Selasa, 20 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 34 PART 2

★HENING★ Part 34 (2)



"PEMBEBASAN SANDERA"




"... Ada waktu tertentu dimana kita harus diam dan dimana kita harus bergerak.., sangat jelas kau tidak bisa bersikeras dengan apa yang kau anggap sebagai kebenaran dihadapan kami orang yang tak kau kenal..", 

sahut Jim,

"Dan Kau hanya perlu mengikuti arus yang diciptakan petinggi-petinggi negara ini.. Meskipun itu bertolak belakang dengan apa yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan..", 

tambah Elang menyambung kata-kata Jim.

"... Jika semua ini kebohongan belaka, mengapa kalian hanya diam saja melihat mereka melakukan ini pada kalian..?", 

Heru bersikeras berusaha mendapatkan jawaban tentang semua ini.

" Yah, kami hanya akan diam.. Prajurit seperti kita tidak dilatih menghadapi situasi bak pertunjukan politik seperti ini.., kami diam karena kami tak bisa berbuat apa-apa.. Lebih baik kami menikmati semua ini, itu lebih bermakna setelah semua apa yang kami lalui",

 sahut Elang menunjukkan sisi kedewasaannya juga sisi kelelahannya menghadapi drama yang dibuat oleh petinggi-petinggi negara ini, negara yang dibelanya dengan nyawa sebagai taruhannya.

" . . ."

Heru terdiam berusaha mengumpulkan kata-kata yang tepat, tapi ia tak mampu dan beranjak keluar meninggalkan Elang dan Jim.

.........
"Dia masih terlalu muda...", 

kata Jim pelan,

"Yah, tak heran mereka merekrutnya untuk mengawasi kita.., mereka tak menyangka anak muda ini penuh rasa ingin tau dibalik kepolosannya sebagai aparat negara ini..", 

sahut Elang menanggapi perkataan rekannya tersebut.

"Huhhhh... Aku rasa malaikat pencabut nyawa sedang banyak tugas sehingga ia belum sempat kemari menjemput kita..",

 gurau Jim tertawa kecil.

"Heheh, aku rasa juga begitu.. sepertinya aku mulai merasa sakit disekujur tubuhku..", 

sahut Elang,

" ???, gurauanmu tak lucu sama sekali, kau kira luka-luka ini tak sakit sama sekali apa?", 

ucap Jim menunjukkan wajahnya yang penuh luka dan percikan darah.

"Hehehehe"

Elang hanya tertawa mendengar celoteh sahabatnya itu.

...........
Sementara itu Adam dan Mahda..
1 jam sebelum Pembebasan Elang dan Jim.

"Hanya 4 orang penjaga dikantor badan sebesar itu? Apa mereka kira mereka menahan kriminal penjambret?", 

kata Mahda memperhatikan kantor itu dari kejauhan dari sebuah jendela kamar Hotel tak jauh dari situ dengan teropongnya.

"Mungkin mereka tak ingin terlalu mencolok.., pimpinan mereka adalah rekan Jendral Purnomo dahulu, Jendral Irwan.. Seseorang yang juga pintar seperti Jendral Purnomo..", 

sahut Adam yang tampak sibuk mempersiapkan peralatan mereka.

"Letak ruang penahanan di sudut lorong ini.., kita harus bergerak cepat setelah menemukan mereka..", 

tambah Adam sembari menyusuri gambar denah kantor BPN disecarik kertas dengan jarinya.

"Bagaimana dengan penjaga-penjaga itu? Kita habisi?", 

tanya Mahda.

"..hmmm sepertinya tidak ada cara lain lagi..", 

sahut Adam sembari bangkit melihat kantor target mereka dari balik jendela.

.........
Kediaman Jendral Purnomo..
20 Menit sebelum penyerangan.

Sepertinya Jendral Purnomo tak bisa sedikitpun memejamkan matanya, ia tahu bahwa tak lama lagi Adam dan Mahda akan melakukan misi penyelamatan Elang.

Sejenak ia menoleh istrinya yang sedang tertidur pulas disebelahnya, kemudian ia turun dari ranjangnya meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar.

Jendral Purnomo berjalan ke balkon yang terletak dilantai 2 rumahnya sambil menekan beberapa tombol diponselnya,

"Tuut..."

Ia menghubungi Mahda..

"Klek.."

"Yah, ndan?", 

tanya Mahda dari ponselnya.

"Tak apa, lakukan dengan cepat.., utamakan keselamatan semua aspek..",

 perintah Jendral Purnomo,

"Siap ndan..", 

sahut Mahda.

"Dum..dum..dum.."

Gemuruh guntur menandakan sepertiny segera akan turun hujan.

"Sepertinya cuaca mendukung kalian.., berjuanglah, bawa mereka kembali..",

 seru Jend.Purnomo.

"Siap ndan, diterima..!", 

jawab Mahda.

"Tut.."

Jend.Purnomo menutup teleponnya.
Sejenak ia memperhatikan langit, bintang-bintang telah menghilang digantikan kilatan guntur yang menggelegar.

"Tenk..tenk.. Tenk.."

Rintik air hujan mulai turun membasahi genteng rumah kediaman Jendral itu, tak lama berselang hujan lebat telah mengguyur seluruh kota, otomatis kegiatan malam kota ini berangsur-angsur berhenti karena hujan yang cukup lebat disertai petir menyambar, hanya tinggal beberapa angkutan malam dan truk-truk lintas yang tampak mengisi jalan-jalan kota.

Dan setelah itu..
Tak jauh dari pos penjagaan Kantor BPN tampak dua bayangan hitam bergerak cepat menyusuri gang-gang sepi dibelakang kantor itu, Adam dan Mahda tengah bersiap melakukan penyerangan ditengah hujan lebat ini dengan seragam serba hitam bak tim SWAT amerika.

"Mahda, ayo..", 

kata Adam pelan sembari memasang peredam ke pucuk MP5-nya,

"Kita mulai dengan membuat panik mereka..", 

sahut Mahda melirik Box etalase listrik di bagian belakang kantor itu.

"Tskkk!.. Krankkk"

Adam menembak lampu penerang dibelakang kantor tersebut, gemuruh hujan membuat riak pecahan kaca lampu tak terdengar,

Mahda segera berlari mendekat, sebentar bersembungi menghindari pantauan kamera pengawas dan bergerak lagi.

Setelah sampai dikawasan kantor tersebut ia memberi tanda kepada Adam, Adam pun segera bergerak mendekat,

"Baiklah.. Kita MULAI..!"

...........

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...