DELAPAN BELAS
GRENOUILLE DENGAN SUKACITA memelajari seni membuat sabun dari lemak babi, menjahit sarung tangan kulit kambing, meracik bedak dari tepung terigu, kulit padi,
dan almond, serta menumbuk akar bunga violet. Ia juga belajar membuat lilin wangi dari arang, potasium nitrat, dan potongan kayu cendana; membuat pastiles oriental
tumbuk dari getah dupa dan bubuk kayu; mengubah remasan getah olibanum, lak, vetiver, dan kayu manis menjadi bola harum; mengayak dan mengaduk poudre impériale dari tumbukan kelopak mawar, lavender, dan kulit pohon casearilla.
Ia juga belajar bagaimana mengaduk perona wajah berwarna putih dan biru halus, mencetak batangan-batangan gincu, membuat cat kuku terbaik serta pasta gigi rasa mint, mengaduk cairan penggulung rambut palsu untuk laki-laki, pemutih untuk menghilangkan bintik kulit, dan ekstrak nightshade untuk mata, Spanish fly untuk pria-pria ningrat dan cuka apel higienis untuk para wanitanya....
Pokoknya Grenouille belajar membuat segala macam produk wewangian mulai dari bedak, perlengkapan kamar mandi, sampai peralatan kecantikan, plus ramuan teh dan jejamuan, minuman keras, marinade, dan
sejenisnya. Semua dipelajari dengan sabar, tanpa niat macam-macam, tanpa mengeluh, dan semua sukses.
Seluruh ilmu tradisional ini diserap dengan mudah tanpa kesulitan.
Momen favorit Grenouille dalam proses pembelajaran ini adalah setiap kali Baldini mengajari bagaimana membuat larutan ramuan dalam alkohol, ekstrak, dan sari
ramuan. Tanpa kenal lelah ia menggerus biji almond pahit dalam bejana peremuk, menumbuk kesturi, mencincang ambergris yang berminyak dengan pisau jagal, memarut akar bunga violet dan memeras hasilnya dalam larutan alkohol terbaik.
Ia belajar bagaimana memakai corong
pemisah untuk mengambil sari minyak dari lemon tumbuk dan ampas susu, mengeringkan jejamuan dan bebungaan di tempat hangat serta terhalang dari sinar matahari, dan
bagaimana mengawetkan dedaunan dalam tempayan dan peti bertutup lilin.
Ia belajar seni membilas pomade dan
bagaimana memproduksi, menyaring, memekatkan, menjemihkan, dan memurnikan penggabungan ramuan.
Sejujurnya, laboratoriurn Baldini bukanlah tempat yang tepat untuk membuat minyak bunga. atau tetumbuhan dalam skala besar.
Kota Paris tak cukup mampu memasok
kuantitas bunga segar sebanyak itu. Namun dari waktu ke waktu, saat kebetulan beroleh rosemary murah dan segar, daun sage, mint, atau biji minyak adas dari pasar atau saat
menerima kiriman akar bunga valerian, jintan, pala, atau cengkeh kering, mulailah sang alkemis Baldini beraksi.
Tabung penyulingan ukuran besar segera dikeluarkan, bersama dengan alat penyuling dari tembaga, di atasnya ada kepala tambat untuk mengondensasikan cairan.
Dengan bangga ia mengumumkan alat yang sudah empat puluh tahun ia pakai untuk menyuling bunga lavender secara langsung dari tempatnya di dataran terbuka Liguria Selatan dan puncak-puncak Luberon.
Sementara Grenouille memilah-milah apa yang hendak disuling, Baldini sibuk mondar-mandir memanaskan tungku beralas batu bata - karena kecepatan adalah inti dari prosedur ini, lalu memasukkan apa yang sudah disiapkan Grenouille ke sebuah ketel tembaga, yang diisi sedikit air hingga menutupi dasarnya.
Beragam tanaman yang sudah dicincang ia masukkan, lalu dengan sigap menyumbat tutup tabung dan menghubungkannya dengan dua buah selang agar air bisa keluar masuk dengan bebas.
Mekanisme pendinginan air yang cerdik ini, demikian Baldini menjelaskan, adalah temannya sendiri saat bekerja di lapangan.
Kemudian ia mulai meniup api tungku. Perlahan-lahan ketel mulai mendidih. Dan setelah beberapa waktu, hasil sulingan mulai merembes keluar dari kepala tambat, mengalir ke sebuah botol Florentine yang telah disiapkan di bawah.
Awalnya menetes lambat-lambat, lalu mengalir deras. Tampilannya tampak biasa saja, seperti
lapisan sup kelam. yang tipis. Namun sedikit demi sedikit - apalagi setelah botol pertama diganti dengan yang kedua, godokan itu mulai terbagi menjadi dua: di bagian bawah adalah cairan bunga atau tetumbuhan, dan di bagian atas mengambang lapisan minyak yang tebal.
Jika cairan itu - yang beraroma sangat tipis ‐ dikeluarkan dengan hati-hati melalui cerat bagian bawah botol Florentine, yang tinggal
adalah minyak murni - inilah esensinya, sari pati aroma yang diperas dari tanaman.
Grenouille terpana kagum melihat proses ini. Sangat sedikit dalam hidup ini yang mampu menyulut antusiasmenya. Itu pun tak terlihat di wajah - kegembiraan yang menyala dalam kobaran beku.
Namun demikianlah kini yang ia rasakan saat melihat prosedur penyulingan memanfaatkan elemen api, air, dan uap, dengan peralatan sederhana namun cerdik untuk menangkap sari pati atau jiwa sebuah materi.
Jiwa beraroma, minyak tak terlihat yang kini ada dalam botol Florentine itu adalah yang terbaik dari sebuah materi. Satu-satunya hal di dunia ini yang mampu menarik hati Grenouifle. Sisanya - kelopak
bunga, daun, kulit, warna, keindahan, vitalitas, dan kualiras lain sama sekali tak masuk hitungan. Sama sekali tidak menarik. Tak lebih dari sekadar sekam yang harus
disingkirkan.
Selang beberapa waktu, saat hasil sulingan mengembun dan menjernih, barulah tabung penyulingan itu diangkat dari api, dibuka dan dibuang endapan kotorannya.
Tampak lunak dan pucat seperti jerami basah, seperti tulang burung kecil yang putih, seperti sayuran yang direbus terlalu lama, terasa hambar dan berserabut, seempuk bubur dan sulit dikenali asalnya, pucat pasi dan nyaris tidak berbau.
Endapan atau ampas itu lalu dibuang ke luar jendela, ke arah sungai. Baldini dan Grenouille kemudian memasukkan tanaman baru ke dalam tabung penyulingan, memasukkan air, dan ditaruh lagi di atas tungku. Kembali ketel itu mulai mendidih dan kembali darah kehidupan tanaman di
dalamnya menetes ke botol Florentine. Ini kerap berlanjut sepanjang malam.
Baldini memandangi tungku sementara
Grenouille mengawasi botol. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu sampai siklus berikutnya.
Mereka duduk di pinggir tungku, seolah tersihir menunggui ramuan mendidih. Namun lamunan keduanya tak sama. Baldini suka memandangi nyala dan percik bunga api serta permukaan tembaga yang merah membara.
Ia suka mendengar suara halus kayu terbakar dan gelegak isi tabung yang mendidih, karena ini mengingatkannya pada masa lalu. Hanyut dibuai lamunan.
Ia mengambil sebotol anggur dari toko karena panas godokan membuatnya haus, meminum anggur sama mengingatkannya pada masa lalu.
Lalu mulailah bibirnya berceloteh tentang nostalgia masa muda, tak berkesudahan. Ia bercerita tentang Perang Pemberontakan Spanyol.
Saat partisipasinya melawan Austria telah turut memberi pengaruh penting dalam hidup; tentang Camisards - kawan seperjuangan kala merajalela di Cévennes;
tentang putri seorang Huguenot di Estérel yang lantaran mabuk kepayang dengan parfum bunga lavender lalu mengabulkan permintaannya; tentang bagaimana ia nyaris mengakibatkan kebakaran hutan dan memusnahkan seluruh daerah tersebut kalau saja tidak ada mistral - angin utara yang bertiup kuat di Prancis selama musim dingin;
Plus berulang-ulang kisah basi tentang
bagaimana ia menyuling parfum di tanah terbuka saat malam, di bawah terang bulan, berteman anggur dan suara tokek serta derik jangkrik;
Juga tentang minyak lavender ciptaannya - minyak parfum yang begitu kuat dan murni
sampai bisa ditimbang seharga perak;
Tentang tahun-tahun pembelajarannya di Genoa, tahun-tahun pengabdiannya sebagai seorang ahli di kota Grasse, di mana jumlah ahli parfum sama banyak dengan pembuat sepatu - beberapa ada yang sangat kaya sampai bisa hidup seperti pangeran,
tinggal di rumah-rumah besar dengan taman dan teras serta ruangan-ruangan makan berdekor mewah tempat mereka berpesta dengan peralatan makan dari porselen dan emas, bla... bla.... bla....
Macam itulah dongeng Baldini sambil minum anggur. Pipinya makin merona oleh anggur, panas tungku, dan antusiasme kisahnya sendiri.
Grenouille duduk memojok di balik bayang-bayang tanpa menyimak sama sekali. Ia tak peduli segala macam cerita lama. Ia hanya peduli satu hal: proses baru ini.
Matanya nyalang tak berkedip menatap puncak tabung-tempat di mana rembesan sulingan mengalir keluar. Dan saat menatap ia membayangkan diri sendiri sebagai isi
tabung itu, mendidih dan merembes keluar sebagai sulingan, tapi dalam bentuk yang lebih baik, lebih baru dan tak dikenal dari sekian tanaman eksotis yang ia tanam dalam batin.
Bermekaran membentuk buket‐buket bunga
yang tak dikenal siapa pun selain dirinya sendiri, dan dengan aroma unik yang tercipta ia mengubah dunia menjadi Taman Surga yang harum mewangi, di mana hidup
terasa lebih indah dan nyaman ditinggali - tentu saja dalam kaitannya dengan penciuman.
Sebagai tabung penyulingan raksasa, ia akan membanjiri dunia dengan berbagai hasil
sulingan ciptaannya. Demikianlah lamunan Grenouille saat itu.
Baldini yang terbakar anggur masih terus mengocehkan nostalgia yang makin lama makin dahsyat dan terjerat dalam semangatnya sendiri.
Sementara itu, Grenouille memutuskan untuk berhenti mengkhayal. Saat itu ia hapus sama sekali lamunan menjadi tabung penyulingan raksasa dan mulai memikirkan bagaimana cara memanfaatkan pengetahuan baru ini untuk tujuan yang lebih nyata....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar