★HENING★ Part 32 (1)
" PERTEMUAN UNTUK SEBUAH STRATEGI "
Setelah peristiwa penangkapan Elang dan Jim sebelumnya oleh tim khusus arahan Jendral Irwan, perlahan semua orang yang hadir segera membubarkan diri, satu-persatu berlalu hingga hanya tersisa Jendral Purnomo dan kolega-koleganya.
"Anda harus melakukan sesuatu akan hal ini Jendral.., ini tidak benar",
Kata Letn. Mahda,
"Jendral.., tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi..!",
Sers.Tari terus mendesak,
" Ada sesuatu yang diketahui Elang, sesuatu yang mungkin membuat BPN dalam bahaya..",
Jawab Jend. Purnomo,
"Aku tak mengerti Jendral..",
Sahut Sers.Tari,
"... Elang adalah mata-mata terbaik yang kita punya, dia sudah bertahun-tahun ditugaskan sebagai mata-mata, dari itu sudah sangat jelas kalau Elang mengetahui hampir seluruh informasi inteligen yang baik maupun buruk dari sistem pengamanan negara ini.., saya rasa Elang mengetahui suatu keburukan dari BPN yang dikepalai Jendral Irwan, sehingga mereka meminta izin panglima dengan cara apapun untuk menangkapnya, dan membuatnya tak bisa buka mulut tentang hal yang diketahuinya..",
Jelas Jendral Purnomo,
"Membuatnya agar tak buka mulut? Itu berarti mati..! Mereka akan membunuhnya..",
Sahut Lettu Adam,
"Apa..??? Jendral, bagaimana ini? Kita tak bisa membiarkannya..!",
Keluh Sers.Tari tak memperdulikan lukanya yang kembali berdarah karena terlalu banyak bergerak.
"Tidak semudah itu mereka membunuhnya.., ini otorisasi dari panglima.., mereka perlu suatu sabotase untuk melakukannya.., tapi itu bisa saja terjadi..",
Jelas Jend. Purnomo lagi.
Semua terdiam mendengar penjelasan Jendral Purnomo, mereka memikirkan menghawatirkan kemungkinan teburuk yang bisa saja terjadi pada Elang dan Jim.
Dikejauhan Jendral Purnomo melihat Letnan Vega mengayuh kursi rodanya meninggalkan tempat itu, tampak kekecewaan di raut wajah cantiknya.
sementara itu..
Van hitam yang membawa Elang dan Jim sampai di kantor pusat BPN (badan pengamanan negara), mereka langsung digiring masuk dan dibawa kesebuah ruangan interogasi yang remang-remang, hanya sebuah lampu khas ruang interogasi yang menyinari ruangan itu.
"Ukh...",
Elang merasakan silau menusuk matanya ketika penutup kepalanya dibuka, begitu juga dengan Jim,
Mereka berdua masing-masing di dudukkan di kursi dengan sebuah meja diadapan mereka dengan tangan terikat.
"Ekhh.. Apa kau baik saja..?",
Tanya Jim,
"Aku baik saja.., ukhhh.. Sepertinya kita dalam masalah..",
Sahut Elang,
"Bukk..bukkk!"
Sebuah pukulan mendarat di perut mereka masing-masing,
"Akhhhh...",
Erang mereka menerima pukulan telak itu, ternyata di kanan kiri mereka terdapat dua orang prajurit yang mengenakan penutup wajah menjaga mereka.
"Krekk..."
Terdengar decit pintu beserta suara langkah menandakan ada orang yang masuk ke ruangan itu.
"Lama tak berjumpa.. Elang...",
Jendral Irwan muncul, Elang segera mengenali Jendral itu setelah melihat wajah Jendral Irwan yang tersorot cahaya Lampu,
"Kau...",
Gumam Elang menatap tajam,
"Siapa dia..?",
Tanya Jim,
"Heheheh, kau membawa seorang teman ya? Hey, betapa bodohnya aku, kau sudah lama ditugaskan, tak heran kau mempunyai teman..",
Potong Jend. Irwan tersenyum sinis,
"Baiklah, kau mungkin sudah tahu kenapa aku membawamu kemari kan?
Hahaha, aku hanya tak ingin kau banyak bicara, kau mengetahui semua kejelekan kami..
Hehehe, sebenarnya aku sangat mengaharapkanmu mati saat perang itu berlangsung.. Tapi memang kau prajurit hebat yang pernah dimiliki negara ini, aku bisa melihat itu..",
Oceh Jend. Irwan.
".. Aku sangat ingin menghabisimu Jendral...",
Sahut Elang,
"Aku mengerti sekarang.. Ini tentang masalah Agen hitam bukan..",
Kata Jim menyela,
"Tidak Jim, ini lebih dari itu.. Badan yang ia pimpin menyabotase segala misi negara, mereka menjual informasi ketahanan negara kita ke pihak luar, menghancurkan negara ini dari segi ekonomi yang bisa berimbas langsung pada seluruh aspek..",
Jelas Elang,
"Lalu apa untungnya bagi mereka..",
Tanya Jim lagi,
"Hey bocah asing.., untung??? Tidak ada yang untung dalam hal ini..! Justru aku membuat negara ini agar tetap aman, mereka di luar sana tak akan mengganggu negara ini selama kita bekerja sama dengan mereka, meskipun mengorbankan informasi penting..
Mereka hanya ingin mengetahui kegiatan militer kita membahayakan mereka atau tidak, jika ini berimbas pada segi ekonomi yang mereka lakukan, itu hal yang pantas demi keamanan negara ini!",
Sahut Jend. Irwan,
"Bagiku itu terdengar seperti hewan peliharaan..",
Timpal Jim,
"Apa..? Hahahahahaha, kalian lah hewan piaraan itu, kalian ditugaskan setelah itu kami singkirkan.., hahahah",
Balas Jend. Irwan terbahak.
"Kau bilang demi keamanan negara.., kau meremehkan negaramu sendiri.., bagaimana bisa kau menjadi seorang Jendral.., semua visi mu penuh kepalsuan..!",
Sela Elang,
"Kepalsuan?? Kau bilan5 kepalsuan?? Negara ini memang penuh kepalsuan..! Semuanya palsu.., tidak ada yang benar-benar nyata..!, sudahlah, kita tak perlu berpanjang lebar lagi.., heheheh, nikmati sisa-sisa nafas kalian.., semoga kita bertemu lagi..",
Kata Jend. Irwan beranjak pergi,
"Yah, kita segera bertemu lagi.. Aku pastikan itu...",
Sahut Elang,
"Yah, yah.. Apapun yang kau katakan, sampai jumpa lagi.."
Balas Jend. Irwan pergi keluar dari ruangan itu di ikuti kedua penjaga yang sedari tadi berdiri dikanan-kiri Elang dan Jim.
"Sekarang bagaimana..?",
Tanya Jim.
"Yang jelas kita harus segera keluar dari sini..",
Jawab Elang,
"Bagaimana caranya..?",
Tanya Jim lagi,
" Aku tidak tau ...",
Sahut Elang pelan memejamkan matanya, berusaha memikirkan sesuatu yang bisa membuat mereka keluar dari tempat ini.
..............
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar