★HENING★ Part 31
"AWAL RENCANA YANG TERTUNDA, JENDRAL IRWAN"
Baru saja Elang dan Jim memijakkan kaki di bumi pertiwi,
"Jim.. Ini tidak bagus!"
Gumam Elang,
"Apa maksudmu?",
Jim bingung tiba-tiba sudah ada sejumlah pasukan khusus yang berlari mendekati mereka dan melucuti senjata mereka, serta menutupi kepala mereka berdua dengan kain hitam,
" !!! "
Semua yang ada pada saat itu jadi bertanya-tanya, termasuk Jendral Purnomo yang segera berlari mendekat namun langsun dihalangi oleh salah satu pasukan khusus yang berseragam hitam itu.
"Hey, saya perintahkan kalian untuk mundur dari mereka..!",
Seru Jend. Purnomo,
"Maaf pak.., ini perintah dari Jendral Irwan atas otorisasi langsung Panglima..",
Sahut salah seorang yang menghalangi Jendral Purnomo, sementara pasukan lainnya tadi buru-buru membawa Elang dan Jim ke sebuah Van hitam yang sudah menunggu,
"Hey..hey! Mereka rekan kita! Hentikan tindakan kalian..!",
Teriak Lettu Adam mendekat namun juga dihalangi oleh salah sejumlah pasukan khusus itu,
"Apa-apaan ini Jendral???",
Letnan Mahda mendekati Jendral Purnomo, Jend. Purnomo menggelaengkan kepalanya, kemudian ia segera berlari mendekat ke Panglima Rokhim sementara Lettu Adam dan Letnan Mahda tampak adu mulut dan saling dorong dengan beberapa pasukan khusus yang menghalangi mereka mendekati Elang dan Jim yang dibawa dengan kepala tertutup kain hitam dan tangan terikat.
"Panglima.., ada apa ini??? Mengapa anda melakukan ini???",
Jend.Purnomo bertanya-tanya,
"Menurut Jendral Irwan, agen kita itu terlibat aksi penjatuhan pemerintahan thailand, dan juga terindikasi Mengsabotasi informasi kita ke negara-negara lain..",
Jawab pang. Rokhim,
"Apa!?!? Itu tidak mungkin..! Saya ingin lihat bukti-buktinya..!",
Sahut Jend. Purnomo sama sekali tak bisa percaya tuduhan semacam itu,
"Maaf Jendral..., semua itu saya serahkan kepada kepala BPN jendral Irwan untuk mengurusnya..",
Jelas Pang. Rokhim.
"Sialan kau Irwan..!",
Gumam Jend. Rokhim sambil melihat sekeliling berusaha menemukan Jendral Irwan.
Sementara itu Letnan Vega dan Sers.Tari tampak terkejut dan tak mengerti dengan apa yang terjadi,
"Kakak, ada apa ini??? Apa yang sedang terjadi disini?",
Tanya Sers, Tari kepada kakaknya, ia berharap kakaknya yang bertugas di komando pusat mengetahui apa yang sedang berlangsung saat ini,
"Kakak tidak tahu.., sungguh kakak tak mengerti akan hal ini",
Jawab kakaknya itu,
"Jendral..!",
Sers.Tari bermaksud memanggil Jendral Purnomo meminta penjelasan, namun Jend.Purnomo tak mendengarnya.
"Kau..!",
Gumam Jend. Purnomo melihat sosok Jendral Irwan berdiri disebelah Van hitam yang digunakan pasukan khusus itu untuk membawa Elang dan Jim, segera Jend. Purnomo berlari ke arah Jend. Irwan,
"Mahda..!",
Jend. Purnomo memanggil Letnan Mahda, Letnan Mahda segera mengerti dan ikut berlari menuju Van hitam itu diikuti Lettu Adam,
Sesaat kemudian setelah berhasil membawa masuk Elang dan Jim sejumlah pasukan itu menghalangi Jend. Purnomo beserta Letnan-Letnannya itu,
"Hey..! Kami mohon, berhenti melakukan ini..!",
Ucap Letnan Mahda mulai mengarahkan senjatanya,
" !!!"
Keadaan semakin memanas karena pasukan khusus tersebut juga mengarahkan senjatanya,
"..Letnan..!",
Seru Lettu Adam bergabung dengan Letnan Mahda ikut mengarahkan senjatanya, melihat Lettu Adam mengangkat senjata..para prajurit dari tim Gultor pimpinan Lettu Adam segera berduyun-duyun mendekat ke komandannya. Lettu Adam, mereka juga mengarahkan senjatanya...
"Letnan.., hentikan ini, kami hanya menjalankan tugas!",
Seru salah satu prajurit khusus itu kepada Lettu Adam dan Letnan Mahda,
" Tugas macam apa ini!? Mereka rekan kita!",
Sahut Letnan Mahda,
"Kami tidak tahu itu! Dan Sekali lagi, kami hanya menjalankan tugas!",
Jawab prajurit khusus itu.
Keadaan semakin tegang, mereka saling mengarahkan senjata, bersiap-siap akan tembakan.. Seperti saling menunggu siapa yang terlebih dahulu melepaskan tembakan.
"Semuanya.. HENTIKAN!",
Semua terhenyak ketika Panglima Rokhim berteriak lantang ke arah mereka,
"Hentikan, atau kalian dianggap pembelot!",
Tambah Pang. Rokhim lagi,
"Jendral..??",
Letnan Mahda melirik Jendral Purnomo diikuti Lettu Adam beserta pasukannya, meminta arahan dan siap bila diperintahkan untuk terus maju.
Jendral Purnomo menarik nafas berat..
"..Mahda.., dan semuanya.. Hentikan... Kita harus mengalah..",
Ucap Jend. Purnomo dengan wajah tertunduk,
"Tapi Jendral..?",
Sahut Letn. Mahda,
"Kalian dengar kata Panglima.., saya tak ingin kalian dianggap sebagai Pembelot, saya tau kalian tidak diajarkan untuk kalah., tapi ini bukan kalah, kita hanya mengalah demi kehormatan, dan ini hanya sementara..",
Ucap Jend. Purnomo berusaha melunakkan Letnan-Letnan mudanya itu.
"Aku rasa kau mengerti Purnomo, ini rencanaku yang tertunda..",
Seru Jend. Irwan tersenyum,
Jend. Purnomo hanya menatap tajam rekan Lamanya itu yang jauh sebelumnya memang berniat menyingkirkan Elang.
Tak lama satu-persatu dari mereka menurunkan senjatanya, meskipun tampak wajah mereka murung seakan tak bisa diam menerima kejanggalan yang terjadi saat ini dimana rekan mereka yang mereka tahu juga bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang berperan besar dalam peperangan yang baru saja bergejolak.
Dan pasukan khusus itu mundur perlahan, menaiki Van hitam yang sedari tadi menunggu, sementara Jend. Purnomo melihat Jend. Irwan tersenyum sinis kepadanya dan segera naik ke Van itu dan berlalu...
"Jendral..! Apa yang mereka lakukan??? Katakan padaku..!?!",
Sers.Tari telah sampai dan menarik-narik kerah Jendral Purnomo, berharap mendapatkan jawaban tentang apa yang baru saja terjadi, namun Jend.Purnomo hanya diam, begitu juga dengan Mahda dan Adam, mereka tertunduk diam..
...........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar