Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 18

DELAPAN BELAS


GRENOUILLE  DENGAN  SUKACITA  memelajari  seni membuat  sabun  dari  lemak  babi,  menjahit  sarung  tangan kulit kambing, meracik bedak dari tepung terigu, kulit padi, 
dan  almond,  serta  menumbuk  akar  bunga  violet.  Ia  juga belajar  membuat  lilin  wangi  dari  arang,  potasium  nitrat, dan  potongan  kayu  cendana;  membuat  pastiles  oriental 
tumbuk  dari  getah  dupa  dan  bubuk  kayu;  mengubah remasan  getah  olibanum,  lak,  vetiver,  dan  kayu  manis menjadi  bola harum;  mengayak  dan  mengaduk  poudre impériale  dari  tumbukan  kelopak  mawar,  lavender,  dan kulit pohon casearilla. 

Ia juga belajar bagaimana mengaduk perona  wajah  berwarna  putih  dan  biru  halus,  mencetak batangan-batangan gincu, membuat  cat  kuku  terbaik  serta pasta gigi  rasa mint, mengaduk cairan penggulung  rambut palsu untuk laki-laki, pemutih untuk menghilangkan bintik kulit, dan ekstrak nightshade untuk mata, Spanish fly untuk pria-pria  ningrat  dan  cuka  apel  higienis  untuk  para wanitanya....  

Pokoknya  Grenouille  belajar  membuat  segala macam produk wewangian mulai dari bedak, perlengkapan kamar  mandi,  sampai  peralatan  kecantikan,  plus  ramuan teh  dan  jejamuan,  minuman  keras,  marinade,  dan 
sejenisnya.  Semua  dipelajari  dengan  sabar,  tanpa  niat macam-macam,  tanpa  mengeluh,  dan  semua  sukses. 

Seluruh  ilmu  tradisional ini  diserap  dengan  mudah tanpa kesulitan.

Momen  favorit  Grenouille  dalam  proses  pembelajaran ini  adalah  setiap  kali  Baldini  mengajari  bagaimana membuat larutan  ramuan  dalam alkohol, ekstrak,  dan  sari 
ramuan. Tanpa kenal lelah ia menggerus biji almond pahit dalam  bejana  peremuk, menumbuk  kesturi,  mencincang ambergris  yang  berminyak  dengan  pisau  jagal,  memarut akar  bunga  violet  dan  memeras  hasilnya  dalam  larutan alkohol  terbaik.  

Ia  belajar  bagaimana  memakai  corong 
pemisah untuk mengambil sari minyak dari lemon tumbuk dan ampas susu, mengeringkan jejamuan dan bebungaan di tempat  hangat  serta  terhalang  dari  sinar  matahari,  dan 
bagaimana  mengawetkan  dedaunan  dalam  tempayan  dan peti  bertutup  lilin.  

Ia  belajar  seni  membilas  pomade  dan 
bagaimana  memproduksi,  menyaring,  memekatkan, menjemihkan, dan memurnikan penggabungan ramuan. 

Sejujurnya, laboratoriurn Baldini bukanlah  tempat yang tepat  untuk  membuat  minyak  bunga.  atau  tetumbuhan dalam skala besar. 

Kota Paris  tak cukup mampu memasok 
kuantitas bunga  segar sebanyak itu. Namun dari waktu  ke waktu, saat kebetulan beroleh  rosemary murah dan segar, daun sage, mint, atau biji minyak adas dari pasar atau saat 
menerima  kiriman  akar  bunga  valerian,  jintan,  pala,  atau cengkeh  kering,  mulailah  sang  alkemis  Baldini  beraksi. 

Tabung  penyulingan  ukuran  besar  segera  dikeluarkan, bersama  dengan  alat  penyuling  dari  tembaga,  di  atasnya ada  kepala  tambat  untuk  mengondensasikan  cairan. 

Dengan  bangga  ia  mengumumkan  alat  yang  sudah  empat puluh  tahun  ia  pakai  untuk  menyuling  bunga  lavender secara langsung dari tempatnya di dataran terbuka Liguria Selatan dan puncak-puncak Luberon. 

Sementara Grenouille memilah-milah  apa  yang  hendak  disuling,  Baldini  sibuk mondar-mandir  memanaskan  tungku  beralas  batu  bata  - karena  kecepatan  adalah  inti  dari  prosedur  ini,  lalu memasukkan  apa  yang  sudah  disiapkan  Grenouille  ke sebuah  ketel  tembaga,  yang  diisi  sedikit  air  hingga menutupi  dasarnya.  

Beragam  tanaman  yang  sudah dicincang ia masukkan, lalu dengan sigap menyumbat tutup tabung  dan  menghubungkannya  dengan  dua  buah  selang agar  air  bisa  keluar  masuk  dengan  bebas.  

Mekanisme pendinginan  air  yang  cerdik  ini,  demikian  Baldini menjelaskan,  adalah  temannya sendiri  saat  bekerja  di lapangan. 

Kemudian ia mulai meniup api tungku. Perlahan-lahan  ketel  mulai  mendidih.  Dan  setelah beberapa waktu, hasil sulingan mulai merembes keluar dari kepala  tambat,  mengalir  ke  sebuah  botol  Florentine  yang telah disiapkan di bawah. 

Awalnya menetes lambat-lambat, lalu mengalir deras. Tampilannya tampak biasa saja, seperti 
lapisan sup kelam. yang tipis. Namun sedikit demi sedikit - apalagi  setelah  botol  pertama  diganti  dengan  yang  kedua, godokan  itu  mulai  terbagi  menjadi  dua:  di  bagian  bawah adalah  cairan  bunga atau tetumbuhan, dan di bagian  atas mengambang  lapisan  minyak  yang  tebal.  

Jika  cairan  itu  - yang  beraroma  sangat  tipis  ‐  dikeluarkan  dengan  hati-hati melalui  cerat  bagian  bawah  botol  Florentine,  yang  tinggal 
adalah  minyak  murni  - inilah esensinya,  sari  pati aroma yang diperas dari tanaman. 

Grenouille  terpana  kagum  melihat  proses  ini.  Sangat sedikit  dalam  hidup  ini  yang  mampu  menyulut antusiasmenya. Itu pun tak terlihat di wajah - kegembiraan yang  menyala  dalam  kobaran  beku.  

Namun demikianlah kini yang ia rasakan saat melihat prosedur penyulingan memanfaatkan elemen api, air, dan uap, dengan peralatan sederhana namun cerdik untuk  menangkap sari pati atau jiwa sebuah  materi.  

Jiwa  beraroma,  minyak  tak  terlihat yang  kini  ada  dalam  botol  Florentine  itu  adalah  yang terbaik  dari  sebuah  materi.  Satu-satunya  hal  di  dunia  ini yang  mampu  menarik  hati  Grenouifle.  Sisanya  - kelopak 
bunga, daun, kulit, warna, keindahan, vitalitas, dan kualiras lain  sama  sekali  tak  masuk  hitungan.  Sama  sekali  tidak menarik.  Tak  lebih  dari  sekadar  sekam  yang  harus 
disingkirkan. 

Selang beberapa waktu, saat hasil sulingan mengembun dan  menjernih,  barulah  tabung  penyulingan  itu  diangkat dari api, dibuka dan dibuang endapan kotorannya. 

Tampak lunak dan pucat seperti jerami basah, seperti tulang burung kecil yang putih, seperti sayuran yang direbus terlalu lama, terasa  hambar  dan  berserabut,  seempuk  bubur  dan  sulit dikenali  asalnya,  pucat  pasi  dan  nyaris  tidak  berbau. 

Endapan  atau  ampas  itu  lalu  dibuang  ke  luar  jendela,  ke arah sungai. Baldini dan Grenouille kemudian memasukkan tanaman baru ke dalam  tabung penyulingan, memasukkan air, dan ditaruh lagi di atas tungku. Kembali ketel itu mulai mendidih  dan  kembali  darah  kehidupan  tanaman  di 
dalamnya menetes  ke botol Florentine.  Ini  kerap berlanjut sepanjang  malam.  

Baldini  memandangi  tungku  sementara 
Grenouille  mengawasi  botol.  Tak  ada  yang  bisa  dilakukan selain menunggu sampai siklus berikutnya. 

Mereka  duduk  di  pinggir  tungku,  seolah  tersihir menunggui  ramuan  mendidih. Namun  lamunan  keduanya tak sama. Baldini suka memandangi nyala dan percik bunga api  serta  permukaan  tembaga  yang  merah  membara.  

Ia suka mendengar suara halus kayu terbakar dan gelegak isi tabung  yang  mendidih, karena  ini  mengingatkannya  pada masa  lalu.  Hanyut  dibuai  lamunan.  

Ia  mengambil  sebotol anggur dari toko karena panas godokan membuatnya haus, meminum  anggur  sama mengingatkannya  pada masa lalu. 

Lalu  mulailah  bibirnya  berceloteh  tentang  nostalgia  masa muda,  tak  berkesudahan.  Ia  bercerita  tentang  Perang Pemberontakan  Spanyol.

Saat  partisipasinya  melawan Austria  telah  turut  memberi  pengaruh  penting dalam hidup;  tentang  Camisards  - kawan  seperjuangan  kala merajalela di Cévennes; 

tentang putri seorang Huguenot di Estérel  yang  lantaran  mabuk  kepayang  dengan  parfum bunga lavender lalu mengabulkan permintaannya;  tentang bagaimana  ia  nyaris  mengakibatkan  kebakaran  hutan dan memusnahkan seluruh daerah tersebut kalau saja tidak ada mistral - angin  utara  yang  bertiup  kuat  di  Prancis  selama musim  dingin; 

Plus  berulang-ulang  kisah  basi  tentang 
bagaimana  ia  menyuling  parfum  di  tanah  terbuka  saat malam, di bawah terang bulan, berteman anggur dan suara tokek  serta  derik  jangkrik;  

Juga  tentang  minyak  lavender ciptaannya  - minyak  parfum  yang  begitu  kuat  dan  murni 
sampai bisa ditimbang seharga perak; 

Tentang tahun-tahun pembelajarannya  di  Genoa,  tahun-tahun  pengabdiannya sebagai  seorang  ahli  di  kota  Grasse,  di  mana  jumlah  ahli parfum  sama  banyak  dengan  pembuat  sepatu  - beberapa ada  yang sangat kaya sampai bisa hidup seperti pangeran, 
tinggal  di  rumah-rumah  besar  dengan  taman  dan  teras serta  ruangan-ruangan  makan  berdekor  mewah  tempat mereka  berpesta dengan  peralatan  makan  dari  porselen dan emas, bla... bla.... bla.... 

Macam  itulah  dongeng  Baldini  sambil  minum  anggur. Pipinya  makin  merona  oleh  anggur,  panas  tungku,  dan antusiasme kisahnya sendiri. 

Grenouille  duduk  memojok  di  balik  bayang-bayang tanpa  menyimak  sama  sekali.  Ia  tak  peduli  segala  macam cerita  lama.  Ia  hanya  peduli  satu  hal:  proses  baru  ini.

Matanya  nyalang  tak  berkedip  menatap  puncak  tabung-tempat  di  mana  rembesan  sulingan  mengalir  keluar.  Dan saat  menatap  ia  membayangkan  diri  sendiri  sebagai  isi 
tabung  itu,  mendidih  dan  merembes  keluar  sebagai sulingan, tapi dalam bentuk yang lebih baik, lebih baru dan tak  dikenal  dari  sekian  tanaman  eksotis  yang  ia  tanam dalam  batin.  

Bermekaran  membentuk  buket‐buket  bunga 
yang  tak  dikenal  siapa  pun  selain  dirinya  sendiri,  dan dengan  aroma  unik  yang  tercipta  ia  mengubah  dunia menjadi Taman Surga yang harum mewangi, di mana hidup 
terasa lebih indah dan nyaman ditinggali - tentu saja dalam kaitannya dengan penciuman. 

Sebagai  tabung penyulingan raksasa,  ia  akan  membanjiri  dunia  dengan  berbagai  hasil 
sulingan ciptaannya. Demikianlah lamunan Grenouille saat itu. 

Baldini yang terbakar anggur masih terus mengocehkan nostalgia  yang  makin  lama  makin  dahsyat  dan  terjerat dalam  semangatnya  sendiri.  

Sementara  itu,  Grenouille memutuskan untuk berhenti mengkhayal. Saat itu ia hapus sama  sekali lamunan menjadi  tabung  penyulingan  raksasa dan  mulai  memikirkan  bagaimana  cara  memanfaatkan pengetahuan baru ini untuk tujuan yang lebih nyata....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...