★HENING★ Part 42
" MEREKA MENYULUT API. KITA MENGOBARKAN NYA!"
5 oktober 2012
21.00 wib
Markas pusat
"Saya harus segera pulang, banyak yang harus kita kerjakan besok..",
ucap Jendral Purnomo pelan.
Sementara itu tampak Elang, Letnan Mahda, dan juga Lettu Adam serta Letnan Vega membisu seakan membiarkan Elang mengheningkan dirinya atas kejadian sore tadi, tak satupun dari mereka berani mengungkit atau membahas kejadian sore tadi.
"Sebaiknya kalian awasi dia.. Jangan biarkan ia berbuat yang tidak-tidak.., ingat.. Ini belum pasti pihak Amerika yang melakukannya.., baiklah saya serahkan dia pada kalian",
sambung Jend.Purnomo lagi mengingatkan Lettu Adam dan Letnan Mahda.
"Siap Jendral..",
sahut Lettu Adam.
Jendral Purnomo segera berlalu meninggalkan prajurit-prajurit terbaiknya itu.
"Ajak dia bicara..",
ucap Letn.Mahda kepada Lettu Adam.
Sejenak Lettu Adm mengangguk dan berjalan mendekati Elang yang sedari tadi hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sepetah katapun.
"Sudahlah.., tidak ada gunanya jika terus meratapi kejadian sore tadi, setidaknya ayo kita beristirahat karena besok banyak yang harus kita lakukan..",
kata Lett.Adam sembari memegang pundak Elang yang hanya diam membisu.
"Itu benar.., berhentilah bersikap seperti itu..",
tambah Letnan Vega,
Elang masih diam tak bergeming.
"Sebaiknya kita berkonsentrasi untuk besok, Panglima sepertinya akan memberi suatu misi untuk kita..",
kata Letnan Mahda menyahut.
Kali ini Elang merespon mendengar perkataan Letnan Mahda dan menoleh.
"Maksudmu..?",
tanya Elang dengan mimik serius.
"Tadi tak lama setelah kau pergi meninggalkan rapat, panglima berkata akan mempersiapkan suatu misi untuk kita, besok..",
jawab Letn.Mahda.
Seketika raut wajah Elang berubah tegang dengan tatapan tajam membara, seakan ada suatu hasrat yang siap meledak sewaktu waktu.
.........
6 oktober 2012
09.45
Briefing awal
Ruang komando, Markas pusat..
Panglima kembali mengadakan rapat mendadak menindaklanjuti rapat sebelumnya yang belum menemukan solusi untuk situasi yang sedang terjadi.
"Tidak ada pilihan lain, kali ini kita akan melakukan sesuatu, wakil kita untuk PBB pak Sutrisno mengabarkan terlalu banyak tekanan dari pihak Amerika dan Australia, sehingga kemungkinan besar kita kalah dalam diplomasi perserikatan tak transparan itu, selain itu kita juga sedang mengantisipasi gerakan pasukan khusus Amerika yang berada di indonesia..",
seru Panglima Rokhim menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
"Pak Mentri pertahanan, pak Suprapto sudah mendapatkan izin dari Presiden atas tindakan yang akan kita lakukan setelah ini..",
sambung Panglima Rokhim dengan berkobar-kobar, sepertinya ia juga mulai lelah bumi pertiwi terlalu diremehkan bangsa asing seperti Amerika dan Australia.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Panglima..?",
tanya Letnan Vega.
"Pak Suprapto..!",
sahut Pang.Rokhim mempersilahkan menhan Suprapto untuk menjelaskan.
"Baiklah, Presiden dan anggota DPR sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi atas tindakan yang akan kita lakukan ini, namun mengingat mereka telah menyulut api.. Maka kita akan mengkobarkannya.
kita akan mengirim tim khusus untuk menyusup dan meng-eleminasi seorang target...",
jelas Menhan suprapto.
"Siap pak..! Siapa target kita itu..?",
Lettu Adam bertanya.
" Target kita adalah, Mentri pertahanan Amerika, Sir Malloney..",
ucap Mentri pertahanan indonesia itu sambil menatap satu persatu wajah tegang semua orang diruangan itu, kecuali Elang.
Elang tampak begitu dingin dan bahkan tak berekpresi sedikitpun.
"Kapan dan bagaimana pak?",
Elang bertanya kepada Menhan Suprapto.
Letnan Mahda, Lettu Adam, dan Letnan Vega terkejut melihat Elang begitu antusias akan misi pembunuhan ini, berbeda dengan mereka yang memikirkan segala resiko dan dampak yang pasti akan memperburuk situasi yang semakin memanas ini.
"Sir Malloney 10 jam dari sekarang menurut intelijen yang dipercaya akan keakuratannya, akan menuju Australia yang sebelumnya akan singgah di wamena papua untuk beristirahat dan bertemu dengan kolega mereka disana..
Disanalah kalian harus menyingkirkannya untuk menimbulkan efek getar, dan kita akan melakukannya secara diam-diam..",
jelas menhan Suprapto.
"Dalam misi ini kalian tak akan mengenakan seragam kalian, kalian tak diketahui, kalian tak terdata sebagai warga negara indonesia, dan kalian tak akan diakui jika gagal atau tertangkap..!
Karena ini adalah misi rahasia..,
kalian siap melakukannya..!?!?",
sambung Panglima Rokhim sembari bertanya dan bangkit dari tempat duduknya.
Letnan Mahda dan Lettu Adam tampak saling berpandangan berusaha meyakinkan satu sama lain.
"Siap pak..!",
Elang langsung menjawab..,
"Kami juga siap..!",
sambung Letnan Mahda dan Lettu Adam begitu mendengar Elang telah menyatakan kesiapannya.
Sejenak Panglima Rokhim menatap ketiga prajuritnya itu, berdasarkan statistik hanya merekalah yang bisa mengemban misi ini mengingat merekalah yang terbaik dari yang terbaik, serta loyalitas mereka tak diragukan lagi.
" . . . "
Jendral Purnomo melirik Elang, Elang mengerti kecemasan atasannya itu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.
Elang menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia siap dengan segala konsekuensi misi ini.
Terlebih lagi Letnan Vega menatap Elang dengan mata berbinar, baru saja ia melihat sosok pria yang ia tunggu-tunggu selama ini akan pergi lagi untuk menjalankan misi berbahaya, bahkan tak sempat baginya untuk mencurahkan isi hatinya karena situasi yang tak pernah sempurna.
"Baiklah.., saya bangga dengan kalian.. Berjuanglah..! Beritahu mereka kengerian kita..!",
Seru Panglima Rokhim kepada prajurit-prajuritnya tersebut.
"Siap pak..! Merdeka..!",
sahut Letnan Mahda dan Lettu Adam serempak, sementara Elang hanya memberi sebuah penghormatan.
" 3 jam dari sekarang diharapkan kalian kembali berkumpul disini.., bubar..",
Sambung Panglima Rokhim lagi mengakhiri briefing awal pagi itu.
.........
Kedubes Australia
11.30 wib
"Sepertinya tak banyak yang bisa kita lakukan saat ini, pastinya mereka sudah menempatkan sejumlah mata-mata untuk mengawasi kita disini mengingat keadaan yang semakin memanas karena peristiwa kemarin sore..",
kata Lt.Jones, ketegangan diwajahnya tampak jelas terlihat.
"Lalu apa yang akan kita lakukan chief?",
Sgt.Maj.Bradley bertanya.
Tampak juga ketegangan meliputi seluruh wajah para anggota pasukan Khusus Amerika tersebut, jauh dalam diri mereka..mereka juga merasa sedikit salut terhadap militer Indonesia yang begitu cepat mengantisipasi pergerakan mereka dengan menempatkan beberapa mata-mata yang terus mengawasi mereka.
"Tidak ada, kita harus lebih berhati-hati sekarang, aku merasa seorang penjual kopi diluar selalu muncul di jam-jam tertentu.., sepertinya dia bukan penjual kopi biasa..",
sahut Lt.Jones sembari melirik keluar dari balik gorden jendela.
"Apakah maksud anda ia seorang mata-mata Chief???",
kali ini Sgt.David yang bertanya.
"Itu bisa saja benar.., kita hanya perlu lebih berhati-hati saja..",
jawab Chief pasukan khusus tersebut, berusaha agar tidak membuat para anak buahnya kaku dengan sibuk memikirkan penjual kopi keliling diluar sana.
.............
Markas Pusat
30 menit sebelum Misi
Panglima Rokhim telah selesai memberikan arahan, Mayjen Rizal yang saat itu hadir juga telah usai menyerahkan segala perlengkapan mereka.
Letnan Mahda, Lettu Adam, dan juga Elang akan diberangkatkan menggunakan Helikopter milik TNI AU.
"Sebaiknya kalian melakukannya dengan cepat.., aku tak ingin sesuatu terjadi diluar rencana kalian..",
ucap Jendral Purnomo mendekati ketiga prajurit terbaiknya itu.
"Dan kau Elang.., tetaplah menjadi dirimu yang sekarang, buang jauh-jauh pribadimu yang dahulu.. Aku tak ingin melihatmu seperti dulu lagi..",
sambung Jend.Purnomo lagi.
"Dia yang dulu..???",
gumam Lettu Adam dalam hati sembari melirik ke arah Elang, begitu juga Letnan Mahda.
Sepertinya mereka merasakan suatu kecemasan Jendral purnomo tentang diri Elang yang dulu, namun mereka tak mengetahui bagaimana hal itu bisa membuat Jendral Purnomo begitu mencemaskan hal tersebut.
Sementara Elang hanya diam tak bergeming, tangannya erat menggenggam senjatanya, pandangannya lurus dan tajam.
Elang yang dahulu???
.........
.........
Jim is Death??? why..???
Jim, mata-mata korea..
Negaranya sudah tak mengakuinya lagi, bahkan Badan Militer divisi Mata-mata Korea telah menghapus seluruh catatan atau file-file sepak terjang Jim Hoo.
Menurut Statistik Divisi mata-mata Korea, Jim menduduki posisi kedua sepanjang sejarah inteligen dalam kesuksesan misi yang diembannya, hanya tertinggal satu misi lagi dari posisi pertama yang ditempati oleh Shun Lee Hoo yang tak lain adalah ayah kandung Jim Hoo.
Jim seorang yang selalu awas dan waspada meskipun ia tak pernah berhenti berbicara untuk menutupi kesepiannya karena ia adalah seorang yang sedang terguncang.
ia merasa lelah jalani hidup tapi tak bisa menjadi dirinya sendiri karena tugasnya sebagai mata-mata, lalu ia bertekad untuk mengalahkan rekor ayahnya sebagai titik akhirnya menjadi seorang mata-mata.
namun sebelum ia berhasil, Negaranya membuangnya.
ia mulai berubah ketika ia melihat dan mengenal Elang, dengan bertemu dan mengenal Elang ia merasa tak sendiri karena Elang adalah seseorang yang juga seperti dirinya, membuat ia dan Elang seperti saling terhubung.
Peran Jim adalah sebagai sahabat Elang, sahabat mempunyai 3 misi khusus dalam suatu hubungan persahabatan.
sahabat yang menghibur, menemani, dan memberikan semangat.
1. sahabat yang menghibur
Jim sering melakukannya dengan permainan kata-katanya, dan tingkahnya yang sedikit konyol.
2. sahabat yang menemani
Jim selalu menemani Elang dalam suka maupun duka, baik mudah ataupun sulit, tak perduli dimanapun mereka berada.
3. Sahabat yang memberikan semangat
Hal terakhir yang dilakukan Jim secara tak langsung, yah.. dengan kematiannya.. Jim telah membuat Elang kembali menjadi "the silent Killer" yang sesungguhnya, dan Elang butuh itu karena pribadinya telah berubah 60% dari dirinya dahulu setelah bertemu Jim.
This is a war..!
Everything is useless
(R.I.P JIM)
.............
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar