EMPAT PULUH DUA
SUATU HARI DI BULAN MARET, Richis sedang santai di ruang duduk, menatap Laure keluar menuju taman belakang rumah. Si gadis mengenakan gaun biru, rambut merah tergerai lepas dan berkilau di terik matahari. Ia belum pernah melihat wajah itu demikian cantik. Laure menghilang di balik tanaman pagar. Dua detik selama
Laure lenyap dari pandangan terasa terlalu lama, dan Richis ketakutan setengah mati karena dalam dua detik itu ia merasa kehilangan.
Malamnya Richis terbangun bermandikan keringat dan gemetar ketakutan. Akhirnya ia mengaku bahwa ia takut.
Terasa bagai cengkeraman. Tapi dengan pengakuan itu perasaan jadi lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Jujur saja, sejak awal ia tidak percaya pada kemanjuran kutukan uskup, juga pada kabar bahwa kini si pembunuh tengah asyik berdiam di Grenoble. Ia lebih yakin bahwa sebenarnya si pembunuh masih bercokol di Grasse.
Monster itu pasti tinggal di sini. Di tengah-tengah penduduk Grasse dan kelak akan menyerang lagi.
Richis pemah melihat sendiri beberapa gadis yang menjadi korban selama bulan Agustus dan September.
Pemandangan itu begitu mengguncang dan menghantui. Di pihak lain ia juga mengakui dan kagum, bahwa masing-masing korban tersebut memang sangat cantik dan elok. Si
pembunuh telah membuka mata bahwa Grasse ternyata menyimpan banyak wanita cantik. Harus diakui bahwa monster itu punya selera istimewa soal wanita. Juga sistem yang dipakai.
Setiap pembunuhan tidak hanya dilakukan
dengan efisiensi yang sama, tapi pilihan korban juga terencana dengan rapi dan halus.
Richis memang tidak tahu apa yang sebenarnya dicari si pembunuh dari setiap
korban karena ia pasti tak akan bisa merampas satu hal yang terbaik dari mereka semua, yaitu keindahan dan pesona keremajaan.... Atau bisa? Renungan berikut
memang terdengar musykil, tapi tampaknya si pembunuh tidak memiliki jiwa destruktif, malah lebih seperti seorang kolektor yang hati-hati.
Bagaimana bila semua korban tidak dilihat secara terpisah, tapi sebagai bagian dari prinsip atau idealisme tertentu yang lebih tinggi? Dus, karakteristik dari masing-masing korban bisa digabung secara idealistis
menjadi sebuah kesatuan tunggal - seperti potongan-potongan mozaik yang membentuk sebuah keindahan absolut.
Kalau hal ini bisa dilakukan, pancaran aura yang keluar tak akan lagi menyerupai manusia, tapi malaikat - atau semacam itu. (Kita lihat di sini, Richis adalah seorang pemikir intelek yang tidak takut mengambil kesimpulan tabu seputar agama. Walau tidak berpikir dalam kerangka penciuman dan lebih ke arah visual, kesimpulannya sangat mendekati kebenaran.)
Kalau begitu, lanjut Richis, anggaplah bahwa si pembunuh adalah seorang kolektor keindahan dan sedang mengerjakan sebuah lukisan tentang kesempurnaan - pun bila itu hanya eksis dalam pikiran sintingnya sendiri.
Anggaplah kemudian bahwa si pembunuh tak pelak lagi memang memiliki selera tinggi dan metode sempurna. Jika benar demikian, ia pasti sadar bahwa masih ada satu
komponen terpenting di muka bumi ini yang harus ia dapatkan kalau mau lukisannya sempurna, yaitu keelokan Laure.
Seluruh tindakan sebelumnya tak akan berarti kalau yang satu ini luput. Laure adalah fondasi bagi bangunan kesempurnaan itu.
Sementara kesimpulan mengerikan ini terbentuk, Richis duduk di pinggir ranjang dan takjub melihat ketenangannya sendiri.
Tubuh tidak terasa dingin atau menggigil lagi. Ketakutan yang mendera selama berminggu-minggu telah lenyap, digantikan kesadaran akan adanya sebuah bahaya.
Jelaslah kini bahwa Laure memang menjadi
tujuan utama sejak awal. Menjadi mahkota dari semua pembunuhan, seperti orang naik tangga menuju puncak.
Belum jelas benar apa tujuan di balik semua ini, kalau memang ada. Apa pun itu, yang penting sekarang Richis sudah tahu inti masalahnya. Rahasia di belakang metode sistematis si pembunuh dan motif idealismenya.
Makin lama dipikir ia makin puas dengan kesimpulan ini dan makin besar pula kekagumannya pada si pembunuh.
Kekaguman yang ia akui seperti layaknya becermin, karena merasa berhasil mengungkap jejak musuh dengan kejelian dan ketajaman analisis pribadi.
Richis merasa bahwa seandainya ia berada di posisi sebagai pembunuh dan terobsesi dengan idealisme serupa, tindakannya pasti tak jauh beda dengan si pembunuh.
Bekerja perlahan, menempatkan Laure sebagai puncak prestasi. Pikiran ini muncul didasari pertimbangan bahwa jika ia mampu menempatkan diri dalam pikiran calon pembunuh putrinya ini, berarti ia berada di atas si pembunuh. Toh si pembunuh tak bisa berlaku sebaliknya, menempatkan diri
di pikiran Richis.
Teknik ini kira-kira sama dengan teknik
bisnis mutatis mutandis. Kita bisa mengalahkan pesaing jika mampu menjejaki niat bisnisnya. Dengan demikian, si pesaing tak mungkin bisa unggul. Kecuali mungkin Antoine Richis, karena ia adalah seorang pejuang alami dan petarung berpengalaman.
Orang tahu bahwa bisnis parfum terbesar di Prancis, kekayaan, jabatannya sebagai anggota-kedua dewan kota, semua tidak jatuh begitu saja dari langit tapi diperoleh dengan darah dan keringat perjuangan.
Dengan kelihaian dan kelicikan, ia mampu mengenali bahaya jauh-jauh hari, pandai menebak rencana pesaing dan mengalahkan lawan. Dengan cara yang sama pula ia
akan mencapai cita-cita di masa depan, yaitu kekuasaan dan status bangsawan untuk anak-cucu.
Demikian pula, ia akan mengatasi rencana si pembunuh - dalam hal ini sebagai pesaing mendapatkan Laure. Selain atas alasan sebagai seorang ayah, Laure juga merupakan fondasi penting bagi rencana Richis ke depan. Jadi mutlak harus
dimenangkan. Ia tulus menyayangi tapi juga butuh untuk kepenentingan pribadi. Tak ada yang boleh melangkahi ambisinya. Akan ia pertahankan dengan segala cara.
Richis merasa lebih baik sekarang. Keberhasilan merendahkan posisi imajiner si pembunuh dari sosok Iblis menakutkan menjadi sekadar pesaing membuatnya lebih
berani dan angkuh. Tak ada lagi sisa-sisa rasa takut.
Kesedihan dan kegelisahan yang membuatnya pikun telah lenyap. Kabut perangkap kemurungan yang meraja selama
berminggu-minggu itu terangkat sudah. Secara psikologis ia merasa lebih siap, kenal medan, dan mampu mengatasi setiap tantangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar