Selasa, 03 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 13

TIGA BELAS 


BALDINI  BEKERJA  TANPA  HENTI  selama  dua  jam, dengan gerakan yang makin lama makin kacau, makin jorok menulis dari tinta ke kertas, dan makin besar dosis parfum yang ia teteskan ke sapu tangan untuk diendus hidungnya. 

Ia  nyaris  tak  bisa  mencium  apa-apa  lagi  sekarang.  Uap parfum  yang  ia  hirup  membuat  mabuk.  Ia  tak  bisa  lagi mengenali  niat  awal  untuk  membongkar  kepalsuan 
Pélissier. Baldini sadar  tak ada gunanya  terus mencium.  Ia tak akan pemah bisa menyarikan ramuan parfum misterius ini.  

Yang pasti bukan hari ini atau besok saat  hidungnya pulih kembali kalau Tuhan  mengizinkan. Kegiatan mengendusi dan memilah-milah unsur dasar  aroma, memfragmentasi kesatuannya  untuk  memastikan kualitas gabungan  aroma  yang  tercipta  menjadi  komponen-komponen terpisah,  adalah  kegiatan  yang  sangat melelahkan  dan  memualkan.  

Kini  semangatnya  sudah terbang entah ke mana. Ia tak ingin meneruskan lebih jauh. Kendati niatnya demikian, tapi tangannya seperti punya pikiran  sendiri.  Ini  buah  dari  praktik  selama  ribuan  kali sebagai  pembuat  parfum.  Mencelupkan  sapu  tangan  lalu 
dianginkan  dan  dikibas  dengan  cepat  melewati  wajah. 

Setiap tarikan napas ia tahan selama beberapa detik untuk kemudian  dilepas  dengan  helaan  dan  jeda  yang  terlatih. 

Sampai  akhirnya  hidung  itu  sendiri  yang  memutuskan untuk berhenti dari siksaan. Baldini mulai dihinggapi reaksi alergi  sampai  benar-benar  tak  mampu  mencium  apa-apa lagi  seperti  disumbat  lilin.  

Bernapas  pun  Seolah sulit, terserang pilek hebat sampai matanya berair. Puji Tuhan! 
Sekarang  ia  bisa  berhenti  dengan  lega.  

Tugas  telah dilakukan  dengan  sekuat  tenaga  dan  usaha  terbaik, berdasarkan  aturan  seni  yang  benar,  kendati  akhirnya harus  kalah  (seringnya  begitu).  

Saatnya  untuk  ultra possenemo obligatur - tutup  toko!  Besok  pagi  ia  akan  pergi  ke 
tempat  Pélissier  untuk  membeli  sebotol  besar  parfum 'Cinta  dan jiwa’  untuk membuat wangi  kulit Spanyol milik Count  Verhamont  sesuai  permintaan.  

Setelah  itu  ia  akan kembali  menenteng  koper  kecil  berisi  rupa‐rupa  sabun model  kuno,  kantung-kantung  aromatik,  minyak  rambut, dan pundi-pundi bedak, lalu berkeliling ke salon-salon para countess  tua  yang  selalu  gemetar  sebagai  langganan terakhir. 

Barangkali saat itu ia juga akan sama gemetarnya dan terpaksa menjual toko serta bisnsnya kepada Pélissier atau  salah  satu  dari  puluhan  pedagang  kaya  karbitan  di 
kota  ini.  Kalau  cukup  beruntung  ia  bisa  menjual  seharga beberapa ribu livre. Ia akan mengepak satu atau dua koper dan  pergi  ke  Italia  bersama  istri  tercinta  (kalau  belum 
keburu mati lantaran  stres). 

Dan jika ia  sanggup  bertahan seusai  perjalanan, ia  akan membeli  sebuah  rumah  kecil  di pedesaan  dekat  Messina  karena  harga  barang¬barang  di sana  murah.  Di  sanalah,  dalam  pahitnya  kemiskinan,  ia, 
sang  Giuseppe  Baldini,  mantan  ahli  parfum  terbesar  di Paris,  akan  meninggal  dunia  - kapan  pun  Tuhan mengizinkan. 

Yah, kedengarannya tidak terlalu buruk. Baldini  menyumbat  kembali  flacon  parfum, meletakkan pena  dan  mengusap  sapu  tangan  beraroma  tajam  itu  ke kening  untuk  terakhir  kali.  

Luapan  alkohol  cukup menenangkan,  tapi  tidak lebih. Matahari  terbenam di ufuk barat. 
Baldini  berdiri  dan  membuka  gorden. 

Tubuhnya  mandi cahaya matahari sore sampai ke lutut, merah padam seperti sebatang obor  tua saat apinya habis. Ufuk merah matahari 
bersernbunyi di belakang kota Louvre bersama pijaran api lembut  menjajari  atap-atap rumah.  

Sungai berkilau keemasan dan kapal-kapal  sudah lenyap. Angin sore berhembus menyapa  permukaan air, berkilapan di sana-
sini, bergerak makin dekat seperti tangan raksasa menebar jutaan koin emas di atas air.  

Sesaat  Baldini  merasa  arus sungai itu berbalik arah: mengalir  ke  arah  Baldini. Banjir oleh kilauan emas. Mata  Baldini  basah dalam  kesedihan.  

Lama  sekali  ia berdiri  diam  memandang  keelokan  alam.  Lalu  tiba-tiba  ia mendorong  membuka  jendela  lebar-lebar  dan  melempar 
parfum  Pélissier  sejauh  mungkin, melengkung  tinggi sepanjang  sungai, berkecipak  dan  membelah  kilapan permukaan air sebelum tenggelam dalam sekejap. 

Udara  segar  menghambur  ke  dalam  ruangan.  Baldini megap-megap  menghirup  napas  dan  segera  sadar  bahwa hidungnya mulai membaik.  Lalu menutup jendela. 

Hampir bersamaan,  malam  turun  begitu  tiba-tiba.  Pemandangan kota dan sungai yang semula berpendar keemasan berubah menjadi  siluet  kaku  berwarna  kelabu.  Ruang  kerja  Baldini kini  gelap.  Ia  tak  bergeser  dari  posisi  awal  dan  tetap menatap keluar jendela. 

“Aku tidak akan mengirim seorang pun  ke  tempat  Pélissier  besok  pagi,”  ia  berkata.  

Kedua tangan  mencengkeram  punggung  kursi  erat-erat.  

“Tidak akan.  Dan  aku  juga  tidak  akan  berkeliling  ke  salon-salon lagi.  Aku  akan  langsung  pergi  ke  notaris  besok  pagi  dan 
menjual  nunah  serta  bisnisku.  Itu  yang  akan  kulakukan. Haram jadah!” 

Ekspresi wajah Baldini saat itu sumringah seperti bocah dan tiba-tiba ia merasa sangat bahagia. Sekali lagi ia adalah Baldini  tua  sekaligus  muda.  Dengan  keberanian  dan 
keteguhan  kuat  menghadapi  nasib  pun  bila  keteguhan  itu berarti mundur teratur. 

Memangnya kenapa?! Tak ada lagi yang  bisa  dilakukan. Tekadnya bulat untuk meninggalkan masa  lalu  yang  bodoh,  di  mana  seolah  tak  ada  pilihan. 

Tuhan  Maha Adil  dalam  memberi  suka  maupun  duka,  tapi Dia tak ingin kita meratapi dan menangisi duka. Justru kita harus membuktikan  pada  diri  sendiri  bahwa  kita memang jantan. Dan rasanya Dia memang telah memberikan tanda-Nya. 

Fatamorgana merah keemasan dari siluet kota saat ini merupakan  peringatan:  bertindaklah  sekarang,  saat  ini juga…  Baldini.  Sebelum  terlambat!  Mumpung  rumahmu masih  berdiri  kokoh,  gudangmu  masih  penuh,  dan mumpung  masih  bisa  menawar  dengan  harga  yang  baik untuk  bisnis  gagalmu.  

Putusan  masih  Dia  biarkan  di tanganmu. Menikmati  hari  tua  dengan  hidup sederhana  di Messina  memang  bukan  tujuan  hidup  sejak  awal,  tapi masih  lebih  terhormat  dan  terhitung  ibadah  ketimbang musnah  dalam  kemewahan  semu  di  Paris.  

Biarkan  saja keluarga  Brouet,  Calteau,  dan  Pélissier  bersorak  sekarang. Giuseppe Baldini memang gulung  tikar,  tapi setidaknya ini 
dilakukan dengan kehormatan dan atas kehendak sendiri! Baldini  merasa  cukup  bangga  pada  diri  sendiri. 

Benaknya kini begitu damai. Untuk pertama kalinya dalam hidup  ia  merasa  begitu nyaman.  Lehernya  tidak  kaku  lagi dan  bahunya  serasa  hidup.  Ia  berdiri  tegak  tanpa  beban, rileks,  bebas  dan  puas  dengan  diri  sendiri.  

Duh,  untuk pertama  kalinya  bernapas  terasa  begitu  ringan.  Ia  bisa dengan jelas mencium aroma parfum 'Cinta dan jiwa’ dalam ruangan tanpa harus  terpengaruh. 

Baldini  telah mengubah jalan  hidup  dan  merasa  bahagia.  Sekarang  ia  hendak  naik 
menemui istrinya  dan menyampaikan  putusan ini.  Setelah itu ia akan berziarah  ke Notre-Dame  dan menyalakan lilin sebagai ungkapan  terima kasih atas petunjuk serta berkah yang telah Tuhan berikan padanya, Giuseppe Baldini, dalam wujud kekuatan karakter.

Dengan  bergegas,  nyaris  seperti  anak  muda,  Baldini memakai wig di kepalanya yang botak, mengenakan mantel biru, menyambar lilin dari meja, dan keluar dari ruangan. Ia baru  saja menyalakan lilin  sepanjang  perjalanan  naik  saat mendengar  bel  pintu  berdenting  di lantai  dasar.  

Bunyinya bukan denting bel Persia dari pintu toko, tapi bel dari pintu masuk  pelayan bunyi  menyebalkan yang selalu  terasa mengganggu.  Ia  selalu  mengubah  putusan  untuk menyingkirkan  benda  itu  dan  menggantinya  dengan  bel yang lebih enak didengar dengan alasan biaya  yang dirasa 
berlebihan.  

Tapi  kini  pikiran  itu  malah  membuatnya 
terkikik  geli.  Toh  tak  ada  bedanya lagi  sekarang  karena ia akan  menjual  bel  itu  sekalian  bersama  rumahnya.  Biar penghuni baru saja yang gantian jengkel kelak. 

Denting nyaring bel terdengar lagi. Baldini menajamkan telinga  ke arah suara di lantai bawah. Tampaknya Chénier sudah  pulang  dan  pelayan  wanitanya  juga  enggan 
menjawab  membukakan  pintu.  Jadilah  Baldini  turun sendiri. 

Baldini  melepas  gerendel  dan  membuka  pintu.  Hmm... tak  ada  siapa-siapa? Kegelapan  malam  seperti  menelan 
bulat-bulat cahaya lilin yang ia bawa. Lalu, perlahan sekali, masuk sosok  seorang  anak  atau  pemuda tanggung mengapit susuatu di lengannya. 

“Mau apa kau?”  tanya Baldini, 

“Saya  dari  Maltre  Grimal,  mengirimkan  kulit  kambing pesanan  Anda,”  

jawab  orang  itu  sambil  melangkah  lebih 
dekat  dan  menyorongkan  setumpuk  kulit  kambing  dari lengannya yang menekuk. Dalam cahaya lilin, Baldini mulai bisa melihat wajah si bocah serta matanya yang gugup dan tak  bisa  diam.  

Tubuhnya  bungkuk,  seolah  bersembunyi  di 
belakang  kedua  lengan  yang  terjulur, menunggu  untuk ditinju. Orang itu adalah Grenouille.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...