Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 42

EMPAT PULUH DUA


SUATU HARI DI BULAN MARET, Richis sedang santai di ruang  duduk,  menatap  Laure  keluar  menuju  taman belakang  rumah.  Si  gadis  mengenakan  gaun  biru,  rambut merah  tergerai  lepas  dan  berkilau  di  terik  matahari.  Ia belum  pernah  melihat  wajah  itu  demikian  cantik.  Laure menghilang  di  balik  tanaman  pagar.  Dua  detik  selama 
Laure  lenyap  dari  pandangan  terasa  terlalu  lama,  dan Richis ketakutan setengah mati karena dalam dua detik itu ia merasa kehilangan. 

Malamnya  Richis  terbangun  bermandikan  keringat  dan gemetar  ketakutan.  Akhirnya  ia  mengaku  bahwa  ia  takut. 

Terasa  bagai  cengkeraman.  Tapi  dengan  pengakuan  itu perasaan  jadi  lebih  tenang  dan  pikiran  lebih  jernih.  Jujur saja, sejak awal ia tidak percaya pada kemanjuran kutukan uskup,  juga  pada  kabar  bahwa  kini  si  pembunuh  tengah asyik  berdiam  di  Grenoble.  Ia  lebih  yakin  bahwa sebenarnya  si  pembunuh  masih  bercokol  di  Grasse. 
Monster  itu  pasti  tinggal  di  sini.  Di  tengah-tengah penduduk  Grasse  dan  kelak  akan  menyerang  lagi.  

Richis pemah  melihat  sendiri  beberapa  gadis  yang  menjadi korban  selama  bulan  Agustus  dan  September. 

Pemandangan itu begitu mengguncang dan menghantui. Di pihak  lain  ia  juga  mengakui  dan  kagum,  bahwa  masing-masing korban tersebut memang sangat cantik dan elok. Si 
pembunuh  telah  membuka  mata  bahwa  Grasse  ternyata menyimpan  banyak  wanita  cantik.  Harus  diakui  bahwa monster itu punya selera istimewa soal wanita. Juga sistem yang  dipakai.  

Setiap  pembunuhan  tidak  hanya  dilakukan 
dengan  efisiensi  yang  sama,  tapi  pilihan  korban  juga terencana dengan rapi dan halus. 

Richis memang tidak tahu apa  yang  sebenarnya  dicari  si  pembunuh  dari  setiap 
korban  karena  ia  pasti  tak  akan  bisa  merampas  satu  hal yang  terbaik  dari mereka  semua,  yaitu  keindahan  dan pesona  keremajaan....  Atau  bisa?  Renungan  berikut 
memang  terdengar  musykil,  tapi  tampaknya  si  pembunuh tidak memiliki jiwa destruktif, malah lebih seperti seorang kolektor yang hati-hati. 

Bagaimana bila semua korban tidak dilihat secara terpisah, tapi sebagai bagian dari prinsip atau idealisme tertentu yang lebih tinggi? Dus, karakteristik dari masing-masing  korban  bisa  digabung  secara  idealistis 
menjadi  sebuah  kesatuan  tunggal  - seperti  potongan-potongan  mozaik  yang membentuk  sebuah  keindahan absolut.  

Kalau  hal  ini  bisa  dilakukan,  pancaran  aura  yang keluar  tak  akan  lagi  menyerupai  manusia,  tapi  malaikat  - atau semacam itu. (Kita lihat di sini, Richis adalah seorang pemikir  intelek  yang  tidak  takut  mengambil  kesimpulan tabu  seputar agama. Walau  tidak berpikir dalam  kerangka penciuman  dan lebih ke arah visual, kesimpulannya sangat  mendekati kebenaran.) 

Kalau  begitu,  lanjut  Richis,  anggaplah  bahwa  si pembunuh adalah seorang kolektor keindahan dan sedang mengerjakan  sebuah lukisan  tentang  kesempurnaan - pun bila  itu  hanya  eksis  dalam  pikiran  sintingnya  sendiri. 

Anggaplah  kemudian  bahwa  si  pembunuh  tak  pelak  lagi memang memiliki selera tinggi dan metode sempurna. Jika benar  demikian,  ia  pasti  sadar  bahwa  masih  ada  satu 
komponen  terpenting  di  muka  bumi  ini  yang  harus  ia dapatkan  kalau mau lukisannya  sempurna,  yaitu  keelokan Laure. 

Seluruh tindakan sebelumnya tak akan berarti kalau yang  satu  ini  luput.  Laure  adalah  fondasi  bagi  bangunan kesempurnaan itu. 

Sementara kesimpulan mengerikan ini terbentuk, Richis duduk  di  pinggir  ranjang  dan  takjub  melihat ketenangannya  sendiri.  

Tubuh  tidak  terasa  dingin  atau menggigil lagi. Ketakutan yang mendera selama berminggu-minggu  telah  lenyap,  digantikan  kesadaran  akan  adanya sebuah bahaya. 

Jelaslah kini bahwa Laure memang menjadi 
tujuan  utama  sejak  awal.  Menjadi  mahkota  dari  semua pembunuhan,  seperti  orang  naik  tangga  menuju  puncak. 

Belum  jelas  benar  apa  tujuan  di  balik  semua  ini,  kalau memang  ada.  Apa  pun  itu,  yang  penting  sekarang  Richis sudah  tahu  inti  masalahnya.  Rahasia  di  belakang  metode sistematis  si  pembunuh  dan  motif  idealismenya.  

Makin lama  dipikir  ia  makin  puas  dengan  kesimpulan  ini  dan makin  besar  pula  kekagumannya  pada  si  pembunuh. 

Kekaguman yang ia akui seperti layaknya becermin, karena merasa berhasil mengungkap jejak musuh  dengan  kejelian  dan ketajaman analisis pribadi.

Richis  merasa  bahwa  seandainya  ia  berada  di  posisi sebagai pembunuh dan terobsesi dengan idealisme serupa, tindakannya  pasti  tak  jauh  beda  dengan  si  pembunuh. 

Bekerja  perlahan,  menempatkan  Laure  sebagai  puncak prestasi. Pikiran ini muncul didasari pertimbangan bahwa jika ia mampu menempatkan diri dalam pikiran calon pembunuh putrinya ini,  berarti ia berada di atas  si pembunuh. Toh  si pembunuh  tak  bisa  berlaku  sebaliknya, menempatkan  diri 
di  pikiran  Richis.  

Teknik ini  kira-kira  sama  dengan  teknik 
bisnis mutatis mutandis. Kita bisa mengalahkan pesaing jika mampu  menjejaki  niat  bisnisnya.  Dengan  demikian,  si pesaing tak mungkin bisa unggul. Kecuali mungkin Antoine Richis,  karena  ia  adalah  seorang  pejuang  alami  dan petarung berpengalaman. 

Orang tahu bahwa bisnis parfum terbesar di Prancis, kekayaan, jabatannya sebagai anggota-kedua dewan kota, semua tidak jatuh begitu saja dari langit tapi  diperoleh  dengan  darah  dan  keringat  perjuangan. 

Dengan  kelihaian  dan  kelicikan,  ia  mampu  mengenali bahaya  jauh-jauh  hari,  pandai  menebak  rencana  pesaing dan  mengalahkan  lawan.  Dengan  cara  yang  sama  pula  ia 
akan  mencapai  cita-cita  di  masa  depan,  yaitu  kekuasaan dan  status  bangsawan  untuk  anak-cucu. 

Demikian  pula, ia akan  mengatasi  rencana  si  pembunuh  - dalam  hal  ini sebagai  pesaing  mendapatkan  Laure.  Selain  atas  alasan sebagai  seorang  ayah,  Laure  juga  merupakan  fondasi penting  bagi  rencana  Richis  ke  depan.  Jadi  mutlak  harus 
dimenangkan.  Ia  tulus  menyayangi  tapi  juga  butuh  untuk kepenentingan  pribadi.  Tak ada  yang  boleh  melangkahi ambisinya. Akan ia pertahankan dengan segala cara. 

Richis  merasa  lebih  baik  sekarang.  Keberhasilan merendahkan posisi imajiner si pembunuh dari sosok Iblis menakutkan  menjadi  sekadar  pesaing  membuatnya  lebih 
berani  dan  angkuh.  Tak  ada  lagi  sisa-sisa  rasa  takut. 

Kesedihan  dan  kegelisahan  yang membuatnya  pikun  telah lenyap. Kabut perangkap kemurungan yang meraja selama 
berminggu-minggu itu terangkat sudah. Secara psikologis ia merasa  lebih  siap, kenal medan,  dan  mampu  mengatasi setiap tantangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...