Minggu, 04 Oktober 2020

EPILOGUE IV (Arfa)

Arfa

EPILOGUE IV

Arfa



Situation Room 
Bina Graha, Jakarta
19.57 WIB
10 Hari Setelah Ending


Tak seperti biasa, hari ini rapat terbatas diadakan cukup mendadak, tanpa pemberitahuan sebelumnya, setidaknya bagi Arfa, karena dia melihat Hafryn Rahman, yang juga diundang dalam rapat itu datang dengan tanpa beban dan muka siap. Ataukah hanya dia satu-satunya orang yang mendapatkan pemberitahuan di saat-saat akhir? Hal ini memang tak terduga karena beberapa jam sebelumnya, Pres. Chaidir baru saja mengantar kepulangan PM Phillip Andrews kembali ke Australia.

Ya, “Krisis Antasena”, begitu media setempat menjulukinya, cukup membuat hubungan kedua negara menjadi tegang. Bukan hanya renggang, melainkan tegang, karena masing-masing sempat melakukan pengepungan atas kedutaan besar lawannya. PM Andrews sendiri sudah berada di Indonesia selama 2 hari, antara lain melakukan pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi, beberapa di antaranya bahkan bukan untuk konsumsi khalayak umum, tapi kedua pihak pun menyepakati bahwa “Krisis Antasena” atau di Australia disebut sebagai “Krisis HMAS Pitcairn” lebih bersifat sebagai insiden alih-alih agresi, dan sesuai pernyataan resmi sebelumnya, PM Andrews meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa insiden ini terjadi akibat “kesalahan” peneraan posisi pada HMAS Pitcairn sehingga “tak sengaja” masuk ke dalam wilayah Indonesia dan menghajar KRI Antasena yang dianggap sebagai musuh. Tentu saja Arfa mengetahui betapa bohongnya pernyataan itu, tapi dia diam saja karena Pres. Chaidir pun mendukung kebohongan itu.

Walau sudah tak awam dengan intrik-intrik politik, namun ini tak ayal membuatnya geram karena sebuah insiden besar yang mengorbankan nyawa manusia ditutupi oleh sebuah kebohongan mahabesar yang tak pernah terlintas sekalipun dalam akal sehatnya. Kompensasi bagi Indonesia sendiri cukup signifikan sebenarnya, karena Australia kembali akan “menghadiahkan” beberapa pesawat angkut C-130 Hercules-J dan beberapa cutter patroli untuk kepentingan Badan Keamanan Laut (Indonesian Coast Guard) di samping suku cadang untuk memperbaiki Hercules milik TNI-AU yang sudah rusak, dan kesepakatan pelaksanaan maintenance pesawat F-16 dan Hercules Angkatan Udara Diraja Australia di Indonesia, sebagai bayaran bahwa Indonesia menganggap semua permasalahan ini selesai. Ditambahkan dengan kunjungan perdana menteri Russia, PM Chagayev yang juga memberikan kompensasi “hibah beserta imbal beli” senjata antiserangan udara jenis Buk-M, Pantsyr, dan S-300, sebagai bayaran atas keteledoran seorang awak kapalnya yang menyebabkan binasanya NC-295 Blue Sky, ini tentu saja merupakan mimpi indah yang menjadi nyata bagi TNI. Tapi bagi Arfa, nyawa manusia jelas bukan harga seimbang untuk semua barang-barang ini.

Tapi seperti biasa, Arfa memilih untuk diam. Padahal beberapa anggota MPR dan DPR gencar menyerukan untuk tak menerima semua kompensasi, terutama dari Australia, dan melanjutkan penuntutan atas Australia dalam “Krisis Antasena”, pun itu tak membuat Pres. Chaidir bergeming. Seolah Pres. Chaidir pun punya kepentingan untuk segera menutup kasus ini sampai di sini, dan Arfa tak pernah tahu alasannya. Walau dia dekat dengan Pres. Chaidir, tapi sang presiden tak mau memberitahukan semua detail di balik semua kejadian ini. Arfa teringat bahwa Pres. Chaidir pernah berkata kepadanya ketika dia menanyakan soal masalah sama dalam kasus lain: “Bila kau mengetahui semua yang kuketahui, maka sebaiknya sekalian saja kau yang jadi Presiden, tak perlu harus aku.” Sebuah jawaban yang singkat, jelas, tapi amat mengena.

Sambil membawa tablet yang menjadi andalannya, Arfa pun turun ke situation room. Ini bukan situation room yang dipakai selama dalam Krisis Antasena, melainkan ruangan lain yang berada di basemen Bina Graha, terhubung pada Istana Merdeka juga, dan pada jaringan terowongan rumit antibom seandainya harus mengevakuasi presiden dan keluarganya dengan cepat. Hanya segelintir orang di dunia ini yang mengetahui adanya ruangan bawah tanah ini, yang mana itu bagus. Bahkan orang yang telah lama bekerja baik di Bina Graha, Istana Merdeka, maupun Kesekretariatan Negara pun belum tentu tahu mengenai ruangan rahasia ini. Arfa menjadi salah satu orang yang beruntung untuk bisa tahu, tapi ini pun membuatnya bertanya-tanya, karena belum pernah sekali pun Pres. Chaidir mengajak rapat di ruangan ini, bahkan saat Krisis Serawak beberapa tahun silam.

Saat Arfa memasuki ruangan, terkejutlah dia ternyata di sana sudah ada kepala staf dari tiga angkatan: Jend. Sudhiarto Pamudji dari Angkatan Darat, Laks. Danoe Salampessy dari Angkatan Laut, dan Marsekal Aloys Theofilius Kambu dari Angkatan Udara bersama Laks. Dedi Suprayitno selaku Panglima TNI. Masing-masing kepala staf membawa seseorang yang Arfa kenali sebagai calon kepala staf berikutnya pada masing-masing angkatan, yaitu Letjend. Tengku Johan Indra Chaniago yang saat ini menjabat sebagai danjen Kopassus, sebagai calon KASAD; Laks. Ardan Sobari yang saat ini menjabat sebagai panglima Komando Armada Barat, sebagai calon KASAL. 

Satu nama lagi, cukup mengejutkan bagi Arfa, adalah hadirnya Marsdya. Tatjana Virda Naraputri, kepala pusat perbekalan dan angkutan Angkatan Udara. Dengan Mars. Kambu yang akan menjadi panglima TNI selanjutnya menyusul pensiunnya Laks. Dedi Suprayitno, posisi KASAU akan lebih dulu kosong daripada KASAD maupun KASAL. Sejauh ini, ada tiga orang yang difavoritkan menjabat posisi KASAU, yaitu Marsdya. Daniel Salomon Aritonang, kepala skuadron pembom berat yang pernah bersinar namanya selama Krisis Serawak saat memimpin kampanye pemboman atas kota-kota besar yang menjadi basis RPIM di Serawak, atau pun Marsdya. Budi Kauw Pek-Lian, kepala kohanudnas yang mencetuskan model pertahanan udara yang kini diaplikasikan di kota-kota besar seluruh Indonesia. Nama ketiga adalah Marsdya. Tatjana Virda Naraputri, sekaligus yang prestasinya tak begitu mentereng dibandingkan kedua nama sebelumnya.

Arfa sendiri tahu mengenai sejarah Marsdya. Naraputri, dari memulai karier sebagai pilot helikopter, kemudian beralih menjadi pilot skuadron CN-235 dan Hercules, hingga bersinar namanya saat memimpin armada pesawat angkut Hercules dalam upaya memperkuat garnisun TNI yang saat itu berpangkalan di Brunei Darussalam atas permintaan Sultan Brunei saat pemberontakan RPIM mulai memanas di Serawak. Menerbangkan sendiri salah satu Hercules melewati wilayah panas Serawak yang saat itu diperkuat dengan puluhan meriam AA oleh pemberontak RPIM, Marsdya. Naraputri (saat itu berpangkat Mayor) bahkan sempat mengalami Hercules yang dipilotinya terpaksa crash landing di Sangatta akibat dua mesinnya terbakar setelah dihajar oleh Stinger RPIM di dekat perbatasan. Tapi Marsdya. Naraputri tidak gentar, dan walau dengan perut dibebat oleh perban, besoknya dia kembali memimpin dalam Hercules lain, dan selama kampanye itu, dia amat terkenal dengan slogannya: “Apa pun yang terjadi, jangan pernah berputar balik”. Berkat keberaniannya, garnisun TNI di Brunei Darussalam berhasil mendapatkan sokongan udara yang diperlukan untuk refill amunisi, penambahan personel, dan evakuasi personel terluka. Senjata-senjata berat semacam meriam 105mm, peluru meriam tank 120mm dan rudal antitank yang diperlukan dan berhasil dibawa oleh armada angkut pimpinan May. Naraputri pun berhasil mengubah perimbangan kekuatan di Serawak dan mencegah pemberontak RPIM, yang jumlahnya 2 kali lebih besar gabungan garnisun TNI dan Angkatan Bersenjata Diraja Brunei Darussalam, untuk memasuki dan mengacaukan Brunei. Ini membuat May. Naraputri mendapat penghargaan dari Sultan Brunei pribadi.

Pasca kampanye Brunei, May. Naraputri di tengah berkobarnya pertempuran di Serawak, berinisiatif mengumpulkan armada-armada helikopter baik milik TNI-AD maupun AU dan juga pesawat serang darat Super Tucano untuk membentuk embrio skuadron SAR Tempur (Combat SAR) pertama di Indonesia. Walaupun prestasi ini sebenarnya tak bisa dianggap remeh, karena dia bukan berasal dari kesatuan elite pembom maupun pesawat tempur, maka namanya pun seolah tenggelam oleh prestasi rekan-rekan lainnya. Hanya kalangan dalam AU sendiri yang tahu siapa sebenarnya Marsdya. Naraputri, salah satunya adalah Mars. Kambu yang dalam kampanye Serawak merupakan komandan wing tempur Su-27 dan Su-30 di Sangatta, yang mengenal seorang May. Naraputri sebagai “orang paling keras kepala” yang pernah dia kenal, dan kesan di Sangatta itu membuat Mars. Kambu amat respek pada May. Naraputri.

Atas jasa-jasanya selama kampanye Serawak, May. Naraputri pun mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra dan juga Bintang Sakti oleh Pres. Chaidir yang saat itu baru menjabat menggantikan Pres. Zakaria, dan pangkatnya pun naik secara kilat. Sebenarnya bila mau, May. Naraputri bisa menjadi komandan komando pertahanan udara nasional atau jabatan mentereng lain, tapi dia lebih memilih menjadi kepala pusat perbekalan dan angkutan TNI-AU, karena ingin fokus membenahi sistem logistik yang dalam kampanye Serawak dinilainya masih memiliki sejumlah kelemahan, di samping dia masih menjadi pembimbing skuadron SAR Tempur yang mulai matang. Bila dia benar menjadi KASAU berikutnya menggantikan Mars. Kambu, maka dia akan menjadi KASAU pertama yang berasal dari pilot pesawat angkut setelah sebelum-sebelumnya KASAU selalu didominasi oleh jebolan pilot pesawat tempur, selain juga sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai kepala staf angkatan.

Tapi bukan itu saja yang mengejutkan Arfa, karena ketika dia tiba, semua kepala staf dan calon kepala staf sudah bersiap untuk pergi. Tampaknya apa pun yang dibicarakan dengan Presiden, hal itu sudah selesai.

“Apa aku terlambat?” tanya Arfa menyelidik.

“Tidak, kau datang tepat waktu,” kata Pres. Chaidir, 

“rapatku dengan semua kepala staf dan calon penggantinya sudah selesai,”

Semua kepala staf dan calon pengganti mereka masing-masing pun lewat dan menyalami Arfa ketika hendak keluar. Arfa sendiri cukup heran, karena biasanya dalam rapat seperti ini dia selalu dilibatkan. Kenapa kali ini Pres. Chaidir ingin rapat hanya bertiga saja dengan dirinya dan juga Hafryn Rahman, kepala BIN.

“Duduklah, Arfa,” kata Pres. Chaidir,

“dan tolong buat dirimu nyaman, ambil minumanmu sendiri, karena kita akan agak lama di sini,”

Arfa mengangguk, kemudian mengambil sebotol cola dari mesin minuman yang ada di sana. Saking rahasianya, maka bahkan OB-pun tak diizinkan masuk di sini, hanya ada beberapa personel yang memang sudah terotorisasi, itu pun tugas mereka bukanlah untuk mengambilkan minuman, maka dipasanglah beberapa mesin minuman dan makanan di sini, yang bahkan Pres. Chaidir pun harus mengambil sendiri bila ingin minum. Setelah mengambil minumannya, Arfa pun duduk di meja lingkar kecil menghadap Pres. Chaidir dan Hafryn Rahman. Tak disangka, kali ini Arfa dulu yang membuka pembicaraan.

“Kenapa aku dipanggil setelah para kepala staf selesai?” tanya Arfa.

“Karena jatah yang ingin kubicarakan padamu bukan untuk didengar oleh para kepala staf,” kata Pres. Chaidir.

“Urusan apa?” tanya Arfa.

“KRI Antasena,” kata Pres. Chaidir.

“Bukankah Pak Presiden sendiri yang ingin supaya kasus ini segera ditutup, lalu apa yang harus dibicarakan lagi?” tanya Arfa.

“Karena banyak hal mengenai KRI Antasena yang tidak bisa diungkapkan secara umum,” kata Pres. Chaidir.

“Aku sudah tahu beberapa hal di antaranya,” kata Arfa.

“Dan kini kau akan tahu sisanya,” kata Pres. Chaidir,

“Pak Hafryn dan aku sudah sepakat bahwa ini saat yang tepat untuk memasukkanmu ke dalam ‘lingkaran dalam’, begitu kami menyebutnya,”

“Jadi di lingkaran dalam pun masih ada lingkaran dalam?” tanya Arfa ketus.

“Apa yang sebenarnya mengganggumu?” tanya Pres. Chaidir menanggapi sikap Arfa yang terkesan merajuk.

“Semuanya, Pak Presiden, semuanya menggangguku,” kata Arfa,

“dimulai dari pembohongan publik mengenai nasib sebenarnya dari KRI Antasena, hingga kesepakatanmu dengan Perdana Menteri Australia,”

“Itu memang bukan hal yang ideal, tapi ada permainan lebih tinggi yang harus kita mainkan,” kata Pres. Chaidir.

“Politik lagi? Politik untuk melemahkan kekuatan kita secara substansial, mendukung negara lain yang menggagalkan kita untuk memiliki sebuah kapal selam super canggih hanya dengan beberapa kapal patroli dan pesawat Hercules?” tanya Arfa sengit,

“tidak ada politik yang bisa membenarkan semua itu; KRI Antasena akan melipatgandakan posisi tawar kita dalam sengketa internasional, dan kini semuanya sudah musnah,”

“Sebentar, aku setuju bahwa itu bukan kesepakatan yang ideal, tapi aku tak setuju bila dibilang KRI Antasena sudah musnah,” kata Pres. Chaidir.

“Lalu harus dibilang apa bila satu-satunya purwarupa yang kita miliki sudah hancur dan tenggelam ribuan fathom di bawah laut?? Bahkan tak ada sisa-sisa yang bisa kita teliti,” kata Arfa.

Pres. Chaidir terdiam sambil mempertahankan sikap tenangnya, berdehem sejenak seolah tak terpancing dengan nada suara Arfa yang penuh emosi. Bila tidak setuju dengan sesuatu, Arfa memang cenderung mengatakannya secara keras kepada siapa saja, tak terkecuali Pres. Chaidir, tapi karena sang presiden sudah cukup lama juga mengenal Arfa, maka dia pun tahu bagaimana harus menghadapinya.

“Apa harus kita beritahukan sekarang saja, Pak Hafryn?” tanya Pres. Chaidir pada Hafryn Rahman.

“Silakan saja, Pak Presiden, dari sini pun aku setuju bahwa dia sudah siap,” kata Hafryn Rahman.

“Siap apa? Apa maksudnya? Lalu kenapa Anda bilang kalau KRI Antasena belum musnah?” tanya Arfa,

“tanpa platform Antasena yang kini sudah hancur berantakan di laut, data-data yang dibawa oleh Laks. Mahan sia-sia saja, susah untuk menerapkannya sampai kita membuat satu hull lagi dengan alat-alat yang sama persis,”

Pres. Chaidir mengangkat jari telunjuknya, secara efektif meminta Arfa untuk diam. Dan entah bagaimana Arfa pun langsung menurut. Saat itulah baru terasa ruangan ini amat sepi karena selain hanya ada mereka bertiga, ruang ini sengaja dibuat kedap suara.

“Aku tak bisa menjelaskannya sebaik dirimu, Arfa,” kata Pres. Chaidir,

“jadi sebaiknya kau melihat sendiri saja,”

Sebuah tombol ditekan dan pada layar monitor sentuh besar di ruangan itu, terpampang sebuah layar pembuka dengan tulisan besar. 

“PROYEK AGNEYASTRA”

Sontak saja Arfa tertegun membaca tulisan pada layar pembuka ini. Dia mencoba mengingat kembali mengenai Proyek Agneyastra, nama yang sudah lama tak pernah dia dengar lagi.

“Proyek Agneyastra, bukankah ini sudah dibatalkan beberapa tahun lalu pada era Pres. Zakaria?” tanya Arfa.

“Buka saja,” kata Pres. Chaidir.

Terdorong oleh rasa keingintahuannya, Arfa mendekat pada layar sentuh itu, kemudian tangannya menekan tepat pada tulisan “Proyek Agneyastra” sehingga tulisan itu menyala warna putih, dan dengan sekali tarikan, Arfa mengusap layar sehingga layar pun berganti menjadi tampilan selanjutnya, yang terdiri dari beberapa tulisan yang sepertinya menjelaskan mengenai Proyek Agneyastra. Arfa hanya pernah mendengar mengenai proyek ini sekali, tapi saat itu pun isinya adalah pembatalan proyek ini karena anggaran yang tidak cukup mengingat sebagian besar APBN tersedot akibat konflik di Serawak. Dari semua tulisan itu, ada satu yang membuat Arfa tertegun, yaitu tulisan: “PROYEK ANTASENA FASE 2”, tepat di bawah “PROYEK ANTASENA FASE 1”. Apakah KRI Antasena yang baru saja almarhum itu masuk sebagai “Fase 1”? Kalau begitu “Fase 2” itu apa? Perlahan, jari telunjuknya pun mengarah dan menekan tulisan “Fase 2”, dan layar pun berganti, yang membuat Arfa langsung mundur dengan penuh keterkejutan.

