Arliena
EPILOGUE V
Arliena
Wilayah Antara Bogor-Jakarta
01.02 WIB
15 hari setelah ending
Iring-iringan dua kendaran melaju di jalanan yang sepi antara Bogor-Jakarta. Jam seperti ini, suasana jalan sudah seperti kuburan saja, tapi kedua mobil ini, satu sebuah Ford Everest dan satu lagi sebuah Mercedes S-Class terbaru, berjalan dengan santai walau konon d daerah ini cukup rawan dengan yang namanya perampokan atau pembegalan. Tapi tentu saja, siapa perlu khawatir bila di dalam Ford Everest ada 6 orang yang terlatih dalam bertarung yang masing-masing membawa sepucuk pistol Browning HP 9mm dan juga sebilah klewang pendek? Bahkan keenam orang ini rata-rata adalah jebolan tentara, ada yang dari Marinir, bahkan ada yang eks-Raider. Ini masih ditambah dengan komandan mereka yang duduk di bangku depan Mercy yang selain pistol Browning HP, juga membawa sepucuk AR-15 semiotomatis. Tapi, siapakah si VIP yang memerlukan perlindungan sebanyak ini yang duduk di bangku belakang Mercy?
Ternyata, itu adalah mobil milik Fariz Hamzah, kepala Komisi I DPR yang mengurusi bidang pertahanan dan keamanan negara. Dia sendiri tampak tenang, sepertinya percaya diri dengan semua pengawalan yang dia miliki, padahal polisi berkali-kali mengingatkan di media bahwa perampok di daerah ini tak segan-segan untuk membunuh korbannya. Bahkan polisi pun sampai berencana untuk mengirimkan pasukan besar terdiri dari Brimob dan Gegana demi menyisir dan menumpas ancaman perampok dan pembegal daerah ini. Tapi dengan ada 7 orang bersenjata lengkap, dan mobil yang dilapisi kaca anti peluru, siapa pun pasti merasa cukup aman berada di dalamnya.
Fariz Hamzah baru saja pulang menemui salah satu konstituennya di daerah ini. Ada beberapa deal yang harus diselesaikannya hingga baru bisa pulang selarut ini, tapi baginya itu cukup sepadan, karena selain ada “uang lelah”, ada juga suguhan wanita berkode “Pushtun” yang memang sudah tersohor. Fariz Hamzah sendiri memilih tak melakukan deal semacam ini di ibu kota, karena KPK sekarang cukup ganas dalam mengawasi semua yang dicurigai terlibat “malaprestasi”. Hotel-hotel baik mewah maupun melati kini sudah tak aman lagi, mengingat cengkeraman KPK atas ibu kota yang amat dalam, hanya di luar kota lah cakar KPK masih agak kendur. Pun, pejabat di luar kota biasanya lebih mudah diajak berkongkalikong mengingat pengawasan Pusat pun sering agak longgar di daerah. Dilihat dari senyum Fariz Hamzah yang masih mengembang, tampak bahwa “Pushtun” yang tadi disajikan benar-benar memuaskan. Bahkan sampai saat ini pun lututnya masih lemas.
Sebenarnya, mengenai pemilihan rute ini, si sopir dan si kepala keamanan yang duduk di bangku depan Mercy, agak tidak setuju karena ada rute lain yang lebih ramai. Hanya saja, mengingat Fariz Hamzah ingin “bergerak di bawah radar”, maka dipilihlah rute ini dengan konsekuensi membawa pengawal segambreng. Satu-satunya orang yang terus fokus pada keadaan jalanan, selain sopir adalah si kepala keamanan, yang dikenal dengan sebutan “Jendra”. Dia juga yang menyiapkan sepucuk AR-15 yang diletakkan di antara kedua kakinya, dengan kondisi siap untuk sewaktu-waktu digunakan. Tadinya semua anak buahnya bahkan akan diwajibkan membawa masing-masing sepucuk Uzi bermagasin penuh, tapi Fariz Hamzah melarangnya, karena terlalu berisiko membawa senjata sebanyak itu. Lagi pula mereka semua pergi untuk bersenang-senang, bukan untuk berperang. Jendra sendiri adalah mantan anggota pasukan komando yang dulu pernah bertugas di daerah-daerah konflik. Soal duel satu lawan satu, baik tangan kosong maupun bersenjata, dia adalah jagonya. Tapi semua kemampuannya ini tak bisa membantunya untuk tak merasa gugup pada saat ini.
