Sabtu, 03 Oktober 2020

EPILOGUE I (Erwina)

Erwina

EPILOGUE I

Erwina


Apartemen Reporter NewsTV
1 Hari Setelah Ending
09.12 WIB


Erwina terbaring di ranjangnya sambil menatap ke arah dunia luar di jendela yang sepertinya tak mampu dia tembus. Kakinya yang sudah terbiasa berkelana sangat ingin untuk keluar dan menjelajahi dunia di luar sana, tapi perintah dari dr. Annisa jelas, Erwina belum boleh meninggalkan tempat tidur setidaknya untuk 2 hari ke depan. Kungkungan inilah yang membuatnya amat jemu, walaupun dia tahu bahwa ini demi kebaikannya sendiri.

Kondisinya sudah berubah jauh dari sewaktu dia ditemukan oleh Pak Berthus pingsan di depan kantor NewsTV. Pipinya kini kembali ranum merona, dan berat badannya telah kembali, dan kini dia bisa tersenyum lepas kepada setiap orang yang datang. Dan karena banyak yang datang sambil membawa oleh-oleh, maka kamar ini pun penuh dengan banyak buah tangan hingga susah mencari tempat untuk meletakkannya.

Meskipun beberapa hari ini cukup enak baginya, tak perlu pergi ke mana-mana, cukup makan dan tidur saja, rutinitas ini membuat Erwina yang memang terbiasa untuk “menggelandang” menjadi jemu, dan dia mulai merindukan saat-saat dia menjelajah ke sana kemari untuk mencari berita. Lagi pula kesibukan bekerja akan dengan cepat mengalihkan pikirannya dari ingatan mengenai saat-saat ketika dirinya dicekam teror yang luar biasa di bawah tahanan “Sang Pemimpin”. Dan bila diingat lagi, semua siksaan fisik maupun batin membuat Erwina bisa menangis, kecuali satu hal, yaitu ketika Sang Pemimpin mengajak Erwina untuk berdiskusi dalam membuka sandi di komputer Dr. Sedorenkov. Hal yang tak bisa dia lupakan, akibat keingintahuannya sebagai wartawan, adalah sandi 5 karakter yang digunakan, yang dikaitkan dengan angka 13-12, sebagaimana ayat Injil yang dibisikkan oleh Dr. Sedorenkov. Apakah itu?

Pintu terbuka tiba-tiba, dan Anton pun masuk sambil membawa sebuah karangan bunga bertuliskan “Cepat Sembuh”. Erwina tersenyum melihat bosnya ini datang menjenguknya, terlebih mengingat Anton baru pulang dari sebuah “petualangan gila” di Samudra Indonesia.

“Gimana keadaanmu, We?” tanya Anton sambil meletakkan karangan bunga itu di sebuah kursi karena semua meja sudah penuh.

“Dua hari lagi baru boleh kerja,” kata Erwina,

“Bos sendiri udah mulai kerja? Katanya baru kemaren pulang?”

“Aku cuman ngeberesin satu dua hal,” kata Anton,

 “baru akan kerja lagi sama kayak kamu, Lucia juga,”

“Gimana keadaan Lucy?” tanya Erwina.

“Baik, paling enggak lebih baik dari kamu,” sindir Anton.

Anton kemudian mengambil bangku dan duduk di sebelah ranjang Erwina, sementara Erwina menata bantal agar dia bisa tiduran sambil badannya ditegakkan. Mereka lalu mulai bercerita dan Erwina-lah yang bercerita lebih banyak, terutama mengenai pengalamannya saat disekap. Beberapa kali, pada bagian yang teramat pahit, Erwina berhenti sebentar dan menitikkan air mata, sehingga Anton harus siap sedia memberikan tissue untuk menyekanya. Dan yang Erwina ceritakan ini jauh lebih banyak daripada yang sebelumnya dia ceritakan kepada orang lain. Erwina tahu bahwa untuk soal ini, Erwina bisa mempercayai bosnya. Tak terasa, jarum jam sudah jauh berubah saat Erwina selesai. Anton masih termangu saja mendengarnya.

“Bagaimana menurutmu, Bos?” tanya Erwina mengakhiri sesi cerita itu.

Anton terdiam, kemudian dia menepuk dan memegang tangan Erwina dengan lembut.

“We, sepertinya ini saat yang tepat buat aku untuk bilang kalau sudah lama aku mengkhawatirkan cara kerjamu yang menghilang seenaknya sendiri,” kata Anton,

“kami semua sangat khawatir waktu tahu kamu hilang, setidaknya kalau ingin melakukan peliputan mandiri, bilang dulu sama yang lain, jadi yang lain juga tahu posisi kamu,”

“Iya, Bos, aku tahu aku salah soal itu,” kata Erwina.

“Untung kamu masih bisa kembali dengan selamat,” kata Anton,

“dari yang aku pernah dengar, kelompok semacam itu bisa saja menghilangkan orang dengan mudah, apalagi ditambah kebiasaan kamu yang nggak pernah ngasih tahu posisi,”

“Ya, aku sudah kapok,” kata Erwina,

“tapi orang-orang itu, apakah mereka teman atau lawan? Apakah bener keputusanku memberi tahu kata-kata terakhir Dr. Sedorenkov?”

Anton mendengus sejenak kemudian berdiri.

“Karena kamu selamat, Lucia selamat, kita bisa anggap mereka untuk saat ini adalah kawan, tapi aku lebih memilih siapa pun tak lagi terlibat dengan mereka, karena di saat yang berbeda, mereka mungkin bisa jadi lawan,” kata Anton,

“soal kamu yang bicara itu, aku nggak lihat kamu punya pilihan lain, tapi karena kami semua selamat, kamu boleh anggap keputusan kamu itu bener,”

Erwina tersenyum mendengar kata-kata Anton itu.

“Terima kasih ya, Bos,” kata Erwina.

“Sudahlah,” kata Anton, “kalau kamu sudah baikan, aku mau ngurus beberapa hal dulu,”

“Silakan, makasih udah menyempatkan waktu,” kata Erwina.

“Janji saja lain kali jangan ulangi hal kayak gini lagi,” kata Anton,

“aku masih belum siap kalau harus menulis di obituari kantor,”

“Jangan khawatir, nggak akan terulang,” kata Erwina.

Anton mengangguk mantap dan menepuk pundak Erwina sebelum akhirnya dia berjalan perlahan menuju ke pintu. Tapi ketika Anton bersiap untuk membuka pintu, Erwina pun mencegahnya.

“Ada yang ingin kutanyakan, Bos,” kata Erwina,

“sesuatu yang sudah menggangguku,”

“Silakan saja,” kata Anton.

“Begini, Bos kan cukup paham dalam hal mengenai ke-Katholik-an...” kata Erwina.

“Aku tahu beberapa, tapi bukan ahli,” kata Anton,

“akan kucoba menjawab, tapi jika aku tak tahu, kau harus bertanya pada Lucia,”

“Oke, begini, apa yang berhubungan dengan angka 12-13 atau tanggal 13 Desember dan terdiri dari 5 huruf?” kata Erwina.

Anton tertegun sejenak ketika Erwina menanyakan ini.

“Kamu bercanda, ya?” tanya Anton.

“Tidak,” jawab Erwina.

“Dan kamu bertanya ini karena?” tanya Anton lagi.

“Tidak ada apa-apa, hanya penasaran saja,” kata Erwina.

Erwina sedikit menahan napas, sepertinya pertanyaan ini entah agak konyol atau agak menyinggung bagi Anton, itu bila menurut pendapatnya bila melihat reaksi Anton. Tapi kemudian Anton tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jawabannya adalah istriku,” kata Anton.

“Maksudnya aku harus tanya sama istrinya Bos, begitu?” tanya Erwina tak mengerti.

“Bukan, jawabannya adalah istriku,” kata Anton,

“istriku lahir pada tanggal 13 Desember, yang kebetulan merupakan hari peringatan bagi Santa Lucia dari Syracuse, seorang santo Katholik, santo pelindung dari para orang buta,”

“Santa Lucia dari Syracuse?” tanya Erwina.

“Benar, karena itulah dia dinamakan ‘Lucia’, sebagai penghormatan pada Santa Lucia dari Syracuse,” kata Anton,

“namanya juga berarti ‘cahaya’, karena dia memberikan cahaya di saat semua diliputi oleh kegelapan,”

Erwina menggerakkan jarinya dan menghitung. Memang benar bahwa nama “Lucia” terdiri dari 5 huruf, dan bila mendengar penjelasan Anton tadi, memang masuk akal bila angka 13-12 merujuk kepada nama “Lucia”. Kemungkinan nama itulah yang menjadi password dari komputer Dr. Anatoly Sedorenkov. Kalau memang benar, maka itu sebuah kebetulan yang luar biasa, karena Lucia juga lah salah satu yang menyelamatkan awak KRI Antasena yang terjebak.

“Ada lagi yang mau ditanyakan?” tanya Anton membuyarkan lamunan singkat Erwina.

“Oh, tidak ada lagi,” kata Erwina,

“silakan Bos kalau mau ngurusin tugasnya,”

“Oke, istirahat saja supaya cepet sehat,” kata Anton sambil keluar dari kamar dan menutup pintunya.

Sepeninggal Anton, Erwina pun merebahkan dirinya kembali ke ranjang dengan lebih lega. Satu pertanyaan setidaknya berhasil dijawab, meski jawabannya bukan mutlak. Ada lebih banyak lagi pertanyaan, tapi mungkin itu harus menunggu hingga dirinya sehat kembali untuk dia bisa mencari jawabannya. Erwina pun tersenyum, semangatnya pun telah kembali pulih. Tak beberapa lama kemudian, HP di meja dekat tempat tidurnya pun menyala. Nomor dan nama penerimanya sepertinya diblokir sehingga Erwina tak tahu siapa yang meneleponnya. Tanpa berprasangka, Erwina pun mengangkatnya.

“Halo? Siapa ini?” sapa Erwina.

“Rupanya kau sudah sehat ya? Cepat sekali kau lupa,”

Erwina nyaris saja meloncat dari tempat tidurnya dan untuk sementara, mendengar suara yang sedingin es itu, dia merasa jantungnya seolah berhenti. Entah kenapa suasana menjadi berbeda, dan kamar yang tadinya bermandikan cahaya matahari itu kini menjadi seolah dikuasai oleh kegelapan yang mencekam. Ya, itu adalah suara dari Arliena, atau Erwina mengenalnya sebagai “Sang Pemimpin”.

“K..kau?” kata Erwina gemetaran.

“Ya, ini aku,” kata Arliena dari balik telepon.

Suara Arliena kali ini tidak lagi semengerikan seperti yang diingat oleh Erwina. Suaranya lebih ceria dan ringan, serta tak ada sama sekali nada mengancam, tapi entah kenapa aura kengerian dan cekaman itu masih tetap tak hilang dari dalam suaranya. Seolah memori Erwina dipaksa kembali ke ruangan tahanan itu beberapa hari yang lalu.

“Mau apa kamu telepon?” tanya Erwina dengan nada ketakutan yang tak bisa dia sembunyikan.

“Jangan khawatir, kali ini aku cuma menelepon untuk menanyakan kabar kawanku,” kata Arliena.

“Aku bukan kawanmu!” kata Erwina sedikit geram.

“Masa? Hmm... aku tak menyangka soal itu,” kata Arliena,

“tapi orang yang kukenal kalau bukan kawanku pasti musuhku, dan aku rasa kamu cukup pintar untuk tidak menjadi yang kedua, bukan?”

Erwina tercekat. Bahkan nada suara seriang itu tak bisa meredakan kengerian yang telah terlanjur mencengkeram dirinya. Jelas-jelas itu adalah sebuah ancaman, meski tak diungkapkan dalam bahasa yang lebih gamblang.

“B..bagaimana kau bisa dapatkan nomor ini?” tanya Erwina berusaha untuk mengumpulkan kembali keberaniannya.

Hanya terdengar suara tawa kecil saja dari seberang sebelum akhirnya Arliena kembali berbicara.

“Kenapa dan bagaimana,” kata Arliena setengah bosan,

“kalian para wartawan adalah makhluk yang menarik dan sungguh menggemaskan, selalu bertanya soal ini dan itu, tak menerima jawaban tidak dan selalu berusaha mencampuri urusan yang bukan urusannya,”

Arliena berhenti sejenak. Sayup-sayup Erwina mendengar seperti sebuah keramaian di latar belakang, namun tak seramai seperti di kota. Seperti ada orang-orang yang berbincang namun dengan santai.

“Omong-omong, kau tak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu atau apa saja yang aku tahu; terima saja fakta bahwa aku memang tahu,” kata Arliena,

“contohnya, aku juga tahu bahwa kau baru saja menceritakan sedikit pengalaman kecilmu kepada bosmu yang baru saja pergi, apa aku salah?”

Kembali jantung Erwina serasa berhenti, seolah ada sebuah pasak besi yang ditancapkan di sana dan dipukul dengan palu godam. Dia pun menjadi gelisah dan matanya mulai liar menjelajah ke semua sudut kamar. Bagaimana Arliena bisa tahu apa yang Erwina bicarakan dengan Anton? Dan ini membuatnya amat ketakutan.

“Sudahlah, tak usah mencari-cari, kau tak akan menemukannya,” kata Arliena,

“sekarang yang harus kau lakukan adalah diam di sana dan dengarkan aku baik-baik,”

Seolah terhipnotis, Erwina pun menurut.

“B..baik..” kata Erwina gemetaran sembari menelan ludah.

“Bagus, itu yang kuharapkan,” kata Arliena,

“pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua bantuanmu; suka atau tidak, kau sudah membantuku, baik kau sadar maupun tidak,”

“Mengenai Dr. Sedorenkov itu?” celetuk Erwina.

“Eh? Sudah kubilang supaya diam, bukan?” tanya Arliena seolah tengah menghardik seorang anak kecil yang nakal.

“B..baik, maaf,” kata Erwina.

“Kedua, hanya sebuah saran dari seorang kawan, lain kali periksalah dulu latar belakang dari informanmu, sungguh tidak terlalu sulit bagi kalian para wartawan untuk melakukan itu,” kata Arliena,

“jangan terbius dengan berita hangat yang mereka sampaikan, dan usahakan kau mengenal baik informanmu itu, jangan hanya berdasarkan dunia maya saja, kau mengerti?”

“B..baik..” jawab Erwina.

“Bagus, kalau semua orang melakukan itu, kita semua bisa lebih enak dalam menjalani hidup kita,” kata Arliena,

“dan terakhir, sebuah peringatan bersahabat, supaya jangan sampai kita bersinggungan lagi, karena kali berikutnya kau menghalangi jalanku, aku tak akan berbaik hati lagi padamu; ingat bahwa aku orang yang menepati janji; aku sudah menepati janjiku dengan membiarkanmu lepas dan menyelamatkan teman-temanmu, maka kau bisa yakin bahwa perkataanku kali ini pun akan kutepati,”

Erwina mengangguk dalam ketakutannya, lupa kalau dia melakukannya di telepon. Tapi entah, mungkin saja Arliena tahu bahwa Erwina mengangguk alih-alih bicara.

“Baiklah, semoga ini terakhir kalinya kita saling bicara, karena aku tak akan mengganggumu lagi, dan semoga kau pun tak akan menggangguku lagi,” kata Arliena,

“soal temanmu si jaco123 itu, lupakan saja dia, dia tak akan lagi bisa menjawabmu, jadi jika aku jadi kau, aku akan mencari informan baru yang lebih bisa dipercaya, dan sekali lagi, tolong turuti nasihat bosmu demi kebaikanmu sendiri, mengerti?”

Erwina masih terdiam, ketakutan yang mencekamnya pun semakin tak tertahankan.

“Satu lagi, aku hampir lupa,” kata Arliena, 

“kau punya pacar yang ganteng dan baik, jangan perlakukan dia seperti itu, pergi hanya dengan meninggalkan memo itu tidak sopan; lagi pula kau tentu tak ingin terjadi sesuatu padanya sebagaimana dia tak ingin terjadi sesuatu padamu, kan? Baiklah, itu saja, selamat tinggal, Erwina,”

Arliena akhirnya menutup teleponnya, dan setelah mendengar nada sibuk, barulah tangis Erwina pecah setelah lama dia tahan. Erwina menangis sejadi-jadinya hingga air matanya membasahi selimut dan juga bantalnya.

Sementara itu, bila ditarik garis lurus dari jendela apartemen Erwina, dua kilometer jauhnya dari situ, seorang wanita tengah duduk di sebuah bangku berpayung pada sebuah kafe luar ruangan di sebuah hotel berbintang. Wanita itu cantik dengan postur langsing semampai dan rambut hitam sepunggung yang tergerai tertiup angin. Dia memakai pakaian blouse tanpa lengan warna pink dengan bahan transparan sehingga terlihat tank-top hitam yang dipakainya di balik blouse tersebut, dengan celana panjang kain warna hitam yang longgar dan elegan dipadu sepatu high-heels yang tak terlalu tinggi, aksesoris gelang dan kalung yang sederhana namun menawan, dan topi putih serta kacamata hitam sebagai pemanis.

Wanita ini baru saja mematikan ponselnya yang dia taruh di meja, tepat di dekat sebuah koran dan majalah mode kewanitaan yang pastinya dia baca sebelum dia taruh di situ untuk menelepon. Tepat waktu ketika seorang pelayan membawakan sebuah minuman bening dengan beberapa daun mint di atas nampan untuknya. Ya, wanita ini adalah Arliena, dalam dandanan yang lain, kali ini dia terlihat seperti wanita kelas menengah ke atas yang modis dan elegan.

“Minumannya, Nona, cocktail mojito classic,” kata pelayan itu sambil menyajikan minumannya kepada Arliena.

“Terima kasih,” kata Arliena sambil tersenyum manis.

“Ada lagi yang bisa saya bawakan untuk Anda?” tanya pelayan itu lagi.

“Untuk saat ini tidak, terima kasih,” kata Arliena sembari menyelipkan selembar uang tip kepada pelayan itu, yang menerimanya dengan senyum lebar.

“Kalau Anda butuh apa-apa lagi, silakan panggil saya,” kata si pelayan.

“Pasti,” kata Arliena.

Arliena menyandarkan tubuhnya di atas kursi sambil menghela napas menikmati angin yang semilir tak terlalu kencang. Baru saja Arliena menghirup dan meletakkan mojito-nya kembali di meja ketika seorang pria separuh baya berpenampilan perlente duduk di hadapannya. Orang ini adalah kepala BIN, Hafryn Ar-rahman. Arliena pun langsung menggeser koran yang ada di hadapannya hingga lebih mendekati pada Hafryn.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Hafryn.

“Anggaplah ‘semua baik dalam sekarang ini’,” kata Arliena,

“kau sepertinya mulai kehilangan sentuhanmu, sepertinya kau dikejar oleh ‘seekor anjing’ lagi tadi pagi?”

“Oh, yang itu?” kata Hafryn,

“lagi pula itu adalah ‘dua ekor anjing’, Lien, bukan satu,”

“Sudah diurus?” tanya Arliena.

“Sudah selagi kita bicara, yang membuatku bertanya, kenapa ada ‘lalat’ yang sejak tadi hinggap di minumanmu?” tanya Hafryn,

“apa kau tak merasa terganggu?”

“Menunggu waktu yang tepat,” kata Arliena sambil melirik ke arah seorang pria di meja yang agak jauh dari mereka. Dari balik kacamata hitam, tak terlihat bahwa Arliena tengah melirik orang itu.

“Kalau begitu, kita langsung saja ke bisnis,” kata Hafryn,

“ada sesuatu yang ingin kaukatakan dulu, Lien?”

“Ya, aku protes karena kau tidak mengizinkanku untuk ‘mengunjungi dokter itu’, dan kini ‘setelah penyakitnya memburuk’, kuharap kau bisa lebih mempertimbangkan permintaanku kelak,” kata Arliena.

“Dia ‘bukan satu-satunya spesialis’ di kota ini, dan masih banyak ‘spesialis lain yang lebih jago’ yang bisa kautemui,” kata Hafryn,

“penyakit ini ‘membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif’ daripada penyakit biasa,”

“Aku tak akan berkomentar soal itu,” kata Arliena,

“sebagai ‘dokter ahli’, jelas kau yang lebih tahu,”

Arliena menekan tombol pada ponselnya tanpa diketahui orang lain, dan pada ponsel Hafryn Ar-rahman ada pesan masuk yang berbunyi: “Orangmu sudah dalam posisi?”

“Selalu siap untukmu,” kata Hafryn sambil tersenyum.

Arliena kemudian mengangkat tangannya memanggil pelayan. Si pelayan yang girang dengan segera mendatangi Arliena dengan sikap siap sedia.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?” tanya pelayan itu.

“Ya, aku pesan Bloody Mary untuk mentraktir tuan di ujung sana itu,” kata Arliena.

“Baiklah, apa tuan ini juga ingin pesan?” tanya si pelayan.

“Ya, apa kau punya kopi?” tanya Hafryn.

“Kami punya banyak pilihan kopi terbaik, Tuan,” kata si pelayan membanggakan diri.

“American Espresso, kalau begitu,” kata Hafryn.

“Robusta atau Arabica?” tanya si pelayan.

“Robusta,” kata Hafryn.

“Dan jangan lama-lama, ya,” kata Arliena sambil tersenyum.

“Siap, Nona! Untuk pelanggan setia seperti Anda, kami berikan pelayanan terbaik,” kata si pelayan.

Hafryn dan Arliena pun terdiam sejenak seolah tengah menikmati semilir angin, dan Arliena memperhatikan hingga si pelayan kembali beberapa menit kemudian sambil membawa minuman Bloody Mary kepada orang yang oleh Hafryn ditunjuk sebagai orang yang sedari tadi mengawasi Arliena. Menerima “traktiran” itu, orang itu tampak agak gugup, kemudian tanpa meminum minuman yang diberikan, dia langsung beranjak pergi.

“Orang itu pemberani, tapi bodoh,” kata Arliena begitu orang tadi sudah tak terlihat.

“Untuk alasan inilah kita punya beberapa titik aman,” kata Hafryn sambil membaca koran yang disodorkan oleh Arliena,

“dan aku setuju bahwa mencoba masuk ke titik aman kita adalah hal yang bodoh,”

Pembicaraan mereka terhenti sebentar ketika si pelayan membawakan American Espresso pesanan Hafryn, dan kembali Arliena memberi tip kepada si pelayan yang girang.

“Soal Dr. Sedorenkov memang amat disayangkan, tapi misimu jauh lebih penting, karena aku tak akan mempercayai tim lain untuk memburu simpul-simpul jaringan mereka, yang mana kau berhasil; ini akan melumpuhkan gerakan mereka setidaknya hingga sebulan ke depan,” kata Hafryn,

“lagi pula, sebelum kau protes, tim yang kita kirim untuk melindungi Dr. Sedorenkov adalah tim yang juga terbaik,”

“Tidak cukup baik, apalagi jika lawannya memang tidak imbang,” kata Arliena sambil mendengus.

“Maksudmu?” tanya Hafryn.

Arliena mengambil sesuatu dari dalam tas tangannya dan meletakkannya di depan Hafryn. Hafryn memperhatikan benda logam yang teramat kecil itu, yang oleh mata terlatih bisa langsung dikenali sebagai bekas sebuah peluru.

“Dari mana peluru ini?” tanya Hafryn sambil mengambil peluru itu dan melihatnya dengan lebih jelas.

“Dari salah satu agen kita yang tewas saat melindungi Dr. Sedorenkov,” kata Arliena.

“Ini peluru kaliber .45, bukan?” tanya Hafryn.

“Bukan, itu kaliber .44,” kata Arliena.

Hafryn tertegun mendengar jawaban Arliena itu.

“Winchester atau Long Colt?” tanya Hafryn lagi.

“Bukan kedua-duanya,” kata Arliena, “itu kaliber .44 Henry,”

“Astaga, jadi menurutmu...” kata Hafryn amat terkejut mendengar jawaban Arliena itu.

“Ya, tak ada kemungkinan lain, hanya ada satu senjata yang memakai peluru kaliber .44 Henry, yaitu Henry Rifle Model 1860,” kata Arliena,

“dan di Indonesia, hanya satu orang saja yang kuketahui memakai senjata itu,”

Hafryn menghela napas sejenak, sementara Arliena menatap tajam mata Hafryn.

“Bila benar ‘orang itu’ terlibat, maka hanya aku yang bisa menghadapinya,” kata Arliena.

“Sebaiknya untuk saat ini kita pastikan dulu bahwa musuh kita menyewa ‘orang itu’ demi kepentingan mereka,” kata Hafryn,

“dari apa yang kudengar, tingkah lakunya tidak bisa diprediksi, siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan, atau dia untuk saat ini berpihak pada siapa,”

“Ya, memang, tapi satu hal yang pasti, dia amat ahli di bidang keahliannya,” kata Arliena,

“sama sepertiku,”

“Ya, sama sepertimu sampai-sampai aku mengira kalian bersaudari, Lien,” kata Hafryn,

 “jangan mengejar kesenangan pribadimu, pastikan dulu tujuan kita tercapai,”

“Tentu saja, aku akan utamakan tujuan kita,” kata Arliena,

“tapi bila benar kita sedang berhadapan dengannya, maka ingatlah perkataanku,”

Mereka berdua terdiam sejenak.

“Oh ya, aku mendengar rumor mengenai reporter yang kau tahan tempo hari,” kata Hafryn,

“kau melepaskannya? Itu hal baru, kuharap itu bukan tanda kalau kau melunak,”

“Aku tidak melunak, hanya saja aku tak melihat perlunya dia kubunuh dalam hal ini,” kata Arliena,

 “satu-satunya kesalahannya hanyalah percaya pada orang yang salah; lagi pula jika bukan karena dia, Dr. Sedorenkov bisa saja sudah mati saat aku tiba di sana,”

“Ya, aku sudah baca laporanmu,” kata Hafryn,

“masih kupertanyakan juga, tapi aku percaya pertimbanganmu,”

“Baiklah, sudah kukatakan yang perlu kukatakan, bagaimana denganmu?” tanya Arliena.

Hafryn meletakkan korannya, kemudian dia menatap mata Arliena dengan tak kalah tajam.

“Ada misi untukmu,” kata Hafryn,

“memotong kepala ular,”

Arliena tertegun sejenak mendengarnya.

“Kau yakin? Itu bukan pembunuhan biasa,” kata Arliena,

“very high profile, kalau boleh kubilang,”

“Aku tahu, karena itu kau yang kutugaskan,” kata Hafryn,

“kecuali kau tidak bisa,”

“Bukan masalah bisa atau tidak, tapi apa Agensi siap untuk menanggung konsekuensinya? Gelombang dari kejadian ini tak akan bisa ditenangkan dalam waktu singkat,” kata Arliena.

“Kami siap, karena ini keputusan dari Bos Besar,” kata Hafryn,

“kita harus mengirimkan sebuah pesan kepada musuh kita,”

“Itu pesan yang sangat kuat, entah bagaimana musuh kita akan merespons,” kata Arliena.

“Seperti biasa, lakukan tugasmu, serahkan sisanya kepada kami,” kata Hafryn.

Hafryn meletakkan sehelai bulu burung warna putih bersih di atas meja. Arliena diam sejenak dan menatap bulu itu dengan tajam. Dia mengambil mojito-nya dan kembali meminumnya, kemudian dia beranjak pergi sambil mengambil bulu itu bersamanya, tanda dia menerima misi ini. Hafryn lalu melanjutkan acara minum kopi dan membaca korannya seolah tak terjadi apa-apa.

Dengan langkah cepat, Arliena berjalan meninggalkan kafe itu dan langsung menuju ke ruang parkir di basemen hotel. Sungguh sulit dipercaya dengan heels setinggi itu, Arliena masih mampu bergerak dengan cepat dan lincah. Dia memilih melewati tangga darurat karena pada jam ini lift biasa bergerak dengan lambat karena hotel masih dalam keadaan ramai. Di dalam koridor, dia melepas kalung yang sedari tadi dipakainya, lalu dia pegang di di tangan kanannya.

Suara tumit sepatu Arliena menggema ketika Arliena memasuki ruang parkir bawah tanah yang entah kenapa pada saat itu amat sepi, tidak ada seorang pun di sana kecuali satu, orang yang tadi meninggalkan meja setelah ditraktir Bloody Mary oleh Arliena. Orang itu tampak berupaya mencari mobilnya yang kini seolah tak ada di tempatnya, dan kedatangan Arliena membuatnya tampak semakin gelisah. Dia merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya, sebuah pistol saku. Bila wanita ini mendekat, maka dia akan segera tertembus oleh timah panas. 

Tapi Arliena tak menyurutkan langkahnya, dan orang ini semakin gelisah karena tidak ada lagi tempat untuk lari. Beberapa kali dia berusaha memencet tombol pada saku jaketnya yang lain, sepertinya untuk meminta bantuan, tapi tak ada satu pun respons. Alatnya seolah mati, dan ini hanya berarti satu hal.

Arliena semakin mendekat, orang itu mencabut dan mengacungkan pistolnya, tapi dengan satu gerakan yang secepat kilat, Arliena menghambur menjauh dari lintasan peluru dan tahu-tahu saja dia sudah berada di depan si penembak. Dengan sang lawan masih tertegun, Arliena tak menghentikan gerakannya dan tahu-tahu saja kalung di tangan Arliena sudah berpindah mengalungi si orang itu. Arliena merapatkan cengkeramannya dan kalung itu langsung menjerat si orang tadi, membuatnya tercekik dan tak bisa bernapas. Dia terus meronta-ronta, berusaha meraih kalung atau Arliena, tapi tak ada satu pun usahanya yang berhasil. Cengkeraman wanita ini benar-benar amat kuat, dan hanya dengan satu sentakan, terdengar bunyi gemeretak tulang, disusul dengan orang itu yang sudah tak lagi bergerak, hanya kejang-kejang saja, tak bernyawa, dan baru setelah kejangnya selesai, Arliena melepaskan jeratannya, membuat tubuh orang itu jatuh berdebum di lantai dengan mata membelalak.

Dengan santai, Arliena mengambil teleponnya kemudian menghubungi seseorang.

“Cleaning service, mohon segera ke lantai basement 2A segera,” kata Arliena,

“ada sampah yang harus dibereskan,”

Setelah menelepon, Arliena pun segera berjongkok, dan dengan kedua tangannya yang lembut tapi mematikan itu, dia menutup mata korbannya yang masih membelalak, sambil membisikkan sesuatu dengan nada yang lembut, persis seperti seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya.


“Recquiescat in pace,”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...