Betapa tidak, di situ terpampang gambar-gambar mengenai sebuah galangan kapal rahasia yang memuat tidak hanya satu, melainkan 6 buah hull kapal selam sekelas KRI Antasena. Lebih mengejutkan lagi adalah gambar itu bukan gambar digital, melainkan foto asli, menunjukkan bahwa ini bukanlah sebuah rancangan, melainkan sesuatu yang sudah ada dan berwujud. Di sela-sela gambar itu terdapat berbagai macam tulisan mengenai aspek-aspek teknis dan juga perhitungan-perhitungan kapal selam. Arfa langsung cepat mengenali bahwa semua ini adalah aspek dari KRI Antasena.

“Kau sedang melihat masing-masing KRI Anantaboga, KRI Wisanggeni, KRI Prahasta, KRI Yamadipati, KRI Abiyasa, dan KRI Anggada,” kata Pres. Chaidir,

“semuanya adalah saudara-saudara KRI Antasena, kapal-kapal selam dari kelas Antasena,”

“Semuanya? Sudah selesai juga?” tanya Arfa.

“Saat KRI Antasena selesai dibuat, sebenarnya keenam saudaranya pun sudah selesai pula dibuat, namun kita menutupinya dengan mengatakan bahwa KRI Antasena adalah sebuah purwarupa, yang mana itu tidak benar, karena purwarupa KRI Antasena yang sebenarnya adalah prototype-Uralsk-XIII yang kemudian dikembangkan oleh Russia menjadi kapal selam kelas Veliky Novgorod,” kata Pres. Chaidir,

“keenam kapal selam lain dari kelas Antasena ini memiliki sensor dan perlengkapan yang nyaris sama dengan KRI Antasena, yang mana, Arfa, ini berarti semua data dari pengujian KRI Antasena bisa kita pakai dalam kapal-kapal selam yang lain,”

“Jadi KRI Antasena hanyalah umpan?” tanya Arfa.

“Aku tak akan menyebutnya begitu, tapi katakan saja bahwa KRI Antasena adalah ‘front’ perwakilan dari kapal kelas Antasena lain, namun sebenarnya semua badan kapal dari kelas Antasena sudah layak untuk melaut,” kata Pres. Chaidir,

“dan ketika KRI Antasena melakukan uji coba secara menyeluruh, secara bersamaan kapal lain, yaitu KRI Anantaboga melakukan juga uji coba di lokasi rahasia di Laut Banda, yaitu uji coba terakhir kapal kelas Antasena sebagai platform untuk Agneyastra; percobaan itu sukses dengan peluncuran roket dummy dalam keadaan menyelam sebagai simulasi peluncuran Agneyastra,”

“Peluncuran dalam keadaan menyelam? Tapi bukankah Antasena tak memiliki kemampuan untuk itu?” tanya Arfa.

“Memang, tapi percobaan Agneyastra pada KRI Anantaboga membuka jalan bahwa seandainya KRI Antasena selamat, maka dia pun akan di-upgrade dengan kemampuan yang sama,” kata Pres. Chaidir.

Arfa merasa pijakannya tak seimbang, dan sampai harus berpegangan ke kursi supaya tidak jatuh. Semua informasi yang tak diduga dan masuk dalam tempo bersamaan membuatnya kewalahan dalam menghadapinya. Dia pun akhirnya duduk sejenak, meminum seteguk minumannya untuk sarana menenangkan diri, kemudian kembali menghadapi Pres. Chaidir.

“Mengapa pelaksanaan uji coba harus dilakukan secara terpisah, Pak Presiden?” tanya Arfa menyelidik,

“dan apa itu Agneyastra? Kenapa harus dirahasiakan sedemikian rupa sehingga KRI Antasena dianggap layak untuk ditumbalkan?”

Pres. Chaidir terdiam sejenak, kemudian Hafryn Rahman pun mencondongkan badan dan berbicara.

“Dia layak untuk diberi tahu mengenai sejarahnya, Pak Presiden,” kata Hafryn Rahman.

“Ya, aku tahu,” kata Pres. Chaidir, “aku hanya sedang berpikir bagaimana memulainya,”

“Mulailah dari yang paling awal,” kata Hafryn Rahman.

“Sejarah apa?” tanya Arfa.

“Beberapa tahun lalu, kau tentu ingat saat awal-awal Krisis Serawak meletus, dan pasukan RPIM mulai menyerang garnisun kita di Brunei dan juga di Nunukan serta Malinau,” kata Pres. Chaidir,

“saat TNI memulai konsolidasi pasukan di Sangatta, di barat kita mendapat tekanan kapal-kapal Cina yang mulai memasuki wilayah Laut Natuna,”

“Ya, saat itu hubungan antara Indonesia dengan Cina menjadi amat tegang,” kata Arfa.

“Bukan amat tegang sebenarnya, tapi pada saat itu Republik Indonesia memang sudah melakukan perang rahasia, sebuah unsung war dengan Republik Rakyat Cina,” kata Pres. Chaidir,

“diawali kita menangkap sebuah kapal selam nuklir milik RRC yang selama beberapa hari berada di bawah pengawasan salah satu kapal trimaran kita, KRI Pulau Simeulue; sebuah kapal selam kelas Jin dengan full-armament,”

“Tapi, bukankah kapal selam kelas Jin adalah SSBN?” tanya Arfa tak percaya,”full-armament, maksudnya??”

“Dia membawa seluruh rudal nuklirnya, yang bisa ditembakkan pada jarak yang membahayakan,” kata Pres. Chaidir,

“sensor bawah air KRI Pulau Simeulue adalah salah satu yang tercanggih setelah KRI Harimau, dan kapal itu sudah terdeteksi berada di wilayah laut kita selama dua hari dengan beberapa kali pergeseran taktis; dan perintah awal dari Pres. Zakaria saat itu adalah untuk mengawasi saja kapal selam itu mengingat situasi di Serawak tengah memanas; karena keberadaannya dirasa makin mengancam, maka kita mengerahkan KRI Macan Tutul dan KRI Barakuda untuk membantu KRI Pulau Simeulue dalam memaksa kapal selam itu untuk surface, tentu saja semuanya terkejut karena kapal itu adalah kapal selam kelas Jin dengan rudal nuklirnya terisi penuh; awak mereka akhirnya ditangkap dan diterbangkan ke kamp internir di Bangka sementara kapal selamnya kita derek ke pangkalan di Bengkulu,”

“Dan tak ada berita apa-apa soal ini?” tanya Arfa,

“bagaimana respons dari pihak Cina?”

“Tak ada berita, karena kita tak bisa gegabah; tertangkapnya sebuah kapal selam rudal nuklir bila tersebar tentu bisa membuat keseimbangan kawasan menjadi gonjang-ganjing,” kata Pres. Chaidir,

“balasan Cina sendiri datang keesokan paginya ketika dua kapal selam tempur kelas Song langsung mendobrak masuk wilayah laut kita yang langsung dihalau oleh KRI Macan Tutul; salah satu kapal selam itu menembakkan torpedo yang berhasil dielakkan oleh KRI Macan Tutul; atas itu, maka Pres. Zakaria memerintahkan tambahan 4 kapal dari kelas Barakuda, yaitu KRI Lemadang, KRI Gerong, KRI Todak, dan KRI Pari serta 2 kapal kelas Douwess-Dekker, yaitu KRI Silas Papare dan KRI Untung Surapati untuk bersiaga di Natuna.

Seiring dengan diperluasnya patrol laut kita hingga ke perairan sebelah utara Serawak, kita menemukan banyak sekali kapal selam maupun kapal permukaan Cina yang hilir mudik masuk dan keluar dari Serawak, dan setiap kali terpergok, bila awalnya mereka memilih kabur, kini mereka membuka tembakan; setelah KRI Otto Iskandar Dinata tenggelam akibat serangan artileri jarak jauh RPIM, dua KRI lagi, yaitu KRI Samadikun dan KRI Pangeran Antasari rusak berat akibat dihajar oleh kapal-kapal perang Cina; malamnya Pres. Zakaria memerintahkan untuk membalas serangan dan terjadi beberapa kali kontak tembak antara kapal perang TNI-AL dengan kapal-kapal perang Cina, beberapa kontak terjadi di waktu malam dan melibatkan rudal; menurut catatan, setidaknya 3 kapal perang Cina berhasil ditenggelamkan masing-masing oleh KRI Wilhelmus Zakaria Yohannes dan KRI Christina Martha Tiahahu, sementara 5 kapal lain diperkirakan berhasil dirusak. Dua buah CN-235 kita yang dipersenjatai rudal antikapal berhasil juga menenggelamkan setidaknya 1 kapal perang Cina; sementara Cina berhasil juga menembak jatuh 1 pesawat CN-235 dan 4 helikopter penerbal AL.”

“Dan tak ada publikasi soal ini?” tanya Arfa tak habis pikir.

“Seperti kubilang, ini adalah sebuah unsung war,” kata Pres. Chaidir,

“kita hanya mempublikasikan serangan serta kemajuan kita melawan pasukan RPIM di Serawak, tapi masalah clash dengan Cina sengaja tidak dipublikasikan,”

“Cina kembali menaikkan taruhan ketika berhasil mendaratkan pasukan saboteur di pangkalan kita di Riau dan menghancurkan beberapa kapal patrol KAL yang sedang sandar, di samping beberapa bangunan yang juga rusak berat, dan mereka pun mulai mengerahkan pembom strategis jenis H-6 yang dikawal oleh J-11 mereka untuk mengebom pangkalan kita di Batam dan Riau. Skuadron F-16 kita di Riau beberapa kali berhasil mengusir semua gangguan ini, tapi dalam beberapa konflik yang terjadi, setidaknya ada 3 pesawat F-16 kita yang hancur ditembak oleh pesawat kawal J-11 milik PLAAF, yang akhirnya dibalas keesokan harinya dengan ditembak jatuhnya sebuah bomber H-6 dan dua pesawat J-11,”

Arfa hanya menarik napas saja. Dia berusaha untuk berpikir, tapi tak ada yang bisa dia bayangkan.

“Jadi bagaimana Cina bisa menyerah?” tanya Arfa.

“Yang pasti, saat itu kita sudah kepayahan; konflik di Serawak yang semakin intens membuat banyak sumber daya militer yang tersedot ke sana, sementara yang ditakutkan adalah bila Cina mengerahkan kekuatan nuklir mereka, karena setiap kali kita halau, mereka selalu kembali dengan senjata yang lebih berat,” kata Pres. Chaidir.

“Hingga kemudian, entah dari mana, Amerika Serikat tampaknya tahu mengenai perang rahasia ini, bahkan mereka juga tahu perihal kita yang menawan kapal selam rudal nuklir Cina; akhirnya entah bagaimana, duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia saat itu, Tn. Wilfred Deann, menawarkan pada Pres. Zakaria solusi tengah untuk menyelesaikan konflik dengan Cina; saat itu Pres. Clarke baru saja menjabat dan Pres. Zakaria sudah hampir memasuki purnatugas. Kita tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Amerika Serikat itu, karena bila pasukan kita terbagi dua, maka kita tak akan bisa fokus dalam penyelesaian kampanye di Serawak, pun bila konflik dengan Cina semakin meningkat, maka sebuah unsung war akan menjadi full-scale war yang bisa mengancam stabilitas kawasan di Asia Tenggara,”

“Solusi? Maksudnya saat Cina menawarkan untuk menjual sebagian H-6 mereka dengan murah kepada kita?” tanya Arfa.

“Itu setelah solusi yang ditawarkan oleh Amerika Serikat, sehingga membuat Cina terpaksa harus menghentikan konflik dengan kita dan bahkan membayar ‘sedikit kompensasi’ agar kita pun mau menghentikan konflik dengan mereka,” kata Pres. Chaidir,

“selain juga untuk menebus kapal selam beserta isi dan juga awaknya tentu saja,”

“Tapi aku masih tetap tak mengerti, bila kita juga ingin menghentikan konflik, kenapa Cina sampai harus repot-repot untuk ‘menyuap’ kita?” kata Arfa,

“lalu apa hubungan semua ini dengan Agneyastra,”

“Hubungannya adalah, karena yang ditawarkan oleh Amerika Serikat sebagai solusi adalah ini,” kata Pres. Chaidir.

Arfa kembali terkejut ketika Pres. Chaidir menunjukkan gambar besar di layar, gambar yang kali ini jelas lebih mengejutkan dari fakta bahwa kelas Antasena ternyata sudah lengkap terdiri dari 6 kapal selam. Ya, karena apa yang ada di gambar itu jauh melebihi impian terliarnya sekalipun, dan untunglah jantung Arfa cukup kuat, karena bila tidak, saat itu juga dia pasti sudah terkena serangan jantung. Di layar itu, terdapat gambar sebuah rudal yang tengah ditembakkan ke angkasa, tapi itu bukanlah sembarang rudal...

“Minutemen…” kata Arfa lemas.

“Benar, LGM-30 Minutemen, rudal balistik antarbenua berkemampuan nuklir, mampu untuk mencapai pantai-pantai Cina dalam tempo beberapa menit,” kata Pres. Chaidir, “Amerika Serikat memberikan Minutemen kepada Indonesia, tanpa sepengetahuan sekutu-sekutunya, baik Inggris maupun Australia, dengan catatan supaya Indonesia pun tutup mulut dengan semua ini; tapi cukup untuk membuat Guo Anbu memperingatkan Beijing untuk mempertimbangkan lagi mengenai kelangsungan unsung war melawan Indonesia,”

“Kita memiliki rudal balistik nuklir?” tanya Arfa tak percaya.

“Dan masih memilikinya, karena setidaknya ada 20 titik silo rudal Minutemen di seluruh Indonesia yang kita samarkan sebagai fasilitas industri atau bandara tertutup,” kata Hafryn Rahman,

“Amerika Serikat membantu instalasi, bahkan mengajarkan kita untuk melakukan perawatan atas rudal-rudal itu, dan meskipun versi lama, juga cetak biru untuk pengembangan rudal balistik kita sendiri; bukan Topol, bukan Taepodong, bukan juga Dong Feng seperti yang sering dibicarakan oleh komunitas militer di Indonesia, tapi Minutemen, dan atas restu dari Amerika Serikat sendiri,”

“Tapi 20 titik itu dari mana? Bagaimana mungkin bisa secepat itu?” tanya Arfa.

“Memang tidak, karena Amerika Serikat menggunakannya lebih sebagai senjata untuk menggertak Cina, tapi setelah kesepakatan damai dengan Cina dicapai, diam-diam Amerika Serikat mengirimkan 20 rudal Minutemen secara terpisah yang kami siapkan pemasangannya di 20 titik yang memang sudah ditentukan sebelumnya,” kata Pres. Chaidir.

“Dengan syarat kita tutup mulut…” kata Arfa.

“Sebenarnya tak sulit melakukannya, mengingat saat-saat itu kita sedang ramai membangun pabrik dan bandara,” kata Hafryn Rahman,

“hanya masalah alokasi dan saat yang tepat,”

“Dan tidak ada yang tahu itu?” tanya Arfa.

“Tidak ada, bila Australia tahu, tentu mereka akan lebih sungkan dalam bertindak pada Krisis Antasena, tapi bila ada yang tahu bahwa Indonesia punya Minutemen, tentu semua akan gempar, karena jarak tembaknya bisa mencapai musuh-musuh potensial kita baik di barat, timur, utara, maupun selatan,” kata Pres. Chaidir,

“dan kita tak ingin untuk membuat geger kawasan, karena itu akan merugikan bagi kepentingan kita; memperkuat angkatan perang adalah satu hal, tapi memiliki rudal balistik berkemampuan nuklir adalah hal yang amat berbeda,”

“Dan Agneyastra…” kata Arfa.

“Adalah derivatif dari rudal Trident,” kata Pres. Chaidir,

“persembahan bersama dengan ditempatkannya 20 rudal Minutemen di Indonesia, blueprint bagi rudal Trident, walau cuma untuk versi UGM-96 atau Trident C4; dan dengan asistensi dari Amerika Serikat, terutama pengalaman dari Minutemen, kita akhirnya bisa membuat Agneyastra, versi adaptasi dari rudal Trident C4 yang rencananya akan dipakai sebagai senjata utama bagi kapal selam kelas Antasena, karena setelah Fase-2 selesai, maka semua kapal selam kelas Antasena tak lagi akan berperan sebagai kapal selam tempur, melainkan kapal selam peluncur rudal balistik; dan statusnya dirahasiakan,”

Arfa merasakan ulu hatinya sakit bagai menerima hantaman yang luar biasa. Seolah dia dipaksa untuk menelan sesuatu yang amat besar sehingga dia menolak untuk mempercayainya. Nafasnya sedikit memburu saat dia merasakan terkena serangan syok ringan, dan Pres. Chaidir pun memberinya waktu sebentar untuk bernapas dan menenangkan diri.

“Ada laporan dari Laksma. Mahan mengenai keberhasilan reaktor air,” kata Arfa,

“bila itu memang benar…”

“Ya, kapal kita akan menjadi kapal selam tenaga fusi pertama di dunia, lebih senyap daripada kapal selam nuklir bahkan diesel elektrik sekalipun,” kata Pres. Chaidir.

“Dan Anda memberitahukan ini kepadaku untuk…” kata Arfa.

“Karena aku ingin kau yang mengawal Agneyastra,” kata Pres. Chaidir,

“program ini sebentar lagi akan mencapai taraf kematangan, dan aku ingin seseorang yang bisa dipercaya untuk menangani urusan ini,”

“Dan orang itu adalah aku?” tanya Arfa.

“Inilah mimpimu, Arfa,” kata Pres. Chaidir,

“keris pusaka untuk menjadi pengayom di kawasan, satu-satunya senjata yang akan memberi kita kesempatan dalam menjaga supaya Cina tidak macam-macam,”

Arfa hanya terdiam, berusaha untuk mencerna semua ini.

“Dalam semua aspek kita bisa menghadapi Cina kecuali untuk satu,” kata Pres. Chaidir,

“Agneyastra adalah senjata yang benar-benar baru, hanya mengadopsi rancangan pada Trident, tapi bukan rudal Trident itu sendiri; jadi saat sudah selesai, kita boleh saja mengumumkan pada dunia bahwa kita sekarang sudah berkemampuan nuklir, tanpa harus membocorkan mengenai keberadaan Minutemen kita; oleh karena itu penting sekali supaya Agneyastra dijaga sampai benar-benar berkembang,”

Arfa pun menatap mata Pres. Chaidir dalam-dalam. Belum pernah sebelumnya dia menatap mata itu sedalam ini, tapi sekali lagi, ini bukan hal yang mudah dicerna begitu saja.

“Setelah Agneyastra berhasil, lalu apa?” tanya Arfa.

“Masa depan, Arfa,” kata Pres. Chaidir sambil mengangguk,

“masa depan,”

“Berapa kapasitas satu kapal selam Antasena? 12?” tanya Arfa.

“10 rudal balistik nuklir,” kata Hafryn Rahman.

“Jadi akan ada 60 rudal yang ditempatkan di kapal selam?” tanya Arfa.

“Ya, tahap awal Agneyastra setelah Fase-2 adalah pembuatan 10 hulu ledak rudal nuklir, segera setelah fasilitas pengayaan uranium kita di Banjarmasin mulai beroperasi, dengan penambahan masing-masing 10 rudal per tahun sehingga dalam 6 tahun kita sudah bisa memenuhi kebutuhan Antasena, selain opsi perpanjangan produksi hingga 10 tahun ke depan untuk cadangan hulu ledak nuklir,” kata Pres. Chaidir,

“dan sementara itu, Minutemen akan kita simpan sebagai langkah terakhir, untuk menghadapi first-strike; Agneyastra akan membuat Cina maupun India berpikir dua kali sebelum macam-macam dengan kita,”

“Dan salah satu pabrik bioenergi yang kita bangun, salah satunya adalah instalasi air berat, juga fasilitas pengayaan uranium?” tanya Arfa.

“Benar, masing-masing ada 4 pabrik yang disebar di tempat-tempat tertentu, dirahasiakan, semua dibangun atas asistensi dari Amerika Serikat, dan tentu saja sebagai kedok, mereka masih menghasilkan produk bioenergi,” kata Pres. Chaidir.

“Apa lagi yang tak kuketahui? B-61? Atau B-63?” tanya Arfa.

“Kita sudah punya bom B-61 jauh sebelum kedatangan Minutemen,” kata Pres. Chaidir.

“Jadi Agneyastra adalah pelengkap dari nuclear triad?” tanya Arfa.

“Begitulah,” kata Pres. Chaidir.

Tangan Arfa tergenggam erat, dan untuk beberapa lama, pandangannya kosong. Semua yang dikatakan di sini, baginya susah untuk dipercaya, tapi untuk suatu hal Pres. Chaidir mempercayainya untuk menggawangi proyek superrahasia Agneyastra, proyek untuk melengkapi apa yang disebut sebagai “nuclear triad”, kemampuan untuk meluncurkan kekuatan nuklir dalam tiga matra. Ini tentu kemampuan vital, karena tak semua negara pemilik nuklir memiliki kemampuan nuclear triad ini, bahkan kekuatan nuklir tradisional semacam Inggris yang saat ini hanya punya kemampuan satu matra.

“Aku akan menerimanya,” kata Arfa,

“aku akan membidani Agneyastra sampai proyek ini matang, tapi bukan berarti aku setuju begitu saja mengenai ini, aku hanya tak ingin ada yang macam-macam dengan proyek ini, karena ini proyek yang bukan main-main, dan dengan bertambahnya kekuatan kita, bertambah pula tanggung jawabnya, aku hanya ingin memastikan hal itu dihormati,”

“Setuju, itu juga yang kuharapkan darimu,” kata Pres. Chaidir.

Sudah lewat tiga jam saat Arfa akhirnya keluar dari situation room. Pembicaraan mengenai Proyek Agneyastra benar-benar menguras pemikirannya, dan sebagaimana biasa, selain apa yang dibicarakan tadi tidak boleh dibawa keluar, sebagian besar isinya bahkan masih sulit untuk Arfa percayai. Tapi Arfa tak langsung pulang, melainkan duduk dulu di sebuah koridor dengan mesin kopi untuk menenangkan diri sambil minum kopi. Sayang sekali di koridor ini tidak boleh merokok, karena Arfa siap untuk mengeluarkan sebatang supaya dia tidak stress. Suasana sudah sepi di ruang basemen ini, karena personel yang ada di sini, yang jumlahnya sudah amat sedikit, kini sudah pulang. Ini membuat langkah Hafryn Rahman yang mendekati Arfa bisa diketahui bahkan walau masih jauh.

“Masih sulit untuk kaupercayai, Nn. Aryanti?” kata Hafryn Rahman.

“Ini bukan tugas main-main, Pak Hafryn,” kata Arfa.

“Aku mengerti, memang berat, apalagi sepertiku yang harus membuat semua ini untuk tetap ada di bawah radar selama bertahun-tahun,” kata Hafryn Rahman.

“Apa itu berarti aku akan menambah bebanmu setelah aku masuk dalam proyek ini?” tanya Arfa.

“Bisa jadi,” kata Hafryn Rahman, “tapi jangan khawatirkan itu, aku punya banyak sumber daya untuk mengurusnya,”

Arfa mengangguk saja sembari menghirup kopinya.

“Menyambung pembicaraan kita tempo hari,” kata Arfa, “aku ingin tahu sesuatu,”

“Silakan saja, aku akan menjawab apa yang bisa kujawab,” kata Hafryn Rahman.

“Siapa musuh kita?” tanya Arfa,

“kepada siapa si pengkhianat Ridwan Juhari itu bertanggung jawab?”

“Soal itu jangan terlalu dikhawatirkan, Nn. Aryanti,” kata Hafryn Rahman,

“intelijen telah dan sedang melakukan sesuatu untuk mengurusnya,”

“Apa itu terkait dengan maraknya berita kematian dan pembunuhan akhir-akhir ini?” tanya Arfa.

“Kalau itu, aku tak bisa jawab,” kata Hafryn Rahman.

Hafryn Rahman pun berjalan ke mesin kopi dan mengambil segelas kopi.

“Andaikan saja bahwa itu memang benar, Pak Hafryn, apakah kali ini tidak terlalu mencolok?” tanya Arfa,

“memang semua berita kematian itu tidak berhubungan satu sama lain, bahkan penyebabnya pun bermacam-macam, dan hal seperti ini memang biasa, hanya saja bila dikaitkan dengan apa yang sekarang kuketahui, jadi terasa agak janggal,”

“Aku sebenarnya tak tahu apa maksudmu, Nn. Aryanti, karena seperti kau bilang tadi, kematian adalah berita biasa di negeri ini, terutama bila kau sering membaca koran picisan; jadi aku tak melihat itu bisa dijadikan dasar untuk membuat tuduhan bahwa semua kematian itu berkaitan,” kata Hafryn Rahman,

“contohnya saja berita hari ini di salah satu koran ibu kota, ada anak kecil mati tenggelam di Lampung, sekeluarga tewas dalam kebakaran rumah di Semarang, lalu ada kecelakaan beruntun yang merenggut 4 nyawa di Surabaya, dan seorang nenek yang meninggal akibat terjatuh ke dalam sumur di Bali, naif sekali bila dikatakan bahwa semua itu berkaitan; kematian adalah rencana Tuhan, hanya Dia yang bisa menentukan kapan orang akan mati dan dengan cara apa,”

“Tapi semisal, bila semuanya memang berkaitan, bagaimana pendapatmu?” tanya Arfa.

“Berarti Malaikat Maut sedang banyak pekerjaan,” kata Hafryn Rahman berkelakar,

“atau memang dalam catatan Tuhan semua orang itu memang harus mati hari ini, siapa yang tahu? Itu rahasia-Nya,”

“Aku tahu, tapi maksudku adalah...” kata Arfa.

“Atau mungkin saja ada orang yang sedang berusaha untuk menyampaikan pesan,” kata Hafryn Rahman.

“Pesan apa?” tanya Arfa tak mengerti.

“Entahlah, bisa apa saja, bukan?” tanya Hafryn Rahman,

“saat ini orang bisa tanpa alasan untuk membunuh orang lain; tapi terkadang, tidak ada alasan adalah penutup dari alasan yang lebih besar,”

“Alasan lebih besar?” tanya Arfa

“Kemarahan, dendam, rasa sakit akibat dikhianati, atau mungkin hanya bisa sekonyol sebuah permintaan dari orang yang tak sadar apa konsekuensi dari permintaannya itu,” kata Hafryn Rahman.

Arfa jelas terkejut dengan pernyataan Hafryn Rahman ini, karena dia tiba-tiba teringat terakhir kali dia bicara dengan Hafryn Rahman, dia pernah mengucapkan perkataan untuk terus mengejar siapa pun yang telah menyebabkan Krisis Antasena terjadi. Apakah ini berarti...

“Tapi tentu saja, tak mungkin ada orang yang bisa sekuat itu hingga melebihi Tuhan, bukan?” kata Hafryn Rahman.

“Ya, memang benar,” kata Arfa nyaris lirih,

“rencana Tuhan siapa yang tahu,”

“Anda memang bijaksana, Nn. Aryanti,” kata Hafryn Rahman sambil meminum kopinya.

“Satu lagi pertanyaanku, bila memang boleh ditanyakan,” kata Arfa, “bagaimana dengan Dr. Sedorenkov? Bagaimana keadaannya? Atau apakah itu juga dirahasiakan?”

“Yang itu aku bisa jawab,” kata Hafryn Rahman,

“Dr. Sedorenkov baik-baik saja, dan dalam beberapa hari ini kami akan mengatur kepulangannya ke Russia untuk berobat, dia sedikit tak enak badan akhir-akhir ini, itulah kenapa dia tidak muncul saat Krisis Antasena,”

“Tak enak badan kenapa?” tanya Arfa.

“Tak bisa dipungkiri bahwa Dr. Sedorenkov memang sudah berusia lanjut,” kata Hafryn Rahman,

“tapi kami akan tetap menjamin keamanannya meski dia sudah ada di Russia,”

“Pengalaman dari Krisis Antasena adalah kita belum punya sistem untuk melacak kapal selam kita sendiri,” kata Arfa.

“Untuk soal itu, beliau memastikan, sepulangnya nanti ke Russia, dia akan mengerjakan adaptasi dari sistem Rusal’naia untuk bisa diaplikasikan pada kapal perang kita dari kelas Ternate,” kata Hafryn Rahman,

“dia akan membawa serta beberapa ahli kita untuk memastikan Indonesia akan tetap mendapatkan teknologi ini apa pun yang terjadi padanya,”

“Yang terjadi padanya, maksudmu?” tanya Arfa.

“Jujur saja, melihat kondisi kesehatannya saat ini, aku tak yakin Dr. Sedorenkov akan bisa pulang kembali ke Indonesia,” kata Hafryn Rahman,

“tapi kita tetap mendoakan yang terbaik,”

Arfa mengangguk-angguk kecil kemudian meminun kopinya.

“Terima kasih, Pak Hafryn,” kata Arfa,

“itu saja yang ingin kuketahui,”

“Sama-sama, Nn. Aryanti,” kata Hafryn Rahman,

“tapi boleh saya mengatakan sesuatu, Nona?”

“Apa itu?” tanya Arfa.

“Lain kali, bijaksanalah sebelum mengucapkan permintaan,” kata Hafryn Rahman,

“kita tak akan pernah tahu sejauh mana itu akan berujung,”

Arfa tertegun mendengarnya. Hafryn Rahman sendiri hanya tersenyum simpul penuh arti sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Arfa sendiri di ruangan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...