Perjalanan berlangsung lancar, dan jika tak ada halangan, dalam 45 menit, mereka akan mencapai daerah pinggiran Jakarta, dan dari situ bisa langsung pulang dan selesailah tugas semua orang di malam yang mencekam ini. Tapi sebelum itu terjadi, jalanan yang sepi dan jarang berlampu ini masih merupakan ancaman yang harus dianggap serius. Dan entah kenapa, bagi Jendra, dia tak yakin bahwa malam ini akan berlalu dengan “lancar-lancar saja”.
Benar saja, tak beberapa lama mereka berjalan, sopir Ford Everest mendeteksi ada sebuah motor besar warna hitam, kemungkinan dari jenis semacam Ninja, yang berhenti melintang di jalanan depan mereka. Di atas motor itu ada seseorang yang memakai pakaian body press dari kulit yang juga berwarna hitam sebagaimana hitamnya malam, dan memakai helm full-face yang juga hitam, senada dengan pakaian dan motornya. Bagi semuanya, jelas ini tidak beres, karena motor ini seolah sengaja merintangi jalan mereka. Pistol pun langsung disiapkan, begitu pula dengan klewang pendek, saat baik Ford maupun Mercy itu akhirnya berhenti dengan lampu kedua mobil disorotkan pada motor dan pengendaranya.
“Ada apa ini?” tanya Fariz Hamzah saat tahu mobil berhenti.
“Ada yang menghalangi jalan, Pak Hamzah,” kata Jendra,
“sebaiknya bapak di sini saja sambil kunci pintu dan jendela; ini kaca antipeluru, tak bisa ditembus,”
“Baik, tolong urus siapa pun itu, Jendra,” kata Fariz Hamzah,
“ini sudah dini hari dan aku besok siang ada rapat komisi,”
“Siap, Pak,” kata Jendra.
Sambil mengambil AR-15 miliknya, Jendra pun keluar dari mobil, yang langsung dikunci rapat dari dalam. Keenam anak buahnya juga sudah keluar, masing-masing juga membawa sepucuk pistol dan klewang kecil mereka. Jendra terus memperhatikan siapa orang yang berani-beraninya menantang pasukan kecil ini. Pun dia tetap waspada karena bisa jadi ini adalah jebakan, walau dia tak melihat orang ini membawa dukungan. Tapi justru karena itulah Jendra semakin berhati-hati, karena berarti orang ini bukan orang sembarangan.
“Siapa kau dan mengapa kau menghalangi jalan kami, Nona?” tanya Jendra dengan nada keras.
Ya, walau orang ini belum melepas helm, dari lekuk tubuhnya yang terlihat dari setelan kulit ketat itu tak bisa menipu mata orang. Dia pun kemudian melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang panjang sepunggung bebas dalam satu ikatan pony tail. Semua orang tampaknya lega setelah ternyata si penantang ini hanya seorang wanita, tapi Jendra tetap siaga. Gerak-gerik wanita ini menandakan dia bukan wanita biasa, karena wanita biasa tentu akan gentar bila harus menghadapi 7 orang pria kekar sekaligus, setidaknya ada tanda bahwa dia gentar, tidak setenang es seperti yang mereka hadapi saat ini. Apa lagi saat dia turun dan berjalan, gaya berjalannya tidak meliuk sebagaimana wanita awam ketika berjalan, melainkan melangkah dengan mantap dan ringan, bagai singa yang sedang berjingkat untuk memburu mangsanya. Semua ini membuat Jendra semakin merapatkan jarinya pada trigger-guard AR-15 miliknya.
“Nona, kenapa wanita secantik kau malam begini masih keluyuran?” tanya pengawal pertama,
“sendirian lagi, apa tidak takut diperkosa orang?”
Semua orang tertawa kecuali Jendra yang hanya tersenyum simpul. Dia masih menganalisa lawannya. Satu-satunya yang agak menenangkannya adalah dari sini si wanita tampaknya tak bersenjata, tapi Jendra juga melihat ada strap aneh yang mungkin mengindikasikan sebuah holster pistol di punggung wanita ini, meski Jendra masih belum tahu pistol macam apa yang dibawa.
“Jangan-jangan malah dia yang minta diperkosa,” kata pengawal kedua,
“maklum, cewek zaman sekarang, di depan malu-malu kucing, di belakang ganas kayak macan,”
Kembali tawa tergelak dan sekali lagi Jendra masih waspada. Kali ini si wanita hanya mengerlingkan senyum saja.
“Siapa namamu, Nona?” tanya Jendra dengan nada mantap.
“Namaku Lien,” jawab si wanita yang ternyata adalah Lien.
Ya, ini adalah Lien yang sama dengan yang tempo hari membunuh Zaki alias jaco234, atau orang biasa mengenalnya sebagai Arliena. Nada suaranya yang tenang dan santai justru membuat Jendra semakin waspada. Andai saja dia mengetahui rekam jejak wanita yang ada di hadapannya ini, mungkin Jendra akan lebih waspada lagi.
“Nona Lien, bagaimana kalau kau minggir dulu, tapi sebelum minggir, maukah bila kami tawarkan kehangatan di malam yang dingin ini?” rayu si pengawal pertama yang disambut gelak tawa rekannya.
“Bagaimana kalau aku yang membuat tawaran?” tanya Arliena.
Semua orang terdiam.
“Kalian melindungi seseorang, bukan?” tanya Arliena,
“berikan dia padaku, maka kalian akan kubiarkan hidup dan kita berpisah di jalan masing-masing seolah tak ada apa-apa yang terjadi, setuju?”
Perkataan ini mendadak membuat Jendra langsung membidikkan AR-15-nya ke arah Arliena. Sontak semua orang pun segera menyiagakan juga pistol mereka.
“Nona, mohon jangan main-main, aku tak mau ada yang terluka,” kata Jendra.
“Aku juga tak ingin ada yang terluka, makanya aku minta baik-baik, serahkan dia padaku,” kata Arliena,
“kita bisa lakukan itu dengan mudah, atau aku akan mengambilnya dengan cara sulit, tapi jangan bilang aku tak memperingatkan kalian,”
“Kurang ajar, sombong sekali wanita ini, dia pikir dia ini siapa?” kata pengawal kedua,
“kita hajar saja dia,”
“Ya, hajar dia, kita ajari dia sopan santun,” kata pengawal ketiga,
“mungkin setelah kita gilir dia akan lebih jinak,”
Arliena pun mendengus saja.
“Baiklah, kalian sendiri yang minta,” kata Arliena.
Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba tangan Arliena bergerak amat cepat dan tahu-tahu dua buah pisau lempar berukuran 5 cm sudah melayang dan menancap di leher dua orang pengawal. Pengawal lain yang kaget langsung melepas tembakan, termasuk Jendra, tapi Arliena bergerak dengan amat cepat, mengelakkan peluru demi peluru dan tahu-tahu dirinya sudah ada di dekat salah satu pengawal lain. Dengan gerakan kilat, Arliena membelokkan tangan si pengawal yang memegang pistol ini sehingga saat pistol meletus, pelurunya langsung mengenai rekannya. Tanpa buang waktu juga, hidden-blade yang ada di tangan kanannya melesat dan menghujam ke ulu hati si pengawal yang tak menyangka akan keberadaan senjata yang satu ini.
Segera setelah pengawal keempat jatuh, Arliena melesatkan hidden-blade di tangan kirinya, yang dengan cepat dia putar hingga menjadi sebuah pisau genggam. Hidden-blade di tangan kiri Arliena memang istimewa karena bilahnya bisa di-dettach dan digenggam di tangan sebagaimana pisau biasa. Walau tak seflamboyan hidden-blade kanan yang dilengkapi panah racun atau gear lain, hidden-blade kiri memberikan fleksibilitas lebih dalam pertarungan jarak dekat.
Dua pengawal tersisa menjatuhkan pistol mereka dan menghunus klewang, lalu mereka segera menyerbu Arliena. Arliena sendiri tampak tak begitu kesulitan menghindari sabetan klewang mereka berdua. Satu-satunya kesalahan kedua pengawal ini adalah mereka bertarung pada jarak yang cukup dengan Arliena, jarak yang masuk ke dalam area bunuh dari wanita ini. Benar saja, dengan sebuah gerakan yang cepat, telapak tangan Arliena memukul keras perut salah satu pengawal dan pada saat yang sama, hidden-blade kanan-nya kembali melesat bagai perpanjangan tangan dan membobol perut si pengawal malang itu, kemudian dengan cepat Arliena menarik kembali hidden-blade-nya sehingga isi perut si pengawal itu pun memburai. Itu dilakukan pada saat yang bersamaan sementara tangan kirinya yang memegang pisau hidden-blade menangkis serangan klewang pengawal terakhir.
Masih dalam hitungan sepersekian detik dari Arliena membunuh pengawal sebelumnya, tangan kanan-nya segera ditarik dan dihantamkan ke arah pengawal terakhir sementara tangan kiri dan pisaunya masih menahan klewang si pengawal. Pengawal yang terlambat menyadari manuver ini langsung menerima tusukan hidden-blade kanan pada iganya, dan dalam satu detik berikutnya, tangan kiri Arliena sudah bergerak dan menghujamkan pisau yang dipegang dalam posisi ice-pick, ke dasar leher dari si pengawal, membuatnya mati seketika dengan darah terpancar deras membasahi muka Arliena.
Tiba-tiba sebuah peluru 5,56mm melesat ke arah Arliena. Dengan refleks yang kilat, Arliena pun segera mengelakkan peluru yang melaju begitu dengan dengan wajahnya. Saking dekatnya sehingga angin panas dan tajam yang dibawa oleh peluru itu terasa menyengat pada pipi Arliena. Beberapa milidetik terlambat, wajah Arliena pasti akan berlubang terkena peluru itu. Tembakan-tembakan berikutnya dari senapan semiotomatis AR-15 milik Jendra pun langsung menyusul, membuat Arliena harus melakukan akrobat gimnastik yang amat sulit untuk bisa menghindar, sebelum akhirnya dia berlindung di balik mobil Ford Everest.
Dalam hati Arliena mengakui kehebatan Jendra dalam menembak, karena peluru-peluru yang ditembakkannya semuanya melayang amat dekat dari tubuhnya, tapi hanya sebatas itu saja. Sementara itu, Jendra sendiri juga sebenarnya jeri melihat bagaimana Arliena bisa membantai 6 anak buahnya dengan cukup mudah, tapi dia tetap pantang menyerah. Akibatnya, untuk beberapa detik terjadi stalemate, dengan Arliena masih berlindung sementara Jendra masih menahan tembakan tak berani maju. Mata Arliena melihat sekitar dan menemukan sepucuk Browning HP milik salah satu korbannya tergeletak tak jauh di dekatnya. Dengan cepat dia mengambilnya dan menembak balik ke arah Jendra dari balik Ford. Jendra pun langsung melompat ke balik Mercy yang memang antipeluru.
Jendra kembali membuka tembakan yang mengenai bodi Ford Everest. Karena tidak tahan peluru, maka sebagian peluru ada yang menembus bodi mobil dan salah satu keluar dekat sekali dengan posisi sembunyi Arliena. Tapi tentu saja, Arliena bukanlah petarung kacangan yang mudah takut hanya gara-gara sebuah serangan dari senapan serbu. Arliena membalas, yang kembali memantul saja mengenai bodi Mercy, tapi baru 2 kali menembak, peluru di Browning HP rampasannya sudah habis. Sepertinya si korban cukup royal membuang peluru sebelum pistol itu berpindah tangan. Arliena hanya mengumpat sedikit, dan tak ada lagi pistol yang cukup dekat darinya, sehingga mau tak mau dia harus memakai cara lain. Ada sesuatu yang amat mengganggunya, dan bila dia tak segera bisa menuntaskan target VIP-nya, maka tak akan ada kesempatan lagi.
Setelah mengambil sebuah tarikan napas panjang, dengan gerakan akrobatik yang luar biasa, Arliena melompat menggunakan mobil Ford Everest sebagai pijakan, gerakan yang langsung diikuti oleh serangan bertubi-tubi dari AR-15, yang semuanya hanya mengenai udara kosong belaka.
“KLIK”
Bunyi itu membuat Jendra bergidik ngeri, dia sudah menghabiskan seluruh 30 peluru dalam senjata ini, dan dengan Arliena kini berlari menyongsongnya, tak ada waktu untuk mengganti magasin cadangan! Segera Jendra menepuk mobil Mercy menyuruhnya segera pergi, yang segera dituruti oleh si sopir. Arliena pun semakin memacu larinya, tak ingin kehilangan buruan utamanya, walau Jendra masih berada di antara mereka. Dengan gerakan lincah, Arliena pun langsung melompat ke arah Jendra, yang menggunakan AR-15 sebagai senjata pemukul. Dengan sekali gerakan, Arliena beringsut menghindari serangan sabetan senapan dari Jendra, sambil kakinya menyapu dan memanfaatkan perpindahan gravitasi tubuhnya yang membuat gerakan memutar, Arliena pun langsung menangkap tubuh Jendra dengan kakinya dan secepat kilat, bahkan Jendra belum sempat berkedip, langsung membanting Jendra hingga Jendra jatuh terpelanting.
Kini fokus Arliena beralih pada mobil Mercy, tapi mobil yang sedang berpacu itu terlalu cepat untuk dia berlari, karena itu sebelum jauh, dia meraih pistol di holster punggungnya, sebuah pistol klasik Colt Navy 1851 berkaliber .36 cal Navy. Pistol ini masih memakai sistem single action sehingga hammer-nya harus terlebih dulu dikokang sebelum ditembakkan, bahkan pelurunya sendiri masih menganut sistem cap-and-ball, artinya peluru dan mesiu dimasukkan secara terpisah, tidak menjadi satu seperti model patrun. Selang waktu yang diperlukannya untuk menarik pistol, mengokang, membidik, dan hingga kini menarik pelatuk hanya berselang beberapa detik saja, dan peluru conical .36 Navy langsung meluncur dari ujung laras octagonal Colt Navy 1851 ke arah Mercy tadi. Sedetik kemudian, terdengar suara semacam kaca pecah, dan tiba-tiba Mercy yang tengah melaju kencang oleng dan langsung menyamping menghantam pembatas jalan sebelum akhirnya melompat dan jatuh terbalik di tepi jalan dengan suara keras! Kita tahu bahwa Mercy ini dilengkapi kaca antipeluru, jadi bagaimana bisa peluru Arliena menembusnya? Ini berkat peluru conical-nya yang dibuat khusus dengan inti berlian sehingga bisa menembus kaca antipeluru pada jarak jangkau efektifnya.
Baru sedetik ketika Arliena menembak, bahkan saat asap masih mengepul dari ujung laras Colt Navy miliknya, tiba-tiba saja dia merasakan sebuah ujung laras sudah tertuju dekat sekali dengan pelipisnya. Ya, Jendra masih hidup, dan saat dijatuhkan tadi dengan cepat dia segera berdiri dan mengambil pistol miliknya untuk ditodongkan ke kepala Arliena. Walau reaksinya tergolong cepat, rupanya Jendra masih kalah cepat untuk bisa menolong tuannya.
“Kau memang cepat, tapi kau tak bisa lari sekarang; tak ada yang bisa menandingi kecepatan peluru dari jarak sedekat ini,” kata Jendra sambil mengusap darah yang mengalir dari tepi mulutnya,
“siapa sebenarnya kau? Siapa yang mengirimmu? Jawab atau kau akan kutembak! Dan jangan coba-coba melakukan trik Krav Maga itu, aku sudah cukup mengenal Krav Maga untuk tahu bagaimana cara menangkalnya,”
Arliena hanya melirik sejenak ke arah Jendra dengan lirikan yang sinis.
“Kau tak bisa berhenti saja, ya? Aku sudah mendapatkan buruanku, dan seperti kubilang di awal, aku bersedia mengampuni nyawamu,” kata Arliena dingin.
“Mau mati saja masih sombong sekali,” kata Jendra geram,
“kita lihat bisa sesombong apa kau di neraka,”
Karena memprioritaskan untuk segera membunuh Fariz Hamzah, Arliena sedikit melonggarkan pengawasan atas gerakan Jendra, mungkin itu hal yang bisa dimaklumi sehingga Arliena bisa lengah dan akhirnya berhasil dibokong oleh Jendra. Tapi alasan sebenarnya tak sesederhana itu. Dia bisa saja menghabisi Jendra lebih dulu kemudian menembak Fariz Hamzah, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa untuk tidak membunuh Fariz Hamzah terlebih dulu, sehingga dia terpaksa harus mengambil risiko untuk dibokong Jendra demi menuntaskan target utamanya. Pada saat baku tembak dengan Jendra tadi, dia menangkap suatu suara yang amat dikenalnya, suara mesin Harley-Davidson XL1200X yang sayup-sayup semakin mendekat.
“Kau benar-benar tak takut mati, ya?” tanya Arliena.
“Sekarang bagaimana caramu akan membunuhku, wanita setan?” tantang Jendra,
“bila kau coba bergerak, maka aku tak segan-segan akan menembak kepalamu,”
“Kau salah, aku tak perlu bergerak,” kata Arliena,
“bahkan bukan aku yang harus kau khawatirkan,”
“Lalu siapa?” tanya Jendra.
“Dia,” kata Arliena.
Baru saja Arliena berkata seperti itu, sebuah letusan senjata terdengar dan detik berikutnya, kepala Jendra langsung pecah ditembus peluru, tak sempat bereaksi, bahkan untuk menarik picu pistolnya yang terarah ke kepala Arliena. Sementara Arliena dengan cekatan langsung mengarahkan pistolnya ke arah asal tembakan, kemudian mengokang hammer yang diikuti berputarnya drum revolver peluru ke arah chamber terisi yang baru.
Suara langkah pun terdengar semakin mendekat dan lambat laun, muncul dari balik kegelapan, adalah seorang wanita, mengenakan celana panjang kulit warna merah darah, juga trench-coat pendek warna senada yang tak dikancingkan sehingga memperlihatkan tank-top kulit warna hitam dengan belahan cukup rendah sehingga cleavage payudara 34B milik wanita ini terlihat jelas. Rambutnya panjang terurai dengan wajah yang cantik, namun ada aura yang cukup mengerikan dari wanita yang murah senyum ini, yang bahkan lebih mengerikan dari Arliena. Pandangan matanya menatap tajam ke arah Arliena dengan senyum sadis kembali ditebar oleh wanita ini. Hal yang paling mencolok lain dari wanita ini adalah sebuah senapan yang dia pegang dengan larasnya dia sandarkan di bahu, Henry Rifle Model 1860, kaliber .44 Henry. Wanita ini berjalan hingga pada jarak di mana dia dan Arliena bisa saling memandang dengan jelas.
“Ziva,” kata Arliena dengan dingin sambil Colt Navy-nya terus mengarah pada lawan bicaranya.
“Lien,” kata wanita itu yang ternyata bernama Ziva,
“lama tak bertemu,”
“Kau masih memegang perkataanmu rupanya,” kata Arliena.
“Aku sudah pernah bilang, hanya aku yang boleh membunuhmu, dan tidak dalam keadaan seperti itu,” kata Ziva,
“aku bukan ingin menolongmu, jadi jangan kau anggap itu hutang,”
“Tidak, sekarang apa yang ingin kau lakukan di sini?” tanya Arliena,
“bukankah kau terlambat untuk muncul?”
“Dia?” tanya Ziva sambil mengarahkan laras Henry-nya ke arah mobil Fariz Hamzah yang terbalik,
“aku tak punya urusan dengan dia, dia sudah berkali-kali menolak tawaranku untuk melindunginya, dan itu risikonya sendiri kalau malam ini dia mati di tanganmu,”
“Lalu kenapa kau di sini?” tanya Arliena.
“Mengawasi, tampaknya Grand Master menghargai nyawa orang ini, tapi sudah kukatakan bahwa aku tak akan melindungi orang yang tak ingin kulindungi,” kata Ziva enteng,
“lagi pula, aku ingin bertemu denganmu, aku sedikit kecewa bukan kau dan timmu yang ditugaskan untuk mengawal Dr. Sedorenkov, walau kuakui itu membuat keadaan menjadi jauh lebih mudah bagiku,”
“Kalau begitu, kita sudah bertemu, lalu apa? Menuntaskan stand-off ini?” tanya Arliena.
Ziva tertawa keras.
“Jangan bercanda, Colt Navy-mu melawan Henry-ku?” tanya Ziva,
“lima peluru lawan 10 peluru, cap-and-ball melawan cartridge?”
Ziva menjentikkan senapannya dengan satu tangan, dan badan senapan itu mengayun cepat ke bawah, secara otomatis membuatnya terkokang karena tangan kanannya masih memegang tuas pengokang yang menjadi satu dengan trigger-guard. Begitu kembali ke posisinya semula, laras Henry itu sudah mengarah pada Arliena.
“Hanya butuh satu peluru untuk membunuh, bukan?” tanya Arliena.
“Apa kau mampu membunuhku dengan satu peluru?” tantang Ziva.
“Mau kita buktikan?” tanya Arliena.
“Walaupun aku mau, tapi sekali lagi aku hanya ke sini untuk mengawasi, bukan bertarung,” kata Ziva,
“lagi pula aku tak mau bertarung bila masih ada yang mengganggu,”
“Mengganggu apa maksudmu?” tanya Arliena tak mengerti.
“Sebaiknya jangan gerakkan kepalamu, Lien,” kata Ziva.
Terdengar suara lesatan dari belakang Arliena, nyaris tak terdengar, tersamar dengan angin. Arliena langsung mematung, dan sebuah benda berkecepatan tinggi melesat tak begitu jauh dari telinganya. Angin yang dihasilkan benda ini membuat sebagian rambutnya tersibak terdorong ke depan, bahkan beberapa helai putus diterjangnya. Tapi Arliena sama sekali tidak gentar, karena tahu bahwa benda itu bukan ditujukan untuknya. Ziva sendiri dengan enteng menunggu sampai benda itu cukup dekat sebelum menyamping membuatnya melesat dan menancap pada mobil Ford, sebuah anak panah.
“Agen Bramantyo, keluarlah dan bergabunglah di pesta ini,” panggil Ziva.
Arliena dan Ziva menunggu, masih dalam posisi stand-off saat dari belakang Arliena, seorang pria tegap dan kekar memakai baju rompi kulit warna bluish tanpa lengan dengan sebuah hood muncul. Dia adalah Agen Bramantyo, atau biasa dipanggil “Agen Bram”. Sebuah Hoyt Dorado dengan archery sight dan quiver berisi 4 anak panah tampak terentang di tangannya, bersiap untuk menembakkan sebuah anak panah lagi. Hidden-blade dari Agen Bram berada di tangan kiri, menjadi satu dengan arm guard. Dia berjalan hingga sejajar dengan Arliena.
“Sudah kubilang, Bram, aku tak perlu bantuan,” kata Arliena.
“Aku juga bukan datang untuk membantumu,” kata Bram,
“lagi pula aku masih punya urusan dengan sundal yang satu ini,”
“Kau tak akan bisa menghadapinya, mundurlah,” kata Arliena.
“Mau lihat siapa yang lebih dulu bersarang di tubuhnya? Pelurumu atau panahku?” tanya Bram menantang Arliena.
“Ini bukan permainan, Bram!” hardik Arliena.
Melihat Arliena dan Bram yang saling bertengkar, Ziva membuat gerakan seolah-olah dia menguap karena bosan. Ini tentu saja membuat baik Arliena maupun Bram tambah panas. Fakta bahwa Arliena dan Bram saling berebut untuk membunuh Ziva jelas menjadi pertanda bahwa di masa lalu, Ziva pernah melakukan kejahatan amat serius kepada masing-masing, sehingga mereka berdua tak akan pernah bisa memaafkan Ziva bahkan dibawa hingga dendam kesumat.
“Baiklah, kalian berdua anak-anak kecil sungguh menggemaskan, sebelum kalian saling bunuh-bunuhan sendiri, biar kupermudah saja,” kata Ziva,
“Lien, kau datang ke sini untuk membunuh si Fariz Hamzah, yang mana itu sudah kaulakukan; dan aku datang ke sini bukan untuk melindunginya, jadi seperti yang kaukatakan pada penodongmu itu, kau tak bisa membunuhku. Lalu Agen Bram, karena kau baru datang, maka tujuanmu ke sini bukan untuk membantu Lien, tapi untuk soal lain, mungkin untuk misi lain mungkin untuk mengajak Lien makan malam romantis atau ber-indehoy ria di Puncak, atau apa pun itu, tapi pasti soal misi, karena kalian berdua tak akan bisa akur bila tak dalam misi yang sama; dan apa yang selalu dikatakan Hafryn Rahman soal misi? Dahulukan misi sebelum dendam pribadi; jadi dalam hal ini, kau pun tak bisa membunuhku; dan karena aku sendiri tujuanku hanya untuk bertemu dengan Lien, maka semua orang sudah mendapat tujuannya, tidak ada yang harus mati, semua senang, capiche?”
Arliena dan Bram hanya mendengus saja tidak berbicara apa-apa. Memang apa yang dikatakan oleh Ziva itu 100% benar, tidak salah satu kata pun.
“Jadi, karena aku juga sudah tak ada urusan di sini, maka sampai jumpa, auf wiedersehen, sayonara, au revoir, adieu, arrivederci,” kata Ziva sambil tersenyum dan secara sengaja memperlihatkan sebuah hidden-blade di tangan kirinya.
“Jangan pergi, perempuan sundal!” teriak Bram.
Terlambat, Ziva sudah melemparkan bom asap dan asap putih segera memenuhi area itu. Bram melepas anak panahnya, yang sepertinya melayang begitu saja menembus udara kosong. Saat asap sudah menipis, memang panah itu terlihat hanya menancap begitu saja, tak ada jejak darah satu pun, menandakan si panah gagal menemukan sasarannya. Suara motor Harley Davidson XL1200X yang beranjak pergi pun menjadi indikasi bahwa Ziva kini sudah jauh.
“Berengsek!” kata Bram,
“aku belum pernah meleset sebelumnya,”
“Biasakanlah,” kata Arliena,
“dia bukan tandinganmu dengan panah-panahmu; Ziva adalah pembunuh nomor satu milik mereka, dia juga kepala dari pasukan elite Boneguard Order, terlatih dalam pertempuran jarak dekat dan jarak jauh, menguasai bermacam-macam senjata, dan sejauh pengamatanku, kemampuannya tak tertandingi dalam Ordo mereka; banyak rekan-rekan Assassin kita yang sudah menemui ajal di tangannya,”
“Kupikir Hospitaller adalah unit elite mereka,” kata Bram sambil mengambil panahnya.
“Boneguard lebih elusif dan tak kentara,” kata Arliena,
“pasukan terbaik dari yang terbaik milik musuh, dan Ziva adalah yang terbaik dari semuanya, karena dia dilatih dengan cara kita, oleh mentornya, seorang Assassin pembangkang; hidden-blade yang selalu dia pakai adalah caranya untuk mengejek kita,”
“Sudahlah, aku tak mau membicarakan soal wanita sundal itu,” kata Bram.
“Kalau begitu, kenapa kau kemari?” tanya Arliena.
“Ada pesan dari Pak Hafryn, setelah selesai misimu, segera kembali ke markas,” kata Bram.
“Itu aku sudah tahu, tapi apa yang khusus sehingga sampai dia menugaskanmu hanya untuk itu?” tanya Arliena.
“Inisiatif K sudah dijalankan,” kata Bram.
“Apa?” tanya Arliena, “bukankah itu adalah...”
“Sekarang komando kita berada di bawah Asisten Direktur Maria Elizabeth Aresti,” kata Bram.
“Kita? Kita berdua?” tanya Arliena,
“dengar, Inisiatif K sudah lama ditiadakan atas suatu alasan, dan Inisiatif itu tak akan bisa dijalankan tanpa...”
Tiba-tiba Arliena tercekat. Sesuatu terasa seperti tengah menghantam pikirannya.
“Apa mereka sudah menemukannya?” tanya Arliena.
“Entahlah,” kata Bram,
“aku hanyalah pembawa pesan,”
“Kalau begitu kita harus kembali ke markas segera,” kata Arliena.
“Setelah kau selesaikan misimu,” kata Bram,
“targetmu masih hidup,”
“Kau atau aku?” tanya Arliena.
“Misimu, tanggung jawabmu,” kata Bram.
Arliena pun segera menuju ke Mercy yang teronggok itu, sementara Bram diam di tempat. Fariz Hamzah tampak berusaha merangkak keluar dari jendela, walau jelas tubuh bagian bawahnya tersangkut oleh sesuatu. Arliena segera memakai hood-nya sebelum akhirnya dia menghadapi Fariz Hamzah.
“Kau datang soal KRI Antasena, kan?” tanya Fariz Hamzah,
“itu adalah penyakit, barang setan yang akan membawa kita menuju kehancuran,”
“Setiap negara berhak memiliki kekuatannya sendiri,” kata Arliena.
“Itu menurutmu, lalu apa? Rezim baru kebijakan baru, rezim bersenjata lemah akan duduk diam, dan yang bersenjata kuat akan menindas,” kata Fariz Hamzah,
“aku hanya memastikan hal itu tak akan terjadi,”
“Kenapa tak mempercayai bahwa umat manusia akan melakukan hal yang benar?” tanya Arliena.
“Karena sepanjang sejarah, tidak ada umat manusia yang melakukan hal yang benar, hanya ada nafsu dan ambisi, dan senjata tak pernah digunakan sebagaimana mestinya,” kata Fariz Hamzah,
“kehendak bebas kemanusiaan adalah wabah, penyakit yang harus dimusnahkan, umat manusia harus diatur supaya mereka bisa bertindak dengan benar, dan aku tak menyesal telah menghancurkan Antasena!”
“Baiklah kalau begitu,” kata Arliena,
“sudah waktunya,”
“Kau tetap akan membunuhku, kan? Apa pun yang kukatakan?” tanya Fariz Hamzah.
“Memang, karena itu misiku,” kata Arliena,
“tapi setelah mengakui dosa-dosamu, setidaknya kau bisa mati dengan tenang,”
“Aku tak berdosa,” kata Fariz Hamzah,
“bangsa inilah yang berdosa, dan aku hanya mencoba menyucikannya,”
“Recquiescat in pace,” kata Arliena.
Hidden-blade Arliena kembali terhunus dan dengan sekali gerakan cepat, langsung menancap di tubuh Fariz Hamzah, membuatnya mati seketika. Setelah berdoa sejenak bagi ketenangan arwah Fariz Hamzah, Arliena pun berdiri sambil melepas hood-nya.
“Panggil tim pembersih, Bram, lalu kita pergi dari sini,” kata Arliena.
“Sudah kulakukan,” kata Bram.
Arliena pun langsung menuju ke motornya, yang setelah dilihat dengan dekat ternyata adalah sebuah Ducati Diavel, sementara Bram pun menuju ke motornya, sebuah BMW R1200R yang terparkir tak jauh dari situ. Lalu mereka berdua pun memacu motor mereka ke arah yang berbeda, dan menghilang di keheningan malam, meninggalkan mayat 8 orang di area itu yang akan diurus oleh “tim pembersihan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar