya prospek menemukan KRI Antasena mendadak menjadi terang benderang, dan perintah untuk persiapan operasi SAR dan evakuasi pun sudah diturunkan. DSRV yang berada di atas KRI Ternate tengah dipanaskan mesinnya, dan tak jauh dari sana, awak kapal RFS Malatinsky pun tengah mempersiapkan DSRV mereka sendiri. Dengan adanya dua DSRV yang operasional, maka tindakan penyelamatan diharapkan akan berlangsung lebih cepat.
“Kamerad Kadek, kami sudah berhasil mengunci sinyal dari kapal selammu,” kata Kpt-1. Chugainov.
“Diterima, bagaimana posisinya?” tanya Kapt. Kadek,
“apa ini berita bagus atau berita buruk?”
“Bisa bagus, bisa juga buruk,” kata Kpt-1. Chugainov.
“Bicaralah lebih jelas,” kata Kapt. Kadek.
“Kami yakin bahwa posisi nomor 11 yang telah kita tandai sebelumnya adalah asal dari sonar kapal selammu, algoritmanya 100% untuk posisi itu, begitu pula dengan triangulasi manual,” kata Kpt-1. Chugainov,
“masalahnya, posisi nomor 11 itu dekat sekali dengan perbatasanmu dengan Australia,”
Kapt. Kadek segera mengalihkan pandangan pada monitor yang menunjukkan perkiraan lokasi terakhir kapal KRI Antasena. Benar saja kata Kpt-1. Chugainov, posisi yang disebut sebagai “nomor 11” itu sekalipun masih berada di wilayah Indonesia, tapi dekat sekali dengan batas perairan dengan Australia. Kapt. Kadek pun berpikir dengan keras menghadapi situasi yang agak pelik ini.
“Dalam posisi seperti ini, untuk bisa melakukan penyelamatan secara efektif, maka salah satu kapal...” kata Kpt-1. Chugainov.
“Harus masuk ke wilayah Australia, aku tahu,” kata Kapt. Kadek.
“Begitulah, dan mengingat yang terjadi belum lama berselang...” kata Kpt-1. Chugainov.
Kata-katanya sengaja tidak diteruskan, tapi Kapt. Kadek tahu bahwa Kpt-1. Chugainov membicarakan soal tragedi Blue Sky. Bila kapal Indonesia atau Russia benar-benar masuk ke wilayah Australia, apakah Armada Australia yang telah berjaga di sana akan diam begitu saja?
“Kalau memang harus masuk ke wilayah Australia untuk menyelamatkan mereka, maka itulah yang akan kita lakukan,” kata Kapt. Kadek,
“dan kali ini kita akan masuk dengan jantan, membiarkan mereka tahu apa tujuan kita dan mengapa kita harus masuk,”
“Baiklah, Kamerad, aku akan siap dengan komando darimu,” kata Kpt-1. Chugainov.
“Terima kasih, Kamerad Kapitan,” kata Kpt. Kadek.
Seusai bicara dengan Kpt-1. Chugainov, Kapt. Kadek menghela napas panjang kemudian duduk di kursi komandonya. Seorang ABK dengan segera melapor ke hadapannya, mengatakan bahwa semua persiapan untuk penyelaman laut dalam sudah selesai dan kini para awak menunggu perintah selanjutnya.
Kapt. Kadek merenung sejenak. Hal ini sudah dipikirkannya dari semenjak sebelum sinyal ini keluar. Sekaranglah saatnya untuk mengambil sebuah keputusan yang amat sulit, tetapi memang harus diambil karena inilah misi sejati mereka berada di sini. Bukan untuk memburu musuh, melainkan menyelamatkan nyawa; misi mulia atas nama kemanusiaan dan juga persaudaraan sesama prajurit.
Dia lalu meraih mikrofon supaya kata-kata yang akan dia ucapkan bisa terdengar tak hanya di seluruh kapal KRI Ternate, melainkan juga di seluruh Armada pada sisi tersebut.
“Saudara-saudara, kini kita telah sampai pada tahapan akhir pencarian kita; Kawan Russia kita sudah berhasil mengonfirmasikan bahwa sasaran kita, KRI Antasena telah berhasil ditemukan,” kata Kapt. Kadek.
Sontak keriuhan dan sorakan pun pecah membahana di semua kapal. Bahkan ada beberapa orang yang menangis dan bersujud syukur karena setelah berhari-hari pencarian yang seolah mematahkan harapan, KRI Antasena akhirnya ditemukan. Di mana-mana, tepuk tangan dan orang-orang berpelukan pun jamak terlihat. Kapt. Kadek menunggu hingga suasana lebih tenang sebelum akhirnya meneruskan perkataannya.
“Tapi pekerjaan kita belum selesai, dan masih ada satu hal terakhir, hal besar yang harus kita lakukan sebelum kita bisa pulang dengan membawa serta saudara-saudara kita di KRI Antasena; kita harus turun ke sana dan menyelamatkan mereka, dan untuk melakukan itu terlebih dulu kita harus menunjukkan sekali lagi sebuah keberanian, karena KRI Antasena ditemukan dekat sekali dengan perbatasan Australia, maka mau tak mau, kita harus masuk ke wilayah Australia,”
Keriuhan pun berubah 180 derajat dan kini semua orang mendengarkan dengan saksama.
“Kuharap keberanian dan rasa persaudaraan kita bisa membawa kita untuk tetap tabah menjalani tantangan terakhir ini, tapi bukan hanya itu; kuharap kedua hal tadi juga mampu menggugah hati nurani mereka yang di seberang kita supaya bisa mengambil tindakan yang benar; kita tak ingin bertempur, tapi kita siap bertempur, tapi terutama adalah tujuan kita kemari adalah untuk menyelamatkan nyawa, bukan mengambil nyawa, dan dengan risiko apa pun, kita akan melakukannya; demi keringat di dahi kita, kekuatan di punggung kita, dan keberanian di hati kita,”
Semua orang tampak menganggukkan kepala mereka dengan penuh tekad. Prita tampak tersenyum dan dia menggenggam tangan Anton. Kenangan beberapa tahun lalu di Selat Ombai tergambar kembali di pikirannya, tapi tak ada trauma, hanya kebanggan luar biasa yang muncul.
“Gentlemen,” kata Kapt. Kadek dengan suara mantap,
“hoist the colour!”
“Aye!” teriak Anton,
“hoist the colour!”
“Hoist the colour!” tukas Prita.
Bosun kapal KRI Ternate pun mengulangi teriakan “hoist the colour” tersebut dan seorang awak kapal berlari sambil meneriakkan “hoist the colour” supaya semua orang mendengarnya. Dan bukan hanya KRI Ternate saja yang mengulangi teriakan itu.
“Hoist the colour!” kata Kol. Niken dari KRI Keumalahayati.
“Podnyat’ znamnya!” teriak Kpt-1. Chugainov dari RFS Malatinsky.
Teriakan “hoist the colour” pun sambung menyambung terdengar dari semua kapal bersamaan dengan peluit masing-masing bosun yang menjerit bertalu-talu dan para awak kapal segera buru-buru tergopoh-gopoh bersiap ke posisi mereka masing-masing. Ular-ular perang TNI-AL berupa bendera 9 strip selang-seling merah putih, panji dari Angkatan Laut Majapahit ratusan tahun lalu pun dinaikkan pada tiang bendera di haluan. Sementara, lain dari tradisi biasanya, bendera merah putih berukuran raksasa dinaikkan pada main-mast KRI Ternate, angin laut yang menghembus membuat bendera itu berkibar dengan gagahnya. Tak ketinggalan pula ular-ular perang bendera Salib St. Andrews warna biru di atas dasar putih dikibarkan bersama-sama bendera Republik Federasi Russia baik pada kapal RFS Malatinsky maupun RFS Andrei Nikolov. Semua orang menghormat ketika bendera nasional masing-masing mulai dikibarkan. Dan tak lama kemudian, semua kapal sudah mengibarkan bendera-bendera dan ular-ular perang mereka, bagaikan parade bendera di lautan lepas. Kapt. Kadek berdiri tegap pada teras anjungan sembari menatap ke arah selatan. Saatnya perang urat saraf-nya selama ini dengan sang komodor Australia, Leslie van Huydt untuk dituntaskan
Lt.Com McGraw di HMAS Amphitrite terus melihat ke arah sisi Armada Indonesia dengan perasaan waswas. Parade bendera di sisi seberang sana bagi Lt.Com McGraw terasa amat mengancam, membuat suasana menjadi amat sesak baginya. Belum pernah terpikir olehnya sebelumnya untuk bisa berada dalam situasi semacam ini, di ambang peperangan dengan perwira atasannya, Cdr. Leslie van Huydt masih berdiam di kursinya seolah merenung. Saat itulah dia merasa pistol Glock-17 yang dikantonginya memanas seolah meminta untuk segera dikeluarkan. Dan dalam keadaan seperti ini, cepat atau lambat pistol itu pasti akan segera keluar, itu pun bila Lt.Com McGraw sudah kehabisan pilihan lain.
“Commander, kami mendapatkan transmisi dari pihak Indonesia,” kata perwira radio tiba-tiba.
“Untuk urusan apa?” tanya Lt.Com McGraw.
“Mungkin semacam meminta parlay,” kata perwira radio.
“Perdengarkan,” kata Lt.Com McGraw.
“Siap, Pak,” kata perwira radio.
Perwira radio segera mengubah transmisi itu ke pengeras suara kecil yang ada di radio. Sesaat kemudian, terdengarlah suara Kapt. Kadek.
“Komandan dari Armada Australia, kami dalam misi kemanusiaan untuk menyelamatkan rekan-rekan kami yang terjebak dalam kapal selam rusak yang kini terbawa arus hingga mendekati wilayah Australia. Untuk tujuan itu, kami akan masuk ke dalam wilayah Australia demi pelaksanaan operasi penyelamatan; mohon saudara bisa mengerti; kami tak berniat untuk bermusuhan atau membuka peperangan,”
“Commodore, berikan perintah,” kata Lt.Com McGraw pada Cdr. Leslie van Huydt.
Tapi Cdr. van Huydt masih saja terdiam dan tidak berbicara, dan kepalanya masih tertunduk dengan ekspresinya masih tengah memikirkan sesuatu yang teramat berat.
“Commodore, kumohon padamu, berikan perintah,” kata Lt.Com McGraw mengulangi permintaannya.
Tapi sekali lagi, Cdr. van Huydt tetap bergeming dan tak memberi reaksi apa pun.
“Baiklah jika begitu,” kata Lt.Com McGraw sambil mengangguk kecil.
“Sekali lagi kami mohon saudara bisa mengerti dan mengizinkan kami melakukan misi kami,” kata Kapt. Kadek dari radio.
“Negatif, Komandan,” jawab Lt.Com McGraw,
“kalian tidak boleh masuk seinci-pun ke wilayah Australia,”
“Saudara Komandan, kami tak berniat untuk bermusuhan dan kami jamin kami tak akan melakukan tindakan apa pun yang membahayakan keselamatan dari Armada milik saudara,” kata Kapt. Kadek,
“kami hanya ingin diberikan waktu dan ruang untuk melaksanakan misi kami, dan kalian boleh mengawasi bila mau untuk memastikan bahwa kami tak melakukan lebih dari yang kami katakan,”
“Negatif, Komandan, kuulangi sekali lagi, kalian tidak boleh melewati perbatasan Australia,” kata Lt.Com McGraw,
“dan atas perintah langsung dari komando tertinggi AL Australia, bila kalian nekat untuk masuk, kalian akan ditembak,”
“Komandan, kumohon, kami tak punya banyak waktu dan kami pun mendapatkan perintah langsung pula untuk melakukan misi penyelamatan ini dan bukan yang lain,” kata Kapt. Kadek, “andai ada cara lain yang lebih nyaman bagi kita, tapi untuk saat ini kami tak punya jalan lain selain harus memasuki wilayah Australia, jadi kami mohon pengertian dari rekan Armada Australia,”
“Kutegaskan sekali lagi, selangkah saja kalian memasuki wilayah Australia, kalian akan ditembak,” kata Lt.Com McGraw.
“Maaf, Komandan, tapi sekali lagi kutegaskan juga, kami sudah mendapat perintah langsung dari Presiden kami, dan semua tindakan bermusuhan dari Armada Australia atas Armada kami dalam pelaksanaan misi penyelamatan ini akan dan bisa dianggap sebagai pernyataan perang,” kata Kapt. Kadek,
“sekali lagi maaf, tapi kami harus masuk,”
“Bila kalian masih nekat masuk, kami akan...” kata Lt.Com McGraw.
“Biarkan mereka masuk, Mr. McGraw,” kata Cdr. Leslie van Huydt tiba-tiba.
Lt.Com McGraw terkejut dan kini mendapati bahwa Cdr. van Huydt sudah berdiri sambil menatap ke arahnya. Dia berdiri dengan tegap, namun siapa pun bisa melihat bahwa raut mukanya sudah tak menunjukkan semangat yang sama seperti sebelum dia “menyepi”. Penolakan ini membuat semua orang menjadi bingung luar biasa.
“Commodore, Sir?” tanya Lt.Com McGraw.
“Biarkan mereka masuk, Commander,” kata Cdr. van Huydt dengan nada menghiba.
“Tapi kita sudah mendapatkan perintah, Pak,” kata Lt.Com McGraw.
“Aku tahu,” kata Cdr. van Huydt,
“tapi ada kalanya kita harus mengedepankan pikiran waras kita di atas segala sesuatu,”
“Jelaskan padaku, Pak,” kata Lt.Com McGraw dengan nada menyelidik.
Cdr. van Huydt menarik napas sejenak kemudian melayangkan pandangannya ke arah laut. Ada sesuatu yang luar biasa dari laut itu yang kini seolah menyerap habis semua kegalauan yang tadi dia rasakan.
“Aku pertama kali mendengar lagu ‘Silent Night’ saat masih kecil, ya, mungkin kita semua begitu,” kata Cdr. van Huydt, “kita mendengar lagu itu setiap tahun, kebanyakan saat Natal, dan setiap kali mendengar lagu itu, aku selalu teringat dengan keluargaku di rumah, Natal yang tak pernah kami lewatkan sekali pun di kampung halamanku di Cairns; tak ada salju di sana seperti dalam lagu-lagu atau dongeng, tapi itu adalah Natal yang indah dan khidmat,”
Cdr. van Huydt menarik napas panjang, dan terduduk sambil melepas topinya.
“Semua terasa indah saat itu, sebelum aku mengenal yang namanya perang dan pembunuhan, juga perintah-perintah berengsek yang selama ini telah kulaksanakan atas nama Raja dan Negara; sebagian baik dan aku melihat tujuan mulia di baliknya, tapi rata-rata yang kudapatkan selalu saja perintah berengsek yang seolah dibuat oleh seorang pemabuk tidak waras yang telah lama menghuni rumah sakit jiwa tanpa prospek untuk bisa sembuh, dan mulai sejak itu aku tak pernah menjalani Natal dengan sama lagi,” kata Cdr. van Huydt.
“Lalu apa hubungannya dengan lagu putri duyung ini, Pak?” tanya Lt.Com McGraw,
“aku tak melihat ada hubungan apa pun; kita semua berubah semenjak kita memasuki dunia ini, semenjak kita menembakkan peluru pertama kita, dan merenggut nyawa pertama kita,”
“Ya, aku tahu kita semua berubah setelah kita terjun di bisnis ini; tapi aku takut bahwa aku telah berubah cukup banyak sehingga membuatku tak bisa lagi mengenali diriku sendiri,” kata Cdr. van Huydt, “tapi lagu itu membuatku teringat akan masa-masa lalu, masa di mana aku belum berubah, kurasa kita semua begitu; dan itu membuatku memikirkan kembali bahwa betapa salahnya perintah ini,”
“Itu semua hanya karena sebuah lagu putri duyung?” tanya Lt.Com McGraw,
“dan kau kini menjadi lemah saat musuh akan menghampiri kita?”
“Ini bukan kelemahan, Mr. McGraw,” kata Cdr. van Huydt,
“kita sedang digiring menuju awal terjadinya sebuah Perang Dunia; aku tak tahu siapa yang melakukan atau untuk tujuan apa, tapi aku hanya tahu bahwa ini tidak bisa kita biarkan,”
“Tugas kita bukanlah untuk bertanya alasannya, tapi untuk berjuang dan mati,” kata Lt.Com McGraw.
“Dalam kesempatan-kesempatan lalu, aku akan setuju dengan kata-kata Lord Tennyson itu, tapi tak ada kehormatan dalam kematian ini, Commander,” kata Cdr. van Huydt,
“karena kematian kita akan membuka jalan pada kematian lebih banyak orang lagi, bukan menutupnya; seharusnya kita mati supaya tak ada lagi orang yang mati sesudah kita,”
Lt.Com McGraw menatap Cdr. van Huydt dengan tatapan mata tajam dan membara, namun hanya kilauan sayu meski berwibawa yang bisa dibalas oleh Cdr. van Huydt. Sedari awal dia sudah tahu bahwa perwira mudanya ini adalah bagaikan kuda jantan muda yang penuh energi muda yang meluap-luap; liar dan pemberani, tapi kurang pertimbangan akan kebijaksanaan.
“Sir, mereka sudah mulai bergerak maju, tiga kapal, dua kapal Indonesia dan satu kapal Russia,” kata perwira radar.
Kedua orang itu melihat ke arah yang sama, dan tampaklah benar ada tiga kapal yang mulai maju. Dari Indonesia, ketiga kapal itu adalah KRI Ternate dan KRI Keumalahayati, sementara dari Russia adalah RFS Malatinsky. Dari ketiga kapal ini, memang hanya kapal Udaloy II milik Russia inilah yang benar-benar tampak mengancam akibat persenjataannya yang dipasang dan tampak jelas oleh mata.
“Ada satu kapal lagi mengikuti mereka,” kata perwira radar,
“jaraknya tertinggal 100 meter di belakang,”
Satu kapal yang dimaksud adalah KRI I Gusti Ktut Jelantik.
“Perintah, Pak?” tanya perwira senjata,
“haruskah kita menyiapkan solusi penembakan?”
“Tidak, biarkan saja mereka...” kata Cdr. van Huydt.
“Aku tidak bisa membiarkanmu memberikan perintah itu, Commodore,” potong Lt.Com McGraw.
Sontak semua di anjungan HMAS Amphitrite langsung gempar karena sambil berkata seperti itu, Lt.Com McGraw sudah menodongkan pistol Glock-17 yang tadi dibawanya ke arah Cdr. van Huydt. Jelas hal ini membuat semua orang jadi bingung.
“McGraw, jangan lakukan tindakan bodoh,” kata Cdr. van Huydt mencoba tetap tenang.
“Aku tidak bodoh, Commodore,” kata Lt.Com McGraw,
“aku melepaskanmu dari komando Armada ini atas pelanggaran perintah langsung dari Admiralty, Cdr. van Huydt,”
“Ini gila!” kata Cdr. van Huydt, “ini pemberontakan!”
“Kau yang memberontak karena menyimpang dari perintah utama kita, Commodore,” kata Lt.Com McGraw.
“Itu perintah utama yang kaputt!” kata Cdr. van Huydt,
“absurd dan tidak ada manfaat apa-apa; hanya orang tak waras yang bisa memberi perintah semacam itu,”
“Dan kau sendiri belum lama ini berkata bahwa segila apa pun perintah itu, tugas kita sebagai anggota Royal Australian Navy adalah untuk menurutinya,” kata Lt.Com McGraw.
Semua orang sudah berdiri, tapi tak ada yang bergerak. Dalam satu hal, apa yang dikatakan oleh Lt.Com McGraw memang sangat masuk akal. Semua sudah tahu apa perintahnya, dan Cdr. van Huydt jelas-jelas telah melanggar perintah yang merupakan pembangkangan tingkat wahid. Tapi di sisi lain, Cdr. van Huydt pun benar, karena semua tahu hal apa yang akan terjadi bila perintah utama itu dilaksanakan, jadi menyabot perintah tampak menjadi pilihan paling waras. Pertanyaannya, siapa sekarang yang harus mereka bela, apakah Lt.Com McGraw, atau Cdr. Leslie van Huydt? Saat ini siapa yang sebenarnya tengah memberontak?
Private Wilkins dan Private Jonessy, tahan segera Pak Commodore di ruangannya,” kata Lt.Com McGraw.
Kedua prajurit yang dimaksud, sama-sama berposisi sebagai CPM di kapal itu juga tampak kebingungan dan belum tahu siapa yang harus mereka pilih.
“Private Wilkins dan Private Jonessy, lakukan perintahku sekarang!” kata Lt.Com McGraw.
“Tetap di tempat kalian dan gunakan akal sehat kalian untuk berpikir, Privates!” kata Cdr. van Huydt.
Baik Pvt. Wilkins dan Pvt. Jonessy pun masih belum bergerak. Dan kegelisahan mulai melanda seluruh kru di anjungan. Cdr. van Huydt pun menatap Lt.Com McGraw dengan tanpa rasa gentar sedikit pun di mukanya.
“Bagaimana jadinya sekarang?” tanya Cdr. van Huydt.
“Kalian semua tahu prosedurnya, dan dalam keadaan seperti ini, kalian tahu siapa yang memegang komando,” kata Lt.Com McGraw,
“kalian semuanya!”
Lt.Com McGraw lalu menurunkan pistolnya, meski tetap dalam keadaan siaga.
“Aku mengambil alih komando bukan karena pistol ini, tapi karena posisiku adalah benar,” kata Lt.Com McGraw.
“Memang, menurut buku aturan,” kata Cdr. van Huydt.
“Jadi menyerahlah sekarang,” kata Lt.Com McGraw.
“Tidak, bila aku menyerah, kau akan menembak Armada Indonesia dan merisikokan terjadinya Perang Dunia Ketiga,” kata Cdr. van Huydt.
“Komando tertinggi, aku yakin tahu apa yang mereka lakukan dengan memerintahkan hal ini,” kata Lt.Com van Huydt.
“Ya, begitu pula pendapat Fiedl-Marshall von Paulus saat Hitler memberinya perintah untuk terus bertahan di Stalingrad,” kata Cdr. van Huydt,
“dan dia baru tahu seberapa salahnya perintah itu setelah Chuikov mengepung seluruh Stalingrad hingga dia tak bisa lari ke mana-mana dan tak punya pilihan selain mati atau menyerah,”
“Ini bukan Stalingrad, kau bukan von Paulus, dan yang memberi kita perintah bukan Hitler,” kata Lt.Com McGraw,
“perwira senjata, segera siapkan solusi penembakan, incar kapal Russia itu terlebih dahulu dan tembak begitu salah satu kapal mulai masuk ke wilayah kita,”
“Jangan lakukan itu, Nak!” perintah Cdr. van Huydt.
Kali ini berganti perwira senjata yang pucat pasi, tak tahu harus memilih siapa.
“Mereka semakin mendekat, Pak,” kata perwira radar.
“Waktu semakin sempit, tentukan pilihan sekarang,” kata Lt.Com McGraw,
“tapi siapapun yang mendukung Commodore, akan kurekomendasikan untuk di-mahmil-kan sepulangnya kita nanti, itu bila mereka tak menghancurkan kita terlebih dulu karena Commodore terlalu lembek dalam bertindak; sekarang beri aku solusi penembakan itu!”
Perwira senjata dengan gugup mengangguk, kemudian dia duduk dan segera menyalakan beberapa sensor pada panelnya. Cdr. van Huydt tampak menggelengkan kepala dan mendesah berat dengan nada kecewa. Tapi dia memahami alasan perwira senjata berbuat seperti itu.
“Solusi penembakan sudah siap, Pak,” kata perwira senjata.
“Baiklah, kini kalian tahu siapa yang harus dituruti,” kata Lt.Com McGraw,
“sekarang tahan Pak Commodore, bila dia tak mau ke ruangannya, biarkan dia tetap di sini tapi dia kini sebagai persona-non-grata,”
“Siap, Pak!” kata Pvt. Wilkins dan Pvt. Jonessy sekaligus.
“Tidak!” teriak perwira sonar sambil mencoba menghalangi kedua CPM untuk melaksanakan tugasnya.
“Kau mau membangkang juga, Pelaut?” tanya Lt.Com McGraw.
“Pak, kumohon, ini tidak benar; aku berasal dari Port Darwin, semua keluargaku ada di sana,” kata perwira sonar,
“bila terjadi perang dengan Indonesia, Port Darwin pasti akan jadi sasaran pertama, dan aku tak mau keluargaku kenapa-kenapa,”
“Minggirlah,” kata Lt.Com McGraw.
“Tidak, Pak, sekalian saja tahan dan mahmil-kan aku,” kata perwira sonar,
“tapi aku tak akan berpartisipasi dalam kegilaan ini,”
“Aku juga, Pak,” kata perwira navigasi.
“Kalau kau ingin menahan Commodore, kau harus melewatiku dulu, Pak,” kata perwira mesin.
Entah terinspirasi oleh keberanian perwira sonar dan perwira navigasi atau karena memang sudah tak tahan lagi, beberapa ABK yang ada di anjungan pun turut pasang badan membentengi Cdr. van Huydt, bahkan bosun dari kapal pun ikut pula dalam pemberontakan kecil itu. Tentu saja ini membuat para CPM kebingungan, karena mereka hanya berdua sementara yang dihadapi adalah banyak orang.
Tapi rupanya tak hanya ada pendukung dari Cdr. van Huydt. Beberapa orang, meski dalam jumlah lebih sedikit, namun masih tergolong banyak, berada di belakang Lt.Com McGraw. Situasi ini memang membingungkan, tapi semua tahu bahwa mereka harus berpihak pada salah satu orang. Keadaan di anjungan pun mulai memanas dan satu gesekan kecil saja akan cukup membuat semua orang di sini saling berkelahi.
“Jadi bagaimana, Commodore? Apa kita akan bertempur di sini sebagaimana para pelaut dan perompak di masa lalu?” tanya Lt.Com McGraw.
Cdr. van Huydt hanya menghela napas panjang saja. Keadaan ini memang rumit, tapi baginya amat jelas bahwa pemecahannya hanya satu.
“Semuanya hentikan dan turuti perintah Commander McGraw,” kata Cdr. van Huydt.
Perintah ini tentu saja mengejutkan semua yang membentengi Cdr. van Huydt, bahkan Lt.Com McGraw sendiri pun terkejut mendengarnya.
“Tapi, Pak Commodore...” kata perwira sonar.
“Bila kau masih sebagai anggota angkatan laut Australia, turuti Lt.Com McGraw segera,” kata Cdr. van Huydt,
“secara prosedural dia memang benar,”
“Dia memang benar secara prosedural, Pak, tapi kau benar secara nurani,” kata perwira sonar.
“Nurani adalah kemewahan yang sulit dimiliki oleh seorang prajurit, tidak dengan tangan yang terus menerus dikotori oleh darah,” kata Cdr. van Huydt,
“tapi di sini kita diukur dari seberapa baik kita akan memenuhi perintah, bukan untuk mengedepankan apa yang menurut hati kita benar,”
“Tapi, Pak...” kata perwira sonar.
“Aku memilih mengikuti nuraniku, Prajurit, dan untuk itu aku siap menerima konsekuensinya; bila itu membuatku tak bisa menjadi prajurit yang layak, maka biarlah,” kata Cdr. van Huydt,
“tapi aku tak bisa mengajak kalian untuk turut serta bersamaku; segala konsekuensi atas tindakanku akan kutanggung sendiri,”
Semua orang tampak lunglai dan dengan ogah-ogahan melihat ke arah pemimpin mereka. Bila berkenan, tentu Cdr. van Huydt bisa menegakkan kembali perintahnya walau secara paksa, dia memiliki pendukung untuk itu. Namun rasa kepemimpinan dan tanggung jawab Cdr. van Huydt membuatnya tidak bisa melakukan itu. Setiap awak kapal pada dasarnya adalah bersaudara, sehingga pemberontakan pada sebuah kapal bisa dikategorikan sebagai perang saudara; dan menumpahkan darah saudara sendiri bukanlah gaya dari Cdr. van Huydt.
“Commander, kuserahkan semua padamu,” kata Cdr. van Huydt,
“tahan aku, seret aku ke mahkamah militer atas perbuatanku ini, tapi tolong maafkan semua orang ini,”
Lt.Com McGraw mengangguk saja.
“Terima kasih, Commodore,” kata Lt.Com McGraw,
“aku berjanji tak akan ada satu orang pun selain Anda yang akan dihukum oleh mahkamah militer AL; dan aku juga akan berusaha bersaksi untuk meringankan Anda nanti,”
“Aku menghargainya, Commander, tapi terima kasih; izinkan aku menanggung semuanya sendiri,” kata Cdr. van Huydt,
“tolong lakukanlah yang terbaik; bila pun nanti pecah perang, usahakan bawa semua orang keluar dari sini dengan selamat untuk bisa bertempur lagi di kemudian hari,”
Lt.Com McGraw bergetar hatinya mendengar kata-kata Cdr. van Huydt ini.
“Attention!” perintah Lt.Com McGraw.
Dengan segera, dia pun memberikan hormat kepada Cdr. van Huydt. Semua yang melihat tatapan mata dari Lt.Com McGraw segera tahu bahwa hormat ini adalah hormat yang tulus, bukan sekadar basa-basi kepangkatan. Semua orang pun mengikuti untuk hormat kepada Cdr. van Huydt, yang dibalas secara singkat saja oleh sang Commodore.
“Private, tolong jaga Commodore di sini,” kata Lt.Com McGraw kepada kedua CPM segera setelah selesai menghormat.
“Siap, Pak,” kata Pvt. Wilkins dan Pvt. Jonessy.
“Semua kembali ke stasiun masing-masing!” kata Lt.Com McGraw.
“Siap!” balas semua orang yang langsung membubarkan diri.
“Sudah sampai mana gerak keempat kapal itu?” tanya Lt.Com McGraw.
“Mendekati garis batas, 5 mil lagi,” kata perwira radar.
“Baiklah, persiapkan semua senjata, dan jangan menembak kecuali benar-benar perlu,” kata Lt.Com McGraw,
“kita akan lakukan ini sesuai dengan prosedur, jangan sampai nanti pihak Indonesia menganggap kita menembak secara semena-mena sebagaimana yang telah mereka lakukan tadi; sebagai AL Australia, kita harus bertempur secara terhormat meski lawan kita tak melakukan yang kita lakukan,”
“Siap, Pak,” kata perwira senjata.
Tanpa diketahui oleh awak yang lain, Lt.Com McGraw menoleh ke arah Cdr. van Huydt, yang dibalas oleh sang Commodore dengan anggukan ringan setengah hati. Bagaimana tidak setengah hati, di satu sisi Cdr. van Huydt tidak menginginkan perang dan tak menyetujui langkah Lt.Com McGraw ataupun perintah langsung dari Admiralty. Sementara di sisi lain, dia berbangga bahwa anak didiknya, Lt.Com McGraw berhasil menjadi yang terbaik dari yang bisa diharapkan oleh AL Australia. Meski begitu, Cdr. van Huydt melihat ada sebersit keraguan dalam sinar mata Lt.Com McGraw. Ya, walau akan tetap melaksanakan perintah, Lt.Com McGraw tak pernah berharap dia yang harus melaksanakan semua itu sendiri.
“Semua senjata siap?” tanya Lt.Com McGraw.
“Siap, Pak,” kata perwira senjata,
“menunggu perintah,”
“Harpoon di depan,” kata Lt.Com McGraw.
“Siap, mempersiapkan Harpoon,” kata perwira senjata.
“Siagakan semua CIWS dan bersiap untuk serangan balasan mereka,” kata Lt.Com McGraw.
“Semua CIWS siap, Pak,” kata perwira senjata.
“Bagus, berapa jarak kapal mereka?” tanya Lt.Com McGraw.
“4 mil dari perbatasan dan terus mendekat,” kata perwira radar.
“Tandai target,” kata Lt.Com McGraw.
“Siap, menandai target,” kata perwira senjata,
“empat kapal masuk dalam sasaran tembak,”
“Bagus, bila perang ini benar akan berlangsung, kita harus memukul mereka dengan keras dan cepat,” kata Lt.Com McGraw,
“semua yang maju adalah kapal-kapal perang terbaik mereka, dan jangan sia-siakan kesempatan untuk melenyapkan semua dalam sekali serang; baru kemudian kapal-kapal kecil itu akan mundur dan lari,”
Semua tampak tegang mendengar perkataan Lt.Com McGraw ini.
“Berikan radio,” kata Lt.Com McGraw,
“sambungkan ke seluruh Armada,”
Dengan segera perwira radio pun membuka saluran ke frekuensi yang akan didengar oleh Armada Australia.
“Captain Crawley dari HMAS Hera, masuk; ini Lt.Com McGraw dari HMAS Amphitrite,”
“Ini Capt. Crawley, silakan Commander,” kata Capt. Henry Crawley, kapten kapal HMAS Hera, sekaligus juga wakil komandan dari Cdr. van Huydt sebagai pimpinan flotilla ini.
“Capt. Crawley, Cdr. Leslie van Huydt sudah dibebastugaskan karena melanggar perintah utama, dan kini aku mengambil alih komando HMAS Amphitrite; itu artinya kau adalah pimpinan Armada untuk saat ini,” kata Lt.Com McGraw,
“apakah itu bisa dimengerti?”
Sejenak semua terdiam.
“Dimengerti dengan baik, Commander,” kata Capt. Crawley,
“apa kita masih akan sesuai dengan perintah utama?”
“Kau yang putuskan, Captain,” kata Lt.Com McGraw,
“tapi sebaiknya cepat, karena Armada mereka semakin mendekat,”
“Roger that, kita tetap pada perintah utama,” kata Capt. Crawley,
“aku akan membuat formasi untuk pertahanan,”
“Dan mohon izin untuk melakukan serangan pertama dari HMAS Amphitrite, Pak,” kata Lt.Com McGraw.
“Izin diberikan, Commander, kami akan memberi perlindungan,” kata Capt. Crawley.
“Terima kasih, Pak; McGraw over-and-out,” kata Lt.Com McGraw,
“sambungkan ke semua Armada termasuk Armada Indonesia,”
Kali ini perwira radio segera beralih ke frekuensi umum yang bisa didengar baik oleh Armada Indonesia maupun Armada Australia.
“Kepada Armada Indonesia, jangan mendekat,” kata Lt.Com McGraw,
“kuulangi lagi, jangan mendekat; segera putar haluan dan kembali ke tempat kalian,”
Tak ada tanggapan dari keempat kapal itu dan mereka terus saja melaju.
“Kuulangi, jangan mendekat; segera putar haluan dan kembali ke tempat kalian, atau kami akan menembak,” kata Lt.Com McGraw.
Kali ini ganti di pihak Australia yang merasa amat tegang. Dan tak ada perubahan haluan dari kapal-kapal yang mendekat ini.
“3 mil dan semakin mendekat, Pak,” kata perwira radar.
“Solusi penembakan,” kata Lt.Com McGraw.
“Solusi penembakan siap,” kata perwira senjata,
“kita akan menyerang keempat target sekaligus,”
“Hitung ulang jarak ke target, siapkan semua yang kita punya,” kata Lt.Com McGraw.
“Jarak ke target dihitung ulang, semua rudal sudah siap untuk diluncurkan,” kata perwira senjata.
“Pak, formasi perlindungan sudah diberikan oleh HMAS Hera,” kata perwira radar.
“Siap menembak dalam aba-abaku,” kata Lt.Com McGraw,
“berapa jarak mereka?”
“Mendekati 2 mil dan masih terus bergerak, Pak,” kata perwira radar.
“Semua senjata siap menembak atas perintahmu, Commander,” kata perwira senjata.
Perwira senjata kemudian membuka sebuah panel yang berisi beberapa tombol. Ada satu tombol merah besar di sana, dan Lt.Com McGraw menatap tombol merah itu dengan penuh kegamangan. Bila tombol ini ditekan, maka kejadian selanjutnya adalah peperangan yang tak akan bisa dihindarkan. Lt.Com McGraw pun kembali ke radio.
"Armada Indonesia, kuulangi, mundur dan putar haluan sekarang atau kami tembak," kata Lt.Com McGraw,
"ini adalah peringatan terakhir!"
Sementara itu, di sisi lain, KRI Ternate dengan diiringi KRI Keumalahayati dan kapal perusak Russia, RFS Malatinsky tak menghentikan lajunya. KRI I Gusti Ktut Jelantik pun turut juga di belakang ketiga kapal ini, perannya adalah memberikan perlindungan bilamana diperlukan. Peringatan-peringatan dari Lt.Com McGraw jelas didengar dengan baik oleh semua kapten kapal-kapal ini, tapi tetap saja mereka tak berhenti atau mengubah arah.
“Berapa jarak kita ke perbatasan?” tanya Kapt. Kadek.
“Masuk ke minus 2 mil, Pak,” kata perwira navigasi,
“baringan tetap?”
“Ya, baringan tetap,” kata Kapt. Kadek.
“Mungkin harus kuingatkan bahwa mereka mengunci kita, Pak,” kata perwira radar,
“tapi kurasa tak akan banyak pengaruhnya,”
“Memang tidak, kita tak akan mengubah haluan,” kata Kapt. Kadek,
“periksa kembali CIWS kita,”
“CIWS online, Pak,” kata perwira senjata.
“Semua ingat peran masing-masing; kita siap untuk berperang, tapi tidak sedang maju untuk berperang, camkan itu baik-baik,” kata Kapt. Kadek,
“dan cukup satu saja orang ceroboh yang jarinya gatal menekan pemicu rudal untuk hari ini,”
“Kujamin tak akan ada lagi anak buahku yang begitu, Kamerad Kapten,” kata Kpt-1. Chugainov.
“Bagus, jangan sampai terulang lagi, Kamerad Chugainov,” kata Kapt. Kadek,
“kali ini taruhannya lebih besar daripada yang tadi,”
“Da, saya mengerti,” kata Kpt-1. Chugainov.
Kapt. Kadek mengakhiri transmisi radionya, kemudian mendengus keras sebelum akhirnya menatap tajam ke arah musuh di depannya. Tak ada satu pun anak buah kapal yang berani bercanda atau tidak serius. Raut wajah dan pandangan mereka tampak amat tegang. Jaket pelampung pun dipasangkan kepada semua orang, termasuk Anton dan Prita. Dan sebagai seorang sipil yang terjebak pada keadaan seperti ini, jelas mereka yang paling ketakutan. Tapi berhubung soal ini bukan berada di bawah keputusan mereka, maka mereka pasrah saja.
Moril pasukan saat ini sedang tinggi di Armada Indonesia. Berita mengenai ditemukannya KRI Antasena, tujuan utama mereka saat datang kemari membuat semua orang bersemangat, apalagi dengan fakta bahwa KRI Antasena hingga saat ini masih hidup. Saat ini sepertinya tak ada orang yang peduli bahwa salah satu konsekuensi mereka masuk ke wilayah Australia adalah peperangan, terutama dengan Armada Australia bertindak sebagai anjing penjaga tepat di hadapan mereka. Dan kali ini Australia tampaknya tak akan lagi main-main.
Dari teropong, terlihat bahwa kapal-kapal perang Australia membentuk suatu formasi yang disebut sebagai “Porcupine” atau oleh AL Australia dinamakan “Great Barrier”. Ini adalah formasi yang cukup unik berupa sebuah kapal di tengah dikelilingi oleh kapal-kapal lainnya dalam jarak dan posisi sedemikian rupa sehingga masing-masing kapal akan dilindungi oleh minimal 3 CIWS dari kapal lain di sekitarnya. Tujuan formasi ini adalah untuk memaksimalkan rancang bangun kapal kelas Poseidon sekaligus meningkatkan efektivitas aplikasi sistem AEGIS sebagai sistem pertahanan udara dalam menangkal serangan rudal antikapal, terutama yang menyerang dari arah atas dan menukik. Semacam pengejawantahan dari formasi combat-box ciptaan Curtis LeMay untuk aplikasi di laut. Bagi Kapt. Kadek dan Kol. Niken, pembentukan formasi ini sendiri cukup menggentarkan, karena mereka pernah beberapa kali ikut dalam latihan perang bersama AL Australia dan melihat bagaimana formasi ini efektif menangkal 80% serangan rudal musuh, bahkan saat ditembakkan secara salvo. Bahkan Amerika Serikat pun ingin mengadopsi formasi ini untuk melindungi gugus tempur kapal induknya, tapi dengan elemen yang lebih kompleks karena tak seperti Australia, Amerika Serikat akan memakai beberapa jenis kapal sekaligus yang membuat perhitungannya menjadi lebih rumit.
“Itu formasi Great Barrier, Kolonel,” kata Kapt. Kadek,
“akan sulit menembusnya,”
“Incar kapal pada antara kuadran samping dan depan, sebelah kiri,” kata Kol. Niken,
“itu adalah kapal dalam formasi dengan perlindungan paling lemah, kita harus membuang 2 rudal untuk bisa menenggelamkannya, setelah itu baru kita serang kapal di tengah,”
“Apa rudal kita cukup untuk menenggelamkan semua kapal itu?” tanya Kapt. Kadek.
“Tidak, tidak dengan mereka membentuk formasi ini,” kata Kol. Niken,
“kita hanya perlu supaya mereka membubarkan diri setelah kapal-kapal mereka ada yang tenggelam,”
“Dan kalau mereka tidak membubarkan diri?” tanya Kapt. Kadek.
“Setidaknya kita sudah mencoba, Kapten,” kata Kol. Niken,
“dan apa pun yang terjadi, kita pun tak akan mundur,”
Kapt. Kadek mengangguk sejenak, kemudian dia mengarahkan radio kepada Kpt-1. Chugainov di RFS Malatinsky.
“Kamerad Kapitan, maaf sudah membuatmu ikut terlibat dalam kerumitan ini,” kata Kapt. Kadek,
“juga ke ambang peperangan,”
Hening sejenak sebelum akhirnya Kpt-1. Chugainov menjawab.
“Dulu sekali, pernah ada persekutuan antara Russia dengan Indonesia, dan kami datang untuk menghormati persekutuan lama itu,” kata Kpt-1. Chugainov pelan,
“kami bangga untuk bisa berperang bersama kamerad kami dari Indonesia sekali lagi,”
“Terima kasih, Kamerad Kapitan,” kata Kapt. Kadek tak bisa menahan rasa haru.
Suasana hening sejenak dengan suara kepakan bendera merah putih raksasa di KRI Ternate sampai terdengar hingga ke dalam anjungan.
“Mendekati jarak 1 mil!” teriak perwira navigasi.
Kapt. Kadek menarik napas sejenak, lalu mengatupkan tangannya dan berdoa. Semua taktik sudah dijabarkan, dan nanti bila pertempuran itu harus terjadi, mereka semua sudah tahu apa yang harus dilakukan, walau peluang untuk selamat terbilang kecil. Anton sendiri dengan gemetar menatap ke arah formasi Armada Australia yang semakin tampak mendekat. Jantungnya berdebar dengan lebih kencang seiring depa demi depa kapal KRI Ternate yang bergerak paling depan mendekati perbatasan laut dengan Australia.
Tiba-tiba saat itu Anton merasakan genggaman Prita pada tangannya mengencang. Anton menoleh sejenak dan menemukan Prita baru saja memaksa tersenyum meski air mata mengalir melalui pipinya.
“Aku nggak nangis,” kata Prita tersenyum.
“Aku juga nggak bakal bilang jangan nangis,” kata Anton,
“karena nggak semua air mata itu jelek,”
“Jadi, sekarang saatnya…” kata Prita.
“Ya, di tembok perbatasan inilah, nasib dua negara akan segera ditentukan,” kata Anton,
“bila terjadi perang, di sinilah hantaman paling keras akan diterima,”
“Tiga perempat mil!” teriak perwira navigasi.
“Courage, Merry,” kata Prita,
“courage for our friends,”
Anton gemetar halus sambil menelan ludah dan tanpa sadar genggamannya pun sama kuatnya seperti Prita. Dengan pandangan mata terpaku ke depan, Anton berkata, nyaris cukup lirih untuk bisa didengar.
“Where is the horse and the rider? Where is the horn that was blowing? They have passed like rain on the mountain, like wind in the meadow,” kata Anton,
“the days have gone down in the West behind the hills into shadow.”
Prita pun menimpali perkataan Anton dengan hampir sama lirihnya.
“Arise, the Riders of Theoden! Spears shall be shaken, shields shall be splintered, a sword day, a red day, ere the sun rises!” kata Prita,
“ride now, ride to ruin, and the world’s ending!”
“Setengah mil lagi memasuki perbatasan Australia!” kata perwira navigasi.
“Peran tempur, CIWS siap,” kata Kapt. Kadek.
“Aye, CIWS siap!” jawab perwira senjata.
“Kapten, komunikasi dari pihak Australia,” kata perwira radio.
“Sambungkan ke pengeras suara,” kata Kapt. Kadek.
“Indonesian fleet, turn around or we will shoot,” kata Lt.Com McGraw dari radio,
“you shall not pass, I repeat, you shall not pass!”
“Negative, we have a duty to fulfill,” kata Kapt. Kadek,
“pertahankan arah!”
“You shall not pass!” kata Lt.Com. McGraw.
Dengan cepat, Kapt. Kadek mematikan radio, secara teknis mengabaikan peringatan dari Lt.Com McGraw. Tak ada gunanya berdebat dengan orang ini atas sebuah perintah yang tidak bisa diubah. Detik-detik pun menjadi semakin berat dan memburu, semua menunggu saat yang sebentar lagi akan tiba, saat kehancuran atau keselamatankah yang akan datang?
“Kita memasuki Australia!” teriak perwira navigasi.
“Demi rekan-rekan kita di bawah sana!” kata Kapt. Kadek,
“maju dan merdeka!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar