★HENING★ Part 28
" EVAKUASI "
Asap hitam membumbung perlahan dari sebuah puing-puing helikopter yang masih tampak berbentuk meskipun terjatuh dengan keras, beberapa meter dari situ tampak Panglima Katsuun tergeletak kesakitan, sepertinya ia mengalami luka dalam, tak jauh dari tempatnya dua orang anak buahnya yang bersamanya tampak terbaring tak bergerak.
"Itu.., sebelah sana..!",
Kata Letn. Mahda menunjuk ke helikopter yang terjatuh itu,
"Amankan dan periksa lokasi dan situasi..!",
Lettu Adam memberi perintah, segera saja ke delapan anak buahnya bergerak cepat menyusuri sekitar taman tempat dimana heli itu jatuh, sementara Jim terlihat berlari tergesa-gesa mendekati heli tersebut,
"Hei.., waspadalah..!",
Seru Letn. Mahda mengingatkan, namun Jim terus berlari kemudian tak lama ia berjalan pelan dan mengokang senjatanya,
"klakk.."
"Hmm..., akhirnya.. Kami mendapatkanmu pak tua...",
Gumam Jim mengarahkan senjatanya ke Pang. Katsuun yang tergeletak tak berdaya.
..........
Di lain sisi..
Terlihat seseorang tengah menggendong rekannya dan berjalan cepat menyusuri badan jalan kota yang telah sepi itu,
"kita harus kesana dan bergabung dengan yang lainnya..",
Kata Elang menunjuk ke arah kepulan asap kecil,
"Sebaiknya kita beristirahat dahulu, tak perlu terlalu buru-buru, dan sepertinya kau lelah karena sedari tadi menggendongku",
Kata Tari yang berada di punggung Elang.
"Sudahlah,, terlalu beresiko jika kita berdiam disini, kita harus cepat..",
Sahut Elang yang terus berjalan menggendong Sers.Tari di belakangnya.
"Deg..deg..deg...deg"
"Tim evakuasi kepada letnan Adam, tim Evakuasi kepada Letnan adam, ganti..",
Radio tim Lett.Adam berbunyi, panggilan dari chief tim udara yang beberapa menit lagi sampai ke posisi mereka,
Buru-buru prajurit radio menghantarkan radionya ke Lett. Adam,...
"Yah, diterima, disini Lettu Adam, ganti..",
Balas Lett. Adam,
"Di mintakan konfirmasi titik area penjemputan, ganti..",
Sahut chief tim evakuasi udara tersebut,
"Hmmm, titik penjemputan pertama dibatalkan karena ada aktifitas besar musuh, disarankan melambung sekitar 20 derajat ke selatan, setelah itu akan kami tandai, ganti..",
Sahut Lett. Adam,
"Diterima, kami segera tiba.. Keluar..",
Balas Chief itu.
"Hey, hentikan.., tunggu sebentar..!",
Teriak Letn. Mahda melihat Jim sudah menempelkan senjatanya ke kepala Panglima Katsuun yang terbaring tak berdaya,
"Aku rasa kita harus menghabisi orang seperti dia..",
Kata Jim dingin,
"Heh..heh, ukhhh.., apa kau punya nyali untuk membunuhku anak muda?",
Sahut Pang. Katsuun tersenyum kecil di sela nyeri yang melanda sekujur tubuhnya,
"Buukk!"
"Kau masih saja berlagak meskipun ajalmu sudah dekat..!",
Jim mendaratkan tendangan ke kepala Pang. Katsuun,
"Ahhkkk!"
Pang. Katsuun berguling menahan sakit,
"Hey, sudah hentikanlah.., akan lebih baik jika kita menangkapnya..!",
Seru Letn. Mahda mendekat diikuti Lettu Adam, sementara prajurit yang lain berjaga disekeliling mereka.
"Uhkk, hanya segitu hah?! Hahaha, ayo bunuh aku bajing*n..! kau pecundang yang tak punya nyali!?!",
Pang. Katsuun berteriak,
"Hmm, baiklah jika kau memintanya.. Akan ku kabulkan permintaanmu pak tua..!",
Jim bersiap menarik pelatuk senapannya yang mengarah tepat ke kepala panglima Katsuun,
"Jim hentikan..!",
Seseorang berteriak dikejauhan,
"Tash..!"
Namun Jim sudah melepaskan tembakannya, keadaan berubah hening seketika..
" ... "
Letnan Mahda dan juga Lettu Adam hanya diam menyaksikan itu berlangsung,
"Heh..heh, kau sudah datang teman?",
Kata Jim pelan,
"Nyawamu diselamatkan olehnya.., berterima kasihlah kau padanya..",
Sambung Jim, tampak tanah disebelah Panglima Katsuun tercabik dan sedikit mengeluarkan asap, sepertinya Jim sengaja merubah arah tembakannya.
"Huh..huh..",
Elang berjalan mendekat dengan terengah-engah,
"Tahan tindakanmu Jim, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.., agar dunia dan semua orang tau keserakahannya akan kekuasaan..",
Kata Elang pelan, beberapa anak buah Lettu Adam tampak mengamankan Panglima Katsuun,
"Tari..! Syukurlah, kau baik-baik saja",
Seru Letn. Mahda melihat Elang membawa salah satu prajurit terbaiknya itu,
"Deg..deg..deg"
Semua tertegun begitu mendengar deru suara heli-heli memenuhi udara,
"Kau, cepat segera beri tanda!",
Lettu Adam memerintahkan salah satu anak buahnya,
"Baik ndan!"
Sahut prajurit itu dan segera mengeluarkan dan melempar bom asap tak jauh dari posisi mereka,
"Shhhhhhh"
Asap merah mengepul,
"Tim Evakuasi segera tiba, sebaiknya kita bersiap, utamakan yang terluka.., kita lakukan secara bertahap, markas mengirim 6 helikopter, dan sekarang ini kenyataannya itu terlalu banyak",
Kata Lettu Adam menunduk mengingat kembali Kapten Joko dan Kapten Hari serta pasukan mereka yang sangat kecil kemungkinan untuk mereka selamat dari serangan penuh musuh dikawasan istana tadi.
"Lettu Adam kepada Chief evakuasi masuk",
Lett. Adam menghubungi lewat radionya,
"Diterima letnan",
Sahut Chief itu,
"Kami hanya berjumlah 12 orang prajurit, 1 tahanan, dan 1 prajurit terluka, jadi kita lakukan secara bertahap.., dua heli mendarat awal untuk mengangkut yang terluka dan tawanan diikuti 2 prajurit di masing-masing heli, selanjutnya dua heli mendarat bergilir dan masing-masing heli akan diisi 2 prajurit, sebaiknya kita lakukan dengan cepat, ganti..",
Jelas Lettu Adam,
"Dimengerti, keluar..",
Sahut Chief itu.
..............
Markas pusat Jakarta..
Panglima Rokhim terlihat memegangi dahinya, sesekali matanya berputar melirik seluruh sudut layar yang ada di hadapannya.
"Pak..tim evakuasi telah sampai disana..",
Prajurit komunikasi memberi tau,
Pang. Rokhim tetap diam tak bergerak, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu..
"Maaf pak.., tim evakuasi sudah sampai di titik penjemputan..",
Prajurit komunikasi tadi kembali memberi tahu, Panglima Rokhim masih diam tak bergeming...
"Pak..maaf pak..",
Seru prajurit tadi,
"Eh iya.. Ada apa..?",
Pang. Rokhim bangun dari lamunannya.
"Maaf pak.. Tim evakuasi telah sampai disana..",
"Iya.., maaf, terus pantau mereka..",
Sahut Pang. Rokhim,
Kelihatannya Panglima Rokhim kehilangan konsentrasi karena kejadian sebelumnya dimana seorang prajurit jeniusnya terluka akibat keterlambatannya untuk berfikir dan mengambil keputusan.
..........
Sementara itu sebuah minibus ambulan berwarna hijau gelap melaju kencang menyusuri jalan raya, didalamnya letnan Vega terbaring lemah.. Disampingnya sang Jendral atasannya Jend.Purnomo setia menemaninya bersama beberapa prajurit medis, Jendral Purnomo sudah menganggap Letnan cantik itu seperti putrinya sendiri, sehingga raut kecemasan meliputi wajahnya yang mulai menua dimakan usia.
"Apa su..dah selesai...? Aku ingin men..jemputnya..",
Ucap Letn. Vega pelan,
"Belum, tapi kita akan segera mengakhiri perang ini Letnan... Sudahlah jangan banyak bicara dahulu.. Aku berjanji kau akan menjadi orang pertama yang menemuinya setelah ia kembali..",
Sahut Jend. Purnomo dengan mata berkaca-kaca,
Letnan Vega hanya tersenyum kecil mendengar itu.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar