★HENING★ Part 41
" AKHIRNYA KITA PULANG JIM...! "
"sepertinya Amerika sudah mulai bergerak.., sebaiknya kita harus waspada dan tetap megawasi pergerakan mereka..",
ucap Panglima Rokhim dengan mimik serius.
"Lalu apa yang menjadi target mereka..? Petinggi-petinggi negara inikah?",
sela Jendral Purnomo bertanya.
"Aku rasa begitu, tapi masih banyak kemungkinan lain..",
Mayjen Rizal menyahut.
"Saya rasa bukan itu pak..",
ucap Letnan Vega tegang.
"Maksudmu Letnan?",
tanya Mayjen Rizal.
"Panglima, apa penyamaran mereka saat masuk ke indonesia?",
tanya Letn.Vega.
"Mereka menyamar sebagai pengusaha..",
jawab Panglima Rokhim.
"Sudah sangat jelas, target mereka adalah bapak Wakil Presiden.. Bapak Haryono..",
seru Letn.Vega.
Semua orang yang ada diruangan itu terkejut dengan pernyataan Letnan Cantik itu.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu Letnan? Bukankah terlalu awal untuk menduga-duga seperti itu?",
tanggap Mayjen Rizal.
"Tidak pak, 3 hari dari sekarang pak Haryono akan menghadiri seminar sekala internasional yang dimotori oleh perusahaan dalam negri dalam merangkup pasar asia, dan Pak Wapres diundang untuk menghadiri itu...
Juga Tamu-tamu undangan tersebut adalah para pengusaha dari seluruh asia tenggara..!",
jelas Letn.Vega.
"Masuk akal.., tapi apa itu tak terlalu dini Letnan..?",
sahut Panglima.
"Lapor Panglima, saya rasa tidak..",
potong Elang,
"Untuk apa negara sebesar Amerika mengirim pasukan terbaiknya jika hanya misi penyusupan..? Saya yakin mereka punya misi besar seperti yang dijelaskan oleh Letnan Vega..",
terang Elang.
Sejenak Panglima berfikir mengerutkan dahinya, tampak Panglima berdiskusi dengan Mayjen Rizal dan Jendral Purnomo setelah mendengar pengamatan Letnan Vega.
sementara Letnan Vega tampak melirik Elang dengan seksama.
"Penjelasanmu bagus..",
ucap Letn.Vega pelan.
"Tidak sebagus dirimu..,",
sahut Elang.
"Sudah lama sekali aku tak melihatmu..",
ucap Letn.Vega lagi.
Namun Elang hanya diam dan sejenak bangkit,
"Aku hendak keluar sebentar, aku tak terbiasa dengan rapat seperti ini..",
kata Elang berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Kau selalu seperti itu, tidak berubah sedikitpun..",
Let.Vega menanggapi namun Elang tak menghiraukannya.
...........
Sementara itu..
Darah menetes dari pergelangan tangan Jim karena terkena sabetan pisau Heru, Jim berusaha menyeimbangkan badannya agar tak jatuh, sementara Heru kembali menyerangnya dengan sebuah tendangan.
" ! "
Menyadari itu Jim menghindar dengan cara menunduk seraya memberikan tendangan balasan ke arah perut Heru.
"Buk!"
Heru mementahkan tendangan Jim dengan tangannya dan melangkah cepat mendekati Jim sambil melayangkan tinjunya dan..
"Bamp!.."
Telak mengenai wajah Jim, tidak sampai disitu Heru kembali menyerang dengan pisaunya..
"Tsskk!!!!"
"Siapa kau sebe..narnya..???",
rintih Jim ketika pisau Heru tertancap di perutnya, darah segar mengalir.
"Tak disangka.., tanpa disengaja aku menemukan kalian..!",
sahut Heru sambil menusuk dalam-dalam pisaunya.
Darah terus mengalir, Jim mulai kehilangan tenaga.
"Astaga.. Kau berkhia..nat pada negaramu, kau adalah mata-mata pihak asing..",
tebak Jim sambil menahan ngilu dari luka yang menganga di perut kirinya.
"Sungguh? Sudahlah jangan ceramahi aku disaat kau akan mati..!",
sahut Heru dengan nada sombong.
Dilain tempat Elang baru mengingat Jim sahabatnya ada diruangan tak jauh dari tempatnya berada sekarang, segera saja ia menuju kesana untuk menemui sahabatnya tersebut..
Tak lama berselang ia sudah berada didepan pintu ruangan, namun betapa terkejutnya Elang ketika ia beranjak masuk dan mendapati Jim tergeletak bersimbah darah.
"Jim...!!!"
teriak Elang berlari mendekat ke rekannya itu.
"Ada apa ini?!? Apa yang terjadi..?!?",
tanya Elang meraih tubuh rekannya yang tak berdaya itu.
"Ekh.. Anak I..tu.., dia..",
Jim kesulitan menyelesaikan kata-katanya.
"Sial..! Bertahanlah..!",
seru Elang sembari berlari keluar ruangan.
"Tolong..! Panggilkan ambulan..!",
teriak Elang ke arah para staf-staf yang berada di markas tersebut.
Sontak orang berdatangan dimana Jim berada dan berusaha memberikan pertolongan seadanya, salah satu dari mereka sibuk menelpon ambulan.
" Kau lihat seseorang keluar dari ruangan ini..?!?",
tanya Elang pada seseorang staf yang berada di dekat situ.
"Tadi ada seorang pemuda dari ruangan itu dan berjalan keluar..",
jawab orang itu sembari menunjuk ke arah luar.
"Sial..!",
Elang berlari keluar, sejenak ia memperhatikan sekitar berusaha menemukan sosok Heru.
Elang berputar-putar di jalan tak jauh dari markas pusat itu masih berharap untuk menemukan sosok Heru.
Sesaat matanya melihat sosok Heru sedang berjalan dengan tergesa-gesa di kawasan yang ramai tak begitu jauh dari posisinya.
" ! "
Segera Elang berlari sembari merampas Senapan jenis SS-1 yang di sandang seorang prajurit yang lewat.
"sebentar..!",
seru Elang dan langsung berlari dan langsung menempatkan sosok Heru di pijera Senapan rampasannya.
Heru tampaknya tak menyadari keberadaan Elang, ia tampak terus berjalan terburu-buru.
" Tak kusangka kau..",
gumam Elang bersiap menarik picu.
"Tash..!"
Sebuah tembakan dilepaskan Elang, gemuruh suara tembakan membuat warga sipil yang tengah berlalu-lalang berteriak panik.
Sementara para anggota TNI yang berada disitu segera bersiaga dan mendekat ke arah Elang.
Sekitar 100 meter dari situ tampak Heru terbaring dengan sebutir peluru bersarang dipaha kirinya.
"Ini..!",
ucap Elang sembari mengembalikan Senapan itu kepada pemiliknya, selanjutnya ia berlari ke arah Heru.
Tapi tiba-tiba saja sebuah sedan hitam berhenti tepat disebelah Heru, sesaat membuka pintu dan tampak 2 orang membawa Heru masuk dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi tersebut.
"Sial...!",
geram Elang menyadari ia gagal menangkap Heru, tak ingin berlama-lama ia segera kembali untuk melihat keadaan sahabatnya Jim.
Sudah ramai kerumunan orang mengelilingi Jim, Elang membelah kerumunan orang di ruangan itu dan mendapati sahabatnya tengah mendapat pertolongan seadanya dari seorang prajurit medis yang sedang berada disana.
"Bagaimana keadaannya?",
tanya Elang panik.
"Dia kritis! terlalu banyak darah yang keluar, saya rasa lukanya mengenai bagian vital tubuhnya, sementara Ambulan masih dalam perjalanan kemari...",
jelas prajurit medis tersebut.
"Jim..! Jim bertahanlah...!",
teriak Elang.
Jim berusaha menyahut namun suaranya tak keluar dari mulutnya yang bergerak.
Jim berusaha menggenggam tangan Elang yang merangkulnya, namun sebelum jari-jarinya yang merah penuh darah berhasil meraih tangan Elang... Ia tersentak dibarengi kedua tangannya yang terkulai, saat itu juga Jim tertidur untuk selama-lamanya.
"Jangan...! Jangan begitu..! Jangan begitu Jim...!",
Elang histeris.
"Bangun...! Bangun Jim..! Bangun!",
Elang menggoncang tubuh sahabatnya itu yang sudah tak bernyawa lagi.
Air matanya menyeruak membanjiri pipinya, Elang tak bisa itu meski dengan sangat nyata dihadapannya ia dapati sahabatnya tak lagi bergerak.
"Jim...! Jim..! Tidaaaaakkkkk....!",
Elang semakin histeris membuat orang-orang disekitarnya ikut merasakan kesedihannya hari itu.
...........
5 oktober 2012
17.25 wib
Pemakaman umum Jakarta
Jim dimakamkan hari itu juga, tampak Elang tertunduk diam meratapi sahabatnya yang telah pergi untuk selama-lamanya.
Tampak pula disitu, Letnan Mahda, Lettu Adam dan Jendral Purnomo, serta sejumlah prajurit dibantu warga sipil melaksanakan prosesi pemakaman tersebut.
Warga yang melewati kawasan pemakaman tersebut dibuat heran melihat prosesi pemakaman hanya dihadri puluhan orang berseragam militer, namun mereka juga bertanya-tanya kenapa disemayamkan disini, bukan di makam para pahlawan.
Sore itu sebuah batu nisan tanpa nama menjadi saksi bisu peristiwa hari ini, Elang sengaja meminta agar nisan itu tak diberi nama, tapi digantikan dengan sebuah tulisan yang berbunyi..
"Akhirnya kita benar-benar pulang..."
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar