★HENING★ Part 27
"MENJADI SEPERTI DIA"
Beberapa prajurit kesehatan datang dan buru-buru membawa Letnan Vega dengan tandu, tampak salah satu seorang prajurit kesehatan itu mencoba menghentikan pendarahan Letnan Vega dengan perban-perban yang mereka bawa,
"Cepat bawa dia...!",
Kata Jend. Purnomo setengah berteriak, kegamangan tampak menghiasi semua orang yang ada di ruangan ini,
"Pak. . . ",
Prajurit pengawal yang menembak Letnan Vega tadi menoleh ke arah Panglima Rokhim, rasa bersalah meliputinya,
"Sudah..,, kau hanya melaksanakan tugasmu.. Ku harap kau tetap seperti itu..",
Pang. Rokhim membalas tatapan anak buahnya itu dengan perkataan, seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan prajurit itu.
Jendral Purnomo tampak beranjak mengikuti para prajurit medis yang membawa Letnan Vega, Jendral itu terus berada disamping Letnan Vega yang terkulai lemah...
.............
Puea Thai Party...
"Ukh.."
Elang terjatuh ketika hendak menuruni anak tangga terakhir,
"Hey.., kau tak apa?",
Ucap Jim melihat sahabatnya itu terjatuh,
"Tidak..., aku tak apa..",
Sahut Elang sambil berusaha bangkit kembali,
"Jim, kau dan Letnan Mahda pergilah ke tempat heli itu jatuh,, aku yang akan memeriksa keadaan Sersan Tari..",
Kata Elang memberi tahu,
"Baiklah, ayo..!",
Sahut Jim segera bergerak diikuti Letnan Mahda,
"Kelihatannya temanmu itu sangat mencemaskan Sersan mudaku..",
Ungkap Letn. Mahda,
"Aku rasa begitu.., siapa Sebenarnya Sersan muda mu yang terlihat cantik itu?",
Tanya Jim sambil terus berlari berbarengan dengan Letnan Mahda,
"Hmmm, tidak ada.. Ia hanya seorang prajurit wanita terbaik yang kami miliki setelah kakaknya..",
Jawab Letn. Mahda,
"Kakak..? Dia punya seorang kakak yang juga anggota militer..?",
Tanya Jim penasaran,
"Yah.., kakaknya seorang Letnan di markas pusat yang dikenal memiliki kepandaian di atas rata-rata.., dan Tari memilki kemampuan menembak juga di atas rata-rata.., kakak-beradik yang tampak sempurna..",
Jawab Letnan Mahda,
"Begitu ya.., hmm pantas saja..
Sudahlah, ayo kita harus cepat..",
Sahut Jim.
H
Sementara itu Tim Lettu Adam sudah tak berada jauh dari Jim dan Letnan Mahda, para prajurit Lettu Adam tampak diam dan berwajah tegang mengingat sebelumnya mereka terpaksa meninggalkan rekan-rekannya dibombardir pasukan musuh, tapi ini perintah yang harus mereka jalani sebagai prajurit sejati.
..........
Tak lama berselang,
"Ekh..."
Jauh dari situ tampak seseorang tengah terbaring di lantai atas sebuah bangunan yang sudah terlihat hancur, mungkin terkena bom-bom jet tempur di awal-awal peperangan ini,
" ...",
Sebelah tangannya memegangi bahu kirinya, tampak kain lengan kirinya robek, sepertinya ia sengaja merobeknya untuk membalut luka tembakan di bahu kirinya itu, yah.. Sersan Tari terus berusaha bergerak dengan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit,
"Sshhh.. sial, aku takkan mau mati disini..!",
Eluh Sers.Tari menyadari keadaannya, ia berhenti bergerak dan bersandar di tembok yang sudah di penuhi lubang, ia mencoba mengatur nafasnya tak ingin kepanikan membuat tubuhnya semakin lemah, dilihatnya Radio miliknya hendak menghubungi Letnan Mahda dan yang lainnya namun mengalami kerusakan,
"Huh..huh",
Sers.Tari membuang radionya,
"Tampaknya kali ini tak ada keberuntungan yang menghampiriku.,,"
"Huhhh...ughhh.., bagaimana dengan mereka disana..? Aku harap mereka baik-baik saja.. Ughh",
Sersan Tari berbicara sendiri sambil sedikit terbatuk-batuk karena kondisinya yang semakin melemah,
"Yah, mereka baik-baik saja..",
Seseorang menyahut perkataannya,
" ! "
Sersan Tari menoleh ke sumber suara itu di sebelah kirinya,
" Huh..huh,, semuanya baik-baik saja..",
Elang mendekati Sers.Tari yang terduduk lemah itu,
"Kenapa kau disini? Bagaimana dengan yang lainnya..?",
Tanya Sers.Tari,
"Sudahlah.., mereka akan baik-baik saja.., sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara dulu..",
Sahut Elang tampak mengeluarkan beberapa peralatan dan obat-obatan ringam dari ransel kecilnya,
"Baguslah.., pelurunya tembus ke belakang.., tahan sebentar, ini akan sedikit sakit...",
Kata Elang sambil membuka balutan luka Sers.Tari,
"Emmmhh...!",
Sers.Tari mengerang menahan sakit ketika Elang menyuntikan Morfin dan menaburkan sejumlah obat ke lukanya,
"Sebentar lagi..",
Kata Elang yang kemudian membalut luka di bahu Sers.Tari dengan perban yang ia bawa.
"Huhhh, kau perawat yang hebat..",
Kata Sers.Tari,
"Hmm? Tidak.. Aku hanya berusaha menyelamatkanmu...",
Sahut Elang,
"Kau sengaja kembali kesini untukku..?",
Tanya Sers.Tari menatap dalam-dalam Elang,
Angin berhembus menghampiri diantara mereka.
"Seperti itulah kira-kira.., mungkin... Yah ku rasa seperti itu",
Jawab Elang terbata,
Sers.Tari tampak mendekatkan wajahnya, dan Elang mengikat balutam perban yang terakhir..
Sers.Tari semakin mendekatkan wajahnya ke Elang, keringat menetes menyusuri kening Elang..
" Terima kasih....",
Bisik Sers.Tari pelan,
"Hmm..iya..",
Sahut Elang pelan,
"Kenapa...? Kau terlihat tegang..?",
Kata Sers.Tari memperhatikan Elang,
"Tidak apa-apa.. Aku hanya teringat sesuatu..",
Jawab Elang mengelak,
"Apa kau merasakan ini lebih dari biasanya..?"
Tanya Sers.Tari mencoba memasuki pikiran Elang,
"Aku tak tau.., Aku tak mengerti, kau mengingatkanku pada seseorang...",
Jawab Elang,
"Seseorang..? Seseorang yang spesial kah untukmu?",
Sers.Tari melanjutkan pertanyaannya,
"Hmm, aku rasa begitu, tapi... Aku tak tau apakah ia masih mengingatku..",
Jawab Elang,
"Kalau begitu biarkanlah ini berjalan.. Aku tak ingin menggantikan seseorang itu.., aku hanya ingin menjadi seperti seseorang itu..",
Sahut Sers.Tari,
Elang tak menjawab, ia hanya tersenyum kecil kepada Sersan Tari.
" ! "
............
"Berhenti.., ada sejumlah orang..!",
Bisik Jim merapatkan tubuhnya ke dinding diikuti Letnan Mahda,
"Hmm?"
Letnan Mahda menyadari sesuatu,
"Itu rekan-rekanku juga, tidak apa-apa.., ayo..",
Kata Letnan Mahda mengetahui bahwa sejumlah orang yang dilihat Jim berseragam Tentara Nasional Indonesia,
"Apa kau yakin..?",
Tanya Jim,
"Sudahlah, aku sangat yakin..",
Sahut Letnan Mahda sambil beranjak keluar dari balik dinding mengangkat tangannya,
"..Tahan tembakan..!",
Seru Letnan Mahda,
" ! ",
Lettu Adam dan ke 8 anak buahnya sedikit terkejut dan langsung berformasi,
" Tahan semuanya.., itu rekan kita..!",
Kata Lettu Adam mengenali seragam yang dikenakan Letnan Mahda,
"Treteteetet!"
Salah seorang anak buah Lettu Adam menembaki Jim yang hendak muncul dari balik dinding,
"..Letnaaaan..!",
Teriak Jim,
"Hentikan..hentikan..! Dia bersama saya..!",
Teriak Letnan Mahda,
"Hentikan tembakan..!",
Perintah Lettu Adam,
"Hey, ayo keluarlah",
Letn .Mahda memanggil Jim,
"Apa sudah selesai? Tak ada tembakan lagi?",
Tanya Jim dengan nada kesal,
"Sudahlah, ayo.. Tadi hanya salah paham..",
Jelas Letn. Mahda,
Jim pun keluar dengan wajah suram.
"Hey..hey, pakaian boyband mu itu membuat kau seperti mafia..",
Gurau Letn. Mahda,
"Heheheh, lucu sekali.."
Sahut Jim,
"Lalu Bagaimana keadaannya sekarang? Aku terpisah jauh karena ada tugas yang aku Emban..",
Tanya Letn. Mahda kepada Lett. Adam...
"Hmm, semakin buruk.. Pusat mengirimkan tim evakuasi udara, mungkin tak lama lagi akan tiba meskipun sepertinya sudah terlambat..",
Jawab Lett. Adam,
"Terlambat? Maksudmu?",
Tanya Letn. Mahda,
"Pasukan Kapten Joko dan Kapten Hari diserang musuh kemungkinan dengan jumlah yang tak sedikit.., dan sekarang aku kehilangan kontak dengan mereka berdua...",
Jelas Lett. Adam menghela nafas,
"..kalau sudah begitu..",
Letn. Mahda mengerutkan dahinya seakan mengerti kemungkinan apa yang terjadi pada pasukan Kapten joko dan Marinir-marinir kapten Hari,
"Sekarang, apa yang hendak kau lakukakan..? Kami di tugaskan untuk menyusulmu.., untuk segera kembali dengan tim evakuasi yang mungkin sebentar lagi tiba..",
Lett.Adam berbalik bertanya,
"..kita harus cepat, ayo..! Biar kujelaskan..",
Sahut Letn. Mahda sambil segera bergerak menuju kepulan asap kecil tak jauh dari posisi mereka, diikuti Tim Lettu Adam dan Jim.
...........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar