★HENING★ Part 32 (2)
"PENYELAMATAN AGEN"
48 jam kemudian, Markas pusat...
"Panglima berikan saya izin untuk melihat proses pemeriksaan agen-agen itu di BPN..",
Cetus Jend. Purnomo,
"Maaf Jendral, segala sesuatunya saya serahkan kepada Jendral Irwan.., jika kau ingin hal itu, minta lah langsung kepadanya.., saya sudah cukup pusing menghadapi awak media dari berbagai negara hari ini..",
Sahut Pang. Rokhim bersandar di kursi meja kerjanya.
Memang benar, semenjak perang Indonesia-Thailand resmi berakhir, sekarang giliran awak media yang berperang untuk mendapatkan segala sesuatu tentang peperangan tersebut, dan untuk Thailand sendiri sementara masih dalam proses pemulihan, dan pemerintahannya dijalankan oleh mentri-mentri mereka tanpa Perdana Menteri mengingat Panglima dan PM mereka masih dalam proses hukum internasional, sehingga negara kecil itu belum stabil.
"Siap pak..",
Kata Jend. Purnomo memberi hormat dan beranjak meninggalkan ruang Panglima Rokhim,
Jendral Purnomo tampak berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong kantor yang ramai dengan orang berseragam hijau itu, dan ketika ia sampai di lorong bagian belakang yang tampak lengang..
"..Jendral....",
"Hmm??",
Jendral Purnomo terhenti ketika sepertinya ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya,
"Disini..",
Jendral Purnomo menyusuri sumber suara tersebut,
"Mahda..? Kau kah itu?",
Kata Jend. Purnomo setengah berbisik ketika melihat seseorang tak beratribut militer di sudut lorong hanya memakai jeans dan jaket hoodie berwarna abu-abu.
"Ya, ini saya Jendral..",
Sahut Mahda pelan sembari membuka kerudung kepalanya,
"Sedang apa kau disini? Mengapa kau seperti sembunyi-sembunyi?",
Tanya Jend. Purnomo,
"Saya sedang libur tugas Jendral, dan jika saya terang-terangan menemui anda pasti jajaran Panglima akan menaruh curiga mengingat kejadian tempo hari..",
Jawab Mahda,
"Benar juga, tapi ada apa?",
Tanya Jend. Purnomo lagi,
"Ada yang ingin saya bicarakan.., ini tentang Elang dan temannya..",
Kata Mahda serius,
"Hmm...., jangan disini, temui saya nanti malam di depan Stadion.., kita bicarakan disana..",
Jawab Jend. Purnomo,
"Baik.., oh iya, Adam bersama saya nanti malam.., izin Jendral..",
Sahut Mahda memberi Hormat kemudian buru-buru pergi.
Jendral Purnomo pun kembali berjalan seakan tak terjadi apa-apa karena tiba-tiba saja setelah percakapannya dengan Mahda berakhir ada seorang staff kantor muncul juga melewati lorong itu.
............
20.15 wib, Stadion Gelora Bung Karno..
Tak jauh dari pintu masuk ke halaman stadion tampak 2 orang memakai jaket dan topi hitam sedang duduk bersama, mereka Lettu Adam dan Letnan Mahda..
"Mengapa Jendral ingin bertemu disini?",
Tanya Adam,
"Entahlah, tapi sepertinya disini memang tempat yang aman, jauh dari pusat, jauh dari aktifitas militer..",
Jawab Mahda sekenanya.
Sesekali beberapa orang yang sedang berjalan-jalan di sekitar Stadion melewati mereka, bulan tampak bertengger terang di langit ditemani para bintang membuat malam ini cerah bak menghibur Mahda dan Adam yang sebelumnya berjibaku dengan peluru-peluru berterbangan.
"Hey, sudah lama kalian..?"
Seseorang mendekati mereka,
"Belum Jendral..",
Sahut Mahda langsung mengenalinya meskipun Jendral Purnomo memakai kemeja putih dan celana kain hitan serta sepatu sport putih, beda sekali dengan penampilannya saat sedang di kantor.
"Langsung saja.., apa yang hendak kalian bicarakan..?",
Tanya Jend. Purnomo duduk disebelah mereka,
"Begini ndan.. Saat kejadian 2 hari yang lalu, salah satu anak buah saya berinisiatif mengikuti kemana Van hitam itu pergi.., dan ternyata hanya berhenti di kantor pusat BPN, tidak diserahkan ke Polisi militer atau semacamnya...",
Adam membuka pembicaraan,
"Benarkah???
Kalau begitu, ini benar-benar suatu kejanggalan..!",
Tanggap Jend. Purnomo sembari memanggil seorang penjual coffe cup keliling yang lewat didepannya, kemudian Jendral mengambil tiga Cup dan memberikan selebaran Uang, penjual itu langsung pergi.
"Apa ada informasi lain yang kalian dapatkan?",
Tanya Jend. Purnomo sembari memberikan cup coffee ke Adam dan Mahda,
"Terima kasih ndan.., ada ndan.. Kantor BPN hanya 2 lantai dan hanya dijaga 4 orang prajurit reguler...",
Jawab Adam,
"Maksudmu.. kalian berencana menyerang kantor BPN?!? Itu sangat bersiko, kalian bisa dicopot dari militer.., jangan lakukan hal bodoh..!",
Sahut Jend. Purnomo mengingatkan,
"Tidak ndan, kami hanya ingin membebaskan Elang dan temannya dari sana..",
Tanggap Mahda sesekali meminum cup coffee yang dipegangnya.
"Hanya itu? Setelah kalian berhasil lalu apa..? Kalian akan ditangkap juga setelahnya, dan dituduh membantu tawanan kabur..",
Sahut Jend. Purnomo,
"Tidak hanya itu ndan.., kami akan menyabotase ... ... ... Dan ... ... ... Sehingga.... ... ... ",
Jelas Mahda namun kata-katanya tak seluruhnya terdengar karena ada sebuah motor 2 tak mini lewat dekat mereka,
"Hmm.., lalu apa kalian serius ingin melakukan ini?",
Tanya Jend. Purnomo dengan mimik serius,
"Siap ndan..!",
Sahut Mahda dan Adam serempak seakan ingin memperlihatkan tekad mereka demi kebenaran.
"Baik.., lusa pukul 1 pagi tepat, kalian ambil persenjataan kalian di sebuah kotak tak jauh dari Markas, saya yang akan mempersiapkan itu, selanjutnya kalian bergeraklah dengan hati-hati.. Tuhan bersama kalian...",
Jelas Jend. Purnomo sembari bangkit meninggalkan mereka,
"SIAP NDAN...!!!"
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar