Minggu, 01 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 5

LIMA


KALAU  MAU  JUJUR,  sebenarnya  tak  ada  yang menakutkan  dalam diri Grenouille. Saat  dewasa  tubuhnya tidak  besar  ataupun  kuat.  Buruk  rupa  memang,  tapi  tidak sedemikian  buruknya  sampai  mampu  membuat  orang 
menjerit  ketakutan.  Ia  tidak  agresif  atau  culas,  tidak berlaku  sembunyi-sembunyi  atau memprovokasi  orang.  Ia malah lebih suka menghindar. 

Soal kepandaian juga biasa-biasa  saja.  Umur  tiga  tahun  ia  baru  bisa  berdiri.  Kata pertama. yang keluar dari bibirnya adalah 'ikan’. Ini terjadi jam empat  pagi.  Diucapkan  dengan  keriangan  luar  biasa seperti gema suara, nelayan sepanjang jalan Charonne saat 
memekikkan  dagangan  di  kejauhan.  

Kata berikut adalah ‘pelargonium’, 'kandang  kambing’, 'cabe savoy, dan 'Jacquestorreur’ yang terakhir ini adalah nama seorang pembantu tukang kebun dari biara  Filles de la Croix di seberang  jalan  yang  kadang  diserahi  berbagai  pekerjaan kasar oleh Madame Gaillard dan terkenal tak pernah mandi seumur hidupnya. 

Grenouille  tak  terlalu suka menyerukan kata kerja, kata sifat, dan kata seru. Kecuali untuk 'ya' dan 'tidak’ yang lumayan jarang dipakai.  Ia hanya menyerukan kata  benda  - khususnya  benda-benda  dasar  seperti tanaman,  binatang,  manusia.  Itu  pun  jika  ketiga  benda tersebut mendadak menyerang hidungnya dengan aroma. 

Suatu  hari  di  bulan  Maret,  ketika  sedang  duduk  di sebilah balok kayu besar sambil asyik bergumam entah apa di tengah matahari musim panas, untuk pertama kalinya ia menyerukan  kata  ‘kayu’.  Ia  sudah  pernah  melihat  dan mendengar  tentang kayu ratusan  kali  sebelumnya,  juga akrab  dengan  benda  ini  karena  sering  disuruh mengumpulkan kayu bakar di musim dingin. 

Tapi benda ini belum  pernah  sedemikian  menarik  perhatian  sampai membuat  ia  mau  menyebut  namanya.  Ini  terjadi  pertama kali di hari bulan Maret itu, saat ia sedang duduk di  balok yang  ditumpuk  di  bawah  pinggiran  atap  dan  membentuk bangku  sepanjang  sisi  selatan  gudang  Madame  Gaillard. 

Bagian  atas  balok  mengambangkan  aroma  terbakar  yang manis sementara bagian dalamnya sampai ke atas menebar bau lumut. Di tengah hangat terik matahari, tebaran aroma damar  meluruh  dari  bilah-bilah  papan  pinus  yang membentuk dinding gudang.
 
Grenouille  duduk  di  balok  itu  dengan  kaki  terjulur  dan punggung bersandar ke dinding. Mata  terpejam dan  tubuh bergeming.  Ia  tidak  melihat,  mendengar,  atau  merasakan 
apa pun. Hanya aroma kayu yang menguap di sekeliling dan terperangkap  di  bawah  atap  bangunan  gudang.  Ia menghirup  dan  tenggelam  dalam  aroma  itu,  seolah menyesaki seluruh pori-pori kulit sampai akhirnya menjadi kayu itu sendiri. 

Seperti boneka kayu ia duduk di balok itu. Seperti  Pinokio.  Berlagak  mati  dan  setelah  setengah  jam atau  lebih,  mengucap  kata  'kayu’.  Ia  muntahkan  kata  itu seperti  orang  yang  seluruh  tubuhnya  sesak  oleh  kayu sampai  ke  telinga,  seolah  terkubur  dalam  kayu  sampai  ke leher,  seolah  seluruh  isi  perut  dan  hidungnya  luber  oleh kayu.  

Bayangan  ini  menyadarkan  dan  menyelamatkan benaknya,  persis  beberapa  saat  sebelum aroma  kehadiran kayu  serasa  mencekik.  Dengan  gemetar  ia  mengggebah 
badan,  meluruk  turun  dari  balok  dan  terhuyung‐huyung menjauh  bagai  orang  berkaki  kayu.  

Sampai  berhari-hari kemudian pusingnya tak juga hilang. Dan setiap kali ingatan penciuman itu  meluruk  sedemikian  kuat,  mulutnya 
otomatis bergumam berkali-kali, 

“Kayu... kayu ...”  

Jadilah  ia  belajar  bicara.  Kesulitan  terbesar  didapati saat terbentur pada kata-kata dari benda-benda tak berbau, seperti ide-ide abstrak dan sejenisnya - terutama soal etika 
dan  moral.  Ia  sulit  mengerti  dan  cenderung  mencampur aduk satu sama lain. 

Sampai usia dewasa ia selalu sungkan dan  kerap  salah  menggunakan  kata-kata  seperti  keadilan, nurani,  Tuhan,  bahagia,  tanggung  jawab,  kerendahan  hati, rasa  syukur, dan  sebagainya  - makna  dari  ekspresi   kata-kata ini tetap jadi misteri baginya. 

Di  pihak  lain,  bahasa  sehari-hari  ternyata  tak  cukup mampu  menjelaskan  semua  persepsi  penciuman  yang diperolehnya selama ini. Dengan segera ia dapati bahwa ia 
tak  hanya mampu mencium  dan menegaskan aroma  kayu, tapi  juga  berbagai  jenis  kayu  seperti  kayu  pohon  mapel, kayu pohon ek, kayu pohon pinus, kayu lapuk, segar, busuk, kayu  berlumut,  sampai  ke  setiap  balok,  kepingan,  dan serpihannya.  

Tak  hanya  itu,  ia  mampu  membedakan 
dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh orang lain secara visual.  Ini  juga  berlaku  untuk  banyak  hal  lain.  Misalnya minuman  berwarna  putih  yang  biasa  disajikan  Madame Gaillard  untuk  anak-anak  asuhnya  setiap  hari.  

Orang  lain akan  langsung  akur  bahwa  itu  pasti  susu,  tapi  indra pencium  dan pengecap  Grenouille  menegaskan  hal  yang 
berbeda  setiap  hari,  tergantung  dari seberapa  panas  saat disajikan,  dari  sapi  yang  mana  susu  itu  berasal,  apa  yang 
dimakan sapi itu sebelumnya, jumlah kandungan krim, dan seterusnya.  

Atau  kenapa  asap  harus  memiliki  hanya  satu nama saja: 'asap’, padahal dari menit ke menit, dari detik ke detik,  campuran  ratusan  macam  bau  membaur  menjadi kesatuan  yang  sama  sekali  berbeda  setiap  kali  asap 
membubung  dari  sebuah  sumber  api.  

Atau  kenapa  tanah, daratan, udara - masing-masing dari setiap jengkalnya dan di  setiap  tarikan  napas,  sarat  dengan  aneka  aroma  dan karenanya pasti memuat entitas  yang juga  berbeda-beda - hanya  dirujuk  dengan  tiga  kata  yang  umum  tadi.  

Seluruh keganjilan dari keanekaragaman yang hanya bisa ditangkap oleh  indra  penciuman  plus  keterbatasan  jembatan  bahasa ini sudah cukup menjadi bukti bagi Grenouille muda untuk yakin  bahwa  penggunaan  bahasa  sama  sekali  tidak  logis. 

Jadilah  ia  makin  terbiasa  untuk  berbicara  hanya  apabila benar-benar  tak  bisa menghadapi kontak dengan orang lain. 

Pada  usia  enam  tahun  ia  sudah  sangat  mampu memahami lingkungan  dengan  penciuman.  Tak  ada  benda apa  pun  dalam  rumah  Madame  Gaillard, tidak juga sepanjang jalur utara jalan Charonne ‐ orang, pohon, semak, tiang  pancang,  noda  kecil atau besar yang  tidak dikenalinya  berdasarkan bau. 

Ia juga mampu mengenali lagi  benda  yang  sama  berdasarkan  keunikan  benda tersebut  dalam  ingatan.  Otaknya  menyimpan  memori 
tentang  puluhan,  bahkan  ratusan  ribu  aroma  spesifik dengan  sangat  jelas.  Tak  hanya  mengingat masing-masingnya  secara  acak  kapan  saja  saat  mencium bau yang sama, tapi juga mampu membaui saat mengingat - tanpa  harus  mencium  bau  yang  sama.  

Terlebih  lagi, imajinasinya  mampu  menyusun  kombinasi  baru  dari masing-masing  aroma  tersebut  sedemikian  rupa  sampai tercipta  aroma  yang  tak  ada  di  dunia  nyata. 

Grenouille bagai  seorang  autodidak  penyusun perbendaharaan raksasa pustaka  aroma yang membuatnya mampu menciptakan banyak sekali  kalimat  tentang aroma. 

Hebatnya  lagi,  semua  ini  terbentuk  saat  normalnya  anak kecil  masih  harus  berusaha  keras  mengingat  kata  agar mampu menyusun  kalimat  koheren  yang menggambarkan dunia  sekeliling.  

Analogi  terdekat  yang  mampu 
menggambarkan  bakat  aneh  ini  mungkin  ibarat  seorang genius musik dengan kemampuan mengidentifikasi melodi dan  harmoni  dari  alfabet  di  setiap  nada  individual,  lalu menggubahnya  menjadi  melodi  serta  harmoni  yang  sama sekali  baru. 

Yang  membedakan  kedua  realitas  ini  adalah bahwa perbandingan alfabet untuk aroma  tentu jauh lebih besar  dan  lebih  bernuansa  ketimbang  nada.  Plus  fakta 
menyedihkan  bahwa  seluruh  keajaiban  aktivitas  kreatif seorang  genius  bernama,  Grenouille  ini  hanya  bisa  eksis dan diterima dalam pikirannya sendiri. 

Dunia  luar  hanya  mencatat  bahwa  ia  tumbuh  menjadi orang  yang  makin  lama  makin  pendiam  dan  misterius. 

Kegiatan  favoritnya  adalah  berkelana  sendirian  sepanjang sisi  utara  Saint-Antoine.  Melalui  kebun‐kebun  sayur  dan anggur  serta  padang  rumput.  Kadang  ia  tak  pulang  dan 
menghilang  berhari-hari. Hukuman  rotan  yang  menanti  ia terima  tanpa jerit kesakitan.  

Hukuman  kurungan  rumah, tak  boleh  makan,  atau  kerja  berat  tetap  tak  mampu 
mengubah  perilakunya.  Delapan  belas  bulan  kunjungan sporadis  ke  sekolah gereja  di Notre Dame  de Bon Secours juga tak memberi dampak berarti. 

Grenouille belajar sedikit kemampuan  mengeja  dan  menulis  nama  sendiri.  Tidak 
lebih. Guru-guru menganggapnya bodoh.


Madame Gaillard lain lagi.  Ia menyadari bahwa anak ini punya  kemampuan  dan  kualitas  tersendiri  yang  sangat tidak biasa - kalau tak mau dibilang ajaib. Terutama sejak ia tahu  bahwa  tak  seperti  anak  kecil  lain, Grenouille  sama sekali  asing  dengan  rasa  takut  terhadap  kegelapan  dan malam  hari. 

Kau  bisa menyuruhnya  pergi  ke loteng  kapan saja,  sementara  anak-anak  lain  biar  ditemani  lentera sekalipun  pasti  tak  akan  berani.  Atau  disuruh  mengambil kayu  bakar  di  gudang  saat  tengah  malam.  

Grenouille  tak pernah membawa penerangan apa pun, tapi selalu mampu menemukan jalan dan kembali dengan barang yang diminta tanpa membuat kesalahan - tidak  pakai  terjatuh, tersandung, atau terjerembab.  

Madame  Gaillard  juga menemukan bahwa Grenouille mampu melihat menembus kertas,  kain,  kayu,  bahkan  tembok  dan  pintu  terkunci. 

Tanpa memasuki pondok ia tahu persis berapa jumlah dan anak yang mana yang ada di dalamnya. Ia tahu ada tidaknya ulat dalam kembang kol sebelum kol itu dibelah. 

Dan sekali, saat Madame Gaillard  yakin  sudah menyembunyikan  uang sedemikian rupa sampai ia sendiri tak bisa menemukan (ia 
selalu mengubah lokasi penyimpanan), Grenouille langsung menunjuk  tanpa  ragu  ke  sebuah  lokasi  rahasia  di  balik langit-langit  perapian- dan  memang  benar  adanya!  Ia 
bahkan  mampu  melihat  masa  depan,  karena  ia  suka meramalkan  kunjungan  seseorang  jauh  sebelum  orang itu hadir, atau kehadiran badai sementara langit pada saat itu cerah.  

Tak  ada  yang  tahu  bahwa  Grenouille  tidak  melihat semua ini dengan mata, tapi mengendusi aromanya dengan hidung  yang  dari  hari  ke  hari  makin  menegaskan  presisi 
aroma tersebut. 

Pada ulat dalam kembang kol, uang di balik 
perapian,  dan  orang  di  balik  tembok  atau  yang  berada beberapa  blok  di  ujung  jalan  sekalipun.  Madame  Gaillard tentu saja tak akan menduga sampai sejauh itu, pun andai 
pukulan  ayahnya  dulu  tidak  menumpulkan  indra penciumannya.  Ia  hanya  tahu  dan  yakin  bahwa  idiot  atau tidak, bocah ini punya indra ke enam. 

Sadar bahwa orang‐orang  seperti  itu  cenderung  membawa  sial  dan  kematian, 
kehadiran  Grenouille  membuatnya  resah.  

Apalagi  jika mengingat  bahwa  ia  tinggal  seatap  dengan  orang  yang punya  bakat  menunjukkan  persembunyian  uang  di  balik 
tembok  dan  perapian. 

Dus,  begitu  yakin  bahwa  Grenouille memang memiliki bakat mengerikan ini,  timbul niat untuk menyingkirkan si bocah. Kebetulan saat itu usia Grenouille sudah mencapai delapan  tahun dan biara Saint-Merri  tiba-tiba  menghentikan  pembayaran  tahunan  begitu  saja.

Madame  Gaillard  sengaja  tidak  menagih.  Agar  tampak wajar  ia  menunggu  sampai  seminggu.  Saat  kiriman  uang tak juga datang, ia menggandeng si malang Grenouille dan mengajaknya berjalan-jalan ke kota. 

Ia  kenal  seorang  penyamak  kulit  bernama  Grimal  yang tinggal dekat sungai di jalan Mortellerie dan terkenal selalu mencari pekerja muda - bukan untuk dididik sebagai murid atau karyawan, tapi sebagai buruh murah. 

Ada tugas-tugas tertentu  yang  berbahaya,  seperti  membersihkan  daging dari  kulit  yang membusuk, mencampur larutan dan bahan 
celupan beracun untuk proses penyamakan, dan membuat larutan alkali yang membakar kulit. Sedemikian berbahaya sampai  membuat  si  pemilik  usaha  enggan  menyerahkan pengerjaan  pada  tenaga  ahli  dan  lebih  suka mempekerjakan  imigran,  gelandangan,  pelacur,  atau  anak hilang yang tak akan menarik perhatian jika terjadi sesuatu. 

Madame  Gaillard  tentu  saja  tahu  bahwa  dalam  kondisi normal  Grenouille  tak mungkin  bisa  bertahan  hidup  di pabrik  penyamakan  kulit  milik  Grimal.  Tapi  ia bukan wanita yang suka mengasihani. Toh tugasnya sudah selesai. 

Perwalian dan pemeliharaannya sudah berakhir. Apa  yang terjadi pada si anak setelah itu bukan urusannya lagi. Kalau mampu bertahan, baguslah. Kalau  mati, ya  bagus juga asal dilakukan dan terjadi secara legal. 

Jadilah  ia  meminta  kuitansi  dari  Monsieur  Grimal sebagai  bukti  tertulis  serah  terima  Grenouille, menyerahkan  kuitansi  biaya  komisi  sebesar  lima  belas Franc,  lalu  kembali  pulang  ke  rumah.  

Nuraninya  sama sekali  tak menyisakan  sesal.  Ia justru merasa  tindakannya tidak  hanya  sah,  tapi  juga  adil,  karena  jika  ia mempertahankan  seorang  anak  yang  biaya  penitipannya tak  lagi  dibayar,  biaya  tersebut  otomatis  terbebankan  ke anak  lain  atau  dirinya  sendiri.  

Ini  tentu  sangat membahayakan masa depan  anak  asuh lain, atau  lebih buruk  lagi:  masa  depannya sendiri, mengubur impiannya untuk  mati  wajar,  sendiri,  dan  terlindung.  

Satu‐satunya keinginan yang tersisa dalam hidup. Karena kita hendak meninggalkan Madame Gaillard dan tak  akan  bertemu  dia  lagi  dalam  cerita  ini,  sudilah  kita relakan  beberapa  kalimat  untuk  menggambarkan
bagaimana akhir hidupnya. 

Walau mendambakan kematian yang wajar sejak kanak-kanak, Madame Gaillard  temyata diberi  hidup  sampai  usia sangat, sangat tua. 

Pada tahun 1782, menjelang ulang tahun ketujuh  puluh,  ia  melepaskan  bisnisnya,  membeli  surat tunjangan  hidup  sesuai  rencana,  lalu  duduk  di  rumah menanti ajal. Tapi  kematian  tak  kunjung  tiba. Yang datang malah  sesuatu  yang  sama  sekali  tak  terduga  siapa  pun: 

Revolusi Prancis - transformasi gila-gilaan seluruh tatanan sosial,  moral,  dan  agama.  Awalnya  revolusi  ini  tak mempengaruhi nasib  Madame  Gaillard,  tapi  kemudian  - di 
usianya  yang  nyaris  delapan  puluh  tahun-orang  yang memegang  kewajiban  pembayaran  tunjangan  hidup Madame  Gaillard  harus  beremigrasi,  seluruh  hak 
kepemilikannya  dilucuti,  dan  dipaksa  melelang kepemilikannya  atas  sebuah  pabrik  garmen.  

Untuk sementara  perubahan  ini  tetap  tidak  berakibat  fatal  bagi Madame  Gaillard, karena  pabrik  garmen  itu  melanjutkan membayar tunjangan tepat waktu. Tapi kemudian tiba saat di mana ia tak lagi menerima uang dalam bentuk koin, tapi secarik  kertas  tercetak.  Ini  menandai  awal  kejatuhan kondisi perekonomian Madame Gaillard. 

Dalam  dua  tahun,  surat  tunjangan  itu  tak  lagi  cukup untuk membiayai hidup. Madame  terpaksa menjual rumah dengan  harga sangat  rendah  karena  ribuan  orang  lain mendadak juga  terpaksa menjual rumah. 

Dan sekali lagi ia menerima pembayaran berupa secarik kertas tercetak yang dalam  dua  tahun  kembali  tak  bernilai.  Tahun  1797 
(menjelang usia sembilan puluh  tahun), seluruh harta dari hasil kerja kerasnya selama hampir seratus tahun ludes dan ia  terpaksa  tinggal  di  sebuah  kamar  sempit  di  jalan 
Coquilles.  

Pada  saat  itulah  ‐  setelah  sepuluh-dua  puluh tahun terlambat, sang maut menjelang. Hadir dalam wujud penderitaan berkepanjangan bernama kanker tenggorokan 
yang merampas nafsu makan dan akhirnya suara. 

Madame Gaillard bahkan  tak mampu melenguh protes saat diusung ke  Hôtel-Dieu.  Ia  ditaruh  di  sebuah  bangsal  bersama ratusan  orang  sekarat  lain,  di  bangsal  tempat  suaminya meninggal  dulu,  berbagi  ranjang  berdempet-dempet dengan lima wanita asing, dan  tiga minggu kemudian mati di depan umum. 

Mayatnya dibungkus  karung, dilempar ke gerobak  pengusung pupuk  kandang  pada  jam  empat  pagi bersama  lima  puluh  mayat  lain,  lalu  seiring  denting  bel dibawa ke Damart - sebuah tanah pekuburan baru berjarak satu  mil  di  luar  gerbang  kota.  

Dan  demikianlah  akhir seorang Madame Gaillard... dalam  sebuah  kuburan massal, 
ditutup batu kapur tebal. 

Itu  terjadi  tahun  1799.  Untungnya  Madame  Gaillard sama  sekali  tak  menyadari  nasib  yang  menanti  saat  ia melenggang  pulang  pada  tahun  1746,  meninggalkan Grenouille  dan  cerita  kita  untuk  selamanya.  

Kalau  saja  ia menyadari,  detik  itu  juga  keyakinannya  tentang  keadilan akan  lenyap,  bersama  satu-satunya  makna  hidupnya  yang paling berarti.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...