★HENING★ Part 35 (2)
" ! "
Alarm membangunkan Heru dari tidurnya..
"Ada sesuatu yang telah terjadi diluar..",
gumam Heru bangkit mengambil pistolnya dan memantau layar monitor-monitor kamera pengawas dihadapannya.
"Sial..!",
paniknya ketika melihat tubuh-tubuh para penjaga tergolek di pos depan ditambah lagi kini ia melihat ada dua orang berpakaian serba hitam tampak sibuk memasang sesuatu dipintu depan kantor yang terkunci.
"Sepertinya ada yang datang menjemput kita..",
kata Jim,
"Yah.., tak kusangka hal seperti ini terjadi.., aku kira hanya di film-film..",
sahut Elang, mereka juga terhenyak dari tidurnya.
"Hentikan ocehanmu.., sekarang apa yang harus kita lakukan?",
sambung Jim.
"Hmmm, kau tau apa yang harus kita lakukan setelah mereka sampai disini nanti, aku hanya penasaran siapa yang melakukan hal yang membahayakan karirnya dengan menyelamatkan kita.., karena pasti mereka orang terlatih",
jelas Elang.
Sementara itu Mahda dan Adam tampak sudah slesai memasangkan sesuatu ke pintu utama kantor itu.
"DUAAMMP..!"
Ledakan kecil membuat pintu itu terpental, sesaat Mahda dan Adam berjalan siaga memasuki kantor itu.
"Disana..!",
seru Adam mengarahkan sorot senter dipucuk senjatanya yang ia nyalakan mengingat kondisi seluruh bangunan yang gelap gulita agar Mahda yang berada didepannya maju menyusuri lorong menuju ruang dimana Elang dan Jim berada, sementara itu Heru tampak bersembunyi menundukkan kepalanya tak jauh dari posisi Adam dan Mahda, ia tengah berfikir apa yang harus ia lakukan, ia menjadi semakin gugup mengingat karena ia bukanlah seorang aparat yang berasal dari unit-unit atau satuan sejenis yang memang dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.
.........
Jauh dari situ..
"Yah, saya segera kesana..",
ucap Jendral Purnomo seraya menutup telepon rumahnya.
"Sepertinya mereka ceroboh...",
gumam Jend.Purnomo dalam hati,
sesaat sebelumnya ia mendapat telepon dari panglima bahwa kantor BPN sedang diserang dan ia diminta mengirim pasukan bantuan untuk mendukung pihak kepolisian dan sejumlah pasukan khusus yang pasti dikerahkan oleh Jendral Irwan selaku pemimpin Badan tersebut.
"Elang..?!?",
seru Mahda merapat ke pintu ruangan disudut lorong itu,
"Ya..., ini kami!"
Sahut Jim dari dalam.
"benar disini..",
kata Mahda kepada Adam.
"Tak tak taktakatak"
Adam segera menembaki panel kunci pintu itu dan menendangnya sehingga pintu itu terbuka.
"Sialan..!
Apa yang telah mereka lakukan pada kalian..!?!",
geram Mahda ketika memasuki ruangan itu dan melihat keadaan Elang dan Jim yang sedemikian buruk karena penyiksaan yang mereka terima beberapa hari belakangan.
"Ini sungguh keterlaluan..!",
gumam Mahda lagi sembari memotong ikatan Elang dan Jim dengan pisau.
"Apa kalian bisa bergerak..?",
tanya Adam.
"Aku rasa aku bisa..",
sahut Elang,
"Tak kusangka kalian kemari..",
ungkap Jim sembari merengangkan tangan dan kakinya yang kaku setelah berhari-hari terikat.
"Ayo.., kita harus cepat..",
timpal Mahda sambil memberikan pistolnya kepada Elang,
"Dimana bantuan kalian?",
tanya Jim sembari juga meraih pistol yang dilemparkan oleh Adam ke arahnya.
"Hanya kami berdua.., sudah ayo..!",
sahut Adam mempimpin pergerakan mereka untuk segera keluar dari situ
Tak jauh dari situ Heru masih gugup bersembunyi dibalik meja dengan sebuah pistol digenggamannya, ia semakin gugup ketika melihat sorot cahaya senter dari Adam dan yang lainnya.
ketika Adam dan yang lainnya hendak melewatinya..
"Tashh..!"
Jim melepaskan tembakan ke arah dimana Heru berada, sepertinya Jim menyadari keberadaan Heru.
"Ada seseorang disana....!"
Seru Jim,
Sepontan Adam mengarahkan Sorot senternya, sepertinya tembakan Jim hanya mengenai meja.
"Jangan tembak.. ",
Heru muncul sambil mengankat tangannya.
" Anak itu..",
kata Elang pelan.
"Siapa dia..?!?",
seru Adam sudah bersiap akan menembaknya.
"Tak apa.., ia tak tahu akan semua ini..",
sahut Elang,
"Sudahlah, tinggalkan saja dia..",
tambah Elang.
"Tunggu..! Aku ikut kalian..!",
seru Heru,
"Apa kau bercanda..?",
tanya Jim menanggapi,
"Aku serius.., aku hanya ingin ikut kalian, aku tak tahu alasannya.. Tapi aku ingin ikut..",
jelas Heru gugup.
"Ini berbahaya untukmu..",
sahut Elang,
"Aku tak peduli..!",
jawab Heru bersikeras,
"Apa kita bisa mempercayai anak ini..?",
tanya Mahda,
"Tanyakan padanya..",
jawab Jim menunjuk Elang, Mahda langsung melirik ke arah Elang.
" Sepertinya bisa..",
sahut Elang pelan,
"Apa kau yakin..?!?",
tanya Adam yang sudah bersiap menembak Heru,
Elang diam sejenak menatap Heru, sementara Heru menunggu dengan wajah cemas, tampak keringat mengalir dikeningnya karena Adam sudah bersiap menembaknya.
"Aku yakin..",
sahut Elang,
Mahda segera mendekati Heru meraih pistol yang masih tergantung di jari Heru dengan tangannya yang terangkat.
"Baiklah.., kau ikut kami..",
kata Mahda,
"Terima kasih..",
sahut Heru berlari bergabung dengan Elang dan Jim.
"Ayo.., mereka sudah dekat..!",
seru Adam yang sayup-sayup memang terdengar sirine mobil-mobil polisi.
Mereka pun langsung bergerak cepat keluar dari bangunan itu dan berlari kebelakang dimana mobil Adam dan Mahda diletakkan..
Tak lama berselang, seluruh unit pasukan khusus dan kepolisian sudah sampai ditempat itu, namun Elang dan yang lainnya sudah melaju pergi dengan mobil yang dipersiapkan Adam dan Mahda ditengah lebatnya hujan pagi itu.
...........
Biografi HERU
Bernama lengkap Heru Wijaya
Lahir di Malang, Jawa Timur 12 januari 1988
Ia anak tunggal dikeluarganya, ayahnya adalah seorang anggota kepolisian dijakarta pusat, ibunya adalah seorang bidan disalah satu rumah sakit di ibukota.
Sejak kecil ia memang sudah bercita-cita menjadi seorang aparat negara, masa kecilnya selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya membuat ia menjadi pribadi yang lugu dan lemah.
Heru bergabung dengan kepolisian pada usianya yang ke 19 tahun.
Tidak ada keahlian khusus dari seorang Heru, ia hanya seorang polisi biasa dan bukan dari unit khusus.
Masih belum jelas mengapa Badan besar seperti BPN merekrutnya diantara begitu banyak anggota kepolisian yang berprestasi.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar