Senin, 02 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 8

DELAPAN


TANGGAL  1  SEPTEMBER  1753  adalah  hari  ulang  tahun penobatan Raja Prancis. Kota Paris meriah dengan taburan petasan  di  Pont-Royal.  Memang  tidak  semeriah  kembang api saat pesta pernikahan Sang Raja atau pesta peringatan kelahiran Dauphin  yang legendaris,  tapi  tetap  saja meriah. 

Jauh  sebelum  dimulai,  para  pekerja  sudah  sibuk mengangkat kembang api raksasa berbentuk roda matahari emas  ke  tiang kapal  di  pelabuhan.  

Jembatan  kota  Paris berias  kembang  api  berbentuk  banteng  yang membuncahkan percik api ke arah sungai. Suara derak dan letupan berkumandang  dari  segala  arah,  memekakkan telinga di sepanjang trotoar. 

Petasan-petasan roket melesat dan melukis langit malam dengan  semburan cahaya putih. 

Ribuan  orang  memadati  jalanan  sepanjang  jembatan  dan dermaga  di  kedua  sisi sungai,  tak  henti  ber-  ”aaah...” “uuuh...”  ria  serta  seruan  memuji,  bahkan  - sesekali ditingkahi,  “Panjang  umur  Sang  Raja  ...  !”  - walau  sadar bahwa Sang Raja  telah awet bertahta selama lebih dari 38 tahun  dan kepopulerannya  sudah  lama  pudar.  

Hmm... kembang api memang mampu membuat orang optimis. Grenouille  duduk  termenung  dalam  diam  di  bawah bayang-bayang Pavilyun de Flore, persis di seberang Pont-Royal,  di  sisi  kanan  sungai.  Tak  sedikit  pun  ia  turut bersorak. Apalagi sampai mendongak memandangi petasan roket.  Ia  datang  dengan  harapan  dapat  mencium  sesuatu yang  baru,  tapi  tak lama  kemudian  sadar  bahwa  kembang api  ternyata  tak punya  aroma  apa  pun yang bisa ditawarkan.  

Variasi  kemegahan  dan  kemewahan  audio-
visual mereka  hanya meninggalkan  campuran aroma  yang amat monoton: sulfur, minyak, dan potasium nitrat. 

Grenouille  sudah  hendak  bangkit  dan  berjalan  pulang menyusuri  gang  Louvre  ketika  tiba‐tiba  saja  angin membawa  sebuah  aroma  yang  amat  samar  dan  sulit 
ditegaskan. Benar‐benar secuil aroma. Sekecil atom ‐ tidak, bahkan  lebih  samar  dari  itu.  

Lebih  seperti  pertanda datangnya  aroma  ketimbang  aroma  itu  sendiri,  namun pada  saat  yang  sama  meniang  sungguh  terasa  seperti pertanda  dari  sesuatu  yang  belum  pernah  diciumnya selama  ini.  

Grenouille  merapatkan  punggung  ke  tembok, menutup  mata  dan mengembangkan  hidung  lebar‐lebar. 

Aroma  misterius  itu  sungguh  lembut  dan  tipis  sampai nyaris  tak  "terpegang".  

Persepsi  yang  ditimbulkan  juga berubah  terus.  Apalagi  dikaburkan  oleh  aroma  petasan, keringat sekian banyak orang, menyerpih dan tergilas oleh ribuan  aroma  lain  di  kota  ini.  

Tapi  beberapa  detik kemudian  aroma  itu  datang  lagi.  Tipis‐tipis,  bersama sekelebat  bayangan  pertanda  akan  sesuatu  yang  amat
hebat,  tapi  hanya  sedetik...  lalu  hilang  lagi.  

Grenouille sungguh dibuat menderita. Untuk pertama kali dalam hidup ia  tersiksa,  bukan  hanya  ketamakannya menghirup  aroma yang  tersinggung,  tapi  hatinya  juga  sakit.  Seperti  ada sesuatu yang dahsyat di balik aroma ini ‐ aroma yang boleh jadi  merupakan  kunci  untuk  mengurutkan  semua  aroma. 

Orang  belum  bisa  disebut  'pakar  aroma’  kalau  belum mengerti  aroma  yang  satu  ini.  Celakalah  Grenouille  kalau sampai  tak  bisa  mendapatkannya.  Ia  harus  memiliki  ‐  tak 
hanya untuk disimpan tapi juga agar hatinya tenang. 

Grenouille  nyaris  muntah  karena  gelisah.  Ia  bahkan belum  bisa  memastikan  arah datangnya  aroma  tersebut. 

Kadang  ada  jeda  beberapa  menit  sebelum  angin mengembuskan aroma itu lagi. Dan setiap kalinya ia nyaris jantungan takut kehilangan. Setengah putus asa, akhirnya ia 
yakin  bahwa  aroma  itu  datang  dari seberang  sungai.  Dari suatu tempat di arah tenggara. 

Grenouille  menjauh  dari  tembok  Pavilyun  de  Flore, membaur  di  kerumunan  orang, lalu  merintis  jalan menyeberangi  jembatan.  

Setiap  beberapa  langkah  ia berhenti  dan  berjingkat  agar  marnpu  mengendusi  aroma 
itu  dari  atas  kepala  orang‐orang. Mulanya ia  tak mencium apa pun selain kehebohannya sendiri,  tapi perlahan ia bisa menangkap aroma  itu.  Bahkan  lebih  kuat.  

Sadar  sedang mengikuti  jejak  yang  benar,  ia  menyelarn  lagi ke kerumunan  orang, menggeliat  melewati  jejalan  para penonton  dan  pemasang  petasan  yang  sibuk menyuluti petasan roket, sempat kehilangan aroma buruan di  tengah bubungan asap, panik, mendorong dan menyikut membuka jalan  lebih  gegas,  lalu  entah.  

setelah beberapa  menit kemudian  baru  tiba  di  seberang  sungai,  dekat  Hotel  de Mailly,  dermaga  Malaquest,  dan  jalan  setapak  yang mengarah ke jalan Seine. 

Grenouille  menghentikan  langkah,  mengumpulkan segenap  kekuatan,  lalu  mengendus.  Begitu  dapat,  ia "genggam”  erat‐erat. Aroma itu  bergulung  sepanjang jalan Seine  seperti  pita.  Begitu  jelas  tapi  sekaligus  juga  begitu samar  dan  tipis.  

Jantung Grenouille berdegup kencang
bukan karena kecapekan  sehabis  berlari,  tapi  akibat kegelisahan  dari ketidakberdayaannya  di  hadapan  aroma misterius  itu.  

Ia mencoba mengingat sesuatu sebagai pembanding, tapi tak ada yang sama. Aroma ini segar,  tapi bukan  seperti  segarnya  jeruk  limau  atau  buah  delima. 

Bukan  juga  segarnya  getah  myrrh  atau  kayu  manis,  tidak pula daun mint atau pohon birch atau getah camphor atau duri  pohon  pinus.  Membanding  lebih  jauh,  kesegaran  ini juga  tidak  mirip  kesegaran  rintik  hujan  bulan  Mei  atau angin  musim  dingin  atau  air  sumur.  Grenouille  juga mencium  kehangatan  dalam  aroma  tersebut.  

Tapi lagi‐lagi saat  membandingkan  ia  yakin  bahwa  ini  tidak  seperti kehangatan  pohon  jeruk,  bergamot,  pohon  cemara, atau kesturi.  Tidak  pula  menyerupai  kehangatan  bunga  melati atau narsis, bunga mawar ataupun iris. 

Aroma ini gabungan keduanya  ‐  mengabur  dan  substantif.  Tidak,  ini  bukan gabungan,  tapi  kesatuan.  Walau  tipis  dan  amat  samar 
namun  tetap  bergaung  kuat  dan  terus menerus  - seperti selembar  kain  sutra...  tapi  bukan  sutra.  Lebih  seperti  kue kering berbalur  susu madu. 

Sampai  di  sini pun ia  bingung sekaligus takjub: bagaimana mungkin aroma susu dan sutra bisa hadir bersamaan! Grenouille tak habis pikir. Aroma ini sungguh  tak  bisa  dicerna,  tak  bisa  digambarkan,  dan  tak bisa dikategorikan dengan cara apa pun ‐ bahkan mestinya tak  mungkin  ada!  Tapi  toh  aroma  itu  hadir  dan  nyata karena  kini  ia  tengah  membauinya.  

Grenouille  mengekor perlahan.  Jantungnya  terus  berdegup  kencang.  Ia  sadar bahwa  sebenarnya  bukan  ia  yang  mengikuti aroma,  tapi aroma  itulah yang  telah menariknya dan  menangkap seperti kerbau dicucuk hidung. 

Grenouille  menyusuri  jalan  Seine.  Tak  ada  orang sepanjang jalan. Rumah-rumah berdiri lengang dan kosong karena  penghuninya  sedang  masyuk  kembang  api  di sungai. 

Tak ada gangguan bau manusia atau sengatan asap mesiu. Jalan Seine kembali ke pelangi aroma aslinya berupa air,  kotoran  manusia,  tikus,  dan  sampah  sayuran.  Tapi  di atasnya  mengambang  aroma  misterius  yang  kini  tengah menarik  hidung  Grenouille.  

Beberapa  langkah  memasuki jalan,  remang  cahaya  malam  habis  ditelan  bangunan-
bangunan  tinggi.  Grenouille  melangkah dalam  kegelapan. 

Peduli amat, toh  ia  tak  butuh  mata. Aroma  tipis  ini  saja sudah lebih terang ketimbang lentera mana pun. 

Lima  puluh  meter  berikutnya  ia  membelok  tajam  ke jalan  Marais  - sebuah  gang  yang  amat  sempit  dan  makin gelap  - kalau memang  bisa  lebih  gelap  lagi.  Anehnya,  di 
tempat  ini  aroma  misterius  itu  seperti  memudar  - tidak, bukan  memudar,  tapi  menjadi  lebih  murni.  Kemurnian yang  justru  mengeluarkan  daya  tarik  lebih  besar.  Kaki 
Grenouille  seperti  punya  pikiran  sendiri.  Satu  ketika  ia tertarik  ke  arah  kanan,  lurus  menuju  sebuah  dinding. 

Grenouille meraba sebentar dan menemukan celah rendah yang mengarah ke halaman belakang sebuah rumah - atau gedung. Tak tahulah. Yang jelas ia terus melangkah seperti 
orang mimpi berjalan.  Ia melewati pekarangan, membelok di sudut ke sebuah pekarangan lain yang lebih kecil, dan di tempat  ini  akhirnya  ada  cahaya,  meski  hanya  menerangi daerah  seluas  beberapa  kaki  saja.  Sebuah  atap  kayu menjuntai  dari  dinding.  Di  balik  dinding  itu  ada  meja dengan  sebatang  lilin  yang  menyala.  

Seorang  gadis  duduk di  depan  meja  sedang  membersihkan  sekeranjang  plum kuning.  Tangan  kirinya  mengambil  buah  dari  keranjang, digenggam  lalu  dikupas  dengan  pisau,  kemudian  ia melempar  hasilnya  ke  sebuah  ember.  

Umur  si  gadis mestinya  tak lebih  dari  tiga  belas atau empat  belas  tahun. Grenouille bergeming menatap nanar tak percaya. 

Seketika itu ia mengenali sumber aroma misterius yang telah ia ikuti sejak setengah mil lalu dari seberang sungai: bukan berasal dari pekarangan atau  buah  plum.  Sumbernya  adalah  si gadis perawan itu! 

Sekejap  ia  begitu  kalutnya  sampai  tak  percaya  sendiri. Baru pertama kali ini dalam hidup ia menyaksikan sesuatu yang  begitu  indah  seperti  si  gadis  pengupas  buah  plum, pun  walau  hanya  sempat  melihat  dari  belakang,  dalam siluet nyala lilin. 

Maksud Grenouille di sini tentu saja lebih 
mengacu bahwa ia belum pernah mencium benda secantik ini. Sungguh berbeda dengan aroma manusia yang ia kenal selama  ini  - dari  sekian  ribu  pria,  wanita,  dan  anak-anak 
sepanjang pengalaman hidupnya, jadi tak heran bila ia sulit meyakini  ada  aroma  yang  begitu  elok  bisa  keluar  dari tubuh seorang manusia. 

Selama ini ia yakin bahwa tak ada yang  istimewa  dari  aroma  manusia  - malah  cenderung mengerikan.  Anak-anak  berbau  hambar,  pria  dewasa berbau  kencing,  asam  keringat,  serta  keju,  sementara wanita  umumnya  berbau  lemak  anyir  dan  ikan  busuk. 

Sungguh  sangat  tidak menarik  dan memuakkan.  Begitulah bau tubuh manusia. 
Namun  kini  rupanya  tiba  saat  Grenouille  tak  lagi  bisa memercayai  hidung  dan  harus  mengandalkan  mata  untuk meyakinkan  bahwa  ia  benar-benar  melihat  apa  yang 
dicium.  Tapi  kegalauan  indra  ini  tak  berlangsung  lama. 

Hanya sedetik  yang ia butuhkan untuk  yakin pada  realitas optik  tersebut.  Detik  berikut  ia  kembali  terbenam  dalam surga  persepsi  indra  penciuman.  

Baru  sekarang  ia tersenyum  saat  mencium  aroma  manusia...  dari  tubuh  si gadis - mencium bau ketiaknya, minyak di rambutnya, bau amis  di  kemaluan....  

Grenouille  menghirup  dalam‐dalam seperti  orang  mengisap  candu.  Keringat  si  gadis  sesegar angin  laut,  lemak  rambutnya semanis  minyak  zaitun, kemaluannya seharum  bunga  lili  air,  kulitnya  semerbak 
aprikot  matang.  Harmoni  dari  seluruh komponen  ini menghasilkan  aroma  parfum  tiada  tara  yang  begitu  kaya, begitu  seimbang  dan  ajaib,  sampai-sampai  setiap  parfum yang pernah ia cium selama ini dan setiap kumpulan aroma yang  pernah  ia ciptakan  sampai  detik  ini,  menjadi  begitu 
kerdil  dan  tak  berarti.  

Ratusan  ribu  aroma  jatuh  tak berharga  di  hadapan  aroma  yang  satu  ini.  Aroma  yang 
memiliki  tataran hierarki dan prinsip jauh lebih  tinggi dan mampu  menata  susunan  aroma  lainnya.  Sungguh  sebuah keindahan murni. 

Grenouille sadar bahwa ia harus memiliki aroma ini atau hidupnya  tak  berarti  lagi.  Ia  harus  memahami  detail terkecilnya, mengikuti sampai ke rambut  terhalus.  Ingatan saja,  betapa  pun  kompleks,  tak  akan  cukup.  Ia  ingin menanam  aroma  dewa  ini  ke  kedalaman  jiwanya  yang hitam dan berlumpur - menelusuri sedemikian rupa sampai akhirnya  tiba  pada  putusan  bahwa  sejak  detik  ini  ia  akan hidup, berpikir, dan membaui hanya berdasarkan struktur terintim dari formula magis aroma tersebut. 

Perlahan ia mendekati  si gadis, makin  dekat dan makin dekat, sampai tiba persis di bawah atap teras dan berhenti persis  selangkah  di  belakang  si  gadis  yang  belum  juga 
menyadari kehadirannya. 

Rambut  si  gadis  berwarna  merah  dan  ia  mengenakan gaun kelabu panjang tak berlengan. Lengannya putih bersih dan  tangannya  kekuningan  oleh  perasan  buah  plum. 

Grenouille  membungkuk  ke  arah  si  gadis  dan  menghirup aroma  murni  yang  menguap  dari  tengkuk,  rambut,  dan kerah  baju.  

Grenouille  menghirupnya  seperti  menghirup 
udara pagi. Belum pernah ia merasa senyaman ini.

Si  gadis  lain  lagi.  Mendadak  ia  merasa  udara  berubah dingin.  Kendati  tidak  melihat  Grenouille,  tak  urung tubuhnya  gelisah.  Bulu  kuduk  meremang  seperti  orang menjelang ketakutan luar biasa. 

Dingin aneh itu datang dari arah  belakang,  seolah  ada  yang  baru  saja  membuka  pintu 
ruangan luas yang dingin itu. Si gadis meletakkan pisau ke atas meja, menarik tangan ke dada, lalu berpaling. 

Tubuh si gadis begitu kaku ketakutan melihat Grenouille, sampai tak mampu berbuat apa-apa saat lelaki itu menjulurkan tangan mencekik leher. Ia bahkan tak sanggup menjerit, meronta, atau berusaha membela diri. 

Grenouille berpejam  mata.  Ia  tak  ingin  melihat  wajah  berbintik  si gadis,  bibir  ranum  dan  bola  mata  hijau  yang  mendelik 
penuh  teror  itu.  Matanya  terus  terpejam  sementara mencekik. Yang dipedulikannya hanya satu: jangan sampai aroma tubuh gadis itu hilang sedikit pun. 

Setelah  si  gadis  mati,  Grenouille  meletakkan  tubuh lunglai  itu  di  lantai  di  antara  biji-biji  buah  plum,  lalu merobek bajunya. Gelombang aroma  tubuh si gadis sontak membanjir  memabukkan.  

Wajah  Grenouille  merangsek menggeseki kulit si gadis. Hidungnya rakus melahap aroma 
yang menguap - dari perut ke buah dada, ke leher, sekitar wajah  dan  rambut,  lalu  kembali  ke  perut,  turun  ke kemaluan, ke paha dan kakinya yang putih.  Ia mengendusi mayat  si  gadis  dari  ujung  kepala  sampai  ujung  kaki, 
mengumpulkan  sisa-sisa  terakhir  aroma tubuh  di  bawah dagu, di pusar, dan di kerutan siku bagian dalam. 

Setelah  puas  dan  yakin  tak  bersisa lagi,  untuk  sesaat ia duduk berjongkok di sisi mayat, mengumpulkan kesadaran setelah  menyesakkan  diri  dengan  aroma  si  gadis.  

Ibarat minuman, ia tak ingin menumpahkan aroma itu sedikit pun. Untuk  itu,  pertama  sekali  ia  harus  menguncinya  di  kamar 
ingatan  yang  terdalam.  Barulah  kemudian  ia  bangkit  dan meniup lilin.

Sementara itu, orang-orang sudah mulai kembali pulang, bernyanyi  dan  bersorak  ria  sepanjang  jalan  Seine. 

Grenouille  kembali  mengandalkan  penciuman  untuk menuntun pulang di kegelapan sepanjang gang,  tembus ke jalan  Petits  Augustins  yang  berseberangan  dengan  jalan Seine, lalu terus ke arah sungai.

Tak lama kemudian mayat si gadis ditemukan. Jeritan dan kehebohan kontan meledak. Obor-obor  dinyalakan.  Para  penjaga  dan  patroli  malam tergopoh-gopoh  berdatangan. 

Sementara Grenouille  sudah lama kembali berada di seberang sungai. 

Malam  itu,  kamar  sempit  Grenouille  serasa  istana  dan ranjang  papan  serasa  beralas  bulu  angsa.  Belum  pernah seumur hidupnya ia mencicipi yang namanya kebahagiaan, selain kesenangan-kesenangan kecil tapi tersumbat-dan itu pun  amat  sangat  jarang.  

Tapi  kini  ia  sedemikian bergelimang  suka  cita  sampai  tak  bisa  tidur.  Rasanya seperti baru lahir kembali - tidak, bukan lahir kembali, tapi lahir  untuk  yang  pertama  kalinya,  karena  selama  ini rasanya  ia  tak  lebih  dari  binatang  dengan  sekelumit kesadaran.  

Baru  hari  inilah  ia  menyadari  jati  diri 
sesungguhnya  sebagai  seorang  genius,  di  samping kesadaran  bahwa  arti  serta  tujuan  hidupnya  memiliki takdir  yang  lebih  tinggi,  yaitu  tiada  lain  untuk  merevolusi dunia aroma. 

Hanya  dialah  satu-satunya manusia  di  dunia 
ini yang sanggup mewujudkan hal itu melalui keistimewaan indra  penciuman,  ingatan  luar  biasa,  dan  yang  terpenting, wewangian sejati yang baru saja ia ambil dari gadis di jalan Marais  tadi. Di dalamnya  terkandung  formula magis untuk membuat  parfum  macam  apa  pun.  

Sebuah  formula wewangian yang begitu hebat, halus, kuat, stabil, bervariasi, dan  sekaligus  menakutkan  - sebuah  keindahan  yang  tak 
tertahankan.  Telah  ia  temukan  kompas  menuju  masa depan.

Dus,  seperti  lazimnya  tokoh-tokoh  monster  berbakat besar  yang  cenderung  melompat  tanpa  ragu  ke  pusaran kegelapan  jiwa mereka  setelah  merasa  mengalami “pencerahan”, Grenouille tak pernah lagi berpaling dari apa yang  diyakininya  sebagai  jalan  takdir.  

Jelas  baginya sekarang kenapa ia harus begitu bertahan hidup selama ini, dalam  kekejian  dan  kekerasan  yang  luar  biasa  pula. Rupanya agar kelak bisa memenuhi takdir sebagai seorang pencipta wewangian. Dan bukan yang biasa-biasa saja, tapi pencipta dan ahli parfum terhebat sepanjang masa. 

Dan  pada malam itu juga,  sejak  bangun  sampai  di alam mimpi, ia memeriksa bank data memorinya yang luar biasa itu. Jutaan demi jutaan matriks ingatan aroma dikaji dengan teliti lalu  disusun  secara  sisternatis  dalam  kategori  aroma bagus,  jelek,  tipis,  kasar,  busuk,  serta  menyenangkan. 

Seminggu berselang sistem ini tumbuh menjadi lebih halus dan  tersaring,  katalog  aroma  menjadi  lebih  luas  dan beragam,  hierarkinya  juga  lebih  jelas.  Tak  lama  kemudian Grenouille  mulai  mampu membangun  fondasi  struktur aroma  yang  telah  dibuat  dengan  sedemikian  hati-hati, 
seperti membangun kastil saja. 

Ada rumah‐rumah, tembok, tangga,  menara,  gudang  bawah  tanah,  kamar-kamar, ruangan-ruangan  rahasia  ...  pokoknya  sebuah  benteng ingatan  imajinasi  yang  dibangun  berdasarkan  aroma terdahsyat yang pernah ada yang setiap hari  tumbuh, makin besar, makin indah, dan makin menyempurna. 

Sebuah  pembunuhan  menjadi  awal  dari  semua kemegahan  ini  ‐  itu  pun  kalau  ia  sadar.  Tapi  Grenouille benar-benar  tak  ambil  pusing.  Ia  bahkan  sudah  tak  ingat lagi  bagaimana  rupa  dan  perawakan  si  gadis  dari  jalan Marais.  Yang  penting ia  telah menyimpan  dan menjadikan bagian  terbaik  dari  gadis  itu  sebagai  milik  pribadi,  yaitu 
aroma tubuhnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...